Anda di halaman 1dari 6

e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

HUBUNGAN STATUS PEKERJAAN IBU DENGAN PEMBERIAN


ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGKOAN

Anggania G.A Timporok


Pemsi M Wowor
Sefti Rompas

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi Manado
Email : angganiatimporok19@gmail.com

Abstract : breast milk is the best food for the baby's growth. Nutrient found in breast milk is
very complete and very beneficial to the baby. ASI is Exclusive breast feeding to baby food and
drinks without an escort which started since the new baby is born. Purpose:of this research is
to know the relation of maternal employment status with exclusive breast feeding. Research
methods: method using descriptive analytic with cross sectional study approach. The sample
uses the total sampling method i.e. 72 mother while giving exclusive breast milk at work-area
Clinics Kawangkoan. This research use questionnaire instruments and data analysis using Chi-
Square test Results: based on Chi-square test results showed the existence of a relationship
between the two variables with the value p = 0.000 less than α = 0.05. The conclusion: There
is significant correlation between occupational status with the exclusive breastfeeding working area
of Kawangkoan public health.
Keyword: Occupational status, Exclusive breast feeding

Abstrak : ASI merupakan makanan terbaik bagi tumbuh kembang bayi. Kandungan gizi yang
terdapat dalam ASI sangat sempurna dan sangat bermanfaat bagi bayi. Asi eksklusif adalah
pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan sampai bayi berumur 6 bulan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status pekerjaan ibu dengan pemberian ASI
eksklusif. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan
cross sectional study. Sampel Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dan analisa data
menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian berdasarkan uji Chi-square menunjukan hasil
adanya hubungan antara kedua variabel dengan nilai p=0,000 kurang dari α=0,05. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah ada hubungan anatar status pekerjaan ibu dengan pemeberian ASI
eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kawangkoan.
Kata Kunci: Status Pekerjaan Ibu, ASI Eksklusif.

1
e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

PENDAHULUAN ASI Eksklusif di Indonesia adalah faktor


Masa pertumbuhan yang pesat terjadi ibu yang bekerja (meski itu bukan satu-
pada masa bayi dan balita. Oleh karena itu, satunya faktor penyebab kegagalan).
pada masa ini diperlukan gizi yang baik dan Menurut World Health Organization
mencukupi untuk bayi (Marmi & Raharjo, (WHO) dan United Nations International
2012).Gizi yang paling tepat diberikan Children’s Emergency Fund (UNICEF)
kepada bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). ASI kematian perinatal diseluruh dunia sekitar
merupakan makanan terbaik bagi tumbuh 10 juta persalinan hidup dengan catatan
kembang bayi. Kandungan gizi yang bahwa sekitar 98-99% terjadi di negara
terdapat dalam ASI sangat sempurna dan berkembang, dimana angka kematian
sangat bermanfaat bagi bayi. Dalam ASI perinatal seratus kali lebih besar dari pada
mengandung karbohidrat, protein, vitamin negara maju. Salah satu penyebab kematian
dan air yang sangat berguna bagi bayi tersebut adalah kurangnya akses
untuk pertumbuhan dan perkembangan keperawatan kesehatan bagi neonatal.
bayi (Partiwi,2008). Sebanyak 136.700.000 bayi dilahirkan di
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI seluruh dunia dan hanya 32,6% dari mereka
kepada bayi tanpa makanan dan minuman yang mendapat ASI secara eksklusif pada
pendamping (termasuk air jeruk, madu, air usia 0 sampai 6 bulan pertama. Hal tersebut
gula), yang dimulai sejak bayi baru lahir menggambarkan cakupan pemberian ASI
sampai dengan usia 6 bulan. Setelah bayi eksklusif di bawah 80% dan masih
berumur enam bulan, bayi boleh diberikan sedikitnya ibu yang memberikan ASI
makanan pendamping ASI (MP-ASI), eksklusif pada bayi.
karena ASI tidak dapat memenuhi lagi Tahun 2015 Indonesia menargetkan
keseluruhan kebutuhan gizi bayi sesudah penurunan sebesar 23% untuk angka
umur enam bulan. Akan tetapi, pemberian kematian bayi dan balita dalam kurun
ASI bisa diteruskan hingga bayi berusia 2 waktu 2009-2015. Oleh sebab itu Indonesia
tahun (Maritalia, 2012). Berdasarkan mempunyai komitmen untuk menurunkan
sebuah analisis menerangkan bahwa angka kematian bayi dari 68/1.000
memberikan ASI selama 6 bulan dapat kelahiran hidup menjadi 23/1.000 kelahiran
menyelamatkan 1,3 juta jiwa di seluruh hidup dan angka kematian balita dari
dunia, termasuk 22% nyawa yang 97/1.000 kelahiran hidup menjadi 32/1.000
melayang setelah kelahiran. Menurut kelahiran hidup. Untuk mencapai target
United Nations International Children’s menurunkan AKB, dapat dilakukan salah
Emergency Fund (UNICEF), ASI eksklusif satunya dengan pemberian ASI Eksklusif.
dapat menekan angka kematian bayi di (Prasetyono, 2009).
Indonesia. UNICEF menyatakan bahwa Berdasarkan data Profil Kesehatan
30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 Indonesia tahun 2016, jumlah bayi di
juta kematian anak balita di dunia setiap Indonesia 0-6 bulan adalah 2.000.200 bayi,
tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI sedangkan yang mendapatkan ASI
eksklusif selama enam bulan sejak sejam Eksklusif hanya 1.046.173 bayi atau
pertama setelah kelahirannya tanpa 52,3%. Persentase pemberian ASI eksklusif
memberikan makanan dan minuman pada bayi 0-6 bulan di Sulawesi Utara pada
tambahan kepada bayi. Meskipun tahun 2015 sebesar 55,7% dengan jumlah
menyusui bayi sudah menjadi budaya bayi 0-6 bulan 116.506 dan yang
Indonesia, namun upaya meningkatkan mendapatkan ASI Eksklusif hanya 64.897
perilaku ibu menyusui ASI Eksklusif masih bayi sedangkan target pencapaian ASI
diperlukan karena pada kenyataannya Eksklusif Provinsi Sulawesi Utara adalah
praktek pemberian ASI Eksklusif belum 70%. Penyebab anatar lain BBLR (42%),
dilaksanakan sepenuhnya. Salah satu sepsis klinis (17%), kelahiran prematur
penyebab belum berhasilnya pelaksanaan (9,8%), asfiksia berat (4,6%), hipotermia

