Anda di halaman 1dari 5

 AKREDITASI RS 5 PELAYANAN 12 PELAYANAN 16 PELAYANAN K-3

 SINGKATAN K-3
 Keselamatan Kerja, Kebakaran & Kewaspadaaan Bencana  Standar
Pelayanan RS tahun 1993

 Pelayanan Kesehatan, Kebakaran & Kewaspadaan Bencana  Standar


Pelayanan RS tahun 1999

 Keselamatan Kerja  Depnaker

 Pengertian beberapa istilah


 Kesehatan, Keselamatan Kerja (K3) : upaya untuk menekan atau mengurangi
resiko penyakit akibat kerja, penyakit akibat hubungan kerja dan kecelakaan
kerja

 Kesehatan Kerja meliputi : pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit


akibat kerja syarat kesehatan kerja (penyerasian antara kapasitas kerja, beban
kerja & lingkungan kerja)

  Keselamatan kerja : keselamatan yg berkaitan dengan alat, bahan & proses


pengolahannya, tempat kerja & lingk serta cara melakukan pekerjaan

 Kecelakaan : kejadian tak terduga & tak diharapkan

Pengertian beberapa istilah :


 RS  TEMPAT KERJA MEMPUNYAI RESIKO BAHAYA KESELAMATAN &
KESEHATAN KERJA WAJIB MELAKSANAKAN K-3 KEBIJAKAN K-3 RS
AKREDITASI K-3 RS
 AKREDITASI K-3 PERLU PENGELOLA PROGRAM K-3 RS ADA SATUAN
KERJA/PANITIA/UNIT KERJA K-3 SBG UNSUR PEMBANTU PIMPINAN
TUGAS POKOK : MEMBANTU MELAKSANAKAN & MENGAWASI
IMPLEMENTASI KEGIATAN PROGRAM K-3
 FUNGSI SATUAN KERJA/ PANITIA/UNIT KERJA K-3 :
 Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan &
prosedur

 Pengawasan terhadap pelaksanaan program K-3

 Penyuluhan & pelatihan K-3

 Memberikan saran & pertimbangan berkaitan dng tindakan korektif

 Menghimpun & mengolah data utk evaluasi program K-3

  R.S DI BANGUN, DILENGKAPI DNG PERALATAN, DIJALANKAN &


DIPELIHARA SEDEMIKIAN RUPA UTK MENJAGA KEAMANAN &
MENCEGAH KEBAKARAN SERTA PERSIAPAN MENGHADAPI
BENCANA
FALSAFAH K-3 PERLU PROGRAM K-3 EVALUASI PELAKSANAAN
PROGRAM MELALUI AKREDITASI K-3
 PROGRAM K-3 RS DITETAPKAN, DI ORGANISASIKAN &
DISELENGGARAKAN UTK MENJAMIN & MENJAGA KESELAMATAN HIDUP
PASIEN, PEGAWAI & PENGUNJUNG
 CAKUPAN INSTRUMEN AKREDITASI K-3 :
 Kewaspadaan, upaya pencegahan & pengendalian bencana

 Pencegahan & pengendalain kebakaran

 Keamanan pasien

 Kesehatan kerja bagi pegawai

 Pengelolaan jasa, bahan & barang berbahaya

 Kesehatan lingkungan rumah sakit

 CAKUPAN INSTRUMEN AKREDITASI K-3 :


 Sanitasi rumah sakit

 Pengelolaan, pemeliharaan & sertifikasi sarana, prasarana & peralatan

 Pengelolaan limbah padat, cair & gas

 Pelatihan

 Pengumpulan, pengelolaan, dokumentasi data & pelaporan utk evaluasi

 LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN DI RS
 Membentuk Panitia K-3 RS

 Menyusun kebijakan K3 RS

 Identifikasi sumber bahaya & bahaya potensial di RS

 Menyusun pedoman & SOP K3 RS

 Melaksanakan 11 cakupan instrumen akreditasi K3RS

 Melakukan simulasi & latihan K3

 Melakukan pencatatan & pelaporan kcelakaan kerja & penyakit akibat kerja

 Melakukan internal audit K3 dng menggunakan instrumen self assessment


akreditasi RS

 1. Kewaspadaan, upaya pencegahan & pengendalian bencana


 Bencana  bisa didalam & diluar RS
 K-3  lebih ditekankan utk bencana yang terjadi “di dlm” RS

 UGD  lebih ditekankan utk bencana yang terjadi “di luar” RS

 Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan agar koordinasi dng UGD

 Bahaya kebakaran di Rumah Sakit


 LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN KEWASPADAAN, UPAYA PENCEGAH-
AN & PENGENDALIAN BENCANA
 Inventarisasi tempat-tempat yang beresiko & buat denahnya  Lab, Ro,
Farmasi, CSSD, KO, Genset, Kamar isolasi penyakit menular

 Buat Kebijakan & prosedur kewaspadaan, upaya pencegahan & pengendalian


bencana pada tempat-tempat yang beresiko tsb

 Beri Alat pelindung diri (APD) pada petugas pd tempat-tempat beresiko 


masker, apron, kaca mata, sarung tangan

 Buat rambu-2/tanda khusus jln keluar utk evakuasi apabila terjadi bencana

 Perlu sistem komunikasi internal & eksternal RS

 TEMPAT-TEMPAT BERESIKO
 Daerah/tempat dng curahan kaustik/ bahan kimia yang banyak

