Anda di halaman 1dari 21

Faktor penyebab internal

1. Pemerintahan pada jaman reformasi jauh dari harapan para pemuda, sehingga
membuat mereka kecewa dengan kinerja pemerintah saat ini. Contoh dengan
terkuaknya kasus korupsi

2. Sikapm keluarga yang tidak mencerminkan sifat rasa kesatuan dan kesatuan ,
sehingga para pemuda meniru kan sikap tersebut

3. Demokratisasi yang melewati batasnya etika dan sopan santun dan maraknya
unjuk rasa telah menimbulkan frustasi di kalangan pemuda dan hilangnya
optimism, sehingga tertanam sifat malas, egois, dan emosional

4. Munculnya etnosentrisme yang mengannggap sukunya lebih baik dengan


suku manapun sehingga rasa persatuan tersebut hilang perlahan

Faktor penyebab eksternal

1. Paham liberalism yang dianut Negara- Negara maju yang memberikan


dampak pada kehidupan bangsa . para pemuda meniru paham tersebut seperti
sikap individualism yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan
lingkungan dan makhluk social lainnya

1. Pemecah (Disintegrasi ) Negara

Potensi disintegrasi bangsa di Indonesia sangatlah besar hal ini dapat dilihat dari
banyaknya permasalahan yang kompleks yang terjadi dan apabila tidak dicari solusi
pemecahannya akan berdampak pada meningkatnya eskalasi konflik menjadi upaya
memisahkan diri dari NKRI. Kondisi ini dipengaruhi pula dengan menurunnya rasa
nasionalisme yang ada didalam masyarakat dan dapat berkembang menjadi konflik
yang berkepanjangan yang akhirnya mengarah kepada disintegrasi bangsa, apabila
tidak cepat dilakukan tindakan-tindakan yang bijaksana untuk mencegah dan
menanggulanginya sampai pada akar permasalahannya secara tuntas maka akan
menjadi problem yang berkepanjangan.

Bentuk-bentuk pengumpulan massa yang dapat menciptakan konflik horizontal


maupun konflik vertikal harus dapat diantisipasi guna mendapatkan solusi tepat dan
dapat meredam segala bentuk konflik yang terjadi. Kepemimpinan dari tingkat elit
politik nasional hingga kepemimpinan daerah sangat menentukan untuk
menanggulangi konflik pada skala dini.

Upaya mengatasi disintegrasi bangsa perlu diketahui terlebih dahulu karakteristik


proses terjadinya disintegrasi secara komprehensif serta dapat menentukan faktor-
faktor yang mempengaruhi pada tahap selanjutnya. Keutuhan NKRI merupakan
suatu perwujudan dari kehendak seluruh komponen bangsa diwujudkan secara
optimal dengan mempertimbangkan seluruh faktor-faktor yang berpengaruh secara
terpadu, meliputi upaya-upaya yang dipandang dari aspek asta gatra.

1. Fenomena Disintegrasi Bangsa

Bila dicermati adanya gerakan pemisahan diri sebenarnya sering tidak berangkat dari
idealisme untuk berdiri sendiri akibat dari ketidak puasan yang mendasar dari
perlakuan pemerintah terhadap wilayah atau kelompok minoritas seperti masalah
otonomi daerah, keadilan sosial, keseimbangan pembangunan, pemerataan dan hal-
hal yang sejenis.

Kekhawatiran tentang perpecahan (disintegrasi) bangsa di tanah air dewasa ini yang
dapat digambarkan sebagai penuh konflik dan pertikaian, gelombang reformasi yang
tengah berjalan menimbulkan berbagai kecenderungan dan realitas baru. Segala hal
yang terkait dengan Orde Baru termasuk format politik dan paradigmanya dihujat dan
dibongkar. Bermunculan pula aliansi ideologi dan politik yang ditandai dengan
menjamurnya partai-partai politik baru. Seiring dengan itu lahir sejumlah tuntutan
daerah-daerah diluar Jawa agar mendapatkan otonomi yang lebih luas atau merdeka
yang dengan sendirinya makin menambah problem, manakala diwarnai terjadinya
konflik dan benturan antar etnik dengan segala permasalahannya.

Penyebab timbulnya disintegrasi bangsa juga dapat terjadi karena perlakuan yang
tidak adil dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah khususnya pada daerah-
daerah yang memiliki potensi sumber daya/kekayaan alamnya berlimpah/ berlebih,
sehingga daerah tersebut mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri dengan
tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Selain itu disintegrasi bangsa juga
dipengaruhi oleh perkembangan politik dewasa ini.

Dalam kehidupan politik sangat terasa adanya pengaruh dari statemen politik para elit
maupun pimpinan nasional, yang sering mempengaruhi sendi-sendi kehidupan
bangsa, sebagai akibat masih kentalnya bentuk-bentuk primodialisme sempit dari
kelompok, golongan, kedaerahan bahkan agama. Hal ini menunjukkan bahwa para
elit politik secara sadar maupun tidak sadar telah memprovokasi masyarakat.
Keterbatasan tingkat intelektual sebagian besar masyarakat Indonesia sangat mudah
terpengaruh oleh ucapan-ucapan para elitnya sehingga dengan mudah terpicu untuk
bertindak yang menjurus kearah terjadinya kerusuhan maupun konflik antar
kelompok atau golongan.

1. Faktor Disintegrasi Bangsa ditinjau dari Asta Gatra

Astagatra merupakan gabungan dari aspek trigatra dan pancagatra yang mana antara
keduanya terdapat hubungan yang bersifat timbal-balik dengan hubungan yang erat.

