Anda di halaman 1dari 26

18

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Konsep Dasar Stunting

2.1.1Definisi Stunting

Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada

indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian

status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-

Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat

pendek / severely stunted). Stunting adalah masalah kurang gizi kronis

yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama

akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru

nampak saat anak berusia dua tahun.

Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-up

growth (tumbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah

stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan

dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada

pertumbuhan baik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth

faltering dan catcth up growth yang tidak memadai yang mencerminkan

ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal, hal tersebut

mengungkapkan bah wa kelompok balita yang lahir dengan berat badan

normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan selanjutnya

tidak terpenuhi dengan baik (Rachim, et al,. 20117).


19

2.1.2Diagnosis dan Klasifikasi

Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah

dengan cara penilaian antropometri. Secara umum antropometri

berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan

komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri

digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.

Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan

menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan

menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar deviasi

unit z (Z- score).

Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat

badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan

dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik

balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya. Penghitungan ini

menggunakan standar Z score dari WHO.

Normal, pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang

didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi

Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted

(pendek) dan severely stunted (sangat pendek).

Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi

badan per umur (TB/U).

a. Sangat pendek : Zscore < -3,0

b. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0

c. Normal : Zscore ≥ -2,0


20

Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting

berdasarkan indikator TB/U dan BB/TB.

a. Pendek-kurus : -Zscore TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB < -2,0

b. Pendek-normal : Z-score TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB

antara -2,0 s/d 2,0

c. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0

2.1.3Pemeriksaan Antropometri Stunting

Antropometri berasal dari kata “anthropos” (tubuh) dan “metros”

(ukuran) sehingga antropometri secara umum artinya ukuran tubuh

manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi adalah

berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan

komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan gizi. Dimensi tubuh yang

diukur, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas,

lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah

kulit. Perubahan dimensi tubuh dapat menggambarkan keadaan kesehatan

dan kesejahteraan secara umum individu maupun populasi. Dimensi tubuh

yang dibutuhkan pada penelitian ini yaitu umur dan tinggi badan, guna

memperoleh indeks antropometri tinggi badan berdasar umur (TB/U)

(Rachim, et al,. 2017).

a. Umur

Umur adalah suatu angka yang mewakili lamanya kehidupan

seseorang. Usia dihitung saat pengumpulan data, berdasarkan tanggal

kelahiran. Apabila lebih hingga 14 hari maka dibulatkan ke bawah,


21

sebaliknya jika lebih 15 hari maka dibulatkan ke atas. Informasi terkait

umur didapatkan melalui pengisian kuesioner (Rachim, et al,. 2017).

b. Tinggi Badan

Tinggi atau panjang badan ialah indikator umum dalam mengukur

tubuh dan panjang tulang. Alat yang biasa dipakai disebut stadiometer.

Ada dua macam yaitu: ‘stadiometer portabel’ yang memiliki kisaran

pengukur 840-2060 mm dan ‘harpenden stadiometer digital’ yang

memiliki kisaran pengukur 600-2100 mm.

Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas

kaki dan aksesoris kepala, kedua tangan tergantung rileks di samping

badan, tumit dan pantat menempel di dinding, pandangan mata mengarah

ke depan sehingga membentuk posisi kepala Frankfurt Plane (garis

imaginasi dari bagian inferior orbita horisontal terhadap meatus acusticus

eksterna bagian dalam). Bagian alat yang dapat digeser diturunkan hingga

menyentuh kepala (bagian verteks). Sentuhan diperkuat jika anak yang

diperiksa berambut tebal. Pasien inspirasi maksimum pada saat diukur

untuk meluruskan tulang belakang.

Pada bayi yang diukur bukan tinggi melainkan panjang badan.

Biasanya panjang badan diukur jika anak belum mencapai ukuran linier 85

cm atau berusia kurang dari 2 tahun. Ukuran panjang badan lebih besar

0,5-1,5 cm daripada tinggi. Oleh sebab itu, bila anak diatas 2 tahun diukur

dalam keadaan berbaring maka hasilnya dikurangi 1 cm sebelum diplot

pada grafik pertumbuhan.


22

Anak dengan keterbatasan fisik seperti kontraktur dan tidak

memungkinkan dilakukan pengukuran tinggi seperti di atas, terdapat cara

pengukuran alternatif. Indeks lain yang dapat dipercaya dan sahih untuk

mengukur tinggi badan ialah: rentang lengan (arm span), panjang lengan

atas (upper arm length), dan panjang 15 tungkai bawah (knee height).

