Anda di halaman 1dari 9
See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/324674863

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/324674863

Conference Paper · September 2017

CITATIONS

0

4 authors, including:

13 PUBLICATIONS 5 CITATIONS SEE PROFILE
13 PUBLICATIONS
5 CITATIONS
SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

dissertation project View project View project

All content following this page was uploaded by Rossyda Priyadarshini on 21 April 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

READS

101

PEMANFAATAN GIS DALAM IDENTIFIKASI SEBARAN PERTANIAN LAHAN KRITIS DATARAN TINGGI DAS WELANG

Maroeto 1 , Suntoro W.A. 2 , Joko S. 2 , Rossyda P. 3

1) Program Doktor Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN “Veteran“ Jawa Timur 2) Program Studi Ilmu Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta 3) Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN “Veteran“ Jawa Timur E-mail : maroeto@upnjatim.ac.id

ABSTRAK

Degradasi lahan menuju kekritisan terparah pada umumnya diwilayah hulu DAS dimana dicirikan daerah dataran tinggi, dan memiliki bentuk lahan (land form) kawasan hutan, dimana terjadi alih fungsi lahan hutan ke non hutan yaitu pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi sebaran pertanian lahan kritis dataran tinggi DAS Welang. Pengumpulan data lapangan (ground check) tersebar pada 5 kecamatan yaitu Kec. Tutur, Kec. Tosari, Kec. Purwodadi, Kec. Purwosari dan Kec. Prigen, Kabupaten Pasuruan. Analisis spasial dilakukan pengolahan data digital metode tumpang-tindih (overlay) dengan bantuan GIS menghasilkan peta sebaran pertanian lahan kritis DAS Welang. Hasil pemanfaatan GIS disimpulkan sebagian besar wilayah adalah kategori Agak Kritis sebesar 2699,05 Ha, diikuti oleh urutan kedua daerah Potensial Kritis yaitu sebesar 2200,95 Ha. Selain itu, teridentifikasi daerah Agak Kritis memiliki satuan penggunaan lahan terbanyak yaitu perkebunan sayur-sayuran dengan komoditas unggulannya adalah kentang, kubis dan wortel.

Katakunci : Lahan Kritis, DAS dan Analisa Spasial.

1. PENGANTAR

Perencanaan ruang dalam kawasan DAS dengan mengatur keselarasan fungsi

pemanfaatan, penggunaan dan fungsi perlindungan justru menjadi arahan kebijakan

pengelolaan suatu wilayah DAS. Sebaliknya, inkonsistensi pemanfaatan ruang kawasan

DAS sebagai dampak dari tidak terkonfirmasinya suatu penggunaan lahan terhadap arahan

pemanfaatan yang ditetapkan, menyebabkan penggunaan lahan melebihi kapasitas atau

daya dukung fisik lingkungan berdampak pada proses degradasi lahan (Asdak, 2014).

Ironisnya, sebagian DAS di Indonesia telah mengalami kerusakan parah pada aspek

biofisik dan sosial masyarakatnya. Berdasarkan data statistik Kementrian Lingkungan

Hidup dan Kehutanan pada tahun 2013 di Indonesia terdapat 19,57 juta ha lahan kritis dan

4,74 juta ha lahan sangat kritis dengan total luas lahan kritis 44,30 juta ha. Kerusakan DAS

yang terjadi diakibatkan oleh perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk

serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS (Arifjaya

2012). Pada dasarnya usaha pertanian dan rumah tangga petani merupakan unit dasar

aktivitas dengan pengaruh utama yaitu kondisi lingkungan fisik.

