Anda di halaman 1dari 40

Proteksi radiasi atau proteksi radiologi 

Pengukuran yang berhubungan dengan pembatasan pengaruh merusak akibat 
radiasi pengion pada manusia, misalnya pembatasan paparan eksternal radiasi, 
pembatasan penyatuan radionuklida, juga pembatasan penyakit akibat cedera 
karena hal di atas
http://ansn.bapeten.go.id/download.php?fid=&filename=65.pdf&down=1

1. Perananan radiology dalam kedokteran?


2. Sinar –X : Definisi , sifat, proses terjadinya ?
3. Prosedur kerja kamar gelap ?
4. Syarat foto thorax layak baca ; indikasi foto thorax ; yg dinilai pd foto thorax?
5. Media kontras beserta kadarnya ?
6. Cholecystografi : Definisi , macam, bahan kontrasnya, prosedurnya ?
7. Prinsip USG ?
8. BNO-IVP : prinsip , prosedur , bahan kontras (dosis), Persiapan, efek samping,
penggunaan/penanggulangan ?
9. Posisi occipital ?
10. Posisi for-opticum
11. Posisi Mastoid
12. Posisi sinus paranasal
13. Posisi cervical
14. Kapan HSG dilakukan pada siklus mens ? mengapa ?
15. Prinsip kerja CT-Scan
16. Persiapan OMP
17. HSG : kontras , indikasi , KI , kenapa di lakukan hari ke-9/10

Jawab :

1. Radiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yg menggunakan energi ion /non ion, yg dapat di gunakan
sebagai sarana diagnosis (normal/sakit) dan therapy (radiasi,fisiotherapy,dll).

2. Definisi Sinar-X

 Pancaran gel. Elektromagnetik yg sejenis dgn gel. Radiasi, Panas, cahaya dan sinar UV, tetapi dgn panjang gel
yg sangat pendek yaitu 1/10.000 pjg gel cahaya tempat proses terjadinya

Sifat Sinar-X :

- Daya tembus sgt besar

- Pjg gel sgt pendek (1/10.000) dr pjg gel chy tampak.

- Dpt mengionisasi zat.

- Dpt menghitamkan plat film (photographic effect)

- Fluoresensi

- Biologic effect  menimbulkan perubahan biologis pd jaringan.


- Penyerapan  mkn ↑ kepadatan (berat atomnya) , >> penyerapannya.

Proses terjadinya Sinar-X :

1. Katoda dipanaskan ( > 20.000 ºc )sampai menyala dgn mengalirkan listrik yg berasal dari transformator.

2. Karena panas, elektron2 dr katoda terlepas.

3. Waktu dihubungkan dengan transformator teg tinggi, elektron2 dipercepat gerakannya menuju anoda dan
dipusatkan ke alat pemusat.

4. Filamen dibuat relative negative thd sasaran (target) dgn memilih potensial tinggi.

5. Awan2 elektron mendadak dihentikan pd sasaran shg terbentuk panas ( 99 % ) dan sinar X (1 %)

6. Pelindung ( perisai ) timah akan mencegah keluarnya Sinar–X dr tabung, shg sinar X yg terbentuk hanya dpt
keluar melalui jendela.

7. Panas yg tinggi pd sasaran akibat benturan electron ditiadakan dgn radiator pendingin.

3. Syarat kamar gelap :

- Ukuran memadai & proporsional dgn kapasitas dan beban kerja

- Terlindung dr radiasi, sinar matahari dan bhn kimia lain, selain lar u/ pengolahan foto.

- Sirkulasi & suhu udara baik ( 16 – 21 ºc)

- Air yg bersih

- Dinding & lantai yg thn keropos

- Kelengkapan alat2 kmr gelap yg ememadai

- Lampu kamar gelap yg aman & tidak bocor

4. Syarat foto thorax yg baik :

- Simetris  jrk clavicula-sternum ka-ki – sinus costofrenicus sama tinggi dalam diafragma.

- Tidak terpotong

- Tidak kabur/goyang

- Tidak ada artefak

- Scapula hrs terbuka


- Densitasnya baik  t’lihat vertebra 1-4 dgn jelas ( selebinya gak jelas )

- Ada label

- Ada marker

- Inspirasi dalam & optimal t’lihat costa 6 ( depan ), costa 1-9 (blkng) dgn jelas.

Indikasi foto thorax :

- Medical check up

- Persiapan operasi

- Trauma thorax  emfisema subkutis, hemato thorax, pneumonia

- Batuk kronis >> 2 mggu

- Nyeri dada

- Kelainan jtg

- Sesak

- Mencari metastasis ca

- Aspirasi

- RSD ( respiration syndrome distress )  kelainan jt congenital , Aspirasi mekonium.

Yg dinilai pd foto thorax:

5. Media kontras  zat yg dapat membedakan antara jaringan dan tulang pada foto Rő.

Macam Media Kontras :

1. Mk positif (BA tinggi )  padat / cair

Co/ Yodium, Barium

2. Mk negative (BA rendah)  gas

Co/ Udara, O2, Co2.

Guna media kontras :

- melihat f/ organ yg diperiksa


- melihat bentuk & anatomi organ

Cara masuk kontras :

- Oral  oesophagography, analisa jtng, duodenum, cholesystograpy oral.

- IV  BNO-IVP , CT-Scan , Cholesysthography IV, Arteriography.

- Intra anal  colon inloop

- Intra vaginal  HSP ( Hystero Salphyngo Graphy )

- Intra uretra  urethrocystography

- Intra ductus  Sialography

- Intra dural  Myelography.

Media kontras & kadar :

- Oesofagus  BaSo4 kental (oral) --- 1 : 2

- Lambung /Duodenum  BaSo4 encer (oral) --- 1 : 3

- Colon  BaS04 enema (>> encer ) --- 1 : 8 / 1 : 10

- HSG Urografin 60%, Lipiodol ultrafluid , Hipaque 5%, Endografin

- BNO – IVP  Urografin 76%, Telebrix 300mg/1amp (sesuai buku), Omniopaque 300 mg.

- RPG/APG  urografin 76% , Telebrix 350 mg ½ amp

- CT-Scan  Iopamiro 350 mg, Ultravist 350-370 mg

- Cholesistography : - Oral  Biloptin /Telepaque 3 gr.

- IV  Iodipamide ( Iodine 50 % ).

- Bronkhografi

KI MK :

- anak2

- lansia

- ggn jtg
- astma

- alergi seafood, obat

- hypertensi

- anxietas tanpa sebab

Reaksi yg timbul ok MK :

1. khemotoksitosis

2. Osmotoksisitas

3. Toksisitas Ion

4. Dosis >>

☺ Efek samping :

RINGAN :

- mual muntah

- rasa panas

- bersin menguap

- tenggorok mengelitik & batuk

th/ :

- tenangkan ps

- miringkan kepala

- beri o2

- gelisa kasih valium 5-10 mg IV pelan2

SEDANG ( rx kulit/sejenis alergi):

- kemerahan local di tempat suntikan

- urtikaria dgn/≠ gatal

- bengkak urtikaria
th/ :

- antihistamin IV

- kortikosteroid IV

BERAT :

- kemerahan di muka & seluruh tubuh

- rasa takut, cemas, gelisah

- utrikaria selurh tbh + gatal

- mengigil & skt punggung

- muntah + hilang kesadaran

th/:

- stop kontras

- baringkan tungkai lbh tinggi dr kepala

- adrenalin 1 mg/1ml IM

- infuse

- bila adrenalin respon - , beri O2 / masker endotracheal

tambahan :

- kortikosteroid IV ( hidrokortison/dexametason)  2- 6 mg / kgBB.

- Antihistamin IV ( prometasin /difenhidramin )  0,5 – 1 mg /kgBB

- Bronchodilator aerosol bila ada spasme / semprot lewat masker / aminofilin IV 10 menit dgn infuse.

Konsul sito : hub IRD / anestesi / ICU

6. Cholesistografi :

Macam : Oral dan IV

Bhn kontras :
- Sodiumopodate (biloptin)

- telepaque

- calsiumopodate (Solubiloptin)

dosis = 3 gr.

Indikasi :

- Ggn fungsi empedu

- Batu

- Radang

- Tumor

- Paska cholesistekomi

- Kolesterosis

- Cholelitiosis

- Kel. Congenital

Kontra indikasi :

- Alergi kontras

- Tirotoksikosis

- Kel. Jtng berat

- KU yg buruk.

Prosedur :

☺Oral :

- makanan siang adl makanan terakhir yg mengandung lemak ( sehari sebelum pemeriksaan dilakukan)

- Stl makan malam yg tidak mengandung lemak, diberikan 3 gran telepaque at biloptin oral

- Foto polos abdomen dibuat sebelum pemberian kontras 12-14 jam stl pemberian kontras.
- Buat foto berdiri u/ melihat gbr batu yg berlapis2 ( msh tersembunyi ) atau foto lateral dekubitus.

- Ps diberikan makanan yg mengandung lemak tdr dr : roti yg diolesi mentega, telur mata sapi & 4 gelas susu. 10
–15 mnt kemudian dibuat foto BNO u/ melihat kontraksi kandung empedu.

- Dpt pula di buat foto 30 mnt & 1 jam.

☺IV :

- kontras lodopomide ( bilegrafin ) 20 ml

- bhn kontras disuntikan p’lahan 15-30 mnt dgn infuse

- permeriksaan dlakukan pd saat pasien uasa

- foto polos abdomen dibuat 15 mnt stlh infuse dimulai, jika duktus sdh tampak dibuat tomogram.

- Foto b’rikutnya 2 jam stlh infuse.

7.Prinsip USG :

- Definisi  prmx dgn m’gunakan gel suara dgn frekwensi tinggi (1-10 Mhz)

- Prinsip  gel frek ↑ dihasilkan dari kristal yg tdp dlm alat yg disbt transducer, perubahan bentuk akibat gaya
mekanis pd kristal akan menimbulkan tegangan listrik(fenomena efek piezoelectric).

Indikasi USG :

- menemukan / menentukan kelainan adanya suatu masa dalam rongga abdomen dan pelvis

- membedakan kista dan masa solid

- mempelajari gerak organ , dan juga dapat mengetahui gerak janin dan jantungnya.

- Membantu biopsy jarum terpimpin

- Mengukur/menentukan volume organ

8.

BNO

yg dinilai kandung kemih & ginjal :

- distribusi udara dlm usus rata / ≠

- contour ginjal N / ≠

- batu : radiopak , radiolusent ( ≠ tampak pd BNO dgn ivp t’ lihat).


- Psoas line simetris /≠

- Tlg vertebra, tlg pelvis  scoliosis, spur

IVP :

Persiapan :

- informed consent dgn materai

- tes alergi thd kntras

- 2 hr sblm px ps hrs makan bubur kecap

- puasa 12 jam ( 8 –10 jam sblmnya diberi laxan dan ps disuruh bergerak agar usus kosong dari feces dan gas)

Kontras :

- urografin 60% at 76% dosis 20, 40, 60 cc ( 1 amp 20 cc ).

- Neonatus / bayi 1 cc / kgBB, minimal 8 cc

Indikasi :

- kelainan congenital

- infeksi menahun ginjal

- tumor ginjal

- urolith

- trauma abdomen

- low back pain yg lama

Kontra indikasi :

- alergi kontras

- f/ ginjal yg buruk ,ureum > 60 % , cratinin > 2 mg %

- decomp cordis

- peny. Hepar yg berat


- MM

- Infeksi akut tr. Urinarius

- Rx. Cairan yg berlebihan.

Prosedur/teknik :

- kontras disuntikan IV perlahan

- koreksi dgn bola tennis, sedikit dibawah crista illiaca

- foto dibuat pd menit ke 10,, 20, 40, …. 24 jam.

