Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebidanan Komunitas sebagai segala aktifitas yang dilakukan oleh bidan
untuk menyelamatkan pasiennya dari gangguan kesehatan. Pengertian
kebidanan komunitas yang lain menyebutkan upaya yang dilakukan Bidan
untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan Ibu dan Anak balita di dalam
keluarga dan masyarakat. Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan
profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada
kelompok resiko tinggi, dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang
optimal melalui pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien
sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan ke
Kebidanan.
Komunitas tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat, keberhasilan
kebidanan komunitas dalam rangka upaya peningkatan kesehatan ibu, anak
dan keluarga bergantung kepada dukungan masyarakat itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka di rumuskan masalah sebagai
berikut : “Bagaimana Manajerial Asuhan Kebidanan Di Komunitas Baik Di
Rumah Posyandu Dan Polindes Dengan Fokus Making Pregnancy Safer
(Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Dan Balita Pelayanan Kontrasepsi Dan
Rujukan Sistem Rujukan)”

C. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana Manajerial Asuhan Kebidanan Di
Komunitas Baik Di Rumah Posyandu Dan Polindes Dengan Fokus Making
Pregnancy Safer (Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Dan Balita Pelayanan
Kontrasepsi Dan Rujukan Sistem Rujukan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita


1. Pemantauan tumbuh kembang bayi, balita, dan anak
prasekolah/deteksi dini
Deteksi dini tumbuh kembang bayi, balita dan anak prasekolah
adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya
penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah.
Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh
kembang bayi, balita dan anak prasekolah, maka intervensi akan lebih
mudah dilakukan tenaga kesehatan juga mempunyai “waktu” dalam
membuat rencana tindakan atau intervensi yang tepat, terutama ketika
harus melibatkan ibu/keluarga.bila penyimpangan terlambat diketahui,
maka intervensinya akan sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh
kembang bayi, balita, dan anak prasekolah tersebut.
Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat
dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya
berupa :
a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui
atau menemukan status gizi kurang/buruk dan mikro atau
makrosefali.
b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui
gangguan perkembangan bayi dan balita (keterlambatan), gangguan
daya lihat, gangguan daya dengar.
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk
mengetahui adanya masalah mental emosional, autism dan gangguan
pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
a. Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB)
1) Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi
anak apakah normal, kurus, kurus sekali, gemuk.

2
2) Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi
tumbuh kembang balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB
dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
3) Pengukuran berat badan (BB) :
a) Menggunakan timbangan bayi
(1) Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak
sampai umur 2 tahun atau selama anak masih bisa
berbaring atau duduk tenang.
(2) Letakan timbangan pada meja yang datar dan tidak
mudah bergoyang.
(3) Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke
angka 0.
(4) Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaus kaki dan
sarung tangan.
(5) Baringkan bayi dengan hati-hati diatas timbangan.
(6) Lihat jarum timbangan sampai berhenti.
(7) Baca angka yang ditunjukan oleh jarum timbangan
atau angka timbangan.
(8) Bila bayi terus bergerak, perhatikan gerakan jarum,
baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke
kanan dan ke kiri.
b) Menggunakan timbangan injek
(1) Letakan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak
mudah bergerak.
(2) Lihat posisi jarum atau angka menunjuk angka 0.
(3) Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis,
tidak memakai alas kaki, jaket, topi, jam tangan,
kalung dan tidak memegang sesuatu.
(4) Anak berdiri diatas timbangan tanpa dipegangi.
(5) Lihat jarum timbangan sampai berhenti.
(6) Baca angka yang ditunjukan oleh jarum timbangan
atau angka timbangan.

