Anda di halaman 1dari 13

BAB II

MODEL DAN MASALAH STRATEGI OPERASI

2.1. Strategi Perusahaan


PT Gistex Popular Indonesia atau sekarang lebih dikenal dengan nama PT.
Pop Star memulai produksinya dengan menggunakan sistem maklun yaitu sistem
produksi dengan melibatkan beberapa perusahaan dalam pengerjaan produksinya.
Pada tahun 2008 PT Gistex Popular Indonesia mengerjakan order pertamanya dari
perusahaan lokal yaitu KYS, Shafira, AKTIF, Forever 21, dan By Design dengan
produk yang dihasilkan berupa T-Shirt untuk wanita.
3 masalah utama terkait strategi korporasi :
- Strategi direksional
- Analisis portofolio
- Parenting strategy

2.2. Strategi Bisnis


PT. Pop Star menggunakan strategi bisnis product leadership. Strategi-
strategi bisnis yang dilakukan oleh PT. Pop Star adalah :
a. PT. Pop Star menggunakan metode AQL (Acceptable Quality Level) pada
kegiatan inspeksi untuk memastika produk yang sampai ke tangan pelanggan
sesuai dengan standar.
b. PT Pop Star lebih memproduksi pakaian wanita dengan beragam pilihan
model.
c. Produk yang dihasilkan oleh PT Pop Star bervariasi dan selalu mengikuti
trend yang sedang berlangsung.

2.3. Visi dan Misi


2.3.1. Visi
Visi dari PT. Pop Star adalah Menjadi perusahaan fashion terkemuka dan
memiliki fashion berkualitas unggul
2.3.2. Misi
Misi dari PT. Pop Star adalah:
a. Menjadi perusahaan garmen yang dapat bersaing di pasar global
b. Mendidik manusia Indonesia agar memiliki etos kerja yang tinggi
c. Meningkatkan kesejahteraan setiap karyawan PT Pop Star

2.4. Distinctive Competence


Distinctive competence yang dimiliki oleh PT. Pop Star adalah :
1. Memproduksi pakaian dengan tingkat kesulitan yang tinggi
2. Model pakaian yang variatif
3. Bahan yang digunakan terjamin karena menggunakan teknologi inspeksi zero
defect
4. Inspeksi finishing product menggunakan Acceptable Quality Level (AQL) 1,5
5. Menggunakan teknologi mesin yang up to date untuk efisiensi kinerja
6. Proses pengiriman lebih cepat

2.5. Objectives
2.5.1. Cost
PT. Pop Star bertujuan untuk menghasilkan produk dengan pemborosan
yang seminimal mungkin dan biaya yang juga seminimal mungkin. Untuk
mendapatkan produk dengan biaya seminimal mungkin PT. Pop Star memilih
untuk membeli bahan baku dari China agar harga yang di dapatkan lebih murah,
menggunakan tenaga kerja Indonesia karena upah yang lebih murah, dan
memasarkan produknya ke LA karna memiliki nilai jual yang tinggi.

PERHITUNGAN HPP DAN HARGA JUAL PRODUK PT. Pop Star


1. Pada bulan januari 2016 PT Pop Star memproduksi 1000 Dress rajut, 5 gross
celana legging. Adapun bahan baku yang dipakai oleh Dress rajut 1,25 meter
dengan harga Rp 15.000,00 / meter. Biaya bahan penolong antara lain :
 Kancing 10 biji / Dress rajut @ Rp 25,00
 Benang 1 biji / Dress rajut @ Rp 750,00
 Obras / Dress rajut @ Rp 1.000,00
 Kain keras / Dress rajut @ Rp 500,00
 Viselin / Dress rajut @Rp 500,00
Ongkos jahit untuk Dress rajut @ Rp 2.250,00
BOP yang terdiri dari :
 Listrik Rp 1.550,00 / Dress rajut
 Sewa tempat Rp 450,00 / Dress rajut
 Penyusutan alat Rp 500,00 / Dress rajut
Adapun bahan baku untuk sebuah celana legging adalah 1,25 meter dengan
harga Rp 25.000,00. Biaa bahan penolong sebagai berikut :
 Hak kait Rp 100,00
 Resleting Rp 20.000,00 / kodi
 Benang Rp 1.000,00 / celana legging
 Kain keras Rp 500,00 / celana legging
 Obras Rp 1.000,00 / celana legging
Ongkos jahit Rp 2.500,00 dan BOP sama dengan Dress rajut.
Pada bulan ini juga PT Pop Star dalam memppproduksi pakaian tersebut juga
mengeluarkan biaya rasional sebagai berikut :
 Gaji manajer Rp 5.000,00
 Listrik kantor Rp 300.000,00
 Biaya pemasaran di media cetak Rp 750.000,00
 Sewa kantor Rp 30.000,00 / tahun
 Biaya administrasi Rp 150.000,00 / bulan
 Aktiva kantor dengan penyusutan 3% /tahun dengan total aktiva Rp
300.000,00
Simulasi perhitungan :
1. Harga Pokok produksi
Bahan Pokok
Bahan Dress rajut 1,25 m x 15000 Rp 18.750,00
Bahan Penunjang
Kancing 25 x Rp 10,00 Rp 250,00
Benang 1 x Rp 750,00 Rp 750,00
Obras 1 x Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
Kain keras 1 x Rp 500,00 Rp 500,00
Viselin 1 x Rp 500,00 Rp500,00
Rp 2.950,00
BOP
Listrik Rp 1.550,00
Sewa tempat Rp 450,00
Penyusutan alat Rp 500,00
Rp 2.500,000
BTKL Rp 2.250,00

