Anda di halaman 1dari 32

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN 25 OKTOBER 2018


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

PENYAKIT JANTUNG REMATIK

Oleh:
Muhammad Fiqri Fadillah
111 2018 1015

Pembimbing Supervisor:
dr. Kartini Badruddin, M.Kes, Sp.A

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus yang berjudul “Penyakit Jantung Rematik” yang dipersiapkan


dan disusun oleh: Muhammad Fiqri Fadillah (111 2018 1015)

Telah diperiksa dan dianggap telah memenuhi syarat Tugas Ilmiah Mahasiswa
Pendidikan Profesi Dokter dalam Disiplin Ilmu Kesehatan Anak pada;

Hari, tanggal : 25 Oktober 2018


Waktu : 13.00 WITA
Tempat : Rumah Sakit Umum Daerah Sawerigading, Kota Palopo

Palopo, 25 Oktober 2018


Menyetujui
Pembimbing

dr. Kartini Badruddin, M.Kes, Sp.A

2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... 1


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................. 4
BAB II. LAPORAN KASUS ............................................................................ 5
Identitas Pasien ................................................................................................. 5
Status Umum .................................................................................................... 6
Resume Pasien ................................................................................................ 14
BAB III. PEMBAHASAN .............................................................................. 21
BAB IV. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 23
Definisi ........................................................................................................... 23
Epidemiologi................................................................................................... 23
Etiologi ........................................................................................................... 23
Patofisiologi .................................................................................................... 24
Manifestasi Klinis ........................................................................................... 25
Diagnosis ........................................................................................................ 26
Diagnosis Banding .......................................................................................... 27
Tatalaksana ..................................................................................................... 29
Pencegahan ..................................................................................................... 31
Prognosis......................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 33

3
BAB I
PENDAHULUAN

Gagal jantung kongestif adalah keadaan dimana jantung tidak mampu


memompa cukup darah ke seluruh tubuh, untuk mengembalikan darah melalui vena
tidak adekuat, maupun kombinasi keduanya.1 Gagal jantung pada anak dapat
disebabkan beberapa etiologi seperti penyakit jantung bawaan (PJB), regurgitasi
katup atrioventrikular, demam reumatik, miokarditis virus, endokarditis bakterial
dan sebab sebab sekunder seperti hipertensi karena glomerulonefritis,
tirostoksikosis, anemia sel sabit dan cor pulmonale karena fibrosis kistik. Dari
berbagai penyakit ini, salah satu penyebab gagal jantung anak terbanyak adalah
demam reumatik.2

Demam reumatik akut adalah konsekuensi autoimun dari infeksi


streptokokus grup A. Demam reumatik akut menyebabkan respon inflamasi umum
dan penyakit yang mengenai jantung, sendi, otak dan kulit secara selektif. Penyakit
jantung reumatik adalah lanjutan dari demam reumatik akut. Kerusakan katup
jantung, khususnya katup mitral dan aorta setelah demam reumatik akut dapat
menjadi persisten setelah episode akut telah mereda. Keterlibatan katup jantung
tersebut dikenal dengan penyakit jantung reumatik/ rheumatic heart disease
(RHD).3

Demam reumatik akut dan penyakit jantung reumatik adalah salah satu
penyebab utama masalah kesehatan di negara berkembang. Prevalensi penyakit
jantung reumatik di Indonesia masih cukup tinggi, di kalangan anak usia 5-14 tahun
adalah 0-8 kasus per 1000 anak usia sekolah. Sebagai perbandingan, prevalensi
penyakit jantung reumatik di negara-negara Asia: Kamboja 2,3 kasus per 1000 anak
usia sekolah, Filipina 1,2 kasus per 1000 anak usiasekolah, Thailand 0,2 kasus per
1000 anak usia sekolah, dan di India 51 kasus per 1000 anak usia sekolah.4

4
BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
1. Nama : An. I
2. Umur : 16 Tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Tanggal Lahir : 22 Februari 2002
5. Agama : Islam
6. Alamat : Leleulu, Kolaka Utara
7. Bangsa Suku : Bugis
8. No. RM : 32-75-38
9. Tanggal Masuk : 20 September 2018
10. Anak (Kedua dari Empat Anak). Keguguran: -

No Jenis Kelamin Umur Sehat/sakit apa


1. Laki-Laki 18Tahun Sakit
2. Perempuan 16 Tahun Sakit
3. Laki-Laki 14 Tahun Sehat
4. Perempuan 5 Tahun Sehat

11. Identitas Orang Tua


Nama Ayah : Tn. A Nama Ibu : Ny. S
Umur : 45 Tahun Umur : 38 Tahun
Pend. Terakhir : SMA Pend. Terakhir : SMA
Pekerjaan : Petani Pekerjaan : IRT
Status Kesehatan : Sehat Status Kesehatan : Sehat

