Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

TINEA KORPORIS

PEMBIMBING:

dr. Riona K Damanik

DISUSUN OLEH:

Dr. Muhammad Sakban .S

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP INDONESIA

PUSKESMAS TIGA DOLOK

TAHUN 2018 -2019

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul
“TINEA KORPORIS”

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan
Program Dokter Internship
Puskemas Tiga Dolok

Disusun oleh :

dr.Muhammad Sakban S.

Pendamping

dr.Riona K. Damanik

misalnya stratum korneum pada epidermis. ada beberapa tinea yang masih dikenal. dan ditunjang dengan pemeriksaan penunjang seperti KOH dan lampu wood. rambut dan kuku.3 Trichophyton rubrum adalah jenis dermatofita tersering yang menyebabkan tinea korporis.2. sekitar anus. Bentuk istilah tersebut dapat dianggap sebagai sinonim tinea korporis. trichophyton. yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Pemeriksaan penunjang dapat . Tinea unguium : dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki 6. telapak tangan dan telapak kaki. Gambaran klinis berupa eritema berbatas tegas dengan konfigurasi anular atau polisiklik.1 LATAR BELAKANG Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk. Bisa mengenai semua umur. yaitu1 : 1. Tinea korporis : dermatofitosis pada bagian lain selain bentuk diatas Adapun selain bentuk diatas. Tinea pedis et manum : dermatofitosis pada kaki dan tangan 5. yang terbagi dalam 3 genus yaitu : microsporum. Tinea Kruris : dermatofitosis pada daerah genitokrural. pemeriksaan fisik melalui inspeksi. tinea favosa. yaitu tinea imbrikata. lipatan paha. serta bagian tepi yang lebih aktif. misalnya kulit kecuali pada kulit kepala. tapi prevalensi cenderung tinggi pada remaja muda. dan epidermophyton. bokong.3 Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis yang cermat. tinea fasialis. Penyakit ini umumnya ditemukan pada daerah tropis bersuhu hangat dan lembab. namun pembagian yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit adalah yang berdasarkan lokasi.2 Pada umumnya pasien mengeluhkan gatal dan timbul bercak kemerahan. Tinea Barbae : dermatofitosis pada dagu dan jenggot 3. dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah 4. Golongan jamur ini mempunyai sifat mencerna keratin. tinea sirsinata. BAB I PENDAHULUAN 1. Tinea Kapitis : dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala 2.1 Ada beberapa klasifikasi yang dibuat untuk membagi dermatofitosis. Namun pada beberapa kasus pasien bisa dengan tanpa keluhan.1 Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superficial yang menyerang kulit halus (glabrous skin).

Pemeriksaan secara mikroskopis dengan KOH 10-20% memperlihatkan hifa yang pendek-pendek dan spora yang bergerombol seperti buah anggur. Pengobatan dapat dilakukan secara topikal dan sistemik.1. Prognosis umumnya baik. dan pasien harus dibekali dengan pendidikan untuk mencegah terjadinya infeksi berulang. selain itu dapat pula terjadi dermatitis kontak sekunder.dilakukan dengan lampu woods yang bila disinari akan menampakkan flouresensi berwarna kuning keemasan pada lesi yang bersisik tersebut. Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam menjaga kebersihan diri dan pengetahuan akan penyakit ini menarik perhatian penulis untuk menulis laporan kasus ini.3 Komplikasi yang dapat terjadi adalah infeksi berulang.2. . Dan juga bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis dan rekan kerja di puskesmas tiga dolok dalam pengetahuan di bidang Kulit dan Kelamit terutama penyakit Tinea Corporis ini. yang dapat terjadi bila pasien tidak menggunakan obat dengan baik dan tidak menjaga higienitas.