3
(7) Bila anak terus-menerus bergerak , perhatikan gerakan
jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan
jarum ke kanan dan ke kiri
4) Pengukuran panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) :
a) Cara mengukur dengan posisis berbaring
(1) Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang.
(2) Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
(3) Kepala bayi menempel pada pembatas angka 0.
(4) Petugas 1 : Kedua tangan memegang kepala bayi agar
tetap menempel pada pembatas angka 0 (pembatas
kepala).
(5) Petugas 2 : Tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus,
tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki.
(6) Petugas 2 : Membaca angka ditepi di luar pengukur.
b) Cara mengukur dengan posisi berdiri
(1) Anak tidak memakai sandal atau sepatu.
(2) Berdiri tegak menghadap kedepan.
(3) Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang
pengukur.
(4) Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di
ubun-ubun.
(5) Baca angka pada batas tersebut.
5) Pengukuran lingkar kepala
a) Tujuan pengukuran
Untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas normal
atau diluar batas normal.
b) Jadwal pengukuran
Disesuaikan dengan umur anak. Umur 0-11 bulan,
pengukuran dilakukan setiap tiga bulan. Pada anak yang
lebih besar, umur 12-27 bulan, pengukuran dilakukan setiap
enam bulan. Pengukuran dan penilaian kepala anak
dilakukan oleh tenagakesehatan terlatih.
c) Cara mengukur lingkar kepala

4
(1) Pengukur dilingkarkan pada kepala anak melewati
dahi, menutup alis mata, di atas kedua telinga, dan
bagian belakang kepala yang menonjol, tarik agak
kencang.
(2) Baca angka pada pertemuan dengan angka 0.
(3) Tanyakan tanggal lahir bayi/anak, hitung umur
bayi/anak.
(4) Hasil pengukuran di catat pada grafik lingkar kepala
menurut umur dan jenis kelamin anak.
(5) Buar garis yang menghubungkan antara ukuran yang
lalu drengan ukuran sekarang.
d) Interprestasi.
(1) Bila ukuran lingkar kepala anak berada didalam jalur
hijau maka lingkar kepala anak normal.
(2) Bila ukuran lingkar anak berada di luar jalur hijau
maka lingkar kepala anak tidaki normal.
(3) Lingkar kepala anak yang tidak normal dibedakan
menjadi dua, yaitu makrosefal bila berada diatas jalur
hijau dan mikrosefal bila berada dibawah jalur hijau.
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan
Deteksi dini penyimpangan perkembangan anak dilakukan di semua
tingkat pelayanan. Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah
sebagai berikut :
a. Skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan kuesioner
pra skrining perkembangan (KPSP)
1) Tujuan skrining/pemeriksaan anak menggunakan KPSP adalah
untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada
penyimpangan.
2) Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah umur 3, 6, 9,
12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan72 bulan. Jika
anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta ibu datang
kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan
rutin. Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta kembali untuk
skrining KPSP pada umur 9 bulan. Apabila orang tua datang

5
dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang
sedangkan umur anak bukan umur skrining maka pemeriksaan
menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat yang lebih
muda.
3) Skrining/pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru
TK dan petugas PAUD terlatih.
4) Alat/instrument yang digunakan adalah :
a) Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 9-10
pertanyaan tentang tentang kemampuan perkembangan
yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72
bulan.
b) Alat bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas, bola sebesar
bola tenis, kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 cm
sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit
kecil berukuran 0,5-1 cm.
5) Cara menggunakan KPSP
a) Pada waktu pemeriksaan/skrining anak harus dibawa.
b) Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan
dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih dari 16 hari
dibulatkan menjadi 1 bulan.
c) Setelah menentukan umur anak, pilih KPSPyang sesuai
dengan umur anak.
d) KPSP terdiri atas 2 macam pertanyaan, yaitu :
(1) Pertanyaan yang dijawab oleh ibu atau pengasuh anak,
contoh :”Dapatkah bayi makan kue sendiri?”
(2) Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk
melaksanaan tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh
:”Pada posisi bayi anda telentang, tariklah bayi pada
pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi
duduk”.
e) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu-ragu atau takut
menjawab, oleh karena itu tanyakan pertanyaan tersebut
secara berurutan, satu-persatu. Setiap pertanyaan haya ada

