Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

I. KONSEP DASAR

A. DEFINISI
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie
Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada
anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri
sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang
tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan
beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya
dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang
disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty
(Seoparman, 1996).

B. ETIOLOGI
a. Virus dengue sejenis arbovirus.
b. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4
serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya
perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat
wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang,
bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium
diaksikolat, stabil pada suhu 70oC.
Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan
serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 413


C. PATOFISIOLOGI
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks
virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen.
Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang
berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat
sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan
menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya
faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab
terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal
pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas
dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi
, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui
endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien
mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan,
acidosis metabolic dan kematian.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 414


D. PATHWAY

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis,
hematoma.
4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan
lemah).
Manifestasi bervariasi menurut umur dan dari penderita ke penderita. Pada
bayi dan anak kecil (muda) penyakit mungkin tidak terdiferensiasi atau

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 415


ditandai oleh demam 1-5 hari, radang faring, rhinitis, dan batuk ringan.
Pada wabah yang sebagian besar terinfeksi adalah anak yang lebih tua dan
orang dewasa mempunyai tanda-tanda yang diuraikan berikut ini.
Sesudah masa inkubasi 1 – 7 hari, ada demam yang mulai mendadak,
yang dengan cepat naik sampai 39,4 - 41,1 oC, biasanya disertai dengan
nyeri frontal atau retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila
otot perut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan,
lakrimasi, fotofobia, otot-otot sekitar mata terasa pegal. Tanda-tanda
renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah). Eksantem
yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6 – 12
jam sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yang
berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh
pasien.
Ruam berikutnya mulai antara hari 3 – 6, mula – mula berbentuk makula
besar yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul
bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki,
kemudian menjalar ke seluruh tubuh.
Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang,
bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-mula cepat dan
menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapat
menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura,
ekimosis, hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang
biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan
ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah, ujung jari, telinga, hidung
teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan
darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

E. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
1. Perdarahan luas
2. Shock atau renjatan
3. Effuse pleura

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 416


4. Penurunan kesadaran

F. KLASIFIKASI
1. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket
positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan
spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari
lain tempat.
3. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan
manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan
lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita
gelisah.
4. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan
manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan
nadi tak teraba.

G. PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring
2. Pemberian makanan lunak
3. Pemberian cairan melalui infus
4. Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate
merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan ,
mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28
mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter
5. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik, anti konvulsi jika terjadi
kejang
6. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
7. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
9. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 417


Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan
segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak
tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran
sebanyak 20 – 30 ml/kg BB.
Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan
12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi
sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20
mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.
Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal
yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika
ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang
dengan penurunan Hb yang mencolok.
Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter
dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan
orang tua. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
mengancam terjadinya dehidrasi.
b. Hematokrit yang cenderung mengikat.

H. TUMBUH KEMBANG PADA ANAK USIA 6-12 TAHUN


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik
berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau
dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada
anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi
termasuk perubahan sosial dan emosi.
1. Motorik kasar
a. Loncat tali
b. Badminton
c. Memukul
d. Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara
bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
2. Motorik halus
a. Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 418


b. Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan
bermain alat musik.
3. Kognitif
a. Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
b. Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan
masalah
c. Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali
sejak awal
d. Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
4. Bahasa
a. Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
b. Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata
keterangan, kata penghubung dan kata depan
c. Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
d. Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan

I. DAMPAK HOSPITALISASI
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan
menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress
tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit
dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
1. Psikososial
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan
perubahan peran
2. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
3. Lingkungan asing
Kebiasaan sehari-hari berubah
4. Pemberian obat kimia
Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
5. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman
sebayanya

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 419


6. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap
rasa nyeri
7. Selalu ingin tahu alasan tindakan
8. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua


1. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur,
pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak
2. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan
serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit.

II. ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Data subyektif :
 Lemah.
 Panas atau demam.
 Sakit kepala.
 Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
 Nyeri ulu hati.
 Nyeri pada otot dan sendi.
 Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
 Konstipasi (sembelit).