Harga pokok Dress rajut per unit :


HP. Produksi = Biaya Bahan Baku + Bahan Penolong + BOP + BTKL
HP. Produksi = Rp 18.750,00 + Rp 2.950,00 + Rp 2.500,000 + Rp
2.250,00
= Rp 26.450,00 / unit

Harga pokok Dress rajut keseluruhan :


HP.Ps = HP.Produksi x 1000
Rp 26.450,00 x 1000
Rp 26.450.000,00
Bahan Pokok
Bahan celana legging 1,25 m x 25000 Rp 31.250,00
Bahan Penunjang
Hak kait 1 x Rp 100,00 Rp 100,00
Resleting 1 x Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
Benang 1 x Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
Kain keras 1 x Rp 500,00 Rp 500,00
Obras 1 x Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
Rp 3.600,00
BOP
Listrik Rp 1.550,00
Sewa tempat Rp 450,00
Penyusutan alat Rp 500,00
Rp 2.500,000
BTKL Rp 2.500,00

Harga pokok celana legging per unit :


HP. Produksi = Biaya Bahan Baku + Bahan Penolong + BOP + BTKL
HP. Produksi = Rp 31.250,00 + Rp 3.600,00 + Rp 2.500,000 + Rp
2.500,00
= Rp 39.850,00 / unit

Harga pokok celana legging keseluruhan :


HP.Ps = HP.Produksi x 1000
Rp 39.850,00 x 720
Rp 28.692.000,00
2. Harga Jual dengan margin 55%
a. Menentukan Harga Jual Dress rajut
Harga jual Dress rajut per unit :
𝑯𝑱 = 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 + (%𝑴𝒂𝒓𝒈𝒊𝒏 × 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊)
𝑯𝑱 = Rp 26.450,00 + (55% x Rp 26.450,00)
𝑯𝑱 =Rp 26.450,00 + 14.547,5
𝑯𝑱 = Rp 40.997,5

Harga jual Dress rajut keseluruhan :


𝑯𝑱𝒔 = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑱𝒖𝒂𝒍 + 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏
= 𝑹𝒑 𝟒𝟎. 𝟗𝟗𝟕, 𝟓 + 𝟏𝟎𝟎𝟎
= 𝑹𝒑 𝟒𝟎. 𝟗𝟗𝟕. 𝟓𝟎𝟎, 𝟎𝟎

b. Menentukan Harga Jual Celana legging


Harga jual celana legging per unit :
𝑯𝑱 = 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 + (%𝑴𝒂𝒓𝒈𝒊𝒏 × 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊)
𝑯𝑱 = Rp 39.850,00 + (55% x Rp 39.850,00)
𝑯𝑱 =Rp 39.850,00 + 21.917,5
𝑯𝑱 = Rp 61.767,5

Harga jual celana legging keseluruhan :


𝑯𝑱𝒔 = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑱𝒖𝒂𝒍 + 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏
= 𝑹𝒑 𝟔𝟏. 𝟕𝟔𝟕, 𝟓 + 𝟕𝟐𝟎
= 𝑹𝒑 𝟒𝟒. 𝟒𝟕𝟐. 𝟔𝟎𝟎, 𝟎𝟎
3. Laporan laba rugi
Penjualan Dress rajut Rp 40.997.500,00
Celana legging Rp 44.472.600,00
Rp 85.470.100,00 Rp 85.470.100,00
Harga Dress rajut Rp 26.450.000,00
Pokok
Produksi
Celana legging Rp 28.692.000,00
Rp 55.142.000,00
Rp 55.142.000,00
Laba Kotor Rp
140.612.100,00
Biaya Gaji manajer Rp 5.000.000,00
Operasional
Biaya cetak di media Rp 750.000,00
cetak
Listrik Rp 300.000,00
Sewa kantor Rp 30.000.000,00 : 12 = Rp
2.500.000,00
Biaya administrasi Rp 150.000,00
Aktiva Rp 30.000.000,00 x 3% =
Rp 900.000,00 : 12
= Rp 75.000,00
Rp 8.775.000,00
EBIT Rp
131.837.100,00