3. Dan karena hewan peliharaan merupakan salah satu sumber infeksi. Frekuensi pada pria dan wanita sama besarnya dan dapat mengenai semua umur. trichophyton verrucosum. dimana infeksi melalui kontak manusia adalah rute tersering. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Tinea korporis sering ditemukan pada daerah tropis dan daerah yang beriklim lembab. Dermatofita bisa ditularkan melalui manusia.2 Masa inkubasinya adalah sekitar 1-3 minggu.2 Selain itu golongan lain yang dapat menyebabkan tinea korporis adalah : T tonsurans. dimana dermatofita menginvasi daerah sekitarnya dengan pola sentrifugal (menjauhi pusat).2 Sinonim Tinea sirsinata. pada tepi yang . telapak tangan dan telapak kaki. dan umumnya tidak menembus lebih dalam karena mekanisme pertahanan tubuh nonspesifik yang melibatkan faktor inhibisi serum. tricophyton mentagrophytes. Scherenede Flechte. anak-anak juga sering menderita tinea korporis. Jamur melepaskan enzim keratinase untuk menembus stratum korneum.4 Patofisiologi Dermatofita umumnya menyukai menghuni pada lapisan kulit yang mengandung keratin.2 2.1.3 2. 2. dan kontak dengan tanah. kurap. misalnya kulit kecuali pada kulit kepala.2. Secara internasional penyebab tersering adalah T rubrum.1 Definisi Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superficial yang menyerang kulit halus (glabrous skin). dan kuku dimana merupakan lingkungan yang lembab yang kondusif untuk jamur berproliferasi. lipatan paha. hewan peliharaan. 6 Microsporum canis dan Microsporum gypseum. ringworm of the body. rambut. Sebagai respon dari infeksi. komplemen.5 trichophyton interdigitale. tinea glabrosa. dan PMN lekosit. namun lebih tinggi pada remaja muda.3 Etiologi dan Epidemiologi Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai macam dermatofita.

Eliminasi dermatofita dilakukan melalui cell-mediated immunity. . setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah. Trichophyton rubrum adalah jenis dermatofita yang tersering menyebabkan tinea korporis. karena tinea korporis dapat juga ditularkan melalui hewan peliharaan. juga di pulau Jawa.aktif meningkatkan proliferasi sel epidermis yang menghasilkan skwama. sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. akan terasa jelas skuama yang menghadap ke dalam. Penyakit ini terdapat di berbagai daerah tertentu di Indonesia. Sebagai akibat proses peradangan dapat timbul skwama. dengan batas tegas dan konfigurasi anular karena resolusi sentral. Irian barat. yang perlahan-lahan menjadi besar.1 Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat. misalnya Kalimantan. dan ada juga penderita dengan tanpa keluhan. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir polisiklik.2 2. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata. yang menghambat cell-mediated immunity. yang disebut tinea corporis purpura. lebih sering dilihat pada anak- anak daripada orang dewasa karena umumnya mereka mendapatkan infeksi baru pertama kali. Penderita umumnya mengeluh gatal. Dermatofita ini resisten terhadap eradikasi karena dinding selnya mengandung barier penghambat. dan terkadang bisa mengeluh merasakan seperti terbakar. Pada pasien yang terinfeksi HIV atau pasien dengan imunocompromised biasanya timbul abses atau infeksi kulit yang luas.1. Selain itu perlu juga digali tentang pekerjaan atau kegiatan yang mungkin merupakan faktor risiko penularan tinea korporis. Pada kasus yang jarang dapat timbul makula purpura. Adapun selain keluhan. vesikel atau bahkan bula.1. yang dapat dengan cepat membesar dan meluas. Proses ini. papula. Sulawesi.5 Gambaran Klinis Awalnya tampak lesi eritema. hal-hal penting yang perlu digali adalah mengenai riwayat kontak dengan penderita ataupun dengan hewan peliharaan.Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar.3Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan lain. Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh trichophyton concentricum disebut tinea imbrikata. krusta. Bila dengan jari tangan kita meraba dari bagian tengah ke arah luar. menghambat proliferasi keratin dan meningkatkan resistensi organism pada pertahanan kulit alamiah. karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu.1 Penderita yang terinfeksi memiliki variasi gejala klinis. Ini menciptakan pertahanan partial dengan cara menghilangkan kulit yang terinfeksi dan membiarkan kulit yang sehat dari tengah menuju lesi.2.

yang menyerang rambut. yang terjadi pada pegulat. Tinea korporis gladiatorum adalah infeksi dermatofita yang ditularkan melalui kontak langsung dari kulit ke kulit. folikel rambut dan sekitar dermis. serta melibatkan reaksi granulomatosa. Pada permulaan infeksi penderita dapat merasa sangat gatal. Tinea incognito merupakan penyakit dengan gejala tidak khas karena dipengaruhi pengobatan kortikosteroid.Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan lingkaran- lingkaran di sebelahnya sehingga membentuk pinggir yang polisiklik. akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Gambaran klinis tinea korporis . Penyakit ini umumnya terjadi pada wanita yang mencukur bulu kaki. Granuloma majocchi. merupakan bentuk lain dari tinea korporis yang lebih berat.