2. Data obyektif :
 Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
 Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
 Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
 Hiperemia pada tenggorokan.
 Nyeri tekan pada epigastrik.
 Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
 Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi,
ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 420


Pada Demam Berdarah Dengue yang lebih berat
 Uji torniquet : positif
 Abdomen bisa tegang
 Gajala perdarahan pada hari ketiga atau kelima berupa : ptekie,
purpura, ekimosis, hematemesis, melena, epistaksis.
 Produksi urine menurun, kurang dari 30 ml/jam

Gejala-gejala syok / renjatan Dengue pada hari ketiga dan ketujuh


 Nadi cepat sekali
 Kulit lembab dan dingin
 Akral dingi
 Pernafasan dangkal
 Tekanan darah menurun
 Gelisah
 Sianosis perifer pada ujung hidung, jari tangan, dan jari kaki

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
1) Darah
 Hemoglobin ( Hb ) ; terjadi penurunan bila pasien mengalami
perdarahan
 Hematokrit (Ht); untuk mendeteksi terjadinya
hemokonsentrasi dimana terjadi hematokrit > 20 %
menunjukkan adanya kebocoran ( pembesaran plasma )
 Trombosit ; untuk mendeteksi adanya trombositopenia atau
penurunan kadar trombosit < 100.000 permm3.
 Lekosit ; menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga
 Ig G ; Positif
 Masa perdarahan memanjang
 Protein rendah (hipoproteinemia)
 Natrium rendah (hiponatremia)
 Klorida rendah (hipokloremia)
 SGOT / SGPT meningkat
 Ureum, pH darah bias meningkat

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 421


 Astrup; Asidosis metabolik

b. Uji Torniquet
Untuk melihat adanya bintik-bintik merah pada kulit dilengan bawah
bagian media pada sepertiga bagian proksimal. Uji torniquet ini
dinyatakan positif apabila 7,84 cm2 didapat lebih dari 20 bintik-bintik.

c. Foto Thorax
Mungkin dijumpai pleura effusion

d. USG
Ditemukan hepatomegali dan splenomegali

B. Diagnosa keperawatan, tujuan dan criteria hasil, serta rencana


tindakan keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan ; proses
penyakitnya, lingkungan yang panas, dehidrasi.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan suhu tubuh
teratasi
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh nornal (36 – 37 oC)
b. Demam tidak ada
c. Menggigil tidak ada

Rencana tindakan keperawatan :


a. Mandiri
1) Kaji saat timbulnya demam
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 3 jam
3) Ajarkan pasien dan keluarga pentingnya mempertahankan masukan
cairan yang adekuat
4) Anjurkan pasien untuk memberikan minum banyak kurang lebih
1500 – 2000 cc per hari
5) Beri kompres hangat

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 422


6) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah
mudah menyerap keringat
7) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
8) Pantau suhu lingkungan
b. Kolaborasi :
1) Berikan therapi antipiretik
2) Berikan cairan intravena

2. Resiko defisit volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan ; peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan,
muntah, demam.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi defisit
volume cairan
Kriteria hasil :
a. Tidak ada tanda presyok
b. Pasien tidak merasa haus
c. Membran mukosa lembab
d. Turgor kulit baik
e. Intake dan Output cairan seimbang
f. Keadaan umum baik
g. TTV dalam batas normal

Rencana tindakan keperawatan :


a. Mandiri
1) Monitor warna kulit, membrane mukosa, dan turgor kulit
2) Monitor TTV tiap 3 jam
3) Anjurkan pasien untuk memberikan minum banyak kurang lebih
1500 – 2000 cc per hari
4) Catat intake dan output, catat warna urin / konsentrasi
5) Monitor adanya perdarahan gusi, epistaksis, ptekie, dan equimosis
b. Kolaborasi
1) Pemberian cairan intravena sesuai program

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 423


3. Risiko Terjadinya shock hipovolemik berhubungan dengan penurunan
volume cairan, perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan
intravascular ke ekstravaskular.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan shock tidak terjadi
Kriteria hasil :
a. Tidak terjadi defisit volume cairan
b. Intake dan Output cairan seimbang
c. Keadaan umum baik
d. TTV dalam batas normal

Rencana tindakan keperawatan :


a. Mandiri
1) Kaji keadaan umum pasien
2) Observasi tanda-tanda vital setiap jam
3) Monitor tanda-tanda perdarahan
4) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda
perdarahan
5) Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk segera melapor jika ada
perdarahan
6) Anjurkan pasien untuk diberi minum banyak
7) Observasi intake dan output cairan dalam 24 jam
8) Perhatikan keluhan pasien seperti mata berkunang-kunang,
pusing, ekstrimitas dingin, sesak nafas
b. Kolaborasi :
1) Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit
2) Pemberian cairan intravena sesuai program
3) Berikan transfusi sesuai program dokter
4) Berikan oksigen bila perlu
5) Berikan obat-obatan untuk mengatasi perdarahan

4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anoreksia, mual, muntah.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 424


a. Mual dan muntah tidak ada
b. Nafsu makan meningkat
c. Makan habis 1 porsi
d. BB meningkat

