Anda di halaman 1dari 66

BAB III

TINJAUAN PROYEK

3.1. Nama Proyek

Proyek Detailed Engineering Design Pembangunan Gedung


Science Techno Park Institut Teknologi Bandung ( ITB ) Kawasan
Gedebage.

3.2. Kondisi Proyek

Letak Secara administratif lokasi terletak di Desa Rancabolang


Kecamatan Gedebage Kota Bandung. Secara geografis lokasi terletak di
sekitar koordinat E= 797943 N= 9230523 pada sistem koordinat UTM
Zone 48S atau pada posisi 6°57'13.20"S ; 107°41'46.61"E. Berikut ini kami
sampaikan beberapa foto satelit tentang lokasi, foto-foto kondisi site, dan
foto-foto kondisi sekelilingnya:

Gambar 3.1. Peta Google Lokasi Area Perencanaan

35
Gambar 3.2. Kondisi Jalan Akses Menunju Lokasi Perencanaan

Gambar 3.3. Kondisi Area Perencanaan Berupa Lahan Kosong-1

36
Gambar 3.4. Kondisi Area Perencanaan Berupa Lahan Kosong-2

Gambar 3.5. Kondisi Area Perencanaan Berupa Lahan Kosong-3

37
3.3. Data Proyek

Data proyek Detailed Engineering Design Pembangunan Gedung


Science Techno Park Institut Teknologi Bandung Kawasan Gedebage ini
merupakan data yang mencakup keadaan proyek secara keseluruhan
yang meliputi data umum dan data teknis. Data-data yang dimaksud
adalah sebagai berikut ;
Nama Proyek : Detailed Engineering Design Pembangunan
Gedung Science Techno Park Institut
Teknologi Bandung Kawasan Gedebage.
Lokasi Proyek : Desa Rancabolang Kecamatan Gedebage
Kota Bandung – Jawa Barat.
Pemilik/Owner : KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI
DAN PENDIDIKAN TINGGI DIREKTORAT
JENDRAL KELEMBAGAAN
IPTEK DAN DIKTI (RISETDIKTI) SATKER
KELEMBAGAAN ILMU DAN
PENGETAHUAN PENDIDIKAN TINGGI
Konsultan : PT. PENTA REKAYASA
Team Leader : Ir. Adang Surahman, M.Sc., Ph.D
Kepala Arsitektur : Ir. Suherman Sudar, MT.
Bid. Arsitektur : Ir. Tuty Zardania, IAI
Kepala Struktur : Ir. Dewanto, MT
Bid. Struktur : Afraniya Komanah, ST
Bid. Lansekap : Asep Dedy Rustandi, SP
Bid. Elektrikal : Ir. Budiyanto, MT.
Bid. Mekanikal : Ir. Soni Wahyudi, MT.
Jenis Kontrak : Unit Price & Lump Sum

Jenis Pembayaran : Stage Payment (Termin)

Biaya Proyek : Rp. 383.000.000.000,- (Tower 2) / Gedung 2

Asal Dana : APBN

38
3.4. Struktur Organisasi Proyek

39
3.5. Jadwal Perencanaan

40
2 TAHAP PENGEMBANGAN RENCANA
▪ Menyusun rencana arsitektur beserta uraian konsep dan visualisasi dwi dan trimatra bila diperlukan.
▪ Menyusun rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
▪ Menyusun rencana mekanikal-elektrikal, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
▪ Menyusun garis besar spesifikasi teknis (outline spesifi-cations).
▪ Menyusun perkiraan biaya.
▪ Pembahasan Laporan / Rapat ■ ■ ■
▪ Menyusun Laporan Pengembangan Rancangan
▪ Pemasukan Laporan Pengembangan Rancangan Jadual Presentasi ditentukan Kemudian
▪ Pemaparan Laporan Pengembangan Rancangan

3 TAHAP RENCANA DETAIL


▪ Membuat gambar-gambar detail Perencanaan Arsitektur, Struktur, Utilitas Lengkap
▪ Membuat rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).
▪ Membuat rincian volume pelaksanaan pekerjaan (BQ).
▪ Membuat rencana anggaran biaya (RAB) pekerjaan konstruksi, (RAB) berdasarkan Analisa Biaya Konstruksi SNI.
▪ Menyusun Laporan Perhitungan Struktur, Arsitektur , Mekanikal dan Elektrikal
▪ Menyusun Laporan Dokumen Perencanaan
▪ Menyusun Laporan Eksekutif Summary
▪ Menyusun Laporan Akhir Hasil Perencanaan
▪ Membuat Artist Impression & Gambar Perspektif 3D, sampai pigura kaca
▪ Membuat Animasi
▪ Pembahasan Laporan / Rapat ■ ■
▪ Dokumen kalkir (A1)
Pemaparan/ Presentasi tahap persiapan perencanaan dihadapan Tim Pemberi Tugas, User, Dinas/Instansi terkait dan dihadiri oleh Forum
▪ Jadual Presentasi ditentukan Kemudian
Stakeholder
▪ Penyampaian Dokumen-Dokumen Perencanaan, Eksekutif Summary, Laporan Akhir, Pigura Kaca, Animasi, Kalkir, dll.

4 TAHAP PELELANGAN
▪ Membantu panitia pengadaan pada waktu penjelasan pekerjaan, termasuk menyusun kembali dok. Pelelangan apabila terjadi lelang ulang
▪ Mendampingi Konsultan pengawasan/Manajemen Konstruksi selama pelaksanaan Konstruksi Fisik

41
3.6. Proses Pelelangan Proyek
3.6.1. Bagan alir proses perencanaan

BAGAN ALIR PROSES PERENCANAAN


DETAILED ENGINEERING DESIGN PEMBANGUNAN GEDUNG STP ITB
(Kawasan Gedebage)

MULAI

REVIEW PERSYARATAN DAN


IDENTIFIKASI KEBUTUHAN

PENYUSUNAN RENCANA MUTU

T
REVIEW
INPUT DESAIN / DATA:
 Kerangka Acuan Kerja (KAK)
 Survey lokasi
 Survey Topografi Y
 Penyelidikan Tanah
 Peraturan & Standar

 Studi banding, literatur PERSIAPAN PERENCANAAN


 Standar Teknis 
Program Ruang

T
REVIEW

REVIEW INTERDISIPLIN RENCANA TEKNIS/ PRA


RENCANA

REVIEW T
VERIFIKASI
VALIDASI

LAPORAN
PENDAHULUAN/PRA Y
RANCANGAN
APPROVAL
T
PEMB.TUGAS

42
A

REVIEW INTERDISIPLIN RENCANA PENGEMBANGAN

REVIEW T
VERIFIKASI

APPROVAL T
PEMB. TUGAS
LAPORAN ANTARA /
PENGEMBANGAN DESAIN Y

REVIEW INTERDISIPLIN RENCANA DETAIL

REVIEW
T

APPROVAL
T
PEMB. TUGAS

LAPORAN AKHIR PERENCANAAN Y

PENYERAHAN DOKUMEN &


PRODUK RENCANA DETAIL

SELESAI

43
3.7. Pengukuran Tanah Dan Survey Topografi
Pengukuran tanah dan survey topografi dengan lingkup luasan
sesuai KAK (±10.000m2) telah dilaksanakan pada 14 September 2017
sampai dengan 15 September 2017. Pengukuran ini sangat penting
sebelum pekerjaan utama berjalan, dari hasil orientasi inilah pematangan
metodologi pekerjaan dievaluasi kembali apakah masih relevan dengan
rencana awal yang telah disusun sebelum tim mobilisasi atau harus
dilakukan perubahan mengikuti kondisi lapangan.

Gambar 3.6. Area Proyek dengan satelit Google

44
3.8. Peta Penyelidikan Tanah

Data lain yang sangat penting untuk menjadi input perencanaan


adalah data kondisi tanah di lokasi site. Dalam rangka mendapatkan data
kondisi tanah di lokasi bangunan gedung yang akan dirancang, Konsultan
Perencana menyelenggarakan penyelidikan tanah (soil investigation).
Penyelidikan tanah tersebut mulai diselenggarakan Konsultan Perencana
pada minggu pertama September 2017 perkirakan selesai selama 40 hari.
Posisi titik bor mesin ditentukan dengan mempertimbangkan layout 4
Tower yang direncanakan. Berikut adalah rencana posisi titik bor mesin
dan sondir :

Gambar 3.7. Lokasi Titik Bor dan Sondir

45
3.9. Konsep Desain Arsitektur

Konsep Bangunan sudah ditetapkan berdasarkan dokumen Basic


Desain yang diterima Perenacacience Techno Park ITB merupakan salah
satu wahana yang menawarkan solusi dalam mengintegrasikan kegiatan
penelitian dengan kegiatan bisnis. Bangunan ini memiliki konsep yang
diambil dari filosofi ITB “Empat Pilar Kebangsaan ITB” yaitu, Teknologi,
Sains, Humaniora dan Seni.

Gambar 3.8. Tampak Atas Konsep Desain Arsitektur

46
Gambar 3.9. Bird Views Konsep Desain Arsitektur

3.10. Kriteria Desain Struktur


3.10.1. Umum
Unit yang harus digunakan dalam desain adalah sistem SI (meter,
kg, dan detik). Penggunaaan kN dan ton pada beberapa perhitungan
diizinkan
Pada prinsipnya seluruh peraturan dan standar berikut ini yang digunakan.

1) SNI-1727-2013 - Beban minimum untuk perancangan


bangunan gedung dan struktur lain.

2) SNI-1726-2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa


untuk Struktur Gedung dan Non Gedung.

3) ASCE / SEI 7-10 - Minimum Design Loads for Buildings and


Other Structures.

4) IBC 2009 - International Building Codes.

47
5) SNI-2847-2013 - Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan
Gedung.

6) ACI 318M - 11 - Building Code Requirements for Structural


Concrete and Commentary.

7) SNI 03-1729-2015 - Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk


Bangunan Gedung.

3.10.2. Kondisi desain struktur


1) Lokasi Bangunan
Bangunan terdapat di Jalan Sentra Barat, Gede Bage, Kota Bandung,
Provinsi Jawa Barat.
2) Kondisi bangunan
- Bangunan : 4 Tower (2 Tower @ 11 lantai, 1 Tower 13 lantai, 1 Tower
14 lantai perencanaan terfokus ke Tower 2, 1 Tower @ 11 lantai)
- Terdapat 2 lapis Basement, elevasi Basement 2 berada – 6.5 m
(elevasi rencana).