Semua pengukuran di atas dilakukan sampai ketelitian 0,1 cm (Rachim, et

al,. 2017).

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian

Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi

yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah

stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek

(stunting) dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau

tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di

bawah normal. Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang

berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya bila

dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth

Reference Study) tahun 2005, nilai z-scorenya kurang dari -2SD dan

dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3S

(Depkes, 2016).
23

2.1.4 Status Gizi

Pemantauan status gizi (PSG) menunjukkan prevalensi balita

stunting di indonesia masih tinggi, yakti 29,6% di atas batasan yang

ditetapkan WHO (20%). Penelitian Richardo dalam Bhutta tahun 2013

menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%)

kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan

masa hidup sehat setiap tahun.

a. Definisi Status Gizi

Status gizi merupakan indikator penting untuk kesehatan anak.

Hal ini disebabkan karena status gizi merupakan salah satu faktor

resiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik

pada anak akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga

kemampuan dalam proses pemulihan dari suatu penyakit (Pratiwi,

2016).

Status gizi balita dinilai menurut 3 indeks, yaitu Berat Badan

Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U), Berat

Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB).

1) BB/U adalah berat badan anak yang dicapai pada umur tertentu.

2) TB/U adalah tinggi badan anak yang dicapai pada umur tertentu.

3) BB/TB adalah berat badan anak dibandingkan dengan tinggi badan

yang dicapai. Ketiga nilai indeks status gizi diatas dibandingkan

dengan baku pertumbuhan WHO.

Z-score adalah nilai simpangan BB atau TB dari nilai BB atau

TB normal menurut baku pertumbuhan WHO. Contoh perhitungan Z


24

score BB/U: (BB anak – BB standar)/standar deviasi BB standar.

Batasan untuk kategori status gizi balita menurut indeks BB/U, TB/U,

BB/TB menurut WHO dapat dilihat pada tabel “pengertian kategori

status gizi balita”.

Tabel 2.1 Pengertian Kategori Status Gizi Balita

Indikator Status Gizi Z-Score


Gizi Buruk < -3,0 SD
BB/U Gizi Kurang -3,0 SD s/d < -2,0 SD
Gizi Baik -2,0 SD s/d 2,0 SD
Gizi Lebih > 2,0 SD
Sangat Kurus < -3,0 SD
TB/U Kurus -3,0 SD s/d < -2,0 SD
Normal ≥ -2,0 SD
Sangat Kurus < -3,0 SD
BB/TB Kurus -3,0 SD s/d < -2,0 SD
Normal -2,0 SD s/d 2,0 SD
Gemuk > 2,0 SD

Secara istilah Underweight (Berat Badan Kurang/Gizi Kurang) adalah

gabungan gizi buruk dan gizi kurang. Stunting (Pendek) merupakan

gabungan sangat pendek dan pendek. Sedangkan wasting (Kurus)

merupakan gabungan sangat kurus dan kurus (Depkes, 2018).

b. Indikator Status Gizi

1) Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U)

a) Memberikan indikasi masalah gizi secara umum karena berat

badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan.

b) Berat badan menurut umur rendah dapat disebabkan karena

pendek (masalah gizi kronis) atau menderita penyakit infeksi

(masalah gizi akut).


25

c. Indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

1) Memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnnya kronis sebagai

akibat dari keadaan yang berlangsung lama.

2) Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan asupan

makanan kurang dalam waktu yang lama sehingga mengakibatkan

anak menjadi pendek.

d. Indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

1) Memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnnya akut sebagai

akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama

(singkat).

2) .Misalnya terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan

(kelaparan) yang menyebabkan anak menjadi kurus.

3) Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi

kurus dan gemuk. Masalah kurus dan gemuk pada umur dini dapat

berakibat pada risiko berbagai penyakit degenerative pada saat

dewasa (Teori Barker).

Masalah gizi akut-kronis adalah masalah gizi yang memiliki sifat

masalah gizi akut dan kronis. Contoh: anak yang kurus dan pendek

(Depkes, 2018).