Efek samping :

- plgn ringan : nausea, vomit

- nyeri setempat

- sesak krn laryng edema

- vertigo shock

th/ : antihistamin, epinefrin , oxygen , perbaiki KU.

☺Prinsip Ct-Scan (Hounsfield) :

- computer u/ menggantikan peranan film kaset, kamar gelap

- tabung bisi sinar x bhadapan dgn detector

- bergerak 360º , tabung menyinari ps , detector menangkap sisa2 sinar x yg menembus pasien

- data dikirim ke comp dan di olah

- hasil berupa scan.

Prosedure:

Mula2 dibuat topogram /scanogram u/ memprogram potonganmana yg akan dibuat.

Keuntungan :
- bisa melihat lesi otak kecil yg ≠ terdeteksi oleh plain fot

- lokasi lesi otak bisa ditentukan dgn pasti

- daya radiasi tidak terlalu ≠ disbanding plan fot

Kerugian :

- mahal

- ≠ dpt di pakai pd pasien yg non –kooperatif

- perlu waktu lebih lama.

☺HSG

dilakukan pd hari ke 9 –10 sesudah haid dimulai, krm saat itu haid biasanya sdh terhenti dan selaput lender uterus
sifatnya tenang, jika masih ada perdarahan HSG ≠ boleh dilakukan krn takut kontras masuk ke pembuluh dara
balik.

Kontras :

- lipiodol ultrafluid

- urografin 60 %

- endografin

- solpix ( sodium acetrizoat + polyvinylpirolidone)

Indikasi :

- Melihat potensi tuba & dpt menilai cervix

- Jg dpt menilai : peradangan, anomaly , infertilitas, tumor, translokasi IUD.

Kontra indikasi :

- inflamasi akut pd abdomen

- perdarahan pervaginam yg berat

- infeksi vagina
- hamil muda

Komplikasi :

- nyeri

- preshock  hypersensitive

- intravasasi ke vena

- eksasertasi infeksi fundus ?

Abdomen 3 posisi :

Anak2:

1. AP supine  sinar horizontal

2. PA supine -------------------

3. Supine  sinar vertical ; proyeksi AP.

Dewasa :

1. AP supine  sinar vertical

2. Duduk/ ½ duduk / berdiri  AP horizontal

3. LLD  PA horizontal

Ukuran Normal Organ:

Usus halus : P= 6,5 cm L=8,5 cm

Sigmoid : l = 2,5 cm

Colon : p 91 – 125 cm

Appendix : p 2.5 –22.5 cm

Rektum dimulai setinggi S3

Fraktur

Macam :

- krn trauma berat

- spontan / patologik
- stress /fatique

Type fraktur :

- transverses

- dolik

- ovulsi

- kompresi

- komunitif

- greenstick

- epifisis dgn separasi

- impresi

www.geocities.com/koskap3sakti/pretestradiof.html

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang
elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal di sekitar
kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas makanan (microwave oven),
komputer, dan lain-lain.

Penemuan Sinar-X

Di akhir tahun 1895, Roentgen (Wilhelm Conrad Roentgen, Jerman, 1845-1923), seorang
profesor fisika dan rektor Universitas Wuerzburg di Jerman dengan sungguh-sungguh
melakukan penelitian tabung sinar katoda. Ia membungkus tabung dengan suatu kertas
hitam agar tidak terjadi kebocoran fotoluminesensi dari dalam tabung ke luar.
Lalu ia membuat ruang penelitian menjadi gelap. Pada saat membangkitkan sinar katoda,
ia mengamati sesuatu yang di luar dugaan. Pelat fotoluminesensi yang ada di atas meja
mulai berpendar di dalam kegelapan. Walaupun dijauhkan dari tabung, pelat tersebut tetap
berpendar. Dijauhkan sampai lebih 1 m dari tabung, pelat masih tetap berpendar. Roentgen
berpikir pasti ada jenis radiasi baru yang belum diketahui terjadi di dalam tabung sinar katoda dan membuat
pelat fotoluminesensi berpendar. Radiasi ini disebut sinar-X yang maksudnya adalah radiasi yang belum
diketahui.
Selanjutnya... | 18329 bytes lagi | Beri komentar?
Radiasi : JENIS RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/22 2:31:28 (4250 reads)

Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi non-pengion.

Radiasi Pengion

Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion
negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha,
partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus.
Selanjutnya... | 4451 bytes lagi | 2 komentar
Radiasi : SIFAT RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/22 1:17:38 (3484 reads)

Ada dua macam sifat radiasi yang dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan sumber radiasi pada suatu
tempat atau bahan, yaitu sebagai berikut :
Selanjutnya... | 964 bytes lagi | Beri komentar?
Radiasi : SUMBER RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/21 23:25:12 (4191 reads)

Radiasi berada di mana-mana, karena sumber radiasi tersebar di mana saja di alam semesta, baik yang terjadi
secara alami (sumber radiasi alam) maupun yang terjadi karena aktivitas manusia (sumber radiasi buatan).
Sumber radiasi alam sudah ada sejak alam semesta terbentuk, dan radiasi yang dipancarkan oleh sumber alam
ini disebut radiasi latar belakang. Sedangkan sumber radiasi buatan baru diproduksi di abad 20, tetapi telah
memberikan paparan secara signifikan kepada manusia.
Selanjutnya... | 7751 bytes lagi | Beri komentar?
Radiasi : INTERAKSI RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/21 19:47:07 (6222 reads)

Apa yang akan terjadi apabila radiasi berinteraksi dengan suatu materi ?

Radiasi apabila menumbuk suatu materi maka akan terjadi interaksi yang akan menimbulkan berbagai efek.
Efek-efek radiasi ini bergantung pada jenis radiasi, energi dan juga bergantung pada jenis materi yang
ditumbuk. Pada umumnya radiasi dapat menyebabkan proses ionisasi dan atau proses eksitasi ketika melewati
materi yang ditumbuknya.
Selanjutnya... | 13724 bytes lagi | Beri komentar?
Radiasi : SATUAN RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/17 21:05:52 (3708 reads)

Apakah radiasi mempunyai besaran satuan?

Sama halnya dengan besaran fisis lainnya, seperti panjang yang mempunyai satuan (ukuran) meter, inchi, feet;
satuan berat (kilogram, ton, pound); satuan volume (liter, meter kubik); maka radiasi pun mempunyai satuan
atau ukuran untuk menunjukkan besarnya paparan atau pancaran radiasi dari suatu sumber radiasi maupun
banyaknya dosis radiasi yang diberikan atau diterima oleh suatu medium yang terkena radiasi.
Mengapa radiasi nuklir mempunyai satuan tidak lain karena radiasi nuklir, seperti halnya panas dan cahaya
yang dipancarkan dari matahari, membawa (mentransfer) energi yang diteruskan ke bumi dan atmosfir. Jadi
radiasi nuklir juga membawa atau mentransfer energi dari sumber radiasi yang diteruskan ke medium yang
menerima radiasi. Sumber radiasi dapat berasal dari zat radioaktif, pesawat sinar-X, dan lainnya.
Selanjutnya... | 8264 bytes lagi | 1 komentar
Radiasi : EFEK BIOLOGI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/17 20:32:04 (5779 reads)

INTERAKSI DENGAN MATERI BIOLOGIK

Bagaimana terjadinya interaksi radiasi dengan materi biologik?

Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas
jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit
fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti
pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua komponen utama, yaitu sitoplasma dan
inti sel (nucleus). Sitoplasma mengandung sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi
metabolisme penting sel. Inti sel mengandung struktur biologic yang sangat kompleks yang disebut kromosom
yang mempunyai peranan penting sebagai tempat penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan
dengan keturunan atau karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang
mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA (Deooxyribonucleic acid) yang
membawa suatu kode informasi tertentu dan spesifik.
Selanjutnya... | 12393 bytes lagi | Beri komentar?
Radiasi : PROTEKSI RADIASI
Diposting oleh yudhi on 2008/1/17 19:45:14 (4128 reads)

Apakah ada prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan?

Dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan ada ketentuan yang harus dipatuhi untuk mencegah
penerimaan dosis yang tidak seharusnya terhadap seseorang. Ada 3 prinsip yang telah direkomendasikan oleh
International Commission Radiological Protection (ICRP) untuk dipatuhi, yaitu :

Apakah ada prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan?

Dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan ada ketentuan yang harus dipatuhi untuk mencegah
penerimaan dosis yang tidak seharusnya terhadap seseorang. Ada 3 prinsip yang telah direkomendasikan oleh
International Commission Radiological Protection (ICRP) untuk dipatuhi, yaitu :

Justifikasi
Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya harus didasarkan pada azaz manfaat. Suatu kegiatan yang
mencakup paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika kegiatan itu akan menghasilkan keuntungan yang
lebih besar bagi individu atau masyarakat dibandingkan dengan kerugian atau bahaya yang timbul terhadap
kesehatan.

Limitasi
Dosisi ekivalen yang diterima pekerja radiasi atau masyarakat tidak boleh melalmpaui Nilai Batas Dosis (NBD)
yang telah ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi dimaksudkan untuk mencegah munculnya efek
deterministik (non stokastik) dan mengurangi peluang terjadinya efek stokastik.

Optimasi
Semua penyinaran ahrus diusahakan serendah-rendahnya (as low as reasonably achieveable - ALARA), dengan
mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan
sumber radiasi harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar paparan radiasi yang terjadi dapat ditekan
serendah-rendahnya. Dengan demikian, sistem pembatasan dosis ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Pada suatu kasus tertentu, ada kalanya ketiga prinsip di atas tidak dapat dipenuhi seluruhnya. Misalnya dalam
penggunaan radiasi untuk kesehatan, tidak mungkin menerapkan batas dosis radiasi terhadap pasien. Pada
pemeriksaan sinar-X, seseorang menerima dosis beberapa kali melebihi batas yang ditentukan bagi masyarakat,
dan dalam radioterapi (penyembuhan penyakit dengan radiasi) batas dosisnya seratus kali melebihi batas yang
ditentukan untuk para pekerja radiasi. Pemikirannya adalah bahwa manfaat yang diperoleh dari pengobatan ini
lebih besar daripada bahaya yang diakibatkan oleh dosis yang diberikan, walaupun dosis yang diberikan tinggi.
Tanpa radioterapi dan tanpa menerima dosis radiasi, pengaruh penyakitnya (misalnya kanker) akan tetap fatal
bagi penderitanya. Untuk mengurangi dampak dari penggunaan radiasi dosis tinggi maka faktor keselamatan dan
keamanan harus tetap diperhatikan, antara lain: peralatan yang digunakan harus beroperasi dengan baik
memenuhi standarisasi dan kalibarasi, operator yang terlatih, mematuhi prosedur dan ketentuan yang berlaku.

Batas Dosis

Bagaimana pembatasan dosis radiasi pada manusia baik untuk pekerja radiasi maupun masyarakat umum ?