3) Kondisi tanah
- Kedalaman Permukaan Air Tanah

Dari laporan hasil penyelidikan tanah, berdasarkan hasil boring log,


kedalaman air tanah tertinggi terletak pada level -2.00 meter dari tanah
asli.

- Kedalaman Tanah Keras

Dari laporan hasil penyelidikan tanah, berdasarkan hasil boring log


tanah keras (N-SPT ≥ 40) ditemukan mulai kedalaman sekitar 34 m dari
tanah asli

- Jenis Tanah Lunak, Sedang, Atau Keras (Kelas Situs) untuk


Perancangan Struktur Atas

48
Penetapan Kelas Situs (jenis tanah di site) harus ditetapkan dari
minimal 2 parameter independen terhadap profil tanah lapisan 30 meter
paling atas sesuai Tabel 3 dalam Pasal 5.3 SNI 1726-2012 Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non
Gedung. Apabila hasilnya berbeda, maka kondisi yang lebih buruk
harus diberlakukan. Sesuai SNI 1726 – 2012, Pasal 5.1, maka kondisi
yang lebih buruk tersebut adalah disebut dengan Tanah Lunak (SE).
Menurut laporan hasil penyelidikan tanah pada lokasi ini, berdasarkan
rata-rata berbobot N-SPT pada kedalaman 30 meter dari permukaan
tanah sesuai SNI 1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Struktur Gedung dan Non Gedung Pasal 5.3 Tabel 3
Klasifikasi Situs, jenis tanah di lokasi ini adalah tanah lunak (SE),
sehingga perhitungan klasifikasi lain akibat Su ataupun Vs tidak
diperlukan lagi dalam menentukan klasifikasi tanah di lokasi bangunan
ini.

3.10.3. Material
1) Beton - Mutu beton minimal K-250 (atau fc’ = 20
MPa),
untuk ketahanan pada daerah gempa (sesuai
SNI-2847-2013 pasal 21.1.4.2)

2) Baja - Mutu biasa : ST-37 / ASTM A36 / SS400 / JIS


G3101
3) Tulangan - BJTD 40 (yang saat ini disebut sebagai BJTS
420)
Memenuhi ASTM A706M (sesuai SNI-2847-
2013 butir 21.1.5.2)

- BJTD 50 (yang saat ini disebut sebagai BJTS


520)

49
Memenuhi ASTM A615M (hanya untuk
komponen yang tidak memerlukan daktilitas)

4) Tul. Wire Mesh - ASTM A185 (Deformed U-50)


5) Baut - ASTM A325 (mutu tinggi)
6) Baut Angkur - ASTM A36
7) Portland Semen - ASTM C150 Tipe I (normal)

8) Elektroda Las - AWS D1.1 / Elektroda A5.1 (E 7016 atau


E7018 atau setara)
9) Steel Deck - ASTM A653 Grade Leleh minimal 320 MPa

Kekuatan izin material


1) Beton
Untuk bangunan Science Techno Park ITB :

Tabel 3.1. Kekuatan Izin Material Beton

URAIAN MUTU

 Pondasi Footing fc’ = 35 MPa

 Struktur Slab Basement dan


fc’ = 35 MPa
Sloof

fc’ = 35 MPa dan fc’ = 30


 Struktur Kolom
MPa

 Struktur Balok dan Slab fc’ = 30 MPa

Mutu di atas adalah kekuatan tekan silinder beton pada 28 hari. E beton
harus dihitung dengan formula : Ec = 4700 fc’ dalam MPa.

2) Tulangan
Diameter ulir (mm) : D10 D  32, BJTD 40, fy
(tegangan leleh) = min 420 MPa

50
= max 545 MPa
fu (tegangan ultimit) = min 525 MPa
fu / fy  1.25
Diameter ulir (mm) : D10 D  32, BJTD 50, fy
(tegangan leleh) = min 520 MPa
= max 645 MPa
fu (tegangan ultimit)= min 650 MPa
fu / fy  1.25
Diameter tulangan yang dapat dipergunakan adalah : Diameter 10, 13, 16,
19, 22, 25, dan 32 mm.

Tebal Selimut Beton Minimum (termasuk memperhitungkan ketahanan


kebakaran 2 jam untuk balok dan pelat, serta 3 jam untuk kolom dan
dinding beton) :

Tabel 3.2. Kekuatan Izin Material Tulangan

Selimut Minimum
Komponen Struktur
(mm)

Beton yang berhubungan langsung dengan tanah 75

Beton yang berhubungan langsung dengan cuaca 50

Pelat &
20 & 25
Beton yang tidak berhubungan Dinding
langsung dengan cuaca luar dan
Balok 40
tidak berhubungan dengan tanah
Kolom 40

Untuk proyek ini, diameter tulangan yang dapat dipergunakan adalah :

1) Tulangan utama balok dapat menggunakan diameter ulir 13, 16, 19,
22, dan 25 mm (BJTD 40)

51
2) Tulangan utama kolom dapat menggunakan diameter ulir 16, 19, 22,
25, dan 32 mm (BJTD 40)
3) Tulangan pelat lantai dapat menggunakan diameter 10 mm dan 13
mm (BJTD 40)
4) Tulangan sengkang balok dapat menggunakan diameter ulir 10 dan
13 mm (BJTD 40)
5) Tulangan sengkang dan confinement kolom dapat menggunakan
diameter ulir 10 dan 13 mm (BJTD 50), tapi untuk sengkang sebagai
ketahanan geser, perhitungannya tetap harus menggunakan mutu
BJTD 40.
6) Tulangan pile cap dan sloof dapat menggunakan diameter ulir 10, 13,
16, 19, 22, 25 dan 32 mm (BJTD 50)

3.10.4. Perhitungan struktur bawah


 Pemilihan Pondasi Dan Kedalaman Pondasi
Rencana pondasi yang akan digunakan adalah pondasi tian pancang
berukuran 50x50. Pondasi ini dipilih mengingat bahwa kondisi tanah
yang sangat lunak sehingga mudah runtuh, sedangkan kedalaman
tiang pancang berada di elevasi – 34 meter.

 Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang


Dalam perhitungan daya dukung tiang perlu diperhatikan bahwa
ada maksimum daya dukung friksi dan ada maksimum daya dukung
end-bearing yang diizinkan. Kecuali ditentukan dengan metode lain,
maka daya dukung tiang dapat ditentukan melalui metoda-metoda
berikut ini.

 Daya Dukung Aksial Tiang Tunggal


Secara umum, kapasitas aksial ultimit pondasi tiang diperoleh
melalui persamaan sederhana yang merupakan jumlah dari daya
dukung ujung dan tahanan selimut :

52
QU  QS  QP  f s As  qAP

dimana :

Qs = daya dukung selimut

QP = daya dukung ujung

fs = unit load transfer

q = unit load transfer pada tahanan ujung

Ap = luas penampang ujung tiang

As = luas selimut tiang

 Daya dukung selimut


- Pondasi Tiang Pada Lapisan Lempung
Tahanan selimut ultimit (Qs) tiang pada lapisan lempung dihitung
berdasarkan persamaan berikut :

fs = x Cu

= faktor adhesi (ditentukan dari grafik korelasi antara faktor


adhesi vs undrained shear strength berdasarkan : API RP2A 1986
untuk tiang pancang dan Kulhalwy (1984) untuk tiang bor)
Cu = kuat geser undrained

= 2/3 x 10 x NSPT (kN/m2)

sehingga,

Qs = p x L x f s

dimana :

p = perimeter tiang

L = panjang tiang

53
Gambar 3.10. Faktor Reduksi  Berdasarkan API
()

Gambar 3.11. Faktor Reduksi  Berdasarkan Kulhalwy

- Pondasi Tiang Pada Lapisan Pasir


Berdasarkan pengamatan di lapangan, Meyerhof (1976)
menyatakan bahwa tahanan selimut ultimit (Qs) tiang di lapisan pasir
dapat diperoleh melalui NSPT

54
Untuk tiang pancang diambil :

fs = 2 x NSPT (kN/m2)

Untuk tiang bor dapat diambil :

fs = 2 x NSPT (kN/m2), mengingat banyak instrumentasi yang dipasang


pada loading test menunjukkan bahwa daya dukung lekatan tiang bor
adalah sangat baik.

sehingga,

Qs = p x L x f s

dimana :

p = perimeter tiang

L = panjang tiang

 Daya Dukung Ujung


- Pondasi Tiang Pancang Menembus Lapisan Lempung
Untuk tiang pada lapisan lempung saturated pada kondisi
undrained Qp dihitung dengan rumus berikut ini :

Q p = 9 x Cu x A p

dimana,

Ap = luas penampang tiang

Cu = kuat geser undrained = 2/3 x 10 x NSPTav (kN/m2)

NSPTav = NSPT rata-rata sekitar ujung tiang (10D di atas ujung tiang
dan 4D di bawah ujung tiang)

- Pondasi Tiang Menembus Lapisan Pasir


Qp = 40 x NSPTav x Lb/D ≤ 400 x NSPTav dimana,

55
Lb = panjang tiang yang menembus lapisan pasir

D = diameter tiang

NSPTav = NSPT rata-rata sekitar ujung tiang (10D di atas ujung tiang
dan 4D di bawah ujung tiang)

 Daya Dukung Cabut


Perencanaan pondasi tiang harus memperhitungkan daya dukung
tiang terhadap beban uplift (apabila diperlukan).

Nicola dan Randolph (1993) menyatakan bahwa pada tanah kohesif


berbutir halus, dimana pembebanan diasumsikan bekerja pada kondisi
undrained, tahanan selimut terhadap gaya tekan maupun gaya tarik sama
besarnya. Sedangkan pada tanah non kohesif atau free draining, Nicola
dan Randolph (1993) menyatakan bahwa tahanan selimut tarik
diasumsikan sebesar 70% dari tahanan selimut tekan. Karena kondisi
tanah di lapisan proyek ini terdiri dari tanah kohesif dan non kohesif, maka
tahanan selimut tarik diambil sebesar 70% dari tahanan selimut pada
kondisi tekan.

