Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PSIKOLOGI PADA USIA LANJUT

Makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah


Psikologi Perkembangan

Dosen Pembimbing :
Rahajeng Siti Nur Rahma, M. Keb

Disusun Oleh :
Kelompok 7
Novi Puspitasari P17321185049
Mashlachatul Mar’ah P17321185054

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN KEDIRI
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat beserta salam
semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
Metodik Khusus dalam perkuliahan Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Malang dengan judul “Psikologi Perkembangan”.
Dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan
hambatan dan kesulitan, tetapi karena bantuan dan saran dari berbagai pihak, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis tidak
lupa menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :
1. Susanti Pratamaningtyas, M.Keb selaku Keprodi D-IV Kebidanan Kediri
Poltekkes Kemenkes Malang.
2. Rahajeng Siti Nur Rahma, M. Keb selaku Dosen Pembimbing mata kuliah
Psikologi Perkembangan
3. Orang tua dan teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini.
4. Semua pihak yang telah membantu menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan
makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Kediri, 27 November 2018

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk sosial yang eksploratif dan potensial. Manusia
dikatakan makhluk yang eksploratif karena manusia memiliki kemampuan untuk
mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia sebagai makhluk
potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemempuan bawaan yang
dapat diembangkan secara nyata. Selanjutnya manusia disebut sebagai makhluk
yang memiliki prinsip tanpa daya karena untuk tumbuh dan berkembang secara
normal memerlukan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain
adalah dalam bentuk bimbingan serta pengarahan. Binbingan dan pengarahan yang
diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakekeatnya diharapkan
sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudaah tersimpan sebagai
potensi bawaannya. Karena itu bimbingan tidak searah dengan potensi yang dimiki
akan berdampak negative pada perkembangan manusia secara umum.
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari
bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir,
dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial
sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari
lagi. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu
penanganan segera dan terintegrasi.
Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai
kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang
akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada beberapa pendapat
mengenai usia seseorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu ada yang
menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun. Tetapi
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa umur 65 tahun sebagai usia
yang menunjukkan seseorang telah mengalami proses menua yang berlangsung
secara nyata dan seseorang itu telah disebut lansia.
Secara umum orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat
dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan

3
wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia
lanjut dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua,
kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari lansia?
b. Apa saja masalah psikologis dan kesehatan mental –spiritual pada lansia?
c. Apa saja perubahan ketika penuaan?
d. Apa definisi menopause/ klimakterium?
e. Bagaimana prilaku aneh pada periode klimakterium?
f. Bagaimana kondisi psikis wanita setengah baya?

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui perubahan psikologis pada lansia untuk upaya
penanganan masalah yang mungkin muncul pada masa menopause.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dari lansia
2. Mengetahui Apa saja masalah psikologis dan kesehatan mental –
spiritual pada lansia
3. Mengetahui apa saja perubahan ketika penuaan
4. Mengetahui definisi menopause/ klimakterium
5. Mengetahui prilaku aneh pada periode klimakterium
6. Mengetahui kondisi psikis wanita setengah baya

4
BAB II
PENDAHULUAN

2.1. Pengertian Usia Lanjut


Menurut UU No. 13 tahun 1998 dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang
telah mencapai usia 60 tahun keatas. Usia lanjut memiliki batasan yaitu :
a. Pra usia lanjut (prasenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
b. Usia lanjut
c. Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Usia lanjut adalah tahap masa
tua dalam perkembangan individu (usia 60 tahun keatas). Sedangkan lanjut
usia adalah sudah berumur atau tua
d. Usia lanjut resiko tinggi
e. Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60
tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
f. Usia lanjut potensial
g. Usia lanjut yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang
dapat menghasilkan barang atau jasa.
h. Usia lanjut potensial potensial
Usia lanjut yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung
pada bantuan orang lain (Maryam Dkk, 2010).

2.2. Masalah psikologis dan kesehatan mental – spiritual lansia


a. Demensia
Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi
intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan
disfungsi hidup sehari - hari. Demensia merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata
mengganggu aktivitas kehidupan sehari- hari. Kejadian demensia secara
umum akan semakin meningkat dengan pertambahan usia.