1. Geografi

Indonesia yang terletak pada posisi silang dunia merupakan letak yang sangat
strategis untuk kepentingan lalu lintas perekonomian dunia selain itu juga memiliki
berbagai permasalahan yang sangat rawan terhadap timbulnya disintegrasi bangsa.
Dari ribuan pulau yang dihubungkan oleh laut memiliki karakteristik yang berbeda-
beda dengan kondisi alamnya yang juga sangat berbeda-beda pula menyebabkan
munculnya kerawanan sosial yang disebabkan oleh perbedaan daerah misalnya
daerah yang kaya akan sumber kekayaan alamnya dengan daerah yang kering tidak
memiliki kekayaan alam dimana sumber kehidupan sehari-hari hanya disubsidi dari
pemerintah dan daerah lain atau tergantung dari daerah lain.

2. Demografi

Jumlah penduduk yang besar, penyebaran yang tidak merata, sempitnya lahan
pertanian, kualitas SDM yang rendah berkurangnya lapangan pekerjaan, telah
mengakibatkan semakin tingginya tingkat kemiskinankarena rendahnya tingkat
pendapatan, ditambah lagi mutu pendidikan yang masih rendah yang menyebabkan
sulitnya kemampuan bersaing dan mudah dipengaruhi oleh tokoh elit
politik/intelektual untuk mendukung kepentingan pribadi atau golongan.

3. Kekayaan Alam

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah baik hayati maupun non hayati akan tetap
menjadi daya tarik tersendiri bagi negara Industri, walaupun belum secara
keseluruhan dapat digali dan di kembangkan secara optimal namun potensi ini perlu
didayagunakan dan dipelihara sebaik-baiknya untuk kepentingan pemberdayaan
masyarakat dalam peran sertanya secara berkeadilan guna mendukung kepentingan
perekonomian nasional.

4. Ideologi

Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia dalam penghayatan dan


pengamalannya masih belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai dasar Pancasila,
bahkan saat ini sering diperdebatkan. Ideologi pancasila cenderung tergugah dengan
adanya kelompok-kelompok tertentu yang mengedepankan faham liberal atau
kebebasan tanpa batas, demikian pula faham keagamaan yang bersifat ekstrim baik
kiri maupun kanan.

5. Politik

Berbagai masalah politik yang masih harus dipecahkan bersama oleh bangsa
Indonesia saat ini seperti diberlakukannya Otonomi daerah, sistem multi partai,
pemisahan TNI dengan Polri serta penghapusan dwi fungsi BRI, sampai saat ini
masih menjadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas karena
berbagai masalah pokok inilah yang paling rawan dengan konflik sosial
berkepanjangan yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya disintegrasi bangsa.

6. Ekonomi

Sistem perekonomian Indonesia yang masih mencari bentuk, yang dapat


pemberdayakan sebagian besar potensi sumber daya nasional, serta bentuk-bentuk
kemitraan dan kesejajaran yang diiringi dengan pemberantasan terhadap KKN. Hal
ini dihadapkan dengan krisis moneter yang berkepanjangan, rendahnya tingkat
pendapatan masyarakat dan meningkatnya tingkat pengangguran serta terbatasnya
lahan mata pencaharian yang layak.

7. Sosial Budaya

Kemajemukan bangsa Indonesia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dan dapat
menimbulkan konflik etnis kultural. Arus globalisasi yang mengandung berbagai
nilai dan budaya dapat melahirkan sikap pro dan kontra warga masyarakat yang
terjadi adalah konflik tata nilai. Konflik tata nilai akan membesar bila masing-masing
mempertahankan tata nilainya sendiri tanpa memperhatikan yang lain.

8. Pertahanan dan Keamanan

Bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara yang terjadi saat ini menjadi bersifat
multi dimensional yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, hal ini
seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
informasi dan komunikasi.Serta sarana dan prasarana pendukung didalam
pengamanan bentuk ancaman yang bersifat multi dimensional yang bersumber dari
permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya.

1. Proses Terjadinya Disintegrasi Bangsa


Disintegrasi bangsa dapat terjadi karena adanya konflik vertikal dan horizontal serta
konflik komunal sebagai akibat tuntutan demokrasi yang melampaui batas, sikap
primodialisme bernuansa SARA, konflik antara elite politik, lambatnya pemulihan
ekonomi, lemahnya penegakan hukum dan HAM serta kesiapan pelaksanaan
Otonomi Daerah.

Dari hasil penelitian diatas dapatlah dianalisis dengan menggunakan pisau astra gatra
sebagai berikut :

1. Geografi

Letak Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan kepulauan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Daerah yang berpotensi untuk memisahkan diri adalah daerah
yang paling jauh dari ibu kota, atau daerah yang besar pengaruhnya dari negara
tetangga atau daerah perbatasan, daerah yang mempunyai pengaruh global yang
besar, seperti daerah wisata, atau daerah yang memiliki kakayaan alam yang
berlimpah.

2. Demografi

Pengaruh (perlakuan) pemerintah pusat dan pemerataan atau penyebaran penduduk


yang tidak merata merupakan faktor dari terjadinya disintegrasi bangsa, selain masih
rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan SDM.

3. Kekayaan Alam

Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam dan berlimpah dan penyebarannya
yang tidak merata dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya disintegrasi bangsa,
karena hal ini meliputi hal-hal seperti pengelolaan, pembagian hasil, pembinaan
apabila terjadi kerusakan akibat dari pengelolaan.