Persamaan untuk menghitung besarnya daya dukung cabut adalah


sebagai berikut :

Quplift = 0.70 x Qs + W pile

dimana,

Qs = sama dengan daya dukung friksi tiang tekan

Wpile = berat efektif pondasi tiang

 Daya Dukung Aksial Izin Pondasi Tiang (Q all)


Dalam analisa dengan metode statik, beban desain dari tiang dengan
panjang yang diketahui, secara umum diperhitungkan dengan cara
membagi daya dukung ultimit pada lapisan tanah pendukung dengan
angka :

56
Qu
Qall 
SF

dimana,

SF = factor of safety

Kisaran angka keamanan tergantung pada realibilitas dari metode


analisis statik yang digunakan dengan pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut :

1) Tingkat keyakinan terhadap parameter-parameter tanah yang


digunakan.
2) Keseragaman lapisan tanah.
3) Efek dan konsistensi dari metode instalasi tiang yang digunakan
4) Tingkat pengawasan saat konstruksi
Pada umumnya faktor keamanan yang digunakan berkisar antara 2.0 - 4.0
untuk beban servis/operasi. Menurut Tomlison (1975), angka keamanan
yang digunakan sebaiknya 2.5. AASTHO dan Canadian Foundation
Engineering Manual juga menyarankan penggunaan angka keamanan
untuk kapasitas tiang bor sebesar 2.5.

Pada proyek ini, angka keamanan (Safety Factor) untuk pondasi tiang
diambil sebesar 2.5.

Pada kondisi gempa desain, maka daya dukung pondasi dapat diambil
sebesar 1.2 kali daya dukung ijin. Pada kondisi gempa elastik (gempa
maksimum), maka daya dukung pondasi dapat diambil 1.3 x 1.2 = 1.56
kali daya dukung ijin.

 Daya Dukung Lateral Tiang


Perhitungan kapasitas lateral dapat dilakukan dengan menggunakan
software LPile versi 3.0. Metode yang digunakan adalah p-y method,
dimana program komputer yang akan membangun sendiri kurva p-y nya.
Kurva p-y akan dibangun sesuai dengan jenis tanah, kriteria dari Matlock

57
(1970) untuk soft clay saturated, kriteria dari Reese dan kawan-kawan
(1975) untuk stiff clay saturated, kriteria Reese dan Welch (1975) untuk
stiff clay unsaturated, dan kriteria dari Reese dan kawan-kawan (1974)
untuk pasir.

Daya dukung lateral dianalisa untuk kondisi simpangan lateral fixed


head 6 mm (0.25 inch) untuk gempa nominal dan untuk kondisi
simpangan lateral fixed head 25 mm (1 inch) untuk beban gempa
maksimum (gempa elastik).

Pada kondisi gempa nominal, kapasitas momen crack tiang harus >
momen pada tiang akibat simpangan lateral fixed 6 mm (0.25 inch). Pada
kondisi gempa maksimum, kapasitas momen ultimate tiang harus >
momen pada tiang akibat simpangan lateral fixed 25 mm (1 inch).

Apabila pondasi tiang yang digunakan merupakan tiang pancang


pracetak maka penentuan besarnya daya dukung lateral sangat
ditentukan oleh kekuatan structural pondasi tiang pancang berupa momen
crack dan momen ultimate yang dapat diterima akibat beban lateral.

Tiang pada bagian bawah (apabila ada sambungan) boleh dengan


strand/tulangan yang lebih sedikit menyesuaikan kapasitas momen crack
dan momen ultimate yang dibutuhkan.

 Efisiensi Pondasi Tiang


Jarang sekali fondasi terdiri hanya dari satu buah tiang tunggal,
biasanya sebuah fondasi terdiri lebih dari dua tiang. Jika kapasitas group
tiang merupakan jumlah kapasitas dari masing-masing tiangnya maka
efisiensi group tiang sama dengan 1. Efisiensi group tiang didefinisikan
sebagai :

Q0
Eg 
Q p

58
dimana,

Q0 = kapasitas group tiang

Qp = jumlah kapasitas masing-masing tiang yang berada dalam 1


group

Menurut IBC 2009, efisiensi group axial harus diperhitungkan apabila


jarak antar pile kurang dari 3 x Diameter tiang (3 D) dan efisiensi group
lateral harus diperhitungkan apabila jarak antar pile kurang dari 8 x
Diameter tiang (8 D).

Menurut Bowles (1996), pondasi tiang pada tanah non kohesif yang
dipasang pada jarak antara 2 sampai 3D akan memiliki nilai efisiensi
group axial lebih besar atau sama dengan 1. Sementara menurut Coduto
(1994), efisiensi group axial pondasi tiang pada tanah kohesif akhirnya
akan mencapai 1 setelah disipasi air pori selesai.

Pada proyek ini diambil efisiensi group axial tiang sebesar 0.75
dengan jarak antar tiang diambil sebesar 3D dan efisiensi group lateral
tiang sebesar 0.6.

 Settlement dan Differensial Settlement


Settlement bangunan dibatasi sebesar maksimum 15 cm. Settlement
yang dimaksud adalah settlement elastik dan settlement konsolidasi.
Apabila diperlukan maka kontur settlement bangunan agar digambar
untuk memudahkan evaluasi differential settlement. Differential settlement
dibatasi maksimum 1/300 bentang.

 Perencaan Pondasi dan Pile Cap


Pondasi harus direncanakan untuk mampu menahan beban tetap (DL
dan LL) serta kombinasi beban tetap dengan beban gempa.

Perencanaan pondasi pada kondisi gempa maksimum harus


dilakukan dengan memberikan memberikan faktor kuat lebih total (0)
sesuai SNI 1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

59
Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, pasal 7.1.5, pasal 7.2.1
Tabel 9, pasal 7.4.3.1 dan pasal 7.4.3.2.

Kombinasi Pembebanan untuk mengevaluasi daya dukung pondasi


adalah :

Kondisi Service

1.0 DL + 1.0 LL

1.0 SW + 1.0 UPN

1.0 SW + 0.75 UPB

Kondisi Desain (Daya Dukung Tiang dapat ditingkatkan sebesar 1.3x)

1.0 DL  0.6 W X

1.0 DL  0.6 W Y

1.0 DL + 0.75 (LL + LR)  0.45 W X

1.0 DL + 0.75 (LL + LR)  0.45 WY

0.6 DL  0.6 W X + 0.75 UPB

0.6 DL  0.6 W Y + 0.75 UPB

(1.0 + 0.14 SDS) DL  0.63  (Ex  0.3 Ey)

(1.0 + 0.14 SDS) DL  0.63  (Ey  0.3 Ex)

(1.0 + 0.105 SDS) DL + 0.75 (LL + LR)  0.4725  (Ex  0.3 Ey)

(1.0 + 0.105 SDS) DL + 0.75 (LL + LR)  0.4725  (Ey  0.3 Ex)

0.6 DL  0.63  (Ex  0.3 Ey) + 0.6 UPN

0.6 DL  0.63  (Ey  0.3 Ex) + 0.6 UPN

Kondisi Ultimit (Daya Dukung Tiang dapat ditingkatkan sebesar 1.56x)

60
(1.0 + 0.14 SDS) DL  0.63 Ωo (Ex  0.3 Ey)

(1.0 + 0.14 SDS) DL  0.63 Ωo (Ey  0.3 Ex)

(1.0 + 0.105 SDS) DL + 0.75 (LL + LR)  0.4725 Ωo (Ex  0.3 Ey)

(1.0 + 0.105 SDS) DL + 0.75 (LL + LR)  0.4725 Ωo (Ey  0.3 Ex)

0.6 DL  0.63 Ωo (Ex  0.3 Ey) + 0.6 UPN

0.6 DL  0.63 Ωo (Ey  0.3 Ex) + 0.6 UPN

dengan : DL = Beban Mati (SW + SIDL)

SW = Beban Berat Sendiri

SIDL = Beban Mati Tambahan

LL = Beban Hidup

= Faktor beban hidup dapat diambil = 0.5 untuk


kombinasi yang mengandung beban gempa
karena beban hidup yang mendominasi
bangunan tidak lebih dari 500 kg/m2

 = Faktor Redundansi
W = Beban Angin

UPN = Beban Muka Air Normal (= F, pada Pergub DKI)

UPB = Beban Muka Air Banjir (= Fa, pada Pergub DKI)

E = Beban Gempa

x,y = Beban Gempa

Ωo = Fakor kuat lebih struktur

SDS = Parameter Respons Spektral Percepatan Desain


pada Periode Pendek

LR = Beban Atap

61
Untuk beban aksial pada kondisi gempa elastik (gempa dengan faktor
kuat lebih Ωo) daya dukung ijin pondasi dapat diambil 1.56 x daya dukung
ijin (nilai 1.56 diperoleh dari perkalian nilai 1.2 sesuai SNI 1726-2012
pasal 7.4.3.3 dengan nilai 1.3 dimana bearing capacity pile boleh naik saat
kondisi gempa).

Kombinasi Pembebanan untuk perhitungan tulangan pile cap adalah :

1.4 DL + 1.4 UPN

1.2 DL + 1.6 LL + 0.5 LR + 1.2 UPN

1.2 DL + 1.6 LR + LL + 1.2 UPN

1.2 DL + 1.6 LR  0.5 W x + 1.2 UPN

1.2 DL + 1.6 LR  0.5 WY + 1.2 UPN

1.2 DL  1.0 WX + LL + 0.5 LR + 1.2 UPN

1.2 DL  1.0 WY + LL + 0.5 LR + 1.2 UPN

0.9 DL  1.0 WX

0.9 DL  1.0 WY

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL   (Ex  0.3 Ey)

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL   (Ey  0.3 Ex)

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL   (Ex  0.3 Ey) + 1.0 UPN

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL   (Ey  0.3 Ex) + 1.0 UPN

(0.9 - 0.2 SDS) DL   (Ex  0.3 Ey) + 1.6 H

(0.9 - 0.2 SDS) DL   (Ey  0.3 Ex) + 1.0 UPN

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL  𝑘 (Ex  0.3 Ey) + 1.0 UPN

(1.2 + 0.2 SDS) DL + 0.5 LL  𝑘 (Ey  0.3 Ex) + 1.0 UPN

62
(0.9 - 0.2 SDS) DL  𝑘 (Ex  0.3 Ey) + 1.6 H

(0.9 - 0.2 SDS) DL  𝑘 (Ey  0.3 Ex) + 1.6 H

dengan : DL = Beban Mati (SW + SIDL)

SW = Beban Berat Sendiri

SIDL = Beban Mati Tambahan

LL = Beban Hidup

= Faktor beban hidup dapat diambil = 0.5 untuk


kombinasi yang mengandung beban gempa
karena beban hidup yang mendominasi
bangunan tidak lebih dari 500 kg/m2

 = Faktor Redundansi
W = Beban Angin

UPN = Beban Muka Air Normal

UPB = Beban Muka Air Banjir

E = Beban Gempa

x,y = Arah Beban Gempa

SDS = Parameter Respons Spektral Percepatan Desain


pada Periode Pendek

LR = Beban Atap
𝑅𝑆𝐴
𝜌𝑆𝐴
𝑘 = 𝑅𝑆𝐵
𝜌𝑆𝐵

R = Faktor Modifikasi Respons

SA = Struktur Atas

SB = Struktur Bawah

63
H = Total gaya tekanan tanah dinamik pada kondisi
dorong.

Penulangan pile cap dapat juga dilakukan dengan mengambil reaksi


dari pondasi sebagai beban ke pile cap. Dalam hal ini, dapat diambil
reaksi pondasi sebesar 1.56 kali daya dukung pondasi.