5
B. Status Umum
Pembuatan status didasarkan pada Autoanamnesis dan Alloanamnesis
dari pasien dan keluarga pasien (Ibu pasien).
1. Keluhan Utama:
Nyeri Persendian
2. Anamnesis Terpimpin:
Nyeri persendian dialami sejak satu minggu yang lalu. Nyeri
perendian bersifat menetap. Nyeri persendian disertai dengan bengkak pada
kedua tungkai (Edema Pretibial) yang berlangsung sejak 3 hari SMRS.
Wajah dan konjungtiva pasien terlihat pucat serta pasien mengeluh sering
merasa sesak dan mual. Tidak disertai demam, menggigil, batuk, maupun
muntah. BAB dan BAK kesan normal.
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya:
Dari Autoanamnesis dan Alloanamnesis diketahui bahwa pasien
mengaku tidak pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya.
4. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam
keluarga.

C. Penilaian Status Gizi


Umur : 16 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Ukuran Tubuh
BB : 41 kg
TB : 149 cm
BB/U : 41/54 x 100% = 75,9% (BB Kurang)
PB/U : 149/164 x 100% = 90% (Perawakan Normal)
BB/PB : 41/40 x 100% = 102% (Gizi Baik)

6
D. Status Imunisasi
Imunisasi Belum Pernah 1 2 3 4 5 Booster
Hepatitis B √ √ √ √ -
Polio √ √ √ -
BCG √ -
-DTP √ √ √ -
HIB √ √ √ -
Campak √ -
MMR √ -
PCV √ -
Rotavirus √ -
Influenza √ -
Tifoid √ -
Hepatitis A √ -
Varicella √ -
HPV √ -

E. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Sakit Sedang/Gizi Baik/GCS E4M6V5
2. Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 94 kali / menit
Pernapasan : 34 kali / menit
Suhu : 36,7oC
3. Kulit
Warna kulit : Gelap
Skar BCG : Ada
Turgor : Baik
Sianosis : Tidak ada

7
4. Kepala
 Kepala
o Bentuk : Mesocephal
o Ukuran : Normocephal
o Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut
o Ubun-ubun besar : Tertutup
 Wajah
o Bentuk : Simetris
o Edema : Tidak ada
 Mata
o Mata cekung : Tidak ada
o Konjunctiva pucat : Ada
o Sklera ikterik : Tidak ada
o Pupil : Isokor (+/+), Refleks Cahaya (+/+)
o Kelembapan : Kering (-)
 Hidung
o Deformitas : Tidak ada
o Sekret : Tidak ada
o Napas cuping hidung : Tidak ada
 Telinga
o Deformitas : Tidak ada
o Tanda infeksi : Tidak ada
o Sekret : Tidak ada
 Mulut
o Trismus : Tidak ada
o Bibir Membiru : Tidak ada
o Bibir kering : Tidak ada
o Lidah kotor : Tidak ada
o Perdarahan gusi : Tidak ada
o Mukosa pipi : Tidak ada kelainan

8
 Tenggorokan
o Uvula : Ditengah
o Faring : Hiperemis Tidak Ada
o Tonsil : T1 – T1, Hiperemis Tidak Ada
5. Leher
Kaku kuduk : Tidak ada
6. Thorax
Inspeksi : Normochest, Pengembangan dada kiri =
kanan, Gerakan simetris kiri = kanan,
Retraksi (-). Iga gambang tidak ada
Palpasi : Fremitus raba kiri = kanan, nyeri tekan (-),
massa (-)
Perkusi : Sonor kiri = kanan
Auskultasi
Bunyi pernafasan : Vesikuler
Bunyi tambahan : Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)

7. Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Thrill tidak teraba
Perkusi : Batas atas: ICS 2 linea parasternalis dextra et
sinistra
Batas kiri: ICS 5 midclavicula sinistra
Batas kanan: ICS 4 linea parasternalis dextra
Auskultasi : BJ I/II murni-regular, Bising (+).

8. Abdomen
Inspeksi : Datar. Ikut gerak napas
Auskultasi : Peristaltik (+) Kesan: Normal
Perkusi : Tympani (+)

9
Palpasi : Dinding perut rileks, Nyeri tekan (-), Tidak teraba
massa tumor, lien/hepar tidak teraba. Acites tidak
ada.
9. Urogenital
Tidak ada kelainan
10. Ekstremitas
Akral dingin : Tidak ada
Genu (D/S) : Inspeksi : bengkak (+), merah (+)

Palpasi : nyeri (+), hangat (+), ↓ROM (+)


Knee joint angle 70°
11. Collumna Vertebralis
Scoliosis : Tidak ada
Gibbus : Tidak ada
12. Kelenjar Limfe
Tidak ada pembesaran
13. Pemeriksaan Neurologis
Motorik : Dalam batas normal
Sensorik : Belum dapat dinilai
Refleks fisiologis : (+) kesan: normal
Refleks patologis : (-)

