Anda di halaman 1dari 9

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/324674863

PEMANFAATAN GIS DALAM IDENTIFIKASI SEBARAN PERTANIAN LAHAN
KRITIS DATARAN TINGGI DAS WELANG

Conference Paper · September 2017

CITATIONS READS

0 101

4 authors, including:

Rossyda Priyadarshini
University of Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
13 PUBLICATIONS   5 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

dissertation project View project

All content following this page was uploaded by Rossyda Priyadarshini on 21 April 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

A. Fakultas Pertanian. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. PEMANFAATAN GIS DALAM IDENTIFIKASI SEBARAN PERTANIAN LAHAN KRITIS DATARAN TINGGI DAS WELANG Maroeto1. Tosari. Ironisnya.57 juta ha lahan kritis dan 4. Kec. Hasil pemanfaatan GIS disimpulkan sebagian besar wilayah adalah kategori Agak Kritis sebesar 2699.3 1) Program Doktor Ilmu Pertanian.05 Ha. penggunaan dan fungsi perlindungan justru menjadi arahan kebijakan pengelolaan suatu wilayah DAS. Analisis spasial dilakukan pengolahan data digital metode tumpang-tindih (overlay) dengan bantuan GIS menghasilkan peta sebaran pertanian lahan kritis DAS Welang. dimana terjadi alih fungsi lahan hutan ke non hutan yaitu pertanian.74 juta ha lahan sangat kritis dengan total luas lahan kritis 44. .id ABSTRAK Degradasi lahan menuju kekritisan terparah pada umumnya diwilayah hulu DAS dimana dicirikan daerah dataran tinggi. Fakultas Pertanian. 1. Kec. Purwosari dan Kec. Tutur. Surakarta 3) Program Studi Agroteknologi. UPN “Veteran“ Jawa Timur E-mail : maroeto@upnjatim. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi sebaran pertanian lahan kritis dataran tinggi DAS Welang. Prigen. Pada dasarnya usaha pertanian dan rumah tangga petani merupakan unit dasar aktivitas dengan pengaruh utama yaitu kondisi lingkungan fisik. Kerusakan DAS yang terjadi diakibatkan oleh perubahan tata guna lahan. Selain itu. 2014). Katakunci : Lahan Kritis. Rossyda P.ac. Program Studi Agroteknologi. Suntoro W. sebagian DAS di Indonesia telah mengalami kerusakan parah pada aspek biofisik dan sosial masyarakatnya. diikuti oleh urutan kedua daerah Potensial Kritis yaitu sebesar 2200. pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS (Arifjaya 2012). teridentifikasi daerah Agak Kritis memiliki satuan penggunaan lahan terbanyak yaitu perkebunan sayur-sayuran dengan komoditas unggulannya adalah kentang. Kabupaten Pasuruan. dan memiliki bentuk lahan (land form) kawasan hutan. Pengumpulan data lapangan (ground check) tersebar pada 5 kecamatan yaitu Kec. DAS dan Analisa Spasial. inkonsistensi pemanfaatan ruang kawasan DAS sebagai dampak dari tidak terkonfirmasinya suatu penggunaan lahan terhadap arahan pemanfaatan yang ditetapkan. PENGANTAR Perencanaan ruang dalam kawasan DAS dengan mengatur keselarasan fungsi pemanfaatan.95 Ha. Joko S. menyebabkan penggunaan lahan melebihi kapasitas atau daya dukung fisik lingkungan berdampak pada proses degradasi lahan (Asdak. kubis dan wortel. Universitas Sebelas Maret.30 juta ha.2. Purwodadi. Berdasarkan data statistik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2013 di Indonesia terdapat 19. UPN “Veteran“ Jawa Timur 2) Program Studi Ilmu Pertanian.2. Kec. Sebaliknya.

