Anda di halaman 1dari 10

KASUS 1

‘’Bom Bunuh Diri di Markas Polrestabes Surabaya’’
Sumber:(https://www.liputan6.com/news/read/3524571/kronologi-bom-bunuh-diri-
mapolrestabes-surabaya)

Ledakan di gerbang masuk Markas Polrestabes Surabaya, Jalan Sikatan, kembali menghentak
ketenangan kota yang terkenal dengan sejuta taman ini. Sehari sebelumnya, bom
mengguncang tiga titik di geraja Surabaya dan satu di Sidoarjo.

Bom bunuh diri meledak di Markas Polrestabes Surabaya Senin 14 Mei 2018 sekitar pukul
08.50 WIB. Kepolisian menyebut bom bunuh diri itu menggunakan sepeda motor yang
dikendarai seorang pria, perempuan, dan seorang bocah yang duduk di depan.

Berdasarkan rekaman CCTV, saat itu sebuah minibus hendak memasuki gerbang penjagaan
Mapolrestabes untuk dilakukan pemeriksaan oleh tiga petugas jaga dan provost.

Saat mobil tersebut diperiksa, dua motor mencoba menyalip mobil yang diperiksa. Saat
dilakukan pemeriksaan itulah pengendara yang membonceng seorang perempuan itu
meledakkan diri. Masih di Kota Surabaya, sehari pasca kejadian ledakan teror bom yang
terjadi di 3 Gereja, pada Senin (14/3) di Mapolrestabes Surabaya terjadi juga teror bom.
Dalam teror kali ini, kembali diketahui dilakukan oleh satu keluarga.

Sepasang suami istri dengan tiga orang anaknya mendatangi Polrestabes Surabaya dengan
menggunakan dua sepeda motor. Saat masih berada di palang gerbang masuk Polrestabes
Surabaya, bom meledak.

Empat dari lima pelaku teror bom tewas di tempat. Empat polisi dan enam warga sipil juga
menjadi korban dalam teror tersebut. Seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang
diketahui sebagai anak dari pelaku teror bom diketahui selamat dan dalam perawatan.

ANALISIS KASUS

Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak
Terorisme, serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia sebagai akibat dari
bom di surabaya, merupakan kewajiban pemerintah untuk secepatnya mengusut tuntas
Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa
tersebut. Hal ini menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum. Untuk melakukan
pengusutan, diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme.
Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai
untuk memberantas Tindak Pidana Terorisme[14], Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk
membentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan
menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002,
yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun

pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I .2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana. Undang-Undang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat. terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Keberlakuan lex specialis derogat lex generalis. Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KUHP termasuk kekhususan hukum acaranya. Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap keamanan negara. menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang- undangan Hukum Pidana. Karena pengaruh perkembangan zaman. harus memenuhi kriteria[16]: bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum. Keberadaan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping KUHP dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dilindungi. Adanya suatu perbuatan yang khusus di mana apabila dipergunakan proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian. merupakan Hukum Pidana Khusus. seperti[17]: Melalui sistem evolusi berupa amendemen terhadap pasal-pasal KUHP. Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya. karena perubahan pandangan dan norma di masyarakat. Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara. Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang kejahatan terorisme. Adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat. dapat tercipta karena. sehingga terdapat pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)/Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ''(lex specialis derogat lex generalis)''. sedangkan untuk perubahan undang- undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu. Selain ketentuan tersebut. yaitu Undang-Undang. bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalam Undang-Undang khusus tersebut. berarti Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus. sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan Undang-Undang khusus tersebut. dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya. Sebagai Undang-Undang khusus. Hal ini memang dimungkinkan.

Namun.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku pula bagi peraturan pidana di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selama peraturan di luar Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut tidak mengatur lain[18]. dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan. Hukum Pidana khusus. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan itu sendiri. namun dikhususkan sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh Undang-Undang Khusus tersebut. Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri. penyidik dapat menggunakan setiap Laporan Intelijen. Artinya pelaksanaan Undang- Undang khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana yang telah ada. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. maka pengaturan pasal 25 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut. pada kenyataannya. akan tetapi juga hukum acaranya. maka bukan penyimpangan asas yang terjadi di sini. Apabila memang diperlukan suatu penyimpangan. oleh karena itu harus diperhatikan bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bagi hukum pidana materielnya sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP)[19]. Penyimpangan tersebut mengurangi Hak Asasi Manusia. diikuti dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut Umum. hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP). bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada Undang- Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. karena setiap perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia[20]. hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap beracara di pengadilan. Pasal 17 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti Permulaan yang cukup. terdapat isi ketentuan beberapa pasal dalam Undang-Undang tersebut yang merupakan penyimpangan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana. Sesuai pengaturan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP). Sebagaimana pengertian tersebut di atas. . bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya saja. apabila dibandingkan asas-asas yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). pasal 26 berbunyi[21]: Untuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup. Atau mungkin karena sifatnya sebagai Undang-Undang yang khusus. melainkan pengkhususan asas yang sebenarnya menggunakan dasar asas umum.

cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya. Selanjutnya. di mana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa. yakni hak-hak yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya dalam keadaan apapun[23]. Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri. sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti perlindungan terhadap hak-hak setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi. Hal seperti inilah yang harus dihindari. Hal itu mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan suatu Tindak Pidana Terorisme. Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. Undang-Undang Antiterorisme kini diberlakukan di banyak negara untuk mensahkan kesewenang-wenangan (arbitrary detention) pengingkaran terhadap prinsip free and fair trial. Oleh karena itu. penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan (Hearing) secara tertutup. apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen. karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat. 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. serta bagaimana sebenarnya hakikat Laporan Intelijen. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan. karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia. Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup. sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror[22]. termasuk pula Laporan Intelijen. tanpa adanya pengawasan masyarakat atau pihak lain mana pun. apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan. terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme. diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen. tidak dapat diganggu gugat. dalam hal ini penyidik. Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan. untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian hukum. Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusia demi pemberlakuan Undang-Undang Antiterorisme. termasuk hak-hak yang digolongkan kedalam non-derogable rights. sehingga pemberantasannya pun harus . menurut pasal 26 ayat 2. maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat. Laporan terbaru dari Amnesty Internasional menyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderung meningkat[24].

dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia. tetapi dengan definisi yang jelas. Dalam rekaman CCTV yang beredar. Dan yang penting juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan kekuasan. Ibu dan dua anaknya yang berupaya masuk ke ruang kebaktian ini sempat dihalau oleh seorang sekuriti di pintu masuk GKI Jalan Diponegoro Surabaya. KASUS 2 ‘’Serangan Bom di Tiga Gereja Surabaya: Pelaku bom bunuh diri’’ Sumber: (https://www.53 WIB Serangan bom ketiga terjadi di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.30-07. tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia. Saksi mata menuturkan ledakan terjadi dari tempat parkir kendaraan. bahwa memang secara nasional harus ada Undang-Undang yang mengatur soal Terorisme. Demikian menurut Munir. Ledakan keras terdengar hingga radius 100 meter. Satu pelaku yang dibonceng terlihat membawa ransel yang diduga berisi bom.com/peristiwa/ini-kronologi-lengkap-serangan-bom-bunuh- diri-di-3-gereja-surabaya. Melawan Terorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia. Api langsung membumbung tinggi di lokasi kejadian.00 WIB Serangan bom pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya. bukan sebaliknya membatasi dan melawan Hak Asasi Manusia.Surabaya. sebelum kemudian ketiganya meledakkan diri di halaman gereja. Dan pada pukul 07. Sejumlah saksi menyebut serangan terjadi saat pergantian jemaat misa. Diduga serangan bom mobil. Kecamatan Gubeng. . terlihat 2 orang sedang berboncengan menaiki sepeda motor menuju gereja.html) Pada Pukul 06.15 WIB Serangan bom kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro.merdeka. Dan selanjutnya pada pukul 07. Sejumlah saksi sempat melihat wanita bercadar membawa dua anak balita memasuki halaman gereja.

