Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS
RUMAH SAKIT IBNU SINA

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn.M

Umur : 37

Tanggal lahir : 5 Desember 1980

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan :-

Alamat : Jl. Sukamaju 3 No 38 c

Suku/Ras : Bugis

Status : Belum Menikah

Agama : Kristen

Nomor RM : 13-79-70

Ruangan : LT. 4 Kamar 404

Tgl. Masuk RS : 03 Mei 2018

Tgl. Keluar RS : 04 Mei 2018

1
1.2 ANAMNESIS
Keluhan utama : Kesadaran Menurun
Anamnesis terpimpin :
 Informasi mengenai keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan kesadaran menurun sejak 24 jam
yang lalu setelah terjatuh. Pasien tidak mengeluhkan sakit kepala, demam
(-), mual (-), muntah (-), kejang (-). BAK biasa BAB lancar.
 Informasi riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penyakit TB sejak 2 tahun yang lalu, tapi minum obat
tidak teratur

 Informasi riwayat penyakit dalam keluarga


Riwayat dalam keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa
dengan pasien.

 Anamnese sistematis
Nyeri kepala tidak ada , tidak ada demam, riwayat batuk tidak ada,
nyeri menelan tidak ada, sesak tidak ada, nyeri dada tidak ada, mual dan
muntah tidak ada. BAB normal, BAK lancar.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan Umum
Kesan : Sakit Berat Tekanan Darah :130/ 80 mmHg
Kesadaran : Sopor Nadi : 88 x/menit
Gizi : kurang Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7 ˚C

2
Toraks :
Paru-paru :
a. Inspeksi : Dinding thoraks simetris saat statis atau dinamis,
retraksi otot dinding dada (-)
b. Palpasi : Simetris antara kiri dan kanan
c. Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
d. Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi (+/+), wheezing (-/-)

Jantung
a. Inspeksi : Tampak iktus cordis
b. Palpasi : Teraba iktus cordis
c. Perkusi : Batas jantung – paru dalam batas normal
d. Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-)

Abdomen :
a. Inspeksi : Massa (-), Ascites (-)
b. Palpasi :Nyeri tekan regio supra pubik, tidak ada
pembesaran hepar dan lien, Massa abnormal (-)
c. Perkusi : Dalam batas normal
d. Auskultasi : Peristaltik normal

Ekstremitas
Ekstremitas atas : akar hangat +/+, edema -/-, RCT < 2 detik
Ekstremitas bawah : akral hangat +/+, edema -/-, RCT < 2 detik

3
Status Neurologik : GCS 4 = E1 M2 V1
Keadaaan umum : tampak sakit berat
Kesadaran : spoor
Rangsang meniengal

Kaku Kuduk : (+)


Tanda Kerniq : (-)
Tanda Laseque : (-)
Tanda brudzinski I : (-)
Tanda brudzinski II : (-)
Peningkatan tekanan intrakranial
Muntah : (-)
Sakit kepala : (-)
Kejang : (-)

1. Kepala : - Bentuk/Ukuran : Normocephal


- Konjungtiva : Anemis -/-
- Sklera : Ikterik -/-

2. Nervus kranialis :
N.I (Olfaktorius) : Sulit Dinilai
N.II (Optikus) : Sulit Dinilai
Ketajaman penglihatan : Sulit Dinilai
Lapangan penglihatan : Sulit Dinilai
Funduskopi : Tidak dilakukan Tidak dilakukan

N.III, IV, VI : OD OS
Celah kelopak mata
 Ptosis: : - -
 Exoftalmus : - -

4
Ptosis bola mata : - -
Pupil
Ukuran/bentuk :BundarØ 2,0 mm ,Bundar Ø 2,0 mm
 Isokor/anisokor : Isokor Isokor
 RCL/RCTL : +/+ +/+
 Refleks akomodasi : - -
Gerakan bola mata
 Parese kearah : - -
 Nistagmus : - -
N.V (Trigeminus):
Sensibilitas
 N.VI : Sulit Dinilai
 N.V2 : Sulit Dinilai
 N. V3 : Sulit Dinilai
Motorik
 Inspeksi/palpasi (istirahat/menggigit) : Sulit Dinilai
 Refleks dagu/masseter : Sulit Dinilai
 Refleks kornea : dalam batas normal

