Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Kepadatan penduduk


1.1.1 Pengertian
Kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah
yang dihuni ( Ida Bagoes Mantra, 2007). Ukuran yang biasa digunakan adalah jumlah penduduk
setiap 1 Km2 atau setiap 1 mil2. Permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah persebaran
yang tidak merata. Kepadatan penduduk dapat mempengaruhi kualitas hidup penduduknya.

Pada daerah dengan kepadatan yang tinggi, usaha peningkatan kualitas penduduk akan
lebih sulit dilakukan. Hal ini menimbulkan permasalahan sosial ekonomi, kesejahteraan,
Keamanan, ketersediaan lahan, air bersih dan kebutuhan pangan. Dampak yang paling besar
adalah kerusakan lingkungan. Semua kebutuhan manusia dipenuhi dari lingkungan, karena
lingkungan merupakan sumber alam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan pangan, papan, air bersih, udara bersih dan kebutuhan
lainnya. Ledakan penduduk yang cepat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat
terutama dalam bidang sosial ekonomi masyarakat. Adapun dampak dari ledakan penduduk
adalah :

a. Semakin terbatasnya sumber-sumber kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan, yang


layak). Akibatnya sumber-sumber kebutuhan pokok tersebut tidak lagi sebanding dengan
bertambahnya jumlah penduduk.
b. Tidak tercukupinya fasilitas sosial dan kesehatan yang ada (sekolah, rumah sakit, tempat
rekreasi) serta berbagai fasilitas pendukung kehidupan lain.
c. Tidak tercukupinya lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja yang ada, akibatnya terjadilah
peningkatan jumlah pengangguran dan berdampak pada menurunnya kualitas sosial
(banyak tuna wisma, pengemis, kriminalitas meningkat dan lain-lain)

Dari pernyataan kepadatan penduduk diatas penulis menemukan bahwa kepadatan


penduduk ini mempengaruhi ketersedian lahan dan akan merusak lingkungan disekitar dimana
hal ini juga berhubungan langsung dengan kinerja dari drainase tersebut, mengingat drainase
juga adalah bagian dari lingkungan yang tidak bisa terpisahkan.

Adapun cara untuk menghitung proyeksi pertumbuhan penduduk adalah seperti yang
terdapat pada persamaan 2.1

𝑃𝑛 = 𝑃𝑜( 1 + 𝑟)𝑛 …………………………………………………. 2.1

Keterangan :
Pn = penduduk pada tahun n
Po = penduduk pada tahun awal
n = Jumlah rentang tahun dari awal hingga tahun n
r = angka pertumbuhan penduduk (dalam persen)
1 = angka konstanta

Adapun data pertumbuhan penduduk kampung kecamatan ampenan kota mataram adalah
sebagai berikut :

Tabel 2.1 proyeksi kepadatan penduduk kampung banjar kecamatan ampenan kota mataram
No Tahun Jumlah Penduduk
1 2016 3085
2 2017 3163
Sumber :kantor lurah banjar ampenan selatan

2.1.2 Faktor Yang Mempengaruhi

Menurut Rahma Kurnia S.U, S.Si faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk
adalah:

1. Faktor lingkungan yang menguntungkan, seperti kesuburan tanah, iklim.


2. Faktor historis, pusat-pusat kegiatan penduduk pada jaman dulu.
3. Faktor sosio-kultural, kebudayaan atau adat istiadat daerah.

Kepadatan penduduk di Indonesia lebih terkonsentrasi tinggi di daerah pulau jawa. Ada
beberapa asumsi penyebab kepadatan tersebut yaitu :
a. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk,
b. Banyaknya migrasi nasional dari pulau lain ke pulau Jawa, yang umumnya bertujuan
untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
c. Kesadaran untuk bertransmigrasi masih rendah,
d. Tinjauan historis, kerajaan-kerajaan besar jaman dahulu (yang memiliki kejayaan
besar) ada di Pulau Jawa, sehingga pusat kegiatan penduduk ada di daerah tersebut.

Dari tingkat kepadatan penduduk kita dapat mengetahui perkembangan penduduk dan
gejala-gejala sosial-ekonomi di setiap daerah. Sehubungan dari pada penjelasan diatas penulis
menemukan cukup banyak penyebab masyarakat bermukim disuatu wilayah sehingga juga akan
menyebabkan ketersediaan lahan makin berkurang sehingga lama kelamaan menyebabkan
penduduk semakin padat.

2.1.3 Dampak Terhadap Drainase


Menurut Prof. Dr. Ramli Utina, M.Pd dan Dr. Dewi Wahyuni K. Baderan,M.Si dampak
kepadatan penduduk terhadap daya dukung lingkungan hidup adalah:

1. Berkurangnya Ketersediaan Lahan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Meningkatnya jumlah penduduk sementara luas lahan tidak bertambah menyebabkan


tingkat kepadatan makin tinggi. Kepadatan penduduk dapat mengakibatkan tanah pertanian
makin berkurang karena dialihkan guna pemukiman penduduk. Permasalahan utama dalam
pembangunan sebuah kota adalah penataan kawasan hutan kota atau Ruang Terbuka Hijau
(RTH).
Gencarnya pembangunan tak jarang menggerogoti jalur hijau dan memperkecil ruang terbuka
hijau. RTH kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik, introduksi) guna
mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota
tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan.
2. Penyebab Banjir
Penataan sistem perkotaan harus terintegrasi dan terencana.Salah satu faktor penataan
sistem perkotaan adalah jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang sangat besar dapat
memberikan berbagai dampak pada daya dukung dan daya tampung kota. Daya dukung
lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan
makhluk hidup lainnya. Daya tampung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk
menampung dan menyerap zat energi dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan
di dalamnya. Kepadatan penduduk sering berdampak negatif terhadap sistem drainase
perkotaan. Penduduk kota menggunakan drainase tidak sesuai peruntukannya, drainase
sering menjadi tempat pembuangan sampah. Akibatnya aliran air tersumbat dan sebagai
biang jentik nyamuk.Di beberapa badan jalan menutup drainase, atau perluasan pekarangan
oleh perumahan penduduk. Saat musim hujan drainase tersebut akan meluap sehingga banjir
tidak dapat dihindari. Faktor-faktor yang menyebabkan banjir adalah akibat aktivitas manusia
diantaranya penggundulan hutan, pembuangan sampah sembarangan, tertutupnya tanah
perkotaan dengan beton dan aspal dan rusaknya tanggul sungai.Banjir sering terjadi saat
musim hujan ketika curah hujan tinggi, dan dapat merusak saluran irigasi, jembatan, jalan,
rumah penduduk dan areal pertanian.

3. Penumpukan Sampah dan Limbah Rumah Tangga


Produksi sampah kota yang sangat besar dengan kondisi sampah yang belum terpilah
membawa dampak terjadinya banjir disetiap musim hujan. Fasilitas sampah yang menjadi
salah satu penentu penataan kota adalah ketersediaan tempat sampah dan tempat
pembuangan akhir (TPA). Sampah yang dihasilkan dalam kawasan kota dapat dipilah sesuai
dengan bentuk pemilahannya. Pengelolaan sampah 3 R (reduce dengan cara mengurangi
volume sampah), reuse (menggunakan kembali sampah tanpa perubahan bentuk untuk
kegiatan lain yang bermanfaat) dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi benda lain),
sering menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah mulai dari sumbernya.
Dari pernyataan diatas menjelaskan gencarnya pembangunan tak jarang menggerogoti jalur
hijau dan memperkecil ruang terbuka hijau (RTH), Kepadatan penduduk juga turut ikut
andil.Pendudukpun menggunakan drainase tidak sesuai peruntukannya, drainase sering
menjadi tempat pembuangan sampah, akibatnya aliran air tersumbat, menyebabkan Banjir
dan Genangan.
2.2 Genangan Air
2.2.1 Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1990: 313), Genangan berasal
dari kata “genang” yang artinya terhenti mengalir. Sehingga pengertian genangan air adalah air
yang berhenti mengalir pada suatu area tertentu yang bukan merupakan badan air atau tempat air.
Namun demikian bagi masyarakat secara umum, baik genangan maupun banjir disamaratakan
istilahnya sebagai banjir.

2.2.2 Penyebab
Banjir dan genangan yang terjadi di suatu lokasi diakibatkan antara lain oleh sebab-sebab
berikut ini (Kodoatie dan Roestam Sjarief, 2005: 71):

1. Sebab pengaruh tindakan manusia:


a. Perubahan tata guna lahan (land use),
b. Pembuangan sampah,
c. Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase,
d. Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat,
e. Penurunan tanah,
f. Tidak berfungsinya sistem drainase lahan,
g. Bendung dan bangunan air,
h. Kerusakan bangunan pengendali banjir.
2. Sebab alami:
a. Erosi dan sedimentasi,
b. Curah hujan,
c. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai,
d. Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai,
e. Pengaruh air pasang,
f. Penurunan tanah,
g. Drainase lahan.
Sehubungan dari penjelasan di atas kerap kali penulis melihat perubahan tataguna lahan
dan pembuangan sampah menjadi kebiasan yang cukup sering dilakukan oleh masyarakat,
dimana hal ini akan mempengaruhi kinerja dari drainase dan akan menjadi penyebab terjadinya
banjir dan genangan air.

Perubahan tata guna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan dengan yang
lainnya (Kodoatie dan Roestam Sjarief, 2005: 73). Terdapat 2 (dua) pendekatan dalam
pengendalian banjir dan genangan air (Anonim, 2003: 3-1):

1. Pengendalian Struktural (Pengendalian terhadap banjir)


Dilakukan melalui kegiatan rekayasa teknis, terutama dalam penyediaan prasarana
dan sarana serta penanggulangan banjir.

2. Pengendalian Non Struktural (Pengendalian terhadap Pemanfaatan Ruang)


Dilakukan untuk meminimalkan kerugian yang terjadi akibat bencana banjir, baik
korban jiwa maupun materi, yang dilakukan melalui pengelolaan daerah pengaliran,
pengelolaan kawasan banjir, flood proofing, penataan sistem permukiman, sistem
peringatan dini, mekanisme perijinan, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan upaya
pembatasan (limitasi) pemanfaatan lahan.

