Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PERUNDANG-UNDANGAN & ETIKA

FARMASI
Dosen pengampu : Dr. Faiq Bahfen, SH.

Nama : Putri Rasdianti


Npm : 2018000083
Kelas :C

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan kesehatan oleh tena
gakesehatan, khususnya dengan terjadinya berbagai kasus yang menyebabkan
ketidakpuasan masyarakat memunculkan isu adanya dugaan malpraktek medis
yang secara tidak langsung dikaji dari aspek hukum dalam pelayanan
kesehatan, karena penyebab dugaan malpraktek belumtentu disebabkan oleh
adanya kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Dewasa ini perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami


perubahan yangsangat pesat menuju kepada perkembangan keperawatan
sebagai profesi. Proses ini merupakansuatu proses berubah yang sangat
mendasar dan konsepsional, yang mencakup seluruh aspek keperawatan baik
aspek pelayanan/asuhan keperawatan, aspek pendidikan, pengembangan
dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kehidupan keprofesia
n dalam keperawatan.Perkembangan keperawatan menuju perkembangan kep
erawatan sebagai profesi dipengaruhi oleh berbagai perubahan yang cepat
sebagai akibat tekanan globalisasi yang juga
menyentuh perkembangan keperawatan professionaltermasuk tekanan perke
mbangan ilmupengetahuan dantehnologi keperawatanyang pada hakekatnya h
arus diimplementasikan pada perkembangan keperawatan profesional di
Indonesia (Ma’rifin Husin, 2002).

Perkembangan keperawatan dapat mengacu terjadinya malpraktik, sehingga


terdapat berbagai hokum yang mengatur dan cara penanganan malpraktik.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan di bahas mengenai kasus malpraktik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara terjadinya malpraktik tersebut?
2. Bagaimana cara menyelesaikan kasus malpraktik tersebut?
3. Apa yang harus dilakukan agar kasus malpraktik tersebut tidak terjadi?
BAB II

KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Kasus Malpraktik

Maulana adalah seorang anak berusia 18 tahun.Dulunya adalah anak yang


mengemaskandan pernah menjadi juara bayi sehat.Namun makin hari tubuhn
ya makin kurus.Dan organtubuhnya tidak bisa berfungsi secara normal.Trage
di ini terjadi ketikamaulana mendapatimunisasi dari petugas kesehatan.Didug
a korban kuat maulana adalah korban mal praktek.maulana, kini berusia 18 ta
hun. namun ia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur.Tidak ada aktivitas
yang bisa dilakukan.Ia juga tidak bisa berbicara. Berat badannya hanya enam
koma delapan kilogram, seperti anak berusia lima tahun. Bungsu dari empat
bersaudara, anak pasangan Lina dan Adul ini mengalami kegagalan multi
organ.

Tragedi ini bermula saat usianya empat puluh lima hari. Seperti balita pada
umumnya,Maulana mendapatkan imunisasi dari petugas Dinas kesehatan.Pet
ugas memberikan tiga imunisasi sekaligus, yaitu imunisasi BCG, imunisasi
DPT dan imunisasi Polio.

Namun setelah dua jam menerima imunisasi, Maulana mengalami kejang


-kejang, dan suhu tubuhnya naik tajam. Sehingga orang tuanya panik dan
langsung membawanya ke rumahsakit.Namun kondisinya justru makin
memburuk. Setelah lima hari dirawat, maulana malah tidak sadarkan diri,
selama tiga minggu. Sejak itu, tubuh maulana selalu sakit sakitan dan
hampir seluruh organ tubuhku tidak berfungsi normal.

Dokter mendiagnosa maulana mengalami radang otak. Namun setelah itu, satu
persatu penyakit akut menggerogoti kesehatannya.Semakin hari badannya se
makin kecil, dan mengerut.Maulana sering mengalami sesak nafas, dan kejang
kejang. Lina yakin, maulana menjadi korban malpraktek.karena beberapa
dokter yang perawat maulana menyatakan, anaknya mengalami kesalahan
imunisasi.