Pembatasan dosis radiasi terhadap manusia tujuannya adalah untuk melindungi manusia dan lingkungan dari
resiko radiasi yang dapt mengganggu kesehatan. Pembatasan dosis radiasi baru dikenal pada tahun 1928 yaitu
sejak dibentuknya organisasi internasional untuk proteksi radiasi (International Commission on Radiological
Protection/ICRP). Pelopor proteksi radiasi yang terkenal adalah seorang ilmuwan dari Swedia bernama Rolf
Sievert. Ia lahir pada tahun 1896 ketika Henri Becquerel menemukan zat radioaktif alam. Sievert kemudian
diabadikan sebagai satuan dosis paparan radiasi dalam sistem Satuan Internasional (SI). 1 Sievert (Sv)
menunjukkan berapa besar dosis paparan radiasi dari sumber radioaktif yang diserap oleh tubuh per satuan massa
(berat), yang mengakibatkan kerusakan secara biologis pada sel/jaringan.
Menurut rekomendasi ICRP, pekerja radiasi yang di tempat kerjanya terkena radiasi tidak boleh menerima dosis
radiasi lebih dari 50 mSv per tahun dan rata-rata pertahun selama 5 tahun tidak boleh lebih dari 20 mSv. Nilai
maksimum ini disebut Nilai Batas Dosis (NBD). Jika wanita hamil yang di tempat kerjanya terkena radiasi,
diterapkan batas radiasi yang lebih ketat. Dosis radiasi paling tinggi yang diizinkan selama kehamilan adalah 2
mSv.

Masyarakat umum dilindungi terhadap radiasi dengan menetapkan tidak ada satu kegiatanpun yang boleh
mengenai masyarakat dengan dosis melebihi rata-rata 1 mSv per tahun dan tidak boleh ada satupun kejadian yang
boleh mengakibatkan masyarakat menerima lebih dari 5 mSv.

Khusus untuk daerah di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), ditetapkan batas-batas yang bahkan
lebih ketat. Dosis tertinggi yang diizinkan diterima oleh masyarakat yang tinggal di sekitar PLTN adalah 0,1 mSv
pertahun. Pada kenyataannya kebanyakan PLTN hanya melepaskan sangat sedikit zat radioaktif ke lingkungan,
yaitu antara 0,001 sampai 0,01 pertahun.

Prinsip Dasar

Bagaimana caranya melakukan pencegahan terhadap paparan radiasi dari suatu sumber radiasi?

Pengamanan tehadap pekerja radiasi, masyarakat dan lingkungan sekitar terhadap radiasi harus diupayakan
seceermat mungkin untuk mencegah terjadinya paparan yang
berlebihan. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut :

Menggunakan pelindung
Laju dosis dapat dikurangi dengan memasang penahan radiasi
diantara sumber radiasi dan orang yang bekerja. Dengan teknik
ini maka seseorang dimungkinkan bekerja pada jarak yang tidak
terlalu jauh dari sumber radiasi, sehingga pekerjaan dapat
dikerjakan dengan baik dan pekerja tidak menerima paparand osis
yang berlebihan. Jenis penahan radiasi yang digunakan
bergantung pada jenis dan energi radiasi.

Radiasi Alfa
Partikel alfa memiliki jangkauan yang pendek di udara dan dapat
dihentikan dengan selembar kertas.
Radiasi Beta.
Dalam interaksi partikel beta berenergi tinggi dengan bahan dapat menimbulkan pancaran sinar-x yang dikenal
sebagai radiasi brehmstrahlung. Oleh karena itu, untuk partikel beta dibutuhkan penahan radiasi bernomor atom
rendah (untuk memindahkan produksi bremstrahlung) dan dilapisi bahan bernomor atom tinggi (untuk
mengatenuasi intensitas bremstrahlunbg yang terjadi). Bahan yang direkomendasikan untuk menahan radiasi beta
energi tinggi adalah perspeks yang dikelilingi timbal.
Radiasi Gamma.
Apabila sinar gamma berinteraksi dengan bahan, radiasi tersebut tidak diserap seluruhnya oleh bahan. Sebaliknya
radiasi tersebut akan mengalami atenuasi atau pengurangan intensitas. Bahan yang paling baik untuk digunakan
sebagai penahan radiasi gamma adalah bahan yang bernomor atom tinggi, seperti timbal, beton dan uranium susut
kadar.
Neutron.
Terserapnya neutron oleh penahan adalah karena perlambatan energi neutron melalui tumbukan dan kemudian
terjadi tangkapan neutron. Untuk dua kejadian ini, bahan penahan yang sesuai adalah kombinasi bahan yang
kandungan hidrogennya tinggi (air, lilin paraffin, polietilen dan beton) untuk memperlambat neutron. Boron
digunakan untuk menangkap neutron lambat. Lilin paraffin yang mengandung boron digunakan sebagai penahan
ukuran kecil. Reaksi tangkapan dengan boron-10 : 10B (n, ?)7Li menyatakan bahwa inti ataom boron-10
menyerap neutron, mengemisikan partikel alfa dan terbentuk inti lithium-7. Partikel alfa mudah diserap oleh
bahan sekelilingnya.

Menjaga jarak.

Radiasi dipancarkan dari sumber radiasi ke segala arah. Semakin dekat tubuh kita dengan sumer radiasi maka
paparan radiasi yang kita terima akan semakin besar. Untuk mencegah paparan radiasi tersebut kita dapat menjaga
jarak pada tingkat yang aman dari sumber radiasi.

Membatasi waktu.

Sedapat mungkin diupayakan untuk tidak terlalu lama berada di


dekat sumber radiasi untuk mencegah terjadinya paparan radiasi
yang besar. Untuk itu kepada pekerja radiasi diberlakukan
pengaturan waktu bekerja di daerah radiasi.

Untuk masyarakat umum pencegahan terhadap paparan radiasi


yang berasal dari instalasi nuklir dilakukan dengan mengatur jarak
antara instalasi nuklir dengan lokasi tempat tinggal masyarakat di
sekitarnya pada jarak tertentu. Selain itu juga dibuat pagar
pembatas area untuk mencegah masyarakat tidak melakukan
aktivitas di dekat instalasi tersebut, kecuali dengan izin khusus dari
penguasa instalasi. Untuk penanganan terhadap jenis-jenis radiasi
yang berasal dari sumber alam tidak diatur secara khusus karena
paparan radiasinya sangat rendah dan tidak menyebabkan gangguan kesehatan.

2. http://www.infonuklir.com/modules/news/article.php?storyid=21

SIFAT-SIFAT SINAR-X

 Sinar-X ialah satu jenis gelombang elektromagnet yang mempunyai panjang gelombang yang pendek
(dalam tertib 10-9 -10-11 m).
 Sinar-X mempunyai kuasa pengionan yang rendah, ia boleh mengionkan molekul-molekul udara.
 Sinar-X mempunyai kuasa penembusan yang tinggi.

Sinar-X yang mempunyai kuasa penembusan yang sangat tinggi dipanggil sinar-X keras. Ia mempunyai
panjang gelombang yang pendek. Ia biasanya digunakan dalam perindustrian.

Sinar-X yang mempunyai kuasa penembusan yang kurang tinggi dipanggil sinar-X lembut. Ia mempunyai
panjang gelombang yang lebih panjang. Ia biasanya digunakan dalam bidang perubatan.

 Sinar-X boleh dibelaukan oleh satu hablur. Oleh kerana pemisahan atom dalam hablur adalah dalam tertib
pajang gelombang sinar-X (10-10m), maka hablur boleh digunakan sebagai satu parutan belauan untuk
sinar-X.

http://www.fortunecity.com/tattooine/swampthing/221/sinar_x_sifat2.html

Terjadinya sinar-X

Sinar-X dapat terbentuk apabila partikel bermuatan misalnya electron oleh pengaruh gaya inti atom bahan
mengalami perlambatan. Sinar-X yang tidak lain adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melalui
proses ini disebut sinar-X bremsstrahlung. Sinar-X yang terbentuk dengan cara demikian mempunyai energi
paling tinggi sama dengan energi kinetic partikel bermuatan pada waktu terjadinya perlambatan. Andaikata mula-
mula ada seberkas electron bergerak masuk kedalam bahan dengan energi kinetic sama, electron mungkin saja
berinteraksi dengan atom bahan itu pada saat dean tempat yang berbeda-beda. Karena itu berkas electron
selanjutnya biasanya terdiri dari electron yang memiliki energi kinetic berbeda-beda. Ketika pada suatu saat
terjadi perlambatan dan menimbulkan sinar-X, sinar-X yang terjadi umumnya memiliki energi yang berbeda-beda
sesuai dengan energi kinetik elektron pada saat terbentuknya sinar-X dan juga bergantung pada arah pancarannya.
Berkas sinar-X yang terbentuk ada yang berenergi rendah sekali sesuai dengan energi elektron pada saat
menimbulkan sinar-X itu, tetapi ada yang berenergi hampir sama dengan energi kinetik elektron pada saat
elektron masuk kedalam bahan. Dikatakan berkas sinar-X yang terbentuk melalui proses ini mempunyai spektrum
energi nirfarik. Sinar-X dapat juga terbentuk dalam proses perpindahan elektron elektron atom dari tingkat energi
yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah, misalnya dalam proses lanjutan efek fotolistrik.
Sinar-X yang terbentuk dengan cara seperti ini mempunyai energi yang sama dengan selisih energi antara kedua
tingkat energi yang berkaitan. Karena energi ini khas untuk setiap jenis atom, sinar yang terbentuk dalam proses
ini disebut sinar-X karakteristik, kelompok sinar-X demikian mempunyai energi farik. sinar-X karakteristik yang
timbul oleh berpindahnyaelektron dari suatu tingkat energi menuju ke lintasan k, disebut sinar-X garis K,
sedangkan yang menuju ke lintasan l, dan seterusnya. Sinar-X bremsstrahlung dapat dihasilkan melalui pesawat
sinar-X atau pemercepat partikel. Rangkaian dasar pesawat sinar-X terlihat pada gambar di atas.pada dasarnya
pesawat sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu
tegangan listrik pada kedua elektrode dalam tabung sinar-X, dan unit pengatur.bagian pesawat sinar-X yang
menjadi sumber radiasi adalah tabung sinar-X. Didalam tabung pesawat sinar-X yang biasanya terbuat dari bahan
gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung pesawat
sinar-X dibuat hampa udara agar elektron yang berasal dari filamen tidak terhalang oleh molekul udara dalam
perjalanannya menuju ke anode. Filamen yang di panasi oleh arus listrik bertegangan rendah (If) menjadi sumber
elektron. Makin besar arus filamen If, akan makin tinggi suhu filamen dan berakibat makin banyak elektron
dibebaskan persatuan waktu. Elekitron yang dibebaskan oleh filamen tertarik ke anode oleh adanya beda potensial
yang besar atau tegangan tinggi antara katode dan anode yang dicatu oleh unit sumber tegangan tinggi (potensial
katode beberapa puluh hingga beberapa ratus kV atau MV lebih rendah dibandingkan potensial anode), elektron
ini menabrak bahan target yang umumnya bernomor atom dan bertitik cair tinggi (misalnya tungsten) dan
terjadilah proses bremsstrahlung. Khusus pada pemercepat partikel energi tinggi beberapa elektron atau partikel
yang dipercepat dapat agak menyimpang dan menabrak dinding sehingga menimbulkan bremsstrahlung pada
dinding. Beda potensial atau tegangan antara kedua elektrode menentukan energi maksimum sinar-X yang
terbentuk, sedangkan fluks sinar-X bergantung pada jumlah elektron persatuan waktu yang sampai ke bidang
anode yang terakhir ini disebut arus tabung It yang sudah barang tentu bergantung pada arus filamen It. Namun
demikian dalam batas tertentu, tegangan tabung juga dapat mempengaruhi arus tabung. Arus tabung dalam sistem
pesawat sinar-X biasanya hanya mempunyai tingkat besaran dalam milliampere (mA), berbeda dengan arus
filamen yang besarnya dalam tingkat ampere. Spektrum energi sinar-X pada pesawat sinar-X jenis ortho terlihat
pada gambar dibawah. Spektrum garis yang biasanya muncul menunjukkan adanya sinar-X karakteristik. Pesawat
sinar-X yang tidak dinyalakan atau tidak diberikan tegangan tinggi tidak memancarkan sinar-X. Dari uraian diatas
kita ketahui bahwa bidang target dalam tabung sinar-X itulah sumber radiasi yang sebenarnya. Bidang ini disebut
bidang fokus. Pada proses bremsstrahlung sinar-X mempunyai kemungkinan dipancarkan kesegala arah. Namun
demikian bagian dalam tabung atau di sekitar tabung, misalnya logam penghantar anode gelas tabung dan juga
rumah tabung yang biasanya terbuat dari logam berat menyerap sebagian besar sinar-X yang dipancarkan
sehingga sinar-X yang keluar dari rumah tabung, kecuali yang mengarah ke jendela tabung sudah sangat sedikit.
Sinar-X yang dimanfaatkan adalah berkas yang mengarah ke jendela bagian yang tipis dari tabung. Pesawat sinar-
X energi tinggi (s/d tingkat MV) biasanya lebih dikenal dengan nama pemercepat partikel. Dalam pesawat ini
percepatan elektron dilaksanakan bertingkat-tingkat sehingga pada waktu mencapai target mempunyai energi
sangat tinggi, misalnya ada yang sampai setinggi 20 MV atau lebih. Energi sinar-X yang dipancarkan sudah tentu
juga sangat tinggi. Sinar-X yang dipancarkan dari pesawat pemercepat partikel memiliki energi yang lebih
seragam dibandingkan dengan yang dipancarkan melalui pesawat sinar-X energi rendah. Sasaran pada pesawat
pemercepat partikel biasanya sangat tipis, karena ketika mencapai target elektron mempunyai energi yang sama,
energi sinar-X yang dipancarkan juga hampir sama. Selain itu arah berkas sinar-X hampir seluruhnya kedepan.