10
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
- Darah Rutin
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
WBC 8,4 4,0 - 10,0 x 103/ul
RBC 4,15 3,80 - 5,80 x 106/ul
HGB 9,5 11,5 – 16,0 gr/dl
HCT 28,4 37,0 - 47,0 %
MCV 68 80 – 100 fL
MCH 22,8 27 – 32 pg
MCHC 33,3 32 – 36 gr/dl
PLT 426 150-500 103/mm3
NEUT 80,8 25 - 60 %
LYMPH 12,7 25 - 50 %
RDW-CV 16,9 11,5 – 14,5 %

- Apusan Darah Tepi


1. Eritrosit : Anisopoikilositosis dominan mikrositer hipokrom,
normoblast tidak ditemukan.
2. Leukosit : Jumlah kesan meningkat, PMN > Limfosit, sel-sel muda
tidak ditemukan.
3. Trombosit : Jumlah kesan cukup, kelainan morfologi tidak ditemukan.
Kesan : - Anemia Mikrositik Hipokrom
- Leukositosis
- Imunologi Infeksi
ASTO : Positif
- Pemeriksaan Hormonal
HCG : Negatif

11
- Pemeriksaan EKG

- Pemeriksaan Radiologi
Thorax Hasil Pemeriksaan
- Corakan
bronchovaskular kedua
paru dalam batas normal
- Tidak tampak proses
spesifik aktif pada kedua
paru
- Cor ukuran membesar
dengan CTI 0,71. Conus
pulmonalis menonjol
(LAE). Aorta Normal
- Tulang-tulang intak

Kesan : Cardiomegaly

12
- Pemeriksaan Echocardiogram

Echocardiogram Hasil Pemeriksaan

- Dimensi ruang jantung


dilatasi
- AR+MS+MR Severe
- PR Moderate
- TD Mild
- Pulmonary
Hypertension

Kesimpulan : PJR

13
G. Resume Pasien
Seorang anak perempuan usia 16 tahun dibawa orang tuanya ke RSUD
Sawerigading dengan keluhan nyeri persendian yang dialami sejak satu minggu
yang lalu. Nyeri persendian bersifat menetap. Keluhan nyeri dirasakan pertama kali
sejak sekitar 1 bulan yang lalu. Pada saat itu nyeri dirasakan masih hilang timbul.
Keluhan nyeri juga disertai dengan rasa kaku di sendi-sendi tersebut. Keluhan nyeri
disertai dengan bengkak pada kedua tungkai (Edema Pretibial) yang berlangsung
sejak 3 hari SMRS. Wajah dan konjungtiva pasien terlihat pucat serta pasien
mengeluh sering merasa sesak dan mual. Tidak disertai demam, menggigil, batuk,
maupun muntah. BAB dan BAK kesan normal. Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya disangkal. Riwayat kejang sebelumnya tidak ada. Riwayat alergi
disangkal dan penyakit yang lain juga disangkal. Riwayat keluarga dengan keluhan
yang sama disangkal.
Dari hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan keadaan umum pasien : Sakit
sedang/Gizi Baik/GCS 15: E4M6V5. Status vitalis didapatkan nadi 94 kali/menit,
pernafasan 34 kali/menit, suhu 36,7oC. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan pada
extremitasnya Genu (D/S): bengkak (+), nyeri (+), merah (+), hangat (+), range of
movement terbatas karena nyeri. Pada pemeriksaan penunjang darah rutin
didapatkan hasil yang menyimpulkan pasien mengalami anemia, ADT kesan
Anemia Normositik Hipokrom dan Leukositosis; HCG (-), ASTO (+). Pada
pemriksaan radiologi foto thorax didapatkan kesan cardiomegaly. Pada
pemeriksaan EKG didapatkan hasil normal. Pada pemeriksaan Echocardiogram
didapatkan AR+MS+MR Severe.

H. Diagnosis Kerja:
Penyakit Jantung Rematik (PJR)

I. Diagnosis Banding:
Rheumatoid Artritiris Jouvenil

14
J. Tatalaksana
1. IVFD Dextrose 5% 12 tpm
2. Cefotaxime 1 gr/12jam/iv
3. Concord 2,5 mg 0 – 0 - 1/2
4. Ranitidin 1 amp/12jam/iv
5. Ramipril 10 mg 0 – 0 - 1/2
6. Eritromicin 2x500 mg
7. Furosemid 40 mg 1 – 1 – 0
8. Dorner 120 mcg 2x1
9. Simarc 2 mg 0 – 0 – 1