2
e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

(17%), dan masalah menyusui (16%). melaksanakan pompa ASI. (Azzisya,


Capaian ini sedikit lebih tinggi 2010).
dibandingkan pada tahun 2013 sebesar Survey awal di Wilayah Kerja
51,2%, 2012 sebesar 46,2% dan 2011 Puskesmas Kawangkoan, Didapatkan
sebesar 45,9%. jumlah ibu yang sementara memberikan
ASI eksklusif sangat sulit untuk ASI eksklusif sebanyak 72 orang. Data ini
dicapai tren prevalensinya bahkan masih diambil pada bulan desember tahun 2017.
jauh dari target. Salah satu penyebab masih Dari 40 ibu menyusui yang bekerja diluar
rendahnya cakupan ASI Eksklusif adalah rumah tidak ada satupun yang pernah
pada ibu yang aktif bekerja, upaya membawa bayinya ditempat kerja, dan
pemberian ASI Eksklusif seringkali memberikan ASI pada bayinya di tempat
mengalami hambatan, meski itu bukan kerja. Ibu yang bekerja diluar rumah
satu-satunya faktor penyebab kegagalan mempunyai keterbatasan kesempatan untuk
serta gencarnya promosi produk susu menyusui bayinya secara langsung.
formula dikalangan masyarakat Keterbatasan ini berupa waktu atau tempat,
(Djitowiyono, 2010). Ibu yang aktif terutama jika di tempat kerja tidak tersedia
bekerja, upaya pemberian ASI Eksklusif fasilitas untuk ibu menyusui. Hal inilah
seringkali mengalami hambatan lantaran yang membuat peneliti tertarik untuk
singkatnya masa cuti hamil dan melahirkan melaksanakan penelitian mengenai
mengakibatkan sebelum masa pemberian hubungan status pekerjaan ibu dengan
ASI Eksklusif berakhir mereka sudah harus pemberian ASI eksklusif pada bayi di
kembali bekerja. Bagi ibu yang bekerja Wilayah Kerja Puskesmas Kawangkoan
sebenarnya menyusui tidak perlu .
dihentikan, jika memungkinakan bayi dapat METODE PENELITIAN
dibawah ketempat bekerja atau ibu bisa Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
pulang ke rumah dan memberikan ASI pada karena tujuan dari penelitian ini adalah
bayinya . Namun hal ini sangat sulit untuk mengetahui hubungan antara dua
dlaksanakan karena sebagian besar tempat variabel bebas (status pekerjaan ibu) dan
kerja saat ini belum menyediakan sarana variabel terikat (pemberian asi ekslusif).
penitipan bayi atau pojok laktasi yaitu Desain penelitian ini menggunakan metode
tempat ibu memberikan ASI kepada penelitian deskriptif analitik dengan
bayinya. Alternatif lain yang dapat ibu menggunakan rancangan cross sectional
lakukan yaitu dengan cara pompa ASI atau study ( study potong lintang) yaitu peneliti
pumping ASI. Ibu dapat memompa ASI mempelajari hubungan anatar variabel
sebelum pergi bekerja, kemudian ASI dapat bebas dan variabel terikat dengan
disimpan di freezer dan bisa diberikan melakukan pengukuran sesaat, tidak semua
kepada bayi saat bayi haus atau lapar. objek penelitian harus diperiksa pada hari
Namun sebagian besar ibu memlilih untuk atau saat yang sama tetapi baik variabel
tidak melaksanakan pompa ASI, alasanya efek dinilai hanya satu kali saja.
karena saat ibu menggunakan pompa ASI (Siregar,2012). Tempat dan waktu
ibu akan merasakan ketidaknyamanan penelitian pada bulan Desember 2017-
bahkan ibu akan merasakan sakit saat Februari 2018 di wilayah kerja Puskesmas