4. Ideologi

Akhir-akhir ini agama sering dijadikan pokok masalah didalam terjadinya konflik di
negara ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap agama yang
dianut dan agama lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan bijaksana pada
akhirnya dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan disintegrasi bangsa, oleh sebab
itu perlu adanya penanganan khusus dari para tokoh agama mengenai pendalaman
masalah agama dan komunikasi antar pimpinan umat beragama secara
berkesinambungan.

5. Politik
Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut berbagai
ketidak nyamanan atau ketidak tenangan dalam bermasyarakat dan sering
mengakibatkan konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak
ditangani dengan bijaksana akan menyebabkan konflik sosial di dalam masyarakat.

Selain itu ketidak sesuaian kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang diberlakukan


pada pemerintah daerah juga sering menimbulkan perbedaan kepentingan yang
akhirnya timbul konflik sosial karena dirasa ada ketidak adilan didalam pengelolaan
dan pembagian hasil atau hal-hal lain seperti perasaan pemerintah daerah yang sudah
mampu mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat, konflik
antar partai, kabinet koalisi yang melemahkan ketahanan nasional dan kondisi yang
tidak pasti dan tidak adil akibat ketidak pastian hukum.

6. Ekonomi.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan semakin menyebabkan sebagian besar


penduduk hidup dalam taraf kemiskinan. Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia
yang semakin lebar antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin dan adanya
indikasi untuk mendapatkan kekayaan dengan tidak wajar yaitu melalui KKN.

7. Sosial Budaya.

Pluralitas kondisi sosial budaya bangsa Indonesia merupakan sumber konflik apabila
tidak ditangani dengan bijaksana. Tata nilai yang berlaku di daerah yang satu tidak
selalu sama dengan daerah yang lain. Konflik tata nilai yang sering terjadi saat ini
yakni konflik antara kelompok yang keras dan lebih modern dengan kelompok yang
relatif terbelakang.

8. Pertahanan Keamanan.

Kemungkinan disintegrasi bangsa dilihat dari aspek pertahanan keamanan dapat


terjadi dari seluruh permasalahan aspek asta gatra itu sendiri. Dilain pihak turunnya
wibawa TNI dan Polri akibat kesalahan dimasa lalu dimana TNI dan Polri digunakan
oleh penguasa sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya bukan sebagai alat
pertahanan dan keamanan negara.

1. Kebijakan Penanggulangan Integrasi

Adapun kebijakan yang diperlukan guna memperkukuh upaya integrasi nasional


adalah sebagai berikut :
 Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran dan kehendak
untuk bersatu.

 Menciptakan kondisi yang mendukung komitmen, kesadaran dan kehendak


untuk bersatu dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus.

 Membangun kelembagaan (Pranata) yang berakarkan nilai dan norma yang


menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa.

 Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam
aspek kehidupan dan pembangunan bangsa, yang mencerminkan keadilan
bagi semua pihak, semua wilayah.

 Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan


yang arif dan efektif.

1. Strategi Penanggulangan Disintegrasi

Adapun strategi yang digunakan dalam penanggulangan disintegrasi bangsa antara


lain :

 Menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa
persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat
Indonesia.

 Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primodialisme sempit


pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN.

 Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha


pemecahbelahan dari anasir luar dan kaki tangannya.

 Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi


butir-butir Pancasila, dalam rangka melestarikan dan menanamkan kesetiaan
kepada ideologi bangsa.

 Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.

 Membentuk satuan sukarela yang terdiri dari unsur masyarakat, TNI dan Polri
dalam memerangi separatis.

 Melarang, dengan melengkapi dasar dan aturan hukum setiap usaha untuk
menggunakan kekuatan massa.
1. Upaya Penanggulangan Disintegrasi

Dari hasil analisis diperlukan suatu upaya pembinaan yang efektif dan berhasil,
diperlukan pula tatanan, perangkat dan kebijakan yang tepat guna memperkukuh
integrasi nasional antara lain :

 Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran dan kehendak


untuk bersatu.

 Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun


consensus.

 Membangun kelembagaan (pranata) yang berakarkan nilai dan norma yang


menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa.

 Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam
aspek kehidupan dan pembangunan bangsa yang mencerminkan keadilan bagi
semua pihak, semua wilayah.

 Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan


yang arif dan bijaksana, serta efektif.

1. Bahaya Perpecahan Suatu Negara

Faktor yang dapat menyebabkan perpecahan suatu negara ada dua, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Pertama faktor eksternal yaitu Negara atau kekuatan
diluar Indonesia yang menginginkan kita pecah, karena takut Indonesia akan menjadi
Negara besar. Kedua adalah faktor internal yaitu orang kita sendiri yang tidak
mempunyai rasa cinta tanah air, hanya memikirkan diri dan kelompoknya.

Contoh Negara yang pecah/dipecah sudah ada. Sebagai sebuah negara super power
saja Uni Soviet akhirnya pecah menjadi 15 negara, Yugoslavia yang saat itu
persatuannya mirip Indonesia pecah menjadi 6 negara, Chekoslovakia pecah penjadi
2 negara. Bagaimana Indonesia?. Salah satu sumber perpecahan yang pertama-tama
harus kita waspadai adalah UUD 1945. Sebagai sebuah hukum dasar yang tertulis,
maka semua perundang-undangan mengacu kepada UUD 1945.

Sejak pergerakan arus reformasi, UUD 1945 telah diamandemen sebanyak empat
kali. Dari perubahan tersebut, maka berjalanlah sistem demokrasi seperti yang
dirumuskan oleh para pemrakarsa dan pelaku perubahan sesuai dengan pengetahuan,
keinginan, dan kepentingan masing-masing. Banyak yang menilai hingga kini
pelaksanaan demokrasi banyak kacaunya, rakyat hidup tidak tenang, susah, lebih
banyak protes dan berkelahinya daripada hidup tenang dan berkecukupan. Pembelaan
mudah dikatakan, masih dalam konsolidasi demokrasi.