kedua. kejadian teror yang memakan korban di tiga Gereja di Surabaya adalah salah satu rentetan dari berbagai persoalan keagamaan dan terorisme yang selama ini masih belum ada penanganan khusus dari pemerintah. Jakarta menghasilkan dua kesimpulan.ANALISIS KASUS bahwa terorisme selalu tidak bisa dilawan dengan cara-cara wacana apalagi melalui aksi di media sosial tanpa ada penangan khusus dari pemerintah yang lebih serius. Secara wacana di media sosial barangkali menurut pemerintah masih siap. semua itu tidak . selama ini pemerintah dipermainkan. melakukan penanganan secara hadr power (pendekatan keras). pendekatan lunak (soft power). Kejian teror akan terus berlanjut jika kejadian-kejadian seperti terorisme selalu disangkut pautkan dengan adanya kepentingan politik tertentu. apakah dengan adanya wacana memberantas terorisme hal itu menjadi teroris takut? Justru sebaliknya. Sepertinya. Pertama. Pasca penolakan gugatan HTI kemarin oleh PTUN Jakarta sampai pada kejadian teror dengan adanya bom bunuh diri menandakan bahwa kesiapan negara dalam melawan kemelut terorisme agama masih belum siap. akan tetapi kenyatannya. Selama ini upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah adalah sebagaimana yang dilaporkan GoodNew From Indonesia (01/03/2018) saat diadakannya pertemuan antara eks narapidana dan korban kasus terorisme pada tanggal 26-28 Februari 2018 di Hotel Borobudur. dengan gelombang isu besar terorisme yang semakin hari semakin berani melawan dengan cara-cara yang lebih terorganisir. seakan ada gerakan yang lebih besar di balik teror yang menimpa Indonesia di bulan Mei.

KASUS 3 ‘’Penyerangan terduga teroris ke Mapolda Riau’’ Sumber: (https://www. akan tetapi ini membutuhkan kejeniusan dari sistem kepemerintahan itu sendiri. Kawanan ini terdiri dari lima orang yang diketahui menggunakan mobil Avanza putih.idntimes. . Kegiatan rekonsiliasi antar korban dan pelaku terorisme selama ini adalah upaya pemerintah untuk mendamaikan antara dua belah pihak. atau di berbagai lembaga swasta dan pemerintah sementara kejadian teror terus berlajut semakin massif dan marak. Maka dipastikan bahwa selama ini perbuatan kita (pemerintah) bukan malah meredakan aksi teror akan tetapi malah menyulut kemarahan teroris untuk memporak-porandakan negeri ini. Untuk mencapai kesadaran kuat melawan terorisme tidak lain adalah saling membenahi antara kekuatan politik dan kelompok solidaritas yang anti-terorisme. Bagaimapun sumber terorisme adalah hal yang paling pokok untuk ditelusuri.com/news/indonesia/margith-juita-damanik/5-kasus-teror-di- indonesia-selama-mei/full) Tepat sehari sebelum bulan Ramadan dimulai. untuk memulai kesadaran dalam memerangi terorisme adalah memperbaiki sitem baik undang-undang masalah terorisme dan kinerja antar lembaga pemerintah dan tidak saling menyalahkan. Pada pukul 09. karena semakin pemerintah melakukan kegiatan yang sifatnya formalitas semakin banyak meluangkan waktu dengan sia-sia. Karena kejahatan terorisme bukan kejahatan yang bersifat induvidual. Polda Riau juga diserang oleh sekawanan orang yang diduga tergabung dalam kelompok terorisme. Walhasil.lain sebagai bentuk rekonsiliasi yang gagal dilakukan selama ini khususnya bagi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). sudah sejauh apakah pemerintah melakukan aksi penanganan terorisme di Indonesia selama ini? Jika persoalan terorisme selama ini hanya menjadi kajian yang ada di seminar-seminar baik di kampus-kampus.00 WIB pagi ini mobil diketahui mendesak masuk ke dalam Mapolda Riau dan dihalangi oleh pihak kepolisian. Akan tetapi pertanyaanya. Selasa (16/5). bukankah doktrin terorisme lebih kuat dari pada menangani persoalan yang sudah terjadi untuk menyadarkan para teroris? Maka jawabannya. Empat orang lantas diketahui turun dari mobil dan menyerang dengan menggunakan samurai. bukan malah saling menyalahkan lembaga pemerintah tertentu dan saling menjatuhkan.