Gambaran klinis dan predileksi tinea korporis 2. Bahan-bahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian kulit yang mengalami lesi.6 Pemeriksaan Penunjang a. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan KOH 10% yang diberi tinta Parker biru hitam atau biru laktofenol. dipanaskan sebentar. ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa di bawah mikroskop. . Bila penyebabnya memang jamur. Sebelumnya kulit dibersihkan. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10-20%. maka kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan jarak-jarak tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat yang dikenal dengan hifa. lalu dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempeng-lempeng steril pula atau ditempel pada selotip.

Yang membedakan dengan tinea korporis adalah herald patch. eritema dan berbatas tegas. dan terdapat penyembuhan di bagian tengah 2. Diagnosis banding dari tinea korporis adalah : 1. Pitiriasis rosea : distribusi kelainan kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan. Diagnosis diperkuat dengan pemeriksaan kerokan kulit dari daerah lesi dengan larutan KOH 10-20%. 4. Koloni yang tumbuh berbentuk soliter. Pemeriksaan dengan sinar wood Dapat memberikan perubahan warna pada seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. misalnya di kulit kepala (scalp). 2. Daerah yang terkena infeksi akan memperlihatkan fluoresensi warna kuning keemasan sampai orange. Kulit kepala berambut juga sering terkena penyakit ini. bulat mengkilap dan lama kelamaan akan kering dan dibawah mikroskop terlihat yeast cell bentuk oval dengan hifa pendek. yaitu : 1. Dermatitis seboroik : Kelainan kulit menyerupai tinea korporis. Pemeriksaan dengan lampu woods 3. Dermatitis Numular : berbeda predileksinya. Dibawah mikroskop terlihat hifa – hifa pendek dengan spora panjang seperti bambu. siku dan punggung. b. sedikit meninggi. dan sebagainya. Bila terdapat vesikel. yaitu daerah ekstensor. dan daerah lipatan-lipatan kulit. daerah nasolabial. . Klinis : terdapat makula eritema batas tegas. Pemeriksaan ini mengunakan media biakan agar malt atau saboraud’s agar. Psoriasis : berbeda predileksinya. misalnya daerah ekstensor dan dengan karakteristik lesinya menyerupai koin. misalnya di belakang telinga. tepi meninggi dan aktif. Pemeriksaan ini memungkinkan untuk melihat dengan lebih jelas perubaha pigmentasi yang menyertai kelainan ini.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis pada penyakit ini mudah ditegakkan karena sangat khas. c. Pemeriksaan dengan biakan jamur tidak terlalu bernilai secara diagnostik karena memerlukan waktu yang lama. 2. 3. Pemeriksaan Biakan.misalnya lutut. namum berbeda predileksi.

terbinafine  Kortikosteroid potensi rendah sampai sedang. Pilihan obat diantaranya adalah2. klotrimasol 1%. Pada keadaan inflamasi menonjol dan rasa gatal berat. Pengobatan Topikal Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. dan yang terbaru sertaconazole nitrate  Derivat alilamin : Naftifine. 1. Penyembuhan dimulai dari tengah. namun penggunaannya tidak boleh dalam jangka waktu yang panjang . Obat oral atau kombinasi obat oral dan topikal diperlukan untuk lesi yang luas. cukup diberikan obat topical.8 Penatalaksanaan Pada tinea korporis dengan lesi terbatas. lambat laun akan pecah. 2. sehingga menyerupai derrmatomikosis. Lama pengobatan bervariasi antara 1 sampai dengan 4 minggu tergantung jenis obat.3.4 :  Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoate (6-12%) dalam bentuk salep (salep whitfield)  Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep (salep 2-4)  Derivat azol : mikonazol 2%. Efektivitas obat topikal dipengaruhi oleh mekanisme kerja obat tersebut. terjadi eksudasi dan mengering membentuk krusta kekuningan. kombinasi antimikotik dengan kortikosteroid jangka pendek akan mempercepat perbaikan klinis dan mengurangi keluhan pasien4.