Tabel 2.2 Pengertian Kategori Masalah Gizi

Masalah Gizi Masyarakat Prevalensi Pendek Prevalensi Kurus


Baik Kurang dari 20% Kurang dari 5%
Akut Kurang dari 20% 5% atau lebih
Kronis 20% atau lebih Kurang dari 5%
Akut + Kronis 20% atau lebih 5% atau lebih
26

Sesuai dengan standar WHO, suatu wilayah dikatakan kategori

baik bila prevalensi balita pendek kurang dari 20% dan prevalensi balita

kurus kurang dari 5%. Suatu wilayah dikatakan mengalami masalah gizi

akut bila prevalensi balita pendek kurang dari 20% dan prevalensi balita

kurus 5% atau lebih (Depkes, 2018).

2.1.5 Faktor-Faktor Penyebab Stunting

a.Berat badan lahir

b.Status ekonomi keluarga

c.Tinggi badan ibu

d.Pola asuh makan

e.Panjang badan lahir

f.Pemberian ASI eksklusif

g.Pengetahuan gizi ibu

2.2 Konsep Dasar Berat Lahir

Berat lahir merupakan indikator untuk kelangsungan hidup,

pertumbuhan, kesehatan jangka panjang dan pengembangan psikososial.

Berat lahir juga mencerminkan kualitas perkembangan ultra uterin dan

pemeliharaan kesehatan mencakup pelyanan kesehatan yang diterima oleh

ibu selama kehamilannya.

BBLR didefinisikan oleh WHO sebagai berat lahir <2500 gram. Berat

lair ditentukan oleh dua proses yaitu lama kehamilan dan laju pertmbuhan

janin. Bayi baru lahir dapat memiliki berat lahir <2500 gram karena lahir dini

(kelahiran prematur) atau lahir kecil untuk usia kehamilan. Berat lahir juga
27

indikator potensial untuk pertumbuhan bayi, respon terhadap rangsangan

lingkungan, dan untuk bayi bertahan hidup. Berat lahir rendah membawa

risiko 10 kali lipat lebih tinggi dari kematian neonatal dibandingkan dengan

bayi baru lahir beratnya 3 sampai 3,5 kg.

Bayi berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran prematur

(sebelum 37 minggu kehamilan) atau gangguan pertumbuhan intrauterin dan

atau kombinasi dari kedua faktor tersebut. Bayi berat lahir rendah terkait

dengan mortalitas dan morbiditas janin dan neonatal, ganggan pertumbuhan,

gangguan perkembangan kognitif dan penyakit kronis dikehidupan

mendatang (Fitri, 2014).

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat

badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR tidak hanya dapat terjadi

pada bayi prematur, tapi juga pada bayi cukup bulan yang mengalami

hambatan pertumbuhan selama kehamilan. Untuk bayi baru lahir normal

adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm (37-42 minggu) dengan

berat badan lahir 2500-4000 gram (Kemenkes RI, 2014).. Anak dengan

riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang

potensial memengaruhi pertumbuhan anak. bayi lahir dengan berat badan

tidak mencapai standar normal disebabkan karena ibunya ketika sebelum

hamil memiliki pola makan yang tidak mengonsumsi makanan bersumber

protein hewani (Rahayu, et al., 2015).

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan

gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan merupakan

pengukuran yang terpenting pada bayi baru lahir. Dan hal ini digunakan
28

untuk menentukan apakah bayi termasuk normal atau tidak (Supariasa, dalam

hasanah, 2018).

Berat badan merupakan hasil peningkatan / penurunan semua

jaringan yang ada pada tubuh antara tulang, otot, lemak, cairan tubuh.

Parameter ini yang paling baik untuk melihat perubahan yang terjadi dalam

waktu singkat karena konsumsi makanan dan kondisi kesehatan.

Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang

digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain

b. Mudah diperoleh dan relatif murah harganya

c. Ketelitian penimbangan maksimum 0,1 kg

d. Skalanya mudah dibaca

e. Aman untuk menimbang balita

Sedangkan jenis timbangan sebaiknya yang memenuhi persyaratan

tersebut, timbangan yang dianjurkan untuk anak balita adalah dacin dengan

kapasitas minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. jenis timbangan lain yang

dapat digunakan adalah detecto, sedangkan timbangan injak (bath room

scale) akurasinya kurang karena menggunakan per, sehingga hasilnya dapat

berubah-ubah.

Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan

menurut Umur) atau melakukan penilaian dengan melihat perubahan berat

badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya

memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan

karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada


29

ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan

perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu ( Atmarita dkk, 2009).

Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan

atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang, otot,

lemak, organ tubuh, dan cairan tubuh sehingga dapat diketahui status keadaan

gizi atau tumbuh kembang anak. Selain menilai berdasarkan status gizi dan

tumbuh kembang anak, berat badan juga dapat digunakan sebagai dasar

perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan

(Hasanah, 2018).

2.3 Konsep Dasar Status Ekonomi Keluarga

Status ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluarga di

masyarakat berdasarkan pendapatan tiap bulan. Status ekonomi dapat dilihat

dari pendapatan yang disesuaikan dengan harga barang pokok. Status

ekonomi merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Pendapatan keluarga

yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Karena orang tua

dapat menyediakan semua kebutuhan anak, baik primer maupun sekunder

(Putra dalam Wijayanti, 2018). Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang

menduduki posisi pertama pada kondisi umum. Hal ini harus mendapat

perhatian serius karena keadaan ekonomi relatif mudah diukur dan

berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Menurut Achadi, 2016 prevalensi

stunting tertinggi pada kelompok miskin, pada kelompok kaya juga tinggi,

dengan perbandingan 1:5. Golongan miskin menggunakan sebagian besar

dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal ini sesuai dengan
30

penelitian di Semarang bahwa status ekonomi keluarga yang rendah

merupakam faktor risiko yang bermakna terhadap kejadian stunting pada

balita (Wijayanti, 2018).

Berdasarkan penggolongan Badan Pusat Statistik menurut Luhung

(2016) membedakan pendapatan menjadi 4 golongan adalah :

a. Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata-rata antara

Rp. 3.500.000,00 per bulan.

b. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp.

2.500.000,00 s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan.

c. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp.

1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000 per bulan.

d. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata Rp.

1.500.000,00 per bulan.

Kekurangan gizi seringkali bagian dari lingkaran yang meliputi

kemiskinan dan penyakit. Ketiga faktor ini saling terkait sehingga masing-

masing memberikan kontribusi terhadap yang lain. Perubahan sosial

ekonomi dan politik yang meningkatkan kesehatan gizi dapat mematahkan

siklus, karena dapat gizi tertentu dan intervensi kesehatan. Kekurangan gizi

mengacu pada sejumlah penyakit, masing-masing berhubungan dengan satu

atau lebih zat gizi, misalnya protein, yodium, vitamin A atau zat besi.

Ketidakseimbangan ini meliputi asupan yang tidak memadai dan berlebihan

asupan energi, yang pertama menuju kekurangan berat badan, stunting dan

kurus, dan yang terakhir mengakibat kelebihan berat badan dan obesitas

(WHO, 2007).
31

Pertumbuhan dan perkembangan anak balita yang mengalami

stunting menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan kelompok anak

normal lebih baik daripada kelompok anak stunting. Pada kondisi stunting,

tinggi anak tidak memenuhi tinggi badan normal menurut umurnya. Anak

yang stunting berkaitan dengan keadaan yang terjadi dalam waktu yang lama

seperti kemiskinan, perilaku hidup sehat dan bersih yang kurang, kebiasaan

makan, dan rendahnya pendidikan. Oleh karena itu, masalah stunting

merupakan cerminan dari keadaan sosial ekonomi. Masalah gizi stunting

diakibatkan oleh keadaan yang berlangsung lama maka masalah gizi anak

yang mengalami kejadian stunting adalah masalah gizi yang sifatnya kronis.

Stunting merupakan kegagalan untuk mencapai potensi pertumbuhan

linear sebagai hasil dari kesehatan atau kondisi gizi. Pada dasarnya, tingkat

stunting yang tinggi berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi yang

rendah dan peningkatan risiko bertambah dengan adanya penyakit atau

praktik pemberian makanan yang tidak tepat.Prevalensi stunting mulai naik

pada usia sekitar 3 bulan, proses dan terhambatnya pertumbuhan sekitar usia

3 tahun (Lubis, 2018).