Ada yang menarik dari hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan
Dewan Perwakilan Daerah. Pemerintah dan DPD menggelar rapat konsultasi tentang
penyempurnaan sistem ketatanegaraan, pemerintahan dan hukum dalam UUD.
Pemerintah mengusulkan akan membentuk panitia atau komisi oleh mereka yang ahli
ketatanegaraan dan pemerintahan, ditunjuk dari mereka tidak terlibat politik praktis.

Kewaspadaan dan tindakan pemerintah ini mungkin merupakan salah satu langkah
yang akan menyelamatkan bangsa Indonesia dari sumber perpecahan. Merupakan
kebutuhan pokok bangsa Indonesia dalam menyediakan pondasi konstitusi yang lebih
kokoh dalam penyelenggaraan Negara. Suatu pondasi yang kokoh dan dengan
pemikiran strategis (jauh kedepan) dalam penyempurnaan UUD 1945.

Hal ini sangat penting, bukan hanya dipikirkan bagaimana Negara ini berjalan dan
diatur dengan sistem demokrasi yang modern, tetapi yang jauh lebih penting
dipikirkan apa kira-kira ekses yang akan muncul. Salah satu contoh seperti kata Ketua
DPD Ginanjar Kartasasmita, melihat pasal 18 UUD 1945, kesalahan kita adalah cara
kita menjalankan sistem, bukan demokrasinya yang salah. Kerawanan-kerawanan
seperti itulah yang harus dipikirkan benar apabila akan dilakukan perubahan UUD
1945. Kita tidak bisa melakukan perubahan sebuah dasar Negara dengan adanya
sedikitpun perasaan emosional.

Ancaman dari luar terhadap bangsa dan Negara Indonesia kini bukanlah serangan
bersenjata atau kekuatan militer lagi. Serangan ditujukan secara perlahan, profesional,
wajar tetapi langsung menyerang intinya yaitu cara berfikir dan alam bawah sadar
para pelaku dan elit negeri ini. Kalau dahulu yang menjadi sasaran mereka dan di
“counter” pemerintah orde baru adalah SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Kini digeser targetnya kemasalah politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Dibidang politik, dimasukkan ide-ide pemikiran demokrasi modern. Negara Barat


selalu berusaha mempengaruhi, agar Negara non barat menggunakan sistem mereka
yaitu demokrasi modern/demokrasi liberal. Dimunculkan ide keinginan mengubah
NKRI menjadi sebuah Negara Federal pada tahun 2000, otonomi daerah, perubahan
UUD 1945, penggeseran peran Pancasila sebagai falsafah Negara, dilakukannya
pilkada langsung.

Dibidang ekonomi, perekonomian rakyat dibuat menjadi semakin sulit, belum


selesainya penanganan kasus-kasus korupsi besar seperti BLBI, munculnya fanatisme
kedaerahan yang besar dari hasil penerapan otonomi daerah. Dalam bidang sosial
budaya, dihembuskannya ruang kebebasan dan kedaulatan rakyat dalam
berdemokrasi dan memperjuangkan hak asasinya, mempengaruhi budaya hilangnya
rasa saling menghormati, tidak menghormati yang lebih tua dan pemimpin, bahkan
pimpinan nasional.

Dan jangan dilupakan kebebasan pers yang bebas sekali juga mempunyai pengaruh
besar dalam masalah ini. Kebebasan adalah suatu kenikmatan, setiap orang kalau
boleh ingin bebas, berbuat apa saja. Tapi kalau bebas yang bisa menghancurkan untuk
apa?. Kalau kita amati, pelajari dan renungkan apa yang terjadi sekarang ini
sebenarnya adalah sebuah design khusus. Sesuatu yang diciptakan khusus untuk
rakyat Indonesia dan para elit oleh suatu konspirasi global yang bersembunyi dalam
kegiatan operasi tertutup.

Rangkaian serupa juga terjadi saat terjadinya serangan bom bunuh diri yang kadang
kita tidak mengerti kenapa tiba-tiba ada bom bunuh diri disini?. Dua aktor utamanya
yang orang asing tetap misterius, kita tidak tahu siapa “principle agent” nya. Kita
sedang dijadikan target sebuah operasi penggalangan, dengan tujuan akhir
melemahkan dan memecah Indonesia. Walaupun tidak sampai dijadikan sebuah
Negara gagal, kita tetap akan dipecah.

Dimulai dengan perpecahan kecil, perbedaan pendapat yang akan terus dibesarkan,
arus kebebasan yang dijuruskan kepada tindakan anarkhis, diturunkannya
kewibawaan pemerintah, munculnya kesulitan yang akan terus mendera rakyat.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah sulit bergerak, karena sudah dikunci kekuasaan
dan kewenangannya oleh sebuah sistem.

Pimpinan, aparat dan abdi pemerintah banyak yang gamang dalam mengambil
keputusan, takut salah dan takut tidak popular. Itulah sedikit gambaran bahaya yang
dihadapi bangsa Indonesia dalam menapak kedepan. Kalau kita tidak hati-hati dan
menyadari ancaman dan bahaya yang tertuju pada bangsa ini, maka pada masa
transisi satu dua pemilu kedepan kita akan dapat pecah.