dalam perkembangannya terjadi alih fungsi lahan hutan ke non hutan (pertanian). Dengan demikian wilayah yang lebih sesuai untuk komoditas tanaman perkebunan. Realita dilapang seringkali dijumpai penggunaan suatu areal budidaya pertanian oleh masyarakat setempat biasanya didasarkan pada budaya dan kebiasaan yang telah berlangsung lama dan diturunkan oleh nenak moyang mereka. jika suatu wilayah dipaksakan untuk memproduksi semua jenis komoditas yang sesuai di wilayah tersebut. Padahal. Pada lahan kritis ini terdapat satu atau lebih faktor yang menghambat pemanfaatannya. Sitorus (2004) mengemukakan lahan kritis adalah lahan yang pada saat ini tidak atau kurang produktif ditinjau dari penggunaan pertanian. Mencermati berbagai kondisi tersebut maka seyogyanya identifikasi sebaran kegiatan pertanian sangat penting dilakukan mengingat komoditas yang terpilih pada suatu lahan adalah komoditas berdasarkan evaluasi lahan secara tepat dan aspek agronomis yang mendukung tanpa mengabaikan nilai ekonomis yang tinggi. Senada Prasetyo et al. (2013) menyatakan lahan kritis sebagai tanah yang mengalami penurunan fungsi (degradasi) sampai ke tingkat tertentu yang disebabkan oleh kerusakan lahan. atau sebaliknya wilayah yang sesuai untuk tanaman pangan digunakan untuk tanaman perkebunan. maka biaya yang harus ditanggung sangat besar. Van Noordwijk dan Hairiah (2006). Hal tersebut disebabkan oleh adanya penurunan jumlah dan diversitas masukan organik ke dalam rantai makanannya. sedangkan fungsi sistem tata air berhubungan dengan tanah yang berfungsi sebagai landasan akar dan penyimpanan air tanah. sehingga wilayah tersebut dapat dijadikan basis komoditas tanaman tertentu sesuai dengan keunggulan komparatif wilayah tersebut. Degradasi lahan menuju kekritisan terparah secara umum pada wilayah hulu DAS dimana dicirikan daerah dataran tinggi. Fungsi produksi berhubungan dengan tanah yang berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. dan memiliki bentuk lahan (land form) yaitu kawasan hutan. Sehingga kriteria penetapan lahan kritis untuk kawasan pertanian dapat dipahami dan terangkum kedalam analisa spasial dengan dukungan Geographical Information System (GIS). GIS dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang terintegrasi dan mengubah data geografis (kriteria peta input) dan penilaian nilai (pembuat keputusan preferensi dan ketidakpastian) untuk . karena penggunaannya tidak atau kurang memperhatikan kaidah konservasi tanah. Pergeseran penggunaan lahan merupakan konsekuensi dari fenomena aktivitas manusia terhadap tekanan seiiring kebutuhan terhadap lahan yang terus meningkat. Fungsi yang dimaksud di sini merupakan fungsi produksi dan sistem tata air. dan adanya penggunaan bahan kimia serta modifikasi iklim mikro. menambahkan meningkatnya intensifikasi pertanian akan mengubah kondisi tanah suatu agroekosistem sehingga menyebabkan hilangnya biodiversitas organisme tanah. dilapangan bisa saja digunakan untuk penanaman komoditas tanaman pangan. Tindakan paling baik adalah mencari keunggulan komparatif di suatu wilayah.