Karena tak ada bunga dan pajak (0) maka hasil akhir adalah juga disebut EBIT.
2.5.2. Quality
PT Pop Star memiliki Bagian Quality Control yang bertugas melakukan
koordinasi dengan perwakilan buyer dalam hal memastikan kualitas produk yang
dibuat, kemudian bertugas untuk memeriksa, mengontrol dan mengevaluasi
proses produksi sehingga hasil produk yang dihasilkan oleh perusahaan tetap
terjaga kualitasnya. Tujuan Quality Control adalah untuk mengetahui dan
mencegah cacat pada proses penjahitan yang terjadi sedini mungkin agar ketika
menemukan cacat dapat segera diperbaiki. Hal-hal yang harus dilakukan ketika
menemukan kerusakan ataupun cacat pada produk yaitu tandai dengan stiker
reject, dilipat dan dipisahkan. Jika produk terdapat cacat jahitan, maka produk
tersebut harus dikembalikan kepada operator yang bersangkutan namun bila cacat
(kain/aksesoris) hal tersebut harus dilaporkan kepada supervisor line terlebih
dahulu agar kemudian supervisor bisa meminta bantuan kepada administrasi line
untuk meminta kain/aksesoris ke bagian gudang untuk menganti kerusakan/cacat
yang terjadi. Terdapat 3 tahap proses pemeriksaan kualitas yang dilakukan di PT
Pop Star yaitu :
1. Midline check
Midline check merupakan bagian pemeriksaan kualitas yang melakukan
pemeriksaan pada saat produksi sedang berjalan dengan tujuan untuk
mengetahui, mencegah dan memperbaiki cacat pada proses penjahitan yang
terjadi sedini mungkin. Pada proses ini pemeriksaan dilakukan oleh supervisor
line.
2. QC Endline
QC Endline merupakan bagian pemeriksaan kualitas yang melakukan
pemeriksaan di akhir line produksi. Pemeriksaan kualitas pada bagian ini
memeriksa pakaian jadi secara keseluruhan setelah dilakukannya proses
penjahitan. Jika dijumpai cacat pada bagian ini akan dikembalikan kepada
operator yang bersangkutan untuk dilakukan perbaikan.
3. Final inspection
Final inspection merupakan proses pemeriksaan akhir setelah pakaian jadi
tersebut melewati proses finishing. Pemeriksaan kualitas pada bagian ini
memeriksa pakaian jadi secara keseluruhan. Pemeriksaan dilakukan oleh
departemen Quality Asurance (QA). Hal yang harus memperhatikan bagian–
bagian dari pakaian jadi tersebut, diantaranya adalah:
1) Ukuran
Berpedoman pada standar yang dibuat oleh buyer , mengukur setiap bagian
harus disesuaikan dengan standar size specification tersebut.
2) Kualitas Jahitan
Setiap jahitan harus diperiksa kualitasnya dan jenis cacatnya, seperti jahitan
loncat, jahitan putus dan jahitan mengambang.
3) Kenampakan
Kenampakan pakaian harus diperiksa karena adanya kemungkinan pakaian
yang telah selesai dijahit dibeberapa bagian tidak simetris.
4) Penodaan pada kain
Penodaan pada kain yang disebabkan oleh oli, debu dan minyak. Dilakukan
juga pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya belang (Shading warna)
dan kain berlubang. Penodaan yang disebabkan oleh oli dan minyak dapat
ditanggulangi dengan menggunakan albatross (berupa cairan berwarna
putih) yang kemudian disemprotkan pada noda.