Status ekonomi yang rendah dianggap memiliki dampak yang

signifikan terhadap kemungkinan anak menjadi kurus dan pendek. Keluarga

dengan status ekonomi baik akan dapat memeroleh pelayanan umum yang

lebih baik seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, akses jalan, dan lainnya

sehingga dapat memengaruhi status gizi anak. Selain itu, daya beli keluarga

akan semakin meningkat sehingga akses keluarga terhadap pangan akan

menjadi lebih baik. Pada dasarnya stunting berpangkal pada status social
32

ekonomi keluarga. Rendahnya pendapatan keluarga mempengaruhi daya beli

terhadap bahan makanan sehingga menyebabkan kebiasaan makan anak yang

tidak baik. Status sosial ekonomi keluarga seperti pendapatan keluarga,

pendidikan orang tua, pengetahuan ibu tentang gizi, dan jumlah anggota

keluarga secara tidak langsung dapat berhubungan dengan kejadian stunting.

Hasil Riskesdas (2013) menunjukkan bahwa kejadian stunting balita banyak

dipengaruhi oleh pendapatan dan pendidikan orang tua yang rendah.

Keluarga dengan pendapatan yang tinggi akan lebih mudah memperoleh

akses pendidikan dan kesehatan sehingga status gizi anak dapat lebih baik.

Ibu dengan pendidikan tinggi mempunyai pengetahuan yang lebih

luas tentang praktik perawatan anak serta mampu menjaga dan merawat

lingkungannya agar tetap bersih. Orang tua terutama ibu yang mendapatkan

pendidikan lebih tinggi dapat melakukan perawatan anak dengan lebih baik

daripada orang tua dengan pendidikan rendah. Orang tua dengan pendidikan

yang lebih rendah lebih banyak berasal dari keluarga yang sosial ekonominya

rendah sehingga diharapkan pemerintah meningkatkan akses pendidikan

untuk keluarga dengan sosial ekonomi yang kurang. Tingkat pendidikan ibu

turut menentukan mudah tidaknya seorang ibu dalam menyerap dan

memahami pengetahuan gizi yang didapatkan. Pendidikan diperlukan agar

seseorang terutama ibu lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam

keluarga dan diharapkan bisa mengambil tindakan yang tepat sesegera

mungkin. Dketahui bahwa ibu balita stunting (61,8%) memiliki pengetahuan

gizi yang lebih rendah daripada ibu balita normal (29,4%) (Ni’mah, et al.,

2015).
33

Besar keluarga menentukan status gizi, namun status gizi juga

ditentukan oleh faktor lain seperti dukungan keluarga dalam pemberian

makanan bergizi serta tingkat sosial ekonomi keluarga. Keluarga dengan

keadaan sosial ekonomi yang kurang disertai jumlah anak yang banyak akan

mengakibatkan bukan hanya kurang perhatian dan kasih sayang pada anak

namun juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang, dan papan atau

perumahan tidak dapat terpenuhi (Soetjiningsih, 2014).

Kebiasaan makan dan sosial ekonomi keluarga berperan penting

dalam pertumbuhan tinggi badan anak. Status sosial ekonomi keluarga akan

mempengaruhi kemampuan pemenuhan gizi keluarga. Anak pada keluarga

dengan tingkat ekonomi rendah lebih berisiko mengalami stunting karena

kemampuan pemenuhan gizi yang rendah, meningkatkan risiko terjadinya

malnutrisi. Semakin tinggi pendapatan maka konsumsi pangan hewani

cenderung semakin tinggi dan kebebasan untuk memperoleh dan memilih

pangan juga semakin besar. Tingkat pendapatan yang semakin meningkat

mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat

(Martianto dalam lubis, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan

sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, seperti tingkat pendapatan

keluarga, pendidikan orang tua, pengetahuan gizi ibu dan pekerjaan orang

tua.Status ekonomi keluarga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain

pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan orang tua dan jumlah anggota

keluarga. Status ekonomi keluarga akan mempengaruhi kemampuan

pemenuhan gizi keluarga maupun kemampuan mendapatkan layanan

kesehatan. Anak pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah lebih berisiko
34

mengalami stunting karena kemampuan pemenuhan gizi yang rendah,

sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi.