N. VII (Facialis):
Motorik
 m. Frontalis : Sulit Dinilai
 m.Orbikularis okuli : Sulit Dinilai
 m.Orbikularis oris : Sulit Dinilai
 Pengecap 2/3 lidah bagian depan : Tidak dilakukan
N.VIII (Auskultasi):
Pendengaran : Sulit Dinilai
Tes Rinne/weber : Tidak dilakukan
Fungsi vestibularis : Tidak dilakukan

5
N. IX/X (Glossopharingeus/vagus):
Posisi arkus pharinks (istirahat/AAH) : Tidak dilakukan
Reflex telan/muntah : Tidak dilakukan
Pengecap 1/3 lidah bagian belakang : Tidak dilakukan
Suara : Tidak dilakukan
Takikardi/bradikardi : Tidak dilakukan

N. XI (Accecorius):
Memalingkan kepala dengan/tanpa tahanan : Sulit Dinilai
Angkat bahu : Sulit Dinilai

N. XII (Hypoglosus):
Deviasi lidah : Sulit Dinilai
Fasciculasi :-
Atrofi :-
Tremor :-
Ataxia :-

3. Leher:
Tanda-tanda perangsangan selaput otak:
 Kaku kuduk :+
 Kernig’s sign : -/-
Kelenjar limfe : Tidak teraba
Arteri karotis :
 Palpasi : Tidak dilakukan
 Auskultasi : Bruit arteri carrotis (-)

4. Abdomen
Refleks kulit dinding perut : - -
- -
- -

6
5. Kolumna vertebralis:
Inspeksi : Tidak Dilakukan
Pergerakan : Tidak Dilakukan
Palpasi : Tidak Dilakukan
Perkusi : Tidak Dilakukan

6. Ekstremitas: Superior Inferior


Kanan Kiri Kanan Kiri
Motorik:
Tonus otot : N N
Spastik Spastik

Refleks Fisiologis Kanan Kiri

 Biceps : Sulit Diilai, Spastik


 Triceps : Sulit Diilai, Spastik
 Radioperiost : Sulit Diilai, Spastik
 APR : Sulit Diilai, Spastik
 KPR : Sulit Diilai, Spastik

Reflex Patologis Kanan Kiri

 Babinski : (-) (-)


 Oppenheim : (-) (-)
 Chaddock : (-) (-)
 Gordon : (-) (-)
 Schaefer : (-) (-)
 Hoffman-Tromner : (-) (-)
 Klonus lutut : (-) (-)
 Klonus kaki : (-) (-)

Sensorik : Sulit dinilai

7
Otonom : BAK : Perkateter
7. Gangguan koordinasi :
 Tes jari hidung : Tidak dapat dilakukan
 Tes pronasi-supinasi : Tidak dilakukan
 Tes tumit : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Tes pegang jari : Tidak dilakukan pemeriksaan

8. Gangguan Keseimbangan
 Tes Romberg : Tidak dilakukan pemeriksaan

9. Gait : Tidak dilakukan pemeriksaan

10. Pemeriksaan fungsi luhur :


 Memori : Sulit Dinilai
 Fungsi Bahasa : Sulit Dinilai
 Visuospasial : Sulit Dinilai
 Fungsi Eksekutif : Sulit Dinilai
 Fungsi Psikomotor : Sulit Dinilai
 Kalkulasi : tidak dilakukan pemeriksaan

8
1.4 KESIMPULAN PEMERIKSAAN

Pasien datang dengan keluhan kesadaran menurun sejak 24 jam yang lalu
setelah terjatuh. Pasien tidak mengeluhkan sakit kepala, demam (-), mual (-),
muntah (-), kejang (-). BAK biasa BAB lancar. Riwayat penyakit TB sejak 2
tahun yang lalu, tapi minum obat tidak teratur

Pemeriksaan fisik Status Neurologis

Keadaan umum: tampak sakit berat kesadaran : sopor

TD : 130/80 mmHg Pe↑ TIK : (+)

N : 80x/m Rangsang meningeal :Kaku Kuduk(+)