pasien imunocopromise. Itrakonazol 100 mg per hari selama 2 minggu atau 200 mg per hari selama 1 minggu. pasien resisten dengan pengobatan topical. Pengobatan sistemik Pengobatan sistemik diberikan pada kasus tinea korporis dengan infeksi kulit yang luas. Pilihan obat diantaranya adalah2.25-0. dan umumnya 3-4 minggu  Derivat azol : ketokonazol 200 mg per hari selama 3-4 minggu. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah infeksi berulang. seperti misalnya pada pasien yang menghentikan penggunaan pengobatan topical terlalu cepat ataupun pada jamur tersebut resisten terhadap pengobatan anti jamur yang diberikan. dengan angka kesembuhan mencapai 70-100% setelah pengobatan dengan golongan azol atau alinamin topikal.9 Prognosis dan Komplikasi Untuk tinea korporis dengan lesi yang terlokalisir. Lama pemberian sampai gejala klinis membaik. Sediaan mikrosize 500 mg. namun merupakan kontraindikasi pada pasien dengan kelainan hati.4 :  Griseofulvin 0.  Derivat Alilamin : terbinafin 250 mg per hari selam 2 minggu 2.5-1 gr untuk dewasa. . apabila pengobatan tidak berhasil menghilangkan organism secara menyeluruh. dan komorbid dengan tinea kapitis atau tinea unguium. sedangkan untuk anak-anak 0. prognosisnya umumnya baik.3.5 gr atau 10-25 mg/KgBB sehari dalam dosis tunggal atau terbagi. 2.

IDENTITAS PASIEN  Nama : Tn. Keluhan Tambahan : Nyeri pada bekas garukan C.Pada daerah tersebut ditemukan penebalan kulit. leher dan punggung pasien. .45 secara Autoanamnesis A. namun juga dirasakan pada lengan. BAB III STATUS PASIEN I.Pasien sudah pernah berobat ke Bidan desa dan di beri obat antigatal serta bedak namun keluhan tidak berkurang.Untuk mengurangi keluhan. Keluhan Utama : Gatal-gatal di seluruh tubuh B. Keluhan dirasakan sejak bertahun-tahun yang lalu ( pasien lupa tepatnya kapan) . terutama pada saat pasien berkeringat atau terkena debu dan hilang setelahnya. S  Jenis kelamin : Laki-laki  Umur : 76 tahun 11 bulan  Status : Kawin  Alamat : Ujung Nondar  Pekerjaan : Petani  Pendidikan terakhir : SMP  Suku : Batak  Agama : Kristen Protestan II. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan di Puskesmas Tiga Dolok pada hari Kamis 10 januari 2019 pukul 10. warna kulit menjadi gelap dan bintik-bintik kemerahan. Gatal dirasakan hilang-timbul. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poliklinik Puskesmas Tiga Dolok dengan keluhan gatal-gatal pada seluruh tubuh terutama pada bagian dada dan ketiak.

E. retraksi otot pernapasan. Riwayat sakit asma. kolesterol. III.3 0c ( Aksila) Tekanan darah : 130/80 mmhg Berat badan : 55 kg Tinggi badan : 165 cm Kepala : Normocephali. F. Riwayat Penyakit Keluarga : Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. D. alergi debu/makanan yang diturunkan disangkal. isi cukup) Pernapasan : 20 x/ menit ( regular. kuat angkat. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. diabetes mellitus dan penyakit ginjal disangkal. rambut hitam. PEMERIKSAAN FISIK A.Riwayat hipertensi.Pasien jarang menggunting dan membersihkan kuku. Riwayat alergi terhadap obat-obatan (-). Riwayat Kehidupan Pribadi : Pasien memiliki kebiasaan menggaruk-garuk bagian yang gatal dengan kuku. Fisik umum Kesadaran : Kompos mentis Keadaan umum : Tampak sakit ringan Nadi : 100x/ menit ( regular. distribusi merata. pasien sering menggaruk tempat yang gatal dengan kuku hingga luka dan berdarah sampai terasa nyeri. tidak terdapat kelainan kulit Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar . Pasien mandi sehari 1x dengan air dingin menggunakan sabun Lux dan jarang mengganti baju saat berkeringat.) Suhu : 36.