15
K. Follow Up
1. Follow Up (20 September 2018)
S O A P
 Sesak  KU: lemah Anemia,  O2 3 lpm via
nasal canul
 Wajah Pucat  TD:90/60mmHg Edema
 IVFD RL 20
 Nyeri persendian  Nadi: 94x/menit Pretibial tpm
 Edema Pretibial  Nafas: 34x/menit  Ketorolac
1amp/12jam/IV
bilateral  Suhu: 36,7°C  Ranitidin
 Akral Dingin  Mata: 1amp/12jam/IV
 Transfusi PRC
 Demam (-) Anemis (+/+),
250cc
 BAB normal ikterus (-/-), mata  Inj. Lasix 20 mg
 BAK lancar cekung (-) pre dan post
transfusi
 Paru:
Bp: Bronkovesikuler Cek Lab :
Bt: Wheezing -/- - ADT
Ronkhi -/-
Retraksi subcostal
tidak ada
 Jantung:
BJ I/II murni regular.
Bising ada
 Abdomen:
Peristaltik ada
kesan normal
Organomegali tidak
ditemukan.
 Ekstremitas:
Nyeri Persendian,
Edema Pretibial

16
2. Follow Up (21 September 2018)
S O A P
 Sesak  KU: baik Anemia,  IVFD RL 20
lpm
 Wajah Pucat  TD:90/70mmHg Edema
 Ketorolac
 Nyeri persendian  Nadi: 88x/menit Pretibial 1amp/12jam/IV
berkurang  Nafas:  Ranitidin
1amp/12jam/IV
 Edema Pretibial 38x/menit  Inj. Lasix 20 mg
bilateral  Suhu: 36,2°C post transfusi
 Akral Dingin  Mata:
Cek Lab :
 Demam (-) Anemis (+/+),
- ASTO
 BAB normal ikterus (-/-), mata
- IgG/IgM
 BAK lancar cekung (-)
- Fe/TIBC
 Paru:
-RF
Bp:
Bronkovesikuler
Bt: Wheezing -/-
Ronkhi -/-
Retraksi subcostal
tidak ada
 Jantung:
BJ I/II murni
regular. Bising ada
 Abdomen:
Peristaltik ada
kesan normal
Organomegali tidak
ditemukan.
 Ekstremitas:
Nyeri Persendian,
Edema Pretibial

17
3. Follow Up (22 September 2018)
S O A P
 Sesak  KU: baik Anemia,  IVFD Dextrose
 Wajah Pucat  TD:90/70mmHg Susp. 5% 12 tpm
 Nyeri persendian  Nadi: 88x/menit PJR  Cefotaxime
tidak ada  Nafas: 30x/menit 1 gr/12jam/iv
 Edema Pretibial  Suhu: 36,3°C  Concord
bilateral  Mata: 2,5 mg 0–0-1/2
berkurang Anemis (+/+), ikterus  Ranitidin
 Batuk (+) (-/-), mata cekung (-) 1 amp/12jam/iv
 Akral Dingin  Paru:  Ramipril 10 mg 0
 Demam (-) Bp: Bronkovesikuler – 0 - 1 /2
 BAB normal Bt: Wheezing -/-  Furosemid 40
 BAK lancer Ronkhi -/- mg 1 – 1 – 0

 ASTO (+) Retraksi subcostal  Dorner 120 mcg

 RF (-) tidak ada 2x1


 Jantung:  Simarc 2 mg
0–0–1
BJ I/II murni regular.
Bising ada Radiologi:
 Abdomen: -Thorax
Peristaltik ada Pemeriksaan
kesan normal Tambahan:
Organomegali tidak -Echocardiogram
ditemukan.
 Ekstremitas:
Nyeri Persendian,
Edema Pretibial

18
4. Follow Up (24 September 2018)
S O A P
 Sesak  KU: baik MS  IVFD Dextrose
 Nyeri persendian  TD:100/70mmHg Severe 5% 12 tpm
tidak ada  Nadi: 88x/menit ec. PJR  Cefotaxime
 Edema Pretibial  Nafas: 28x/menit 1 gr/12jam/iv
bilateral  Suhu: 36,4°C  Concord
berkurang  Mata: 2,5 mg 0–0-1/2
 Perut Kembung Anemis (+/+), ikterus  Ranitidin
 Batuk (+) (-/-), mata cekung (-) 1 amp/12jam/iv
 BAB normal  Paru:  Ramipril 10 mg 0
 BAK lancer Bp: Bronkovesikuler – 0 - 1 /2
 ASTO (+) Bt: Wheezing -/-  Eritromicin
Ronkhi -/- 2x500 mg
Retraksi subcostal  Furosemid 40
tidak ada mg 1 – 1 – 0
 Jantung:  Dorner 120 mcg
BJ I/II murni regular. 2x1
Bising ada  Simarc 2 mg
 Abdomen: 0–0–1
Peristaltik ada  Apyalis 1x1
kesan normal
Organomegali tidak
ditemukan.
 Ekstremitas:
Nyeri Persendian,
Edema Pretibial

