Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PROSES PENGERINGAN, NORMALITAS HCl, DAN

TEMPERATUR PEMBAKARAN PADA PEMBUATAN SILIKA


DARI SEKAM PADI

Pamilia Coniwanti, Rasmiah Srikandhy, Apriliyanni

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya


Jl. Raya Prabumulih Km. 32 Inderalaya OI SumSel

ABSTRAK
Telah dilakukan pembuatan silika dari sekam padi. Pembuatan silika ini dilakukan melalui
tahap-tahap berikut : proses pencucian sekam padi, pengeringan, pengabuan sekam padi, dan
pemurnian abu. Variabel proses pada penelitian ini yaitu perbedaan proses pengeringan sekam
padi, penggunaan larutan HCl dengan normalitas yang berbeda, dan temperatur pembakaran.
Proses pengeringan sekam padi dibagi menjadi dua cara yaitu sampel A yang dikeringkan
dengan menggunakan sinar matahari dan sampel B yang dikeringkan dengan oven. Kemudian
dari masing – masing sampel dilakukan proses pemurnian dengan melakukan pengasaman
menggunakan larutan HCl 1N, 2N, 3N, dan 4N, lalu dilakukan pembakaran pada suhu 600°C,
800°C, 1000°C, dan 1100°C. Analisa komposisi menunjukkan silika terbanyak diperoleh dari
sampel A yang diasamkan dengan HCl 3N dan dibakar pada temperatur 1100°C yaitu 73,7%
silika, dimana pada kondisi yang sama sampel B hanya menghasilkan 69,3% silika. Proses A
menghasilkan silika dengan berat yang lebih banyak dibandingkan silika yang dihasilkan dari
sampel B. Dari penelitian ini diketahui bahwa silika dengan kemurnian tinggi diperoleh melalui
proses pengeringan dengan sinar matahari, pengasaman dengan HCl 3N dan temperatur
pembakaran 1100°C.

Kata kunci : sekam padi, silika

ABSTRACT

The making of silica from rice hulls has been done. The making of this silica is carried out by
this steps : rice hulls washing, drying, burning, and refining. Process variables of this research
are : rice hulls drying process, HCl normality, and burning temperature. The rice hulls drying
process divided into two ways : sample A which is drying process using sunlight and sample B
which is drying process using oven. Then, each of samples is refined by adding HCl 1N, 2N, 3N,
4N, and burned at 600°C, 800°C, 1000°C, 1100°C. Compositional analysis showed that sample
A which refined by 3N HCl and burned at 1100°C produced the greater silica with 73,7% of
silica. At the same condition, sample B only produced 69,3% of silica. Process A produced
silica weight more than process B. From this research, we known that silica with the higher
percentage produced by this steps : drying using sunlight, refined by 3N HCl and burned at
temperature 1100°C.