Akan tetapi. Namun demikian. Hal ini karena terorisme merupakan crime against concience. Dua wartawan dikabarkan turut menjadi korban luka dalam insiden ini. ANALISIS KASUS Teroris adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas. melalui pernyataan resmi George W. Empat orang pelaku lainnya tewas tertembak polisi. yaitu : (1) genocida. (2) tindak pidana terhadap kemanusian. Karena sifatnya yang extraordinary crime inilah hampir semua negara mengunakan undang-undang khusus dalam menanggulangi tindak pidan terorisme. tindak pidana teroris manjadi materi diskusi yang cukup menarik. Bush tanggal 11 Oktober 2001. Pada hal dukungan Amerika Serikat sangat dibutuhkan dalam upaya dunia internasional untuk segera pembentukan Mahkamah Pidana Internasional. (3) tindak pidana perang.2002). atau politik atau gangguan keamanan negara. Adnan Buyung Nasution dan beberapa ahli hukum pidana dan HAM (antara lain.. Pada sisi lain Amerika Serikat menolak terorisme masuk dalam yuridiksi ICC dan sampai sekarang belum menandatangai ICC pda sisi lain Amerika Serikat. Hampir semua ahli hukum pidana dan kriminolog mengatakan bahwa tindak pidana terorisme merupakan extraordinary crime dan proses peradilannya pun berbeda dengan tindak pidana biasa.(Muladi. terorisme sebagai Sebuah Serangan Terhadap Peradaban Dunia. . Di sinilah mulai muncul anggapan negatif atas ambivalensi Amerika Serikat dalam upaya penanganan terorisme. Koalisi Untuk Keselamatan Masyarakat Sipil) menolak pandangan demikian. terorisme bukan merupakan tindak pidana dalam yuridiksi International Criminal Court (ICC). tidak dapat disanggah bahwa tindak pidana terorisme dapat dikategorikan sebagia mala per se bukan termasuk mala prohibita. Walaupun terorisme dianggap sebagai extraordinary crime dan crime against humanity. Amerika Serikat belum menandatangani International criminal court (ICC). Sampai saat ini diketahui seorang polisi gugur dalam aksi tersebut karena ditabrak oleh pelaku yang kabur dengan mobil. Dalam kontek sistem peradilan pidana cukup dengan ketentuan KUHP dan KUHAP saja tidak perlu menggunakan UU Antiteroris atau yang lainnya seperti ISA (Internal scurity act). dan (4) agresi. Dalam sistem peradilan pidana internasional. Dengan tidak masuknya terorisme maka menurut Art. fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif ideologi. Amerika Serikat dengan tegas menolak usulan beberapa negara yang menghendaki tindak pidana terorisme sebagai tindak pidana yang berada dalam yurisdiksi ICC. menjadi jahat bukan karena dilarang oleh undang-undang tetapi karena pada dasarnya terorisme merupakan tindakan tercela. terorisme merupakan tindak pidana biasa dan penangganannyapun cukup dengan aturan perundang-undang yang berlaku bagi tindak pidana lainnya. 5 Rome Statute of the international Criminal Court (Statuta Roma Tentang Mahkamah Pidana Internasional) hanya empat tindak pidana yang dianggap sebagai tindak pidana paling serius. yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis. Kent Roach (Canada). Bagii mereka.Seorang pelaku lagi sempat berusaha kabur dengan membawa mobil. Sampai sekarang. lingkungan hidup.

