Anda di halaman 1dari 5

Artinya :

Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua


orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana beliau berdua
merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin
dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang
masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami
dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah
karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya
kecuali dengan pertolongan-Mu.

Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokatuh.


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami memberi kami hidup, telah memberi
kami makan dan minum. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami orang tua yang
sangat menyayangi kami. Segala puji kepada Robbul’alamin yang telah memberi kami
guru-guru yang mau berjerih payah mengajar dan mendidik kami untuk masa depan
kami yang lebih baik. Terima kasih ya Allah, sungguh nikmat dan karunia-Mu tiada
berhingga dan tiada terhitung, hanya saja kami belum mau dan mampu bersyukur. Yang
kami kerjakan adalah kedurhakaan kepada-Mu, kepada kedua orang tua kami, kepada
bapak ibu guru kami. Kalau ditimbang kedurhakaan itu, sungguh gunung-gunung di
muka bumi tak sebanding dengannya. Kalau ditampakkan kedurhakaan itu, niscaya rasa
malu kami sudah tak cukup lagi untuk menutupinya.

Apalagi yang belum kami kerjakan. Menyakiti hati ayah dan ibu, mengiris-iris hati
mereka dengan luka yang amat perih, membantah suruhan, mematahkan permintaan
mereka, menghancurkan harapan mereka, sampai membentak dan mencaci-maki
mereka—walau hanya dalam hati—semua telah kami lakukan, sebagai balasan dari kerja
keras mereka siang malam membesarkan dan mendidik kami. Adakah dosa yang lebih
besar daripada kedurhakaan kepada kedua orang tua? kami tidak pernah peduli dengan
harapan-harapan ayah dan ibu. Harapan tinggal harapan, dan kami mengikuti
kehendak hati.

Apalagi yang belum kami kerjakan. Tiada hari tanpa pembangkangan kepada bapak ibu
guru. Kami rasa kami telah bayar apa yang bapak ibu guru berikan kepada kami. Tidak
cukupkan segenap biaya yang telah kami keluarkan untuk tiap huruf yang mereka
ajarkan. Lalu mengapa kami harus dicekcoki lagi dengan segudang peraturan dan seribu
satu sopan santun yang mereka sendiri belum tentu mengamalkannya. Kami merasa
pembangkangan kami sebagai sesuatu yang wajar. Kami telah dewasa dan cerdas, dan
sanggup membantah apa saja yang bapak ibu guru ucapkan. Hanya itu yang kami tahu.
Kami tak tak tahu dan tak mau tahu bahwa sebenarnya apa yang bapak ibu guru berikan
kepada kami berupa ilmu dan akhlak tak akan pernah terbayar oleh uang sebanyak apa
pun. Bapak ibu guru adalah mitra ayah ibu kami dalam menunjukkan kepada kami jalan
ke surga, dunia akhirat. Adakah harga yang pantas bagi orang-orang yang mau bersusah
payah menunjukkan kepadamu jalan ke surga? Seandainya bapak ibu guru mengukur
tiap pengabdiannya dengan uang, maka binasalah kami. Tak ada yang terbaik dari dunia
ini yang bisa didapatkan dengan mengukurnya dengan uang. Ukuran terbaik adalah
keikhlasan, yang Allah Robbul’alaminlah sandarannya. Kami tak tahu dan tak mau tahu
akan hal itu.

Andai kami mati hari ini, maka telah cukuplah dosa-dosa kami itu sebagai alasan bagi-
Nya untuk memasukkan kami ke neraka-Nya. Neraka adalah tempat yang sangat pantas
bagi manusia-manusia keras kepala dan durhaka. Alangkah panasnya neraka itu dengan
apinya yang menghitam, penjaganya yang bengis, dan hidangannya yang berupa darah,
nanah, air mendidih, dan makanan dari buah berduri yang menghancurkan lambung.
Kami tak pernah takut dengan neraka itu hingga hari ini. Kedurhakaan kami sebagai
buktinya.

Maafkan kami ayah ibu. Sebutlah seluruh jasa dan kebaikan yang telah engkau lakukan
kepada kami, sepenuh langit dan bumi, niscaya kami tidak akan membantahnya. Ibulah
yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kami ke dunia ini. ibulah yang
telah menyayangi kami dengan kasih sayang yang memenuhi cakrawala dengan salju
kesejukan. Ibu mencintai kami seindah musim semi, seindah matahari senja yang
berbaring berselimut segara biru. Ayahlah telah memberikan seluruh hidupnya dalam
kerja keras untuk masa depan yang lebih baik bagi kami, anak-anaknya. Tak ada, tak
akan pernah ada pengganti untuk kasih sayang itu ke mana pun kami mencarinya
selama bumi terbentang, di mana pun sampai kapan pun.
Dan kami balas semua itu dengan menghancurkan mimpi-mimpi indah ayah ibu akan
diri kami. Mimpi melihat kami menjadi anak yang soleh: rajin beribadah kepada Allah
dan taat kepada orang tua. andai kami tak pernah ada, mungkin itu lebih baik.

Maafkan kami bapak ibu guru. Sebutlah bapak ibu guru, semua jasamu kepada kami,
niscaya kami mengaminkannya dengan tunduk dan khusyuk. Bukankah bapak ibu
gurulah yang mengajari kami berbagai ilmu. Ilmu yang dengan susah payah bapak ibu
guru dapatkan. Hasil kerja keras yang amat panjang dari kedua orang tua bapak ibu dan
diri bapak ibu guru sendiri. Dan hari ini dengan harga murah telah diturunkan kepada
kami. Tak ada harga yang pantas untuk sebuah ilmu, bagi mereka yang tahu. Bapak ibu
guru menunjukkan kepada kami akhlak yang baik, jalan menempuh masa depan yang
lebih baik. Bapak ibu guru bangga melihat kami berhasil, menjadi orang. Alangkah besar
bagi bapak ibu arti kebanggaan itu, mengobati segala jerih bertahun-tahun mendidik
kami. Kamilah yang berbahagia menikmati hasilnya. Tapi, kami tak menyadarinya.
Buktinya, kami tetap keras kepala dan menuding dengan bermacam prasangka.