Kec. analisis spasial. d) Data spasial (peta-peta tematik) terkait sifat fisik lahan.1.000) dari BPDAS Brantas. METODE PENELITIAN 2. b) Citra satelit Landsat ETM 7. 2. Data sekunder dikumpulkan dari beberapa instansi terkait yaitu BPS Kab. yakni peta sistem lahan (1:250. Pengolahan dan analisis data dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Lahan UPN “Veteran” Jatim. GIS sangat berguna dalam memberikan informasi spasial yang diinginkan sehingga pemetaan mudah dalam proses dan hasil yang diperoleh sangat baik. hipotesis dan lokasi (Malczewski. yaitu berupa unit komputer dengan software yang terdiri dari. Microsoft Office. peta curah hujan. dan pengumpulan data di lapangan (ground check). Pasuruan dan BAPPEDA Kabupaten Pasuruan.000). Kec. detail dan akurat dibanding kegiatan survey terestrial yang mempunyai kelemahan membutuhkan waktu yang cukup lama dan sulitnya menjangkau daerah yang sulit didatangi. Kabupaten Pasuruan. yang meliputi GPS (Global Positioning System). 2003) dari peta yang berbeda. data curah hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi . Pasuruan.2. Tosari. Bahan-bahan yang digunakan berupa: a) Literatur yang berkaitan dengan topik lahan kritis dan model perubahan penutupan/penggunaan lahan. GIS mampu melakukan berbagai tugas menggunakan spasial dan data atribut. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan pada penelitian ini meliputi: a) Peralatan untuk menganalisis data spasial dan pemodelan. Prigen. Tutur. Purwosari dan Kec. ArcGis 9. e) Data pendukung lain dari instansi-instansi yang meliputi data sosial dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kab.3. Waktu dan Lokasi Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan September 2016 yang terdiri dari kegiatan pengumpulan data sekunder.000). Sedangkan pengecekan lapangan dilakukan pada beberapa titik sampel wilayah yang tersebar pada 5 kecamatan yaitu Kec. dan peralatan tulis.000). kamera. c) Peta Rupa Bumi Indonesia (1:50. Kec. Sehingga penelitian ini fokus bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran pertanian lahan kritis dataran tinggi DAS Welang. Purwodadi. peta tanah (1:250. Salah satu manfaat GIS adalah kemampuan untuk overlay (Ceballos-Silva dan López-Blanco. 2. dan peta penggunaan lahan tahun 2010 (1:100. 2006). dan b) Peralatan lapang untuk validasi.mendapatkan penilaian secara keseluruhan untuk memilih antara tindakan alternatif (tujuan).

perkebunan sayur-sayuran. Analisa Spasial Analisis spasial dilakukan dengan pengolahan data digital pada skala tinjau dan metode tumpang-tindih (overlay). 2013). yang lebih besar daripada di muara Sungai Welang (Kabupaten Pasuruan. menerima aliran dari anak-anak sungainya di daerah tengahnya dan bermuara di Selat Madura yang merupakan batas utara Kabupaten Pasuruan. dan tegalan. dan Geofisika (BMKG). Hal ini dapat dilihat dari banjir yang terjadi di muara sungai ini. RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2010. dan bagian paling hulu melintasi Kabupaten Malang tepatnya di Kecamatan Lawang. perkebunan. sawah irigasi.877. bagian tengah dan hulu melintasi Kabupaten Pasuruan. Pada tahap ini.3. sehingga time of concentration pendek dan debit aliran besar serta cepat sampai kehilir. Sungai Welang merupakan sungai catchment area terbesar yaitu 518 km2. Bagian Hilir Kali Welang melintasi Kota dan Kabupaten Pasuruan. Kondisi Umum DAS Welang DAS Welang merupakan salah satu sungai besar yang melintasi 3 (tiga) daerah administrasi.32 ha. dengan sungai-sungai utama mengalir dari hulunya di daerah dataran tinggi di sebelah selatan. 3. DAS Welang merupakan bagian dari siklus hidrologi yang tepatnya berada disebelah timur di Kabupaten Pasuruan. DAS Welang merupakan salah satu dari sekian banyak DAS yang mengalami fenomena degradasi lahan menuju lahan kritis.732. DAS Welang terdiri dari 15 satuan penggunaan lahan dan 6 diantaranya merupakan kegiatan pertanian yaitu kebun campuran. Pasuruan tahun 2012. tetapi debit alirannya masih lebih rendah daripada Sungai Rejoso yang mempunyai catchment area lebih kecil. juga terpanjang 36 km dan lebar 35 m. 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. peta yang satu di-overlay dengan peta yang lain sehingga terbentuk peta baru atau dalam penerapannya yaitu peta lahan kritis di- overlay dengan peta penggunaan lahan pertanian dengan bantuan GIS sehingga menghasilkan unit pemetaan baru yang berupa peta sebaran pertanian lahan kritis DAS Welang. Wilayah kerja BPDAS Sampean meliputi luasan 1. dan data rencana strategis dan rehabilitasi lahan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. sawah tadah hujan. . Secara astronomi wilayah DAS Welang terletak antara 112º37'30''-112º52'30'' Bujur Timur dan 7º37'20''-7º52'30'' Lintang Selatan. Hal ini disebabkan oleh panjang Sungai Rejoso yang relatif pendek.1.