Key words : rice hulls, silica

Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008 5


I. PENDAHULUAN 25% dari bobot padi adalah sekam padi dan
kurang lebih 15 % dari komposisi sekam adalah
Padi merupakan produk utama pertanian di abu sekam yang selalu dihasilkan setiap kali
negara agraris, termasuk Indonesia. Sekam padi yang sekam dibakar.
merupakan salah satu produk sampingan dari proses Sekam padi mengandung 40% sellulosa,
penggilingan padi, selama ini hanya menjadi limbah 30% lignin dan 20% abu. Abu terdiri dari opaline
yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sekam padi silika yang terdapat dalam jaringan sellulosa dan
biasanya hanya digunakan sebagai bahan pembakar sedikit karbon. Sekam padi ini mempunyai sifat
bata merah atau dibuang begitu saja. Padahal dari higroskopis, berat jenis rendah dan warna netral.
beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan Sekam padi merupakan material isolasi
bahwa abu sekam padi banyak mengandung silika. yang sangat baik karena sekam sulit untuk
Di setiap daerah di Indonesia terdapat industri terbakar dan dapat mencegah kelembapan yang
penggilingan padi yang menghasilkan limbah sekam dapat menimbulkan jamur atau fungi. Beberapa
padi dalam jumlah yang cukup besar. Contohnya saja penelitian menemukan bahwa sekam padi yang
di daerah Sumatera Selatan, daerah penghasil padi dan dibakar akan menghasilkan sejumlah silika, untuk
industri penggilingan padi terbesar terdapat di alasan inilah sekam padi menyediakan isolasi
Kabupaten/Kota Banyuasin, OKU Timur, dan Ogan termal yang sangat baik.
Komering Ilir. Jumlah produksi padi di Sumatera Dalam pembakaran sekam padi biasanya
Selatan pada tahun 2006 tercatat sebanyak 2.456.251 menghasilkan 20% abu dengan kandungan silika
ton. (SiO2) sebagai komponen utamanya, sedikit
Prospek pemanfaatan serbuk silika juga karbon dan oksida-oksida lain. Secara alami silika
cukup besar, antara lain sebagai bahan baku dalam sekam padi terdapat dalam bentuk
pembuatan silika gel dan sebagai bahan campuran amorphous.
keramik. Mengingat besarnya potensi ketersediaan Sekam padi yang dibakar akan
limbah sekam padi dan besarnya prospek pemanfatan menghasilkan abu sekam dengan silika berbentuk
serbuk silika, maka perlu adanya teknik pembuatan amorf dan biasanya mengandung 85-90% silika
serbuk silika dengan memanfaatkan potensi yang dan 10-15% karbon. Silika yang terdapat dalam
tersedia. Pemanfaatan limbah sekam padi ini juga sekam ada dalam bentuk amorf terhidrat
diharapkan akan dapat membantu meningkatkan taraf (Houston, 1972). Tapi jika pembakaran dilakukan
hidup masyarakat industri kecil disamping juga akan secara terus menerus pada suhu di atas 650ºC
menciptakan lapangan kerja baru serta sekaligus turut akan menaikkan kristalinitasnya dan akhirnya
melestarikan lingkungan. akan terbentuk fasa kristobalit dan tridimit dari
Pada penelitian ini dilakukan pembuatan silika sekam.
serbuk silika dari sekam padi dan kemudian dilakukan Silika (silicon dioxide) dengan rumus
pengujian kuantitas serta kemurnian dari silika yang molekul SiO2, terdapat di alam dalam keadaan
dihasilkan untuk mengetahui metode dan perlakuan tidak murni. Silika terbentuk ketika unsur silicon
dalam pembuatannya yang memberikan hasil yang (Si) teroksidasi secara termal. Lapisan yang
optimal. sangat tipis terbentuk di permukaan silicon ketika
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui silicon kontak dengan udara. Temperatur tinggi
pengaruh proses pengeringan bahan baku, normalitas dan lingkungan yang berubah merupakan kondisi
HCl yang digunakan, serta temperatur pembakaran yang baik dalam pembentukan lapisan silika
terhadap kuantitas dan kualitas silika yang dihasilkan. (silicon dioxide).
Silika merupakan bahan kimia yang
pemanfaatan dan aplikasinya sangat luas mulai
II. FUNDAMENTAL bidang elektronik untuk pengampelasan material
bahan IC, fiber optik, bahan cat, pasta gigi,
Sekam padi adalah kulit keras yang kosmetik, kertas, makanan suplemen, mekanik,
melindungi bulir / biji beras. Fungsi dari sekam padi medis, seni hingga bidang-bidang lainnya. Salah
yaitu untuk melindungi beras selama masa satu pemanfaatan silika yang cukup luas adalah
pertumbuhan. Sekam padi adalah bagian terluar dari sebagai penyerap kadar air di udara sehingga
butir padi, yang merupakan hasil sampingan saat memperpanjang masa simpan bahan dan sebagai
proses penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20% - bahan campuran untuk membuat keramik seni.

