Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PEMBAHASAN

A. Info Wabah Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang

disebabkan oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan dikeluarkan melalui

nyamuk terutama aedes aegypti dan aedes albopictus yang ditemukan di

daerah tropis dan sub tropis diantara kepualauan di Indonesia hingga bagian

utara Australia.

Pada banyak daerah tropis dan sub tropis penyakit DBD adalah

endemic yang muncul sepanjang tahun, terutama saat musim hujan ketika

kondisi optimal untuk nyamuk berkembang biak. Biasanya sejumlah besar

orang akan terinfeksi dalam waktu yang singkat (wabah).

Keempat virus dengue menginfeksi manusia daerah afrika dan asia

tenggara sejak 100-800 tahun yang lalu. Virus dengue berkembang pesat pada

perang dunia kedua dimana penyebaran nyamuk terjadi dimana penyebaran

nyamuk terjadi secara masal bersama dengan pengiriman barang yang

berperan dalam penyebaran global DBD.

Sebelum tahun 1970, hanya 9 negara yang mengalami wabah DBD,

namun sekarang DBD menjadi penyakit endemic pada lebih dari 100 negara,

diantaranya adalah afrika, amerika, mediterania timur, asia tenggara dan

fasifik barat. Amerika, asia tenggara dan fasifik barat memiliki angka

tertinggi kasus DBD dengan jumlah kasus telah melewati 1,2 jt ditahun 2008

11
12

dan lebih dari 2,3 jt kasus ditahun 2010. Pada tahun 2013 dilaporkan terdapat

sebanyak 2,35 jt kasus di amerika dimana 37.687 kasus merupakan DBD

berat. (WHO,2014).

Saat ini bukan hanya terjadi peningkatan kasus DBD, tetapi

penyebaran diluar daerah tropis dan subtropics contohnya dieropa, transmisi

local pertama kali dilaporkan di prancis dan kroasia pada tahun 2010. Pada

tahun 2012, terjadi lebih 2000 kasus DBD pada lebih dari 10 negara di eropa.

Setidaknya 500 rb penderita DBD memerlukan rawat inap setiap tahunnya,

dimana proporsi penderita adalah anak-anak dan 2,5 % dilaporkan meninggal

dunia. (WHO, 2014)

Demam Berdara dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah

kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya

mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan luas daerah

penyebarannya semakin bertambah. Di Indonesia, demam berdarah pertama

kali ditemukan dikota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang

terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia, dengan angka kematian

(AKA) mencapai 41.3%. Sejak itu, penyakit ini menyebar luas keseluruh

Indonesia. (Kemenkes, 2010).

Pada tahun 2015 tercatat terdapat sebanyak 126.675 penderita DBD di

34 Provinsi di Indonesia, dan 1229 orang diantaranya meninggal dunia.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak

100.347 penderita DBD dan sebanyak 907 penderita meninggal dunia pada
13

tahun 2014. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan iklim dan rendahnya

kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

B. Triad Epidemiologi DBD

Berikut ini adalah Triad Epidemologi dari Kasus Penyakit Demam

Berdarah Dengue (DBD), antara lain :

1. Agent

Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang

tergolong arbovirus yang masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan

nyamuk aedes aegypti betina. Virus dengue termasuk genus flavivirus dari

keluarga flaviviridae. Virus yang berukurang kecil (50 nm) ini

mengandung RNA berantai tunggal. Virionnya mengandung nukleokapsid

berbentuk kubus yang terbungkus selubung lipoprotein. Genome virus

dengue berukurang panjang sekitar 11.000 pasang basa dan terdiri dari tiga

gen protein struktural yang mengodekan nukleokapsid atau protein inti

(core, C) satu protein terikat membran (membrane,M) satu protein

penyelubung (envelope, E) dan tujuh gen protein nonstruktural

(nonstructural, NS). Selubung glikoprotein berhubungan dengan

hemaglutinasi virus dan aktivitas netralisasi. Virus dengue membentuk

kompleks yang khas didalam genus flavivirus berdasarkan karakteristik

antigenik dan biologisnya.

Ada empat serotipe virus yang kemudian dinyatakan dengan DEN-

1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Infeksi yang terjadi dengan serotipe

manapun akan memicu imunitas seumur hidup terhadap serotipe tersebut.


14

Walaupun secara antigenik serupa, keempat serotipe tersebut cukup

bebeda di dalam menghasilkan perlindungan silang selama beberapa bulan

setelah terinfeksi salah satunya. Virus dengue dari keempat serotipe

tersebut juga dihubungkan dengan kejadian epidemi demam dengue saat

bukti yang ditemukan tentang DHF sangat sedikit atau bahkan tidak ada.