2.3 Banjir
Banjir merupakan proses meluapnya air sungai / air laut ke daratan sehingga dapat
menimbulkan kerugian harta benda penduduk serta dapat menimbulkan korban jiwa. Banjir
dapat merusak bangunan, sarana dan prasarana, lingkungan hidup serta merusak tata kehidupan
masyarakat, maka sudah semestinya dari berbagai pihak perlu memperhatikan hal-hal yang dapat
mengakibatkan banjir dan sedini mungkin diantisipasi, untuk memperkecil kerugian yang
ditimbulkan (Kodoatie, J. Robert dan Sugiyanto, 2002:73).
Banjir dan bencana akibat banjir dapat terjadi karena faktor alamiah maupun pengaruh
perlakuan masyarakat terhadap alam dan lingkungannya. Pada diagram mekanisme terjadinya
banjir dan bencana, terlihat bahwa faktor alamiah yang utama adalah curah hujan. Faktor alami
lainnya adalah gelombang tinggi, erosi dan sedimentasi kapasitas sungai, kapasitas drainasi yang
tidak memadai, pangaruh air pasang, perubahan kondisi DPS, dll. Sedangkan faktor non-alamiah
penyebab bnjir adalah adanya pembangunan kompleks perumahan atau pembukaan suatu
kawasan untuk lahan usaha yang bertujuan baik sekalipun, tanpa didasari dengan pengaturan
yang benar akan menimbulkan aliran permukaan yang besar atau erosi yang menyebabkan
pendangkalan aliran sungai. Akibatnya, debit pengaliran sungai yang terjadi akan lebih besar dari
pada kapasitas pengaliran air sungai sehingga terjadilah banjir.
Usaha pengendalian dan penanggulangan banjir pada suatu pihak dan perlakuan
masyarakat terhadap lingkungannya di pihak lain akan memberikan pengaruh yang sangat besar
terhadap fenomenan hujan-banjir-bencana. Pengaruh kedua hal tersebut dapat saling menunjang
perbaikan keadaan, saling meniadakan atau memperburuk keadaan.
Bergantung pada tingkat kerawanan dan kewaspadaan masyarakat di daerah potensial
bencana, banjir dapat menimbulkan bencana. Misalnya, pemukiman daerah retensi banjir atau
daerah bantaran sungai dan pesisi pantai, suatu saat pasti akanterlanda banjir. Bila menjelang
banjir penghuni daerah tersebut mengungsikan diri dan harta bendanya akan berkurang.
Keberhasilan usaha penanggulangan banjir dan bencana akibat banjir dapat diperoleh tanpa
peran serta dari masyarakat.Di samping itu suksesnya program pengendalian banjir juga
tergantung dari aspek lainnya yang menyangkut sosial, ekonomi, lingkungan, institusi,
kelembagaan dan lainnya.
2.3.1 Jenis-Jenis Banjir
Peristiwa banjir yang terjadi tentunya bermacam-macam tergantung pada
penyebabnya. Oleh karena itu, terjadinya banjir dilihat dari penyebabnya terbagi menjadi
beberapa jenis, antara lain:

1) Banjir air
Banjir air merupakan banjir yang sering sekali terjadi saat ini.Penyebab dari banjir ini
adalah kondisi air yang meluap di beberapa tempat, seperti sungai, danau maupun
selokan. Meluapnya air dari tempat-tempat tersebut yang biasanya menjadi tempat
penampungan dan sirkulasinya membuat daratan yang ada di sekitarnya akan tergenang
air. Banjir ini biasanya terjadi karena hujan yang begitu lama sehingga sungai, danau
maupun selokan tidak lagi cukup untuk menampung semua air hujan tersebut.
2) Banjir cileuncang
Banjir ini sebenarnya hampir sama dengan banjir air. Tetapi banjir cileuncang ini terjadi
karena hujan yang deras dengan debit/aliran air yang begitu besar.Sedemikian sehingga
air hujan yang sangat banyak ini tidak mampu mengalir melalui saluran air (drainase)
sehingga air pun meluap dan menggenangi daratan.

3) Banjir rob (laut pasang)


Banjir laut pasang atau dikenal dengan sebutan banjir rob merupakan jenis banjir yang
disebabkan oleh naiknya atau pasangnya air laut sehingga mengalir ke daratan sekitarnya.
Banjir jenis ini biasanya sering menimpa pemukiman bahkan kota-kota yang berada di
pinggir laut, seperti daerah kampong banjar kec. Ampenan selatan kota matram .
Terjadinya air pasang ini di laut akan menahan aliran air sungai yang seharusnya menuju
ke laut. Karena meluapnya air sungai tersebutlah yang menyebabkan tanggul jebol dan
air menggenangi daratan.

4) Banjir bandang
Banjir bandang merupakan banjir yang tidak hanya membawa air saja tapi material-
material lainnya seperti sampah dan lumpur.Biasanya banjir ini disebabkan oleh
bendungan air yang jebol.Sehingga banjir ini memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi
daripada banjir air.Bukan hanya karena mengangkut material-material lain di dalamnya
yang tidak memungkinkan manusia berenang dengan mudah, tetapi juga arus air yang
terdakang sangat deras.

5) Banjir lahar
Banjir lahar merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lahar gunung berapi yang
masih aktif saat mengalami erupsi atau meletus. Dari proses erupsi inilah nantinya
gunung akan mengeluarkan lahar dingin yang akan menyebar ke lingkungan sekitarnya.
Air dalam sungai akan mengalami pendangkalan sehingga juga akan ikut meluap
merendam daratan.
6) Banjir lumpur
Banjir ini merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lumpur.Salah satu contoh identic
yang masih terjadi sampai saat ini adalah banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa
Timur.Banjir lumpur ini hampir menyerupai banjir bandang, tetapi lebih disebabkan oleh
keluarnya lumpur dari dalam bumi yang kemudian menggenangi daratan.Tentu lumpur
yang keluar dari dalam bumi tersebut berbeda dengan lumpur-lumpur yang ada di
permukaan.Hal ini bisa dianalisa dari kandungan yang dimilikinya, seperti gas-gas kimia
yang berbahaya.