Sebelum tragedi itu datang, maulana adalah bayi yang menggemaskan.Tu


buhnya montok, dan sangat sehat.bahkan maulana sempat dinobatkan sebagai
pemenangbayisehat.karena lahir dengan bobot tiga koma delapan kilogram da
n panjang lima puluh satu centimeter.orang tua maulana sudah berusaha untuk
membawa ke rumah sakit di kawasan kota Siantan, Pontianak.

Lina juga beberapa kali berusaha meminta pertanggungjawaban kepada p


emerintah Kalimantan Barat, dengan mengajukan tuntutan di pengadilan.Lina
kemudian menemui sejumlah instansi pemerintah daerah, termasuk menemui
walikota Pontianak, dan gubernur Kalimantan barat, untuk menuntut
keadilan. Namun para pejabat tersebut tidak menanggapi pengaduan Lina.Lin
a tidak menyerah.Ia kemudian membawa maulana ke Jakarta, untuk menemui
Menteri Kesehatan.N amun lagi-lagi usahanya kembali menemui jalan
buntu.Lina kemudian memilih prosedur hukum.Ia melaporkan pemerintah
Kalimantan Barat secara pidana, dan juga menggugatnya secara
perdata.Namun di pengadilan, hakim meminta Lina dan perwakilan pemerintah
sebagai tergugat, untuk berdamai.Hasilnya cukup menjanjikan.Pemerintah
Daerah Kalimantan Barat, berjanji akan menanggung penuh obat dan
kebutuhan perawatan maulana di rumah sakit seumur hidup.

Sementara itu, Lembaga bantuan hukum kesehatan, meminta pihak pemerinta


h bertanggungjawab atas kasus yang menimpa maulana. Menurut Direktur
LBH Kesehatan,Iskandar Sitorus, kasus dugaan mal praktik yang menimpa m
aulana, mencerminkan lemahnya tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini
Departemen kesehatan.

Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia, Fachmi Idris menyatakan, profesi


dokter,diikatoleh sebuah etika profesi dalam sebuah payung majelis kode etik
kedokteran atauMKEK.Seorang dokter dapat dikatakan melakukan pelanggar
an saat praktek, jika sudah dibuktikan dalam suatu sidang majelis kode etik.
B. Pembahasan

Sistem hukum di Indonesia yang salah satu komponennya adalah hukum


substantive,diantaranya hukum pidana, hukum perdata dan hukum administrasi
tidak mengenal bangunan hukum “malpraktek” .Sebagai profesi, sudah saatnya
para dokter mempunyai peraturan hukum yang dapat dijadikan pedoman bagi
mereka dalam menjalankan profesinya dan sedapat mungkin
untuk menghindari pelanggaran etika kedokteran.Keterkaitan antara pelbagai
kaidah yang mengatur perilaku dokter, merupakan bibidang hukum baru dalam
ilmu hukum yang sampai saat ini belum diatur secara khusus. Padahal hukum
pidana atau hukum perdata yang merupakan hukum positif yang berlaku di
Indonesia saat ini tidak seluruhnya tepat bila diterapkan pada dokter yang
melakukan pelanggaran. bidang hukum baru inilah yang berkembang
di Indonesia dengan sebutan hukum kedokteran, bahkan dalam arti yang lebih
luas dikenal dengan istilah hukum kesehatan.Istilah hukum kedokteran mula-
mula diunakan sebagai terjemahan dariHealth law yang digunakan oleh
World Health Organization.Kemudian Health Law
diterjemahkan dengan hukum kesehatan, sedangkan istilah hukum kedokteran
kemudian digunakan sebagai bagian dari hukum kesehatan yang semula
disebuthukummediksebagaiterjemahan dari medic law.Sejak World Congress
ke VI pada bulan agustus 1982, hokum kesehatan berkembang pesat di
Indonesia. Atas prakarsa sejumlah dokter dan sarjana
hukum pada tanggal 1 November1982 dibentuk kelompok Studi hukum kedo
kteran di Indonesia dengan tujuan mempelajari kemungkinan
dikembangkannya Medical Law di Indonesia. Namun sampai saat ini, Medical
Law masih belum muncul dalam bentuk modifikasi tersendiri.Setiap
ada persoalan yang menyangkut medical law penanganannya masih mengacu
kepada hukumkesehatan Indonesia yang berupa undang-undang No
23 Tahun1992 dan kitabundangundang hukum Perdata.kalau ditinjau dari bu
daya hukum Indonesia, malpraktek merupakan sesuatu yang asing karena
batasan pengertian malpraktek yang diketahui dan dikenal oleh kalangan medis
kedokteran dan hukum berasal dari alam pemikiran barat.untuk itu
masih perlu ada pengkajian secara khusus guna memperoleh suatu rumusan p
engertian dan batasanistilah malpraktek medik yang khas Indonesia bila
memang diperlukan sejauh itu yakni sebagai hasil oleh piker bangsa Indonesia
dengan berlandaskan budaya bangsa yang kemudian dapatditerima sebagai
budaya hukum (legal culture) yang sesuai dengan sistem kesehatan nasional.