http://radiografer.wordpress.com/2008/06/30/terjadinya-sinar-x/

MENGUKUR KUALITAS RADIASI KELUARAN 
PESAWAT SINAR­X 
Suyati dan Mukhlis Akhadi 
Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan Radiasi ­ BATAN 

Jl. Cinere Pasar Jumat, Jakarta 12440 

PO Box 7043 JKSKL Jakarta 12070
PENDAHULUAN 
Sinar­X ditemukan pertama kali oleh 
fisikawan berkebangsaan Jerman Wilhelm C. 
Roentgen pada tanggal 8 November 1895. Saat itu 
Roentgen bekerja menggunakan tabung Crookes di 
laboratoriumnya di Universitas Wurzburg. Dia 
mengamati nyala hijau pada tabung yang
sebelumnya menarik perhatian Crookes. Roentgen 
selanjutnya mencoba menutup tabung itu dengan
kertas hitam dengan harapan agar tidak ada cahaya 
tampak yang dapat lewat. Namun setelah ditutup 
ternyata masih ada sesuatu yang dapat lewat.
Roentgen menyimpulkan bahwa ada sinar­sinar 
tidak tampak yang mampu menerobos kertas hitam 
tersebut [1].
Pada saat Roentgen menyalakan sumber
listrik tabung untuk penelitian sinar katoda, beliau 
mendapatkan bahwa ada sejenis cahaya berpendar 
pada layar yang terbuat dari barium platino cyanida
yang kebetulan berada di dekatnya. Jika sumber 
listrik dipadamkan, maka cahaya pendar pun hilang.
Roentgen segera menyadari bahwa sejenis sinar
yang tidak kelihatan telah muncul dari dalam
tabung sinar katoda. Karena sebelumnya tidak 
pernah dikenal, maka sinar ini diberi nama sinar­X 
[2]. Namun untuk menghargai jasa beliau dalam 
penemuan ini maka seringkali sinar­X itu dinamai 
juga sinar Roentgen. 
Nyala hijau yang terlihat oleh Crookes dan 
Roentgen akhirnya diketahui bahwa sinar tersebut 
tak lain adalah gelombang cahaya yang dipancarkan 
oleh dinding kaca pada tabung sewaktu elektron 
menabrak dinding itu, sebagai akibat terjadinya
pelucutan listrik melalui gas yang masih tersisa di
dalam tabung. Pada saat yang bersamaan elektron 
itu merangsang atom
pada kaca untuk 
mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang
panjang gelombangnya sangat pendek dalam bentuk
sinar­X. Sejak saat itu para ahli fisika telah 
mengetahui bahwa sinar­X dapat dihasilkan bila 
elektron dengan kecepatan yang sangat tinggi 
menabrak atom [3].
Tergiur oleh penemuannya yang tidak 
sengaja itu, Roentgen memusatkan perhatiannya
pada penyelidikan sinar­X. Dari penyelidikan itu 
beliau mendapatkan bahwa sinar­X dapat 
memendarkan berbagai jenis bahan kimia [1]. Sinar­
X juga dapat menembus berbagai materi yang tidak 
dapat ditembus oleh sinar tampak biasa yang sudah 
dikenal pada saat itu. Di samping itu, Roentgen juga 
bisa melihat bayangan tulang tangannya pada layar
yang berpendar dengan cara menempatkan
tangannya di antara tabung sinar katoda dan layar 
[4]. Dari hasil penyelidikan berikutnya diketahui 
bahwa sinar­X ini merambat menempuh perjalanan
lurus dan tidak dibelokkan baik oleh medan listrik 
maupun medan magnet. Atas jasa­jasa Roentgen 
dalam menemukan dan mempelajari sinar­X ini, 
maka pada tahun 1901 beliau dianugerahi Hadiah 
Nobel Bidang Fisika yang untuk pertama kalinya
diberikan dalam bidang ini.
Penemuan Sinar­X ternyata mampu 
mengantarkan ke arah terjadinya perubahan
mendasar dalam bidang kedokteran. Dalam kegiatan
medik, Sinar­X dapat dimanfaatkan untuk diagnosa 
maupun terapi. Untuk tujuan medik, tubuh manusia 
yang pada prinsipnya dapat dibedakan baik secara

Page 2
8 – 
Suyati dan Mukhlis Akhadi 
Buletin ALARA Vol. 2 No. 2, Desember 1998
anatomi maupun fisiologi, pada
mulanya 
merupakan obyek yang tidak dapat dilihat secara
langsung oleh mata. Namun dengan ditemukannya 
sinar­X, tubuh manusia ternyata dapat diubah
menjadi obyek yang transparan. Sinar­X mampu 
membedakan kerapatan dari berbagai jaringan 
dalam tubuh manusia yang dilewatinya. Dengan
penemuan sinar­X ini, informasi mengenai tubuh 
manusia menjadi mudah diperoleh tanpa perlu
melakukan operasi bedah. Masyarakat mulai 
percaya pada kemampuan sinar­X ketika Roentgen 
mempertontonkan gambar foto telapak tangan dan
jari­jari istrinya yang memakai cincin yang dibuat 
menggunakan sinar­X [5].
Proses pembuatan gambar anatomi tubuh 
manusia dengan sinar­X dapat dilakukan pada 
permukaan film fotografi. Gambar terbentuk karena 
adanya perbedaan intensitas sinar­X yang mengenai
permukaan film setelah terjadinya penyerapan 
sebagian sinar­X oleh bagain tubuh manusia. Daya
serap tubuh terhadap sinar­X sangat bergantung
pada kandungan unsur­unsur yang ada di dalam 
organ. Tulang manusia yang didominasi oleh unsur 
Ca mempunyai kemampuan menyerap yang tinggi
terhadap sinar­X. Karena penyerapan itu maka
sinar­X yang melewati tulang akan memberikan
bayangan gambar pada film yang berbeda 
dibandingkan bayangan gambar dari organ tubuh
yang hanya berisi udara seperti paru­paru, atau air 
seperti jaringan lunak pada umumnya. 
PROSES TERBENTUKNYA SINAR­X
Dalam perkembangan berikutnya, sinar­X  dibangkitkan dengan jalan menembaki target logam dengan elektron 
cepat dalam suatu tabung vakum sinar katoda [6]. Elektron sebagai proyektil dihasilkan dari pemanasan filamen 
yang juga berfungsi sebagai katoda. Elektron dari filamen  dipercepat gerakannya menggunakan tegangan 
listrik berorde 10
­ 10
6Volt. Elektron yang  bergerak sangat cepat itu akhirnya ditumbukkan ke  target logam bernomor atom tinggi dan
suhu lelehnya juga tinggi. Target logam ini sekaligus  juga berfungsi sebagai anoda. Ketika elektron
berenergi tinggi itu menabrak target logam, maka sinar­X akan terpancar dari permukaan logam 
tersebut, seperti ditunjukkan pada Gambar 1. 
Gambar 1: Proses terbentuknya sinar­X 
Elektron sebagai partikel bermuatan listrik 
yang bergerak dengan kecepatan tinggi, apabila 
melintas dekat ke inti suatu atom, maka gaya tarik 
elektrostatik inti atom yang kuat akan menyebabkan 
elektron membelok dengan tajam. Peristiwa itu 
menyebabkan
elektron kehilangan energinya 
dengan memancarkan radiasi elektromagnetik yang 
dikenal sebagai sinar­X bremsstrahlung [7]. Total 
bremsstrahlung per atom kira­kira berbanding lurus
dengan (Z/m)
2
, dengan Z adalah nomor atom bahan
penyerap dan m adalah massa partikel bermuatan. 
Karena bergantung dengan faktor (1/m)
2
, maka  jumlah bremsstrahlung  dapat diabaikan 
keberadaannya untuk semua partikel kecuali 
elektron, karena harga m untuk elektron yang sangat
rendah sehingga nilai (1/m)

sangat tinggi. 
Untuk berkas elektron yang datang menuju 
target tipis, fraksi dari energi elektron yang diubah 
menjadi sinar­X bremsstrahlung (f) adalah [7] : 
f ≈ 7 x 10
­4
Z E

(1) 
dengan : Z adalah nomor atom bahan penyerap
dan E
k
adalah energi berkas dalam MeV. 
Berdasarkan persamaan (1), 1 MeV berkas elektron
akan kehilangan sekitar 6 % energinya menjadi

Page 3
Mengukur kualitas radiasi keluaran pesawat sinar­X
– 9 
Buletin ALARA Vol. 2 No. 2, Desember 1998
sinar­X jika berkas tersebut diserap oleh timbal (Z =
82). Fraksi bremsstrahlung yang terbentuk menjadi 
kecil apabila berkas elektron diserap oleh bahan 
bernomor atom rendah. Fraksi energi elektron yang
berubah menjadi bremsstrahlung hanya 0,4 % jika
diserap oleh aluminium (Z = 13). 
Sinar­X dapat pula terbentuk melalui proses 
perpindahan elektron atom dari tingkat energi yang
lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih
rendah [1,2,6]. Adanya tingkat­tingkat energi dalam 
atom dapat digunakan untuk menerangkan terjadi­
nya spektrum sinar­X dari suatu atom. Sinar­X yang 
terbentuk melalui proses ini mempunyai energi
sama dengan selisih energi antara kedua tingkat
energi elektron tersebut. Karena setiap jenis atom
memiliki tingkat­tingkat energi elektron yang 
berbeda­beda, maka sinar­X yang terbentuk dari
proses ini disebut sinar­X karakteristik. 
Sinar­X karakteristik terjadi karena elektron
atom yang berada pada kulit K terionisasi. 
Kekosongan kulit K ini segera diisi oleh elektron 
dari kulit di atasnya. Jika kekosongan pada kulit K 
diisi oleh elektron dari kulit L, maka akan dipancar­
kan sinar­X karakteristik K
α
. Jika kekosongan itu
diisi oleh elektron dari kulit M, maka akan
dipancarkan sinar­X karakteristik K
β
. Jadi sinar­X
karakteristik timbul karena adanya transisi elektron 
dari tingkat energi lebih tinggi ke tingkat energi 
yang lebih rendah seperti ditunjukkan pada Gambar 
2. Sinar­X bremsstrahlung mempunyai spektrum 
energi kontinyu yang lebar, sementara spektrum
energi dari sinar­X karakteristik adalah diskrit 
berupa dua buah garis tajam seperti ditunjukkan
pada Gambar 3. 
ENERGI SINAR­X
Kualitas ataupun energi sinar­X umumnya
dinyatakan dalam bentuk nilai tegangan yang 
digunakan dalam tabung pesawat. Semakin besar
tegangan tabung akan semakin tinggi energi sinar­X 
yang dipancarkannya. Misalnya tabung yang
dioperasikan pada tegangan puncak 100.000 Volt,
biasanya dinyatakan dengan kVp = 100 kV. Energi
maksimum sinar­X yang dihasilkan oleh pesawat
tersebut adalah 100 keV. Namun hanya sebagian
kecil keluaran sinar­X yang mencapai energi
tersebut, sedang sebagian besarnya memiliki energi
yang lebih rendah [6,7]. Tabung sinar­X merupakan
contoh paling sederhana tentang jenis pemercepat 
partikel tunggal. Dalam tabung ini elektron yang
dipancarkan oleh filamen panas dipercepat melalui 
tabung hampa menuju target tungsten atau wolfram 
(W) yang diberi beda potensial positif tinggi 
terhadap sumber elektron. 
Gambar 2 : Proses terbentuknya sinar­X 
karakteristik 
Gambar 3 : Spektrum energi Sinar­X 
Pada saat berkas elektron menabrak target, 
sebagian besar energi elektron hilang dalam bentuk
panas, sebagian energi lainnya hilang untuk

