Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stunting atau disebut juga dengan “pendek” merupakan kondisi gagal

tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000

hari pertama kehidupan. Kondisi stunting pada masa balita dapat

menyebabkan gangguan perkembangan fungsi kognitif dan psikomotor serta

penurunan produktivitas ketika dewasa. (Dr. Ramayanus, et al., 2018).

Stunting sebagai masalah kurang gizi kronis yang mengakibatkan gangguan

pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek

(kerdil) dari standart usianya (Kemenkes RI, 2018). Dikatakan oleh WHO

(2010) Stunting dikondisikan dengan nilai Z-score tinggi badan menurut

umur (TB/U) standart deviasi (SD) kurang dari -2.

Global Nutrition Targets 2025 menjelaskan bahwa stunting merupakan

insiden yang terjadi secara global, diperkirakan sekitar 171 juta sampai 314

juta anak berusia dibawah lima tahun mengalami stunting dan 90 %

diantaranya berada di Negara-negara benua Afrika dan Asia. Global nutrition

report menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara diantara 117 negara,

yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting, overwight pada

balita. Millenium Challenge Account Indonesia (2015) mengemukakan bahwa

prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada Negara-negara lain di

Asia Tenggara, seperti Myanmar (35 %), Vietnam (23 %), dan Thailand (16

%).

1
2

Di Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak usia dibawah lima tahun

mengalami stunting, data ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh

UNICEF. Indonesia masuk dalam 5 besar Negara dengan jumlah anak usia

dibawah lima tahun mengalami stunting yang tinggi. Prevalansi anak balita

stunting di Indonseia berdasarkan Kemenkes (2013) mencapai angka 37,2 %

dan menduduki peringkat ke-24 dari 32 Provensi di Indonesia. Hasil

Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015 di Indonesia menunjukkan

prevalensi anak stunting usia 0-23 bulan yaitu 23,1 %.

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI (2013) terdapat 100 kabupaten

di Indonesia yang memiliki angka stunting cukup tinggi, 11 diantaranya ada di

Jawa Timur. Berdasarkan pemantauan 100 gizi (Prov. Jatim 2017) dengan

prevalensi stunting di Jawa Timur menjadi 26,7 %. Sementara hasil prevalensi

stunting balita di Bangkalan masih tinggi jika dibandingkan prevalensi di Jawa

Timur. Data Pemantauan Status Gizi (PSG) Provensi Jawa Timur tahun 2015

menunjukkan prevalensi stunting di Bangkalan adalah yang paling tinggi di

Jawa Timur, yaitu sebesar 53,2 % dengan rincian prevalensi balita sangat

pendek sebesar 27,4 % dan balita pendek 25,8 % (Dinkes Bangkalan, 2015).

Berdasarkan studi pendahuluan kepada 10 balita yang berumur 0-60 bulan

yang dilakukan di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten

Bangkalan pada bulan desember 2018 didapatkan hasil bahwa 7 balita (70%)

masuk dalam kategori stunting, dan 3 (30%) balita tidak masuk dalam kategori

stunting. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak angka kejadian stunting di

Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan.


3

Banyak faktor penyebab tingginya angka keadian stunting pada balita yang

merupakan cermin dari masalah gangguan pertumbuhan pada usia dini. faktor

anak dengan berat lahir kurang dari 3000 gram memiliki risiko menjadi

stunting 1.3 kali dibandingkan anak dengan berat lahir lebih dari atau sama

dengan 3000 gram. Ibu yang memiliki tinggi badan pendek mempunyai risiko

1.36 kali memiliki balita stunting dibandingkan dengan ibu yang memiliki

tinggi badan normal. Hal ini sejalan dengan penelitian di Cina yang

menunjukkan adanya hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian

stunting. Balita yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah lebih

banyak mengalami stunting dibandingkan balita dari keluarga dengan status

ekonomi tinggi. Secara statistik hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

terdapat hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting

pada balita. Balita yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah

1.29 kali berisiko mengalami stunting dibandingkan dengan balita dari

keluarga dengan status ekonomi tinggi. Status ekonomi keluarga memiliki

hubungan yang kuat terhadap kejadian stunting. Status ekonomi keluarga yang

lebih rendah cenderung memiliki anak stunting (Oktarina, et al., 2013).