RR : 20x/m

S : 36,7 ˚C

N.Cranialis

N.I : Sulit Dinilai

N.II.III : Reflek Cahaya +/+, Pupil Isokor, diameter 2mm

N.III.IV.VI : Sulit dinilai

N.V : Refleks kornea (+)

N.VII : sulit dinilai

N.VIII : sulit dinilai

N.IX.X : Sulit dinilai

N.XI : Sulit dinilai

N.XII : sulit dinilai

9
Refleks Fisiologis Ka/Ki Refleks Patologis Ka/Ki

Biseps/Triseps Sulit Diilai, Spastik Hofman/Tromner -/-

KPR/APR Sulit Diilai, Spastik Babinski -/-

Kekuatan Motorik :
Tonus otot : N N
Spastik Spastik

1.5 DIAGNOSA

Diagnosa Fungsional : Sopor

Diagnosa Etiologik : Infeksi

Diagnosa Anatomi : Meningens

Diagnosa Kerja : DD/ - Meningitis Tuberculosa

- Meningitis Purulenta

1.6 PENATALAKSANAAN :

- rencana diagnostik :

 Pemeriksaan darah rutin ( H2TL)


 LED
 Elektrolit
 Profil lipid
 Foto thoraks
 CT- Scan kepala
- Terapi :
 O2 8-10 Ipm Via Nasal Kanul

10
 IVFD RL 20 tpm
 Citicholin 250 mg/12jam/iv
 Ranitidin 50 mg/12/iv
 Neurobion 1 amp/24 jam/drips
 Ceftriaxone1 gr/12jam/iv
 Combivent 1 amp/12 jam/ nebulisasi
 Dexamentasone1 amp/6jam/iv
 NGT-kateter

R/ konsul Gizi Klinik

1.7 HASIL PEMERIKSAAN

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

SGOT 66 U/L 10-37

SGPT 18 U/L 10-41

Ureum UV 55 mg/dL 15-40

Creatinine 1.5 mg/dL 0.5-1.2

BIL.Total 1/16 u/L 0.1-1.2

Bil. Direct 0.32 Mg/dL 0.1-0.4

GDS 67 Mg/Dl 70-140

11
PEMERIKSAAN RADIOLOGIK DAN PEMERIKSAAN LAIN-LAIN:
 Foto Thoraks Posisi PA (Tanggal 3 Mei 2018)

Foto thoraks PA

 Bercak infiltrate dikedua lapang atas


paru disertai shift trakea ke kiri
 Cor : ukuran dalam batas normal
 Sinus dan diafragma baik
 Tulang-tulang intak

Kesan :

TB lama aktif dengan atelectasis lobus atas


paru kanan

1.8 RESUME
Pasien laki-laki usia 37 tahun masuk ke Instalasi Gawat Darurat
(IGD) RS IBNU SINA pada tanggal 3 Mei 2018 dengan keluhan
kesadaran meurun sejak 24 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit
secara terjatuh. Pasien tidak mengeluhkan sakit kepala, demam (-), mual (-
), muntah (-), kejang (-). Riwayat penyakit TB sebelumnya
tetapipengobatan tidak teratur.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg.
Pada pasien juga didapatkan tonus spastik pada eksremitas bawah.. Pupil
bundar isokor ukuran diameter 2,0 mm/2,0 mm.

1.9 DIAGNOSIS KERJA


Diagnosa Fungsional : Sopor
Diagnosa Etiologik : Infeksi
Diagnosa Anatomi : Meningens

12
Diagnosa Kerja : DD/ - Meningitis Tuberculosa
- Meningitis Purulenta

1.10 PENATALAKSANAAN
1. O2 8-10 Liter/menit (nasal kanul)
2. IVFD: Ringer Lactate 20 tetes/menit
3. Pasang NGT
4. Pasang kateter urin
5. Citicholin 250 mg/12 jam/iv
6. Ranitidin 50mg/12 jam/iv
7. Neurobion 1 amp/24 jam/drips
8. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
9. Combivent 1 amp/12jam/nebu
10. Dexametason 1 amp/6jam/iv