 Basement
Konstruksi Basement secara tersendiri dari struktur atas, harus
didesain untuk menahan beban gempa yang menangkap pada pusat
massa Basement, sesuai dengan SNI 03 – 1726 – 2012 Tata cara
perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung, butir 7.8.1.1.

Saat menganalisis konstruksi Basement secara tersendiri, reaksi


perletakan di level Ground Floor dari struktur atas tetap harus dimasukan
di puncak Basement. Gaya gempa dari struktur atas tersebut harus
dikalikan dengan faktor k yang mana merupakan perbandingan faktor
modifikasi respon gempa sistem struktur atas yang sudah dibagi faktor
redundansi struktur atas dengan faktor modifikasi respon gempa sistem
struktur Basement yang sudah dibagi faktor redundansi struktur Basement
(rasio R/ bagian atas terhadap R/ bagian bawah), sesuai dengan SNI 03
– 1726 – 2012 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan
gedung, butir 7.2.3.2.

Bangunan Basement tersimpan di dalam tanah dan dikelilingi


seluruhnya oleh Dinding Penahan Tanah. Dengan adanya dinding
penahan tanah pada sekeliling Basement maka kekakuan lateral struktur
Basement menjadi besar. Konstruksi Basement dengan dinding penahan
tanah di sekelilingnya dapat dipertimbangkan sebagai Sistem Dinding
Penumpu dengan Dinding Geser Beton Bertulang Biasa dengan nilai R =
4, sesuai SNI 03 – 1726 – 2012 Tata cara perencanaan ketahanan gempa
untuk bangunan gedung, Tabel 9.

64
 Dinding Penahan Tanah Dan Proteksi Galian
Perencanaan dinding penahan tanah untuk galian harus didasarkan
pada parameter tanah dari hasil tes triaksial CU sehingga didapatkan
parameter kuat geser pada kondisi unloading galian. Untuk Basement 2
lantai di proyek dipilih secant pile sebagai sistem proteksi galian.

Metoda penjangkaran dari dinding secant pile dapat dilakukan dengan


menggunakan ground anchor. Hal ini bergantung kepada kemungkinan
penggunaan ground anchor di lahan proyek ini. Sebagai alternatif dapat
digunakan metode struting sebagai penganti ground anchor.

Faktor keamanan ”galian dalam” harus mengacu kepada ketentuan


faktor keamanan untuk galian pada kondisi sementara. Stabilitas dinding
penahan tanah, stabilitas tanah pada kondisi open cut, stabilitas terhadap
heave, blow-in, dan piping pada dasar galian, semuanya harus dievaluasi
dan dipastikan aman.

Dalam perencanaan dinding penahan tanah harus sangat diperhatikan


besarnya deformasi pada puncak dinding penahan tanah. Deformasi ini
harus lebih kecil dari 0.2 – 0.4 % kedalaman galian. Kemudian tahapan
penggalian juga sangat penting untuk diperhatikan dalam analisis dinding
penahan tanah.

Dinding Basement harus didesain untuk mampu menahan tekanan


tanah pada kondisi statik dan pada kondisi gempa, sesuai dengan SNI 03
– 1726 – 2012 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan
gedung, butir 7.2.4.3.

 Air Tanah
Muka air tanah yang digunakan dalam perencanaan terhadap air
tanah adalah muka air tanah pada kondisi normal dan muka air banjir. Up-
lift tidak hanya dihitung berdasarkan elevasi muka air tanah sesuai soil
test, melainkan juga harus pada kondisi dimana area Jalan Sentra Barat –
Gede Bage mengalami banjir.

65
Apabila air tanah perlu diturunkan untuk pekerjaan Basement, maka
harus dilakukan analisa dewatering menggunakan parameter tanah dari
pumping test. Khusus pada proyek ini tidak dilakukan pumping test,
dikarenakan tanah pada lokasi site merupakan tanah lempung. Keamanan
lingkungan harus diperhatikan dengan baik dalam analisis ini. Air yang
perlu disedot oleh pompa adalah air tanah di area galian dan air hujan
yang masuk ke dalam area galian.

3.10.5. Struktur atas


 Umum
Struktur atas harus didesain untuk mampu menopang beban tetap
(beban mati dan beban hidup) dan kombinasi beban tetap dengan beban
gempa.

Desain struktur beton harus dilakukan sesuai dengan metode LRFD


dimana faktor bebannya sesuai dengan SNI 1726-2012 Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non Gedung dan faktor reduksinya sesuai dengan Peraturan Beton SNI
1727-2013 pasal 4.7.

Dalam kaitan dengan ketahanan gempa, maka desain struktur harus


dilakukan sesuai dengan SNI 1726-2012 Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.

 Sistem Struktur, Kesetabilan Sistem dan Kekakuan Lateral Sistem


Sistem struktur atas yang dipilih adalah Sistem Ganda kombinasi
antara dinding geser beton bertulang dengan rangka balok kolom pemikul
momen.

Apabila lokasi bangunan dapat menunjukkan bahwa lokasi tersebut


masuk ke dalam Kategori Desain Seismik B atau C, maka rangka balok
kolom pemikul momennya dapat berupa Sistem Rangka Pemikul Momen
Menengah (SRPMM).

66
Namun apabila lokasi bangunan menunjukkan bahwa lokasi tersebut
masuk ke dalam Kategori Desain Seismik D, maka sistem ganda yang
dapat dipakai adalah kombinasi Dinding Geser Beton Bertulang Khusus
dengan rangka balok kolom pemikul momennya dapat berupa Sistem
Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) dengan batasan ketinggian
bangunan adalah 48 m. Apabila tinggi bangunan lebih dari 48 m maka
sistem ganda yang dapat dipakai adalah kombinasi Dinding Geser Beton
Bertulang Khusus dengan rangka balok kolom pemikul momennya dapat
berupa Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK).

Untuk lokasi dengan Kategori Seismik Desain B dan C, maka sistem


yang dapat dipilih adalah Sistem Ganda kombinasi dinding geser beton
bertulang biasa dengan rangka balok kolom pemikul momen menengah
dengan nilai R (koefisien modifikasi respon) = 5.5, Ω0 (faktor kuat lebih
sistem) = 2.5, Cd (faktor pembesaran defleksi) = 4.5, sesuai Tabel 9 SNI
1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung.

Untuk lokasi dengan Kategori Desain Seismik D, maka sistem yang


dapat dipilih adalah bila ketinggian bangunan kurang dari 48 m maka
dapat berupa Sistem Ganda kombinasi dinding geser beton bertulang
khusus dengan rangka balok kolom pemikul momen menengah dengan
nilai R (koefisien modifikasi respon) = 6.5, Ω0 (faktor kuat lebih sistem) =
2.5, Cd (faktor pembesaran defleksi) = 5.0, sesuai Tabel 9 SNI 1726-2012
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung. Bila ketinggian bangunan lebih dari 48 m maka
sistem struktur yang dipilih dapat berupa Sistem Ganda kombinasi dinding
geser beton bertulang khusus dengan rangka balok kolom pemikul
momen khusus dengan nilai R (koefisien modifikasi respon) = 7.0, Ω0
(faktor kuat lebih sistem) = 2.5, Cd (faktor pembesaran defleksi) = 5.5,
sesuai Tabel 9 SNI 1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung

67
Posisi lokasi Gedung Science Techno Park ini memberikan bahwa
lokasi ini masuk kedalam Kategori Desain Seismik : D dan ketinggian
bangunan lebih dari 48 m. Untuk itu Sistem Strukturnya adalah : Sistem
Ganda kombinasi dinding geser beton bertulang khusus dengan rangka
balok kolom pemikul momen khusus dengan nilai R (koefisien modifikasi
respon) = 7, Ω0 (faktor kuat lebih sistem) = 2.5, Cd (faktor pembesaran
defleksi) = 5.5.

Sistem struktur harus diverifikasi perilakunya dengan menggunakan


analisis dinamik response spectrum 3 dimensi (3D dynamic response
spectrum analysis), dan dipastikan bahwa mode 1 dan mode 2 nya
seluruh sistem bangunan sudah didominasi oleh translasi. Apabila pada
mode 1 dan mode 2 nya masih ada yang didominasi oleh rotasi, maka
sistem struktur dinyatakan belum stabil.