5
Peningkatan kejadian demensia adalah sebagai berikut:

1. 1,4% pada usia 65-69 tahun,


2. 2,8% pada usia 70-74 tahun,
3. 5,6% pada usia 75-79 tahun, dan
4. 23,6% pada usia 85 tahun (Maryam Dkk, 2010).

b. Depresi
Bertambahnya usia biasanya disertai dengan timbulnya penyakit dan
berkurangnya peranan sosial serta munculnya tanda-tanda penuaan yang
dapat memicu timbulnya depresi pada lansia. Terkadang gejala yang dialami
oleh lansia dianggap sesuatu hal yang hormonal yang diakibatkan oleh proses
penuaan tersebut, padahal kebanyakan depresi pada lansia timbul karna suatu
keadaan medis ringan/ berat dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang
memperburuk keadaan depresi lansia.

Gejala depresi pada lansia yaitu :

1. Perasaan sedih/ tidak bahagia/ sering menangis


2. Perasaan dikucilkan/ kesepian
3. Tidak bisa tidur nyenyak
4. Tidak bisa konsentrasi
5. Gerakan menjadi lamban / aktivitas menurun
6. Tidak nafsu makan/ berat badan turun
7. Cepat lelah/ capek
8. Merasa rendah diri/ tidak berguna
9. Timbul niat bunuh diri
10. Daya ingat menurun (Wahyunita Dan Fitrah, 2010).
c. Skizofrenia
Adalah gangguan jiwa yang dapat diaalami oleh seorang sejak muda
sampai pada lanjut usia yang berlanjut menjadi lebih gawat atau kronis
dikarenakan perubahan-perubahan psikologik, biologik, dan sosial
budayanya. Gejalanya adalah halusinasi, waham, dan gejala-gejala negatif
lainnya. Gejala-gejala ini timbulnya dalam waktu satu bulan atau lebih lama

6
lagi. Cara pengobatan adalah diberikan obat-obatan jenis antipsikotik
(Wahyunita Dan Fitrah, 2010).
d. Delusi
Gangguan delusi biasa terjadi pada usia 40 tahun sampai 55 tahun atau
lebih, tetapi sebenarnya gangguan ini dapat terjasi pada usia berapapun,
penyebab utama terjadinya ganggguan delusi ini antara lain:
1. Kematiaan pasangan atau teman-teman sebaya
2. Berkurangnya peranan sosial
3. Keuangan yang menurun
4. Penyakit yang timbul
5. Ketidak mampuan melakukan aktivitas tertentu
6. Menurunnya panca indra

Pengobatan yang dapat diberikan pada lansia dengan gangguan delusi ini
adalah psikoterapi dan pemberian obat-obatan (Wahyunita Dan Fitrah, 2010).

e. Kecemasan
Rasa cemas yang paling sering timbul pada lansia adalah tentang
kematiannya. Para lansia berangggapan bahwa bertambahnya usia
merupakan tanda bahwa ajal akan segera menjemputnya, hal ini membuat
lansia menjadi cemas dan putus asa menjalani kehidupannya.Gangguan-
gangguan yang muncul seiring rasa cemas pada lansia adalah ganggguan
panik, rasa serba ketakutan, gangguan rasa cemas yang umu dan gangguan
stres. Pengobatan pada ganggguan ini disesuaikan dengan individu yang
bersangkutan dan berbeda setiap individu ditinjau dari tingkat gangguannnya
(Wahyunita Dan Fitrah, 2010).
f. Somatiform
Gangguan Somatiform biasa terjadi pada lansia yang berumur lebih dari
60 tahun. Gangguan yang terjadi adalah sikap pada lansia yang terlalu berhati-
hati terhadap kesehatannya. Pada gangguan ini, yang dapat dilakukan adalah
dengan cara menenangkan pasien dengan melakukan pemeriksaan ulang dan
secara menyeluruh untuk menyakinkan lansia bahwa ia tidak mengidap suatu
penyakit kronik yang ganas dan emmatikan. Pengobatan pada gangguan ini

7
adalah berupa pendekatan secara psikologis dan diberi obat (Wahyunita Dan
Fitrah, 2010).