6
1 jawaban ya atau tidak. Catat jawaban tersebut pada
formulir.
6) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak
menjawab pertanyaan terdahulu.
7) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
8) Interpretasi hasil KPSP:
a) Hitung berapa jumlah jawaban “ya”,
(1) jawaban “ya”, bila ibu/pengasuh anak menjawa: anak
bisa atau pernah atau sering atau kadang-kadang.
(2) Jawaban “tidak” bila ibu/pengasuh anak menjawab
anak belum pernah melakukan atau tidak pernah atau
ibu/pengasuh anak tidak tahu.
b) Jumlah jawaban “ya” = 9 atau 10, perkembangan anak
sesuaidengan tahap perkembangannya (S).
c) Jumlah jawaban “ya” = c atau 8, perekembangan anak
meragukan (M).
d) Jumlah jawaban “ya” = 6 atau kurng, kemungkinan ada
penyimpangan (P).
e) Untuk jawaban “tidak” perlu di rinci jumlah jawaban
“tidak” menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak
halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
9) Intervensi
a) Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan
berikut:
(1) Beri pujiankepada ibu karena sudah mengasuh anaknya
dengan baik.
(2) Teruskan asuh pola anak sesuai dengan tahap
perkembangan anak
(3) Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering
mungkin, sesuai dengan umur dan kesiapan anak.
(4) Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan
pelayanan kesehatan di posyandu secara teratur setiap
satubulan sekali dan setiap ada kegiatan bina keluarga
balita (BKB), jikaanak sudah memasuki usia

7
prasekolah36-72 bulan, anak dapat di ikutkan pada
kegiatan di PAUD, kelompok bermain dan taman
kanak-kanak.
(5) Lakukan pemeriksaan atau skrining rutin menggunakan
KPSP setiap 3 bulan pada anak berumur kurang dari 24
bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 24 sampai 72
bulan.
b) Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan
berikut:
(1) Beri petunjuk kepada ibu agar melakukan stimulasi
perkembangan pada anak lebih sering lagi, setiap saat
dan sesering mungkin.
(2) Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi
perkembangan anak untuk mengatasi
penyimpangan/mengejar ketinggalannya.
(3) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari
kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan
penyimpangan/mengejar ketinggalannya.
(4) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari
kemungkinan adana penyakit yang menyebabkan
penyimpangan perkembangannya.
(5) Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian
dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai
dengan umur anak.
(6) Jika hasil KPSP ulang jawaban “ya” tetap 7 atau 8
maka kemungkinan ada penyimpangan (P).
c) Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P),
lakukan tindakan berikut:
Rujuk ke rumah sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah
penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa sosialisasi dan kemandirian).

8
b. Tes daya dengar
1) Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan
pendengaran sejak dini,aagar dapat segera di tindaklanjuti untuk
meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
2) Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi kurang dari 12
bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan ke atas. Tes
ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD
dan petugas terlatih lainnya.
3) Alat atau sarana yang diperlukan adalah:
a) Instrumen TDD menurut umur anak
b) Gambar binatang (ayam,anjing,kucing) dan manusia
c) Mainan (boneka,kubus,sendok,cangkir,dan bola).
4) Cara melakukan TDD:
Tanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir hitung umur anak
dalam bulan. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan
umur anak.
a) Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
(1) Semua pertanyaan harus di jawab oleh orang
tua/pengasuh anak. Tidak usah ragu-ragu atau takut
menjawab, karena tidak untuk mencari yang salah.
(2) Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelasdan nyaring,
satu-persatu dan berurutan.
(3) Tunggu jawaban dari orang tua atau pengasuh anak.
(4) Jawaban “ya” jika menurut orang tua atau pengasuh
anak dapat melakukannyadalam 1bulan terakhir.
b) Pada anakumur 24 bulan atau lebih:
(1) Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orang
tuaatau pengasuh untuk dikerjakan oleh anak.
(2) Amati kemampuan anak dalam melakukan untuk
melakukan perintah orang tua atau pengasuh.
(3) Jawaban “ya” jika anak dapat melakukan perintah
orang tua atau pengasuh.
(4) Jawaban “tidak” jika anak tidak atau tidak mau
melakukan perintah orang tua atau pengasuh.

