Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Triad Epidemiologi

Epidemiologi memakai cara pandang ekologi untuk mengkaji

interaksi berbagai elemen dan faktor dalam lingkungan dan implikasi

yang berkaitan dengan suatu penyakit. Ekologi merupakan hubungan

organisme, antara satu dengan lainnya. Semua penyakit atau kondisi

tidak selalu dapat dikaitkan hanya pada satu faktor penyebab (tunggal).

Jika diperlukan lebih dari satu penyebab untuk menimbulkan satu

penyakit, hal ini disebut sebagai penyebab ganda (multiple caution).

Segitiga Epidemiologi (Triad Epidemiology) yang biasa digunakan

dalam penyakit menular merupakan dasar dan landasan untuk semua

bidang epidemilogi. Namun saat ini penyakit infeksi tidak lagi menjadi

penyebab utama kematian di negara industri sehingga diperlukan model

segitiga epdemiologi yang lebih mutakhir. Model ini mencakup semua

aspek dalam model penyakit menular, dan agar dapat dipakai bersama

penyebab penyakit, kondisi, gangguan, defek, dan kematian saat ini,

model ini harus dapat mencerminkan penyebab penyakit dan kondisi saat

ini.

Ada tiga faktor epidemilogi yang sering berkontribusi dalam

terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit saat ini, yaitu: (1).

Peran pejamu, (2). Agen, (3). Keadaan lingkungan yang dibutuhkan

4
5

penyakit untuk berkembang pesat, bertahan, dan menyebar.

Segitiga Epidemiologi

Lingkungan

Pejamu Agen

Model ini berguna untuk memperlihatkan interaksi dan

ketergantungan satu sama lainnya antara lingkungan, pejamu, agens,dan

waktu. Segitiga epidemiologi digunakan untuk menganalisis peran dan

keterkaitan setiap faktor dalam epidemiologi penyakit menular, yaitu

pengaruh, reaktivitas, dan efek yang dimiliki setiap faktor terhadap

faktor lainnya.

B. Agens (faktor penyebab)

Agen adalah penyebab penyakit, bisa bakteri, virus, parasit, jamur,

atau kapang yang merupakan agen yang ditemukan sebagai penyebab

penyakit infeksius. Pada penyakit, kondisi, ketidakmampuan, cedera,

atau situasi kematian lain, agen dapat berupa zat kimia, faktor fisik

seperti radiasi atau panas, defisiensi gizi, atau beberapa substansi lain

seperti racun ular berbisa. Satu atau beberapa agen dapat berkontribusi

pada satu penyakit.

Faktor agen juga dapat digantikan dengan faktor penyebab, yang

menyiratkan perlunya dilakukan identifikasi terhadap faktor penyebab


6

atau faktor etiologi penyakit, ketidakmampuan, cedera, dan kematian.

Pada kejadian kecelakaan faktor agen dapat berupa mekanisme

kecelakaan, kendaraan yang dipakai.

C. Host (pejamu)

Pejamu adalah organisme, biasanya manusia atau hewan yang

menjadi tempat persinggahan penyakit. Pejamu memberikan tempat dan

penghidupan kepada suatu patogen (mikroorganisme penyebab penyakit)

dan dia bisa saja terkena atau tidak terkena penyakit. Efek yang

ditimbulkan organisme penyebab penyakit terhadap tubuh juga

ditentukan oleh tingkat imunitas, susunan genetik, tingkat pajanan,

status kesehatan, dan kebugaran tubuh pejamu. Pejamu juga dapat

berupa kelompok atau populasi dan karakteristiknya. Seperti halnya

pada kecelakaan lalu lintas, yang menjadi host adalah manusia

(pengendara maupun penumpang).

D. Lingkungan (environment)

Lingkungan adalah segala sesuatu yang mengelilingi dan juga

kondisi luar manusia atau hewan yang menyebabkan atau

memungkinkan penularan penyakit. Faktor- faktor lingkungan dapat

mencakup aspek biologis, sosial, budaya, dan aspek fisik lingkungan.

Lingkungan dapat berada di dalam atau di luar pejamu (dalam

masyarakat), berada di sekitar tempat hidup organisme dan efek dari

lingkungan terhadap organisme itu. Lingkungan yang berkontribusi

dalam kecelakaan adalah lingkungan yang tidak aman seperti kondisi


7

jalan, marka dan rambu jalan. (Timmreck, 2004: 6-15).