6 Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008


Selain itu silika yang khususnya dihasilkan Proses Pengabuan
dari ekstraksi sekam padi dimanfaatkan sebagai bahan Sampel kemudian dibakar pada suhu
penguat komposit karet alam, sebagai bahan aditif 600ºC selama 4 jam. Abu sekam yang diperoleh
(pozzolan) dalam pembuatan semen portland, dan digerus kemudian diayak dengan ayakan sehingga
sebagai bahan pembuatan mullite whiskers. didapat ukuran yang homogen.
Silika mempunyai sifat kimia yaitu berwarna
putih (ketika murni), berat molekul 60,1, densitas 2,2 Proses Pemurnian
g/cm3. Silika merupakan material yang tidak mudah a. Pengasaman
terbakar, memiliki stabilitas yang baik pada suhu Hasil gerusan abu sekam diambil
tinggi, dan silika juga merupkan material yang tidak sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke dalam beker
menghantarkan listrik (isolator). glass dan dibasahi dengan aquadest 10 ml dan
Silika diperoleh dari sekam padi melalui 3 diaduk. Kemudian ditambahkan 10 ml HCl
langkah proses. Dimulai dengan pengasaman diikuti (dengan normalitas 1N, 2N, 3N, dan 4N) dan
dengan pembakaran dan penggilingan. Serbuk silika diuapkan di atas penangas air sampai kering.
amorf putih dapat diperoleh dari sekam padi dengan Tahap ini dilakukan beberapa kali sampai
proses dekomposisi termal terhadap sekam padi terbentuk serbuk putih. Serbuk dibilas dengan
dengan langkah – langkah tersebut. aquadest dan disaring dengan kertas saring bebas
Proses pembakaran menghasilkan residu abu, kemudian dicuci 4-5 kali dengan aquadest
gelap yang mengandung hampir 15% berat karbon. panas.
Ketika abu ini ditambahkan ke dalam campuran cair
seperti air, kandungan karbon akan mempengaruhi b. Pembakaran
kondisi suspensi. Treatment asam dan leaching adalah Residu padat dan kertas saring hasil
langkah yang penting untuk mendapatkan silika proses pemurnian dipanaskan pada suhu yang
dengan kemurnian tinggi, ukuran partikel yang halus, berbeda-beda yaitu 600°C, 800°C, 1000°C, dan
dan permukaan yang luas. Pemanasan lanjutan 1100°C hingga diperoleh serbuk silika berwarna
terhadap abu dilakukan untuk mengurangi residu putih.
karbon dan pengotor utama dari silika yang dihasilkan
yaitu potassium, kalsium, magnesium, dan sodium. Analisa Silika
Analisa yang dilakukan terhadap silika yang
dihasilkan adalah (1) Analisa kandungan abu
dalam sekam, yang dihitung berdasarkan
III. METODOLOGI PENELITIAN perbandingan berat abu yang diperoleh dengan
berat sekam sebelum dibakar dikalikan seratus
Bahan Percobaan persen. (2) Analisa berat silika, yang dilakukan
Sekam padi sebagai bahan baku pembuatan dengan mengurangi berat abu sebelum pemurnian
silika, asam klorida (HCl) sebagai larutan pemasak dengan berat serbuk silika setelah pemurnian. (3)
dalam proses pengasaman, dan aquadest untuk Analisa kemurnian silika, yang dilakukan dengan
pencucian serbuk silika hasil pengasaman. menggunakan metode/alat Colorimeter.