Keempat virus serotipe tersebut juga menyebabkan epidemi DHF yang

berkaitan dengan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan. Dapat

menyerang semua umur baik anak anak maupun orang dewasa. Faktor

penyebar (vektor) penyakit DBD adalah Aedes aegypti dan aedes

Albopictus. Penyakit ini termasuk termasuk dalam kelompok anthropod

borne disease karena virus dengue sebagai penyebab demam berdarah

hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Nyamuk aedes aegypti hidup di

daratan rendah beiklim tropis- subtropis.

Badan nyamuk relatif lebih kecil dibandingkan nyamuk yang

lainnya. tubuh dan tungkain ditutupi sisik dengan garis garis putih

keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis

melengkung vertikal dibagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari

nyamuk spesies ini(11). Nyamuk ini sangat menyukai tempat yang teduh

dan lembab, suka bersembunyi dibawah kerindangan pohon. Ataupun pada

pakaian yang tergantung dan bewarna gelap. Nyamuk ini bertelur pada

genangan air yang jernih yang ada dalam wadah pada air kotor ataupun air

yang langsung bersentuhan dengan tanah. Hanya nyamuk wanita yang

mengigit dan menularkan virus dengue.nyamuk aedes aegypty bersifat


15

diurnal, yaitu aktif pada pagi dan siang hari(11). Umumnya mengigit pada

waktu siang hari (09.00-10.00) atau sore hari pukul (15.00-17.00)(9).

Nyamuk ini akan bertelur tiga hari setelah menghisap darah, karena darah

merupakan sarana untuk mematangkan telurnya. Dalam waktu kurang dari

delapan hari telur tersebut sudah menetas dan berubah menjadi jentik-

jentik larva dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap menggigit.

Kemampuan terbang nyamuk mencapai radius 100-200 m.

Karakter agen biologi

a. Infeksitifitas :

Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

aegypti dan Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah

diketahui adanya serangan penyakit DBD akan mungkin ada penderita

lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar biasa bagi

penduduk disekitarnya.

Masa inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang terserang virus

dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan

gejala demam berdarah sebagai berikut:

1) Demam tinggi yang mendadak 2 – 7 hari ( 38 – 40 derajat Celsius).

2) Pada pemeriksaan uji tomiquet, tampak adanya jentik (pupura)

perdarah.

3) Adanya perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva),

mimisan (Epitaksis), buang air besar dengan kotoran (Peaces)

berupa lender bercampur darah (melena) dan lain – lainnya.


16

4) Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).

5) Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.

6) Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari 3 – 7 terjadi

penurunan trombosit dibawah 100.000/mm3 (Trombositopeni),

terjadi peningkatan nilai hematokrit diatas 20% dari nilai normal

(Hemokonsentrasi).

7) Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual,

muntah, penurunan nafsu makan (Anoreksia), sakit perut, diare,

menggigil, kejang dan sakit kepala.

8) Mengalami pendarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.

9) Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan

pegal/sakit pada persendian.

10) Munculnya bintik – bintik merah pada kulit akibat pecahnya

pembuluh darah.

11) Rasa sakit pada persendian.

Kadang-kadang gejala ringan dan dapat keliru bagi flu atau infeksi

virus lainnya. Anak-anak muda dan orang-orang yang belum pernah

mengalami infeksi sebelumnya, cenderung memiliki kasus lebih ringan

daripada anak-anak dan orang dewasa. Namun, masalah serius juga dapat

berkembang. Ini termasuk demam berdarah dengue, komplikasi langka

yang ditandai dengan demam tinggi, kerusakan pembuluh getah bening

dan darah, perdarahan dari hidung dan gusi, pembesaran hati, dan

kegagalan sistem sirkulasi. Gejala-gejala dapat berkembang menjadi


17

perdarahan masif, syok, dan kematian. Hal ini disebut dengue shock

syndrome (DSS).

Orang dengan sistem kekebalan yang lemah, serta mereka dengan

infeksi dengue kedua atau berikutnya, diyakini berisiko lebih besar untuk

mengembangkan demam berdarah dengue.

2. Host

Dalam hal ini manusia lah yang menjadi host atau target penyakit

DBD. Meskipun penyakit DBD dapat menyerang segala usia beberapa

penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih rentan tertular penyakir

yang berpontensi mematikan ini. Di Indonesia penderita penyakit DBD

terbanyak berusia 5-11 tahun. Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan

jenis kelamin penderita tetapi angka kematian lebih banyak pada anak

perempuan dibandingkan laki-laki. Anak-anak lebih rentan terkena

penyakit ini salah satunya disebabkan oleh imunitas yang relatif lebih

rendah di bandingkan orang dewasa. Manusia yang terkena gigitan

nyamuk aedes aegypti tidak selalu dapat mengakibatkan demam berdarah

dan virus dengue yang sudah masuk kedalam tubuh pun tidak selalu dapat

menimbulkan infeksi. Jika daya tahan tubuh cukup maka dengan

sendirinya virus tersebut dapat dilawan oleh tubuh.