E. Rantai Infeksi

RANTAI INFEKSI

Port of Exit Port of Entry

Reservoir Agens Susceptible Host


Orang yang Virus Dengue Pejamu Rentan
tergigit
nyamuk
aedes agypt
8

F. Artikel Kasus DBD

Situasi DBD di Indonesia masih merupakan salah satu masalah

kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya

mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan luas daerah

penyebarannya semakin bertambah. Di Indonesia, demam berdarah pertama

kali ditemukan dikota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang

terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia, dengan angka kematian

(AKA) mencapai 41.3%. Sejak itu, penyakit ini menyebar luas keseluruh

Indonesia. (Kemenkes, 2010).

Pada tahun 2015 tercatat terdapat sebanyak 126.675 penderita DBD di

34 Provinsi di Indonesia, dan 1229 orang diantaranya meninggal dunia.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak

100.347 penderita DBD dan sebanyak 907 penderita meninggal dunia pada

tahun 2014. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan iklim dan rendahnya

kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Berdasarkan informasi dari jurnal Kementerian Kesehatan RI kelompok 2

melihat dari segi Triad Epidemiologi, yaitu :

1. Agent

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan

oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan dikeluarkan melalui nyamuk

terutama aedes aegypti dan aedes albopictus yang ditemukan di daerah

tropis dan sub tropis diantara kepualauan di Indonesia hingga bagian utara

Australia.
9

2. Host (pejamu)

Host merupakan individu yang terpapar atau menjadi tempat

persinggahan penyakit. Pejamu memberikan tempat dan penghidupan

kepada suatu patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) dan dia

bisa saja terkena atau tidak terkena penyakit.

3. Environment (Lingkungan)

Pada banyak daerah tropis dan sub tropis penyakit DBD adalah endemic

yang muncul sepanjang tahun, terutama saat musim hujan ketika kondisi

optimal untuk nyamuk berkembang biak. Biasanya sejumlah besar orang

akan terinfeksi dalam waktu yang singkat (wabah).

Persebaran Kasus

DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia

selama 47 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 terjadi peningkatan jumlah

provinsi dan kabupaten/kota dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 34

provinsi dan 436(85%) kabupaten/kota pada tahun 2015. Terjadi juga

peningkatan jumlah kasus DBD dari tahun 1968 yaitu 58 kasus menjadi

126.675 kasus pada tahun 2015. Peningkatan dan penyebaran kasus

DBD tersebut dapat disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi,

perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan

kepadatan dan distribusi penduduk dan factor epidemiologi lainnya yang

masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Incidence Rate (IR) penyakit DBD dari tahun 1968 s.d 2015

cenderung terus meningkat, hal ini dapat terjadi karena adanya


10

perubahan iklim yang berpengaruh terhadap kehidupan vector. Menurut

Mc Michael (2006) perubahan iklim menyebabkan perubahan curah

hujan, suhu, kelembaban dan arah udara sehingga berpengaruh terhadap

ekosistem daratan dan lautan serta berpengaruh terhadap kesehatan.

perubahan iklim tersebut dapat mempengaruhi perkembangbiakan vector

penyakit seperti nyamuk Aedes, Malaria dan lainnya. Selain itu, factor

perilaku dan partisipasi masyarakat yang masih kurang dalam kegiatan

PSN (Pemberatasan Sarang Nyamuk), serta factor pertambahan jumlah

penduduk dan peningkatan mobilitas penduduk yang diiringi oleh

peningkatan sarana transportasi menyebabkan penyebaran virus DBD

semakin mudah dan semakin luas.

Pusat data dan Informasi Kementerian Kesehatan melakukan

analisis iklim pada kasus DBD di Bali dan Kalimantan Timur, karena

provinsi-provinsi tersebut selalu masuk dalam lima provinsi tertinggi IR

DBD lima tahun terakhir. Berdasarkan analisis iklim dan kasus DBD

tersebut bahwa iklim tidak berpengaruh dengan kasus DBD hasil

tersebut lebih dipengaruhi oleh factor lainnya misalnya kebersihan

lingkungan, oleh karena itu diperlukan analisis lebih lanjut terhadap

factor-faktor lainnya yang mempengaruhi kejadian DBD. Selain itu

presentase penderita laki-laki dan perempuan cenderung sama, hal ini

menggambarkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai

kemungkinan yang sama untuk terkena DBD, atau dapat dikatakan

bahwa kejadian DBD tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.