Proses Persiapan Bahan Baku


Sekam padi dicuci kemudian dikeringkan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan cara dioven pada suhu 190°C selama 1 jam dan
sekam lainnya dikeringkan dengan dijemur di bawah Kandungan Abu Dalam Sekam
sinar matahari selama 1 jam. Sekam yang telah kering Dari hasil penelitian dilakukan analisa
ditimbang masing-masing 10 gram sampel. kandungan abu dalam sekam yang bertujuan
untuk mengetahui kandungan abu yang diperoleh
setelah sekam dibakar. Berikut ini adalah
tabelnya:

Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008 7


Tabel 1. Kandungan abu dalam sekam Pengaruh Temperatur Terhadap Berat Silika
1,2

Sampel % Abu Sampel % Abu


1

23,3 24,6

Berat silika yang diperoleh (gr)


0,8
22,9 23,4
1N
2N

22,9 24,4 0,6


3N
4N

22,6 24,6 0,4

A B
22,9 24,9 0,2

23,1 24,7 0
600 800 1000 1100
Temperatur (celcius)

23,3 24,9 Grafik 1. Hubungan antara Temperatur terhadap


23,2 24,4 berat Silika, untuk Sampel A
Rata-rata 23,025 Rata-rata 24,4875
Dari grafik 1, terlihat bahwa berat silika
yang terbentuk untuk kondisi optimal pada proses
Dari tabel 1, diketahui bahwa rata-rata
pengasaman dengan HCl 1N yaitu 0,98 gram (dari 1
kandungan abu dalam sekam untuk sampel yang
gram sampel abu). Hasil ini didapat pada kondisi
dikeringkan dengan sinar matahari (sampel A)
pembakaran pada temperatur 600°C. Berat silika
yaitu 23,025% (dari 10 gram sampel). Sedangkan
yang optimal pada proses pengasaman dengan HCl
rata-rata kandungan abu dalam sekam untuk
2N yaitu 0,95 gram pada temperatur 600°C. Berat
sampel yang dikeringkan dengan oven (sampel B)
silika yang optimal pada proses pengasaman dengan
yaitu 24,4875%. Hasil ini diperoleh pada kondisi
HCl 3N yaitu 0,93 gram, diperoleh pada temperatur
pembakaran dengan suhu 600°C dan lama
pembakaran 600°C. Berat silika yang optimal pada
pembakaran 4 jam. Abu yang diperoleh dari
proses pengasaman dengan HCl 4N yaitu 0,95 gram
sampel B lebih banyak dibandingkan dengan abu
pada temperatur 600°C. Silika pada grafik 1 adalah
yang diperoleh dari sampel A.
silika dari sampel A yang dibuat dari sekam padi
Pengeringan dilakukan untuk mengurangi
yang dikeringkan dengan sinar matahari.
kandungan air dalam sekam padi. Menurut
Dari grafik dapat terlihat bahwa kondisi
Harsono (2002) laju pengeringan akan menurun
optimal untuk mendapatkan berat silika terbanyak
seiring dengan penurunan kadar air selama
adalah pada proses pengasaman dengan HCl 1N
penguapan dan proses pengeringan tidak terjadi
dan pembakaran pada temperatur 600°C.
dalam suatu waktu sekaligus. Maka pada
pengeringan dengan sinar matahari, penyebaran 1

panas ke dalam bahan berlangsung secara bertahap 0,9

dan menyeluruh sehingga penguapan air ke udara 0,8

lebih merata. Tidak demikian halnya untuk 0,7


Berat silika yang diperoleh (gr)

pengeringan dengan oven. Ketika bahan mulai 0,6


1N

terkena panas dari oven, laju pengeringan 0,5


2N
3N
4N

berlangsung secara cepat. Sehingga saat laju 0,4

pengeringan mulai menurun, masih tersisa 0,3

0,2

kandungan air pada bahan. 0,1

0
600 800 1000 1100
Temperatur (celcius)

Grafik 2. Hubungan antara Temperatur terhadap


berat Silika, untuk Sampel B

8 Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008


Dari grafik 2, terlihat bahwa berat silika yang 80

terbentuk untuk kondisi optimal pada proses 70

pengasaman dengan HCl 1N yaitu 0,83 gram (dari 1 60

gram sampel abu). Hasil ini didapat pada kondisi


50

pembakaran pada temperatur 600°C. Berat silika yang

Kadar silika (%)