Rencana tindakan :
a. Mandiri
1) Kaji kebutuhan dan kemampuan makan pasien
2) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien
3) Timbang BB ....... hari
4) Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan
5) Sajikan makanan semenarik mungkin
6) Anjurkan pasien untuk makan makanan dalam keadaan hangat
7) Anjurkan pasien untuk memberi dalam porsi kecil dan frekuensi sering
8) Anjurkan pasien untuk minum hangat sebelum dan sesudah makan
9) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur
10) Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari
b. Kolaborasi
1) Berikan therapi antimietik, antasid, suplemen vitamin
2) Ahli gizi dalam pemberian diit yang sesuai

5. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan perdarahan tidak terjadi
Kriteria hasil :
a. Tanda-tanda perdarahan tidak ada
b. TTV dalam batas normal
c. Nilai trombosit dalam batas normal

Rencana tindakan :
a. Mandiri
1) Kaji adanya perdarahan
2) Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)
3) Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 425


4) Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan
5) Anjurkan pasien untuk lebih banyak istirahat
6) Beri penjelasan pada pasien untuk segera melapor bila ada tanda
perdarahan lebih lanjut
7) Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya
b. Kolaborasi :
1) Monitor hasil darah, Trombosit
2) Pemberian therapi, pemberian cairan intra vena

6. Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, kurang motivasi


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat melakukan
aktifitas
Kriteria hasil :
a. Pasien dapat melakukan aktifitas seharai-hari
b. Pasien tidak lelah setelah beraktifitas

Rencana tindakan :
a. Mandiri :
1) Kaji kemampuan aktifitas pasien
2) Kaji penyebab tidak toleransi aktifitas
3) Ubah posisi secara teratur bila terjadi tirah baring
4) Dekatkan kebutuhan pasien dekat tempat tidur
5) Anjurkan pasien untuk beraktifitas sesuai dengan kemampuannya
6) Bantu kebutuhan pasien dan libatkan keluarga
7) Pertahankan kebersihan pasien

7. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurang informasi tentang


proses penyakit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengetahuan pasien dan
keluarga meningkat
Kriteria hasil :
a. Pasien dan Keluarga secara verbal mampu menjelaskan kembali tentang
penyakitnya

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 426


b. Pasien dan Keluarga mengatakan sudah merasa lebih jelas tentang
program perawatannya
c. Pasien dan Keluarga mengikuti anjuran atau nasehat yang diberikan

Rencana tindakan :
a. Mandiri :
1) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
2) Jelaskan penyebab penyakit dan cara penularannya
3) Berikan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk mengatakan hal
yang belum dipahaminya
4) Berikan reinforcement atas usaha dan kemampuan pasien dan
keluarga
5) Jelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 427


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN &
PENUNJANG HASIL KEPERAWATAN NAMA
Gangguan volume Setelah dilakukan Mandiri :
cairan tubuh kurang tindakan keperawatan □ Monitor warna kulit,
dari kebutuhan tubuh volume cairan tubuh membrane mukosa,
b.d: kembali normal dan turgor kulit
□ Peningkatan □ Monitor TTV tiap 3 jam
permeabilitas kapiler Kriteria hasil :
□Pasien tidak merasa
□ Anjurkan keluarga
□ Perdarahan untuk memberikan
haus
□ Muntah minum banyak kurang
□ Demam □ Membran mukosa lebih 1500 – 2000 cc
lembab per hari
Data Penunjang □ Turgor kulit baik □ Catat intake dan
□ Intake dan Output output.
Data Subyektif : cairan seimbang □ Monitor adanya
□ Pasien mengeluh haus □ Keadaan umum baik perdarahan jusi,
□ TTV dalam batas epistaksis, ptekie, dan
Data Obyektif : normal equimosis
□ Lemah
Kolaborasi :
□ Turgor kulit jelek
□ Membrane mukosa □ Pemberian cairan
intravena sesuai
kering
program
□ Urin sedikit dan pekat
□ Intake .......... cc/24 jam
Output .......... cc/24 jam
Balance ........ cc/24jam
□Laboratorium
Trombosit:...............
Hematokrit: .............
Hemoglobin: ...........