2.3. Berbagai perubahan ketika penuaan


Penuaan adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi
seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis
dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian.Pada lanjut
usia, individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental,
khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah
dimilikinya. Penurunan tersebut mengenai berbagai sistem dalam tubuh seperti
penurunan daya ingat, kelemahan otot, pendengaran, penglihatan, perasaan dan
tampilan fisik yang berubah serta berbagai disfungsi biologis lainnya (Pudjiastuti,
2003).
Proses penuaan biologis ini terjadi secara perlahan-lahan dan dibagi menjadi
beberapa tahapan, antara lain:
a. Tahap Subklinik (Usia 25 – 35 tahun):
Usia ini dianggap usia muda dan produktif, tetapi secara biologis mulai
terjadi penurunan kadar hormon di dalam tubuh, seperti growth hormone,
testosteron dan estrogen. Namun belum terjadi tanda-tanda penurunan fungsi-
fungsi fisiologis tubuh.
b. Tahap Transisi (Usia 35 – 45 tahun):
Tahap ini mulai terjadi gejala penuaan seperti tampilan fisik yang tidak
muda lagi, seperti penumpukan lemak di daerah sentral, rambut putih mulai
tumbuh, penyembuhan lebih lama, kulit mulai berkeriput, penurunan
kemampuan fisik dan dorongan seksual hingga berkurangnya gairah hidup.
Radikal bebas mulai merusak ekspresi genetik yang dapat bermanisfestasi
pada berbagai penyakit. Terjadi penurunan lebih jauh kadar hormon mencapai
25% dari kadar optimal.
c. Tahap Klinik (Usia 45 tahun ke atas):
Gejala dan tanda penuaan menjadi lebih nyata yang meliputi penurunan
semua fungsi sistem tubuh, antara lain sistem imun, metabolisme, endokrin,
seksual dan reproduksi, kardiovaskuler, gastrointestinal, otot dan saraf.

8
Penyakit degeneratif mulai terdiagnosis, aktivitas dan kualitas hidup
berkurang akibat ketidakmampuan baik fisik maupun psikis yang sangat
terganggu (Pudjiastuti, 2003).
2.4. Menopause / klimakterium
Fase klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari
periode reproduktif ke periode non reproduktif. Tanda, gejala atau keluhan yang
kemudian timbul sebagai akibat dari masa peralihan ini disebut tanda atau gejala
menopouse. Pada fase ini fungsi reproduksi wanita menurun.
Fase klimakterium berlangsung bertahap sebagai berikut :
1. Sebelum menopause adalah Masa sebelum berlangsungnya saat menopouse,
yaitu fungsi reproduksinya mulai menurun, sampai timbulnya keluhan atau
tanda-tanda menopouse.
2. Saat menopause adalah Periode dengan keluhan memuncak, rentangan 1-2
tahun sebelum dan 1-tahun sesudah menopouse. Masa wanita mengalami
akhir dari datangnya haid sampai berhenti sama sekali. Pada masa ini
menopouse masih berlangsung.
3. Setelah menopause adalah Masa setelah perimenopouse sampai munculnya
perubahan-perubahan patologic secara permanen disertai dengan kondisi
memburuknya kondisi badan pada usia lanjut (Senilitas) (Prawiroharjo,
2005).

2.5. Perilaku aneh pada periode klimakterium

Oleh karena sel-sel indung telur sudah tidak diprodusir lagi, maka semua
proses organik untuk pengabdian dan pengawetan spesies manusia menjadi
tterhenti pula. Dan berakhirlah keberadaannya (eksistensi dirinya) sebagai
pendungkung kehidupan baru. Sampailah wanita itu pada batas akhir yang alamiah
yaitu kematian parsiil sebagai pengabdi pada spesiesnya. Sehubungan dengan hal
ini, mulailah ia sibuk bergulat melawan proses dekadensi atau kemunduran,
melawan usia tua.
Satu tipe wanita-wanita klimakteris ada yang memperlihatkan aktivitas
hypomanis semu. Wanita tersebut merasakan seolah-olah vitalitas hidupnya jadi
bertambah. Jika ia dahulu menghindari pengalamn-pengalaman yang menggunakan