Degradasi lahan menuju kekritisan terparah secara umum pada wilayah hulu DAS dimana dicirikan daerah dataran tinggi, dan memiliki bentuk lahan (land form) yaitu kawasan hutan, dalam perkembangannya terjadi alih fungsi lahan hutan ke non hutan (pertanian). Pergeseran penggunaan lahan merupakan konsekuensi dari fenomena aktivitas manusia terhadap tekanan seiiring kebutuhan terhadap lahan yang terus meningkat. Van Noordwijk dan Hairiah (2006), menambahkan meningkatnya intensifikasi pertanian akan mengubah kondisi tanah suatu agroekosistem sehingga menyebabkan hilangnya biodiversitas organisme tanah. Hal tersebut disebabkan oleh adanya penurunan jumlah dan diversitas masukan organik ke dalam rantai makanannya, dan adanya penggunaan bahan kimia serta modifikasi iklim mikro. Sitorus (2004) mengemukakan lahan kritis adalah lahan yang pada saat ini tidak atau kurang produktif ditinjau dari penggunaan pertanian, karena penggunaannya tidak atau kurang memperhatikan kaidah konservasi tanah. Pada lahan kritis ini terdapat satu atau lebih faktor yang menghambat pemanfaatannya. Senada Prasetyo et al. (2013) menyatakan lahan kritis sebagai tanah yang mengalami penurunan fungsi (degradasi) sampai ke tingkat tertentu yang disebabkan oleh kerusakan lahan. Fungsi yang dimaksud di sini merupakan fungsi produksi dan sistem tata air. Fungsi produksi berhubungan dengan tanah yang berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, sedangkan fungsi sistem tata air berhubungan dengan tanah yang berfungsi sebagai landasan akar dan penyimpanan air tanah. Realita dilapang seringkali dijumpai penggunaan suatu areal budidaya pertanian oleh masyarakat setempat biasanya didasarkan pada budaya dan kebiasaan yang telah berlangsung lama dan diturunkan oleh nenak moyang mereka. Dengan demikian wilayah yang lebih sesuai untuk komoditas tanaman perkebunan, dilapangan bisa saja digunakan untuk penanaman komoditas tanaman pangan, atau sebaliknya wilayah yang sesuai untuk tanaman pangan digunakan untuk tanaman perkebunan. Padahal, jika suatu wilayah dipaksakan untuk memproduksi semua jenis komoditas yang sesuai di wilayah tersebut, maka biaya yang harus ditanggung sangat besar. Tindakan paling baik adalah mencari keunggulan komparatif di suatu wilayah, sehingga wilayah tersebut dapat dijadikan basis komoditas tanaman tertentu sesuai dengan keunggulan komparatif wilayah tersebut. Mencermati berbagai kondisi tersebut maka seyogyanya identifikasi sebaran kegiatan pertanian sangat penting dilakukan mengingat komoditas yang terpilih pada suatu lahan adalah komoditas berdasarkan evaluasi lahan secara tepat dan aspek agronomis yang mendukung tanpa mengabaikan nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga kriteria penetapan lahan kritis untuk kawasan pertanian dapat dipahami dan terangkum kedalam analisa spasial dengan dukungan Geographical Information System (GIS). GIS dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang terintegrasi dan mengubah data geografis (kriteria peta input) dan penilaian nilai (pembuat keputusan preferensi dan ketidakpastian) untuk

mendapatkan penilaian secara keseluruhan untuk memilih antara tindakan alternatif (tujuan), hipotesis dan lokasi (Malczewski, 2006). GIS mampu melakukan berbagai tugas menggunakan spasial dan data atribut. Salah satu manfaat GIS adalah kemampuan untuk overlay (Ceballos-Silva dan López-Blanco, 2003) dari peta yang berbeda. GIS sangat berguna dalam memberikan informasi spasial yang diinginkan sehingga pemetaan mudah dalam proses dan hasil yang diperoleh sangat baik, detail dan akurat dibanding kegiatan survey terestrial yang mempunyai kelemahan membutuhkan waktu yang cukup lama dan sulitnya menjangkau daerah yang sulit didatangi. Sehingga penelitian ini fokus bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran pertanian lahan kritis dataran tinggi DAS Welang.

2.

METODE PENELITIAN

2.1.

