Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TANAH


ACARA VI
OKSIDASI SULFUR

Disusun oleh :
Nama : Nadya Annisa Perwitasari
NIM : 15/378254/PN/14060
Kelompok : Rendzina/4
Asisten : 1. Adi Fakhri N.
2. Devi Ardianingsih
3. Nadia Sukmawarti

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI AGROINDUSTRI


PROGRAM STUDI MIKROBIOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aktivitas manusia dalam bidang industri telah mengakibatkan penambahan
jumlah sulfur oksida (SOx) di atmosfer. Tidak hanya kegiatan industri, pencemaran SOx
juga dihasilkan dari kendaraan bermotor, sehingga terjadi pencemaran yang beruntun.
Tanah pertanian yang memiliki produktivitasnya tinggi apabila teracuni oleh hujan yang
mengandung asam akibat sulfur oksida akan kehilangan nutrisinya, sehingga
produktivitasnya menurun.
Sesungguhnya tanaman membutuhkan sulfur dalam jumlah yang relatif banyak.
Pada tanah, sulfur dioksidasi secara lambat sehingga ketersediaannya bagi tanaman
cukup sulit. Proses sulfur agar tersedia bagi tanaman melalui tahap awal dari flora dan
fauna yang sudah mati kemudian diurai oleh mikrobia. Penguraian melibatkan aktivitas
enzim sebagai katalisator reaksi. Oleh karena itu, pada praktikum ini dilakukan pengujian
pada bebargai sampel tanah menggunakan medium Krumbein untuk mengetahui apakah
terdapat mikroorganisme yang mampu mengoksidasi sulfur sehingga sulfur dapat tersedia
bagi tanaman.

B. Tujuan
1. Mengetahui keberadaan mikrobia yang berperan dalam oksidasi sulfur pada
berbagai macam sampel tanah
II. TINJAUAN PUSTAKA

Belerang merupakan elemen penting untuk kehidupan. Namun, pada waktu tertentu, hanya
sebagian kecil yang dapat diikat oleh biomassa. Belerang membentuk sekitar 1% dari berat
kering organisme, terutama sebagai konstituen protein, terutama asam amino yang mengandung
S yaitu sistein dan metionin. Selain itu, sulfur juga terdapat dalam koenzim. Senyawa sulfur
dapat digunakan sebagai penerima elektron atau donor elektron di proses yang dikenal sebagai
oksidasi sulfur. Proses awal terjadi secara anaerobic dan selanjutnya proses dapat terjadi secara
aerobik serta anaerobic dengan oksigen atau nitrat bertindak sebagai akseptor elektron. Proses
metabolisme senyawa sulfur organik adalah kunci komponen siklus sulfur secara global (Sievert
et al., 2007).
Mikroorganisme dapat menggunakan sulfur anorganik terutama sulfat untuk membentuk
senyawa organik dan membutuhkan energi dalam proses yang disebut asimilasi. Selain asimilasi,
banyak bakteri dan archaea dapat menggunakan belerang dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan
energi, disebut sulfur dissimilatori metabolisme. Proses-proses ini sangat penting untuk siklus
belerang di bumi (Sievert et al., 2007)..
Beberapa bakteri mampu menggunakan energi dari proses oksidasi/reduksi logam maupun
senyawa-senyawa lainnya untuk pertumbuhannya. Bakteri pengoksidasi besi dan sulfur
melakukan oksidasi mineral yang akan menghasilkan ferro sulfat dan “oksidan”. Bakteri yang
mampu mengoksidasi besi dan sulfur antara lain Leptospirillum ferrooxidans, Sulfolobus
acidocalderius dan umumnya dari genus Thiobacillus (Sievert et al., 2007).
Siklus sulfur bergantung pada aktivitas metabolik dan filogenetis beragam mikroorganisme,
yang sebagian besar berada di laut dan tanah. Meskipun sulfur jarang menjadi nutrisi pembatas,
sangat penting untuk fungsi ekosistem. Mikroorganisme yang mengatur sulfur juga memenuhi
fungsi-fungsi penting dalam habitatnya dengan mendegradasi atau membentuk biomassa seperti
aktivitas bakteri pereduksi sulfat di laut dan sedimen dan aktivitas pembentukan bakteri
pengoksidasi sulfur di laut dalam ventilasi hidrotermal. Beberapa bakteri pengoksidasi sulfur
meningkatkan produktivitasnya pada ekosistem dengan mempertahankan senyawa nitrogen dan
fosfor (Howard et al., 2006).
III. METODELOGI
Praktikum Mikrobiologi Tanah acara VI berjudul Oksidasi Sulfur dilaksanakan pada tanggal
20 April 2018 di Laboratorium Mikrobiologi Tanah, Departemen Mikrobiologi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada praktikum ini dibutuhkan alat
berupa tabung reaksi, pipet, vortex, erlenmeyer, dan pipet tetes. Bahan yang dibutukan yaitu
berbagai sampel tanah, bubuk sulfur, akuades, dan medium Krumbien.
Cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut

10 gram sampek tanah Pada pengenceran 10-4 – 10-7 diambil 1


dimasukkan ke 90 ml ml kemudian diinokulasi dalam
akuades steril, lalu medium krumbien
dibuat seri pengenceran
hingga 107

Pengujian dilakukan Inkubasi pada suhu kamar


dengan cara memasukkan selama 3 minggu
1 ml suspensi ke dalam 9
ml BaCl2 0,1% dan diamati
endapan yang terbentuk
DAFTAR PUSTAKA

Howard, E., J.R. Henriksen, A. Buchan, C.R. Reisch, H. Bürgmann, R. Welsh, W. Ye, J.M.
González, K. Mace, S.B. Joye, and others. 2006. Bacterial taxa that limit sulfur flux
from the ocean. Science 314: 649-652.

Sievert, S.M., M. Hügler, C.D. Taylor, and C.O. Wirsen. 2007. Sulfur oxidation at deepsea
hydrothermal vents. In: Microbial Sulfur Metabolism, C. Dahl and C. Friedrich, eds,
Springer, New York.