2.3.2 Penyebab Banjir


Penyebab banjir dan tanah longsor bisa sangat beragam dan membahayakan keselamatan
jiwa.Banjir bisa saja terjadi karena banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Secara umum,
beberapa penyebab terjadinya banjir, antara lain:

1. Air sungai yang meluap


Meluapnya air sungai yang terjadi merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan
terjadinya banjir.Meluapnya air sungai ini bisa saja disebabkan oleh adanya pengendapan
di dasar sungai.Endapan yang terjadi bisa disebabkan oleh turunnya hujan dalam waktu
yang cukup lama sehingga sungai kehilangan daya tampung terhadap air tersebut.Selainnya
itu, bisa juga disebabkan oleh adanya penyempitan permukaan aliran sangai sehingga air
yang mengalir semakin terbatas.

2. Banjir yang terjadi di muara


Banjir ini terjadi di bagian muara yang biasanya disebabkan oleh perubahan cuaca. Di
mana pada keadaan tersebut terjadi proses naiknya/pasangnya air laut yang terkadang
memancing terjadinya badai di lautan. Faktor badai inilah yang menjadi penyebab utama
terjadinya banjir di kawasan muara.Badai tersebut biasanya adalah badai jenis siklon tropis
atau siklon ekstratropis.

3. Bencana alam
Banjir juga bisa terjadi karena adanya bencana alam. Sehingga banjir ini biasanya akan
datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bencana alam yang bisa saja
menyebabkan terjadinya banjir ini, antara lain gempa bumi, gunung meletus hingga
menyebabkan banjir lahar maupun karena adanya tanggul yang jebol, seperti yang terjadi
pada tahun 2009 di Situ Gintung, Jakarta.

4. Air laut yang meluap


Meluapnya air laut yang terjadi sehingga menyebabkan banjir biasanya terjadi karena
ada beberapa faktor yang mendahuluinya terlebih dahulu.Contohnya dengan adanya pasang
air laut sehingga air laut tersebut meluap ke daratan yang ada di sekitarnya, adanya gempa
bumi sehingga menyebabkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh, dan berbagai kejadian
lainnya, seperti badai.

2.3.3 Sedimentasi
Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan peluapan oleh air ,
angin atau gletser ke suatu wilayah yang diendapkan, semua hasil pelapukan dan pengikisan
yang di endapkan lama kelamaan akan menjadi batuan sedimen. Hasil peroses sedimetasi di
suatu tempat dengan tempat lain akan berbeda.

Berikut adalah ciri bentang lahan akibat prses pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya.

a) pengendapan oleh air sungai, batuan hasil pengendapan oleh air tersebut sedimen akuatis.
Bentang alam hasil pengendapan oleh air, antra lain meander, oxbow lake, tanggul alam,
dan delta
b) pengendapan oleh air laut, batuan hasil pengendapan oleh air laut di sebut sedimen
marine, pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil
pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai.
c) pengendapan oleh angin, sedimen hasil pengendapan oleh angin di sebut sedimen aeolis.
Bentang alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune).
Gumuk pasir terjadi akibat akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang
kuat. Angin mengangkut dan mengendapkan pasir di suatu tempat secara bertahap,
sehingga terbentuk timbunan pasir yang di sebut gumuk pasir.
2.4 Sistem Drainase
Drainase yang berasal dari bahasa Inggris yaitu drainage mempunyai arti mengalirkan,
menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase dapat didefinisikan sebagai
suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan,
rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan atau lahan, sehingga fungsi kawasan
atau lahan tidak terganggu (Suripin,2004).
Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah. Jadi,
drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah.
Sistem drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunanair yang
berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatukawasan atau lahan,
sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. (Suripin,2004).
Bangunan dari sistem drainase pada umumnya terdiri dari saluran penerima(interceptor
drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa(conveyor drain), saluran induk
(main drain), dan badan air penerima (receivingwaters).
Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir
di permukaan diusahakan secepatnya dibuang agar tidak menimbulkan genangan yang dapat
mengganggu aktivitas dan bahkan dapat menimbulkan kerugian (R. J. Kodoatie, 2005).
Adapun fungsi drainase menurut R. J. Kodoatie adalah:
1) Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat dari permukiman) darigenangan air,
erosi, dan banjir.
2) Karena aliran lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resikokesehatan
lingkungan bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya.
3) Kegunaan tanah permukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhindardari
kelembaban.
4) Dengan sistem yang baik tata guna lahan dapat dioptimalkan dan jugamemperkecil
kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunanlainnya.
Menurut R. J. Kodoatie sistem jaringan drainase di dalam wilayah kota dibagi atas 2 (dua)
bagian yaitu:
1) Sistem drainase mayor adalah sistem saluran yang menampung danmengalirkan air dari
suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area).Biasanya sistem ini menampung
aliran yang berskala besar dan luas sepertisaluran drainase primer.
2) Sitem drainase minor adalah sistem saluran dan bangunan pelengkap drainaseyang
menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan dimanasebagian besar di
dalam wilayah kota, contohnya seperti saluran atau selokanair hujan di sekitar bangunan.
Dari segi kontruksinya sistem ini dapatdibedakan menjadi sistem saluran tertutup dan
sistem saluran terbuka.