9
(5) Interpretasi:
 Bila ada 1 atau lebih jawaban “tidak”
kemungkinan anak mengalami gangguan
pendengaran
 Catat dalam buku KIA atau kartu kohort bayi atau
balita atau statusatau catatan medik anak, jenis
kelamin.
(6) Intervensi
 Tindak lanjut sesuay dengan buku dengan
pedoman yang ada.
 Rujuk ke RS bila tidak di tanggulangi.
c. Tes daya lihat
1) Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini
kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindak lanjutan
sehingga kesempatan untuk memproleh ketajaman daya lihat
menjadi lebih besar.
2) Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia
pra sekolah umur 36 sampai 72 bulan.tes ini dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan,gru TK,tenaga PAUD dan petugas latih
lainnya.
3) Alat atau sarana yang diperlukan:
a) Ruangan yang bersih, dengan penyinaran yang baik.
b) Dua buah kursi, 1 untuk anak 1 untuk pemeriksa.
c) Poster ”E” untuk di gantung dan kartu “E” untuk dipegang
anak.
d) Alat petunjuk.
4) Cara melakukan tes daya lihat:
a) Pilih suatu ruangan yang bersih dan tenang dengan
penyinaran yang baik
b) Gantungkan poster “E” setinggi mata anak pada posisi
duduk
c) Letakkan sebuah kursi sejauh tiga meter dari poster “E”
menghadap ke poster “E”

10
d) Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster “E” untuk
pemeriksa
e) Pemeriksa memberikan kartu “E” latih anak dalam
mengarahkan kartu “E” menghadap atas, bawah, kiri, dan
kanan; sesuai yang d tunjuk pada poster “E” oleh
pemeriksa. Lakukan hal ini sampai anak mau
melakukannya dengan benar.
f) Selanjutnya anak diminta menutup sebelah matanya dengan
buku atau kertas.
g) Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf “E” pada posisi satu
per satu mulai baris pertama sampai baris ke empat
h) Puji anak setiap kali dapat mencocokan posisi kartu “E”
yang di pegangnya dengan huruf “E” pada poster.
i) Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan
cara yang sama
j) Tulis baris “E” terkecil yang masih dapat di lihat, pada
kertas yang telah di sediakan:
Mata kanan:............... Mata kiri:................
5) Interpretasi:
Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan melihat
sampai baris ketiga pada poster “E” bila keadaa mata anak tidak
dapat melihat pada poster “E” artinya tidak dapat mencocokan
arah kartu “E” pada baris ketiga yang di tunjuk oleh pemeriksa,
kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.
6) Intervensi
Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat minta
anak datang lagi untuk pemeriksaa ulang, bila pada
pemeriksaan berikutnya, anak tidak dapat melihat sampai
barisan yang sama atau tidak dapat melihat baris ke dua dengan
kedua matanya rujuk kerumah sakit dengan menuliskan mata
yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya)
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan
atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental

11
emosional,autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas
pada anak,agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi.bila
penyimpangan emosional terlambat diketahui,maka intervensinya akan
lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada pada tumbuh kembang
anak.Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Ada beberapa jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi
secara dini danya penyimpangan mental emosional pada anak yaitu:
a. kuesioner mental emosional (KMME) bagi anak umur 36bulan
sampai 72 bulan.
b. ceklis autis anak pra sekolah ,bagi anak umur 18 sampai sampai 36
bulan.
c. formulir feteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas (gpph).

a. Deteksi dini masalah mental emosional pada anak pra sekolah.


1) Tujuan nya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya
penyimpangan atau masalah mental emosional pada anak
sekolah.
2) Jadwal deteksi dini masalah menyal emosional adalah rutin
setiap 6 bulan pada anak umur 36 sampai 72 bulanjadwal ini
sesuay dengan jadwal sekrining atau pwmeriksaan
perkembangan anak.
3) Alat yang digunakan adalah KMME yang terdiri dari 12
pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional anak
umur 36 sampai 72 bulan.
4) Cara melakukannya:
a) Tanyakakan setiap prtnyaan dengan lambat,jelas, dan
nyaring satu persatu prilaku yang tertulis pada
(KMME)terlampir)
b) Catat jawaban “ya” kemudian hitung jumlah jawaban “ya”
5) Interpretasi
Bila ada jawaban “ya” maka kemungkinan anak mengalami
masalah mental emosional .