menggunakan alat pompa ASI tersebut, ibu Kawangkoan. Populasi ibu yang
akan menjadi ketergantungan terhadap alat mempunyai bayi 6-12 bulan berjumlah 72
pompa ASI sehingga ketika ibu tidak orang. Instrumen pada penelitian ini
membawa pompa ASI maka ibu tidak bisa menggunakan lembar kuesioner yang
melakukan pemompaan ASI. Hal inilah terdiri dari 20 pertanyaan yang akan
yang menyebabkan banyak ibu memilih diberikan kepada responden.
memberikan susu formula dari pada harus

3
e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

HASIL dan PEMBAHASAN Tabel 4. Distribusi Silang Status


Tabel 1. Distribusi Menurut Usia Pekerjaan ibu dengan Pemberian ASI
Umur n % Eksklusif
< 20 tahun 16 22.2 ASI Eksklusif
20 – 30 tahun 44 61.1 Tidak
Total
P
Status Memberikan Memberikan Value
31 – 45 tahun 12 16.7 Pekerjaan ASI ASI Eksklusif
Total 72 100 Eksklusif
n % n % n %
(Sumber : Data Primer 2018)
Bekerja 42 58,3 3 4,2 45 100
0,000
Berdasarkan Tabel 1, responden yang Tidak
2 2,8 25 34,7 27 100
Bekerja
terbanyak terdapat pada kelompok umur Total 44 61,1 28 38,9 72 100
20-30 tahun sebanyak 44 orang (61.1%)
(Sumber : Data Primer 2018)
dan paling sedikit pada kelompok umur 31-
45 tahun yaitu 12 orang (16.7%).
Hasil uji hipotesis menggunakan uji Chi
Square pada tingkat kepercayaan 95%
Tabel 2. Distribusi Menurut Status
(α=0,05%), menunjukkan ada hubungan
Pekerjaan
antara dukungan keluarga dengan
Status
n % pemberian asi eksklusif pada bayi dimana
Pekerjaan
nilai p=0,000 lebih kecil dari 0,05%.
Bekerja 45 62.5
Tidak Bekerja 27 37.5
Pembahasan
Total 72 100
Berdasarkan status pekerjaan ibu
(Sumber : Data Primer 2018) menunjukan bahwa responden dengan
status pekerjaan bekerja yaitu 45 responden
Berdasarkan tabel 2, responden yang (62,5%) dan status pekerjaan tidak bekerja
memiliki pekerjaan sebanyak 45 responden yaitu 27 responden (37,5%). Menurut
(62.5%) dan responden yang tidak memiliki Danso (2014) ibu yang bekerja mengalami
pekerjaan sebanyak 27 responden (37.5%). kesulitan dalam memberikan ASI eksklusif
Tabel 3. Distribusi Menurut Pemberian karena harus membagi waktu dengan
Asi Eksklusif pekerjaannya, selain itu pengaruh dari
Pemberian ASI anggota keluarga juga mempengaruhi
n % praktik pemberian ASI eksklusif.
Eksklusif
Diberikan 28 38.9 Dukungan keluarga sangat penting dalam
Tidak Diberikan 44 61.1 suksesnya menyusui, terutama untuk ASI
Total 72 100 eksklusif. Dukungan emosional keluarga
(Sumber : Data Primer 2018) sangat berarti dalam menghadapi tekanan
luar yang meragukan perlunya ASI.
Berdasarkan tabel 3, responden yang keluargalah yang menjadi benteng pertama
memberikan asi eksklusif hanya 28 orang saat ibu mendapat godaan yang datang dari
(38.9 %) sedangkan yang tidak keluarga terdekat, orangtua atau mertua.
memberikan asi eksklusif ada 44 orang Keluarga juga harus berperan dalam
(61.6 %). pemeriksaan kehamilan, menyediakan
makanan bergizi untuk ibu dan membantu
meringankan pekerjaan istri. Kondisi ibu
yang sehat dan suasana yang
menyenangkan akan meningkatkan
kestabilan fisik ibu sehingga produksi ASI
lebih baik. Lebih lanjut keluarga jugaingin
berdekatan dengan bayinya dan