9
kekerasan atau kesembronoan, maka sekarang ini seakan-akan ia dikejar-kejar oleh
nafsu untuk menyerempet-nyerempet bahaya, guna memperkaya pengalaman
hidupnya. Ia merasa muda bagaikan gadis remaja dan selalu meyakinkan diri
sendiri bahwa ia berambisi atau mampu memulai kehidupannya dari awal lagi.
Ia mulai membuat catatan-catatan harian, ingin melakukan perjalanan jauh,
dan menjalin kisah-kisah hidup baru. Dia menjadi sangat enthusiast tentang ide-ide
dan paham politik tertentu. Ia mengubah sikapnya terhadap keluarga sendiri, dan
seringkali meninggalkan rumah dengan alasan-alasan yang sama seperti alasan
gadis-gadis puber. Dengan enthusiasme yang menyala-nyala, bahkan sering
melebihi anak-anaknya sendiri, wanita klimakteris tersebut menjadi sangat tertarik
pada ideologi-ideologi politik tertentu.
Pada usia 50 tahun itu, ia sama sekali tidak bersedia meninggalkan segala
macam kegiatan. Dengan semangat yang berkobar-kobar ia berusaha meneruskan
perjuangannya melawan proses ketuaan dan proses biologis dari feminitasnya
dengan jalan “berlindung” di balik macam-macam kegiatan psikis. Ia merasa
senang dan bangga bahwa ia mendapatkan kemajauan-kemajuan dalam
mencobakan potensinya sebagai wanita. Sebab, ibunya sendiri, menurut anggapan
wanita tadi, sudah menjadi nenek-nenek tua yang loyo pada usia yang sama dengan
dirinya sekarang. Maka oleh kegiatan yang berkobar-kobar dari para wanita usia
klimakteris ini, ada kalanya kegiatan-kegiatan kaum pria menjadi sedikit tersisih.
Mode-mode paling baru, alat-alat kosmetik yang mahal-mahal dan kekayaan
yang cukup, rupa-rupanya banyak mendorong wanita-wanita usia setengah tua ini
bertingkah laku bagaikan anak puber. Delusi diri (gambaran kegila-gilaan, kecohan
diri, tipuan diri sendiri) yang narsistis seakan-akan menampilkan “keremajaan
wajahnya” pada cermin kaca. Maka sikap memberontak terhadap proses ketuaan
tadi membuat dirinya jadi naif, dan menjadikan dirinya lupa daratan, melupakan
pengalaman-pengalaman positif dimasa lalu yang membuat ia jadi bijaksana.
Ada pula wanita-wanita usia ini yang di kala mudanya menunjukkan tingkah
laku halus dan terhormat, kini mulai bergaul dengan dan mengumpulkan anak-anak
muda serta kaum pria yang jauh lebih inferior daripada dirinya. Lalu ia berilusi
bahwa dirinya dikagumi dan dicintai oleh banyak pria muda. Pada zaman sekarang,

10
kerap klai kita menjumpai wanita semacam ini yang dikenal sebagai tante-tante
girang atau nenek-nenek lincah.
Bagaikan gadis puber, wanita klimakteris tersebut membuat tentang
kemampuan dan kepribadiannya. Maka sesudah 25-30 tahun perkawinannya yang
sukses dan bahagia, kini ia dijangkiti pikiran aneh-aneh, yaitu ilusi, apakah
suaminya cukup berharga bagi dirinya? Dan apakah perkawinannya sekarang ini
bukannya merupakan tindak salah langkah.
Kadangkala, ada wanita setengah baya yang secraa sentimentil banyak
melamun tentang masa-masa mudanya. Mereka ingin mengulang kembali
pengalaman-pengalaman lama, dengan menjalin hubungan cinta mesra baru, atau
mencari pengalaman baru yang belum pernah dialaminya pada masa lalu. Ia
menjalin persahabatan dengan pria-pria muda yang dubious dan mencurigakan
sifatnya, yang cuma tertarik pada harta kekayaannya bagaikan tertarik pada cahaya
lampu di malam hari kenalan-kenalan lama yang terhormat (respectable) dari
kalangan atas dan kelas menengah, dimatanya kini tampak menjemukan, dan tidak
berharga lagi baginya . dia menunjukkan minat besar terhadap wanita-wanita
pelacur dan wanita-wanita yang mempunyai reputasi buruk. Ia jadi iri terhadap
“kebahagiaan serta kekayaan pengalaman” para wanita reputasi buruk tadi.
Bahkan ada pula wanita-wanita setengah umur yang tergoda ikut-ikutan
melakukan perbuatan yang kurang terhormat, misalnya melakukan relasi seks
bebas, dengan alasan yang sama seperti motif-motif gadis prapuber atau pubertas
yang tengah salah langkah.
Biasanya faktor sugestibilitas para wanita setenngah umur ini menjadi makin
besar, karena nalar pertimbangannya menjadi semakin berkurang. Ia mengira,
bahwa gairah keremajaannya masih tetap membara seperti pada usia puber. Oleh
karena itu, wanita-wanita semacam ini sering tertipu, dan menjadi “makanan
empuk” bagi para penasehat dan konsultan-konsultan yang jahat (Scribe, 2018).