1-0.5 cm. brachii anterior dan posterior. bentuk bulat-tidak teratur o Eksoriasi berukuran 0. cubitalis.3 cm. Bunyi jantung Abdomen :  Inspeksi= perut tampak datar  Auskultasi= Bising usus + 4x/menit  Perkusi= timpani. nyeri ketuk -  Palpasi= nyeri tekan -. terpisah-pisah dan polisiklik. tepi tegas dan aktif. berukuran 0. multiple. tepi tegas. bentuk bulat-oval. permukaan kasar dan kering o Patch hiperpigmentasi . o Krusta berwarna putih dan kecoklatan. o Erosi berukukran 0.2 cm. axilaris.1-0. bentuk tidak teratur  Regio brachii anterior dan posterior. cervicalis o Makula hiperpigmentasi. multiple. hepatosplenomegali - Ekstremitas : akral hangat B. Status dermatologis  Distribusi : Regional  Regio : Cervicalis anterior dan posterior. wheezing -/-. multiple. multiple. Thorax :  Inspeksi = bentuk dan pergerakan dinding dada simetris kanan-kiri  Palpasi =Fremitus vocal simetris kanan-kiri  Perkusi= Sonor di kedua lapang paru  Auskultasi= Bunyi napas dasar vesikuler. rhonki .10 cm. multiple. ukuran mulai dari diame1 cm. thoracalis anterior dan posterior. antebrachii anterior dan posterior  Regio thoracalis anterior dan posterior. ada central healing.1cm -0. multiple. antebrachii anterior dan posterior . tepi tegas./-. permukaan berisisik dan kering o Makula eritem. deltoidea. kering.

kasar dan kering.  Lesi pada seluruh region bersifat kronik. lesi kering . dengan tanda-tanda peradangan sudah tidak ada. cervicalis . dan terdapat erosi/eksoriasi GAMBAR efloroesensi  Regio thoracalis anterior dan posterior. luas 2/3 dari seluruh lengan. tepi tegas. o Plakhiperpigmentasi . tepi tegas. skuama dengan bentuk iktiosiformis.

Regio thoracalis posterior Regio cervicalis .

.Regio brachii dan antebrachii anterior dan posterior IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan parasitologi jamur dengan KOH 10 % ditemukan hifa bersekat dan bercabang .

. mulai dari penyebab hingga cara penularannya . sprei. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit pasien. Menjelaskan kepada pasien untuk mencuci pakaian. tetapi di usap-usap saja dengan tangan yang bersih. Medikamentosa  Sistemik . Non-medika mentosa . VII. Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggaruk lesi yang gatal dengan kuku. seperti rajin menggunting kuku dan membersihkannya . DIAGNOSA BANDING Psoriasis. Antihistamin oral : ctm 1x 4 mg  Topikal . Dermatitis kontak alergi. mandi 2x sehari. Tidak bertukar-tukar pakaian dan handuk dengan anggota keluarga yang lain. . Kortikosteroid : kloderma ( klobetasol) . Menjelaskan kepada pasien untuk minum obat sesuai petunjuk dan teratur. dan segera mengganti baju bila berkeringat atau menggunakan pakaian jenis katun yang dapat menyerap keringat. Keratolitik : asam salisilat 3% . .V. Mengganti sabun yang digunakan dengan sabun dove atau sabun bayi yang mengandung pelembab . Antifungi oral : Ketokonazol 2x200 mg selama 7 hari . DIAGNOSA KERJA Tinea korporis VI. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan perserorangan terutama kuku tangan dan kaki. Anti fungi : Fungisol ( ketoconazole) . dan handuk pasien di rumah dengan air panas. 2. PENATALAKSANAAN 1.

PROGNOSIS  Ad vitam : Bonam  Ad sanationam : Bonam  Ad fungsionam : Bonam  Ad kosmetikum : dubia ad bonam . Salisilat 3% Kloderma 2 1⁄2 Fungisol 10 gram m. RESEP R/ Ketokonazol 200 mg tab no.f.a da in pot S 2 dd u.e VIII.l. XXVIII S 2 dd tab I R/ CTM 4 mg tab no. XIV S 1 dd tab I R/ As.