 Batasan periode Getar Fundamental Bangunan (Hanya untuk


menentukan geser dasar (Base shear) Gempa)
Kekakuan lateral sistem struktur Gedung Science Techno Park ITB
secara umum harus dicapai dengan membatasi periode getar bangunan.
Periode getar maksimum untuk bangunan harus mengacu kepada SNI 03-
1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Gedung dan Non Gedung. Peraturan tersebut mengatur bahwa
Fundamental Period (periode getar mode ke 1 atau disebut T1) yang
dipakai harus dalam batasan periode yang ditentukan berdasarkan tipe
struktur dan ketinggian bangunannya. Batasan periode fundamental
bangunan adalah sebagai berikut :

Batas minimum : Tmin = Ta = Ct x hn x, dimana hn = tinggi struktur (m)

Batas maksimum : Tmax = Cu xTa

68
Tabel 3.3. Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x

Tipe Struktur Ct x

Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memikul 100% gaya gempa
yang disyaratkan dan tidak melingkupi atau dihubungkan dengan komponen
yang lebih kaku dan akan mencegah rangka dari defleksi jika dikenai gaya
gempa:

Rangka Baja pemikul momen 0.0724 0.8

Rangka Beton pemikul momen 0.0466 0.9

Rangka Baja dengan bresing eksentris 0.0731 0.75

Rangka Baja dengan bresing antitekuk 0.0731 0.75

Semua sistem struktur lainnya 0.0488 0.75

Sistem Struktur Science Techno Park ITB adalah Sistem Ganda


kombinasi dinding geser beton bertulang khusus dengan rangka balok
kolom pemikul momen Khusus sehingga berdasarkan tabel diatas masuk
dalam tipe : semua sistem struktur lainnya.Dari Tabel tersebut didapatkan
nilai Ct=0.0488 dan x=0.75

Tabel 3.4. Koefisien Batas Atas Periode


Parameter Percepatan Respon Spektra Desain 1 detik, SD1 Koefisien Cu

≥ 0.4 1.4

0.3 1.4

0.2 1.5

0.15 1.6

≤ 0.1 1.7

69
Berdasarkan lokasi Science Techno Park ITB yaitu yang berada di
Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat berdasarkan peta gempa SNI 03-
1726-2012 diperoleh besarnya SD1 adalah 0.75g. Dari Tabel di atas
diperoleh besarnya Cu adalah 1.4. Sehingga Periode yang digunakan
adalah :

a. Jika TC>Cu xTa T = Cu xTa

b. Jika Ta<TC<Cu xTa T = Tc

c. Jika TC<Ta T = Ta

TC adalah periode struktur yang didapat dari program komputer ETABS.

 Respon Spektra untuk Desain

a. Tentukan Kategori Resiko Bangunan


Kategori Resiko Bangunan ditentukan berdasarkan jenis
pemanfaatannya, sesuai tabel berikut.

Tabel 3.5. Kategori Resiko Bangunan Gedung Dan Non Gedung Untuk
Beban Gempa

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Resiko

Gedung dan non gedung yang memiliki resiko rendah


terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk, antara lain:
- Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan I
perikanan
- Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya

70
Tabel 3.5. Kategori Resiko Bangunan Gedung Dan Non Gedung Untuk
Beban Gempa (Lanjutan)

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Resiko

Semua Gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk


dalam kategori resiko I,III & IV, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor
- Pasar II
- Gedung perkantoran
- Gedung apartemen/ rumah susun
- Pusat perbelanjaan/ mal
- Bangunan industri
- Fasilitas manufaktur
- Pabrik

Gedung dan non gedung yang memiliki resiko tinggi


terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan
III
- Stadion
- Fasilitas kesehatan non unit bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
- Penjara
- Bangunan untuk orang jompo

71
Tabel 3.5. Kategori Resiko Bangunan Gedung Dan Non Gedung Untuk
Beban Gempa (Lanjutan)

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Resiko

Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori


resiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak
ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap
kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Pusat pembangkit listrik biasa
- Fasilitas penanganan air
- Fasilitas penanganan limbah
III
- Pusat telekomunikasi
- Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam
kategori resiko IV, (termasuk, tapi tidak dibatasi untuk
fasilitas manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan,
penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar
berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya,
atau bahan yang mudah meledak) yang mengandung
bahan beracun atau peledak di mana jumlah kandungan
bahannya melebihi nilai batas instansi berwenang.

Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas


penting, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Bangunan-bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan IV
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai,
dan tempat perlindungan lainnya

72
Tabel 3.5. Kategori Resiko Bangunan Gedung Dan Non Gedung Untuk
Beban Gempa (Lanjutan)

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Resiko
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi,
tangki penyimpanan bahan bakar, menara pendingin,
struktur stasiun listrik, tangki air pemadam kebakaran atau IV

struktur rumah atau struktur pendukung air atau material


atau peralatan pemadam kebakaran) yang disyaratkan
untuk beroperasi pada saat keadaan darurat
- Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang
termasuk ke dalam kategori resiko IV.

Tabel 3.6 Faktor Keutamaan Gempa Dan Angin


Faktor Faktor
Kategori
keutamaan keutamaan
Resiko
Gempa, IE Angin, IW

I
1.00 1.00
II

III 1.25 1.00

IV 1.50 1.00

Struktur Gedung Science Techno Park ITB mempunyai fungsi sebagai


gedung manufaktur/gedung industri (bukan sekolah / fasilitas pendidikan)

73
sehingga masuk dalam Kategori Resiko II dengan Faktor Keutamaan
Gempa IE = 1.0 dan Angin IW = 1.0.
b. Tentukan Kelas Situs

Kelas Situs ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan tanah pada 30


m lapisan teratas sesuai SNI-03-1726-2012 Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non Gedung pasal
5.3, Tabel 3.

Tabel 3.7 Klasifikasi Situs

Sifat rata-rata pada 30 m Lapisan Atas


Nilai Hasil Test
Kelas Situs Kecepatan Rambat Penetrasi Standar
Kuat Geser Niralir
Gelombang Geser rata-rata
rata-rata Su(Kpa)
rata-rata Vs (m/det) N-SPT (pukulan/30
cm)
SA (batuan keras) ≥ 1500 NA NA
SB (batuan) 750 ≤ Vs < 1500 NA NA
SC (tanah keras,
sangat padat dan 350 ≤ Vs < 750 ≥ 50 ≥ 100
batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 ≤ Vs < 350 15 ≤ N < 50 50 ≤ Su < 100
< 175 < 15 < 50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m tanah
SE (tanah lunak) dengan karakteristik sbb.:
1. Indeks plastisitas, PI > 20
2. Kadar air, w ≥ 40% & Su < 25 kPa
Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau lebih dari
karakteristik sbb:
SF (tanah khusus,
- rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban gempa spt
yg butuh investigasi
mudah likuifaksi, lempung sgt sensitif, tanah tersedementasi rendah
geoteknik spesifik
& analisis respon - lempung sgt organik &/atau gambut (tebal H> 3 m)
spesifik situs.) - lempung berplastisitas sgt tinggi (tebal H> 7.5 m, dg PI > 75)
- lapisan lempung lunak/setengah keras dg tebal H> 35 m, dg Su < 50
kPa)

74
Dari laporan hasil penyelidikan tanah untuk semua titik bor pada 30 m
lapisan teratas, didapatkan nilai NSPT rata-rata pada rentang N <15,
sehingga kelas situs Gedung Science Techno Park ITB masuk dalam jenis
tanah lunak SE yang mana merupakan kelas situs terburuk sehingga
tanpa perlu mengecek hasil kedua parameter lainnya, kelas situs untuk
Gedung Science Techno Park ITB dapat ditentukan sebagai tanah lunak
SE.

Namun demikian, sesuai dengan SNI-1726-2012 butir 5.3.1 harus tetap


dipastikan juga bahwa lokasi bangunan tidak termasuk dalam kategori
kelas situs SF (tanah khusus), maka ada 4 kategori yang harus dicek :

a. Apakah terdapat tanah di lokasi bangunan yang rawan dan berpotensi


gagal atau runtuh akibat gempa (seperti mudah likuifaksi, lempung sangat
sensitif, tanah tersementasi lemah).

b. Apakah terdapat tanah lempung dengan kadar organik tinggi dan/atau


gambut, dengan ketebalan H > 3 meter.

c. Apakah terdapat tanah lempung dengan plastisitas yang sangat tinggi


dengan ketebalan H > 7.5 meter dengan indeks plastisitas PI > 75.

d. Apakah terdapat tanah lempung lunak/setengah teguh dengan ketebalan


H > 35 meter dengan Su < 50 kPa.

Parameter-parameter di atas masih menunggu hasil laboratorium


penyelidikan tanah, untuk dapat menentukan bahwa tanah bukan kategori
Kelas Situs SF.

Tentukan SS dan S1

75
Gambar 3.12 Peta hazard gempa Indonesia di batuan dasar pada kondisi
spektra T = 0.2 detik untuk 2% PE 50 tahun.

Gambar 3.13 Peta hazard gempa Indonesia di batuan dasar pada kondisi
spektra T = 1.0 detik untuk 2% PE 50 tahun.

Nilai SS ditentukan berdasarkan lokasi bangunan pada Gambar 3.12


sedangkan nilai S1 ditentukan berdasarkan lokasi bangunan pada Gambar
3.13

76
Untuk lokasi Gedung Science Techno Park ITB, berdasarkan Gambar
3.12 didapatkan Nilai SS = 1.5g. Sedangkan berdasarkan Gambar 4,13
didapatkan Nilai S1 = 0.47g.

c. Tentukan Koefisien Situs Fa dan Fv


Nilai Fa ditentukan berdasarkan Kelas Situs dan nilai Ss berdasarkan
Tabel di bawah ini.

Tabel 3.8 Koefisien Situs Fa

Parameter Respon Spektra Percepatan pada periode


Kelas pendek, Fa
Situs
SS ≤ 0.25 SS = 0.50 SS = 0.75 SS = 1.0 SS≥ 1.25

SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8

SB 1.0 1.0 1.0 1.0 1.0

SC 1.2 1.2 1.1 1.0 1.0

SD 1.6 1.4 1.2 1.1 1.0

SE 2.5 1.7 1.2 0.9 0.9

Situs yg membutuhkan investigasi geoteknik spesifik dan


SF
analisis respons spesifik situs.

Nilai Fa dapat diinterpolasi secara linier untuk nilai Ss yang berada di


antara nilai yang tertera dari tabel di atas.

Berdasarkan tabel tersebut di atas, untuk Kelas Situs SE dan nilai S S =


1.5g didapatkan:

Fa = 0.90

Nilai Fv ditentukan berdasarkan Kelas Situs dan nilai S1 berdasarkan


Tabel di bawah ini.

77
Tabel 3.9 – Koefisien Situs Fv

Parameter Respon Spektra Percepatan

Kelas pada periode 1 detik, Fv

Situs S1 ≤ S1 = S1 = S1 = S1≥
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5

SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8

SB 1.0 1.0 1.0 1.0 1.0

SC 1.7 1.6 1.5 1.4 1.3

SD 2.4 2.0 1.8 1.6 1.5

SE 3.5 3.2 2.8 2.4 2.4

Situs yg membutuhkan investigasi


SF geoteknik spesifik dan analisis respons
spesifik situs.