Waktu dan Lokasi

Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan September 2016 yang terdiri dari kegiatan pengumpulan data sekunder, analisis spasial, dan pengumpulan data di lapangan (ground check). Data sekunder dikumpulkan dari beberapa instansi terkait yaitu BPS Kab. Pasuruan dan BAPPEDA Kabupaten Pasuruan. Pengolahan dan analisis data dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Lahan UPN “Veteran” Jatim. Sedangkan pengecekan lapangan dilakukan pada beberapa titik sampel wilayah yang tersebar pada 5 kecamatan yaitu Kec. Tutur, Kec. Tosari, Kec. Purwodadi, Kec. Purwosari dan Kec. Prigen, Kabupaten Pasuruan.

2.2. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini meliputi:

a) Peralatan untuk menganalisis data spasial dan pemodelan, yaitu berupa unit komputer

dengan software yang terdiri dari, Microsoft Office, ArcGis 9.3, dan

b) Peralatan lapang untuk validasi, yang meliputi GPS (Global Positioning System), kamera, dan peralatan tulis.

Bahan-bahan yang digunakan berupa:

a) Literatur yang berkaitan dengan topik lahan kritis dan model perubahan penutupan/penggunaan lahan.

b) Citra satelit Landsat ETM 7.

c) Peta Rupa Bumi Indonesia (1:50.000).

d) Data spasial (peta-peta tematik) terkait sifat fisik lahan, yakni peta sistem lahan (1:250.000), peta tanah (1:250.000), peta curah hujan, dan peta penggunaan lahan tahun 2010 (1:100.000) dari BPDAS Brantas.

e) Data pendukung lain dari instansi-instansi yang meliputi data sosial dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kab. Pasuruan, data curah hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi

dan Geofisika (BMKG), RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2010, dan data rencana strategis dan rehabilitasi lahan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Pasuruan tahun 2012.

2.3. Analisa Spasial

Analisis spasial dilakukan dengan pengolahan data digital pada skala tinjau dan metode tumpang-tindih (overlay). Pada tahap ini, peta yang satu di-overlay dengan peta yang lain sehingga terbentuk peta baru atau dalam penerapannya yaitu peta lahan kritis di- overlay dengan peta penggunaan lahan pertanian dengan bantuan GIS sehingga menghasilkan unit pemetaan baru yang berupa peta sebaran pertanian lahan kritis DAS Welang.

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.

Kondisi Umum DAS Welang

DAS Welang merupakan salah satu sungai besar yang melintasi 3 (tiga) daerah administrasi. Bagian Hilir Kali Welang melintasi Kota dan Kabupaten Pasuruan, bagian tengah dan hulu melintasi Kabupaten Pasuruan, dan bagian paling hulu melintasi Kabupaten Malang tepatnya di Kecamatan Lawang. Secara astronomi wilayah DAS Welang terletak antara 112º37'30''-112º52'30'' Bujur Timur dan 7º37'20''-7º52'30'' Lintang Selatan. Wilayah kerja BPDAS Sampean meliputi luasan 1.732.877,32 ha. DAS Welang merupakan salah satu dari sekian banyak DAS yang mengalami fenomena degradasi lahan menuju lahan kritis. DAS Welang merupakan bagian dari siklus hidrologi yang tepatnya berada disebelah timur di Kabupaten Pasuruan, dengan sungai-sungai utama mengalir dari hulunya di daerah dataran tinggi di sebelah selatan, menerima aliran dari anak-anak sungainya di daerah tengahnya dan bermuara di Selat Madura yang merupakan batas utara Kabupaten Pasuruan. Sungai Welang merupakan sungai catchment area terbesar yaitu 518 km2, juga terpanjang 36 km dan lebar 35 m, tetapi debit alirannya masih lebih rendah daripada Sungai Rejoso yang mempunyai catchment area lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh panjang Sungai Rejoso yang relatif pendek, sehingga time of concentration pendek dan debit aliran besar serta cepat sampai kehilir. Hal ini dapat dilihat dari banjir yang terjadi di muara sungai ini, yang lebih besar daripada di muara Sungai Welang (Kabupaten Pasuruan, 2013). DAS Welang terdiri dari 15 satuan penggunaan lahan dan 6 diantaranya merupakan kegiatan pertanian yaitu kebun campuran, perkebunan, perkebunan sayur-sayuran, sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan tegalan.

3.2.

