Anda di halaman 1dari 34

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kondisi perairan Indonesia saat ini mulai banyak mengalami pencemaran

diakibatkan aktivitas kehidupan manusia yang sangat tinggi sehingga

menimbulkan berbagai dampak yang buruk bagi aktivitas pada kehidupan

manusia dan tatanan lingkungan hidupnya. Pencemaran pada perairan yang

terjadi biasanya berasal dari limbah-limbah yang memiliki toksisitas atau

kemampuan racun yang tinggi.

Logam berat merupakan salah satu limbah pencemar yang banyak dikaji

dampaknya dari proses industrialisasi. Logam berat biasanya digunakan sebagai

bahan baku maupun media penolong dalam berbagai jenis industri. Apabila logam

berat masuk keperairan laut, maka logam berat ini dapat mengurangi kualitas

perairan dan menimbulkan pencemaran. Selain menurunkan kualitas perairan,

logam berat yang terendapkan bersama dengan sedimen juga dapat menyebabkan

transfer bahan kimia beracun dari sedimen ke organisme (Permanawati et al.,

2013).

Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar yang berbahaya

karena bersifat toksik jika dalam jumlah besar dan dapat mempengaruhi berbagai

aspek dalam perairan baik aspek ekologis maupun aspek biologi. Logam-logam

yang mencemari sungai banyak jenisnya, diantaranya yang cukup banyak adalah

kadmium (Cd) dan logam timbal (Pb) dan logam seng (Zn) (Suhendrayatna,

2001).

Ikan merupakan salah satu biota perairan yang sering dipakai sebagai

bioindikator logam berat di perairan, karena ikan termasuk ke dalam trofik level

tertinggi dan sumber protein manusia. Apabila manusia memakan ikan yang
2

sudah tercemar logam berat dapat mengakibatkan logam berat terakumulasi dalam

tubuh manusia. Menurut Cahyani (2016), logam berat yang telah melebihi

ambang batas yang ditetapkan dapat membahayakan kehidupan manusia.

Ikan kakap merah merupakan salah satu potensi ekspor perikanan yaitu

ikan kakap merah adalah jenis ikan dengan kandungan protein yang tinggi. Ikan

kakap merah mengandung protein yang tinggi 29 g/100 g daging (Nursyam,2011).

Oleh sebab itu, apabila ikan kakap merah tercemar oleh kandungan logam berat

makadapat menyebabkan terjadinya penolakan eskpor karena logam berat

berbahaya bila dikonsumsi masyarakat luar maupuni masyarakat lokal.

Perlunya dilakukan praktek kerja lapang mengenai suatu penetapan

standar mutu dan hal penting yang berkaitan dengan pengujian logam berat yang

tetap dalam batas aman yang terkandung dalam tubuh ikan agar aman

dikonsumsi yang dilakukan dipusat produksi inspeksi dan sertifikasi hasil

perikanan.

1.2 Tujuan Praktek Magang

Praktek magang ini bertujuan untuk mengetahui tahapan dan kandungan

logam berat timbal (Pb) dan cadmium (Cd) pada ikan kakap merah (Lutjanus sp.)

yang diuji di UPT Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan DKI

Jakarta sehingga diketahui ikan tersebut bebas dari bahan pencemar dan berada

pada batas aman dan layak dikonsumsi bagi masyarakat lokal maupun

Internasional.
3

1.3 Sasaran Kompetisi

Sasaran kompetisi yang dilakukan pada praktek magang ini adalah

menambah wawasan dan pengetahuan untuk mengetahui pengujian kandungan

logam berat Pb dan Cd pada ikan kakap merah (Lutjanus sp.) di UPT Pusat

Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan Dinas Kelautan, Pertanian dan

Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta. Dengan mengetahui mengenai pengujian

logam berat pada ikan penulis berharap konsumen lebih jeli dalam memilih

sumber bahan baku ikan yang aman dan juga terhadap pemerintah maupun

industri perikanan untuk lebih memperhatikan kondisi ikan pemerintah lebih

memperhatikan dengan baik agar menghasilkan output perikanan yang baik pula.
4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Kakap Merah

Nama kakap diberikan kepada kelompok ikan yang termasuk tiga genus

yaitu Lutjanus, Latidae dan Labotidae. Jenis-jenis yang termasuk Lutjanidae

biasanya disebut kakap merah, dan jenis lainnya yaitu Lates calcarifer yang

termasuk suku Latidae umumnya disebut kakap putih dan Lobotos surinamensis

yang termasuk suku Lobotidae disebut kakap batu (Hutomo et al., 1986).