Kita jangan terbuai dengan yang namanya kebebasan. Bukan tidak mungkin akan
terjadi seperti kasus pilkada sulawesi selatan yang berakhir dilapangan, dipengadilan
dan Mahkamah Agung pada pemilihan Presiden 2009. Apabila terjadi stuck,
kemudian masuk di Mahkamah Agung, bisa-bisa terjadi seperti kasus pemilu di
Kenya yang menelan korban 800 lebih. Reformasi dan demokrasi kita akan
tercederai, terus siapa yang akan ditunjuk sebagai PJS Presiden?.

Masa transisi yang baru berjalan 10 tahun dipandang belum cukup aman bagi bangsa
kita untuk selamat menapak kedepan. Mayoritas pendidikan rakyat kita masih sangat
rendah. Oleh karena itu para elit diharapkan berbuat yang terbaik untuk bangsa ini,
terlebih bagi mereka yang masih memegang amanah.
Faktor penyebab konflik sosial

Perbedaan Antar Individu


pixabay.com

Manusia sebagai makhluk individu memiliki karakter yang khas berdasarkan corak
kepribadiannya. Setiap individu mampu berkembang dengan sendirinya sejalan
dengan ciri-ciri khasnya, walaupun berada di dalam lingkungan yang sama.

Ketika interaksi berlangsung, individu akan mengalami proses adaptasi serta


pertentangan dengan individu yang lain. Apabila terdapat ketidaksesuaian maka akan
terjadi konflik.

Perbedaan Kebudayaan
.

pixabay.com

Faktor berikutnya yaitu adanya perbedaan kebudayaan. Seringkali kebudayaan


dianggap sebagai sebuah ideologi, sehingga dapat memicu terjadinya konflik.
Anggapan kebudayaan yang berlebihan oleh sebuah kelompok maka akan
menempatkan kebudayaan menjadi sebuah tingkatan sosial.

Sehingga kebudayaan yang dimiliki akan dianggap lebih tinggi dibandingkan


kebudayaan lain. Dalam catatan sejarah umat manusia konsep suku serta
kebudayaannya telah memainkan peranan yang sangat penting dalam percaturan
masyarakat.

Perbedaan Kepentingan
pixabay.com

Proses pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan batiniah serta
lahiriah untuk membentuk dirinya, hal itulah yang menyebabkan terjadi hubungan
timbal balik sehingga manusia dikatakan sebagai mahluk sosial.
Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda – beda dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, perbedaaan kebutuhan tersebut dapat berubah menjadi kepentingan yang
berbeda – beda pula.

Perubahan Sosial
blog.unnes.ac.id

Kecenderungan terjadinya perubahan sosial adalah gejala yang wajar sebagai akibat
dari terjadinya interelasi sosial dalam pergaulan hidup antar manusia. Hal tersebut
juga bisa terjadi karena adanya perubahan-perubahan di dalam unsur-unsur yang
berfungsi mempertahankan keseimbangan masyarakat.

Pada masyarakat yang tidak dapat menerima perubahan sosial dapat menimbulkan
konflik sebagai proses pertentangan nilai serta norma yang tidak sesuai dengan nilai
dan norma yang dianut oleh masyarakat.

BENTUK-BENTUK KONFLIK

Secara umum, konflik sosial sendiri merupakan definisi dari proses sosial yang terjadi
saat satu pihak sedang berusaha untuk menyingkirkan pihak lainnya, entah dengan
cara menghancurkan ataupun membuat lawan menjadi tidak berdaya. Sebuah konflik
dapat muncul dikarenakan adanya perbedaan budaya, rasa, kepentingan individu,
kelompok, ataupun perubahan sosial yang begitu cepat sehingga menimbulkan
adanya disorganisasi sosial. Karena adanya perbedaan-perbedaan ini lah yang
akhirnya sulit untuk menemukan sebuah kesamaan ataupun untuk didamaikan.
Konflik sosial sendiri terdiri dari beberapa bentuk, berikut ini penjelasan lebih lanjut
mengenai bentuk-bentuk konflik sosial dan contohnya dalam masyarakat. (baca
juga: Penegrtian Piramida Penduduk)

ads

 Bentuk Konflik Sosial Secara Umum

Secara umum, bentuk konflik sosial terdiri dari 6 bentuk, mulai dari konflik pribadi,
antar kelas, politik, rasial, internasional, serta antar suku bangsa. Nah berikut ini
penjelasan lebih lanjut.

1. Konflik Pribadi

Konflik ini terjadi dikarenakan ada dua individu yang mana sedang mengalami
sebuah masalah pribadi dan saling tidak ingin menyadari kesalahan masing-masing.
Masalah ini lah yang menjadi dasar dari konflik yang terjadi. Tak jarang, konflik
pribadi ini terjadi diantara dua orang yang baru saja berkenalan, meskipun
kebanyakan terjadi pada orang-orang yang sudah lama berkenalan.Dalam konflik
pribadi, biasanya masing-masing orang akan berusaha untuk mengalahkan lawannya.
Contoh nya dalam kehidupan sehari-hari adalah perselisihan paham, tawuran pelajar,
dan lainnya. (baca juga: Sejarah Perkembangan Sosiologi)

2. Konflik Antar Kelas

Konflik yang mana terjadi antar kelompok ataupun individu yang memiliki masalah
dengan individu lainnya yang berada di kelompok (kelas) lainnya. Yang dimaksud
kelas disini dapat diartikan sebagai kedudukan seseorang ataupun kelompok di dalam
lingkungan masyarakat secara vertikal (kelas atas atau kelas bawah). Contoh yang
sering terjadi misalnya saja ketika buruh mengadakan unjuk rasa kepada pimpinan
perusahaan untuk bisa menaikkan gaji. Yang mana buruh disini dapat diartikan kelas
bawah sedangkan pimpinan perusahaan merupakan kelas atas. (baca
juga: Kenampakan Alam)