Pola asuh ibu juga merupakan salah satu determinan stunting pada anak.

Pola asuh yang rendah berpotensi mempengaruhi peningkatan kejadian

stunting hingga 2.827 kali. Selain pola asuh, penelitian ini juga menyatakan

bahwa asupan adalah determinan stunting. Asupan protein pada umumnya

rendah, hal ini berpotensi pada peningkatan kejadian stunting hingga 1.9 kali.

Berbeda dengan asupan energy yang tidak berpeluang menyebabkan stunting

(Loya, et al,. 2017). Hasil penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa panjang


4

badan lahir yang rendah, balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif,

pendidikan ibu yang rendah, dan pengetahuan gizi ibu yang kurang juga

merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita

(Ni’mah, et al,. 2015).

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius

terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dampak buruk yang dapat

ditimbulkan oleh stunting yaitu : 1) Jangka pendek, adalah terganggunya

perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan

metabolisme dalam tubuh, 2) Dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat

ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,

menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk

munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh

darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua Kesemuanya itu akan

menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktifitas, dan daya

saing bangsa (Sandjojo, 2017)

Mengetahui secara komprehensif tentang faktor-faktor genesitas stunting

dapat memberikan konseptual informasi yang lebih akurat. Salah satu upaya

untuk mengatasi masalah stunting terhadap kejadian anak stunting pada Anak

Usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kwanyar. Menyikapi hal tersebut

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

(Kemendesa PDTT) berkomitmen penuh menekan angka stunting di Indonesia.

Ragam kegiatan yang berhubungan dengan penanganan stunting terwadahi

dalam Peraturan Menteri Desa terkait pemanfaatan dana Desa. Pendekatan

spesifik seperti memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil, pemeriksaan ibu
5

hamil minimal 4 kali serta mendapat tambah darah minimal 90 tablet selama

kehamilan, pemantauan tumbuh kembang di Posyandu menjadi indikator yang

diukur dalam kegiatan Program Generasi Sehat dan Cerdas yang berada di

bawah naungan Kementerian Desa PDTT serta lazim dijumpai sudah terbiayai

dana Desa. Di sisi lain pendekatan tidak langsung atau sensitif seperti

penyediaan air bersih, fasiltas sanitasi serta layanan kesehatan pun tercakup

lewat dana Desa. Desa diharapkan menjadi ujung tombak dalam upaya

Pemerintah Indonesia menekan angka stunting.

1.2 Identifikasi Masalah

Faktor Penyebab :
1. Berat lahir
2. Status ekonomi
keluarga
3. Tinggi badan ibu Tingginya kejadian stunting di
4. Pola asuh makan desa Morombuh Kecamatan
5. Panjang badan lahir Kwanyar yaitu sebanyak 22
6. Pemberian ASI orang sebesar 50%
eksklusif
7. Pengetahuan gizi
ibu

Gambar 1.1 Identifikasi Faktor Penyebab Masalah

1.2.1 Faktor Berat Lahir

Anak dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan

salah satu faktor yang potensial memengaruhi pertumbuhan anak. bayi

lahir dengan berat badan tidak mencapai standar normal disebabkan karena
6

ibunya ketika sebelum hamil memiliki pola makan yang tidak

mengonsumsi makanan bersumber protein hewani (Rahayu, et al., 2015).

1.2.2 Faktor Status Ekonomi Keluarga

Status ekonomi yang rendah dianggap memiliki dampak yang

signifikan terhadap kemungkinan anak menjadi kurus dan pendek.