 Daerah/tempat penyimpanan bahan mudah menguap & mudah terbakar

 Daerah/tempat penympanan/penggunaan bahan-bahan radioaktif

 Daearh/tempat yg bertekanan tinggi

 Daearh/tempat infeksius atau adanya paparan tinggi penularan penyakit

 Rambu-rambu atau tanda khusus untuk evakuasi


 Rambu penunjuk arah jln keluar, alat pemadam api, tempat berbahaya &
tanda-2 larangan

 Denah, marka, tempat alat pemadam api

 Tanda K-3 di tempat berbahaya

 Ram, lorong-2, pintu darurat yg cukup lebar utk brankar

 Lampu darurat yg menyala otomatis

 Pintu darurat yg dpt terbuka & tertutup sendiri

 Ruangan utk lebih 60 orang  min 2 pintu keluar


 Pintu-pintu dapat dibuka dari luar

 2. PENCEGAHAN & PENGENDALIAN KEBAKARAN


 Inventarisasi tempat-tempat yang beresiko terjadi kebakaran  Beri tanda
larangan merokok

 Sediakan peralatan utk memadamkan api, sistem alarm, i>

 1. PENETAPAN AREA BERISIKO


 2. Tujuan dan Maksud Ditetapkannya area berisiko berdasarkan tingkat risiko
sanitasi Sebagai salah satu kriteria dalam menentukan prioritas dari pelaksanaan
program/kegiatan sektor sanitasi
 3. Definisi Risiko sanitasi adalah terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan,
bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor
sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat
 4. Penentuan Area Berisiko Mengklasifikasi dan memetakan area-area yang berada
dalam kabupaten / kota berdasarkan tingkat/derajat risiko sanitasi. Unit area:
kelurahan/desa/banjar
 5. Proses Penentuan Area Berisiko DataSekunder Data Primer Pengumpulan Data
Analisa data Penentuan Area Berisiko Indikator sebagai variabel Indeks Risiko ( Risk
Index ) Skoring dan pembobotan Analisa frekuensi, mean weighted Diskusi kelompok
terfokus
 6. Skor/nilai: 4 = resiko sangat tinggi 3 = resiko tinggi 2 = resiko rendah 1 = resiko
sangat rendah Pembobotan ( data sekunder ): - seluruh variabel data sekunder sama
pentingnya (pembobotan sama besar) - bobot variabel bisa berbeda-beda sesuai
pertimbangan dan kesepakatan pokja ( misalnya kepadatan penduduk dan angka
kemiskinan memiliki bobot yang lebih besar ) Analisa Area Berisiko
 7. Data Sekunder Cakupan layanan air minum Jumlah jamban Kepadatan
penduduk (populasi, luas area) Jumlah KK miskin Bila tersedia: Jumlah sampah yang
terangkut Luas Genangan
 8. Data Primer – Persepsi SKPD Persepsi: keahlian profesi, pengetahuan praktis
Persepsi SKPD termasuk didalamnya mempertimbangkan fungsi tata ruang ( urban
function ) dimasa mendatang SKPD yang terlibat dalam memberikan skor harus
disepakati bersama Berikan waktu 1 minggu untuk mengisi tabel yang disediakan
 9. Data Primer - Hasil Studi EHRA Faktor risiko (per cluster/kelurahan/desa):
Aspek sarana prasarana sanitasi 1. Sumber air : pencemaran sumber air; kelangkaan
air 2. Air limbah domestik: Pencemaran oleh tangki septik > 5thn atau tak pernah
disedot; pencemaran karena pembuangan isi tangki septik; pencemaran karena SPAL
3. Persampahan: pengelolaan, pengangkutan (frekuensi dan ketepatan waktu), dan
pengolahan setempat sampah tidak memadai 4 . Drainase: genangan air Aspek
perilaku hidup bersih sehat 5. Perilaku ‘cuci tangan pakai sabun (CTPS)’ di saat 5
waktu penting 6. Higiene jamban 7. Penanganan air rumah tangga / wadah
penyimpanan 8. BABS
 10. Instrumen Analisa Data Sekunder
 11. Instrumen Analisa Persepsi SKPD
 12. Instrumen Analisa Data EHRA
 13. Penetapan Area Berisiko Sandingkan seluruh hasil pemberian skor (data
sekunder, EHRA, persepsi SKPD) Diskusi dan sepakati cara menetapkan skor akhir
area berisiko Lakukan observasi lapangan untuk mengecheck hasil kesepakatan
Sepakati hasil akhir Gambarkan dalam peta dan deskripsikan alasan pemilihan area-
area berisiko tsb
 14. Instrumen Analisa Data
 15. Peta Area Berisiko (Contoh: Kota Tegal)
 16. Outline Buku Putih Sanitasi Bab 2: Gambaran Umum Wilayah Bab 3: Profil
Sanitasi Wilayah Bab 4: Program Pengembangan Sanitasi Saat Ini dan Yang
Direncanakan Bab 5: Prioritas Pengembangan Sanitasi Bab 1: Pendahuluan