Sebelum seseorang terkena DBD, didalam tubuhnya telah ada satu

jenis serotipe virus dengue (serangan pertama kali). Biasanya, serangan

pertama kali ini menimbulkan demam dengue. Ia akan kebal seumur hidup
18

terhadap serotipe yang menyerang pertama kali itu. Namun hanya akan

kebal maksimal 6 bulan – 5 tahun terhadap serotipe virus dengue lain.

3. Lingkungan (Environment)

Di Indonesia, penyakit DBD menjadi masalah kesehatan

masyarakat karena jumlah penderitanya tinggi dan penyebarannya yang

semakin luas, terutama di musim penghujan. Sejumlah pakar setuju bahwa

kondisi ini juga di pengaruhi oleh budaya masyarakat yang senang

menampung air untuk keperluan rumah tangga dan kebersihan dirinya. Hal

ini menjadi faktor eksternal yang memudahkan seseorang menderita DBD.

Nyamuk ini sangat senang berkembang biak di tempat penampungan air

karena tempat itu tidak terkena sinar matahari langsung. Nyamuk ini tidak

dapat hidup dan berkembang biak di daerah yang berhubungan langsung

dengan tanah.

Berikut ini tempat perkembangbiakan nyamuk, yaitu: Tempat

penampungan air untuk keperluan sehari-hari, seperti drum, tangki,

tempayan, bak mandi dan ember. Tempat penampungan air bukan untuk

keperluan sehari- hari, seperti tempat minum burung, vas bunga,

perangkap semut, dan barang-barang bekas yang dapat menampung air.

Tempat penampungan air alamiah, seperti lubang pohon, lubang batu,

pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.

Penelitaan juga menunjukkan di daerah dengan persediaan air tanpa PAM,

perkembangan nyamuk aedes aegypti lebih tinggi karena penampungan air

lebih banyak dibandingkan di daerah yang sudah tersedia air dengan


19

saluran pipa. Di daerah ini air tidak perlu ditampung lebih dahulu sehingga

nyamuk tidak sempat berkembang biak. Lingkungan memegang peranan

yang besar dalam penyebaran penyakit demam berdarah sehingga menjaga

lingkungan sekitar menjadi prioritas utama agar kasus DBD tidak terjadi

lagi.

C. Analisa Artikel DBD

Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami mengenai artikel penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD) ditinjau dari Triad Epidemiologi yaitu, :

1. Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan

oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan dikeluarkan melalui nyamuk

terutama aedes aegypti dan aedes albopictus yang ditemukan di daerah

tropis dan sub tropis.

2. Triad Epidemiologi DBD adalah penyebab penyakit infeksi (teori

epidemiologi klasik) Demam Berdarah Dengue.

3. Komponen dari Triad Epidemiologi dari penyakit DBD yaitu, :

a. Agent

Agen adalah penyebab penyakit, bisa bakteri, virus, parasit,

jamur, atau kapang yang merupakan agen yang ditemukan sebagai

penyebab penyakit infeksius.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang

disebabkan oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan dikeluarkan

melalui nyamuk terutama aedes aegypti dan aedes albopictus yang

ditemukan di daerah tropis dan sub tropis.


20

b. Host

Pejamu adalah organisme, biasanya manusia atau hewan yang

menjadi tempat persinggahan penyakit. Pejamu memberikan tempat

dan penghidupan kepada suatu patogen (mikroorganisme penyebab

penyakit) dan dia bisa saja terkena atau tidak terkena penyakit.

Tercatat Di Indonesia sebanyak 126.675 penderita DBD di 34

Provinsi pada tahun 2015, dan 1229 orang diantaranya meninggal

dunia. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya

yakni sebanyak 100.347 penderita DBD dan sebanyak 907 penderita

meninggal dunia pada tahun 2014.

Peningkatan dan penyebaran kasus DBD tersebut dapat disebabkan

oleh mobilitas penduduk yang tinggi, perkembangan wilayah perkotaan,

perubahan iklim, perubahan kepadatan dan distribusi penduduk dan

factor epidemiologi lainnya yang masih memerlukan penelitian lebih

lanjut.

c. Environment

Pada banyak daerah tropis dan sub tropis penyakit DBD adalah

endemic yang muncul sepanjang tahun, terutama saat musim hujan

ketika kondisi optimal untuk nyamuk berkembang biak. Biasanya

sejumlah besar orang akan terinfeksi dalam waktu yang singkat

(wabah).
21

Incidence Rate (IR) penyakit DBD dari tahun 1968 s.d 2015

cenderung terus meningkat, hal ini dapat terjadi karena adanya

perubahan iklim yang berpengaruh terhadap kehidupan vector.

Selain itu kami sepakat bahwa selain iklim (curah Hujan)

meningkatnya masyarakat yg terkena DBD adalah adanya factor

perilaku dan partisipasi masyarakat yang masih kurang dalam kegiatan

PSN (Pemberatasan Sarang Nyamuk).