Nilai Fv dapat diinterpolasi secara linier untuk nilai S 1 yang berada di


antara nilai yang tertera dari tabel di atas.

Berdasarkan tabel tersebut di atas, untuk Kelas Situs SE dan nilai S 1 =


0.47g didapatkan:

Fv = 2.4

d. Tentukan Percepatan Respon Spektra, SDS dan SD1


Nilai Percepatan Respon Spektra ditentukan berdasarkan koefisien situs
dan peta zonasi gempa sebagai berikut :

SDS = 2/3 (Fa x SS) SD1 = 2/3 (Fv x S1)

= 2/3 (0.9 x 1.5) = 0.9 = 2/3 (2.4x 0.47)= 0.75

TS = SD1/SDS = 0.75/0.9 = 0.83 T0 = 0.2TS = 0.2x0.83 = 0.16

78
e. Membentuk Percepatan Respon Spektra Sa
Desain Percepatan Respon Spektra Sa ditentukan sebagai berikut :

1) Untuk periode T < T0, Percepatan Respon Spektra Sa harus


diambil dari persamaan:

2) Untuk periode T0 ≤ T ≤ TS  Sa = SDS

3) Untuk periode T > TS, Percepatan Respon Spektra Sa diambil


berdasarkan persamaan:

Sa = SD1/T

dimana :

SDS = parameter percepatan respon spektra desain pada


perioda pendek

SD1 = parameter percepatan respon spektra desain pada


perioda 1 detik

T = periode getar fundamental struktur

Rumusan tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk kurva sebagai


berikut:

Gambar 3.12. Kurva Percepatan Respon Spektra Desain

79
Sehingga kurva percepatan respon spectra gempa desain yang dipakai
dalam desain struktur Gedung Science Techno Park ITB ini adalah
sebagai berikut :

Gambar 3.13. Kurva Percepatan Respon Spektra Desain Gedung STP


ITB

 Kategori Desain Seismik


Kategori Desain Seismik ditentukan berdasarkan kategori resiko
bangunan dan nilai SDS dan SD1 sebagaimana tertera dalam tabel
berikut :

Tabel 3.10 Kategori Desain Seismik Berdasarkan SDS

Kategori Resiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV

SDS< 0.167 A A

0.167 ≤ SDS< 0.33 B C

0.33 ≤ SDS< 0.50 C D

SDS ≥ 0.50 D D

80
Dengan nilai SDS = 0.9 > 0.50, maka semua Struktur Gedung Science
Techno Park ITB termasuk ke dalam Kategori Desain Seismik D.

Tabel 3.11 Kategori Desain Seismik Berdasarkan SD1

Kategori Resiko

Nilai SD1 I atau II atau


IV
III

SD1< 0.067 A A

0.067 ≤ SD1< 0.133 B C

0.133 ≤ SD1< 0.20 C D

SD1 ≥ 0.20 D D

Dengan nilai SD1 = 0.75 > 0.20, maka semua Struktur Gedung
Science Techno Park ITB termasuk ke dalam Kategori Desain
Seismik D.

 Beban yang harus Diaplikasikan


Pembebanan harus dilakukan sesuai dengan peraturan
pembebanan SNI-1727-2013 (Beban minimum untuk perancangan
bangunan gedung dan struktur lain) dan SNI-1726-2012 (Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non
Gedung).

 Beban Mati (DL)


Beban Mati diperhitungkan berdasarkan data-data berikut ini.

1. Berat Jenis Beton Bertulang yang diambil sebagai acuan pembebanan


adalah 2400 kg/m3.
2. Berat Jenis air = 1000 kg/m3.

81
3. Berat Jenis Beton Rabat untuk finishing = 2200 kg/m 3.
4. Beban finishing lantai diambil setebal 5 cm = 110 kg/m2.
5. Beban Dinding bata ringan tebal = 10 cm dengan finish 2 sisi = 100
kg/m2.
6. Berat Beban Partisi untuk Office = 50 kg/m2.
7. Beban M&E dan plafon diambil sebesar 25 kg/m2.
8. Beban M&E (dengan ducting) dan plafon diambil sebesar 30 kg/m2.
9. Beban Curtain Wall (Glass/ Alumunium Panel) = 50 kg/m2.
10. Beban Precast Façade setebal 10 cm = 220 kg/m2.
11. Beban equipment M&E di ruang M&E = 600 kg/m 2, kecuali ada
ketentuan lain yang lebih berat.
Beban tanah dan tanaman, sesuai dengan ketebalan tanah, dengan
mengambil  tanah = 1800 kg/m3.

 Beban Hidup (LL)


Beban Hidup disesuaikan dengan fungsi dari masing -masing
ruangan.

1. Beban hidup parkir = 196 kg/m2. Agar dilengkapi dengan pengecekan


”Point Load” sesuai SNI 1727-2013
2. Bebam hidup koridor/hall = 489 kg/m2.
3. Beban Hidup pabrik ringan = 589 kg/m2.
4. Beban Hidup kantor = 245 kg/m2.
5. Beban Hidup retail/café/restoran = 489 kg/m2.
6. Beban Hidup toilet umum = 489 kg/m2.
7. Beban Hidup toilet khusus = 300 kg/m2.
8. Beban Hidup gudang = 615 kg/m2.
9. Beban Hidup mushola = 489 kg/m2.
10. Beban Hidup ruang M&E (personil maintanance) = 195 kg/m2 (Beban
alat dihitung sebagai beban mati).
11. Beban Hidup atap dak beton yang tidak aksesibel = 100 kg/m2.
12. Beban Hidup atap dak beton yang aksesibel = 195 kg/m2.

82
13. Beban Hidup tangga = 489 kg/m2.
 Beban Gempa Lateral
Beban Gempa lateral harus memenuhi ketentuan dalam SNI 1726-
2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Gedung dan Non Gedung, pasal 7.8. Perhitungan Pembebanan
Gempa adalah sebagai berikut :

1) Koefisien Respons Gempa, CS

Koefisien Respons Gempa, CS harus ditentukan sesuai dengan


persamaan :

Keterangan :

SDS = parameter percepatan respon spektra desain pada perioda


pendek

SD1 = parameter percepatan respon spektra desain pada perioda 1


detik

T = periode getar fundamental struktur

R = faktor modifikasi respons

I E = faktor keutamaan gempa

Namun nilai CS harus tidak kurang dari :

CS min= 0.044 x SDS x IE≥ 0.01

Sebagai tambahan, untuk struktur yang berlokasi di daerah di mana S 1≥


0.6g, maka nilai CS harus tidak kurang dari :

83
Di mana :

S1 = parameter percepatan respon spektra maksimum yang


dipetakan sesuai pada gambar 4 pada butir 6.4.c Kriteria Desain ini.

2) Perhitungan Beban Geser Dasar Rencana

Beban Geser Dasar Rencana = V = CS x W t , di mana :

V = Beban Geser Dasar Rencana

CS = Koefisien Respons Gempa

Wt = Berat seismik efektif sesuai SNI 1726-2012 pasal 7.7.2, dengan


minimum beban hidup sebesar 25% dari 489 kg/m2 untuk beban hidup ≥
489 kg/m2 (fungsi ruang penyimpanan) atau diambil = 0 untuk beban
hidup ≥ 489 kg/m2 (fungsi bukan ruang penyimpanan), dimasukkan dalam
mass source input ETABS.

Arah pembebanan gempa harus diambil sedemikian hingga sehingga


memberikan pengaruh terbesar kepada sistem struktur bangunan sesuai
SNI 1726-2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
Bangunan Gedung dan non Gedung, pasal 7.5. Analisis dinamik response
spectrum harus dilakukan pada proyek ini. Dalam melakukan analisis
dinamik (response spectrum modal analysis), maka jumlah mode yang
digunakan harus sedemikian sehingga mass participation ratio mencapai
sekurang-kurangnya 90%, sesuai ketentuan SNI 1726-2012 - Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan non
Gedung, pasal 7.9.1. Beban geser dasar harus mengikuti ketentuan SNI
1726-2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan
Gedung dan non Gedung, pasal 7.9.4 dimana base shear dinamik yang
diperoleh dari analisis dinamik (modal analysis) adalah minimal 85 % dari

84
base shear statiknya. Apabila base shear dinamik > base shear statik,
maka base shear dinamik yang menjadi acuan besaran base shear yang
dipakai.

Titik Pusat bekerjanya Beban Gempa Dinamik yang didistribusikan ke tiap


pusat massa lantai juga harus mengakomodasi eksentrisitas akibat torsi
bawaan dan torsi tak terduga sesuai SNI 1726-2012 - Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan non
Gedung, pasal 7.8.4.2 sebesar 5%.

 Beban Angin (W)


Beban Angin tidak diperhitungkan untuk desain gedung Science Techno
Park ITB ini, karena untuk gedung medium-rise struktur bangunan beton
akan tetap lebih didominasi oleh beban gempa.

 Beban Basement
- Beban gempa inersia Basement
Besarnya beban gempa inersia Basement yang diaplikasikan pada pusat
massa sesuai dengan persamaan 24 SNI 1726-2012, yaitu :

Vi = CS.W ti

Cs = 0.044 SDS Ie

Keterangan :

SDS = Parameter percepatan respon spektra desain pada perioda


pendek

Ie = Faktor keutamaan gempa

Wti = Berat struktur Basement pada lantai i.

- Tekanan Tanah Sekeliling dan Tekanan Surcharge pada


Dinding Basement
- Kondisi Statik
Untuk memperhitungkan tekanan dalam kondisi statik, nilai Ko = 1 – sin ф.

85
Tekanan Total pada dinding Basement pada kondisi statik adalah sebesar :

PS = P u + P h + P q

Pu = ɤw.H

Ph = Ko. ɤt’.Hb

Pq = Ko.q

Gambar 3.14. Skema Pembebanan Tekanan Dinding Basement dalam


Kondisi Statik

Keterangan :

PS = Tekanan statik total pada dinding Basement

Pu = Tekanan hidrostatik.