Kebun Campuran Desa Kayu Bebek. Lahan kritis sebagai hasil akhir dari proses degradasi lahan. terjadinya lahan kritis juga didukung oleh faktor topografi.58 2. Tabel 1. petani dataran tinggi masih mempertahankan kegiatan budidaya pertaniannya dengan mengabaikan pola pikir konservasi lahan. Potensial Kritis 2200.2. namun juga mengakibatkan penurunan fungsi konservasi dan fungsi produksi. Agak Kritis 2699. Selain faktor penggunaan lahan dan curah hujan. pada mulanya terjadi akibat adanya pemanfaatan lahan yang berlebihan tanpa memperhatikan aspek kemampuan dan pengelolaan lahan.90 3.85 Sumber : BPDAS (2012) dan Analisa Spasial (2016). Dataran tinggi dalam daerah tangkapan air (catchment area) DAS Welang merupakan lahan-lahan terbuka yang umumnya didominasi oleh budidaya tanaman semusim. Gambar 1. Luas Kekritisan Lahan Pada Dataran Tinggi No Kekritisan Lahan Luasan (ha) 1.05 4. Lahan-lahan ini merupakan lahan milik masyarakat yang digunakan sebagai lahan usahatani. Namun demikian. Tidak Kritis 537. Kec. seperti kondisi lereng yang curam serta kondisi lahan yang memiliki tanah yang peka terhadap erosi. baik bersifat sementara maupun tetap akibat faktor biofisik lahan yang terganggu. Lahan Kritis pada SPL Gambar 2. . Lahan Kritis pada SPL Kebun Sayur Desa Ngadiwono.95 5. 3. Hasil pengamatan terhadap luasan kekritisan lahan pada dataran tinggi DAS Welang (Tabel 2). Adapun pertanian lahan kritis dapat dilihat pada gambar 1 dan 2. Berdasarkan hasil pengamatan dampak dari lahan kritis DAS Welang dari tidak hanya pemunduran sifat-sifat tanah. Tosari Kec. Tutur Kondisi lahan pada suatu wilayah menggambarkan keadaan bentuk lahan di wilayah tersebut. Sebaran Pertanian Lahan Kritis DAS Welang Lahan kritis merupakan lahan yang telah mengalami peristiwa degradasi atau penurunan kualitas tanah. Sangat Kritis 4. Kritis 80.

. Gambar 3. hortikultura buah dan sayuran maupun perkebunan. Penelitian ini diharapkan menjadi informasi kepada pemerintah daerah setempat yakni dalam hal pengambilan kebijakan terkait prediksi ekspansi lahan kritis pada keadaan mendatang di lokasi penelitian. Selain itu. komoditas dan posisi titik pengamatan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Tabel 2. Peta Kekritisan Lahan yang di-Overlay dengan Penggunaan Lahan Pertanian.58 Ha artinya hal ini merupakan tanggung jawab bersama bukan sepihak saja dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Gambaran kekritisan lahan. menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah dataran tinggi DAS Welang adalah dikategorikan kedalam status “Agak Kritis” yaitu diketahui sebesar 2699. tetapi juga elemen penting subyek penggunanya agar mau merekonstruksi pemikirannya dalam praktik konservasi lahan dan dimungkinkan kearah pertanian berkelanjutan. Sedangkan urutan kedua proporsi wilayah dataran tinggi DAS Welang adalah daerah “Potensial Kritis” dengan diketahui sebesar 2200. juga dapat diketahui bahwa daerah yang masuk kedalam level “Sangat Kritis” juga diketahui masih besar yaitu 4. SPL. Pengkajian pertanian lahan kritis dinilai sangat penting guna mendukung upaya mitigasi (pengurangan ancaman) lahan kritis di lokasi penelitian. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi kawasan budidaya pertanian dan level kekritisan lahan sekaligus mampu menentukan komoditas unggulan pertanian baik tanaman pangan.95 Ha. Tabel 1.05 Ha.