19
Hasil Radiologi
 Thorax:
Cardiomegaly
Hasil Echocardiogram
- MS Severe ec.PJR

20
BAB III

PEMBAHASAN

Seorang anak perempuan usia 16 tahun dibawa orang tuanya ke RSUD


Sawerigading dengan keluhan nyeri persendian yang dialami sejak satu minggu
yang lalu. Nyeri persendian bersifat menetap. Keluhan nyeri dirasakan pertama kali
sejak sekitar 1 bulan yang lalu. Pada saat itu nyeri dirasakan masih hilang timbul.
Keluhan nyeri juga disertai dengan rasa kaku di sendi-sendi tersebut. Keluhan nyeri
disertai dengan bengkak pada kedua tungkai (Edema Pretibial) yang berlangsung
sejak 3 hari SMRS. Wajah dan konjungtiva pasien terlihat pucat serta pasien
mengeluh sering merasa sesak dan mual. Tidak disertai demam, menggigil, batuk,
maupun muntah. BAB dan BAK kesan normal. Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya disangkal. Riwayat kejang sebelumnya tidak ada. Riwayat alergi
disangkal dan penyakit yang lain juga disangkal. Riwayat keluarga dengan keluhan
yang sama disangkal.
Berdasarkan teori, dari hasil Autoanamnesis dan Alloanamnesis dari pasien
dan keluarga pasien, diduga pasien menderita Penyakit Jantung Rematik (PJR).
Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah suatu kondisi dimana katup jantung terusak
oleh infeksi Streptoccocus Beta Hemoliticus Grup A yang disebabkan Penyakit
Demam Rematik terdahulu. Demam rematik adalah sindroma klinis akibat infeksi
Streptococcus Beta Hemoliticus grup A yang ditandai oleh kriteria Jones.
Demam reumatik akut/Penyakit Jantung Rematik didiagnosis berdasarkan
manifestasi klinis dan radiologis menurut kriteria WHO 2003, merupakan kriteria
Jones. Terdapatnya dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor ditambah dua
kriteria minor disertai bukti infeksi streptokokkus sebelumnya memastikan
diagnosis demam reumatik akut.
Dari hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan keadaan umum pasien : Sakit
sedang/Gizi Baik/GCS 15: E4M6V5. Status vitalis didapatkan nadi 88 kali/menit,
pernafasan 28 kali/menit, suhu 36,4oC. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan pada

21
extremitasnya Genu (D/S): bengkak (+), nyeri (+), merah (+), hangat (+), range of
movement terbatas karena nyeri yang menandakan terjadinya proses inflamasi.
Pada pemeriksaan penunjang darah rutin didapatkan hasil yang
menunjukkan bahwa pasien mengalami anemia. Uji RF (-) dan ASTO (+). Pada
pasien ditemukan RF negatif, namun hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan
diagnosis PJR karena tidak semua kasus PJR didapatkan RF yang positif. Pada
pemriksaan radiologi foto thorax didapatkan kesan cardiomegali, dan pada
pemeriksaan Echocardiogram didapatkan hasil AR+MS+MR Severe ec PJR.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang
maka pasien termasuk dalam kriteria Jones, yaitu satu kriteria mayor berupa
poliartritis migrans, dan dua kriteria minor yaitu, atralgia dan peningkatan ASTO.
Dengan demikian, pasien didiagnosis sebagai Penyakit Jantung Rematik.
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah pemberian cairan Dextrose 5%
sebagai larutan rumatan untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit, pada
keadaan asupan oral terbatas. Pemeberian Antibiotik berupa cefotaxime yang
merupakan golongan antibiotik spektrum luas yang berperan sebagai bakteriosidal.
Pasien juga diberikan Ranitidin untuk menekan produksi asam lambung. Serta obat-
obat yang berfungsi untuk pengobatan jantung serta pembuluh darah, yaitu Dorner,
Simarc, Concord, Ramipril, serta Furosemide yang bersifat diuretik. Pemberian
apialys syrup juga diberikan untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan daya
tahan tubuh anak.

22
BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Penyakit jantung reumatik (Reumatic Heart Disease) merupakan
penyakit jantung didapat yang sering ditemukan pada anak. Penyakit jantung
reumatik merupakan kelainan katup jantung yang menetap akibat demam
reumatik akut sebelumnya, terutama mengenai katup mitral (75%), aorta (25%),
jarang mengenai katup trikuspid, dan tidak pernah menyerang katup pulmonal.
Penyakit jantung reumatik dapat menimbulkan stenosis atau insufisiensi atau
keduanya.5

B. EPIDEMIOLOGI
Penyakit jantung rematik menyebabkan setidaknya 200.000-250.000
kematian bayi premature setiap tahun dan penyebab umum kematian akibat
penyakit jantung pada anak-anak dan remaja di negara berkembang. Dalam
laporan WHO Expert Consultation Geneva, 29 Oktober–1 November 2001
yang diterbitkan tahun 2004 angka mortalitas untuk PJR 0,5 per 100.000
penduduk di negara maju hingga 8,2 per 100.000 penduduk di negara
berkembang di daerah Asia Tenggara diperkirakan 7,6 per 100.000 penduduk.
Diperkirakan sekitar 2.000-332.000 penduduk yang meninggal diseluruh dunia
akibat penyakit tersebut. Prevalensi demam rematik di Indonesia belum
diketahui secara pasti, meskipun beberapa penelitian yang pernah dilakukan
menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung rematik berkisar antara 0,3
sampai 0,8 per 1.000 anak sekolah.6