12
6) Intervensi
a) Bila jawaban “ya’ hanya 1:
(1) Lakukan konseling kepada orang ua menggunaka buku
pedoman pola asuh yang mendukung perkembangan
pola anak.
(2) Lakukan evaluasi setelah 3 bulan tidak ada perubahan
rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan
jiwa atau tumbuh kembang anak.
b) bila jawaban “ya”ditemukan dua anak atau lebih rujuk
kerumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa
tumbuh kembang anak.rujukan harus disertai informasi
mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang
ditemukan.
b. Deteksi dini autis pada anak pra sekolah
1) tujuan nya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autos
pada anak umur 18 sampai 36 bulan.
2) Jadwal deteksi dini autis pada anak pra sekolah dilakukan atas
indikasi atau ada keluhan dari ibu atau pegasuh anak’atau
kecurigaan tenaga kesehtan,kader kesehatan,BKB,petugas
PAUD, pengelola TPA dan guru TK.keluhan tersebut dapat
berupa salah satu atau lebih keadaan dibawah ini:
a) Keterlambatan bicara
b) Gangguan komunikasi atau interaksi sosial
c) prilaku yang berulang ulang
3) Alat yng digunakan adalah CHAT CHAT INI ADA 2 jenis
pertanyaan yaitu:
a) ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua atau
pengasuh anak.
b) Ada 5 printah bagi anak,untuk melakukan tugas sepertu
CHAT.
4) Cara menggunakan CHAT:
a) Ajukan pertayaan dengan lambat, satu persatu prilaku yang
tertulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.

13
b) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas
CHAT.
c) Catat jawaba oang tua atau pengasuh anak atau kesimpulan
hasil pengamatan kemampuan anak,ya atau tidak.teliti
kembali apakah semua pertayaan telah di jawab.
5) Interpretasi :
a) Risiko tinggi menderita autis : bila jawaban “tidak” pada
pertanyaan A5, A7, B2, B3 dan B4.
b) Risiko rendah menderita autis : bila jawaban “tidak” pada
pertanyaan A7 dan B4.
c) Kemungkinan gangguan perkembangan lain : bila jawaban
“tidak” jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4,
A6, A8, A9, B1 dan B5.
d) Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam
kategori 1,2 dan 3.
6) Intervensi :
Bila anak risiko menderita autis atau kemungkinan ada
gangguan perkembangan, rujuk ke rumah sakit yang memiliki
fasilitas kesehatan jiwa/ tumbuh kembang anak.
c. Deteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH) pada anak prasekolah.
1) Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini pada anak
adanya GPPH pada anak umur 36 bulan keatas.
2) Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas
indikasi atau bila ada keluhan dari orang tua/ pengasuh anak
atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB,
petugas PAUD, pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut
dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :
a) Anak tidak bisa duduk tenang
b) Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal
lelah.
c) Perubahan suasan hati yang mendadak/implusif.
3) Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini GPPH
Formulir ini terdiri dari 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada

14
orang tua/ pengasuh anak/ guru TK dan pertanyaan yang perlu
pengamatan pemeriksa.
4) Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH:
a) Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-
persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini
GPPH. Jelaskan epada orang tua/ pengasuh anak untuk
tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
b) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dnegan
pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH.
c) Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak
dimanapun anak berada, misal ketika di rumah, sekolah,
pasar, toko, dan lain-lain); setiap saat dan ketika anak
dengan siapa saja.
d) Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama
dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua
pertanyaan telah dijawab.
5) Interpretasi:
Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan bobot
nilai berikut ini dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban
menjadi nilai total.
a) Nilai 0: jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
b) Nilai 1: jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan
pada anak.
c) Nilai 2: jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak.
d) Nilai 3: jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Bila nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.
6) Intervensi:
a) Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke rumah
sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/ tumbuh
kembang anak.
b) Bila nilai total kurang dari 13 tetapi Anda ragu-ragu,
jadwalkan pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan
pertanyaahn kepada orang-orang terdekat dengan anak
(orang tua, pengasuh, nenekm guru, dan sebagainya).