2.5 Perencanaan Saluran Drainase


Saluran drainase harus direncanakan untuk dapat melewatkan debit rencana dengan aman.
Perencanaan teknis saluran drainase menurut Suripin mengikuti tahapan-tahapan meliputi:
menentukan debit rencana, menentukan jalur saluran, merencanakan profil memanjang saluran,
merencanakan penampang melintang saluran, mengatur dan merencanakan bangunan-bangunan
serta fasilitas sistem drainase.
2.5.1 Data curah hujan
Dari data curah hujan yang didapat, kemudian dicari hujan maksimum setengah
bulan pada setiap tahunnya. Dengan menjumlahkan masing-masing stasiun
Hujan maks rata-rata = Sta 1 + Sta 2 ........................................................... (2.2)

2.5.2 Debit hujan


Perhitungan debit hujan untuk saluran drainase di daerah perkotaan dapat dilakukan
dengan menggunakan rumus rasional atau hidrograf satuan. Dalam perencanaan saluran drainase
dapat dipakai standar yang telah ditetapkan, baik periode ulang dan cara analisis yang dipakai,
tinggi jagaan, struktur saluran, dan lain-lain.
Tabel 2.2 Kriteria desain hidrologi sistem drainase perkotaan
Luas DAS (ha) Periode ulang (tahun) Metode perhitungan debit hujan
< 10 2 Rasional
10 – 100 2–5 Rasional
101 – 500 5 – 20 Rasional
> 500 10 – 25 Hidrograf satuan
(Sumber: Suripin, 2004)

2.5.3 Periode ulang dan analisis frekuensi


Periode ulang adalah waktu perkiraan dimana hujan dengan suatu besaran tertentu akan
disamai atau dilampaui. Besarnya debit hujan untuk fasilitas drainase tergantung pada interval
kejadian atau periode ulang yang dipakai. Dengan memilih debit dengan periode ulang yang
panjang dan berarti debit hujan besar, kemungkinan terjadinya resiko kerusakan menjadi
menurun, namun biaya konstruksi untuk menampung debit yang besar meningkat. Sebaliknya
debit dengan periode ulang yang terlalu kecil dapat menurunkan biaya konstruksi, tetapi
meningkatkan resiko kerusakan akibat banjir.
Sedangkan frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai
atau dilampaui. Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi dan empat
jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi, antara lain:

 Distribusi Normal
Distribusi normal disebut pula distribusi Gauss. Secara sederhana, persamaan distribusi
normal dapat ditulis sebagai berikut:

𝑋𝑇 = 𝑋̅ + 𝐾𝑇 + S .................................................................................... (2.3)
Dengan :
𝑋𝑇 = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-tahunan
𝑋̅ = nilai rata-rata hitung variat
S = deviasi standar nilai variat
𝐾𝑇 = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang. Nilai KT dapat
dilihat pada Tabel 2.3 nilai variabel reduksi Gauss sebagai berikut :
Tabel 2.3 Nilai variabel reduksi gauss
No Periode ulang Peluang 𝐾𝑇
1 1.001 0.999 -3.05
2 1.005 0.995 -2.58
3 1.010 0.990 -2.33
4 1.050 0.950 -1.64
5 1.110 0.900 -1.28
6 1.250 0.800 -0.84
7 1.330 0.750 -0.67
8 1.430 0.700 -0.52
9 1.670 0.600 -0.25
10 2.000 0.500 0
11 2.500 0.400 0.25
12 3.330 0.300 0.52
13 4.000 0.250 0.67
14 5.000 2.000 0.84
15 10.000 0.100 1.28
16 20.000 0.050 1.64
17 50.000 0.020 2.05
18 100.000 0.010 2.33
19 200.000 0.005 2.58
20 500.000 0.002 2.88
21 1000.000 0.001 3.09
(Sumber: Bonnier, 1980 dalam Suripin, 2004)

 Distribusi Log Normal


Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara normal, maka X dikatakan mengikuti
distribusi Log Normal. Persamaan distribusi log normal dapat ditulis dengan:
𝑌𝑇 = 𝑌̅ + 𝐾𝑇 + S ................................................................................... (2.4)
Dengan :
𝑌𝑇 = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-tahunan
𝑌𝑇 = Log X
𝑌̅ = nilai rata-rata hitung variat
S = deviasi standar nilai variat
𝐾𝑇 = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang. Nilai
𝐾𝑇 dapat dilihat pada Tabel 2.2 nilai variabel reduksi Gauss.

 Distribusi Log-Person III


Persamaan distribusi Log-Person III hampir sama dengan persamaan distribusi Log
Normal, yaitu sama-sama mengkonversi ke dalam bentuk logaritma.

𝑌𝑇 = 𝑌̅ + 𝐾𝑇 + S ...................................................................................... (2.5)
Dimana besarnya nilai KT tergantung dari koefisien kemencengan G. Tabel 2.3
memperlihatkan harga KT untuk berbagai nilai kemencengan G. Jika nilai G sama dengan
nol, distribusi kembali ke distribusi Log Normal.