3. Konflik Politik

Konflik sosial yang mana terjadi pada 2 kelompok atau individu yang satu sama
lainnya memiliki perbedaan serta pandangan berbeda mengenai prinsip dari masalah
ketatanegaraan yang akhirnya berdampak pada perselisihan pandangan. Masalah
politik sendiri memang menjadi masalah yang cukup mudah untuk memicu terjadinya
ketidaknyamanan serta ketidaktenangan di dalam lingkungan masyarakat. Konflik
politik ini bisa mengaitkan beberapa golongan-golongan tertentu dalam masyarakat
hingga negara. Contoh konflik politik misalnya terjadi perselisihan antara partai
politik dengan partai politik lainnya saat merumuskan undang-undang. (baca
juga: Peran Indonesia di Era Globalisasi)

4. Konflik Rasial

Konflik rasial merupakan konflik yang terjadi diantara kelompok ras yang berbeda
dikarenakan adanya kepentingan serta kebudayaan yang bertabrakan satu sama
lainnya. Konflik rasial ini memang sudah berlangsung bahkan masuk ke dalam
sejarah kehidupan manusia. Konflik ini biasanya terjadi dikarenakan salah satu ras
yang merasa lebih unggul dibandingkan dengan ras lainnya. Salah satu contoh yang
cukup populer dari konflik rasial ini adalah yang terjadi di Afrika Selatan, yaitu
Politik Apartheid. Konflik ini terjadi pada ras kulit putih yang merupakan penguasan
dengan ras kulit hitam yang menjadi golongan mayoritas yang ingin dikuasai. (baca
juga: Pengertian Masyarakat Multikultural)
5. Konflik Internasional

Konflik internasional merupakan konflik yang terjadi dengan melibatkan beberapa


kelompok negara dikarenakan adanya perbedaan kepentingan di dalamnya. Banyak
sekali kasus konflik internasional yang terjadi berawal dari konflik dua negara yang
mana dikarenakan adanya masalah ekonomi dan politik. Lambat laun, konflik yang
terjadi diantara kedua negara ini berkembang dan menjadi konflik internasional. Hal
ini dikarenakan masing-masing negara mencari kawan (sekutu) yang memiliki visi
serta tujuan yang sama mengenai masalah yang sedang terjadi. Sehingga hal ini lah
yang menyebabkan konflik ini menjadi konflik internasional. Contoh dari konflik
internasional misalnya saja pada Negara Indonesia dan Malaysia yang
memperebutkan perbatasn wilayah diantara kedua negara. (baca juga: Peninggalan
Sejarah Hindu Budha)

6. Konflik Antar Suku Bangsa

Konflik yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan di dalam kehidupan masyarakat,


antara suku bangsa yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang dimaksud adalah
mulai dari abhasa daerah, adat istiadat, kesenian daerah, seni bangunan rumah, serta
tata susunan kekerabatan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan-perbedaan
tersebut terjadi, antara lain adalah:

 Wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau

 Latar Belakang dari sejarah yang berbeda

 Ketidaksamaan kondisi geografis

 Lingkungan hukum adat serta garis kekerabatan yang beda.

Contohnya saja, adat pernikahan suku Jawa dengan Suku Minang yang berbeda satu
sama lainnya. Sehingga ketika dua orang yang berasal dari suku yang berbeda
menikah, tentu saja terkadang terjadi perdebatan mengenai adat yang akan digunakan.
(baca juga: Kondisi Penduduk Indonesia)

7. Konflik Antar Agama

Bentuk-bentuk konflik sosial antara agama ini merupakan konflik yang terjadi pada
pemeluk agama satu sama lainnya. Seperti yang anda ketahui sendiri, Indonesia
memiliki beberapa agama yang dianut oleh masyarakat. Sehingga tak heran jika
konflik ini dapat terjadi di Indonesia. Perbedaan agama ini nantinya dapat membawa
perbedaan ke dalam kehidupan sehari harinya. Contohnya saja cara berpakaian, cara
bersosialisasi, corak kesenian, penerapan hukum warisan, dan lainnya.

Perbedaan-perbedaan tersebut jika dibawa menjadi sebuah masalah tentu saja akan
menimbulkan konflik diantara pemeluk agama satu sama lainnya. Yang awalnya
merupakan masalah kecil, namun jika dibiarkan akan menjadi besar tergantung dari
situasi serta kondisi yang sedang terjadi masing-masing. (baca juga: Jenis Jenis
Manusia Purba)

 Bentuk Konflik Sosial Berdasar Sifat

Sponsors Link

Jika didasarkan pada sifat, maka konflik sosial terbagi menjadi dua yaitu konflik
konstruktif dan destruktif. Berikut ini penjelasannya,

1. Konflik Konstruktif

Konflik yang memiliki sifat fungsional yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan
pemahaman dari individu ataupun kelompok saat menghadapi sebuah permasalahan
yang terjadi. Konflik konstruktif ini nantinya dapat menimbulkan konsensus dari
berbagai pemahaman serta mencitakan sebuah perbaikan. Sehingga konflik ini
nantinya akan memberikan nilai positif pada pengembangan organisasi atau
komunitas. Misalnya saja, di dalam sebuah organisasi atau komunitas akan terjadi
perbedaan pemahaman diantara anggota satu sama lainnya. (baca juga: Kondisi
Penduduk Indonesia)