Page 4
10 – 
Suyati dan Mukhlis Akhadi 
Buletin ALARA Vol. 2 No. 2, Desember 1998
memproduksi 
sinar­X, 
namun 
ada 
pula 
kemungkinannya semua energi kinetik elektron
tersebut diubah menjadi foton sinar­X [1,2]. Besar 
energi elektron (E) yang dipercepat dengan beda 
potensial V dirumuskan dengan : 
E = V e 
(2) 
dengan e adalah muatan elementer elektron (1,6 x 
10
­19
C). 
Untuk keperluan medis, energi efektif sinar­
X sering kali cukup disetarakan dengan nilai tebal 
paro atau half value layers (HVL) [8], yaitu tebal
filter untuk mengurangi intensitas sinar­X menjadi 
setengah dari intensitas mula­mula. Nilai HVL 
ditentukan oleh koefisien pelemahan linier (µ) yang 
nilainya berbeda untuk energi yang berbeda [9].
Oleh sebab itu, nilai µ tersebut dapat dipakai untuk
mengidentifikasi energi atau paling tidak
memperkirakan kualitas radiasi jenis foton. Nilai µ
dapat dihitung melalui penurunan persamaan dasar 
pengurangan intensitas radiasi sebagai berikut [10] : 
I
t
= I
0
exp (­µ t) atau µ = (1/t) ln (I
0
/I
t
) (3) 
Dengan I
t
adalah intensitas radiasi setelah melalui
bahan penyerap dengan ketebalan t, dan I
0
adalah
intensitas radiasi mula­mula. Untuk t = 1 HVL, 
maka I
t
= ½ I
0
, sehingga diperoleh persamaan baru : 
HVL = 0,693 / µ
(4) 
PENGUKURAN KUALITAS SINAR­X
Kebergantungan kualitas radiasi terhadap 
kVp biasanya dinyatakan dengan kebergantungan­
nya terhadap nilai HVL aluminium (Al) atau 
tembaga (Cu) [11]. Oleh sebab itu, untuk mengukur 
kualitas radiasi keluaran pesawat sinar­X dapat 
dilakukan melalui pengukuran HVL dari bahan 
filter. Aluminium digunakan untuk sinar­X dengan 
kVp hingga 100 kV, sedang tembaga digunakan
untuk kVp di atas 100 kV. Kemurnian filter Al tidak
boleh kurang dari 99,99 % untuk HVL < 0,2 mmAl 
dan 99,8 % jika HVLnya ≥ 0,2 mm. Ketebalan filter 
tidak boleh lebih dari ± 5 µm atau ± 1 %.
Metode paling sederhana untuk pengukuran 
HVL adalah melalui pengukuran nilai paparan 
sinar­X pada posisi tertentu menggunakan
dosimeter saku (pocket dosimeter). Dosimeter
pengionan gas dalam bentuk dosimeter saku
umumnya tersedia pada setiap instalasi yang 
mengoperasikan sumber radiasi. Dosimeter saku
biasanya dipakai secara rutin sebagai pelengkap 
terhadap dosimeter perorangan untuk pemantauan
dosis pekerja radiasi/operator pesawat sinar­X 
[12,13]. Oleh sebab itu, dosimeter ini diharapkan
ada pada setiap rumah sakit yang memiliki pesawat
sinar­X. Dengan tambahan filter aluminium yang 
cukup mudah didapatkan dan dapat dipakai untuk
selama­lamanya tanpa memerlukan perawatan
khusus, dosimeter saku dapat dimanfaatkan untuk
memperkirakan energi efektif keluaran pesawat
sinar­X dengan metode yang cukup sederhana. 
Pengukuran nilai paparan dilakukan melalui 
penyinaran langsung dosimeter saku yang dipasang 
pada jarak tertentu dari focal spot pesawat sinar­X.
Data hasil pengukuran ini setara dengan intensitas
mula­mula (I
0
) keluaran pesawat, nilainya dapat 
dibaca langsung pada dosimeter. Pengukuran
paparan sinar­X yang sama dilakukan di belakang 
filter yang ketebalannya diketahui. Pengukuran 
dilakukan pada posisi yang sama dengan
pengukuran pertama begitu juga dengan lama 
penyinaran dan kVp. Data nilai paparan yang
diperoleh dari pengukuran ini setara dengan
intensitas keluaran pesawat setelah melalui filter
(I
t
). Kombinasi data I
0
dan I
t
dapat dipakai untuk
menghitung nilai µ filter untuk sinar­X dari pesawat
dengan kVp tertentu menggunakan persamaan (3). 
Sedang nilai HVL­nya dihitung menggunakan 
persamaan (4). 
Satu hal yang perlu diperhatikan dalam 
menggunakan Persamaan (1) dan (2) untuk
menghitung nilai µ dan HVL, adalah Persamaan (1)
tidak menyertakan faktor koreksi pertumbuhan, 
sehingga hasil perhitungan µ semakin kecil dengan 
bertambah tebalnya filter [7]. Perubahan dalam 
bentuk penurunan harga µ ini akan mengakibatkan
pula perubahan dalam bentuk peningkatan harga 
HVL. Oleh sebab itu, dalam pengukuran kualitas 

Page 5
Mengukur kualitas radiasi keluaran pesawat sinar­X
– 11 
Buletin ALARA Vol. 2 No. 2, Desember 1998
radiasi sebaiknya digunakan filter yang faktor 
koreksi pertumbuhannya paling rendah. Jadi 
pengukuran HVL akan lebih tepat jika digunakan
filter tipis yang faktor koreksi pertumbuhan 
radiasinya dapat diabaikan.
Tidak semua energi elektron ditransfer 
menjadi energi sinar­X, sehingga energi efektif 
sinar­X selalu lebih kecil dari beda potensial yang
dikalikan dengan muatan elementer (Ve). Oleh 
sebab itu, dalam kaitannya dengan penentuan energi 
sinar­X, kita tidak bisa semata­mata hanya 
mengandalkan pada penunjukan skala kVp tabung 
sinar­X. Di samping itu, nilai kV yang ditunjukkan
oleh pesawat belum tentu sama dengan kV dalam 
tabung sinar­X. Perbedaan itu dapat disebabkan 
oleh usia komponen elektronik maupun cacat pada 
target [13]. Karena itu diperlukan adanya
pengecekan rutin maupun penelitian khusus untuk 
mengukur kualitas keluaran pesawat sinar­X. 
Kelayakan kualitas radiasi keluaran suatu 
pesawat sinar­X dapat dievaluasi dengan cara
membandingkan HVL bahan filter yang diperoleh 
dari pengukuran dan HVL standar untuk jenis bahan
dan kVp yang sama. Beberapa Institusi
Internasional telah mengeluarkan publikasi tentang 
HVL standar untuk berbagai nilai kVp. Sebagai 
contoh, dalam International Standard ISO 4037
mencantumkan bahwa sinar­X dari tabung dengan
kVp : 80 kV, kualitas radiasinya setara dengan HVL 
: 0,59 mmCu [14]. Dalam hal ditemukan perbedaan
jenis filter, maka suatu jenis bahan filter dapat
disetarakan dengan bahan filter lainnya melalui
perbandingan kerapatan (ρ). Misal bahan A dan 
bahan B dengan kerapatan masing­masing ρ
A
dan
ρ
B
, maka HVL bahan A dapat disetarakan dengan
HVL bahan B menggunakan persamaan sebagai 
berikut : 
HVL
A
= (ρ
B

A
) HVL
B
(5) 
Dengan menggunakan persamaan (5), nilai HVL 
dalam mmCu dapat dikonversikan menjadi HVL 
dalam mmAl. Karena ρ
Cu
dan ρ
Al
adalah 8,9 gr/cm
3
dan 2,7 gr/cm
3
, maka HVL 0,59 mmCu setara 
dengan HVL : (8,9/2,7) x 0,59 mmAl atau 1,945
mmAl. Pada Tabel 1 disajikan nilai HVL dalam 
mmCu untuk kualitas sinar­X pada berbagai nilai 
kVp yang diambil dari International Standard ISO 
4037 [14]. Disajikan pula HVL dalam mmAl yang
dihitung menggunakan persamaan (5). 
Tabel 1 : Nilai HVL untuk berbagai kVp sinar­X 

Sebagai acuan untuk
mengevaluasi 
kelayakan kualitas radiasi keluaran pesawat sinar­
X, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) 
membagi pesawat sinar­X untuk keperluan 
diagnostik menjadi sinar­X berenergi rendah dan 
menengah [11]. Tegangan puncak untuk sinar­X 
berenergi rendah adalah antara 10 hingga 100 keV, 
dengan kualitas radiasinya berkisar antara : 0,03
mmAl < HVL ≤ 2 mmAl. Sedang untuk sinar­X
berenergi menengah, kVp­nya berkisar antara 100
hingga 300 keV, dengan kualitas radiasinya berkisar 
antara 2 mmAl < HVL ≤ 3 mmCu. 
PENUTUP 
Selama dioperasikan, tabung sinar­X akan 
mengalami perubahan focal spot. Perubahan ini
dapat dipakai sebagai sumber informasi mengenai 
kondisi filamen dan permukaan target [13]. Di 
samping itu, keluaran pesawat sinar­X tidak pernah 
stabil walaupun kondisi operasinya dipertahankan 
stabil [11]. Meskipun hasil bacaan penunjukan kV 
meter maupun stelan kV­nya tidak berubah, tidak
bisa diharapkan bahwa tegangan di dalam tabung
sinar­X tidak berfluktuasi. Oleh sebab itu, nilai 
HVL pada tegangan terendah hingga tertinggi harus 
selalu diperiksa pada interval tidak lebih dari 6
bulan, atau kapan saja jika tegangan pembangkit 
sinar­X di rubah atau terjadi penggantian tabung
sinar­X [13]. 