Keluarga dengan status ekonomi baik akan dapat memeroleh pelayanan

umum yang lebih baik seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, akses

jalan, dan lainnya sehingga dapat memengaruhi status gizi anak. Selain itu,

daya beli keluarga akan semakin meningkat sehingga akses keluarga

terhadap pangan akan menjadi lebih baik (Ni’mah, et al., 2015).

1.2.3 Faktor Tinggi Badan Ibu

Tinggi badan orang tua berhubungan dengan pertumbuhan fisik

anak. Ibu yang pendek merupakan salah satu faktor yang berhubungan

dengan kejadian stunting. Hasil analisis bivariat dan multivariat

menunjukkan bahwa tinggi badan ibu merupakan faktor risiko kejadian

stunting pada balita usia 24–36 bulan. Orang tua yang pendek akibat

kondisi patologi (seperti defisiensi hormon pertumbuhan) memiliki gen

dalam kromosom yang membawa sifat pendek sehingga memperbesar

peluang anak mewarisi gen tersebut dan tumbuh menjadi stunting. Akan

tetapi, bila orang tua pendek akibat kekurangan zat gizi atau penyakit,

kemungkinan anak dapat tumbuh dengan tinggi badan normal selama anak

tersebut tidak terpapar faktor risiko yang lain (Fitriahadi, 2018).


7

1.2.4 Faktor Pola Asuh Makan

Menurut United Nation Children’s Fund (UNICEF) pola asuh

merupakan salah satu faktor tidak langsung yang berhubungan dengan

status gizi anak termasuk stunting. Salah satu hambatan utamanya adalah

pengetahuan yang tidak memadai dan praktik-praktik gizi yang tidak tepat,

seperti pemberian ASI Eklusif masih sangat kurang dan rendahnya

pemberian makanan pendamping yang sesuai (Maryati Dewi, 2016).

1.2.5 Panjang Badan Lahir

Panjang badan lahir merupakan salah satu faktor determinan dalam

keterlambatan tumbuh kembangnya. Dimana anak dengan panjang badan

lahir stunting atau pendek akan berisiko mengalami keterlambatan

pertumbuhan dan perkembangan sebesar 3,08 kali lebih tinggi

dibandingkan anak yang normal panjang badan lahirnya setelah dikontrol

oleh variabel jenis kelamin, umur anak, dan pendidikan ayah. Terlihat

bahwa anak dengan panjang badan lahir pendek dengan tumbuh kembang

yang tidak normal persentasenya lebih besar (66,7%) dibandingkan yang

panjang badan lahir normal (33,8%) (Amaliah, et al,. 2016).

1.2.6 Pemberian ASI Eksklusif

Status menyusui juga merupakan faktor risiko terhadap kejadian

stunting. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu pemicu

terjadinya stunting pada anak balita yang disebabkan oleh kejadian masa

lalu dan akan berdampak terhadap masa depan anak balita, sebaliknya

pemberian ASI yang baik oleh ibu akan membantu menjaga keseimbangan

gizi anak sehingga tercapai pertumbuhan anak yang normal. Anak balita
8

yang diberikan ASI eksklusif dan MP-ASI sesuai dengan dengan

kebutuhannya dapat mengurangi resiko tejadinya stunting. Hal ini karena

pada usia 0-6 bulan ibu balita yang memberikan ASI eksklusif yang dapat

membentuk imunitas atau kekebalan tubuh anak balita sehingga dapat

terhindar dari penyakit infeksi. Setelah itu pada usia 6 bulan anak balita

diberikan MP-ASI dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga anak

balita terpenuhi kebutuhan zat gizinya yang dapat mengurangi risiko

terjadinya stunting. (Aridiyah, et al,. 2015).

1.2.7 Pengetahuan Gizi Ibu

Tingkat pendidikan ibu turut menentukan mudah tidaknya seorang

ibu dalam menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang didapatkan.