Jadi dari anamnesis serta gambaran klinis pada pasien mengarahkan dugaan ke arah tinea korporis. Memberi penjelasan pada orang tua pasien tentang penyakit pasien. dimana pada pasien dilakukan pemeriksaan lampu wood dan KOH. Dilihat dari onset. dari jenis penyakit. dengan effloresensinya plak dengan bentukan seperti koin. Dari temuan ini kita bisa memikirkan diagnosis ke arah tinea korporis. Sehingga dari seluruh pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini ditegakkan diagnosis tinea korporis. Selain itu kita juga bisa memikirkan dugaan ke arah pitiriasis rosea. Selain dengan pitiriasis rosea. Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh timbul bercak berwarna merah pada lengan kanan sejak 1 minggu lalu. Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan pemberian obat topikal. BAB IV PEMBAHASAN Diagnosis tinea korporis didapatkan melalui anamnesis. Menggunakan obat yang telah diberikan . keluhan pasien bersifat akut. penyebab sampai prognosisnya. 2. Selain itu juga diberikan KIE kepada pasien. karena predileksinya di ekstremitas. Disertai rasa gatal terutama saat berkeringat bisa mengarahkan dugaan infeksi yang disebabkan jamur. Pilihan yang diberikan adalah ketoconazol cream 2%. Dimana ketoconazol merupakan derivat azol yang bersifat fungistatik yang dipergunakan untuk pengobatan dermatofitosis. Sehingga pengobatan sistemik belum diperlukan. Ini semakin menguatkan diagnosis tinea korporis. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang. dimana pada dermatitis numularis predileksinya pada area ekstensor. namun gambaran klinisnya sedikit berbeda. Dalam hal ini kita bisa mendiagnosis banding dengan tinea korporis. dimana predileksinya sama dengan tinea korporis. pada hanya pada satu sisi lengan dan disertai rasa gatal terutama saat berkeringat. awalnya kecil kemudian membesar. karena lesinya yang kecil dan tidak luas. dan dengan effloresensi plak dengan bentuk bulat disertai tepi yang aktif dan terdapat penyembuhan di tengah. kita bisa mendiagnosis banding pasien ini dengan dermatitis numularis. hasilnya adalah terlihat hifa – hifa pendek dengan spora panjang. yaitu : 1. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. dimana pada pitiriasis rosea didapatkan gambaran herald patch dan umumnya diawali dengan gejala prodormal.

Tidak bertukar handuk dengan anggota keluarga yang lain Prognosis pada pasien adalah baik. 3. Kebersihan pakaian yang digunakan harus selalu dijaga 5. Menghindari kelembaban yang berlebihan. . misalnya dengan selalu mengelap keringat dengan menggunakan handuk yang bersih 4.

Pemberian KIE sangat penting dalam kasus ini. Faktor predisposisi. hal ini disebabkan karena penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk sembuh dan angka kekambuhannya cukup tinggi dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi dan kesabaran serta ketaatan pasien untuk berobat . 3. Terapi medikamentosa yang diberikan yaitu obat topikal berupa ketoconazol 2% cream. Penyebab terjadinya tinea korporis yang tersering adalah Trichophyton rubrum. terutama lingkungan dengan kelembaban yang tinggi dan cuaca panas sangat berperan memudahkan timbulnya penyakit ini. 4. 2. Pasien didiagnosa dengan tinea korporis karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. serta pemeriksaan penunjang yang dilakukan mendukung kearah diagnosa tersebut. BAB V KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus ini adalah : 1. Penanganan yang diberikan pada pasien ini adalah terapi medikamentosa dan pemberian KIE.

2007. Anonim. (Accessed: 2 May. In: Djuanda A (ed). 3.medscape. Lott. et al. 2. Available at http://emedicine. 3th ed. et al. 2009). DAFTAR PUSTAKA 1. In: Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Denpasar. Tinea Korporis. [last update Juny 5. Mansjoer A.16-18.p 98-99. Djuanda A. Denpasar:SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah. 2008]. 2000. 2007. 3th ed. 92-99. 4. Mikosis. p. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tinea Corporis eMedicine 1994-2009. In: Mansjoer A (ed).com/article/1091473 .p. . Dermatofitosis. MER.