Page 6
12 – 
Suyati dan Mukhlis Akhadi 
Buletin ALARA Vol. 2 No. 2, Desember 1998
Metode pengukuran kualitas radiasi 
keluaran pesawat sinar­X seperti diuraikan di atas
dapat dilakukan dengan peralatan dan metode yang
cukup sederhana. Namun untuk pengecekan kualitas 
radiasi, metode tersebut dapat memberikan hasil 
pengukuran yang cukup baik. Data HVL yang 
diperoleh dapat dipakai untuk menguji kondisi 
keluaran pesawat, sehingga dapat dipakai sebagai
parameter untuk menilai kelayakan operasi suatu 
pesawat sinar­X. Untuk menghindari munculnya
faktor koreksi pertumbuhan radiasi, maka 
pengukuran HVL/kualitas radiasi sebaiknya
dilakukan menggunakan filter dengan ketebalan 
tidak lebih dari 1 mm
http://www.batan.go.id/ptkmr/Alara/Alara/01%20Buletin%20Alara%20P3KRBiN/BulAlara%20Vol
%202_2%20Des%2098/BAlara1998_02212_007.pdf

INTERAKSI DENGAN MATERI BIOLOGIK

Bagaimana terjadinya interaksi radiasi dengan materi biologik?

Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas
jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit
fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti pembelahan,
pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua komponen utama, yaitu sitoplasma dan inti sel
(nucleus). Sitoplasma mengandung sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi metabolisme
penting sel. Inti sel mengandung struktur biologic yang sangat kompleks yang disebut kromosom yang
mempunyai peranan penting sebagai tempat penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan dengan
keturunan atau karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang mengandung ribuan
gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA (Deooxyribonucleic acid) yang membawa suatu kode
informasi tertentu dan spesifik.

Interaksi radiasi pengion dengan meteri biologic diawali dengan interaksdi fisika yaitu, proses ionisasi. Elektron
yang dihasilkan dari proses ionisasi akan berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung
bila penyerapan energi langsung terjadi pada molekul organik dalam sel yang mempunyai arti penting, seperti
DNA. Sedangkan interaksi secara tidak langsung bila terlebih dahulu terjadi interaksi radiasi dengan molekul air
dalam sel yang efeknya kemudian akan mengenai molekul organik penting. Mengingat sekitar 80% dari tubuh
manusia terdiri dari air, maka sebagian besar interaksi radiasi dalam tubuh terjadi secara tidak langsung.

A. Radiasi dengan Molekul Air (Radiolisis Air)


Penyerapan energi radiasi oleh molekul air dalam proses radiolisis air akan menghasilkan radikal bebas (H* dan
OH*) yang tidak stabil serta sangat reaktif dan toksik terhadap molekul organik vital tubuh. Radikal bebas adalah
suatu atom atau molekul dengan sebuah electron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Keadaan ini
menyebabkan radikal bebas menjadi tidak stabil, sangat reaktif dan toksik terhadap molekul organik vital. Radikal
bebas yang terbentuk dapat sering bereaksi menghasilkan suatu molekul biologic peroksida yang lebih stabil
sehingga berumur lebih lama. Molekul ini dapat berdifusi lebih jauh dari tempat pembentukannya sehingga lebih
besar peluangnya dibandingkan radikal bebas untuk menimbulkan kerusakan biokimiawi pada molekul biologi.
Secara alamiah kerusakan yang timbul akan mengalami proses perbaikan secara enzimatis dalam kapasitas
tertentu. Perubahan biokimia yang terjadi yang berupa kerusakan pada molekul-molekul biologi penting tersebut
selanjutnya akan menimbulkan gangguan fungsi sel bila tidak mengalami proses perbaikan secara tepat atau
menyebabkan kematian sel. Perubahan fungsi atau kematian dari sejumlah sel menghasilkan suatu efek biologik
dari radiasi yang bergantung pada jenis radiasi, dosis, jenis sel lainnya.

B. Radiasi dengan DNA..


Interaksi radiasi dengan DNA dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur molekul gula atau basa, putusnya
ikatan hydrogen antar basa, hilangnya basa dan lainnya. Kerusakan yang lebih parah adalah putusnya salah satu
untai DNA yang disebut single strand break, atau putusnya kedua untai DNA yang disebut double strand breaks.
Secara alamiah sel mempunyai kemampuan untuk melakukan proses perbaikan terhadap kerusakan yang timbul
dengan menggunakan beberapa jenis enzim yang spesifik. Proses perbaikan dapat berlangsung terhadap
kerusakan yang terjadi tanpa kesalahan sehingga struktur DNA kembali seperti semual dan tidak menimbulkan
perubahan struktur pada sel. Tetapi dalam kondisi tertentu, proses perbaikan tidak berjalan sebagai mana mestinya
sehingga walaupun kerusakan dapat diperbaiki, tetapi tidak sempurna sehingga menghasilkan DNA yang berbeda,
yang dikenal dengan mutasi.

C. Radiasi dengan Kromosom.


Sebuah kromosom terdiri dari dua lengan yang dihubungkan satu sama lain dengan suatu penyempitan yang
disebut sentromer. Radiasi dapat menyebabkan perubahan baik pada jumlah maupun struktur kromosom yang
disebut aberasi kromosom. Perubahan jumlah kromosom, misalnya menjadi 47 buah pada sel somatic yang
memungkinkan timbulnya kelainan genetic. Kerusakan struktur kromosom berupa patahnya lengan kromosom
terjadi secara acak dengan peluang yang semakin besar dengan meningkatnya dosis radiasi. Aberasi kromosom
yang mungkin timbul adalah (1) fragmen asentrik, yaitu patahnya lengan kromososm yang tidak mengandung
sentromer, (2) kromosom cincin, (3) kromosom disentrik, yaitu kromosom yang memiliki dua sentromer dan (4)
translokasi, yaitu terjadinya perpindahan atau pertukaran fragmen dari dua atau lebih kromosom. Kromosom
disentri yang spesifik terjadi akibat paparan radiasi sehingga jenis aberasi ini biasa digunakan sebagai dosimeter
biologic yang dapat diamati pada sel darah limfosit, yang merupakan salah satu jenis sel darah putih. Frekuensi
terjadinya kelainan pada kromosom bergantung pada dosis, energi dan jenis radiasi, laju dosis, dan lainnya.

D. Radiasi dengan Sel.


Kerusakan yang terjadi pada DNA dan kromosom sel sangat bergantung pada proses perbaikan yang berlangsung.
Bila proses perbaikan berlangsung dengan baik/sempurna, dan juga tingkat kerusakan sel tidak terlalu parah,
maka sel bias kembali normal. Bila perbaikan sel tidak sempurna, sel tetap hidup tetapi mengalami perubahan.
Bila tingkat kerusakan sel sangat parah atau perbaikan tidak berlangsung dengan baik, maka sel akan mati. Sel
yang paling sensitive terhadap pengaruh radiasi adalah sel yang paling aktif melakukan pembelahan dan tingkat
differensiasi (perkembangan/ kematangan sel) rendah. Sedangkan sel yang tidak mudah rusak akibat pengaruh
radiasi adalah sel dengan tingkat differensiasi yang tinggi.

EFEK TERHADAP MANUSIA

Bagaimana pengaruh radiasi terhadap manusia?

Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel telur pada perempuan dan
sel sperma pada laki-laki, sedangkan sel somatic adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis
sel, maka efek radiasi dapat dibedakan atas efek genetik dan efek somatik. Efek genetik atau efek pewarisan
adalah efek yang dirasakan oleh keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi. Sebaliknya efek somatik
adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi.

Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi sehingga dapat dibedakan atas
efek segera dan efek tertunda. Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada
individu dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya rambut),
eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu
hari sampai mingguan pasca iradiasi. Sedangkan efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah
waktu yang lama (bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.

Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi dibedakan atas efek deterministik
dan efek stokastik. Efek deterministik adalah efek yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan radiasi,
sedangkan efek stokastik adalah efek yang terjadi sebagai akibat paparan radiasi dengan dosis yang menyebabkan
terjadinya perubahan pada sel.

n Efek Deterministi (efek non stokastik) Efek ini terjadi karena adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi
yang mengubah fungsi jaringan yang terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi
pada seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima di atas dosis ambang
(threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek
deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis ambang yang bervariasi bergantung
pada jenis efek. Pada dosis lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya efek deterministik
dengan demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis ambang, peluang terjadinya efek ini menjadi 100%.

n Efek Stokastik Dosis radiasi serendah apapun selalu terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada
sistem biologik, baik pada tingkat molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh sel
tetapi mengubah sel Sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini mempunyai peluang untuk lolos
dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi
atau transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek stokastik terjadi tanpa ada dosis
ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis paparan, semakin besar
peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang
diterima. Bila sel yang mengalami perubahan adalah sel genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan
diwariskan kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah sel somatik
maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama,
ditambah dengan pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat toksik
lainnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas
atau kanker. Paparan radiasi dosis rendah dapat menigkatkan
resiko kanker dan efek pewarisan yang secara statistik dapat
dideteksi pada suatu populasi, namun tidak secara serta merta
terkait dengan paparan individu.

Apa yang dimaksud dengan radiasi interna dan eksterna?


Apabila kita terkena radiasi dari luar tubuh maka kita menyebutnya sebagai radiasi eksterna. Partikel a, b, sinar g,
sinar-X dan neutron adalah jenis radiasi pengion, tetapi tidak semua memiliki potensi bahaya radiasi eksterna.
Partikel a memiliki daya ionisasi yang besar, sehingga jangkauannya di udara sangat pendek (beberapa cm) dan
dianggap tidak memiliki potensi bahaya eksterna karena tidak dapat menembus lapisan kulit luar manusia.
Partikel b memiliki daya tembus yang jauh lebih tinggi dari partikel a. Daya tembus partikel b dipengaruhi besar
energi. Partikel b berenergi tinggi mampu menjangkau beberapa meter di udara dan dapat menembus lapisan kulit
luar beberapa mm. Oleh karena itu, partikel b memiliki potensi bahaya radiasi eksterna kecil, kecuali untuk mata.
Sinar-X dan sinar g adalah gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang pendek dan meiliki
kemampuan menembus semua organ tubuh, sehingga mempunyai potensi bahaya radiasi eksterna yang signifikan.
Neutron juga memiliki daya tembus yang sangat besar. Neutron melepaskan energi didalam tubuh karena neutron
dihamburkan oleh jaringan tubuh, Neutron memiliki potensi bahaya radiasi eksterna yang tinggi sehingga
memerlukan penanganan yang sangat hati-hati. Jika zat yang memancarkan radiasi berada di dalam tubuh, kita
sebut dengan radiasi interna. Partikel a mempunyai potensi bahaya radiasi interna yang besar karena radiasi a
mempunyai daya ionisasi yang besar sehingga dapat memindahkan sejumlah besar energi dalam volume yang
sangat kecil dari jaringan tubuh dan mengakibatkan kerusakan jaringan disekitar sumber radioaktif. Partikel b
mempunyai potensi bahaya radiasi interna yang tingkatannya lebih rendah dari a. Karena jangkauan partikel b
didalam tubuh jauh lebih besar dari partikel a di dalam tubuh, maka energi b akan dipindahkan dalam volume
jaringan yang lebih besar. Kondisi ini mengurangi keseluruhan efek radiasi pada organ dan jaringan sekitarnya.
Sinar g memiliki daya ionisasi yang jauh lebih rendah dibandingkan a dan b, sehingga potensi radiasi internanya
sangat rendah.

Menurut American Cancer Society, sekitar 35,310 kasus baru kanker di rongga mulut dan
oropharyngeal (neck and throat) telah didiagnosa di USA pada tahun 2008. Dan sekitar 7,590
orang akan meninggal oleh karena kanker ini dipenghujung tahun ini.

Kanker di rongga mulut paling umum terjadi di lidah,dasar mulut, bibir dan kelenjar ludah
minor. Terapi pilihan yang paling sering diberikan pada pasien dengan kanker ini adalah
pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi.