13
1.11FOLLOW UP
Tanggal S O A P

4 - Kesadaran - TD: 130/90 mmHg Kesadaran - O2 8-10


Mei menurun - HR: 95x/menit menurun Liter/menit (nasal
2018 - RR: 40 x/mnit lateralisasi kanul)
o
- S : 36,8 C tidak jeas e.c
- IVFD: Ringer
GCS: E1M2V1 susp
Lactate 20
RM: KK:- KS:-/- meningitis TB
tetes/menit
Nn. Cranialis : Pupil bulat
- Pasang NGT
isokor 2mm/2mm
- Pasang kateter urin
RCL +/+
RCTL +/+ - Citicholin 250
Nn. cranialis lain : Normal mg/12 jam/iv
Motorik - Ranitidin 50mg/12
Pergerakan dan kekuatan sulit jam/iv
dinilai spastik - Neurobion 1
Tonus sulit dinilai,spastik amp/24 jam/drips
Refleks fisiologis sulit
- Ceftriaxone
dinilai,spastik
1gr/12jam/iv
Refleks Patologis
- Combivent 1
- -
amp/12jam/nebu
- -
- Dexametason 1
sensorik : sulit dinilai
otonom : amp/6jam/iv
BAB : Normal,
BAK: perkateter

1.12 PROGNOSIS
Qua Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Qua Ad Sanationam : Malam
Ad Fungsionam : Malam

14
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Meningitis merupakan salah satu infeksi pada susunan saraf pusat yang
mengenai selaput otak dan selaput medulla spinalis yang juga disebut sebagai
meningens. Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme
seperti bakteri, virus, jamur dan parasit. Meningitis Tuberkulosis tergolong ke
dalam meningitis yang disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium
Tuberkulosa. Bakteri tersebut menyebar ke otak dari bagian tubuh yang lain.1

2.2 Epidemiologi

Meningitis TB merupakan salah satu komplikasi TB primer. Morbiditas


dan mortalitas penyakit ini tinggi dan prognosisnya buruk. Komplikasi meningitis
TB terjadi setiap 300 TB primer yang tidak diobati. CDC melaporkan pada tahun
1990 morbiditas meningitis TB 6,2% dari TB ekstrapulmonal. Insiden meningitis
TB sebanding dengan TB primer, umumnya bergantung pada status sosio-
ekonomi, higiene masyarakat, umur, status gizi dan faktor genetik yang
menentukan respon imun seseorang. Faktor predisposisi berkembangnya infeksi
TB adalah malnutrisi, penggunaan kortikosteroid, keganasan, cedera kepala,
infeksi HIV dan diabetes melitus. Penyakit ini dapat menyerang semua umur,
anak-anak lebih sering dibanding dengan dewasa terutama pada 5 tahun pertama
kehidupan. Jarang ditemukan pada usia dibawah 6 bulan dan hampir tidak pernah
ditemukan pada usia dibawah 3 bulan.5

2.3 Anatomi Fisiologi3

Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur
syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan
yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:

15
 Pia meter : yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum
tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan
menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
 Arachnoid : Merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura
meter.
 Dura meter : Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari
jaringan ikat tebal dan kuat.

16
2.4 Etiologi8

Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti


virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.

Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas :

1. Bakteri:
 Pneumococcus
 Meningococcus
 Haemophilus influenza
 Staphylococcus
 Escherichia coli
 Salmonella
 Mycobacterium tuberculosis
2. Virus :
 Enterovirus
3. Jamur :
 Cryptococcus neoformans
 Coccidioides immitris

Pada laporan kasus meningitis tuberkulosa ini, mycobacterium tuberculosis


merupakan faktor penyebab paling utama dalam terjadinya penyakit meningitis.