2.6. Kondisi psikis wanita setengah baya

Relasi persahabatan wanita-wanita klimakteris ini sering kali juga mengalami


perubahan. Persahabatan yang dahulunya bersifat loyal dan harmonis, menjadi
retak berantakan oleh rasa iri hati, keemasan ketakutan, serta panik tanpa sebab-

11
sebab yang jelas. Wanita- wanita ini jadi cerewet, menjadi sangat gila, suka mencari
setori, dan mengguagah pertengkaran dimana-mana. Relasi sosialnya menjadi
patologis sifatnya. Ada kalanya terjadi ledakan-ledakan emosional yang paranoid,
sebagai produk dari semakin intensifnya konflik-konflik batin/ psikis pada periode
klimaktteris.
Baik di masa pubertas maupun pada periode klimakteris. Selama dua periode
ini anak gadis dan wanita setengah baya tadi berusaha mengkonstruksikan “dunia
masa sekarang” atau das Sein. Namun jika gadis puber mengarahkan pandangannya
pada masa depan, maka wanta setengah tua itu justru menengokkan pandangannya
pada masa lampau dengan rasa-rasa kerinduan (nostalgia).
Pada anak-anak gadis yang mempunyai predisposisi neurotisobsesif, gejala-
gejala ini segera lenyap, kemudian digantikan dengan tendens maskulinitas yang
kuat dan proses intelektualisasi. Pada umumnya mereka bersifat sangat maskulin,
kejantan-jantanan, sangat ambisius, sangat intelek, namun miskin kehidupan
emosionalnya.
Selama periode produktif sampai masa klimakteris, maskulinitas wanita
tersebut dengan sukses tersublimasikan dan pribadinya tidak menampilkan gejala-
gejala neuortis. Akan tetapi pada periode klimakteris, tendens-tendens feminitaas
yang selalu ditekan kuat-kuat dan biasanya sukses, kini mulai menampilkan
“haknya”. Lalu terjadilah konflik-konflik batin di antara tendens feminitas melawan
keenderungan-kecenderungan hypermaskulin. Jika pertentangan di antara dua
tendens itu pada usia pubertas dengan sukses bisa disublimasikan, atau bisa
diselesaikan dengan baik, maka biasanya pada usia setengah tua itu wanita tersebut
justru gagal dalam perjuangan psikis tersebut., lalu jatuh sakit karena ia tidak
memiliki daya tahan, sedangkan kondisi fisik dan psikis sudah menjadi lemah.
Jelasnya, ia tidak mampu menerima dengan hati yang pasrah. Sifat-sifat femininnya
yang sejati yang kini muncul secara spontan.
Hampir semua wanita usia klimakteris mengalami dalam tempo yang relatif
pendek atau relatif panjang suasana hati depresif dan melankolis. Sebab utamanya
adalah :

a. Karena ia ingin mengingkari dan memproses proses biollogis mengarah pada


ketuaan

12
b. Ia terlampau melebih-lebihkan keadaan dirinya, serta terlalu menganggap
dramatis proses ketuaannya.
c. Kemunduran jasmaniah itu dirasakan sebagai kemungkinan dan mendekatnya
kematian juga sebagai tidak ada gunanya lagi untuk terus hidup.
d. Hidupnya kini dianggap tidak mengandung harapan, penuh kepedihan dan
pribadinya dilupakan oleh semua orang..
Banyaknya rasa depresi pada usia menjelang tua ini memang berkaitan
dengan kepahitan dan kepedihan hati, karena wanita yang bersangkutan merasa
kehilangan “dunia remaja” indah yang sudah lampau. Dan seperti depresi anak
gadis puber yang kadang kala diselingi dengan perasan-perasaan extatis (gelora
semangat yang menyala-nyala), demikian pula kondisi-kondisi depresif wanita
setengah baya ini kerap kali diselingi dengan cinta birahi dan kegairahan hati,
bagaikan kelip gemerlapnya cahaya pelita yang hampir redup kehabisan minyak.
Maka kondisi “ senja hari” pada wanita setengah umur ini masih memberikan
berkas-berkas pancanaran sinar-sinar indah dalam ketidaksadarannya. Devaluasi
(adanya kemunduran nilai dan kerusakan) pada organ-organ vital, mengakibatkan
munculnya perasaan destruksi atau kerusakan pada fungsinya. Kemudian
mengakibatkan perubahan-perubahan berupa kemunduran pada kemampuan
psikisnya.
Dengan sendirinya, kondisi psikis wanita setengah umur ini juga sangat
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya di masa lampau. Wanita-wanita
feminin yang selalu hidup dalam suasana harmonis, ekonomis berkecukupan,
bahagia dan selalu mendapatkan kepuasan seksual, pasti bisa menghayati badai-
badai terakhir dalam kehidupannya dengan rasa tenang, bagaikan berlayar dalam
sebuah perahu di teluk yang teduh. Maka banyak pasangan tua yang ingin
mengalami lagi bulan-bulan madu kedua pada usia sudah lanjut ini.
Wanita-wanita yang mempunyai masa lampau penuh kenangan cinta indah
dan bahagia, kewanitaan dan kecantikannya akan tetap awet bertahan lama.
Tampaknya, faktor cinta itu merupakan resep bagi rahasia kecantikan dan
keremajannya. Wanita-wanita yang sangat erotis feminin dan berpengalaman dalam
hal cinta, akan menerima dengan rasa tenang dan penuh kemartabatan diri segala