Seseorang yang menerima terapi radiasi pada daerah kepala dan leher, kemungkinan juga akan
mendapatkan komplikasi atau efek samping yang mengikuti terapi kanker ini. Gejala ikutan
antara lain dry mouth, gigi sensitif, pola kerusakan gigi yang cepat, dan kesulitan untuk
mengunyah. Pola terbesar efek samping ikutan ini terdapat pada kemoterapi.

untuk mencegah ini dan meminimalkan persoalan ini, hendaknya dokter gigi dan onkologist
haruslah saling bekerja sama dengan baik, oleh karena penanganan kanker yang baik adalah
bukanlah kehebatan seorang dokter tetapi kehebatan suatu team dokter .

Perawatan selama terapi kanker ini meliputi flossing dengan teratur dan pembersihan gigi
haruslah lebih optimal dan juga disarankan untuk pemakaian obat kumur, dan bila penderita
mengalami dry mouth haruslah diresepkan saliva buatan atau obat obatan yang merangsang
pengeluaran saliva. Kemudian aplikasi topikal fluoride juga disarankan untuk keadaan khusus
seperti ini.

http://drgdondy.blogspot.com/2008/12/efek-samping-terapi-radiasi-pada-pasien.html

TEKNIK RADIOGRAFI 
Teknik radiografi merupakan salah satu 
metode pengujian material tak­merusak yang selama 
ini sering digunakan oleh industri baja untuk
menentukan jaminan kualitas dari produk yang
dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan 
menggunakan sumber radiasi (sinar­x atau sinar 
gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai
perekam gambar yang dihasilkan. Radiasi melewati 
benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji. Sinar 
yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film 
yang diletakkan pada bagian belakang dari benda uji.
Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap 
maka film tersebut dapat dievaluasi. Bila terdapat 
cacad pada benda uji maka akan diamati pada film
radiografi dengan melihat perbedaan kehitaman atau
densitas. 
Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada 
ketebalan benda yang diperlukan karena daya tembus
sinar gamma terhadap material berbeda. Pada sumber
pemancar sinar gamma tergantung besar aktivitas 
sumber. Sedangkan pemilihan tipe film sangat 
mempengaruhi pemeriksaan kualitas material. Film 
digunakan untuk merekam gambar material yang
diperiksa. Pemilihan tipe film yang benar akan 
menghasilkan kualitas hasil radiografi yang sangat 
baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis
film, yaitu film cepat dan film lambat. Pada film cepat
butir­butirannya besar, kekontrasan dan definisinya
kurang baik. Sedangkan pada film lambat butir­
butirannya kecil, kekontrasan dan definisinya lebih 
http://www.batan.go.id/ptkmr/Alara/Alara/01%20Buletin%20Alara%20P3KRBiN/BulAlara%20Vol
%203_1%20Ags%2099/BAlara1999_03108_029.pdf.

Kesehatan gigi & mulut penting dalam radioterapi KNF


Health News Tue, 04 Jan 2005 10:20:00 WIB

Parahnya efek samping radioterapi yang dilakukan pada pasien kanker nasofaring (KNF) dalam kondisi gigi dan
mulut (gilut) tidak higienis ternyata dapat memicu terjadinya osteoradionekrosis. Kanker nasofaring (KNF), jenis
kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut, menduduki urutan
keempat terbanyak di Indonesia sesudah kanker leher rahim, kanker payudara, dan kanker kulit.

Salah satu cara penanganan kanker adalah melalui radioterapi, namun meski cara ini ampuh membunuh sel-sel
kanker, ternyata juga menyebabkan kerusakan pada sel-sel normal lainnya.

Penyinaran yang dilakukan disekitar gilut menimbulkan efek samping kronis meliputi karies radiasi, gigi
hipersensitif karena makanan dan minuman panas-dingin-asam-manis, serta trismus (keadaan sulit membuka
mulut).

Efek samping ini, jika tidak dicegah dan diwaspadai oleh dokter gigi, dapat memicu terjadinya osteoradionekrosis
yakni kondisi tulang rahang yang mengalami kematian, serta sulit disembuhkan karena sel-sel sarafnya tidak
berfungsi lagi.
Fakta ini terungkap dalam kesimpulan disertasi Harum Sasanti, Sekretaris Bagian Ilmu Penyakit Mulut Fakultas
Kedokteran Gigi UI, dengan judul Hubungan Higiene Mulut Dan Keparahan Efek Samping Kronis Akibat
Radioterapi Kanker Nasofaring (Studi Pada Tiga Rumah Sakit di Jakarta), di FKGUI awal pekan lalu.

Menurut Harum, selama ini, untuk kasus pasien yang pernah menjalani radioterapi, hampir setiap dokter gigi tidak
bersedia melakukan pencabutan gigi, atau melakukan kegiatan apa pun yang dapat menyebabkan terjadinya luka
di sekitar gilut pasien, karena jika terjadi infeksi akan sulit untuk pulih.

Keengganan dokter gigi melakukan hal tersebut, meski pasien sangat membutuhkannya, karena terjadi kerusakan
gigi pascaradioterapi mengingat gilut yang sel-selnya sudah rusak akan lamban dalam melakukan proses
pemulihan.

Luka yang timbul pada daerah ini akan sulit sembuh. Bahkan bisa terjadi luka itu tidak pernah tertutup mengingat
proses pemulihan tubuh pascasakit tergantung daya tahan tubuh dan usia dari pasien
Meski penelitian menunjukkan faktor utama penyebab keparahan efek samping kronik akibat radioterapi (eskart)
adalah dosis total radioterapi yang diterima oleh pasien, dosis ini tidak bisa dihindari karena rata-rata pasien yang
mengidap KNF sudah tahap stadium tinggi sehingga memang membutuhkan radioterapi dosis tinggi pula.

Seringnya pasien berobat ke dokter setelah dalam keadaan KNF stadium tinggi, antara lain karena sulitnya
dilakukan deteksi dini akibat sulit terjangkaunya lokasi lokasi KNF, yang berada di rongga belakang hidung, di
belakang langit-langit rongga mulut, dan mudah menyebar ke mata, telinga, kelenjar leher dan otak.

Kondisi KNF yang sudah stadium tinggi tersebut, memang membutuhkan dilakukan radiasi dengan segera.

Hal inilah yang menyebabkan dokter gigi sering tidak diberi kesempatan untuk melakukan persiapan terhadap
pasien.
Radiotherapist cenderung akan mengabaikan kebutuhan akan kesehatan gigi, akibatnya pasien akan merasakan
efek samping akut dan kronis setelah radiasi karena dari awal memang tidak dipersiapkan.
Dia juga menjelaskan memang ada literatur yang merekomendasikan menjalani metode Hiperbarik, yakni terapi
yang dilakukan dengan cara masuk ke dalam ruangan khusus yang berisi oksigen murni selama beberapa jam,
untuk mengembalikan kondisi rahang seperti sedia kala.
Namun upaya ini akan sangat memberatkan pasien karena selain harganya cukup mahal, rumah sakit yang
memiliki fasilitas pelayanan kedokteran Hiperbarik masih terbatas. Saat ini pelayanan ini baru dijumpai pada RS
TNI AL Dr. Mintohardjo, Jakarta.

Menurut dia, cara yang paling efektif untuk menghindari masalah tersebut adalah dengan melakukan tindakan
preventif, di mana peran dari dokter gigi lebih dioptimalkan pada masa sebelum, selama, dan pascaradioterapi
untuk memantau dan melakukan pencegahan dini.

Yang terbaik, sebelum pasien menjalani radioterapi, terlebih dulu diberikan penyuluhan dan konseling dari dokter
gigi akan pen tingnya menjaga kualitas dan higienitas gilut, agar setelah radiasi dilakukan wilayah sekitar ini tetap
prima dan tidak mudah rusak.

Keterlibatan dokter gigi selama ini pada tahap praradioterapi hanya lebih banyak bersifat eliminasi sumber infeksi
di mulut. Peran dokter gigi pun masih sedikit dibandingkan kebutuhan pelayanan kesehatan gilut pasien kanker
nasofaring, terutama pascaradioterapi. (m03)

Sumber: Majalah HealthToday


http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|2715
BERKAS SINAR-X DAN PARAMETER PEMBENTUKAN GAMBARAN

Arif Jauhari

Kebanyakan diagram tabung sinar-x memperlihatkan sinar-x sebagai bentukan pola segitiga yang teratur seperti
yang dihasilkan pada tititk fokus. Hal ini memberikan tujuan yang baik dalam hal penekanan tentang kerja radiasi
sinar-x diluar tabung. Tetapi radiasi sebenarnya tidak seperti itu. Sebenarnya, sinar-x itu seperti cahaya tampak
yang dalam penyebarannya dari sumber melalui suatu garis lurus yang menyebar ke segala arah kecuali
dihentikan oleh bahan penyerap sinar-x. Karena alasan tersebut maka tabung sinar-x ditutup dalam satu rumah
tabung logam yang mampu menghentikan sebagian besar radiasi sinar-x, hanya sinar-x yang berguna yang
dibiarkan keluar dari tabung melalui sebuah jendela/window. Sinar-x yang berguna tadi disebut sebagai berkas
primer. Berkas sinar yang terletak pada tengah garisnya ini disebut central ray.

Diperlukan pembangkitan tegangan yang tinggi di dalam tabung sinar-x agar dapat dihasilkan berkas sinar-x.
Rangkaian listriknya dirancang sedemikian rupa sehingga kV-nya dapat diubah dalam rentang yang besar
-biasanya 30 kV sampai 100 kV- atau lebih. Bila kV yang lebih rendah digunakan, maka sinar-x memiliki panjang
gelombang yang lebih panjang dan lebih mudah diserap sehingga disebut sebagai soft x-ray. Harus dipahami
bahwa berkas sinar-x itu terdiri dari sinar dengan panjang gelombang yang berbeda. Radiasi yang dihasilkan pada
rentang kV yang lebih tinggi akan memiliki energi yang lebih besar dan panjang gelombang yang lebih pendek.

Penyerapan Sinar-X
Salah satu dari faktor penting sinar-x adalah bahwa sinar-x dapat menembus bahan. Tetapi hanya yang benar-
benar sinar-x saja yang mampu menembus objek yang dikenainya dan sebagian yang lain akan diserap. Sinar-x
yang menembus itulah yang mampu membentuk gambaran atau bayangan. Besarnya penyerapan sinar-x oleh
suatu bahan tergantung tiga faktor:
1. Panjang gelombang sinar-X.
2. Susunan objek yang terdapat pada alur berkas sinar-X.
3. Ketebalan dan kerapatan objek.

Telah diketahui bahwa panjang gelombang yang besar yang dihasilkan oleh kV rendah akan mengakibatkan sinar-
x nya mudah diserap. Semakin pendek panjang gelombang sinar-x (yang dihasilkan oleh kV yang lebih tinggi)
akan membuat sinar-x mudah untuk menembus bahan (lihat pembahasan tentang pengaruh kilovolt).

Bagaimana susunan objek ketika terjadi penyerapan sinar-x? Hal ini tergantung dari nomor atom unsur tersebut.
Sebagai contoh satu lempeng aluminium yang mempunyai nomor atom lebih rendah dibanding tembaga,
mempunyai jumlah daya serap lebih rendah terhadap sinar-x dibanding satu lempeng tembaga pada berat dan
daerah yang sama. Timah hitam (nomor atomnya lebih besar) adalah penyerap terbaik sinar-x. Karena alasan
inilah ia digunakan pada wadah tabung yang juga bertujuan untuk proteksi, contoh yang lainnya adalah dinding
ruangan sinar-x dan pada sarung tangan khusus serta apron yang digunakan selama proses fluoroskopi.