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 428


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN &
PENUNJANG HASIL KEPERAWATAN NAMA
( Risiko/Actual) Setelah dilakukan Mandiri :
Terjadinya shock tindakan keperawatan □ Kaji keadaan umum
hipovolemik b.d: shock tidak terjadi pasien
□Penurunan volume □ Observasi tanda-
cairan Kriteria hasil :
tanda vital setiap jam
□ Tidak terjadi defisit □ Monitor tanda-tanda
Data Penunjang volume cairan
perdarahan
□ Intake dan Output □ Jelaskan pada
Data Obyektif : cairan seimbang
□ Lemah keluarga tentang
□ Keadaan umum baik tanda-tanda
□ Kesadaran mennurun □ TTV dalam batas perdarahan
□ TTV normal □ Anjurkan pada
TD : .......... mmHg keluarga untuk segera
ND : .......... x/mnt melapor jika ada
RR : .......... x/mnt perdarahan
□ Sianosis □ Anjurkan pasien untuk
□ Takikardia diberi minum banyak
□ Pucat □ Observasi intake dan
□ Intake .......... cc/24 jam output cairan dalam
Output .......... cc/24 jam 24 jam
Balance ........ cc/24jam □ Perhatikan keluhan
□ Laboratorium pasien seperti mata
Trombosit:............... berkunang-kunang,
Hematokrit: ............. pusing, ekstrimitas
Hemoglobin: ........... dingin, sesak nafas

Kolaborasi :
□ Chek haemoglobin,
hematokrit, trombosit
□ Pemberian cairan
intravena sesuai
program
□ Berikan transfusi
sesuai program dokter
□ Berikan oksigen bila
perlu
□ Berikan obat-obatan
untuk mengatasi
perdarahan

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 429


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN KEPERAWATAN &
PENUNJANG HASIL NAMA
Peningkatan suhu Setelah dilakukan Mandiri :
tubuh tindakan keperawatan □ Kaji saat timbulnya
(Hipertermia) b.d : Peningkatan suhu tubuh demam
□ Proses penyakitnya teratasi
□ Observasi tanda-tanda
□ Lingkungan yang Kriteria hasil :
vital tiap 3 jam
panas
□ Suhu tubuh nornal (36
□ Ajarkan keluarga
□ Dehidrasi – 37 oC)
pentingnya
mempertahankan
Data Penunjang □ Demam tidak ada masukan cairan yang
Data Subyektif : □ Menggigil tidak ada adekuat
□ Pasien mengatakan □ Anjurkan keluarga untuk
demam memberikan minum
banyak kurang lebih 1500
Data Obyektif : – 2000 cc per hari
□ Demam □ Beri kompres hangat
□ Menggigil □ Anjurkan orang tua untuk
□ Berkeringat banyak memakaikan pakaian
seperti terbuat dari katun
□ TTV yang menyerap keringat
TD : .......... mmHg
ND : .......... x/mnt □ Ganti pakaian yang telah
RR : .......... x/mnt basah oleh keringat
Suhu : ........ oC □ Pantau suhu lingkungan
Kolaborasi :
□ Berikan therapi antipiretik
□ Berikan cairan intravena

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 430


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN &
PENUNJANG HASIL KEPERAWATAN NAMA
Gangguan pemenuhan Setelah dilakukan Mandiri :
kebutuhan nutrisi; tindakan keperawatan  □ Kaji kebutuhan dan
kurang dari kebutuhan kebutuhan nutrisi kemampuan makan
tubuh b.d : terpenuhi pasien
□ Intake yang tidak □ Kaji keluhan mual, sakit
adekuat Kriteria hasil :
menelan, dan muntah
□ Anoreksia □ Mual dan muntah yang dialami pasien
tidak ada
□ Mual, muntah □ Timbang BB ....... hari
□ Nafsu makan □ Kaji cara / bagaimana
Data Penunjang meningkat
makanan dihidangkan
Data Subyektif : □ Makan habis 1 porsi □ Sajikan makanan
□ Orang tua mengatakan □ BB meningkat semenarik mungkin
anaknya mual, muntah
□ Anjurkan orang tua
□ Tidak nafsu makan untuk memberi makan
makanan dalam
Data Obyektif : keadaan hangat
 □ BB ................... Kg □ Anjurkan orang tua
□ BB 10% atau lebih, untuk memberi dalam
kurang dari ideal porsi kecil dan
□ Makan habis ....... porsi frekuensi sering
□ Muntah ........ x/hari □ Anjurkan orang tua
untuk meberi minum
□ Konjungtiva anemis hangat sebelum dan
□ Hb .............. gr% sesudah makan
□ Protein ............. g/dl □ Berikan makanan yang
□ Albumin .......... g/dl mudah ditelan seperti
bubur
□ Catat jumlah / porsi
makanan yang
dihabiskan oleh pasien
setiap hari