2.5.3. Flexibility
PT Pop Star merespon secara efektif perubahan yang terjadi di internal
(operasi) perusahaan, maupun lingkungan eksternal perusahaan.
Macam-macam fleksibilitas pada FMS :
• Fleksibilitas mesin
Fleksibilitas mesin berarti kemampuan sebuah mesin untuk melakukan
bermacam-macam operasi pada bermacam-macam part produk dengan tipe
dan bentuk berbeda. Keuntungan yang didapat dari mesin fleksibel dan
pergantian tipe part yang diproses dengan cepat ini adalah kebutuhan besar
lokasi yang ekonomis dan waktu proses yang lebih rendah.
• Fleksibilitas rute
Fleksibilitas rute berarti part-part produk tersebut dapat diproduksi dengan
beberapa rute alternatif. Fleksibilitas rute secara utama digunakan untuk
memanage perubahan internal yang disebabkan oleh kerusakan alat,
kegagalan pengontrol, dan hal-hal lain sejenis dan juga dapat membantu
peningkatan output.
• Fleksibilitas proses
Fleksibilitas proses atau yang lebih dikenal dengan nama Mix-Change
Flexibility adalah kemampuan untuk melakukan perubahan menuju set-set
produk baru yang harus diproduksi secara cepat dan ekonomis, untuk
merespon perubahan market dan engineering untuk beroperasi pada basis
pelayanan pesanan terbatas.
• Fleksibilitas produksi
Fleksibilitas Produksi berarti kemampuan untuk memproduksi bermacam–
macam produk tanpa perlu adanya penambahan pada peralatan-peralatan
berat/penting, walaupun penambahan tool–tool baru atau sumber daya lain
dapat dimungkinkan. Hal ini menyebabkan dapat diproduksinya berbagai
macam jenis produk dengan biaya dan waktu yang memadai
• Fleksibilitas Ekspansi
Fleksibilitas Ekspansi berarti kemampuan untuk merubah sistem
manufaktur untuk mengakomodasi perubahan produk–produk secara
umum. Perbedaannya dengan definisi Fleksibiltas Produksi adalah, pada
Fleksibilitas Ekspansi perubahan produk diikuti pula dengan penambahan
peralatan beratnya. Tapi hal ini dapat dilakukan dengan mudah karena
perubahan dan penambahan itu dapat dikerjakan pada desain sistem
manufaktur yang aslinya.

2.5.4. Delivery
Setelah produk selesai proses packing dan lolos dari pemeriksaan kualitas,
kemudian produk akan dikirim kepada buyer. Proses pengiriman produk di PT
Pop Star dilakukan dengan 2 cara yaitu melalui jalur laut, dan jalur udara:
1. Jalur laut (by sea)
Pengiriman barang dilakukan melalui jalur laut jika waktu pengiriman tepat
waktu. Hal ini dilakukan jika waktu pengiriman cukup panjang dan biaya
yang dikeluarkan pun lebih murah.
2. Jalur udara (by air)
Jalur udara dilakukan jika waktu pengiriman ke pelanggan sudah mendesak.
Hal ini dikarenakan terjadi keterlambatan pada proses produksi tetapi ada
juga pelanggan yang menginginkan pengiriman produk melalui jalur udara
dengan pertimbangan ongkos yang dikeluarkan ditanggung oleh pelanggan
tersebut. Pengiriman melalui jalur udara biayanya lebih mahal dibandingkan
dengan mengunakan jalur laut.
3. Jalur darat
Jalur darat dilakukan untuk pengiriman barang untuk buyer lokal dengan
menggunakan truk sebagai transportasi pengantarnya.

2.6. Policies
Policy Type Policy Area Strategic Choices
Process Span of process Make the products
Automation Machine made
Process flow Flexible
Job specialization Line
Supervision Empowered workers
Quality Approach Inspection
Systems Training Technical training
Suppliers Selected based on quality
and cost
Capacity Facility size One large facilities
Location Labor
Investment Permanent
Inventory Amount High levels og inventory
Distribution Centralized warehouses
Control systems Control in great detail
2.7. Consistent Pattern of Decision

Gambar 2.1. Consistent Pattern of Decision

Keterangan :
a. Saat terjadi masalah pada perusahaan langkah pertama yang dilakukan
adalah mendefinisikan apakah sebenarnya masalah yang terjadi pada
perusahaan.
b. Lalu dilakukan analisis terhadap masalah tersebut, seperti : apa yang
menyebabkan hal ini terjadi? Dan lain-lain.
c. Selanjutnya hal yang dilakukan adalah menemukan solusi yang
memungkinkan untuk menyelesaikan masalah ini.
d. Lalu, dilakukan analisis terhadap masing-masing solusi.
e. Kemudian dipilih solusi yang dirasa paling baik untuk menyelesaikan
masalah ini.
f. Lalu direncanakan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan agar
masalah tidak terulang kembali.
BAB III
HASIL

3.1. Produk

Gambar 3.1. Produk PT. Pop Star