Pendidikan diperlukan agar seseorang terutama ibu lebih tanggap terhadap

adanya masalah gizi di dalam keluarga dan diharapkan bisa mengambil

tindakan yang tepat sesegera mungkin. Penyediaan bahan dan menu

makan yang tepat untuk balita dalam upaya peningkatan status gizi akan

dapat terwujud bila ibu mempunyai tingkat pengetahuan gizi yang baik.

Ketidaktahuan mengenai informasi tentang gizi dapat menyebabkan

kurangnya mutu atau kualitas gizi makanan keluarga khususnya makanan

yang dikonsumsi balita. Salah satu penyebab gangguan gizi adalah

kurangnya pengetahuan gizi dan kemampuan seseorang menerapkan

informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat pengetahuan

gizi ibu memengaruhi sikap dan perilaku dalam memilih bahan makanan,

yang lebih lanjut akan memengaruhi keadaan gizi keluarganya (Ni’mah, et

al,. 2015).
9

1.5 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti membatasi

penelitian pada 4 Faktor yang mempengaruhi kejadian stunting (Berat

Lahir, Status Ekonomi Keluarga, Tinggi Badan Ibu, Pola Asuh Makan).

1.6 Rumusan Masalah

a. Bagaimana Gambaran Berat Badan Lahir pada anak usia 1-5 tahun di

Desa Morombuh Kecatamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan?

b. Bagaimana Gambaran Status Ekonomi Keluarga pada anak usia 1-5

tahun di Desa Morombuh Kecamtan Kwanyar Kabupaten Bangkalan?

c. Bagaimana Gambaran Tinggi Badan Ibu pada anak usia 1-5 tahun di

Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan?

d. Bagaimana Gambaran Pola Asuh Makan pada anak yang usia 1-5

tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten

Bangkalan?

e. Bagaimana gambaran kejadian stunting pada anak usia 1-5 tahun di

Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan?

f. Apakah ada Hubungan Berat badan lahir dengan kejadian Stunting

pada ana usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

g. Apakah ada Hubungan Status Ekonomi dengan kejadian Stunting

pada ana usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?
10

h. Apakah ada Hubungan Tinggi Badan Ibu dengan kejadian Stunting

pada ana usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

i. Apakah ada Hubungan Pola Asuh Makan dengan kejadian Stunting

pada ana usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

1.7 Tujuan Penelitian

1.7.1 Tujuan Umum

Untuk Mengetahui gambaran faktor berat lahir, status ekonomi,

tinggi badan ibu, dan pola asuh makan terhadap kejadian anak stunting

pada anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar,

Kabupaten Bangkalan.

1.7.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi gambaran Berat lahir pada anak Stunting usia 1-5

tahun di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten

Bangkalan.

b. Mengidentifikasi gambaran Status ekonomi keluarga pada anak

stunting usia 1-5 tahun di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar,

kabupaten Bangkalan.

c. Mengidentifikasi gambaran Tinggi badan Ibu pada anak stunting usia

1-5 tahun di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar, kabupaten

Bangkalan.
11

d. Mengidentifikasi gambaran Pola asuh makan pada anak stunting usia

1-5 tahun di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten

Bangkalan.

e. Menganalisa faktor Berat badan lahir dengan kejadian Stunting pada

anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

f. Menganalisa faktor Status ekonomi dengan kejadian Stunting pada

anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

g. Menganalisa faktor Tinggi badan ibu dengan kejadian Stunting pada

anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

h. Menganalisa faktor Pola asuh makan dengan kejadian Stunting pada

anak usia 1-5 tahun di Desa Morombuh Kecamatan Kwanyar

Kabupaten Bangkalan?

1.8 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoritis

Peneliti bertujuan untuk “Menganalisis faktor penyebab stunting

terhadap kejadian anak stunting pada anak usia 1-5 tahun “ di desa

Morombuh kecamatan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Sehingga dapat di

kembangkan penelitian tambahan dan memperdalam keilmuan dalam

menganalisis penyebab terjadinya stunting sehingga dapat


12

mengidentifikasi lebih awal serta memperkaya keilmuan sebagai referensi

untuk penelitian selanjutnya.