Tabel 2.4 Nilai KT untuk Distribusi Log-Person III


Interval kejadian (periode ulang)
Koef. 1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100
G Persentase perluang terlampaui
99 80 50 20 10 4 2 1
3,0 -0,667 -0,636 -0,396 0,420 1,180 2,278 3,152 4,051
2,8 -0,714 -0,666 -0,384 0,460 1,210 2,275 3,114 3,973
2,6 -0,769 -0,696 -0,368 0,499 1,238 2,267 3,071 2,889
2,4 -0,832 -0,725 -0,351 0,537 1,262 2,256 3,023 3,800
2,2 -0,905 -0,752 -0,330 0,574 1,284 2,240 2,970 3,705
2,0 -0,990 -0,777 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,892 3,605
1,8 -1,087 -0,799 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,499
1,6 -1,197 -0,817 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,780 3,388
1,4 -1,318 -0,832 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271
1,2 -1,449 -0,844 -0,195 0,732 1,340 2,087 2,626 3,149
1,0 -1,588 -0,852 -0,164 0,758 1,340 2,043 2,542 3,022
0,8 -1,733 -0,856 -0,132 0,780 1,336 1,993 2,453 2,891
0,6 -1,880 -0,857 -0,099 0,800 1,328 1,939 2,359 2,755
0,4 -2,029 -0,855 -0,066 0,816 1,317 1,880 2,261 2,615
0,2 -2,178 -0,850 -0,033 0,830 1,301 1,818 2,159 2,472
0,0 -2,326 -0,842 0,000 0,842 1,282 1,751 2,051 2,326
-0,2 -2,472 -0,830 0,033 0,850 1,258 1,680 1,945 2,178
-0,4 -2,615 -0,816 0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2,029
-0,6 -2,755 -0,800 0,099 0,857 1,200 1,528 1,720 1,880
-0,8 -2,891 -0,780 0,132 0,856 1,166 1,448 1,606 1,733
-1,0 -3,022 -0,758 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588
-1,2 -2,149 -0,732 0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449
-1,4 -2,271 -0,705 0,225 0,832 1,041 1,198 1,270 1,318
-1,6 -2,388 -0,675 0,254 0,817 0,994 1,116 1,166 1,197
-1,8 -3,499 -0,643 0,282 0,799 0,945 1,035 1,069 1,087
-2,0 -3,605 -0,609 0,307 0,777 0,895 0,959 0,980 0,990
-2,2 -3,705 -0,574 0,330 0,752 0,844 0,888 0,900 0,905
-2,4 -3,800 -0,537 0,351 0,725 0,795 0,823 0,830 0,832
-2,6 -3,889 -0,490 0,368 0,696 0,747 0,764 0,768 0,769
-2,8 -3,973 -0,469 0,384 0,666 0,702 0,712 0,714 0,714
-3,0 -7,051 -0,420 0,396 0,636 0,660 0,666 0,666 0,667
(Sumber: Suripin, 2004)

 Distribusi Gumbel
Bentuk dari persamaan distribusi Gumbel dapat ditulis sebagai berikut:

𝑋𝑇𝑟 = 𝑋̅ + K . S ...................................................................................... (2.5)


Besarnya faktor frekuensi dapat ditentukan dengan rumus berikut:

𝑌𝑇𝑟 − 𝑌𝑛
K = ...................................................................................... (2.6)
𝑆𝑛

Keterangan :
XT = besarnya curah hujan untuk periode tahun berulang Tr tahun (mm)
Tr = periode tahun berulang (return period) (tahun)
𝑋̅ = curah hujan maksimum rata-rata selama tahun pengamatan (mm)
S = standard deviasi
K= faktor frekuensi
YTr = reduced variate
Yn = reduced mean
Sn = reduced standard

Besarnya nilai Sn, Yn, dan YTr dapat dilihat dalam Tabel 2.4; 2.5; 2.6 sebagai berikut:

Tabel 2.5Reduced variate (YTr)


Periode Ulang Tr Reduced Periode Ulang Tr Reduced Variate
(tahun) VariateYTr (tahun) YTr
2 0,3668 100 4,6012
5 1,5004 200 5,2969
10 2,2510 250 5,5206
20 2,9709 500 6,2149
25 3,1993 1000 6,9087
50 3,9028 5000 8,5188
75 4,3117 10000 9,2121
(Sumber: Suripin, 2004)

Sebelum menganalisis data hujan dengan salah satu distribusi di atas, perlupendekatan
dengan parameter-parameter statistik untuk menentukan distribusi yang tepat digunakan.
Parameter-parameter tersebut meliputi:
𝑛
1
 Rata-rata ( 𝑋̅ ) = ∑ 𝑋𝑖
𝑛 .................................................................. (2.7)
𝑖=1

 Simpangan baku (S) = √∑(𝑋 𝑖 − 𝑋)


̅ 2
............................................................................. (2.8)
𝑖=1
 Koefisien variasi (Cv) = 𝑆....................................................................... (2.9)
𝑋̅

𝑛 ∑ (𝑋𝑖 − 𝑋̅)3
(𝑖=1)
- Koefisien skewness (Cs) = …...……….……………(2.10)
(𝑛 − 1)(𝑛 − 2). 𝑠 3

𝑛 ∑ (𝑋𝑖 − 𝑋̅)4
(𝑖=1)
- Koefisien ketajaman (Ck) = .……………(2.11)
(𝑛 − 1)(𝑛 − 2)(𝑛 − 3). 𝑠 4

Tabel 2.6 Karakteristik distribusi frekuensi


Jenis distribusi frekuensi Syarat distribusi
Distribusi normal Cs = 0 dan Ck = 3
Distribusi log normal Cs > 0 dan Ck > 3
Distribusi gembel Cs = 1,139 dan Ck = 5,402
Distribusi log-person III Cs antara 0 - 0,9
(Sumber: Soewarno, 1995)

Untuk menilai besarnya penyimpangan maka dibuat batas kepercayaan dari hasil perhitungan
XT dengan uji Smirnov-Kolmogorov.Uji Smirnov-Kolmogorov sering juga disebut juga uji
kecocokan non parametik, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.
Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
 Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnyapeluang dari
masing-masing data tersebut.
X1 = P(X1)
X2 = P(X2)
X3 = P(X3) dan seterusnya.
 Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil pengambaran data(persamaan
distribusinya).
X1 = P’(X1)
X2 = P’(X2)
X3 = P’(X3) dan seterusnya.
 Dari kedua nilai peluang tersebut, tentukan selisih terbesarnya antar
peluangpengamatan dengan peluang teoritis.