Dari penjelasan ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa permasalahan


malpraktek diIndonesia dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu jalur litigasi
(peradilan) dan jalur non litigasi(diluar peradilan).untuk penanganan bukti-
bukti hukum tentang kesalahan atau kealpaan atau
kelalaian dokter dalam melaksanakan profesinya dan cara penyelesaiannya ba
nyak kendala yuridis yang dijumpai dalam pembuktian kesalahan atau
kelalaian tersebut. masalah ini berkait dengan masalah kelalaian atau kesalahan
yang dilakukan oleh orang pada umumnya sebagaianggota masyarakat, sebagai
penanggung jawab hak dan kewajiban menurut ketentuan yang berlaku bagi
profesi. oleh karena menyangkut 2(dua) disiplin ilmu yang berbeda maka
metode pendekatan yang digunakan dalam mencari jalan keluar bagi masalah
ini adalah dengan cara pendekatan terhadap masalah medik melalui hukum. u
ntuk itu berdasarkan Surat edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (
SEMA RI) tahun 1982, dianjurkan agar kasus-kasus yang menyangkut dokter
atau tenaga kesehatan lainnya seyogyanya tidak langsung diproses
melalui jalur hukum, tetapi dimintakan pendapat terlebih dahulu kepada Maje
lis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK).

Majelis kehormatan etika kedokteran merupakan sebuah badan di dalam struk


tur organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). MKEK ini akan
menentukan kasus yang terjadi merupakan pelanggaran etika ataukah
pelanggaran hukum. hal ini juga diperkuat dengan UU
NO.23/1992 tentang kesehatan yang menyebutkan bahwa penentuan ada atau
tidaknya kesalahan atau kelalaian ditentukan oleh Majelis Disiplin tenaga
kesehatan (pasal 54 ayat 2) yang dibentuk secara resmi melalui keputusan
Presiden (pasal 54 ayat 3).
BAB III

KESIMPULAN

Setelah menjabarkan pembahasan dari masalah makalah ini, maka dapat


disimpulkan bahwa malpraktik adalah kelalaian seseorang dalam merawat atau meng
obati. Dalam malpraktik ada dua istilah yaitu kelalaian dan malpraktik sendiri, tetapi
keduannya tidak sama karena malpraktik sifatnya lebih
spesifik.Dalam menangani kasus malpraktik, hukum di Indonesia menggunakan huk
um substantive yaitu hukum pidana, hukum perdata dan hukum administrasi dalam
kasusmaulanadalah salah satu koban malpraktik.Dia seorang bayi sehat yang mendap
at imunisasi tigasekaligus.Setelah imunisasi maulana mengalami penurunan kesehatan
yangakhirnyamembuatmaulana lumpuh.orang tua maulana menggugat tetapi gagal.
Dari kasus ini belum ada penyelesaian ataupun ganti rugi dari pihak kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ameln, F., 1991, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya,


Jakarta.
2. Mariyanti, Ninik, 1988, Malpraktek Kedokteran, Bina Aksara, Jakarta.
3. Chandra, M. 2010. Kasus Malpraktik. Bali: Universitas Udayana.