15
B. Pelayanan Kontrasespsi dan Rujukannya
1. Rujukan kasus
a. Fasilitas pelayanan yang merujuk
Fasilotas pelayanan kontrasepsi di komunitas dapat merujuk kasus
ke fasilitas pelayanan yang lebih mampu. Setelah melakukan proses
pemeriksaan dengan hasil sebagai berikut:
1) Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostik kasus tersebut
tidak dapat diatasi.
2) Perlu pemeriksaan penunjang diagnostik yang lebih lengkap
dengan memerlukan kedatangan penderita yang bersangkutan.
3) Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih
memerlukan perawatan dan pengobatan ke fasilitas pelayanan
yang lebih mampu.

b. Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan


1) Setelah melakukan pemerikssan penunjang diagnostik, dapat
mengirimkan kembali penderita ke fasilitas pelayanan yang
merujuk untuk pembinaan lebih lanjut.
2) Setelah melakukan perawatan dan pengobatan, dapat
mengirimkan kembali penderita ke fasilitas pelayanan yang
merujuk untuk pembinaan lebih lanjut
2. Rujukan kemampuan dan keterampilan
a. Fasilitas pelayanan yang merujuk
1) Melakukan konsultasi.
2) Mengirim tenaga-tenaga untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampulan.
3) Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari fasilitas
pelayanan.
b. Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan
1) Memberi informasi.
2) Memberikan latihan-latihan pada tenaga yang dikirimkan.
3) Memberikan kunjungan tenaga-tenaga ytang diperlukan oleh
fasilitas pelayanan yang merujuk.

16
3. Pencatatan dan pelaporan rujukan
a. Fasilitas pelayanan yang merujuk
1) Mencatat penderita yang dirujuk dalam register klinik.
2) Membuat surat pengirim penderita.
3) Melaporkan jumlah penderita yang dirujuk dalam laporan
bulanan klinik.
b. Fasilitas pelayanan yang menerima rujukan
1) Membuat tada terima penderita.
2) Mencatat penderita dalam register.
3) Memberikan informasi kepada fasilitas pelayanan yang merujuk
jika penderita yang dirujuk tidak perlu perawatan, pengobatan
atau pembinaan lanjutan dari fasilitas pelayanan yang merujuk.
4) Membuat surat pengiriman kembali serta memberikan informasi
jika penderita yang dirujuk perlu perawatan, pengobatan atau
pembinaan lanjutan dari fasilitas pelayanan yang merujuk.
5) Membuat surat pengiriman kembali dan memberikan informasi
tentang perawatan dan pengobatan yang diberikan kepada
penderita yang dirujuk, jika penderita memerlukan pembinaan
lanjutan di fasilitas pelayanan yang merujuk.
4. Pengelolaan bantuan biaya penanggulangan komplikasi, kegagalan
dan biaya rujukan.
a. Bantuan biaya
Diberikan kepada peserta KB yang mengalami efek samping,
komplikasi maupun kegagalan.
1) Efek samping dengan memberikan obat-obatan efek samping
secara gratis.
2) Kasus kegagalan IUD, implant dan kontap kasus dengan
persalinan normal mendapat bantuan biaya yang disesuaikan
dengan peraturan daerah setempat dengan ketentuan tarif rumah
sakit pemerintah kelas 3.
3) Komplikasi/kasus kegagalan ID, implant dan kontap yang
diamksud misalnya:
a) Infeksi berat yang memerlukan perawatan.
b) Perdarahan berat yang memerlukan perawatan.

17
c) Tindakan pemeriksaan rontgen dan laboratorium untuk
membantu membuat diagnosis.
d) Komplikasi yang memerlukan tindakan operasi.
e) Besarnya biaya penganggulangan komplikasi dengan
peraturan daerah dengan ketentuan tarif RS pemerintah
kelas 3 termasuk biaya obat-obatan yang terpakai.
4) Kasus komplikasi/kegagalan yang memerlukan rujukan
Apabila peserta KB yang mengalami komplikasi/kegagalan
harus dirujuk dari fasilitas pelayanan yang lebih tinggi rendah
ke fasilitas pelayanan Kbyang lebih tinggi, bantuan biaya
transport penderita ditanggung sesuai dengan peraturan yang
ada. Semua kasus efek samping komplikasi serta kegagalan
tersebut diatas tidak dibatasi pada domisili/ tempay tinggal
peserta KB yang bersangkutan.