Dmaksimum = P(Xn) – P’(Xn) ..................................................... (2.12)


 Berdasarkan Tabel 2.7 nilai kritis (Smirnov-Kolmogorov test) tentukan harga Do.

Tabel 2.7 Nilai kritis Do untuk uji Smirnov-Kolmogorov


Derajat kepercayaan (α)
N
0.20 0.10 0.05 0.01
5 0.45 0.51 0.56 0.67
10 0.32 0.37 0.41 0.49
15 0.27 0.3 0.34 0.4
20 0.23 0.26 0.29 0.36
25 0.21 0.24 0.27 0.32
30 0.19 0.22 0.24 0.29
35 0.18 0.2 0.23 0.27
40 0.17 0.19 0.21 0.25
45 0.16 0.18 0.2 0.24
50 0.15 0.17 0.19 0.23
(Sumber: Bonnier, 1980 dalam Suripin, 2004)

Apabila nilai D maksimum lebih kecil dari Do, maka distribusi teoritis yang digunakan
untuk menentukan persamaan distribusi dapat diterima. Apabila Dmaksimum lebih besar
dari Do, maka secara teoritis pula distribusi yang digunakan tidak dapat diterima.
 D maksimum = Nilai yang digunakan sebagai perbandingan nilai Do yang
berfungsi sebagai kelanjutan dari metode log normal dengan menggunakan rumus
uji smirnov kolmagorov sebagai dasar kelanjutan perhitungan selanjutnya
 Do = yaitu selisih simpangan antara distribusi teoritis dengan empiris (percobaan)
 Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut:
 Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan
dapat diterima
 Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan
tidak dapat diterima
 Apabila peluang berada diantara 1-5 %, maka tidak mungkin mengambil
keputusan, maka perlu data tambahan.

2.5.4 Intensitas Hujan


Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Sifat umum
hujan adalah makin singkat hujan berlangsung, intensitasnya cenderung makin tinggi dan makin
besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasya. Seandainya data hujan yang diketahui
hanya hujan harian, maka oleh Mononobe dirumuskan sebagai berikut:

2
𝑅24 24 3
I= ( ) ..................................................................................... (2.13)
24 𝑡𝑐
Dengan :
I = intensitas hujan (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)
R24 = curah hujan maksimum harian dalam 24 jam (mm)

Jika data yang tersedia adalah data hujan jangka pendek dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Talbot:

𝑎
I= ............................................................................................... (2.14)
𝑡𝑐+𝑏
Dengan :
I = intensitas hujan (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)
a dan b = konstanta yang tergantung pada lamanya hujan yang terjadi di DAS
Kirpich (1940) dalam Suripin (2004) mengembangkan rumus dalam memperkirakan
waktu konsentrasi, dimana dalam hal ini durasi hujan diasumsikan sama dengan waktu
konsentrasi. Rumus waktu konsentrasi tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
0,385
0,87 . 𝐿2
𝑡𝑐= ( ) ......................................................................... (2.15)
1000 . 𝑆𝑜

Dengan :
Tc = waktu konsentrasi (jam)
L = panjang saluran utama dari hulu sampai penguras (km)
So = kemiringan rata-rata saluran

Dari hasil survey pada pada saluran perumahan Kampung Banjar didapatkan kemiringan
saluran (So) = 0,0024.

2.5.5 Koefisien aliran permukaan


Koefisien aliran permukaan didefisinikan sebagai nisbah antara puncak aliranpermukaan
terhadap intensitas hujan. Faktor utama yang mempengaruhi koefisien adalah laju infiltrasi
tanah, kemiringan lahan, tanaman penutup tanah, dan intensitas hujan.Selain itu juga tergantung
pada sifat dan kondisi tanah, air tanah, derajad kepadatan tanah, porositas tanah, dan simpanan
depresi. Untuk besarnya nilai koefisien aliran permukaan dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:
Tabel 2.8 Koefisien aliran untuk metode rasional
No Deskripsi lahan / karakter permukaan Koefisien aliran ( C )
1 Business
Perkotaan 0.70 - 0.95
Pinggirin 0.50 - 0.70
2 Perumahan
Rumah tunggal 0.30 - 0.50
Multiunit, terpisah 0.40 - 0.60
Multiunit, tergabung 0.60 - 0.75
Perkampungan 0.25 - 0.40
Apartemen 0.50 - 0.70
3 Industri
Ringan 0.50 - 0.80
Berat 0.60 - 0.90
4 Perkerasan
Aspal dan beton 0.70 - 0.95
Batu bata, paving 0.50 - 0.70
5 Atap 0.75 - 0.95
6 Halaman, tanah berpasir
Datar, 2% 0,05 – 0,10
Rata-rata, 2-7% 0,10 – 0,15
Curam, 7% 0,15 – 0,20
7 Halaman, tanah berat
Datar, 2% 0,13 – 0,17
Rata-rata, 2-7% 0,18 – 0,22
Curam, 7% 0,25 – 0,35
0.10 - 0.35
8 Halaman kereta api
0.20 - 0.35
9 Taman tempat bermain
0.10 - 0.25
10 Taman perkuburan
11 Hutan