1N
2N

optimal pada proses pengasaman dengan HCl 2N yaitu 40


3N
4N

0,86 gram pada temperatur 600°C. Berat silika yang 30

optimal pada proses pengasaman dengan HCl 3N yaitu 20

0,84 gram, diperoleh pada temperatur pembakaran 10

600°C. Berat silika yang optimal pada proses 0

pengasaman dengan HCl 4N yaitu 0,82 gram pada 600 800


Temperatur (celcius)
1000 1100

temperatur 600°C dan 1100°C. Silika pada grafik 2 Grafik 4. Hubungan antara Temperatur dengan
adalah silika dari sampel B yang dibuat dari sekam Kadar Silika untuk Sampel B
padi yang dikeringkan dengan menggunakan oven
pada temperatur 190°C. Dari grafik 4 terlihat bahwa kadar silika
yang terbentuk untuk kondisi optimal pada proses
Pengaruh Temperatur Terhadap Kadar Silika pengasaman dengan HCl 1N yaitu 63,8%. Hasil
80

ini didapat pada kondisi pembakaran pada


70

temperatur 1100°C. Kadar silika yang optimal


60
pada proses pengasaman dengan HCl 2N yaitu
50
67,4% pada temperatur 1100°C. Kadar silika yang
Kadar Silika (%)

1N

40
2N
3N
optimal pada proses pengasaman dengan HCl 3N
4N

30 yaitu 69,3% diperoleh pada temperatur


20
pembakaran 1100°C. Kadar silika yang optimal
10
pada proses pengasaman dengan HCl 4N yaitu
68,3% pada temperatur 1100°C. Silika yang
0
600 800
Temperatur (celcius)
1000 1100
diperoleh pada grafik 4 adalah silika yang dibuat
dari sekam padi yang dikeringkan dengan oven.
Grafik 3. Hubungan antara Temperatur dengan Kadar
Silika untuk Sampel A
Pengaruh Normalitas HCl Terhadap Berat
Silika
Dari grafik 3 terlihat bahwa kadar silika yang
terbentuk untuk kondisi optimal pada proses
Dari grafik 1 dapat diambil kondisi yang
pengasaman dengan HCl 1N yaitu 57,67%. Hasil ini
paling optimal untuk menghasilkan silika.
didapat pada kondisi pembakaran pada temperatur
Kemudian, kondisi paling optimal untuk grafik 1
1100°C. Kadar silika yang optimal pada proses
tersebut dibandingkan dengan kondisi paling
pengasaman dengan HCl 2N yaitu 63,1% pada
optimal untuk grafik 2 sehingga diperoleh grafik
temperatur 1000°C. Kadar silika yang optimal pada
sebagai berikut :
proses pengasaman dengan HCl 3N yaitu 73,7%
diperoleh pada temperatur pembakaran 1100°C. Kadar 1

silika yang optimal pada proses pengasaman dengan


HCl 4N yaitu 73,3% pada temperatur 1100°C. Silika 0,95

yang diperoleh pada grafik 3 adalah silika yang dibuat


Berat Silika yang Diperoleh (gr)

0,9
dari sekam padi yang dikeringkan dengan sinar
matahari. 0,85
Sampel A
Sampel B