Ketersediaan kebutuhan rumah tangga tergantung dari pendapatan

keluarga. Selain itu, pendapatan keluarga juga menentukan jenis pangan yang

dibeli. Keluarga dengan pendapatan terbatas akan kurang memenuhi

kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam

tubuh. Tingkat pendapatan juga ikut menentukan jenis pangan yang akan

dibeli. Standart hidup yang layak dihitung dari pendapatan per kapita (tingkat

ekonomi). Pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor yang

menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Tingkat pendapatan akan

menunjukkan jenis pangan yang akan dibeli. Status sosial ekonomi

dipengaruhi oleh tingkat pendidikan karena orang dengan pendidikan tinggi

semakin besar peluangnya untuk mendapatkan penghasilan yang cukup

supaya bisa berkesempatan untuk hidup dalam lingkungan yang baik dan

sehat,sedangkan pekerjaan yang lebih baik orang tua selalu sibuk bekerja

sehingga tidak tertarik untuk memperhatikan masalah yang dihadapi anak-

anaknya, padahal sebenarnya anak-anak tersebut benar-benar membutuhkan

kasih sayang orangtua (Lubis, 2018).

2.4 Konsep Dasar Tinggi Badan Ibu

Tinggi badan orang tua berhubungan dengan pertumbuhan fisik anak.

Ibu yang pendek merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan

kejadian stunting. Hasil penelitian di Mesir menunjukkan bahwa ibu yang


35

memiliki tinggi badan <150 cm lebih beresiko memiliki anak stunting

dibandingkan ibu dengan tinggi badan >150 cm (Zottarelli, 2014).

Status gizi orang tua , khususnya status gizi ibu sangat berkaitan

dengan kejadian stunting pada balita. Terlihat dari ibu yang pendek sekalipun

ayah normal, prevalensi balita stunting pasti tinggi, tetapi sekalipun ayah

pendek ibu normal, prevalensi balita stunting masih lebih rendah dibanding

ibunya yang pendek. Jadi status gizi ibu hamil menentukan status gizi bayi

yang akan dilahirkan.

Tinggi badan ibu merupakan indikator yang berfungsi untuk

memprediksi anak terkena gizi buruk. Postur tubuh ibu juga mencerminkan

tinggi badan ibu dan lingkungan awal yang akan memberikan kontribusi

terhadap tinggi badan anaknya. Namun demikian masih banyak faktor

lingkungan yang mempengaruhi tinggi badan anak. Hasil penelitian

menunjukkan ibu yang memiliki postur tubuh pendek memiliki hubungan

terhadap kejadian stunting pada anaknya. Inilah yang disebut siklus gagal

tumbuh antar generasi, dimana IUGR, BBLR dan stunting terjadi turun

temurun dari generasi satu ke generasi selanjutnya (Wijayanti, 2018).

Tinggi badan orang tua berhubungan dengan pertumbuhan fisik anak.

Ibu yang pendek merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan

kejadian stunting. Hasil analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa

tinggi badan ibu merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita usia

24–36 bulan. Orang tua yang pendek akibat kondisi patologi (seperti

defisiensi hormon pertumbuhan) memiliki gen dalam kromosom yang

membawa sifat pendek sehingga memperbesar peluang anak mewarisi gen


36

tersebut dan tumbuh menjadi stunting. Akan tetapi, bila orang tua pendek

akibat kekurangan zat gizi atau penyakit, kemungkinan anak dapat tumbuh

dengan tinggi badan normal selama anak tersebut tidak terpapar faktor risiko

yang lain (Fitriahadi, 2018).

Status gizi dan kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas

sumber daya manusia, semakin jelas dengan adanya bukti bahwa status gizi

dan kesehatan ibu pada masa prahamil, saat kehamilannya dan saat menyusui

merupakan periode yang sangat kritis (Madianti dalam ngaisyah 2016).

Periode seribu hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada

kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif

karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat

permanen dan tidak dapat dikoreksi (KEMENKES, 2012). Dampak tersebut

tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental

dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang

tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada

rendahnya produktivitas ekonomi (BAPPENAS, 2012).

Beberapa ahli berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh

pendek, gemuk dan beberapa penyakit tertentu khususnya Penyakit Tidak

Menular (PTM) disebabkan terutama oleh faktor genetik. Dengan demikian

ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau

mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari banyak penelitian dari

lembaga riset gizi dan kesehatan terbaik di dunia telah mengubah paradigma

tersebut. Ternyata tubuh pendek, gemuk, PTM dan beberapa indikator

kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpenting adalah lingkungan hidup


37

sejak konsepsi sampai anak usia dua tahun yang dapat dirubah dan diperbaiki

(Barker dalam ngaisyah, et al,. 2016).