Ph = Tekanan statik tanah

Pq = Tekanan lateral akibat beban surcharge (beban hidup) di


lapangan

Ko = Koefisien lateral tanah pada kondisi at rest

q = Berat hidup surcharge di lapangan.

ɤt = Berat jenis tanah

Hb = Kedalaman Basement dari permukaan tanah

86
H = Tinggi air terhadap elevasi dasar Basement

- Kondisi Dinamis
Pada saat terjadi gempa, tekanan lateral pada dinding Basement akan
bertambah besar. Perhitungan tambahan gaya yang bekerja dilakukan
menggunakan metode yang dikemukakan oleh Wood (1973), dimana
kondisi dinding Basement diasumsikan rigid. Tekanan gaya yang bekerja
pada dinding Basement (ΔPeq) dapat dihitung sebagai berikut :

𝑎ℎ
∆𝑃𝑒𝑞 = 𝛾. 𝐻𝑏 2 . .𝐹
𝑔 𝑝
dimana ΔPeq = Gaya tambahan akibat gempa

ah = percepatan gempa

Fp =1

Total gaya tambahan akibat gempa adalah Peq, dimana Peq adalah
resultant gaya dari beban merata ΔPeq.

Posisi Peq terletak pada 2/3 Hb dari dasar Basement.

Gambar 3.15. Skema Pembebanan Tekanan Dinding Basement dalam


Kondisi Dinamik

Sehingga penulangan dinding Basement akan mempergunakan envelope


dari kondisi statik, kondisi dinamik dan dibandingkan dengan kondisi saat
galian sementara dilaksanakan.

87
Sedangkan untuk penulangan struktur Basement menggunakan kondisi
dinamik.

 Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan untuk perencanaan struktur harus mengikuti
ketentuan SNI 1726-2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Bangunan Gedung dan non Gedung, pasal 4.2.2 kombinasi beban
ultimit, pasal 7.4.2.3 kombinasi beban gempa, dan pasal 7.5.4 kombinasi
arah pembebanan untuk kategori desain seismik D sampai F.

Kombinasi pembebanan untuk perencanaan struktur beton :

1.4 DL

1.2 DL + 1.6 LL

(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + (Ex  0.3 Ey)

(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + (Ey  0.3 Ex)

(0.9 - 0.2 SDS)DL + (Ex  0.3 Ey)

(0.9 - 0.2 SDS)DL + (Ey 0.3 Ex)

1.2 DL + 0.5 LL  W

0.9DL  W

DL = Beban Mati

LL = Beban Hidup

E = Beban Gempa lateral

x,y = Arah Beban Gempa lateral

 = faktor redundansi

SDS = Parameter Respons Spektral Percepatan Desain pada


Periode Pendek

88
Karena respon bangunan terhadap beban lateral akan didominasi oleh
beban gempa, maka dalam desain struktur beton, tidak perlu
diperhitungkan kombinasi pembebanan yang mengandung beban angin
(W).

Faktor redundansi harus mengikuti ketentuan SNI 1726-2012 - Tata Cara


Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan non
Gedung, pasal 7.3.4, untuk struktur beton. Untuk Kategori Desain Seismik
D, E dan F,  harus sama dengan 1.3 kecuali jika satu dari dua kondisi ini
terpenuhi,  diijinkan diambil sebesar 1.0, yaitu:

a. Masing-masing tingkat yang menahan lebih dari 35% geser dasar


dalam arah yang ditinjau sesuai dengan Tabel 12 pasal 7.3.4.1.
b. Struktur dengan denah beraturan di semua tingkat dengan sistem
penahan gaya gempa terdiri dari paling sedikit dua bentang perimeter
penahan gaya gempa yang merangka pada masing-masing struktur dalam
masing-masing arah ortogonal di setiap tingkat yang menahan lebih dari
35% geser dasar.

Struktur ini masuk dalam Kategori Desain Seismik D, namun karena


denah lantai pada umumnya tidak beraturan maka poin (b) tidak dapat
dipenuhi. Apabila persyaratan poin (a) terpenuhi dimana masing-masing
tingkat menahan lebih dari 35% geser dasar dalam arah yang ditinjau
harus sesuai dengan tabel 12 butir 7.3.4.1, maka  diijinkan diambil
sebesar 1.0.

Sesuai dengan tabel 12 butir 7.3.4.1 tersebut, karena sistem bangunan


menggunakan sistem ganda dengan dinding geser, Pelepasan dinding
geser atau pier dinding dengan rasio tinggi terhadap panjang lebih besar
dari 1,0 di semua tingkat, atau sambungan kolektor yang terhubung tidak
akan mengakibatkan lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33%, dan
sistem yang dihasilkan tidak mempunyai ketidakberaturan torsi yang
berlebihan (ketidakberaturan struktur horizontal Tipe 1b).

89
 Analisis Struktur
Struktur dimode lkan dan dianalisis dengan program komputer ETABS.

- Taraf Penjepitan lateral


Bangunan didesain dengan penjepitan lateral pada elevasi Lantai Ground
Floor. Analisis menggunakan prosedur analisis dua tahap sehingga mode
l struktur atas dan struktur Basement dipisah.

Penggunaan analisis dua tahap ini diijinkan asalkan struktur atas adalah
sistem struktur yang lebih fleksibel bila dibandingkan dengan sistem
struktur Basement yang lebih kaku yang mana harus memenuhi ketentuan
desain sebagai berikut :

1. Kekakuan bagian bawah harus paling sedikit 10 kali kekakuan


bagian atas;
2. Perioda struktur keseluruhan tidak boleh lebih besar dari 1,1 kali
perioda bagian atas yang dianggap sebagai struktur terpisah yang
ditumpu pada peralihan antara bagian atas ke bagian bawah;
3. Bagian atas yang fleksibel harus didesain sebagai struktur terpisah
menggunakan nilai R dan ρ yang sesuai;
4. Bagian bawah yang kaku harus didesain sebagai struktur terpisah
menggunakan nilai R dan ρ yang sesuai. Reaksi dari bagian atas harus
ditentukan dari analisis bagian atas yang diperbesar dengan rasio R /ρ
bagian atas terhadap R /ρ bagian bawah. Rasio ini tidak boleh kurang dari
1,5 (berdasarkan konsensus TABG-SG DKI);
Bagian atas dianalisis dengan prosedur ragam spectrum respons dan
bagian bawah dianalisis dengan prosedur gaya lateral ekivalen.

- Pengaruh Retakan Akibat Gempa (I eff) Untuk Evaluasi Drift


dan Penulangan Struktur
Dalam perencanaan struktur gedung terhadap Pembebanan Gempa,
pengaruh retakan beton harus diperhitungkan ketika mengevaluasi inter-
story drift dan melakukan penulangan struktur. Untuk itu, momen inersia
penampang utuh harus direduksi dengan suatu faktor sebagai berikut :

90
Faktor reduksi momen inersia untuk kolom = 0.7.

Faktor reduksi momen inersia untuk balok kotak (tidak berpelat) = 0.35

Faktor reduksi momen inersia untuk balok T (di bagian interior) = 2 x 0.35
= 0.7.

Faktor reduksi momen inersia untuk balok L (di bagian exterior) = 1.5 x
0.35 = 0.525.

Faktor reduksi momen inersia untuk pelat = 0.25.

- Pengaruh P-Delta
Pengaruh P-Delta tidak disyaratkan untuk diperhitungkan
bila koefisien stabilitas () ≤ 0.10.

Keterangan :

PX = beban desain vertikal total pada dan di atas tingkat x (kN)


dengan faktor beban = 1.0

∆ = simpangan antara lantai tingkat desain (mm)

IE = faktor keutamaan gempa

VX = gaya geser seismik yang bekerja antara tingkat x dan x-1 (kN)

hSX = tinggi tingkat di bawah tingkat x (mm)

CD = faktor pembesaran defleksi

Koefisien stabilitas () harus tidak melebihi max yang ditentukan sebagai
berikut :

max = 0.5/(.CD) ≤ 0.25

91
dimana  adalah rasio kebutuhan geser terhadap kapasitas geseruntuk
tingkat antara x dan x-1. Rasio ini diijinkan secara konservatif diambil
sebesar 1.0

Pada struktur ini, analisis struktur langsung memperhitungkan pengaruh


P-Delta. Namun demikian, Koefisien Stabilitas  tetap harus dicek agar
tidak melebihi max.

- Squential Loading
Untuk memperoleh differential elastic shortening aktual dari elemen-
elemen vertikal struktur, maka analisis struktur akan dilakukan dengan
mensimulasikan squential loading untuk self weight elemen-elemen
struktur (DL akibat self weight saja).

Sequential loading agar dilakukan untuk setiap lantai. Dalam hal waktu
komputasi akan terlalu lama maka dapat dipertimbangkan untuk
dilaksanakannya setiap 2 – 4 lantai.

 Penulangan Struktur Beton


Penulangan Struktur harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam
SNI-03-2847-2013 - Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung.

Penulangan Core Wall dan Spandrel harus memenuhi SNI-03-2847-2013


Pasal 21.9 tentang Dinding Struktural Beton Khusus dan Balok Perangkai
Khusus. Untuk international codenya yang setara dapat mengacu kepada
ACI M – 318 – 11 Pasal 21.9 tentang Special Reinforced Concrete
Structural Walls and Coupling Beams.

Lebar Boundary Zone untuk concrete structural wall ditentukan langsung


oleh program komputer ETABS, dimana program komputer ETABS sudah
menentukan lebar Boundary Zone tersebut secara konservatif, dengan
mengambil concrete compressive strain beton sebesar 0.003. Boundary
Zone yang ditentukan oleh ETABS sudah memenuhi SNI-03-2847-2013

92
Pasal 21.9.6 tentang Komponen Batas untuk Dinding Struktural Beton
Khusus. Untuk international codenya yang setara sudah mengacu kepada
ACI M – 318 – 11 Pasal 21.9.6 tentang Boundary Elements of Special
Reinforced Concrete Structural Walls.

Penulangan Balok dan Kolom harus memenuhi SNI-2847-2013 Pasal 21.3


tentang Ketentuan-ketentuan untuk Sistem Rangka Pemikul Momen
Menengah. Untuk international codenya yang setara dapat mengacu
kepada ACI 318M – 11 Pasal 21.3 tentang Requirements for Intermediate
Moment Frames.