5) Peserta KB yang mengalami kegagalan/.komplikasi dan


mencari jasa pelayanan/ perawatan ke instansi atau fasilitas
pelayanan swasta yang tidak ditunjuk (seperti dokter swasta,
RB/RS swasta) dianggap cukup mampu untuk
menanggulanginya dengan kemampuannya sendiri. Bagi
mereka yang dipandang tidak perlu diberikan bantuan
minimum, kecuali untuk kasus0kasus gawat darurat seperti
misalnya pemakaian IUD dengan kehamilan ektopik terganggu
dengan perdarahan dan pre syok.
b. Prosedur
1) Efek samping
Pengadaan obat obatan efek samping dilaksanakan secara
koordinasi di tingkat provinsi antara BKKBN dengan unit
pelaksana sesuai rencana, kebutuhan yang telah disepakati.
Sedangkan distribusinya dilaksanakan melalui BKKBN
Kabupaten/Kodaya dan alikasinya pada masing-masing fasilitas
pelayanan KB dibicarakan bersama dengan unit pelaksana
Kabupaten/Kodya yang bersangkutan.

18
2) Komplikasi dan kegagalan
Bantuan biaya komplikasi dan kegagalan yang disebabkan
pemakaian alat kontrasepsi diambil dari BKKBN
Kabupaten/kota oleh :
a) Fasilitas pelayanan (RS/Puskesmas/PKBRS)
b) Dalam keadaan khusus oleh pasien/suami atau istri
pasien/orang lain yang diberikan kuasa secara tertulis.
c) Pengambilan bantuan biaya penanggulangan
kegagalan/komplikasi pemakaian alat kontrasepsi dengan
menyerahkan kuitansi tanda bukti pembayaran dan biaya
kegagalan/komplikasi pemakai alat kontrasepsi disertai
dengan surat keterangan diagnosis dari dokter yang
merawat serta surat keterangan dari fasilitas pelayanan
tempat pemasangan kontrasepsinya, dan surat pernyataan
pasien bahwa sudah mendapat perawatan dan pengobatan
dan sudah/belum membayar.
d) RS/Puskesmas/PKBRS dapat mengajukan uang muka ke
BKKBN Kab/Kota. Penyaluran uang muka selanjutnya
75% setelah SPJ nya dikembalikan kepada BKKBN Dati II
setempat.
C. Sistem Rujukan
1. Tujuan
Sistem rujukan bertujuan agar pasien mendapatkan pertolongan pada
fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat
terselamatkan, dengan demikian dapat menurunkan AKI dan AKB.
2. Jenis
a. Rujukan medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan pasien. Disamping itu juga mencakup rujukan
pengetahuan (konsultasi medis), dan bahan-bahan pemeriksaan.
b. Rujukan kesehatan masyarakat
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit
(preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Rujukan ini
mencakup rujukan teknologi, sasaran dan oprasional.

19
3. Jalur rujukan
Dalam kaitan ini jalur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin / bidan desa
3) Puskesmas / puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit pemerintah / swasta
b. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke :
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin / bidan desa
3) Puskesmas / puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit pemerintah / swasta
c. Dari Puskesmas Pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit
swasta
d. Dari Pondok bersalin / Bidan Desa
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit
swasta
4. Persiapan rujukan
Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan , disingkat
“BAKSOKU” yang dijabarkan sebagai berikut :
a. B (bidan) : pastikan ibu/bayi/klien didampingi oleh tenaga kesehatan
yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan
kegawatdaruratan
b. A (alat) : bawa perlengkapan dan bahan – bahan yang diperlukan,
seperti spuit, infus set, tensimeter, dan stetoskop
c. K (keluarga) : beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien)
dan alas an mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota keluarga yang
lain harus menerima Ibu (klien) ke tempat rujukan.