0,10 – 0,40
12 Datar, 0-5%
0,25 – 0,50
13 Bergelombang, 5-10%
0,30 – 0,60
14 Berbukit, 10-30%

(Sumber: McGuen, 1989 dalam Suripin, 2004)

2.5.6 Metode Rasional


Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum dipakai adalah
metode Rasional USSCS (1973).Model ini sangat simpel dan mudah dalam penggunaannya,
namun penggunaannya terbatas untuk DAS-DAS dengan ukuran kecil kurang dari 300 ha. Model
ini tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk
hidrograf. Persamaan metode rasional dapat ditulis dalam bentuk:

Qh = 0,002778 C . I . A ................................................................... (2.16)

Dengan :
Qh = laju aliran permukaan (debit) puncak (𝑚3 /𝑑𝑒𝑡)
C = koefisien aliran permukaan (0C 1)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas DAS (ha)
2.5.7 Penampang melintang saluran
Pada umumnya tipe aliran melalui saluran terbuka adalah turbulen, karena kecepatan
aliran dan kekasaran dinding relatif besar. Nilai R dapat dicari dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Untuk mencari debit aliran pada saluran dapat menggunakan rumus:

Q = V . A............................................................................................. (2.17)

Dengan : Q = debit aliran pada saluran (𝑚3 /𝑑𝑒𝑡)


V = kecepatan aliran (m/dt)
A = luas penampang basah saluran (𝑚2 )

Penampang melintang saluran yang paling ekonomis adalah saluran yang dapat
melewatkan debit maksimum untuk luas penampang basah, kekasaran, dan kemiringan dasar
tertentu.
Potongan melintang saluran yang paling ekonomis adalah saluran yang dapat melewati
debit maksimum untuk luas penampang basah, kekasaran, dan kemiringan dasar tertentu. Salah
satunya adalah saluran berbentuk persegi.
Luas penampang melintang, A, dan keliling basah, P, saluran dengan penampang
melintang berbentuk persegi dengan lebar dasar B, kedalaman air h, (Gambar 2.1), dapat
dirumuskan sebagai berikut:

Gambar 2.1 - Penampang melintang saluran berbentuk persegi

Dengan :
A = luas penampang
B = lebar dasar saluran
P = keliling basah
H = tinggi air
Ab .h ................................................................................................. (2.18)
P b + 2h .......................................................................................... (2.19)
𝐴
R= ................................................................................................... (2.20)
𝑃

Dengan :
R = jari-jari hidraulik (m)
A = luas penampang basah (𝑚2 )
P = keliling penampang basah (m)
(Rmm) = Curah hujan rata-rata

Tabel 2.9kebutuhan air


Jenis
NO Kebutuhan
Pemakaian
1 Perumahan 150 L/org/hari
2 Hidran Umum 30 l/org/hari
3 Sekolah 10 L/murid/hari
4 Kantor 10 L/pegawai/hari
5 Rumah Sakit 200 L/unit/hari
6 Puskesmas 2000 L/hektar/hari
7 Pasar 12 m³/hektar/hari
8 Restauran 100 L/kursi/hari
9 Hotel/Penginapan 150 L/tt/hari
Sumber: Ditjen Cipta Karya Dep PU.2000
Tabel 2.10 Kekasaran Manning untuk saluran
Saluran Keterangan n Manning
Lurus, baru,seragam landai dan bersih 0.016-0.033
Berkelok, landai dan berumput 0.023-0.040
Tanah
Tidak terwat dan kotor 0.050-0.140
Tanah berbatu, kasar dan tidak teratur 0.035-0.045
Batu kosong 0.023-0.035
Pasangan
Pasangan batu belah 0.017-0.030
Halus, sambungan baik dan rata 0.014-0.018
Beton
kurang halus dan sambungan kurang rata 0.018-0.030
Tabel 2.11 Tipikal harga koefisien kekasaran Manning, n, yang sering digunakan
Harga n
No Tipe saluran dan jenis bahan
Minimum Normal Maksimum
1 Beton
> Gorong-gorong lurus dan bebas dari kotoran 0.010 0.011 0.013
> Gorong-gorong dengan lengkungan dan sedikit
kotoran atau gangguan 0.011 0.013 0.014
> Beton di poles 0.011 0.012 0.014
>Saluran pembuang dengan bak kontrol 0.013 0.015 0.017
2 Tanah, lurus dan seragam
>Bersih baru 0.016 0.018 0.020
> Bersih telah melapuk 0.018 0.022 0.025
> Berkerikil 0.022 0.025 0.030
> Berumput pendek, Sedikit tanaman penggangu 0.022 0.027 0.033
3 Saluran alam
>Bersih lurus 0.025 0.030 0.033
> Bersih, Berkelok-kelok 0.033 0.040 0.045
> Banyak tanaman pengaggu 0.050 0.070 0.080
>Dataran benjir berumput pendek-tinggi 0.025 0.030 0.035
>Saluran di belukar 0.035 0.050 0.070 Tabel
2.11 Tipikal harga koefisien kekasaran Manning, n, yang sering digunakan