1.6.2 Manfaat Praktis

a. Tempat penelitian

Hasil penelitian diharapkan menambah pengetahuan dan

menambah wawasan tentang faktor penyebab stunting pada anak,

sehingga dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang bertujuan untuk

menurunkan angka kejadian stunting.

b. Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan pustaka

bagi institusi pendidikan dan memberikan informasi untuk yang

membaca mengenai faktor penyebab stunting. Khususnya pada faktor

Berat lahir, Status ekonomi keluarga, Tinggi badan ibu, dan Pola asuh.

c. Peneliti

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber

pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dalam menganalisis

situasi yang terjadi di masyarakat khususnya kejadian stunting melalui

data yang ada.


13

1.9 Penelitian Terdahulu

No Judul Penulis & Variabel Desain Hasil


penelitian tahun penelitian
penelitian

1. Faktor Risiko Zilda Faktor Metode yang Prevalensi


Stunting Pada Oktarina Risiko digunakan balita stunting
Balita (24—59 dan Trini Stunting dalam 44.1%. Faktor
Bulan) Di Sudiarti, pada Balita penelitian ini risiko stunting
Sumatera Tahun 2013 (24-59 adalah cross pada balita
Bulan) sectional (p<0.05) yaitu
tinggi badan ibu
(OR=1.36),
tingkat asupan
lemak
(OR=130),
umlah anggota
rumah tangga
(OR=1.38) dan
sumber air
minum
(OR=1.36).
Faktor dominan
yang
berhubungan
dengan keadian
stunting pada
balita adalah
umlah anggota
rumah tangga

2. Pola Asuh Risani Pola Asuh Metode yang Pola asuh


Pemberian Rambu Pemberian digunakan pemberian
Makan pada Podu Loya, Makan pada dalam makan kepada
Balita Stunting dan Balita penelitian ini balita stunting
Usia 6-12 Nuryanto,Ta Stunting adalah cross tidak sesuai
Bulan di hun 2017 sectional dengan
Kabupaten kebutuhan gizi
Sumba Tengah subyek. Praktik
Nusa pemberian ASI
Tenggara yang tidak
Timur ekslusif,
pemberian MP
– ASI yang
terlalu dini pada
subyek sebelum
6 bulan. Jenis
MP – ASI yang
tidak variatif,
frekuensi
pemberian
makan yang
tidak sesuai
dengan anjuran
DEPKES.
Rendahnya
14

pengetahuan
ibu mengenai
pola asuh
pemberian
makan pada
balita adalah
faktor
ketidaksesuaian
pemberian ASI
dan pemberian
MP – ASI
kepada subyek
penelitian.

3. Faktor Yang Khoirun Kejadin Penelitian ini Terdapat


Berhubungan Ni’mah, dan Stunting merupakan hubungan
Dengan Siti Rahayu Pada Balita penelitian antara panjang
Kejadin Nadhiroh, observasiona badan lahir
Stunting Pada Tahun 2015 l analitik balita, riwayat
Balita dengan ASI eksklusif,
desain studi pendapatan
kasus keluarga,
kontrol pendidikan ibu
dan
pengetahuan
gizi ibu
terhadap
kejadian
stunting pada
balita. Perlunya
program yang
terintegrasi dan
multisektoral
untuk
meningkatkan
pendapatan
keluarga,
pendidikan ibu,
pengetahuan
gizi ibu dan
pemberian ASI
eksklusif untuk
mengurangi
kejadian
stunting