Kayu Kebek Perkebunan 1.35 Purwosari Ds.Blarang.Pungging. Ds.Cendono.17 Durian. Ngadirejo sayuran Kebun Campuran 4. Ds. Cengkeh.Sumber Rejo Purwosari Ds.Jatiarjo Tegalan 52. Kopi. Ketela Sawah Tadah Hujan 1.Tambak sari. Agak Kritis Tutur Ds. Ds.05 Kentang.Jatiarjo Kebun Campuran 198.Wonosari. Ds. Prigen Ds. Kopi.Cendono Prigen Ds.83 Pohon Prigen Ds. Wonosari.58 Kentang. Kubis.Cendono. Kritis sayuran Tutur Andonosari.Sumber Rejo Perkebunan 36.Jatiarjo Tosari Ds.Cendono.81 Kentang. Kubis. Cengkeh. Kubis. Perkebunan sayur- 2411. Durian Purwosari Ds.Sumber Rejo Pohon Purwosari Ds.Tambak sari Purwosari Ds. sayuran Ds.Cendono Kebun Campuran 139.42 Kopi. Cengkeh. Padi. Kubis. Ds.Dayu rejo Perkebunan 31. Tambak Sari Kritis Perkebunan Sayur- 74. Podokoyo Tidak Kritis Perkebunan Sayur. Ds. Potensial Perkebunan Sayur- 1772.Sumber Rejo Purwodadi Ds. Kopi. DsSumber Rejo Sawah Tadah Hujan 4. Ds. Ds.Podokoyo.Jatiarjo Cabai Purwosari Ds. Ds.00 Cabai Purwosari Ds.Cendono Perkebunan 68. Alpukat Purwodadi Ds. Ds.Cendono. Ds. Kayu Kebek. Ds. Ketela Pohon. Ds. Durian Tutur Ds. Durian Purwosari Ds. Padi. Ketela Purwosari Ds. Sumberejo Pohon Jagung.Kalipuncang. Prigen Ds. Komoditas dan Titik Pengamatan KRITERIA SATUAN PETA LUAS TOPOGRAFI KOMODITAS KECAMATAN DESA LAHAN LAHAN WILAYAH Perkebunan sayur- Sangat Kritis 4.Blarang. Ds.Wonosari.63 Purwosari Ds. Blarang.Ds. Satuan Penggunaan Lahan.Andonosari.69 Durian.Tutur.Podokoyo.Ds.Tambak Sari. Alpukat Prigen Ds.Jatiarjo Jagung.Ds. Padi.Ngadirejo.44 Cabai Purwosari Ds.Ds.Cendono Jagung.Jatiarjo Dataran Tinggi Kebun Campuran 214.05 Durian. Ds. Pungging.Dayu rejo. Purwodadi Ds. Alpukat Purwodadi Ds. Ds.Tutur Jagung. Tlagasari Jagung.Pungging. Blarang.Tambak sari Purwosari Ds. Ngadiwono. Ds.Mororejo. Matriks Hubungan Kekritisan Lahan.Sumber Rejo. 86. Gendro. Durian Prigen Ds.Gendro. Ds. Wortel Ds. Ds. Ds. Ds.Tutur. Ds.Cendono Sumber : Data Diolah (2016) .Sumber Rejo. Tosari Ds. Ketela Pohon.55 Kentang. Sumber Rejo Purwodadi Ds. Jatiarjo Tegalan 242.Jatiarjo Purwodadi Ds. Tegalan 174.Jati sari Ds. Ds. Ketela Sawah Tadah Hujan 2.Sumber Rejo.Gendro. Kopi. Tutur. Ketela Pohon. Ds. Ds. Ds. Wortel Ds. Blarang sayuran Jagung.Sumber Rejo Purwodadi Ds. Wortel Tutur Ds. Ds.99 Kopi.30 Kopi. Jagung.Ngadirejo. Kayu Kebek.62 Kopi.Jati sari Tosari Ds. Ds.67 Durian. Tambak Sari Tegalan 0. Kali puncang Ds.63 Prigen Ds. Wortel Tutur Ds.75 Cabai Purwosari Ds Sumberejo Prigen Ds. Ketela Pohon.81 Kentang. Ds. Kayu Kebek.Dayu rejo.Tambak sari Prigen Ds. Kubis.Tabel 2.Ds. Alpukat Purwosari Ds.Mororejo Ds. Wortel sayuran Tutur Andonosari. Ds. Cengkeh.Telogosari.