Tinggi badan ibu yang pendek dan gizi ibu yang buruk berhubungan

dengan peningkatan risiko kegagalan pertumbuhan intrauterine. Dalam

meningkatkan kualitas kesehatan anak, perlu dilakukan upaya yang

berkesinambungan pada setiap siklus kehidupan manusia (continuum of

care), yang meliputi masa reproduksi, masa hamil, neonatal, bayi, balita,

anak prasekolah, masa sekolah dan remaja (Ngaisyah, et al,. 2016).

2.5 Konsep Dasar Pola Asuh Makan

Pola asuh pemberian makan merupakan kemampuan orang tua dan

keluarga untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan dalam

memberikan makanan kepada anaknya. Terutama pada masa balita, dimana

pada masa ini kebutuhan zat gizi pada anak sangat tinggi yang diperlukan

untuk proses tumbuh kembangnya. Sehingga kesalahan pola asuh pemberian

makan pada balita di masa ini berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan

perkembangan balita. Menurut Unicef, Kualitas makanan yang diberikan

selama fase pemberian MP – ASI, adalah hal penting untuk mencegah

stunting. Konsumsi aneka ragam makanan dan konsumsi makanan dari

sumber hewani meningkatkan pertumbuhan linear.

Pola asuh ibu dalam memberikan makan dipengaruhi oleh

ketersediaan pangan dan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi. Ibu dalam

proses pemberian makan kepada anak dituntut sabar karena sering ditemui

anak yang tidak mau makan. Kreatifitas ibu dalam memberi makan juga
38

sangat diperlukan. Ibu dituntut untuk menciptakan kreasi makanan yang

menarik atau menimbulkan nafsu makan anak. Hal ini akan terlihat pada

makanan yang diberikan tidak monoton.

Dalam sebuah penelitian keadaan dilapangan menunjukkan

kebiasaan membeli satu jenis makanan pada waktu dan tempat yang sama

yang berlangsung beberapa hari untuk dikonsumsi balita. Sehingga asupan

balita dengan takaran dan porsi yang sama akan memberikan nilai gizi energi

dan protein yang diasup juga tidak berubah. Selain itu juga didapatkan hasil

bahwa asupan makanan dalam hal ini energi dan protein berhubungan

dengan status gizi balita.

Pada umumnya, jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari terbatas

pada makanan sumber karbohidrat yaitu nasi dan sayur sebagai sumber serat.

Konsumsi daging, ikan dan telur sebagai sumber protein tidak setiap hari

dikonsumsi. Konsumsi sumber protein hewani dapat dikatakan musiman,

misalnya konsumsi ikan yang lebih sering pada musim penghujan. Konsumsi

daging, biasanya terbatas jika ada hajatan keluarga atau kegiatan adat. Pada

umumnya masyarakat memiliki peliharaan seperti ayam, babi, anjing,

kerbau, kuda dan sapi. Namun, yang paling banyak ditemui adalah peliharaan

ayam. Kebiasaan masyarakat lebih memilih menjual ternak peliharaannya

daripada untuk konsumsi anaknya. Kebiasaan makan seperti ini banyak

ditemui pada masyarakat di pedesaan. Pola pemberian makan pada anaknya

hanya 3 kali makan utama dengan jenis asupan tinggi energi. Pola pemberian

makan ini tidak memperhatikan kebutuhan zat gizi yang penting bagi
39

pertumbuhan balita sehingga kemungkinan kebiasaan tersebut berdampak

pada status gizi balita (Loya, 2016).

Menurut United Nation Children’s Fund (UNICEF) pola asuh

merupakan salah satu faktor tidak langsung yang berhubungan dengan

status gizi anak termasuk stunting. Salah satu hambatan utamanya adalah

pengetahuan yang tidak memadai dan praktik-praktik gizi yang tidak tepat,

seperti pemberian ASI Eklusif masih sangat kurang dan rendahnya

pemberian makanan pendamping yang sesuai (Dewi, 2016).

Pola asuh makan orang tua kepada anak atau parental feeding

adalah perilaku orangtua yang menunjukkan bahwa mereka memberikan

makan pada anaknya baik dengan pertimbangan atau tanpa pertimbangan.