2.5 Patogenesis

Meningitis TB terjadi akibat penyebaran infeksi secara hematogen ke


meningen. Dalam perjalanannya meningitis TB melalui 2 tahap. Mula-mula
terbentuk lesi di otak atau meningen akibat penyebaran basil secara hematogen
selama infeksi primer. Penyebaran secara hematogen dapat juga terjadi pada TB
kronik, tetapi keadaan ini jarang ditemukan. Selanjutnya meningitis terjadi akibat
terlepasnya basil dan antigen TB dari fokus kaseosa (lesi permulaan di otak)
akibat trauma atau proses imunologik, langsung masuk ke ruang subarakhnoid.
Meningitis TB biasanya terjadi 3–6 bulan setelah infeksi primer.5

17
Kebanyakan bakteri masuk ke cairan serebro spinal dalam bentuk
kolonisasi dari nasofaring atau secara hematogen menyebar ke pleksus koroid,
parenkim otak, atau selaput meningen. Vena-vena yang mengalami penyumbatan
dapat menyebabkan aliran retrograde transmisi dari infeksi. Kerusakan lapisan
dura dapat disebabkan oleh fraktur , paska bedah saraf, injeksi steroid secara
epidural, tindakan anestesi, adanya benda asing seperti implan koklear, VP shunt,
dll. Sering juga kolonisasi organisme pada kulit dapat menyebabkan meningitis.
Walaupun meningitis dikatakan sebagai peradangan selaput meningen, kerusakan
meningen dapat berasal dari infeksi yang dapat berakibat edema otak,
penyumbatan vena dan memblok aliran cairan serebrospinal yang dapat berakhir
dengan hidrosefalus, peningkatan intrakranial, dan herniasi6

Skema patofisiologi meningitis tuberkulosa


BTA masuk tubuh

Tersering melalui inhalasi
Jarang pada kulit, saluran cerna

Multiplikasi

Infeksi paru / focus infeksi lain

Penyebaran hematogen

Meningens

Membentuk tuberkel

BTA tidak aktif / dormain

18
Bila daya tahan tubuh menurun

Rupture tuberkel meningen

Pelepasan BTA ke ruang subarachnoid

MENINGITIS

2.6 Manifestasi Klinis

Gejala klinis meningitis TB berbeda untuk masing-masing penderita.


Faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap gejala klinis erat kaitannya
dengan perubahan patologi yang ditemukan. Tanda dan gejala klinis meningitis
TB muncul perlahan-lahan dalam waktu beberapa minggu.5

Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke


tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh
mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu
tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap
hiperekstensi. Kesadaran menurun, tanda Kernig’s dan Brudzinsky positif.8

Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta
virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang
tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita

19
merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta
penglihatan menjadi kurang jelas.8

Gejala meningitis meliputi :8

 Gejala infeksi akut


 Panas
 Nafsu makan tidak ada
 Lesu
 Gejala kenaikan tekanan intracranial
 Kesadaran menurun
 Kejang-kejang
 Gejala rangsangan meningeal
 kaku kuduk
 Kernig
 Brudzinky I dan II positif

Gejala klinis meningitis tuberkulosa dapat dibagi dalam 3 stadium :2

Stadium I : Stadium awal


 Gejala prodromal non spesifik : apatis, iritabilitas, nyeri kepala, malaise,
demam, anoreksia
Stadium II : Intermediate
 Gejala menjadi lebih jelas
 Mengantuk, kejang,
 Defisit neurologik fokal : hemiparesis, paresis saraf kranial(terutama N.III
dan N.VII, gerakan involunter
 Hidrosefalus, papil edema
Stadium III : Advanced
 Penurunan kesadaran
 Disfungsi batang otak, dekortikasi, deserebrasi

20
2.7 Diagnosis

Diagnosa pada meningitis TB dapat dilakukan dengan beberapa cara :8

1. Anamnese : ditegakkan berdasarkan gejala klinis, riwayat kontak dengan


penderita TB
2. Lumbal pungsi

Gambaran LCS pada meningitis TB :

 Warna jernih / xantokrom


 Jumlah Sel meningkat MN > PMN
 Limfositer
 Protein meningkat
 Glukosa menurun <50 % kadar glukosa darah
Pemeriksaan tambahan lainnya :
 Tes Tuberkulin
 Ziehl-Neelsen ( ZN )
 PCR ( Polymerase Chain Reaction )

2. Rontgen thorax
 TB apex paru
 TB milier
3. CT scan otak
 Penyengatan kontras ( enhancement ) di sisterna basalis
 Tuberkuloma : massa nodular, massa ring-enhanced
 Komplikasi : hidrosefalus
4. MRI
Diagnosis dapat ditegakkan secara cepat dengan PCR, ELISA dan
aglutinasi Latex. Baku emas diagnosis meningitis TB adalah menemukan M. tb