Pemeriksaan saksi terpisah. proses penyidikan yang rahasia. Akan tetapi. tidak ada perlindungan dan jaminan hak asasi. bagaimana bentuk dan mekanisme bekerjanya lembaga baru tersebut sampai sekarang “belum jelas”. Akan tetapi. Kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat telah menghancurkan bangunan konsep dan praktik peradilan pidana yang memberikan perlindungan hak tersangka yang dibangun sejak berabad-abad tahun yang lalu. Tertuduh tidak berhak didampingi pembela.Ambivalensi sikap Amerika juga tercermin dalam law enforcement. Akan tetapi. Apabila tersangka tidak mau secara sukarela mengakui perbuatannya atau kesalahannya maka petugas pemeriksa akan memperpanjang penderitaan tersangka melalui cara penyiksaan (toture) sampai diperoleh pengakuan. Amerika Serikat telah melanggar prinsip-prinsip perlindungan HAM dalam criminal justice process terhadap pelaku terorisme. Amerika dalam penanganan tindak pidana terorisme telah mengangkat kembali administrasi peradilan pidana yang demikian dalam penangganan tindal pidana terorisme.. Amerika Serikat telah berhasil membangun sistem peradilan pidana yang kondusif bagi perlindungan tersangka pelaku tindak pidana di negaranya tetapi gagal mengembangankan sistem peradilan pidana internasional. Penahanan para tersangaka di Guntanamo. Amerika Serikat telah membawa kembali dunia peradilan pidana ke abad 13 di mana metode yang digunakan dalam administrasi peradilan pidana adalah iquisitorial method ketika pertama kali muncul dalam sejarah peradilan pidana. Ketua Pengadilan Negeri Solo menganggap penangkapan terhadap tersangka pelaku tindak pidana terorisme tidak prosedural. tersangka pelaku tindak pidana ditempatkan terasing dan tidak diperkenankan berkomunikasi dengan puhak lain termasuk keluarga. Karakteristik yang demikian sebenarnya telah lama ditinggalkan. Karakteristik penyelesaian perkara pidana berdasarkan sistem model iquisitorial seperti antara lain : dilakukan secara rahasia. Sikap ini berbeda dengan upaya perlindungan HAM dalam administrasi peradilan pidana (protection of human right in criminal justice administration) di mana Amerika Serikat sebagai pendukung utamanya. Untuk melindungi hak-hak tersangka pelaku tindak pidana terorisme dan untuk auditing terhadap laporan intelijen telah dibentuk lembaga baru yang bernama “Hearing”. Bahkan konsep perlindungan HAM dalam sistem peradilan Pidana (criminal Justice system) yang berkembang di Amerika Serikat telah menjadi kiblat bagi negara-negara berkembang. Catatan terpenting yang dapat dicermati selama dua tahun masa war of terrorism adalah Amerika Serikat telah memutar “jarum jam” administrasi peradilan pidana. Dalam Konteks ke Indonesiaan UU Antiterorisme memberikan kewenangan hakim dalam proses pra-ajudikasi (Pasal 26 ayat (2) dan penjelasan umum). Tujuan pemeriksaan waktu itu adalah untuk memperoleh pengakuan (confession) dari tersangka. Sehingga bukan hal yang aneh apabila di Solo. . dan menghilangkan hak-hak dasar seorang tersangka lainnya telah dihilangkan. Pernyataan tersebut mengindikasikan belum berjalannya integrated administration of criminal justice menurut Undang-Undang Antiteroris. administrasi peradilan pidana yang telah dibangun selama berabad-abad tersebut sama sekali tidak berlaku bagi pelaku tindak pidana terorisme.

Pasal 26 ayat (2) Perpu Antiterorisme menyebutkan bahwa “ Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri. atau laporan lain untuk digunakan sebagai bukti awal yan kuat untuk menduga dan/atau melakukan penangkapan dan penahanan terhadap tersangka tindak pidana terorisme. Dalam pasal 26 ayat (1) disebutkan bahwa: “(1) Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup. keluarga. penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen. Akan tetapi keterlibatan pengadilan tersebur hanya sebatas pada pemerikasaan terhadap informasi intelijen (pasal 26 ayat (1) dan (2)). Mungkinkah dengan lembaga “Hearing”. atau penasihat hukumnya. Atau lembaga ini sengaja dibentuk untuk melegitimasi laporan intelijen dan pada gilirannya mengikuti langkah Amerika Serikat untuk membawa kembali sistem peradilan pidana ke abad ke-13 dengan model Inquisitoril yang menindas. Sedangkan dalam ayat (4) di jelaskan bahwa : “Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya bukti permulaan yang cukup. maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan penyidikan. Pengungkapan fakta secara efisien a la Crime Control Model-nya Herbert L.” Ketentuan Pasal 26 tersebut di atas dengan jelas memberikan kewenangan kepada Pengadilan dalam hal ini Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri dalam proses pra-ajudikasi (proses peradilan sebelum sidang pengadilan). Indonesia mampu mempertahankan prinsip due process of law dalam sistem peradilan pidana. Packer tercermin dalam proses peradilan pidana terhadap tindak pidana terorisme. data. Sedangkan kebijakan hukum pidana yang dilakukan oleh DPR (dan Pemerintah) dalam UU antiterorisme mengingatkan kita pada analisis Kent Roach bahwa due process can be for Crime control. Quo Vadis sistem peradilan pidana .” Politik hukum pidana dengan menggunakan istilah “dapat menggunakan” dalam ayat (1) tersebut memberikan kemungkinan kepada Kepolisian menggunakan sumber. Konsekuensi logis yang mungkin timbul dalam masalah tersebut adalah “pengingkaran” sumber informasi apabila terdapat gugatan praperadilan darii tersangka. Sisi lain dari UU Antiterorisme adalah pemberian kewenangan yang sangat besar kepada aparat penegak hukum dalam administrasi peradilan pidana.