Sebaran Pertanian Lahan Kritis DAS Welang

Lahan kritis merupakan lahan yang telah mengalami peristiwa degradasi atau penurunan kualitas tanah, baik bersifat sementara maupun tetap akibat faktor biofisik lahan yang terganggu. Berdasarkan hasil pengamatan dampak dari lahan kritis DAS Welang dari tidak hanya pemunduran sifat-sifat tanah, namun juga mengakibatkan penurunan fungsi

konservasi dan fungsi produksi. Lahan kritis sebagai hasil akhir dari proses degradasi lahan, pada mulanya terjadi akibat adanya pemanfaatan lahan yang berlebihan tanpa memperhatikan aspek kemampuan dan pengelolaan lahan. Selain faktor penggunaan lahan dan curah hujan, terjadinya lahan kritis juga didukung oleh faktor topografi, seperti kondisi lereng yang curam serta kondisi lahan yang memiliki tanah yang peka terhadap erosi. Namun demikian, petani dataran tinggi masih mempertahankan kegiatan budidaya pertaniannya dengan mengabaikan pola pikir konservasi lahan. Adapun pertanian lahan kritis dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.

pertanian lahan kritis dapat dilihat pada gambar 1 dan 2. Gambar 1. Lahan Kritis pada SPL
Gambar 1. Lahan Kritis pada SPL Kebun Sayur Desa Ngadiwono, Kec. Tosari
Gambar 1. Lahan Kritis pada SPL
Kebun Sayur Desa Ngadiwono,
Kec. Tosari
Gambar 2. Lahan Kritis pada SPL Kebun Campuran Desa Kayu Bebek, Kec. Tutur
Gambar 2. Lahan Kritis pada SPL
Kebun Campuran Desa Kayu Bebek,
Kec. Tutur

Kondisi lahan pada suatu wilayah menggambarkan keadaan bentuk lahan di wilayah tersebut. Dataran tinggi dalam daerah tangkapan air (catchment area) DAS Welang merupakan lahan-lahan terbuka yang umumnya didominasi oleh budidaya tanaman semusim. Lahan-lahan ini merupakan lahan milik masyarakat yang digunakan sebagai lahan usahatani. Hasil pengamatan terhadap luasan kekritisan lahan pada dataran tinggi DAS Welang (Tabel 2).

Tabel 1. Luas Kekritisan Lahan Pada Dataran Tinggi

No

Kekritisan Lahan

Luasan (ha)

1.

Sangat Kritis

4,58

2.

Kritis

80,90

3.

Agak Kritis

2699,05

4.

Potensial Kritis

2200,95

5.

Tidak Kritis

537,85

Sumber : BPDAS (2012) dan Analisa Spasial (2016).

Tabel 1. menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah dataran tinggi DAS Welang

adalah dikategorikan kedalam status “Agak Kritis” yaitu diketahui sebesar 2699,05 Ha.

Sedangkan urutan kedua proporsi wilayah dataran tinggi DAS Welang adalah daerah

“Potensial Kritis” dengan diketahui sebesar 2200,95 Ha. Selain itu, juga dapat diketahui

bahwa daerah yang masuk kedalam level “Sangat Kritis” juga diketahui masih besar yaitu

4,58 Ha artinya hal ini merupakan tanggung jawab bersama bukan sepihak saja dari

Pemerintah Kabupaten Pasuruan, tetapi juga elemen penting subyek penggunanya agar

mau merekonstruksi pemikirannya dalam praktik konservasi lahan dan dimungkinkan

kearah pertanian berkelanjutan.

Pengkajian pertanian lahan kritis dinilai sangat penting guna mendukung upaya

mitigasi (pengurangan ancaman) lahan kritis di lokasi penelitian. Upaya ini dapat dilakukan

dengan cara mengidentifikasi kawasan budidaya pertanian dan level kekritisan lahan

sekaligus mampu menentukan komoditas unggulan pertanian baik tanaman pangan,

hortikultura buah dan sayuran maupun perkebunan. Penelitian ini diharapkan menjadi

informasi kepada pemerintah daerah setempat yakni dalam hal pengambilan kebijakan

terkait prediksi ekspansi lahan kritis pada keadaan mendatang di lokasi penelitian.