4
e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

berpartisipasi dalam perawatan bayinya, ASI secara eksklusif yang terbentur dengan
walau waktu yang dimilikinya terbatas. kewajiban dalam melaksanakan pekerjaan.
Berdasarkan distribusi Pemberian Hasil diatas menunjukan bahwa
ASI ekslusif menunjukan bahwa, sebagian apabila status pekerjaan ibu bekerja maka
besar responden menyatakan tidak besar kemungkinan ibu tidak memberikan
memberikan ASI eksklusif yakni 44 ASI eksklusif pada bayinya, dan apabila
responden (61,1%), sedangkan yang status pekerjaan ibu tidak bekerja maka
memberikan ASI eksklusif yakni 28 besar kemungkinan ibu dapat memberikan
responden (38,9%). Hal ini dikarenakan ASI eksklusifnya. Karena kebanyakan ibu
adanya faktor status pekerjaan ibu yang bekerja, waktu merawat bayinya lebih
menyebabkan pemberian ASI eksklusif sedikit, sehingga memungkinkan ibu tidak
tidak terlaksana. Menurut Mohanis (2014), memberikan ASI eksklusif pada bayinya.
menyebutkan bahwa memberikan ASI Sebenarnya apabila ibu bekerja masih bisa
Eksklusif kepada bayi sangat memberikan ASI eksklusif pada bayinya
menguntungkan untuk tumbuh kembang dengan cara memompa atau dengan
bayi, namun masih banyak juga ibu-ibu memerah ASI, lalu kemudian disimpan dan
dengan berbagai alasan tidak memberikan diberikan pada bayinya nanti. Kebanyakan
ASI Eksklusif pada bayinya, sehingga ibu yang bekerja tidak memberikan ASI
cakupan pemberian ASI Eksklusif tidak esklusif pada bayinya. Ada pula ibu yang
tercapai. Hasil tabel silang antara variabel bekerja dapat memberikan ASI ekslusif
status pekerjaan ibu dengan pemberian ASI pada bayinya sebanyak 3 responden
eksklusif diperoleh hasil : responden (6,7%), kini banyak ibu bekerja
dengan status pekerjaan bekerja dan memutuskan untuk tetap menyusui. Salah
memberikan ASI eksklusif sebanyak 3 satu upaya yang bisa dilakukan adalah
responden (6,7%), status pekerjaan bekerja memerah ASI. Ibu bisa memerah ASI
dan tidak memberikan ASI eksklusif dengan baik agar manfaatnya tidak
sebanyak 42 responden (93.4%), status berkurang. ASI perah adalah ASI yang
pekerjaan tidak bekerja dan memberikan diambil dengan cara diperas dari payudara
ASI eksklusif sebanyak 25 responden untuk kemudian disimpan dan nantinya
(92,6%) serta status pekerjaan tidak bekerja diberikan kepada bayi.
dan tidak memberikan ASI eksklusif Sebanyak 2 responden (25,81%) ibu
sebanyak 2 responden (7,4%). Berdasarkan rumah tangga juga memberikan ASI dan
hasil analisis chi- square hubungan makanan serta cairan lain kepada bayinya,
antara status pekerjaan dengan pemberian diantaranya yaitu susu formula ibu
ASI eksklusif diperoleh nilai signifikan (p- beralasan karena merasa nyeri pada
value) sebesar 0,000 (<0,05) dan payudara saat menyusui sehingga
kesimpulan yang diperoleh adalah H0 pemberian ASI diselingi dengan susu
ditolak. Maka, interpretasi dari analisa ini formula dan juga karena merasa tidak
adalah ada hubungan antara status punya waktu untuk selalu memberikan ASI
pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif eksklusif disebabkan banyaknya pekerjaan
di wilayah kerja Puskesmas Kawangkoan, rumah yang menguras waktu dan tenaga.
dimana hubungan tersebut terdapat korelasi Adapula berbagai faktor yang dapat
negatif yang signifikan, hal itu dapat dilihat menyebabkan ibu tidak memberikan ASI
bahwa semakin sibuk ibu dalam bekerja eksklusif meski ibu tidak memiliki
semakin sedikit ibu yang memberikan ASI pekerjaan di luar rumah, yaitu pertama
eksklusif Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor pendidikan dan pengetahuan, makin
kecenderungan pada ibu yang bekerja tidak tinggi pendidikan seseorang, maka makin
memberikan ASI eksklusif karena mudah untuk menerima informasi sehingga
sedikitnya kesempatan untuk memberikan semakin banyak pula pengetahuan yang
dimiliki.