2. Konflik Destruktif

Konflik destruktif merupakan konflik yang terjadi dikarenakan adanya perasaan yang
kurang senang, benci, bahkan dendam dari indvidu atau kelompok kepada pihak-
pihak lainnya. Berbeda dari bentuk konflik sebelumnya, konflik destruktif
menciptakan bentrokan-bentrokan fisik yang membuat hilangnya harta benda hingga
nyawa orang lain. Misalnya saja seperti bentrok yang terjadi di Sambas, Ambon,
Kupang, dan lainnya. (baca juga: Ciri-Ciri Pranata Sosial)

 Bentuk Konflik Sosial Berdasar Posisi Pelaku Yang Terkait Konflik

Berdaasr dari posisi pelaku yang melakukan atau terkait dengan konflik, maka
konflik sosial dibagi menjadi 3 bentuk yaitu konflik vertikal, horizontal, dan
diagonal. Berikut ini penjelasannya.
1. Konflik Vertikal

Yang dimaksud dengan konflik vertikal disini adalah konflik yang terjadi di antara
komponen masyarakat yang berada di dalam sebuah pimpinan dengan karyawan yang
ada di dalam kantor. Konflik ini terjadi dikarenakan adanya jabatan yang tidak sama.
Contoh nya saja karyawan yang berdebat dengan atasan/kepala mengenai sebuah
permasalah di kantor. (baca juga: Perkembangan Awal Politik Pada Awal
Kemerdekaan)

2. Konflik Horizontal

Konflik horizontal merupakan konflik yang mana terjadi diantara individu ataupun
kelompok yang memiliki kedudukan yang hampir atau bahkan sama. Contoh konflik
horizontal ini biasanya konflik yang terjadi pada anggota-anggota di dalam sebuah
organisasi. (baca juga: Peran Dunia Internasional Dalam Konflik Indonesia Belanda)

3. Konflik Diagonal

Konflik diagonal merupakan konflik yang muncul dikarenakan adanya pengalokasian


sumber daya yang tidak adil kepada seluruh organisasi yang mana akhirnya
menyebabkan terjadinya pertentangan yang cukup ekstrim. Contoh konflik diagonal
misalnya saja konflik GAM yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam. (baca
juga: Faktor Perubahan Sosial)

 Bentuk Konflik Sosial Berdasar Sifat Pelaku Yang Berkaitan Dengan


Konflik

ads

Bentuk konflik sosial yang berdasar pada sifat belaku yang ikut dan berkaitan dengan
konflik dibedakan menjadi dua bentuk yaitu konflik terbuka dan tertutup. Berikut ini
penjelasannya.

1. Konflik Terbuka

Konflik terbuka merupakan konflik yang kejadiannya diketahui oleh banyak pihak
bahkan masyarakat umum. Contoh dari konflik terbuka ini adalah konflik yang
sedang terjadi pada Negara Israel dan Palestina. (baca juga: Pembagian Wilayah
Waktu Di Indonesia)

2. Konflik Tertutup
Konflik tertutup merupakan konflik yang terjadi dan hanya diketahui oleh beberapa
pihak saja, yaitu individu atau kelompok yang terlibat dalam konflik tersebut.
Contohnya saja konflik yang terjadi di dalam keluarga, tentu saja pihak lain di luar
keluarga tersebut tidak mengetahui hal tersebut. (baca juga: Jenis-Jenis Akomodasi)

Baca juga:

 Contoh Negara Maju

 Peninggalan Zaman Logam

 Hambatan Perdagangan Internasional

 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Bentuk Konflik Sosial Berdasar Dengan Bentuk

Berdasarkan dari bentuk, konflik sosial terdiri menjadi beberapa bentuk yaitu konflik
realistis dan konflik non realistis. Berikut ini penjelasannya,

1. Konflik Realistis

Merupakan konflik yang terjadi dikarenakan adanya rasa kekecewaan dari individu
atau kelompok mengenai perkiraan tentang keuntungan ataupun tuntutan yang ada di
dalam sebuah lingkungan sosial. Contoh dari konflik realistis ini misalnya saja
karyawan yang melakukan mogok bersama dikarenakan adanya ketidaksetujuan
dengan pihak perusahaan mengenai sebuah kebijakan tertentu. (baca
juga: Disintegrasi Sosial)

2. Konflik Nonrealistis

Merupakan konflik yang mana tidak disebbakan karena adanya tujuan-tujuan saingan
yang saling bertentangan, namun didasarkan pada sebuah kebutuhan yang digunakan
untuk meredakan ketegangan, setidaknya dari salah satu pihak yang berkaitan.
Contoh dari konflik non realistis ini adalah penggunaan jasa ilmu-ilmu gaib yang
digunakan untuk membalasa dendam terhadap perilaku orang lain terhadap kita. (baca
juga: Cara Mengatasi Masalah Persebaran Penduduk)

 Bentuk Konflik Sosial Berdasar Pendapat Ralf Dahrendorf


Menurut pendapat Ralf Dahrendorf, konflik sosial terbagi menjadi 4 bentuk yaitu
antara lain konflik peran, antara kelompok sosial, kelompok yang terorganisis dan
tidak, serta antara satuan nasional. Berikut ini penjelasannya.

1. Konflik Peran, konflik yang terjadi di dalam sebuah peranan sosial. Konflik
peran ini merupakan kondisi dimana seseorang menghadapi berbagai harapan
berbeda dengan peranan yang dimilikinya.