Menurut Ariyani (2017) tipe pola asuh makan atau pariental feeding style

dikelompokkan menjadi 4 yaitu :

a. Emotical Feeding

Emotical feeding atau memberikan makanan agar anak tenang,

merupakan salah satu tipe pola asuh makan dimana orangtua memberikan

makanan agar anaknya tenang saat si anak merasa marah, cemas,

menangis, dan lain-lain.

b. Instrumental Feeding

Instrumental feeding merupakan satu tipe pola asuh makan dimana

orangtua memberikan hadiah atau reward berupa makanan jika anak

berperilaku baik atau melakukan hal yang diperintahkan oleh orangtua.


40

c. Prompting or Encouragement to Eat

Merupakan tipe pola asuh makan dimana orangtua mendorong

anaknya untuk makan dan memuji jika anaknya memakan makanan yang

telah disediakan. Mendorong anak untuk makan disini bukan hanya

menyuruh anak makan tapi juga memastikan anaknya memakan

makanannya.

d. Control Over Eating

Ditipe ini orangtua dengan tegas memutuskan apa yang anaknya

makan, menentukan makanan baik jenis dan jumlah makanannya, serta

orangtua menentukan kapan anak harus makan dan berhenti makan.


41

2.6 Kerangka Konsep

Berat Badan Status Ekonomi Tinggi Badan Ibu Pola Asuh


Lahir Keluarga Makan

Faktor ibu : Pemanfaatan


(Riwayat Sumber Daya
kehamilan tidak Kurang
baik) Gen Dalam Pengetahuan
Kurang Kromosom yang
Keterampilan Membawa Sifat
Pelayanan
Pendek Pola Asuh
Faskes Kurang
Tidak
Persediaan Pangan Memadai
ANC Terlambat Tidak Cukup

Gizi Tidak
Retardasi Makan Tidak Tepat
Pertumbuhan Seimbang
Janin Terganggu

Gizi Kurang
BBLR Kurang Gizi

Defisit Pertumbuhan

Faktor-Faktor yang Stunting


Mempengaruhi Stunting

Panjang Badan
Lahir

Pemberian ASI Keterangan : = Tidak diteliti


Eksklusif
= Diteliti
Pengetahuan
Gizi Ibu = Arah hubungan

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Faktor Berat Badan Lahir, Status Ekonomi

Keluarga, Tinggi Badan Ibu, Pola Asuh Makan dengan Kejadian Stunting

(Riskesdes, 2013, Lubis, 2018, dan Riadesnita, 2015).


42

Faktor yang mempengaruhi stunting terdiri dari faktor Berat badan

lahir, Faktor status ekonomi keluarga, Faktor tinggi badan ibu, Faktor pola

asuh makan, Faktor panjang badan lahir, Faktor pemberian ASI eksklusif,

dan Faktor pengetahuan gizi ibu. Faktor yang mempengaruhi Stunting

yaitu berat badan lahir dimana jika faktor riwayat kehamilan ibu tidak baik

seperti terlambat ANC maka bayi akan berisiko lahir dengan berat badan

rendah yang akan menyebabkan stunting. Status ekonomi juga

menyebabkan stunting dimana keluarg kurang memanfaatkan sumber daya

yang ada akibat kurangnya keterampilan sehingga persediaan pangan

menjadi tidak memadai mengakibatkan gizi kurang dan lambat laun

menjadi defisit pertumbuhan. Tinggi badan mengakibatkan stunting karena

adanya gen kromosom pembawa sifat pendek. Pola asuh makan yang tidak

memadai mengakibatkan gizi yang tidak cukup mengakibatkan anak

mengalami gizi buruk dan mengakibatkan defisit pertumbuhan yang

akhirnya menyebabkan stunting.

Sehingga peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan dari

faktor berat badan lahir, status ekonomi keluarga, tinggi badan ibu dan

pola asuh makan terhadap terjadinya stunting.

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian. (Nursalam, 2013). Berdasarkan kerangka konsep

penelitian pada gambar 2.5 maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai

berikut :
43

H1 : Ada Hubungan Berat Badan Lahir dengan kejadian Stunting pada

anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan.

H1 : Ada Hubungan Status Ekonomi Keluarga dengan kejadian Stunting

pada anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan.

H1 : Ada Hubungan Tinggi Badan Ibu dengan kejadian Stunting pada anak

usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten

Bangkalan.

H1 : Ada Hubungan Pola Asuh Makan dengan kejadian Stunting pada anak

usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten

Bangkalan.