13
nasib serta proses ketuaannya. Berbeda sekali dengan reaksi seorang perawan tua
yang banayk mengalami frustasi, dan selalu merasa tertipu di masa mudanya.
Maka dalam periode istirahat di masa tua ini, banyak wanita setengah umur
merasakan nostalgia (kerinduan) pada masa-masa mudanya yang cemerlang, lalu
mencoba menjalin dunia fantasi pribadi dalam lamunan di hari-hari tuanya.
Wanita-wanita cantik yang narsisitis, yang menganggap kecantikan wajahdan
tubuhnya sebagai pusat dari eksistensinya, dan mempunyai harga diri serta cinta
diri yang besar, biasanya mencoba mengkompensasikan ketuaannya dengan suatu
pekerjaan atau profesi. Dia berusaha membuat dirinya tetap berguna dan tetap
penting sambil mencoba melupakan bahwa kini ia mulai jadi tua. Sebab proses
ketuaan tersebut benar-benar menyinggung perasaan narsismenya.
Sebenarnya, reaksi-reaksi psikis wanita pada usia klimakteris itu sangat
bergantung pada pandangan hidup atau lebensanschauungnya dan terhadap
eksistensi diri sendiri. Jika ia tidak bisa menemukan harmoni dan keseimbangan ,
maka terjadilah trauma biologis dan trauma psikis. Terjadi pula perasaan degradasi
diri, disertai tingkah laku yang aneh-aneh. Dengan demikian psikoterapi yang
diterapkan pada usia klimakterium ini menjadi sulit sebab:

a. Orang tidak bisa berbuat sesuatupun untuk mencegah proses ketuaan yang
progresif, sebab proses ketuaan itu merupakan proses biologis yang alami.
b. Biasanya orang tidak bisa berbuat banyak untuk menciptkan pengganti bagi
penugasan fantasi-fantasi pada usia klimakteris ini. Kegiatan berfantasi itu
tidak bisa dicegah (Scribe, 2018).

2.7. Masa nenek-nenek

Dengan berhentinya fungsi reprduksi pada seorang wanita itu bukan berarti
keberhentian hidupnya. Jika fungsi keibuan untuk melayani dan mengabdi pada
species manusia itu sudah berhenti. Wanita tersebut masih bisa melanjutkan fungsi
keibuannya dengan jalan mencari pengalaman-pengalaman individual yang baru.
Pada masa ini usia tua dan mempengaruhi psikologis mereka (Scribe, 2018).

14
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Masalah
psikologis dan kesehatan mental – spiritual lansia yang sering terjadi diantaranya
demensia, depresi, delusi, kecemasan, somatiform. Masalah- masalah tersebut tidak
adkan berdampak buruk jika tenaga kesehatan dapat melakukan pendampingan
sehingga para lansia mengetahui jika masalah tersebut merupakan hal yang wajar.

3.2 Saran
Mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan mengetahui perubhan apa saja
yang terjadi pada lansia pada saat periode klimakterium., sehingga mampu
mengembangkan pengetahuan dalam memberikan asuhan kebidanan pada lansia.

15
DAFTAR PUSTAKA

Maramis. 2004. Ilmu Kedoteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press


Maryam, siti, dkk. 2010.Asuhan Keperawatan pada lansia. Jakarta: TIM

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : YBP-SP


Pudjiastuti, Sri Surini. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta : EGC
Wahyunita dan Fitrah, 2010. Memahami Kesehatan pada Lansia. Jakarta : TIM

16