Gambaran kekritisan lahan, SPL, komoditas dan posisi titik pengamatan dapat dilihat pada

Gambar 3 dan Tabel 2.

titik pengamatan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Tabel 2. Gambar 3. Peta Kekritisan Lahan yang

Gambar 3. Peta Kekritisan Lahan yang di-Overlay dengan Penggunaan Lahan Pertanian.

Tabel 2. Matriks Hubungan Kekritisan Lahan, Satuan Penggunaan Lahan. Komoditas dan Titik Pengamatan

TOPOGRAFI

KRITERIA

SATUAN PETA

LUAS

KOMODITAS

KECAMATAN

DESA

LAHAN

LAHAN

WILAYAH

 

Sangat Kritis

Perkebunan sayur-

4,58

     

sayuran

Kentang, Kubis, Wortel

Tutur

Ds. Kayu Kebek, Ds. Ngadirejo

 

Kebun Campuran

4,42

Kopi, Cengkeh, Durian

Tutur

Ds. Blarang, Ds. Kayu Kebek

Perkebunan

1,69

Durian, Kopi, Alpukat

Purwodadi

Ds. Tambak Sari

Kritis

Perkebunan Sayur-

74,05

Kentang, Kubis, Wortel

Tutur

Ds. Blarang

sayuran

 

Tegalan

0,75

Jagung, Ketela Pohon,

Purwodadi

Ds. Tambak Sari

Cabai

Purwosari

Ds Sumberejo

       

Prigen

Ds.Jatiarjo

Kebun Campuran

198,30

Kopi, Cengkeh, Durian

Purwosari

Ds.Cendono, Ds.Sumber Rejo

Purwodadi

Ds.Tambak sari

     

Prigen

Ds.Dayu rejo

Perkebunan

31,67

Durian, Kopi, Alpukat

Purwosari

Ds.Cendono, Ds. Sumber Rejo

Purwodadi

Ds.Tambak Sari, Ds.Jati sari

       

Ds. Kayu Kebek, Ds.Blarang,

Ds.Ngadirejo, Ds.Wonosari,

Agak Kritis

Tutur

Ds.Andonosari, Ds.Gendro,

Perkebunan sayur-

sayuran

2411,81

Kentang, Kubis, Wortel

Ds.Telogosari, Ds.Pungging,

Ds.Tutur,Ds. Kali puncang

Tosari

Ds.Podokoyo,Ds. Ngadiwono,

Ds.Mororejo,

Sawah Tadah Hujan

4,83

Jagung, Padi, Ketela

Purwosari

Ds.Cendono, DsSumber Rejo

Pohon

Prigen

Ds.Jatiarjo

Tegalan

52,44

Jagung, Ketela Pohon,

Prigen

Ds.Jatiarjo

Cabai

Purwosari

Ds.Cendono

Dataran Tinggi

       

Prigen

Ds.Jatiarjo

Kebun Campuran

214,99

Kopi, Cengkeh, Durian

Purwosari

Ds.Cendono, Ds.Sumber Rejo

Purwodadi

Ds.Tambak sari

Perkebunan

36,17

Durian, Kopi, Alpukat

Purwosari

Ds.Sumber Rejo

Prigen

Ds.Jatiarjo

       

Tosari

Ds.Podokoyo, Ds.Mororejo

Potensial

Perkebunan Sayur-

sayuran

 

Ds.Ngadirejo, Ds. Kayu Kebek,

Kritis

1772,81

Kentang, Kubis, Wortel

Ds.Blarang, Ds.Wonosari,Ds.