0,8

0,75

0,7
1N 2N 3N 4N
Normalitas HCl

Grafik 5. Hubungan antara Normalitas HCl


dengan Berat Silika yang Diperoleh

Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008 9


Dari grafik 5 terlihat bahwa berat silika yang 2. Proses pengeringan sekam padi dengan
diperoleh pada sampel A lebih banyak daripada silika menggunakan sinar matahari menghasilkan
yang diperoleh pada sampel B. Kondisi optimal untuk silika dengan jumlah (berat) yang lebih
menghasilkan silika dengan berat 0,98 gram (dari 1 banyak dengan kemurnian yang lebih tinggi
gram sampel A) diperoleh pada pengasaman dengan daripada silika yang dihasilkan dari sekam
menggunakan HCl 1N dan temperatur pembakaran padi yang dikeringkan dengan oven.
600°C. Sedangkan kondisi optimal untuk 3. Penggunaan HCl dengan normalitas yang
menghasilkan silika dengan berat 0,86 gram (dari 1 berbeda kurang mempengaruhi berat silika
gram sampel B) diperoleh pada pengasaman dengan yang diperoleh. Namun mempengaruhi
menggunakan HCl 2N dan temperatur pembakaran kemurnian silika yang diperoleh, yaitu pada
600°C. penggunaan HCl 1N sampai dengan 3N,
Dari grafik 3 dapat diambil kondisi yang kemurnian silika semakin naik. Tetapi
paling optimal untuk menghasilkan silika. Kemudian, kemurnian kembali turun pada penggunaan
kondisi paling optimal untuk grafik 3 tersebut HCl 4N.
dibandingkan dengan kondisi paling optimal untuk 4. Pada kenaikan temperatur pembakaran 600 -
grafik 4 sehingga diperoleh grafik sebagai berikut : 1000°C, berat silika yang diperoleh
mengalami penurunan, namun berat silika
80
kembali naik pada kenaikan temperatur
70 1100°C. Sedangkan semakin tinggi
60
temperatur pembakaran, menyebabkan
semakin tinggi kemurnian silika yang
50

diperoleh.
Kadar Silika (%)

Sampel A
40
Sampel B
5. Pada proses pengeringan dengan sinar
30
matahari, pengasaman dengan HCl 3N, dan
20 pembakaran dengan temperatur 1100°C,
10
diperoleh silika dengan kemurnian tertinggi
0
yaitu 73,7%.
1N 2N 3N 4N
Normalitas HCl

Grafik 6. Hubungan antara Normalitas HCl dengan DAFTAR PUSTAKA


Kadar Silika
De Souza, M.F., P.S. Batista. 2000. Rice Hull-
Derived Silica : Application in Portland
Dari grafik 6 terlihat bahwa kadar silika yang
Cement and Mullite Whiskers. Mat. Res.
diperoleh pada sampel A lebih besar daripada silika
Vol.3. Sao Carlos.
yang diperoleh pada sampel B. Pada sampel A
Hamdan, Y.M. 2005. Preparasi Silika Murni dari
diperoleh silika dengan kemurnian 73,7%. Hasil ini
Sekam Padi. Teknologi Industri ITB.
diperoleh pada pengasaman dengan menggunakan HCl
Bandung.
3N dan temperatur pembakaran 1100°C. Sedangkan
Jeffery. 1975. Chemical Methods of Rock
pada sampel B diperoleh silika dengan kemurnian
Analysis. Second Edition.
69,3%. Hasil ini diperoleh pada pengasaman dengan
Olivier, Paul A. The Rice Hull House.
menggunakan HCl 3N dan temperatur pembakaran
www.thelaststraw.org
1100°C
Roberts, Campbell. 1990. Encyclopedia of
Mineral. Second Edition. New York.
Situmeang, Tunas. Johansen Hasugian. 2004.
V. KESIMPULAN
Pengaruh Temperatur Reaksi, Waktu
Reaksi dan Konsentrasi NaOH Pada
Dari penelitian yang telah dilakukan, maka
Pembuatan Natrium Silikat Dari Sekam
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Padi. Universitas Sriwijaya. Indralaya.
1. Abu yang diperoleh dari sekam hasil pengeringan
Vogel. Analisis Anorganik Kualitatif. Edisi 5.
dengan oven lebih banyak daripada abu yang
Revisi ; G. Svehla.
diperoleh dari sekam yang dikeringkan dengan
en.wikipedia.org/wiki/Rice_hulls ( 04 Juli 2007 ).
matahari. Rata-rata kandungan abu yang diperoleh
www.azom.com ( 7 Oktober 2007 ).
dalam penelitian ini yaitu 23-25%.

10 Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008


Jurnal Teknik Kimia, No.1, Vol. 15, Januari 2008 11