C. ETIOLOGI
Etiologi terpenting dari penyakit jantung reumatik adalah demam
reumatik. Demam reumatik merupakan penyakit vaskular kolagen multisistem
yang terjadi setelah infeksi Streptococcus grup A pada individu yang

23
mempunyai faktor predisposisi. Keterlibatan kardiovaskuler pada penyakit ini
ditandai oleh inflamasi endokardium dan miokardium melalui suatu proses
’autoimune’ yang menyebabkan kerusakan jaringan. Inflamasi yang berat dapat
melibatkan perikardium. Valvulitis merupakan tanda utama reumatik karditis
yang paling banyak mengenai katup mitral (76%), katup aorta (13%) dan katup
mitral dan katup aorta (97%). Insidens tertinggi ditemukan pada anak berumur
5-15 tahun.5
D. PATOFISIOLOGI
Meski pengetahuan mengenai penyakit ini serta penelitian terhadap
kuman Streptococcus hemolyticus grup A sudah berkembang pesat namun
sampai saat ini pathogenesis secara pasti masih belum dapat diketahui. Pada
umumnya para ahli mengatakan bahwa demam rematik adalah penyakit
autoimun.7
Streptokokus menghasilkan tidak kurang dari 20 produk ekstrasel,
produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi. Demam rematik
diduga merupakan akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa
produk ekstrasel dari streptokokus. Karena merupakan antigen, tubuh akan
membentuk antibody untuk menetralisirnya. Kaplan mengemukakan hipotesis
tentang adanya reaksi silang antibody terhadap streptokokus dengan otot
jantung yang mempunyai susunan antigen mirip dengan streptokokus. Hal
inilah yang menyebabkan reaksi autoimun.7
Streptococcus hemolyticus grup A biasanya menyerang jaringan otot
miokardium, endocardium dan pericardium, terutama pada katup mitral dan
katup aorta. Secara histopatologis, infeksi ditandai dengan adanya proses
aschoff bodies yang khas. Daun katup dan korda tendinea akan mengalami
edema, proses fibrosis, penebalan, vegetasi dan mungkin kalsifikasi.8
Proses-proses tersebut menunjukan bahwa penyakit ini memang
merupakan suatu penyakit autoimun, dimana reaksi silang yang terjadi antara
streptokokus dengan jaringan tubuh tertentu dapat menyebabkan kerusakan
jaringan secara imunologik.8

24
Lesi valvular pada rheumatic fever akan dimulai dengan pembentukan
verrucae yang disusun fibrin dan sel darah yang terkumpul di katup jantung.
Setelah proses inflamasi mereda, verurucae akan menghilang dan meninggalkan
jaringan parut. Jika serangan terus berulang veruccae baru akan terbentuk
didekat veruccae yang lama dan bagian mural dari endokardium dan korda
tendinea akan ikut mengalami kerusakan. Kelainan pada valvular yang tersering
adalah regurgitasi katup mitral (65-70% kasus).8
D. MANIFESTASI KLINIS
Perjalanan penyakit dibagi menjadi 4 stadium:9
1. Stadium I
Stadium ini berupa infeksi saluran nafas bagian atas oleh kuman
beta streptococcus hemolyticus grup A. seperti infeksi saluran nafas pada
umumnya, gejala yang terjadi termasuk demam, batuk, rasa sakit waktu
menelan, tidak jarang disertai muntah dan bahkan pada anak kecil dapat
terjadi diare.
Pada pemeriksaan fisis sering didapatkan eksudat ditonsil yang
menyertai tanda peradangan lainnya. Kelenjar getah bening submandibular
sering kali membesar. Infeksi ini biasanya berlangsung 2-4 hari, dan dapat
sembuh sendiri tanpa pengobatan.
2. Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, merupakan masa antara
infeksi streptokok dengan permulaan gejala demam rematik. Biasanya
periode ini berlangsung antara 1-3 minggu, kecuali korea yang dapat timbul
6 minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian.
3. Stadium III
Ini merupakan stadium fase akut demam rematik, saat timbulnya
berbagai manifestasi klinis demam rematik. Manifestasi klinis tersebut
dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan manifestasi spesifik
demam rematik. Gejala peradangan umum biasanya pasien mengalami
demam yang tidak tinggi, tanpa pola demam tertentu. Anak menjadi
lesu, anoreksia, lekas tersinggung dan berat badan menurun. Anak tampak