5
e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

Hubungan Status Pekerjaan dengan Marmi & Raharjo, 2012 Menyusui Cara
Pemberian ASI Eksklusif ini memperoleh Mudah, Praktis, dan Nyaman,
hasil yang sama dengan penelitian Dahlan, Jakarta : Arcan Jurnal Ekologi
dkk (2013). Apabila status ibu adalah Kesehatan Vol 2 No 2, 2003,
bekerja maka besar kemungkinan bagi ibu hal :249-254
untuk tidak memberikan ASI eksklusif, hal
itu dikarenakan banyak waktu yang ibu Maritalia, 2012 .ASI, Menyusui dan
habiskan untuk pekerjaannya. Namun Sadari.Yogjakarta :
sebaliknya bila status ibu adalah tidak NuhaMedika
bekerja maka besar kemungkinan bagi ibu Mohanis, W., 2014. Peran Petugas
untuk memberikan ASI eksklusif, karena Kesehatan Dan Status
banyak waktu luang ibu yang dapat Pekerjaan Ibu Dengan
digunakan untuk merawat dan memberikan Pemberian Asi Eksklusif. J.
kasih sayang untuk bayinya. Kesehat. Masy. 8, 40– 45.

SIMPULAN Partiwi, 2008, Manfaat ASI, Ibu Sehat, Bayi


Berdasarkan penelitian yang telah Kuat,
dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas http://www.Mail_arshive.com/
Kawangkoan didapatkan sebagian besar khasanah.nakita/ms.html
responden tidak memberikan ASI eksklusif Prasetyono, D. S. 2009. Buku Pintar Asi
pada bayinya saat bekerja sehingga terdapat Eksklusif, Pengenalan, Praktik
hubungan yang signifikan antara status dan Kemanfaatan-
pekerjaan ibu dengan pemberian asi Kemanfaatannya. Yogyakarta :
ekslusif. Diva Press.
DAFTAR PUSTAKA Siregar, 2012 Statistika untuk Penelitian.
Azzisya, S., 2010. Sukses Menyusui Meski Bandung :Alfabeta.
Bekerja. Gema Insane, Jakarta.
Dahlan, A., Mubin, F., Mustika, D.N.,
2013. Hubungan Status
Pekerjaan Dengan Pemberian
Asi Eksklusif DiKelurahan
Palebon Kecamatan
Pedurungan Kota Semarang.
Http://Jurnal.Unimus.Ac.Id.
Danso, J. (2014). Examining the Practice of
Exclusive Breastfeeding
among Professional Working
Mothers in Kumasi Metropolis
of Ghana. Internasional
Journal of Nursing, 1(1), 11–
24.

Djitowiyono, S dan Weni K. 2010. Asuhan


Keperawatan Neonatus dan
Anak Menurut Cara Pemberian
Asi pada Bayi. Yogyakarta :
Nuha Medika.