21
dalam kultur CSS. Namun pemeriksaan kultur CSS ini membutuhkan waktu yang
lama dan memberikan hasil positif hanya pada kira-kira setengah dari penderita

2.8 Penatalaksanaan8
Terapi Farmakologis yang dapat diberikan pada meningitis TB berupa :
 Rifampicin ( R )
Efek samping : Hepatotoksik
 INH ( H )
Efek samping : Hepatotoksik, defisiensi vitamin B6
 Pyrazinamid ( Z )
Efek samping : Hepatotoksik
 Streptomycin ( S )
Efek samping : Gangguan pendengaran dan vestibuler
 Ethambutol ( E )
Efek samping : Neuritis optika
Regimen : RHZE / RHZS

Nama Obat DOSIS

INH Dewasa : 10-15 mg/kgBB/hari Anak : 20 mg/kgBB/hari


+ piridoksin 50 mg/hari

Streptomisin 20 mg/kgBB/hari i.m selama 3 bulan

Etambutol 25 mg/kgBB/hari p.o selama 2 bulam pertama


Dilanjutkan 15 mg/kgBB/hari

Rifampisin Dewasa : 600 mg/hari Anak 10-20


mh/kgBB/hari
2.9 Prognosis

22
Prognosis meningitis tuberkulosa lebih baik sekiranya didiagnosa dan
diterapi seawal mungkin. Sekitar 15% penderita meningitis nonmeningococcal
akan dijumpai gejala sisanya. Secara umumnya, penderita meningitis dapat
sembuh, baik sembuh dengan cacat motorik atau mental atau meninggal
tergantung : 6

o umur penderita.
o Jenis kuman penyebab
o Berat ringan infeksi
o Lama sakit sebelum mendapat pengobatan
o Kepekaan kuman terhadap antibiotic yang diberikan
o Adanya dan penanganan penyakit.
2.10 Kesimpulan

Untuk meningitis tuberkulosa sendiri masih banyak ditemukan di


Indonesia karena morbiditas tuberkulosis masih tinggi. Meningitis tuberkulosis
terjadi sebagai akibat komplikasi penyebaran tuberkulosis primer, biasanya di
paru. Terjadinya meningitis tuberkulosa bukanlah karena terinfeksinya selaput
otak langsung oleh penyebaran hematogen, melainkan biasanya sekunder melalui
pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsung tulang belakang atau
vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga arakhnoid.

Meningitis tuberculosa adalah penyulit dari tuberkulosa yang mempunyai


morbiditas dan mortalitas yang tinggi, bila tidak diobati. Oleh karena itu penyakit
ini memerlukan diagnosa dini dan pemberian pengobatan yang cepat, tepat dan
rasional.8

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Backgroud to desease. Last updated 2006. Available from


http://www.ocbmedia.com/meningitis/background.php
2. Neurology and Neurosurgery Illustrated
3. Israr YA. Meningitis. Last Updated 2008. Available from
http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/01/meningitis.pdf
4. Ramachandran TS. Tuberculous Meningitis. Last Updated 4 December 2008.
Available from http://emedicine.medscape.com/article/1166190-overview ----
5. Nofareni. Status imunisasi bcg dan faktor lain yang mempengaruhi terjadinya
meningitis tuberkulosa. Available from
http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-nofareni.pdf
6. Koppel BS. Bacterial, Fungal,& Parasitic infections of the Nervous System in
Current Diagnosis and Treatment Neurology. USA; The McGraw-Hill
Companies. 2007. p403-08, p421-23.
7. Meningitis.Availablefromhttp://forbetterhealth.files.wordpress.com/2009/01/
meningitis.pdf
8. Pradhana D. Referat Meningitis. Last Updated 2009. Available from
http://www.docstoc.com/docs/19409600/new-meningitis-edit
9. Miller RD. lumbal puncture,5th ed. Churchill Livingstone. Philadelphia. 2000
10. Mulroy MF. Lumbal puncture, An Illustrated Procedural Guide. 2nd ed. Little,
Brownand Company. B oston 1996

24