25
pucat karena anemia akibat tertekannya eritropoesis, bertambahnya volume
plasma serta memendeknya umur eritrosit. Dapat pula terjadi epistaksis,
yang bila banyak dapat menambah derajat anemia. Atralgia, rasa sakit di
sekitar sendi selama beberapa hari atau beberapa minggu juga sering
didapatkan, rasa sakit akan bertambah dengan latihan fisik. Pada
pemeriksaan lab terdapat tanda peradangan akut berupa C- reactive protein
dan leukositosis serta meningginya LED. Titer ASTO meninggi pada kira-
kira 80% kasus. Pada EKG terjadi pemanjangan interval P-R.
4. Stadium IV
Stadium ini disebut stadium inaktif. Pada stadium ini pasien demam
rematik tanpa kelainan jantung, atau pasien penyakit jantung reumatik tanpa
gejala sisa katup, tidak menunjukkan gejala. Pada pasien penyakit jantung
reumatik dengan gejala sisa selain katup jantung, gejala yang timbul sesuai
dengan jenis serta beratnya penyakit.
E. DIAGNOSIS
Demam reumatik didiagnosis berdasarkan manifestasi klinis dan
radiologis menurut kriteria WHO 2003, merupakan kriteria Jones. Terdapatnya
dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor ditambah dua kriteria minor disertai
bukti infeksi streptokokkus sebelumnya memastikan diagnosis demam
reumatik akut.5
Kriteria Jones (revisi) untuk pedoman dalam diagnosis reumatik (1992).

26
Artritis merupakan manifestasi yang paling umum ditemukan.
Biasanya artritis melibatkan sendi besar dan berpindah. Arthralgia tidak dapat
dianggap sebagai manifestasi minor jika didapatkan adanya adanya artritis.
Karditis terjadi pada sekitar 50% pasien. Takikardia, murmur yang baru
terdengar (regurgutasi mitral atau aortic), pericarditis, kardiomegali, dan tanda-
tand gagal jantung merupakan bukti adanya karditis. Eritema marginatum,
yaitu ruam serpiginosa yang cepat menghilang, non-pruritik, dan jarang
ditemukan, biasanya terlihat di batang tubuh serta dipicu oleh udara panas.5

Nodul subkutan biasanya terlihat pada penyakit kronik atau rekuren.


Nodul teraba agak keras, tidak nyeri, non-pruritik, dapat digerakan, dan dapat
ditemukan pada permukaan ekstensor sendi besar dan kecil, kulit kepala, serta
tulang belakang. Korea (Sydenham chorea atau St. Vitus dance) terdiri dari
gejala neurologis serta psikiatrik. Korea juga jarang dan sering timbul lama
setelah infeksi faring.5

F. DIAGNOSIS BANDING
Tidak ada satupun gejala klinis maupun kelainan laboratorium yang
khas untuk demam reumatik/penyakit jantung reumatik. Banyak penyakit lain
yang mungkin memberi gejala yang sama atau hampir sama dengan demam
reumatik/penyakit jantung reumatik. Yang perlu diperhatikan ialah infeksi
piogen pada sendi yang sering disertai demam serta reaksi fase akut. Bila
terdapat kenaikan yang bermakna titer ASTO akibat infeksi Streptococcus
sebelumnya (yang sebenarnya tidak menyebabkan demam reumatik), maka
seolah-olah kriteria Jones sudah terpenuhi. Evaluasi terhadap riwayat infeksi
Streptococcus serta pemeriksaan yang teliti terhadap kelainan sendinya harus
dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi diagnosis berlebihan.8
Reumatoid artritis serta lupus eritrmatosus sistemik juga dapat memberi
gejala yang mirip dengan demam reumatik. Diagnosis banding lainnya ialah
purpura Henoch-Schoenlein, reaksi serum, hemoglobinopati, anemia sel sabit,
artritis pasca infeksi, artritis septik, leukimia dan endokarditis bakterialis sub
akut.8

27
TABEL DIAGNOSIS BANDING DEMAM REUMATIK

Demam reumatik Artritis reumatoid Lupus


eritomatosus
sistemik
Umur 5-15 tahun 5 tahun 10 tahun
Rasio kelamin sama Wanita 1,5:1 Wanita 5:1
Kelainan sendiSakit Hebat sedang Biasanya ringan

Bengkak

Kelainan Ro Non spesifik Non spesifik Non spesifik

Tidak ada Sering (lanjut) Kadang-kadang


Kelainan kulit Eritema Makular Lesi kupu-kupu
marginatum
Karditis ya Jarang Lanjut
LaboratoriumLateks – ± 10% Kadang-kadang

Aglutinasi sel
domba
– ± 10%
Sediaa sel LE
± 5%
Respon terhadap cepat Biasanya lambat Lambat / –
salisilat

28
G. PENATALAKSANAAN

Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan sebagai berikut:8

1. Tirah Baring
Lama dan tingkat tirah baring tergantung sifat dan keparahan serangan
(Tabel panduan aktivitas pada DRA).