20(7). kubis dan wortel. A. 2006. Kritis dan Sangat Kritis. diikuti oleh secara berurutan yaitu daerah Potensial Kritis. 4. GIS-Based Multicriteria Decision Analysis : A Survey of Literature. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut Pengelolaan DAS Cisadane (FGD). International Journal of Geographic Informaton Science. Report Penyusunan Lahan Kritis. Nuswantoro B.0537 View publication stats . 2004. direkomendasikan sebagai dasar acuan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Pemerintah Kabupaten Pasuruan. sejalan dengan adanya rehabilitasi lahan kritis menggunakan desain agroforestri yaitu untuk jenis tanaman tahunan lebih diarahkan pada daerah lereng dan lembah. Malczewski J. 2013. Geographic Information System of Critical Level of Land Degredation (Critical Land) Based on Agro-ecological Zone (AEZ) in Agricultural Areas with Recombination Method of Fuzzy Logic and Scoring. Jakarta. Fakultas Pertanian IPB. Sebaran pertanian lahan kritis di daerah penelitian. Bogor: IPB. dengan demikian dapat dimitigasi sedini mungkin. Hartomo KD. Tidak Kritis. Pusat Pengkajian Perencanaan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB. Prasetyo SYJ. Bogor: IPB Press. sedangkan untuk tanaman semusim lebih baik ditanam pada bagian lembah serta selalu memperhatikan kaidah konservasi lahan. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil pemanfaatan GIS dalam sebaran pertanian lahan kritis daerah dataran tinggi DAS Welang dapat disimpulkan bahwa sebagaian besar wilayah tersebut masuk kedalam kategori Agak Kritis yaitu sebanyak 2699.05 Ha (48. Yogyakarta (ID). p. 2012. 2003.. Asdak C. Delineation of Suitable Areas for Crops using Multi-Criteria Evaluation Approach and Land Use/Cover Mapping: a case study in Central Mexico.703-726. Sitorus SRP. p. Agrivita 28: 0126 .117–136. Gadjah Mada University Press. DAFTAR PUSTAKA Arsyad S. Van Noordwijk M dan Hairiah K. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. J. 2006. Lòpez-Blanco.. yakni lahan kritis yang saat ini dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian sebaiknya perlu reevaluasi sehingga menjadi tepat peruntukannya dan keberlanjutan lahan di masa mendatang. Agricultural Systems 77. Agricultural Intensification.86%) dari total luasan 5523. Kementerian Lingkungan Hidup. Ceballos-Silva. Hasiholan BS. 2011. 2006. Departemen Tanah. 2014. Bogor.. Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan. Konservasi Tanah dan Air. 10 (1): 217-221. Daerah Agak Kritis telah teridentifikasi memiliki satuan penggunaan lahan terbanyak untuk kegiatan pertanian meliputi perkebunan sayur-sayuran dengan komoditas unggulannya adalah kentang. Paseleng M. Arifjaya NM. Soil Biodiversity and Agro-ecosistem Function.33 Ha. Int J of Comput Sci Iss.