 Persyaratan Defleksi Vertikal Dan Lateral


1) Persyaratan Defleksi Vertikal

Dalam segala hal, tebal pelat lantai beton bertulang tidak boleh kurang
dari L/35 dan atau 120 mm, dimana L adalah bentang terpendek, kecuali
sudah melalui analisis dengan program SAFE dengan memperhatikan
lendutan jangka pendek dan jangka panjang.

Untuk memastikan defleksi vertikal dari balok agar memenuhi persyaratan


maka tinggi balok harus berada dalam kisaran minimal 1/12 – 1/14
bentang.

2) Persyaratan Defleksi Lateral Antar Tingkat

Simpangan antar tingkat desain (∆i) dihitung berdasarkan persamaan

berikut :

Keterangan :

∆i = simpangan antara tingkat (mm)

ei = simpangan elastis akibat gaya gempa desain tingkat i (mm)

ei-1 = simpangan elastis akibat gaya gempa desain tingkat i-1 (mm)

IE = faktor keutamaan gempa

93
CD = faktor pembesaran defleksi

Penentuan simpangan elastis akibat gaya gempa desain tingkat ( e)

diijinkan menggunakan gaya desain seismik berdasarkan ”periode


fundamental struktur” yang dihitung tanpa batasan atas (CuxTa), sesuai
dengan SNI 1726-2012 - Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Bangunan Gedung dan non Gedung, pasal 7.8.2. Simpangan antar
tingkat desain (∆i) tersebut tidak boleh melebihi simpangan antar tingkat
ijin (∆a)seperti didapatkan dari tabel berikut :

Tabel 3.12 – Simpangan antar tingkat ijin (∆a)

Kategori Resiko
Struktur
I atau II III IV

Struktur, selain dari


struktur dinding geser
batubata, 4 tingkat atau
kurang dengan dinding
interior, partisi, langit-
0.025 hSX 0.020 hSX 0.015 hSX
langit dan sistem dinding
eksterior yang telah
didesain untuk
mengakomodasi
simpangan antar tingkat.

Struktur dinding geser


0.010 hSX 0.010 hSX 0.010 hSX
kantilever batubata

Struktur dinding geser


0.007 hSX 0.007 hSX 0.007 hSX
batubata lainnya

Semua struktur lainnya 0.020 hSX 0.015 hSX 0.010 hSX

hSX = tinggi tingkat di bawah tingkat x (mm)

94
Sistem Struktur Gedung Science Techno Park ITB adalah Sistem Ganda
kombinasi dinding geser beton bertulang khusus dengan rangka balok
kolom pemikul momen menengah sehingga berdasarkan tabel tersebut di
atas masuk dalam tipe : semua struktur lainnya, dan karena termasuk
dalam kategori resiko II, sesuai penetapan dalam butir 6.4.a Kriteria
Desain ini, sehingga simpangan lateral antar tingkat tidak boleh melebihi
0.020 hSX.

dimana :

∆i = simpangan antara tingkat (mm)

∆a = simpangan antara tingkat ijin (mm)

 = faktor redundansi

 Diafragma
Persyaratan desain diafragma dan gaya desain diafragma ditentukan
dengan mengikuti SNI 1726-2012 pasal 7.10 dan dokumen “Seismic
design of cast-in-place concrete diaphragms, chords, and collectors: a
guide for practicing engineers,” NEHRP Seismic Design Technical Brief
No. 3, dan SNI 2847-2013 pasal 21.11.

Desain difragma harus memperhitungkan gaya lateral seismik, gaya


desain diafragma, dan semua gaya transfer yang diperlukan pada saat
respon bangunan terhadap gempa.

Komponen-komponen diafragma yang didesain terhadap gaya desain


diafragma meliputi hal-hal berikut :

1. Pelat diafragma.
2. Kord : Komponen tekan dan tarik (gaya kopel) yang terjadi pada tepi pelat
diafragma untuk menahan gaya momen in-plane akibat beban lateral
inersia pelat. (Gambar 3.18).
3. Kolektor : Komponen tekan dan tarik yang berfungsi menyalurkan gaya
tersebut ke elemen vertikal. (Gambar 3.19).

95
4. Sambungan ke elemen vertikal. (Gambar 3.20).

Gambar 3.16. Diagram Skematik Komponen Kord

Gambar 3.17. Diagram Skematik Komponen Kolektor

Gambar 3.18. Sambungan Kolektor ke Dinding Geser

96
Pengecekan Gaya Diafragma ditentukan melalui load path dimana gaya
lateral disalurkan dari dinding geser ke elemen vertikal sistem portal
penahan gempa melalui elemen kolektor dan diafragma pelat. Skema
penentuan elemen kolektor dan elemen kord perlu ditentukan sejak awal
perencanaan sistem struktur. Untuk melakukan analisis diafragma pada
pemodelan ETABS harus menggunakan diafragma Semi Rigid

Besarnya gaya diafragma ditentukan pada SNI 1726-2012 pasal 7.10.1.1

dimana : Fpx = gaya desain diafragma

Fi = gaya desain yang diterapkan pada lantai i

Wi = tributary berat sampai lantai i

Wpx = tributary berat sampai diafragma di lantai x

Gaya diafragma tersebut tidak boleh kurang dari :

𝐹𝑝𝑥 𝑚𝑖𝑛 = 0.2 𝑆𝐷𝑆 𝐼𝑒 𝑊𝑝𝑥

dan tidak boleh melebihi :

𝐹𝑝𝑥 𝑚𝑎𝑥 = 0.4 𝑆𝐷𝑆 𝐼𝑒 𝑊𝑝𝑥

 Diafragma Pelat
Sesuai dengan SNI 2847-2013 pasal 21.11.7.5. tegangan tekan pada
pelat perlu dicek apakah melebihi 0.2 fc’ pada sebarang penampang,
apabila tegangan tersebut melebihi 0.2 fc’ maka pelat perlu diberi tulangan
transversal sesuai dengan SNI 2847-2013 pasal 21.9.6.4.(c) sepanjang
elemen dan diijinkan dihentikan apabila tegangan tekan sudah dibawah
0.15 fc’.

97
Apabila dalam pengecekan tegangan tekan digunakan gaya diafragma
dengan faktor kuat lebih (Ωo) maka batasan 0.2 fc’ ditingkatkan menjadi
0.5 fc’, dan batasan 0.15 fc’ ditingkatkan menjadi 0.4 fc’.

Selain itu diafragma pelat harus mampu menahan shear friksi yang terjadi
pada sebelah samping corewall maupun kolektor.

Kekuatan geser diafragma dihitung sesuai SNI 2847-2013 pasal 21.11.9

𝑉𝑛 = 𝐴𝑐𝑣 (0.17𝜆√𝑓𝑐 ′ + 𝜌𝑡 𝑓𝑦 )

Untuk slab pracetak nilai Acv dihitung hanya dari lapisan topping yang
dicor di lapangan, dan nilai fc’ yang digunakan merupakan terkecil antara
fc’ pracetak dan fc’ topping slab.

Nilai Vn diafragma dibatasi maksimum sebesar 0.66 Acv √fc’

Kolektor dan Kord

Gaya Desain Kolektor/Kord diambil yang terbesar dari 3 cases di bawah


ini :

a. Case 1 (Fx. Ωo)


Fx adalah gaya gempa statik eqivalen arah sumbu utama. Gaya gempa
tadi dikalikan dengan faktor kuat lebih struktur (Ωo) sesuai dengan sistem
struktur yang digunakan pada tabel 9 SNI 1726-2012.

Case 1 diaplikasikan secara serentak untuk semua lantai (NEHRP). Case


1 dilakukan baik untuk gempa arah X maupun Y.

b. Case 2 (Fpx. Ωo)


Fpx merupakan gaya desain diafragma seperti dijelaskan pada diafragma
pelat, Gaya Ωo.Fpx diaplikasikan bergantian tiap satu lantai sekali dengan
dikalikan faktor kuat lebih struktur (Ωo). Untuk lantai lainnya diaplikasikan
gaya Fx sebagai gaya transfer nya.

98
c. Case 3 (Fpx min. ρ )
Fpx min adalah gaya desain diafragma minimum seperti dijelaskan pada
diafragma pelat,

Gaya Fpx min diaplikasikan bergantian tiap satu lantai sekali dengan
dikalikan faktor redundansi (ρ). Pada case 3 ini apabila struktur
mengalami ketidakberaturan maka nilai gaya desain diafragma case ini
harus ditingkatkan 1.25 kali.

Dari 3 cases di atas tidak perlu melebihi Fpx max = 0,4. 𝑆𝐷𝑆 . 𝐼𝑒 . 𝑤𝑝𝑥 .

Gambar 3.19. Distribusi Gaya Vertikal dengan Gaya Diafragma

Dari 3 cases di atas kemudian diplot menjadi satu grafik distribusi gaya
vertikal untuk dibandingkan, sehingga terlihat gaya mana yang dominan
pada lantai yang ditinjau.

Elemen Kolektor dan Kord juga perlu dilakukan cek tegangan tekannya
apakah lebih besar dari 0.5 fc’ sehingga perlu diberi tulangan transversal
sesuai dengan SNI 2847-2013 pasal 21.9.6.4.(c) sepanjang elemen dan
diijinkan dihentikan apabila tegangan tekan sudah dibawah 0.4 fc’.

Kombinasi pembebanan Kolektor dan Sambungannya sesuai SNI 1726-


2012 bagian 7.4.3.2 :

(1.2 + 0.2 SDS) D + Ωo QE + L

(0.9 – 0.2 SDS) D + Ωo QE + 1.6 H

99
Nilai Ωo telah dimasukkan kedalam analisis gaya diafragma kolektor (case
1 dan 2) sehingga pada kombinasi pembebanan tidak perlu dimasukkan
lagi, untuk mencegah terdobelnya penggunaan faktor Ωo.

Dari gaya diafragma kolektor yang dominan dari 3 case di atas diperoleh
gaya dalam aksial tekan dan tarik pada masing-masing balok, kemudian
gaya aksial tersebut dikombinasikan dengan momen lentur gravitasi akibat
kombinasi untuk pembebanan Kolektor dan dicek dengan diagram
interaksi PMM dengan menggunakan tulangan terpasang balok (hasil
desain ETABS) apabila membutuhkan tulangan tambahan, maka
tambahan tulangan itu dipasang sebagai tulangan pinggang.

100