Maafkan kami semua. Kami anak-anakmu. Allah telah takdirkan, Allah telah tuliskan di
Lauhmahfudz bahwa kami adalah anak-anakmu sampai kapanpun. Tetaplah mencintai
kami. Tetaplah isi hari-hari ayah ibu, bapak ibu guru, dengan doa-doa kebaikan kepada
kami. Doakan kami menjadi hamba Allah yang soleh, doakan kami menjadi anak yang
berbakti.

Ya Allah, engkau tahu diri-diri kami,


Engkau tahu dosa-dosa dan kesalahan kami, sebanyak bintang-bintang di langit,
sebanyak pasir di lautan.
Ampunilah diri-diri kami, Ya Allah. Sungguh Engkau Maha Pengampun, ya Gaffar!
Ampunilah dosa kedua orang tua kami. Jadikanlah setiap luka hati, tiap tetes
keringatnya dalam mendidik dan membesarkan kami sebagai penghapus dosa-dosa
mereka. Masukkan ayah dan ibu ke surga-Mu. Jangan pernah ya Allah, walau sejenak,
api neraka menyentuh mereka.
Ya Allah, jadikan kami anak-anak yang soleh agar doa kami bisa menembus pembatas
alam barzakh dan sampai kepada kedua orang tua kami yang berbaring di kuburnya. Ya
Allah jadikan kami hamba-hamba-Mu yang soleh, agar esok di hari perhitungan kami
bisa membela ayah dan ibu. Kami bisa mengatakan kepada-Mu besok di hari
perhitungan, bahwa kedua orang tua kami pantas masuk surga karena telah mendidik
kami untuk rukuk dan sujud kepada-Mu.
Ya Allah, lapangkan pembaringan ayah dan ibu di kuburnya. Luaskan kuburnya seluas
mata memandang. Tampakkan kepada ayah dan ibu tempat beliau di surga kelak.

Ampuni dosa bapak ibu guru. Balaslah pengabdian mereka dengan balasan yang berlipat
ganda. Lapangkan dadanya, luaskan rizkinya, bahagiakan keluarganya, dan catatlah tiap
huruf yang ia ajarkan kepada kami sebagai pahala.

Ya Rahman, ya Rahim, Ya Malik, Ya Wahhab, Ya Ganiyy, kabulkan doa kami,


sesungguhnya Engkau Maha Pengabul doa.

Untukmu yang tak berhenti berduka


Untukmu yang berteman air mata
Untukmu yang berhati lara
Untukmu yang menengadah ke langit dengan doa
Untukmu yang jerih dan lelah dalam kerja tiada ujung
Untukmu yang dimakan usia, dengan mimpi dan harapan yang belum terkabulkan
Untukmu yang terus tengadah dan meminta kepada-Nya, untuk si buah hati agar
berbahagia

Untukmu yang mata air kasih sayangnya melebihi jumlah air yang memenuhi segala
lautan
Untukmu yang menampung duka, lalu menggantinya dengan senyuman
Untukmu yang berani memberi hidupnya untuk pengganti bagi diri-diri yang belum
tentu berterima kasih
Untukmu yang semua pena akan kering untuk menuliskan jasa
Untukmu wahai ayah bunda

Untukmu, terimalah pelukan hangat kami di kakimu


untuk meminta kerelaan bagi tiap butir nasi yang kami telan
tiap tetes air yang kami minum
tiap usapan yang menghapus duka

Demi petir yang menggelegar membelah angkasa


Demi ombak yang berdebur menghempas pantai
Demi hari kiamat yang pasti kan tiba
Demi Pencipta Langit dan bumi
Jasa ayah dan ibu tak terbalaskan
Dengan apa pun, sampai kapan pun

Allah-lah yang bisa membalasnya


Dengan surga

Doa Upacara Bendera

Assalamualaikum Wr. Wb.Bismillahhirrahmanirrahim.Dengan nama Allah Yang Maha


Pengasih dan Maha Penyayang.Maha suci Allah Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta.
Segalasesuatu atas kodrat dan iradat-Nya. Tidak ada makhluk yang dapatberbuat
sekehendaknya, tanpa seizing Allah Yang Maha Kuasa.

Pada hari ini, kami sekeluarga besar SMP/SD ......... melaksanakan upacara bendera. Kami
sadar betapa besar lindungan-Mu ya Allah kepada kami, di saat-saat melaksanakan upacara
ini.

Ya Allah, ampunilah dosa dan kealpaan kami, ayah dan ibukami, serta guru-guru kami,
karuniakanlah kesabaran, ketahanan,dan keteguhan iman kepada kami dan kepada seluruh
bangsa kami.

Ya Allah, hindarkanlah sekolah kami dari segala halangan danrintangan, jauhkanlah kami
dari sifat malas yang merusak ketahanansekolah, agar kami dapat mengikuti kegiatan belajar
mengajardengan tenang.

Ya Allah, limpahkan kepada warga sekolah kami taufik danhidayah serta kekuatan untuk
memikul tugas bangsa, nusa, dan agama.

Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaadzabannar wal


hamdulillahi rabbil aalamin.

Ya Allah, kabulkanlah permohonan dan doa kami.Wassalamualaikum Wr. Wb