2. Pemusnahan Streptokok dan Pencegahan


Rekomendasi untuk pencegahan streptokok dari tonsil dan faring sama
dengan rekomendasi yang dianjurkan untuk pengobatan faringitis
streptokok, yaitu:
 Benzantin penicillin G
 Dosis 0,6-1,2 juta U i.m.
 Juga berfungsi sebagai pencegahan dosis pertama
 Jika alergi terhadap benzantin penisilin G
 Eritromisin 40mg/kgbb/hari dibagi 2-4 dosis selama 10 hari
 Alternatif lain: penisilin V 4 X 250 mg p.o. selama 10 hari
3. Pengobatan Antinyeri dan Antiradang
Antiinflamasi asetosal diberikan pada karditis ringan sampai sedang,
sedangkan prednison hanya diberikan pada karditis berat.
 Karditis minimal: tidak jelas ditemukan kardiomegali
 Karditis sedang: kardiomegali ringan

29
 Karditis berat: jelasterdapat kardiomegali disertai tanda gagal jantung

Dosis: Prednison : 2 mg/kgbb/haridibagi 4 dosis


Aspirin :100 mg/kgbb/hari, dibagi 4-6 dosis
Dosis prednison di tappering off pada minggu terakhir pemberian dan
mulai diberikan aspirin
Setelah minggu ke-2 dosis aspirin diturunkan menjadi 60 mg/kgbb/hari.
4 Terapi Gagal Jantung
Gagal jantung pada rheumatic fever umumnya merespon baik terhadap
tirah baring, restriksi cairan, dan terapi kortikosteroid, namun pada
beberapa pasien dengan gejala yang berat, terapi diuterik, ACE-inhibitor,
dan digoxin bisa digunakan. Awalnya, pasien harus melakukan diet
restriksi garam ditambah dengan diuretik. Apabila hal ini tidak efektif, bisa
ditambahkan ACE Inhibitor dan atau digoxin.

30
5 Terapi Operatif

Pada pasien dengan gagal jantung yang persisten atau terus mengalami
perburukan meskipun telah mendapat terapi medis yang agresif untuk
penanganan rheumatic heart disease, operasi untuk mengurangi defisiensi
katup mungkin bisa menjadi pilihan untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Pasien yang simptomatik, dengan disfungsi ventrikel atau mengalami
gangguan katup yang berat, juga memerlukan tindakan intervensi.

a. Stenosis Mitral: pasien dengan stenosis mitral murni yang ideal, dapat
dilakukan ballon mitral valvuloplasty (BMV). Bila BMV tak
memungkinkan, perlu dilakukan operasi.

b. Regurgitasi Mitral: Rheumatic fever dengan regurgitasi mitral akut


(mungkin akibat ruptur khordae)/kronik yang berat dengan rheumatic
heart disease yang tak teratasi dengan obat, perlu segera dioperasi untuk
reparasi atau penggantian katup.

c. Stenosis Aortik: stenosis katut aorta yang berdiri sendiri amat langka.
Intervensi dengan balon biasanya kurang berhasil, sehingga operasi lebih
banyak dikerjakan.

d. Regurgitasi Aortik: regurgitasi katup aorta yang berdiri sendiri atau


kombinasi dengan lesi lain, biasanya ditangani dengan penggantian
katup.

H. PENCEGAHAN
Sesudah pengobatan DRA selama 10 hari dilanjutkan dengan pencegahan
sekunder. Cara pencegahan sekunder yang diajukan oleh The American
Heart Association dan WHO, yaitu mencegah infeksi streptokokus.
1. Pencegahan primer
Penisilin oral untuk eradikasi Streptococcus beta hemolyticus group A
selama 10 hari atau benzathine penicillin G 0.6-1.2 juta unit IM
2. Pencegahan sekunder
Benzantin penisilin G 600.000 U IM untuk berat badan<27 kg (60 pound),

31
1,2 juta U untuk berat badan >27 kg (60 pound) setiap 4 minggu/28 hari
 Pilihan lain:
Penisilin V p.o.125–250mg 2 kali sehari Sulfadiazin 1 g p.o. sekali
sehari Eritromisin 250 mg p.o. 2 kali sehari Diberikan pada demam
reumatik akut, termasuk korea tanpa penyakit jantung reumatik.
 Lama pencegahan adalah sebagai berikut:

I. PROGNOSIS
Pasien dengan riwayat rheumatic fever berisiko tinggi mengalami
kekambuhan. Resiko kekambuhan tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun sejak
episode awal. Semakin muda rheumatic fever terjadi, kecenderungan
kambuh semakin besar. Kekambuhan rheumatic fever secara umum mirip
dengan serangan awal, namun risiko karditis dan kerusakan katup lebih
besar.10
Manifestasi rheumatic fever pada 80% kasus mereda dalam 12
minggu. Insiden RHD setelah 10 tahun adalah sebesar 34% pada pasien
dengan tanpa serangan rheumatic fever berulang, tetapi pada pasien dengan
serangan rheumatic fever yang berulang kejadian RHD meningkat menjadi
60%.11

32