20
d. S (surat) : beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu
(klien), alasan rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan, atau obat – obat
yang telah diterima ibu (klien)
e. O (obat) : bawa obat – obat esensial diperlukan selama perjalanan
merujuk
f. K (kendaraan) : siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang nyaman dan dapat
mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat
g. U (uang) : ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah
yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang di
perlukan di temapat rujukan
5. Keuntungan system rujukan
a. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti
bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara
psikologis memberi rasa aman pada pasien dan keluarga
b. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan
keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga makin
banyak kasus yang dapat dikelola di daerahnya masing – masing
c. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli
6. Mekanisme rujukan
a. Menetukan kegawatdaruratan pada tingkat kader, bidan desa, pustu
dan puskesmas
1) Pada tingkat Kader
Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri
maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
karena mereka belum dapat menetapkan tingkat
kegawatdaruratan
2) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas
Tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat
kegawatdaruratan kasus yang ditemui. Sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya mereka harus menentukan
kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang
harus dirujuk.

21
b. Menetukan tempat tujuan rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan
yang mempunyai kewenangan terdekat, termasuk fasilitas pelayanan
swasta dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan
penderita.
c. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarganya perlu
diberikan informasi tentang perlunya pendeerita segera dirujuk
mendapatkan pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang
lebih mampu
d. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang ditunju melalui
telepon atau radio komunikasi pelayanan kesehatan yang lebih
mampu.
e. Persiapan penderita
Sebelum dikirim keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih
dahulu. Keadaan umum ini perlu dipertahankan selama dalam
perjalanan, Surat rujukan harus dipersiapkan si=esuai dengan format
rujukan dan seorang bidan harus mendampingi penderita dalam
perjalanan sampai ke tempat rujukan.
c. Pengiriman penderita
Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan
kendaraan/sarana transportasi yang tersedia untuk mengangkut
penderita.
d. Tindak lanjut penderita
1) Untuk penderita yang telah dikembalikan dan memrlukan tindak
lanjut, dilakukan tindakan sesuai dengan saran yang diberikan.
2) Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak
melapor, maka dilakukan kunjungan rumah.

22
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
segala aktifitas yang dilakukan oleh bidan untuk menyelamatkan
pasiennya dari gangguan kesehatan. Pengertian kebidanan komunitas yang
lain menyebutkan upaya yang dilakukan Bidan untuk pemecahan terhadap
masalah kesehatan Ibu dan Anak balita di dalam keluarga dan masyarakat.
Kebidanan mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan
pelayanan yang dilakukannya untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang
dilahirkan..
Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau
pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita dan anak pra sekolah. Ada tiga jenis deteksi dini yaitu :
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional
Rujukan kebidanan adalah legiatan pemindahan tanggung jawab
terhadapan kondisi klien/pasien ke fasilitas pelayanan yang lebih memadai
(tenaga atau pengetahuan, obat, dan peralatnnya. Jenis rujukan ada dua yaitu
: rujukan medik dan kesehatan. Persiapan rujukan antara lain yaitu
BAKSOKU.

B. Saran
Dengan di buatnya makalah ini diharapkn mahasiswa khususnya
kebidanan dapat mengerti dan lebih memahami tentang arti kebidanan
komunitas serta tugas-tugasnya dan lebih diharapkan makalah ini dapat
memotivasi bidan dimasa depan untuk lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam
memajukan pelayanan bidan komunitas sehingga tercipta pelayanan yang
berkualitas untuk menuju indonesia sehat.

23
DAFTAR PUSTAKA

Meilani Niken dkk, 2009. Kebidanan Komunitas Yogyakarta : Fitramaya


Rismalinda dkk, 2014. Buku Saku Asuhan Kebidana Komunitas Trans Info
Media
Runjari, 2010. Asuhan Kebidanan Komunitas Jakarta : EGC
Siwi Walyani, Elisabeth Amd. Keb. 2008. Materi Ajar Kebidanan Komunitas
Yogyakarta : Pustaka Baru Press
Syahlan, J.H., 2008. Kebidanan Komunitas. Yayasan Bina Sumber Daya
Kesehatan.

24