Kolaborasi :
□ Berikan therapi
antimietik, antasid,
suplemen vitamin
□ Ahli gizi dalam
pemberian diit yang
sesuai

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 431


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN KEPERAWATAN &
PENUNJANG HASIL NAMA
Kurang pengetahuan Setelah dilakukan Mandiri :
keluarga b/d: tindakan  □ Kaji tingkat pengetahuan
□ Kurang informasi keperawatan keluarga
Pengetahuan
tentang proses
keluarga/orang tua
□ Jelaskan penyebab
penyakit penyakit dan cara
meningkat
penularannya
Data Penunjang
Kriteria hasil : □ Berikan kesempatan
 □ Keluarga secara pada keluarga untuk
Data Subyektif :
mengatakan hal yang
 □ Keluarga ingin verbal mampu
belum dipahaminya
mengetahui program menjelaskan
perawatnnya kembali tentang □ Berikan reinforcement
penyakitnya atas usaha dan
□ Keluarga mengatakan kemampuan keluarga
sebelumnya belum □ Keluarga
pernah mendapat mengatakan sudah □ Jelaskan setiap tindakan
merasa lebih jelas keperawatan yang akan
penjelasan tentang
tentang program dilakukan
penyakit yang dialami
perawatannya
Data Obyektif : □ Keluarga
 □ Keluarga mempunyai mengikuti anjuran
persepsi yang salah atau nasehat yang
tentang penyakitnya diberikan
□ Keluarga selalu
bertanya tentang
kondisi penyakitnya

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 432


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN KEPERAWATAN &
PENUNJANG HASIL NAMA
Cemas b/d: Setelah dilakukan Mandiri :
□ Kondisi pasien yang tindakan □ Kaji rasa cemas yang
memburuk dan keperawatan Cemas dialami keluarga
berkurang/hilang
perdarahan yang □ Jalin hubungan saling
dialami pasien percaya dengan keluarga
Kriteria hasil :
Data Penunjang □ Rasa cemas / takut □ Tunjukkan sifat empati
dapat teratasi □ Beri kesempatan pada
Data Subyektif : □ Keluarga tampak keluarga untuk
 □ Keluarga mengatakan rileks
mengungkapkan
perasaannya
cemas tentang kondisi □ Keluarga dapat
anaknya beristirahat
□ Berikan penjelasan yang
akurat dan aktual
Data Obyektif : □ Gunakan komunikasi
terapeutik
□ Keluarga tampak
tegang, takut Kolaborasi :
□ Keluarga tampak □ Diskusikan dengan
gelisah Dokter tentang kondisi
dan program pengobatan
□ Keluarga tidak dapat pasien pada keluarga
beristirahat

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 433


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN DENGUE HEMORROGIC FEVER ( DHF )

Nama Pasien : ……………………. Ruang : ……………………


No. Reg / MR : …………………….. Ruang / Kamar : ……………………
PARAF
TGL DIAGNOSA KEP & DATA TUJUAN & KRITERIA TINDAKAN KEPERAWATAN &
PENUNJANG HASIL NAMA
Resiko terjadinya Setelah dilakukan Mandiri :
perdarahan b/d: tindakan □ Kaji adanya perdarahan
□ Trobositopenia keperawatan
□ Observasi tanda-tanda
perdarahan tidak
vital (S.N.RR)
Data Penunjang terjadi
□ Monitor tanda penurunan
Kriteria hasil : trombosit yang disertai
Data Subyektif :
□ Tanda-tanda gejala klinis
 □ Pasien mengatakan
sakit perut perdarahan tidak □ Antisipasi terjadinya
ada perlukaan / perdarahan
Data Obyektif : □ TTV dalam batas □ Anjurkan keluarga klien
□ Ptekie normal untuk lebih banyak
□ Nilai trombosit mengistirahatkan klien
□ Ekimosis □ Beri penjelasan untuk
dalam batas normal
□ Purpura segera melapor bila ada
□ Hematoma tanda perdarahan lebih
□ Uji tornikuet (+) lanjut
□ BAB coklat/hitam □ Jelaskan obat yang
diberikan dan manfaatnya
□ Muntah bercampur
darah
Kolaborasi :
□ Mimisan □ Monitor hasil darah,
□ Gusi berdarah Trombosit
□ Nadi kecil/tidak teraba □ Pemberian therapi
□ TTV ,pemberian cairan intra
TD : .......... mmHg vena.
ND : .......... x/mnt
RR : .......... x/mnt
Suhu : ........ oC
□ Pucat
□ Akral teraba dingin
□ Trombositopenia

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 434


STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN Page 435