Tutur

Andonosari, Ds.Gendro, Ds.Tutur,

 

Ds.Pungging, Ds.Kalipuncang,

Ds.Tutur

Sawah Tadah Hujan

2,35

Jagung, Padi, Ketela

Purwosari

Ds.Sumber Rejo

Pohon

   

Jagung, Ketela Pohon,

Cabai

Purwosari

Ds.Cendono

Tegalan

174,63

Prigen

Ds.Dayu rejo, Ds.Jatiarjo

Purwosari

Ds.Sumber Rejo

       

Purwosari

Ds.Sumber Rejo,Ds.Cendono

Kebun Campuran

139,62

Kopi, Cengkeh, Durian

Prigen

Ds.Jatiarjo

Purwodadi

Ds.Tambak sari

Perkebunan

68,05

Durian, Kopi, Alpukat

Purwosari

Ds.Sumber Rejo, Ds.Cendono

Purwodadi

Ds.Tambak sari, Ds.Jati sari

     

Tosari

Ds. Podokoyo

Tidak Kritis

Perkebunan Sayur-

 

Ds. Blarang, Ds. Wonosari, Ds.

sayuran

86,55

Kentang, Kubis, Wortel

Tutur

Andonosari, Ds. Gendro, Ds.

Pungging, Ds. Tutur, Ds. Tlagasari

Sawah Tadah Hujan

1,63

Jagung, Padi, Ketela

Purwosari

Ds. Sumberejo

Pohon

Tegalan

242,00

Jagung, Ketela Pohon,

Prigen

Ds.Dayu rejo,Ds. Jatiarjo

Cabai

Purwosari

Ds.Sumber Rejo, Ds.Cendono

Sumber : Data Diolah (2016)

4.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil pemanfaatan GIS dalam sebaran pertanian lahan kritis daerah dataran tinggi

DAS Welang dapat disimpulkan bahwa sebagaian besar wilayah tersebut masuk kedalam

kategori Agak Kritis yaitu sebanyak 2699,05 Ha (48,86%) dari total luasan 5523,33 Ha,

diikuti oleh secara berurutan yaitu daerah Potensial Kritis, Tidak Kritis, Kritis dan Sangat

Kritis. Daerah Agak Kritis telah teridentifikasi memiliki satuan penggunaan lahan terbanyak

untuk kegiatan pertanian meliputi perkebunan sayur-sayuran dengan komoditas

unggulannya adalah kentang, kubis dan wortel. Sebaran pertanian lahan kritis di daerah

penelitian, direkomendasikan sebagai dasar acuan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

Pemerintah Kabupaten Pasuruan, dengan demikian dapat dimitigasi sedini mungkin, yakni

lahan kritis yang saat ini dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian sebaiknya perlu reevaluasi

sehingga menjadi tepat peruntukannya dan keberlanjutan lahan di masa mendatang,

sejalan dengan adanya rehabilitasi lahan kritis menggunakan desain agroforestri yaitu

untuk jenis tanaman tahunan lebih diarahkan pada daerah lereng dan lembah, sedangkan

untuk tanaman semusim lebih baik ditanam pada bagian lembah serta selalu

memperhatikan kaidah konservasi lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press. Arifjaya NM. 2012. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut Pengelolaan DAS Cisadane (FGD). Bogor. Asdak C. 2014. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta (ID). Ceballos-Silva, A., Lòpez-Blanco, J., 2003. Delineation of Suitable Areas for Crops using Multi-Criteria Evaluation Approach and Land Use/Cover Mapping: a case study in Central Mexico. Agricultural Systems 77, p.117136. Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengkajian Perencanaan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB. 2011. Report Penyusunan Lahan Kritis. Jakarta. Malczewski J., 2006. GIS-Based Multicriteria Decision Analysis : A Survey of Literature. International Journal of Geographic Informaton Science, 20(7), p.703-726. Prasetyo SYJ, Hasiholan BS, Hartomo KD, Paseleng M, Nuswantoro B. 2013. Geographic Information System of Critical Level of Land Degredation (Critical Land) Based on Agro-ecological Zone (AEZ) in Agricultural Areas with Recombination Method of Fuzzy Logic and Scoring. Int J of Comput Sci Iss. 10 (1): 217-221. Sitorus SRP. 2004. Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan. Departemen Tanah. Fakultas Pertanian IPB. Bogor: IPB. Van Noordwijk M dan Hairiah K. 2006. Agricultural Intensification, Soil Biodiversity and Agro-ecosistem Function. Agrivita 28: 0126 - 0537