2. Konflik antara kelompok sosial

3. Konflik antara kelompok yang sudah tergorganisis dengan kelompok yang


tidak terorganisi

4. Konflik antara satuan nasional, misalnya saja antara partai politik, antara
negara, antar organisasi internasional, dan lainnya. (baca juga: Perkembangan
Wilayah Indonesia)

Dampak Dari Konflik Sosial

Tentu saja setiap konflik sosial yang terjadi memiliki dampak tersendiri di lingkungan
sosial, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif dari konflik
sosial, sebagai berikut:

 Adanya penyesuaian kembali nilai serta norma-norma yang ada di dalam


hubungan sosial di dalam individu ataupun kelompok yang bersangkutan.

 Ada yang memperjelas mengenai aspek-aspek kehidupan yang mana masih


belum jelas ataupun belum tuntas untuk dipelajari.

 Mengurangi serta menekan adanya pertentangan di dalam masyarakat.

 Mengurangi ketegangan yang bisa terjadi antar individu dan antar kelompok.

 Membantu dalam menghidupkan kembali norma-norma lama serta


menciptakan norma yang baru. (baca juga: Perbedaan Kolonialisme dan
Imperialisme Barat)

 Meningkatkan solidaritas di dalam kelompok yang sedang mengalami konflik


dengan pihak lainnya.

Dampak negatif dari konflik sosial, sebagai berikut:


Sponsors Link

 Keretakan hubungan di dalam masyarakat, seperti antar anggota kelompok,


antar suku, dan lainnya.

 Perubahan kepribadian pada diri individu, misalnya saja timbul rasa benci,
dendam, dan curiga dikarenakan terjadinya perang sebelumnya.

 Kerusakan harta benda bahkan hingga hilangnya nyawa seseorang.

 Adanya dominasi dan penaklukan, yang mana terjadi pada pihak yang terlibat
di dalam konflik tersebut. (baca juga: Macam-Macam Kebutuhan Manusia)

Meskipun begitu, konflik sosial harus segera diatasi, jika tidak maka tentu saja akan
membuat masalah semakin membesar. Sehingga dibutuhkan upaya untuk mencegah
kondisi semakin memburuk diakibatkan konflik sosial. Upaya-upaya tersebut dapat
berupa perundingan, seperti:

 Sikap toleransi, yaitu sikap saling menghargai satu sama lainnya,


menghormati dan memahami keyakinan, pendirian, serta keberadaan dari
pihak lain.

 Kompromi, dimana kedua pihak yang bersangkutan sepakat untuk saling


mengalah satu sama lainnya bahkan saling memberi serta menerima.

 Konfersi, sikap yang mana bersedia untuk menerima pendirian serta


keberadaan dari pihak lain. (baca juga: Ciri-Ciri Manusia Sebagai Makhluk
Ekonomi)

 Mediasi, merupakan proses perundingan dengan melibatkan pihak ketiga


sebagai pihak netral. (baca juga: Permasalahan Lingkungan Hidup)

 Konsiliasi, upaya yang dilakukan dengan tujuan agar dapat mencapai


kesepakatan bersama di antara kedua pihak yang berkonflik melalui adanya
pihak ketiga.

 Arbitrasi, kedua pihak yang sedang mengalami sebuah konflik memiliki pihak
ketiga untuk mengupayakan penyelesaian konflik. (baca juga: Syarat
Terjadinya Interaksi Sosial)

 Ajudikasi, konflik yang ada di selesaikan melalui jalur pengadilan.


 Genjatan senjata, merupakan upaya penghentian konflik perperangan yang
sudah terjadi dalam jangka wkatu yang lama sambil mencari jalan untuk
berdamai.

Di Indonesia sendiri, tak hanya melalui perundingan saja, konflik dapat diselesaikan
melalui penguatan dari peran lembaga pengendalian sosial. Hal ini agar tercipta
keadilan di dalam masyarakat serta mencegah resiko dari ketidakadilan di dalam
masyarakat.

Menurut George Simmel, sebuah konflik dapat dikatakan berakhir jika terjadi hal-hal
berikut:

 Kemenangan dari salah satu pihak yang berkaitan dengan konflik.

 Adanya kompromi yang dilakukan pihak-pihak yang bersangkutan dengan


konflik.

 Rekonsiliasi

 Kedua pihak yang bersangkutan sepakat untuk mengakhiri konflik yang


sedang terjadi.

 Kedua pihak saling memaafkan satu sama lainnya. (baca juga: Faktor
Penghambat Perubahan Sosial Budaya)

Nah itu tadi bentuk-bentuk konflik sosial yang ada dengan contoh-contohnya yang
sering terjadi di lingkungan sosial. Tentunya konflik-konflik sosial yang ada memiliki
solusi tersendiri untuk mengatasinya. Jika segera tidak diatasi tentu saja akan
menyebabkan permasalahan yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Semoga
informasi diatas dapat bermanfaat untuk anda.

Dampak Konflik Sosial Positif dan Negatif


Dampak Positif Konflik Sosial

 Dapat menciptakan integrasi yang harmonis

 Memperkuat identitas pihak yang berkonflik

 Menciptakan kelompok baru


 Membuka wawasan

 Memperjelas berbagai aspek kehidupan yang belum tuntas

 Meningkatkan solidaritas antara anggota kelompok

 Mengurangi rasa ketergantungan individu atau kelompok

 Memunculkan kompromi baru

Dampak Negatif Konflik Sosial

 Rusaknya fasilitas umum

 Terjadi perubahan kepribadian

 Menyebabkan domnasi kelompok pemenang

 Menimbulkan keretakan hubungan antara individu dan kelompok

 Menyebabkan rusaknya berbagai harta benda dan jatuhnya korban jiwa