4. Riwayat Berat Atikah Badan Lahir Pengumpula Berdasarkan


Badan Lahir Rahayu, dengan n data hasil analisis
dengan Fahrini Kejadian menggunaka multivariat,
Kejadian Yulidasari, Stunting n desain diperoleh
Stunting pada Andini pada Anak penelitian bahwa BBLR
Anak Usia Octaviana Usia Bawah potong merupakan
Bawah Dua Putri, Fauzie Dua Tahun lintang faktor risiko
Tahun Rahman, dengan yang paling
Tahun 2015 rancangan dominan
analitik berhubungan
dengan
kejadian
15

stunting

5. Hubungan Enny tinggi badan Metode Hasil penelitian


tinggi Fitriahadi, ibu dengan penelitian ibu yang
badan ibu Tahun 2018 kejadian menggunaka memiliki tinggi
dengan stunting n jenis badan pendek
kejadian pada balita penelitian dan mempunyai
stunting usia 24 -59 yang anak stunting di
pada balita bulan digunakan wilayah kerja
usia 24 -59 adalah survei Puskesmas
bulan analitik Wonosari I
dengan sebanyak
rancangan 68,4% (26)
penelitian orang
cross-
sectional

6. Pengaruh Maryati Edukasi Gizi Desain Terdapat


Edukasi Dewi1, dan terhadap penelitian perbedaan
Gizi Mimin Feeding menggunaka rerata yang
terhadap Aminah, Practice Ibu n desain bermakna pada
Feeding Tahun 2016 Balita quasi skor
Practice Ibu Stunting experiment pengetahuan
Balita dengan pre- sebelum dan
Stunting post test two setelah
Usia 6-24 group design intervensi pada
Bulan kedua
kelompok
(p=0,006;
p=0,003),
terdapat
perbedaan
rerata yang
bermakna pada
skor feeding
practice
sebelum dan
setelah
intervensi pada
kedua
kelompok
(p=0,002;
p=0,05)

7. Faktor- Farah Okky Faktor- Jenis Hasil analisis


faktor yang Aridiyah, faktor yang penelitian ini menunjukkan
Mempengar Ninna Mempengar adalah bahwa faktor
uhi Rohmawat, uhi Kejadian analitik yang
Kejadian Mury Stunting observasiona mempengaruhi
Stunting Ririanty, pada Anak l dengan terjadinya
pada Anak Tahun 2015 Balita desain cross- stunting pada
Balita di sectional anak balita yang
Wilayah berada di wilayah
Pedesaan pedesaan dan
dan perkotaan adalah
Perkotaan pendidikan ibu,
pendapatan
keluarga,
16

pengetahuan ibu
mengenai gizi,
pemberian ASI
eksklusif, umur
pemberian MP-
ASI, tingkat
kecukupan zink
dan zat besi,
riwayat penyakit
infeksi serta
faktor genetik.
Namun, untuk
status pekerjaan
ibu, jumlah
anggota keluarga,
status imunisasi,
tingkat
kecukupan
energi, dan status
BBLR tidak
mempengaruhi
terjadinya
stunting

8. Panjang Lahir Nurillah Panjang Penelitian Hasil penelitian


Pendek Amaliah , Lahir Pendek ini menunjukkan
Sebagai Salah Kencana Sebagai menggunaka bahwa jenis
Satu Faktor Sari , Indri Salah Satu n disain kelamin, umur
Determinan Yunita Faktor crossectional dan panjang
Keterlambatan Suryaputri,T Determinan badan lahir
Tubuh ahun 2016 Keterlambat berhubungan
Kembang an Tubuh bermakna
Anak Umur 6- Kembang dengan tumbuh
23 Bulan di Anak kembang anak.
Kelurahan Panjang badan
Jaticempaka, lahir merupakan
Kecamatan salah satu
Pondok Gede, determinan
Kota Bekasi pertumbuhan
dan
perkembangan
anak. Anak
yang panjang
badan lahirnya
pendek
memiliki
peluang 3 kali
lebih besar
mengalami
mengalami
stunting dan
keterlambatan
perkembangan
(OR adj=3,08 ;
CI 95% 1,03-
9,15) setelah
dikontrol oleh
variabel umur
17

anak, jenis
kelamin anak
dan tingkat
pendidikan
ayah