Hubungan antara penyerapan sinar-x dengan ketebalan adalah sederhana yaitu unsur yang mempunyai lempengan
yang tebal dapat menyerap radiasi lebih banyak dibanding lempengan yang tipis pada satu unsur yang sama.
Kerapatan/kepadatan suatu unsur yang sama akan juga mempunyai kesamaan efek, contoh 2,5 cm air akan
menyerap sinar-x lebih banyak dibanding 2,5 cm es karena berat timbangan es akan berkurang 2,5 cm per kubik
dibanding air.

Mengingat pemeriksaan kesehatan yang menggunakan sinar-x, satu hal yang harus dipahami bahwa tubuh
manusia mempunyai susunan yang kompleks yang tidak hanya mempunyai perbedaan pada tingkat kepadatan
saja tetapi juga mempunyai perbedaan unsur pembentuk. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat
penyerapan sinar-x. Yaitu, tulang lebih banyak menyerap sinar-x dibanding otot/daging; dan otot/daging lebih
banyak menyerap dibanding udara (paru-paru). Lebih jauh lagi pada struktur organ yang sakit akan terjadi
perbedaan penyerapan sinar-x dibanding dengan penyerapan oleh daging dan tulang yang normal. Umur pasien
juga mempengaruhi penyerapan, contoh pada umur yang lebih tua tulang-tulang sudah kekurangan kalsium dan
akan mengurangi penyerapan sinar-x dibanding tulang-tulang di usia yang lebih muda.
Hubungan diantara intensitas sinar-x pada daerah yang berbeda gambarannya didefinisikan sebagai kontras
subjek. Kontras subjek tergantung pada sifat subjek, kualitas radiasi yang digunakan, intensitas dan penyebaran
radiasi hambur, tetapi tidak tergantung terhadap waktu, mA, jarak dan jenis film yang digunakan.

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Gambaran


1.Pengaruh Milliampere (mA)
Peningkatan mA akan menambah intensitas sinar-x, dan penurunan mA akan mengurangi intensitas. Sehingga
semua intensitas sinar-x atau derajat terang/brightness akan bertambah sesuai dengan peningkatan intensitas
radiasi sinar-x di titik fokus. Oleh sebab itu, derajat terang dapat diatur dengan mengubah mA. Perlu juga
dipahami bahwa intensitas sinar-x yang bervariasi akan terus membawa hubungan yang sama antara satu dengan
yang lainnya.

2. Pengaruh Jarak
Sekali lagi, intensitas sinar-x dari suatu pola bisa diatur menjadi sama dengan cara merubah semua hal, bukan
dalam hal-hal yang menyangkut kelistrikan, tapi dengan menggerakkan tabung mendekati atau menjauhi objek.
Dengan kata lain, jarak tabung ke objek mempengaruhi intensitas gambaran.

Hal ini dapat dibuktikan dengan demontrasi yang sederhana. Tanpa penerangan lain dalam ruangan, pindahkan
lampu yang menyala mendekati kertas bercetak. Anda akan melihat bahwa semakin dekat cahaya ke buku, makin
terang halaman itu terkena cahaya. Hal yang sama juga berlaku pada sinar-x: pada saat jarak objek ke sumber
radiasi dikurangi, intensitas sinar-x pada objek meningkat; pada saat jaraknya ditambah intensitas radiasi pada
objek berkurang. Semua ini merupakan kesimpulan dari faktor bahwa sinar-x dan cahaya merambat dalam
pancaran garis lurus yang melebar.

Perubahan jarak hampir sama dengan perubahan mA dalam hal efeknya terhadap semua intensitas gambaran.
Terhadap banyaknya perubahan intensitas gambaran keseluruhan bila mA atau jarak diubah adalah merupakan
suatu kaidah hitungan aritmetika sederhana.

3. Pengaruh Kilovolt (kV)


Perubahan kV menyebabkan beberapa pengaruh. Pertama, perubahan kV menghasilkan perubahan pada daya
tembus sinar-x dan juga total intensitas berkas sinar-x akan berubah. Hal ini terjadi dengan tanpa perubahan pada
arus tabung.

Kesimpulan
Intensitas keseluruhan dari satu gambaran dipengaruhi oleh tiga faktor, mA, jarak dan kV. Bila mA atau jarak
digunakan sebagai faktor pengontrol intensitas maka perubahan kontras subyek (bahan) tidak terjadi. Tetapi bila
kV digunakan sebagai faktor pengontrol intensitas maka terjadinya perubahan kontras subyek selalu muncul
dalam hubungannya dengan perubahan intensitas.(C)
http://puskaradim.blogspot.com/2008/01/berkas-sinar-x-dan-pembentukan-gambar.html

Pendahuluan

Radiologi merupakan salah satu unit penunjang medis yang berfungsi sebagai alat penegak diagnosis berbagai
jenis penyakit, termasuk gigi geligi yang dapat ditinjau melalui pemeriksaan radiografi dental. Pada pemeriksaan
radiografi gigi geligi peran pasien sangat berpengaruh terhadap hasil gambaran yang akan didapat, karena pasien
diminta untuk memegang film dental dan menekannya sehingga posisi film dental menempel pada gigi dan gusi
yang akan diperiksa. Dengan teknik pemeriksaan seperti ini akan terjadi kemungkinan untuk bergesernya posisi
film dental dan mengakibatkan hasil gambaran yang tidak dapat dipakai sebagai alat penunjang diagnosis,
sehingga terjadilah pengulangan. Selain itu juga ada beberapa kendala yang dapat menambah resiko pengulangan,
seperti pada pasien yang hipersensitif, radang pada gusi (ginggivitis) atau pada pasien yang bentuk anatomi
giginya abnormal. Oleh sebab itu radiografer dituntut untuk menambah bersikap inovatif dalam memilih teknik
yang dapat memudahkan pemeriksaan dan pasienpun menjadi nyaman saat dilakukannya pemeriksaan.
Pada umumnya pemeriksaan dental, khususnya insisivus atas dilakukan dengan teknik pasien memegang dan
menekan salah satu sisi film dental disekitar gigi dan gusi insisivus yang akan diperiksa dengan bantuan ibu jari
pasien. Penulis melakukan inovasi dengan cara meletakkan film dental diselipkan diantara insisivus atas dan
bawah atau dengan kata lain film digigit, sehingga pasien tidak perlu untuk memegang dan menekan film dental
dengan ibu jarinya.

2. Metode

Untuk mendapatkan hasil penelitian ini diperlukan dengan beberapa kriteia, yaitu:
a. Alat dan Bahan
- Film dental ukuran 3 x 4 cm.
- Larutan develover dan fixer dalam wadah yang berukuran kecil
- Pesawat radiografi gigi.
b. Cara Kerja
Pelaksanaan yang pertama dengan teknik pasien menekan film dental pada daerah gigi dan gusi yang akan
diperiksa, dan yang kedua dengan cara menyelipkan fim dental diantara gigi insisivus atas dan bawah atau film
digigit.

Pertama, pasien diposisikan duduk di kursi pemeriksaan dengan kepala menghadap tabung sinar-x, kepala pasien
diatur sedikit fleksi sehingga garis khayal yang ditarik dari achantion ke MAE sejajar dengan lantai, film dental
dimasukan ke dalam mulut pasien dengan sisi non timbal menghadap tube. Setelah itu dilakukan cara yaitu
peletakan film diselipkan diantara gigi insisivus atas dan bawah atau film digigit pasien dan kemudian cara kedua
yaitu peletakkan film dental menempel pada daerah gigi dan gusi dengan bantuan ibu jari pasien. Center ray
(pusat sinar) diarahkan vertical angulasi, center point (titik sinar) nya sama yaitu 600 caudali pada tip of nose,
dengan faktor eksposi 50 kV ; 7,7 mA ; 1 secon. Setelah selesai pemeriksaan, kedua film dibawa ke kamar gelap
untuk diproses.
c. Penilaian
Dilakukan survey gambar hasil kepada dua puluh dokter gigi terhadap delapan foto hasil gambaran dari dua
teknik peletakkan film yang berbeda. Parameter numerik penilaian yaitu apabila kriterianya mencakup baik
mendapat nilai 75, cukup akan dinilai 50 dan apabila kurang mendapat 25. sebagai evaluasi kriteria penilaian
adalah kriteria evaluasi radiografi gigi yaitu corona, corpus, radiks dan pulpa dentis pada dental insisivus atas.

3. Pembahasan

Dari hasil kuisioner pada 20 orang dokter gigi terhadap masing-masing 8 buah hasil foto dental. Pada film digigit
menghasilkan nilai 68,44% dan pada film ditempel menghasilkan nilai 69,70%. Sehingga evalusi pada aspek
daerah corona didapatkan hasil sedikit lebih bagus dengan cara film ditempel.
Pada evaluasi daerah corpus, pada film digigit menghasilkan nilai 65,31% dan pada film ditempel menghasilkan
nilai 61,89%, sehingga hasil corpus yang didapatkan lebih bagus dengan cara film digigit.
Tentang daerah evaluasi radix didapatkan kesimpulan, pada film digigit menghasilkan nilai 66,25% dan pada film
ditempel menghasilkan nilai 65,31%, sehingga hasil radix yang didapatkan sedikit lebih bagus dengan cara film
digigit.
Kriteria evaluasi akhir dari gigi yaitu daerah pulpa dentis didapatkan pada film digigit menghasilkan nilai 63,75%
dan pada film ditempel menghasilkan nilai 65,63%, sehingga untuk kriteria ini hasil pulpa yang didapatkan lebih
bagus dengan cara film ditempel.

Dengan demikian berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa hasil foto yang digigit menunjukkan nilai persentasi yang
relatif sama dengan hasil foto yang ditempel. Hal ini menunjukkan bahwa hasil foto yang digigit (metode baru)
menghasilkan tingkat diagnosis yang relatif sama dengan yang ditempel (metode sekarang). Dengan mengingat
dari segi kenyamanan pasien, pasien lebih merasa nyaman dengan menggunakan teknik film digigit dibandingkan
dengan menggunakan film ditempel.

Oleh sebab itu teknik peletakkan film dental dengan cara film digigit dapat juga dijadikan sebagai teknik
alternatif oleh petugas radiologi didalam melakukan pemeriksaan dental insisivus atas khususnya untuk
menghadapi paien yang hipersensitif dan kurang kooperatif.

4. Penutup

Terdapat beberapa kesimpulan dari metode baru yang telah dilakukan bila dibandingkan dengan metode sekarang
untuk pemeriksaan insisivus atas, yaitu: Hasil gambaran dengan metode baru dapat dipakai sebagai alternatif
penatalaksanaan pasien dalam pemeriksaan gigi insisivus atas.
Pada pemeriksaan dengan metode baru, pasien merasa lebih nyaman dengan menggunakan teknik peletakkan film
dental dengan cara digigit antara gigi insisivus atas dan insisivus bawah dibandingkan dengan cara lama dengan
pasien harus menekan film dental dengan ibu jarinya.
Dengan melihat hasil keseluruhan dari penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan agar teknik peletakkan
film dental dengan cara film digigit diantara gigi insisivus atas dan insisivus bawah ini dapat dijadikan teknik
alternatif untuk melakukan pemeriksaan dental insisivus atas. Apalagi bila dilihat dari segi kemudahan dan
kenyamanan pasien, khususnya bagi pasien yang kurang kooperatif. Dengan demikian diharapkan pemeriksaan
tidak sering diulang dan tanpa harus mengurang kualitas hasil gambaran.

1. http://puskaradim.blogspot.com/2007/11/teknik-radiografi-gigi.html