Ikan kakap adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang mempunyai potensi

cukup besar untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang cukup

tinggi. Di Indonesia terdapat beberapa jenis ikan kakap, diantaranya adalah ikan

kakap merah (red snapper, Lutjanus sanguine) dan ikan kakap kehijauan gelap

yang dikenal dengan sebutan ikan kakap saja (giant seaperch atau seabass, Lates

calcarifer). Kakap merah berasal dari suku Lutjanidae, sedangkan ikan kakap dari

suku Centropomidae (Saanin, 1984).

Gambar 1. Ikan kakap merah (Lutjanus sp.)


Sumber : (Myers, et al,. 2018)

Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) adalah jenis ikan demersal dari

famili Lutjanidae yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Kakap merah

merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub sektor perikanan yang

permintaannya terus meningkat. Daerah penyebaran kakap merah di Laut Jawa

ditemukan di perairan Bawean, Kepulauan Karimunjawa, Selat Sunda, selatan


5

Jawa, selatan/barat Kalimantan, timur Kalimantan, perairan Sulawesi, Kepulauan

Natuna, Kepulauan Lingga dan Kepulauan Riau lainnya (Marzuki & Djamal,

1992 dalam Wahyuningsih, 2013).

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan kakap merah adalah sebagai

berikut : kingdom : animalia, filum : chordata, sub filum : vertebrata, kelas :

pisces, subkelas : teleostei, ordo: percomorphi subordo: percoidea, famili :

lutjanidae, genus: lutjanus, spesies : lutjanus sp.

Spesies ini dapat dibedakan dari genus Lutjanus lainnya dengan ciri

khusus yaitu badan berwarna merah menyala atau merah kecoklatan, gigi vomer

membentuk huruf V terbalik sirip ekor melebar dan membentuk cagak yang

dalam (deeply forked), lempengan sirip ekor bagian atas membulat dan lebih besar

daripada bagian bawahnya. Ikan tuna biasa menghuni perairan berbatu, berkarang

dan sedikit berlumpur (Badrudin et al., 2008; Allen, 1985 dalam Prihatiningsih,

2017).

Sebagai ikan demersal, ikan ini memiliki aktifitas gerak yang relatif

rendah, membentuk gerombol yang relatif tidak terlalu besar, migrasi tidak terlalu

jauh, dan mempunyai daur hidup yang stabil dikarenakan habitat di dasar laut

relatif stabil. Sifat yang demikian menyebabkan ikan ini rawan terhadap berbagai

pengaruh, baik lingkungan maupun eksploitasi (Sriati, 2011).

Ikan kakap merah mempunyai badan yang memanjang, dapat mencapai

panjang 200 cm, umumnya 25-100 cm, gepeng, batang sirip ekor lebar, mulut

lebar, sedikit serong dan gigi-gigi halus. Bagian bawah pra-penutup insang

berduri-duri kuat. Bagian atas penutup insang terdapat cuping bergerigi. Ikan

kakap merah termasuk ikan buas, makanannya ikan-ikan kecil dan crustacea.

Terdapat di perairan pantai, muara-muara sungai, teluk-teluk dan air payau.

Daerah penyebaran ikan kakap yaitu pantai utara Jawa, sepanjang pantai
6

Sumatera, bagian timur Kalimantan, Sulawesi Selatan, Arafuru Utara, Teluk

Benggala, pantai India dan Teluk Siam (Ditjen Perikanan, 1990).

2.2 Pengaruh Logam Berat terhadap Komposisi Kimia Ikan Kakap


Merah

Menurut Nursyam (2011), ikan kakap merah memiliki kandungan gizi

yang cukup lengkap. Komposisi gizi ikan kakap merah per 100 gr bahan adalah

77 gr, kalori 92 gr, protein 29 gr, lemak 0,7 gr, kalsium 20 mg, fosfor 200 mg dan

besi 1 mg.

Didalam tubuh biota laut, logam Cd berikatan dengan senyawa protein,

sehinggadikhawatirkan kandungan nilai gizi terutama proteinnya akan ikut

mengalami penurunan (Adriyani dan Mahmudiono, 2009).

2.3 Karakteristik Logam Berat

Logam berat merupakan elemen yang tidak dapat terurai (persisten) dan

dapat terakumulasi melalui rantai makanan (bioakumulasi), dengan efek jangka

panjang yang merugikan pada makhluk hidup (Indirawati, 2017). Logam berat

adalah unsur logam yang mempunyai densitas Iebih besar dari 5 gr/cm3.

Keberadaan logam berat dalam air laut dapat berasal dari aktivitas manusia di

daratan yang kemudian masuk ke laut lewat sungai, dapat pula berasal dari

atmosfer yang jatuh ke laut, serta dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi

(Hartati et al., 1993).

Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar toksik yang dapat

mengakibatkan kematian (lethal) maupun bukan kematian (sub-lethal) seperti

terganggunya pertumbuhan, tingkah laku dan karakteristik morfologi berbagai

organisme akuatik. Logam berat mempunyai sifat non-degradable. Selain itu,

logam berat akan terakumulasi di dalam lingkungan seperti kolom air dan
7

sedimen serta terabsorpsi ke dalam biota laut (Effendi, 2003).

Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami

pengendapan, kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut.

Logam berat memiliki sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap

di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam

sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air. Mengendapnya logam berat

bersama dengan padatan tersuspensi akan mempengaruhi kualitas sedimen di

dasar perairan dan juga perairan sekitarnya. Pencemaran yang dihasilkan dari

logam berat sangat berbahaya karena bersifat toksik, logam berat juga akan

terakumulasi dalam sedimen dan biota melalui proses gravitasi (Fitriyah, 2013).

Kehadiran logam berat pada konsentrasi yang tinggi di kolom peraian akan

membahayakan organisme perairan laut mulai dari menghambat proses

metabolisme hingga menyebabkan kematian biota (Vangronsveld and Clijsters,

1994).

Keberadaan logam berat di perairan laut dapat berasal dari berbagai

sumber, antara lain dari kegiatan pertambangan, rumah tangga, limbah pertanian

da buangan industri. Dari keempat jenis limbah tersebut, limbah yang umumnya

paling banyak mengandung logam berat adalah limbah industri. Hal ini

disebabkan senyawa logam berat sering digunakan dalam industri, baik sebagai

bahan baku, bahan tambahan maupun katalis. Peningkatan kadar logam berat pada

air laut akan mengakibatkan logam berat yang semula dibutuhkan untuk berbagai

proses metabolisme dapat berubah menjadi racun bagi organisme laut. Selain

bersifat racun, logam berat juga akan terakumulasi dalam sedimen dan biota

melalui proses gravitasi. Logam-logam berat yang masuk ke dalam lingkungan

perairan laut akan terlarut dalam air dan akan terakumulasi dalam sedimen

(Dahuri, 2003).
8

Logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun media

penolong dalam berbagai jenis industri. Masuknya limbah ini ke perairan laut

dapat mengurangi kualitas perairan dan menimbulkan pencemaran. Selain

mengubah kualitas perairan, logam berat yang terendapkan bersama dengan

sedimen juga dapat menyebabkan transfer bahan kimia beracun dari sedimen ke

organisme (Zuraida et al., 2010).

Logam berat secara umum masuk ke lingkungan dengan dua cara, yakni

secara natural dan antropogenik (terlepas ke lingkungan dengan campur tangan

manusia atau tidak alami). Kondisi alami terlepasnya logam berat di lingkungan

akibat adanya pelapukan sedimen akibat cuaca, erosi, serta aktivitas vulkanik.

Sedangkan, terlepasnya logam berat secara antropogenik akibat aktivitas manusia

diantaranya electroplating/pelapisan logam, pertambangan, peleburan,penggunaan

pestisida, pupuk penyubur tanah, dan lain sebagainya (Ali et al., 2013).

Logam berat dapat masuk dalam jaringan tubuh organisme air secara

langsung dan melalui rantai makanan. Absorbsi secara langsung dapat melalui

insang dan permukaan tubuh (kulit). Absorbsi logam berat pada ikan melalui

rantai makanan terjadi pada saat ikan memakan phytoplankton dan zooplankton

yang terkontaminasi logam (Hartoyo & Mahdiana, 2007).

2.4 Logam Berat Pb (Plumbum)

Timbal atau sering disebut juga timah hitam dalam bahasa latin dikenal

dengan nama plumbum, disingkat dengan Pb. Timbal pada tabel periodik terdapat

pada golongan XIV P, periode VI, memiliki nomor atom 82 dengan berat atom

207,20 g/mol (Cotton dan Wilkinson, 1989).

Timbal atau Plumbum (Pb) termasuk logam berat, melimpah di alam dan

mudah terdistribusi ke bagian lain lingkungan. Timbal bersifat resisten, korosif,

padat dan memiliki titik lebur rendah. Timbal digunakan masyarakat untuk
9

melapisi pipa besi, pengelasan, dan batu baterai. Bila terpapar timbal, terutama

udara dan air, akan membentuk lapisan timbal karbonat, oksida dan sulfat, maka

akan terserap oleh media lingkungan (Sukar dan Suharjo, 2015). Kelarutan timbal

dalam air cukup rendah sehingga kadarnya relatif sedikit. Bahan bakar yang

mengandung timbal (lead gasoline) memberikan kontribusi yang berarti bagi

keberadaan timbal di perairan. Kadar dan toksisitas timbal di perairan dipengaruhi

oleh kesadahan, pH, alkalinitas, dan kadar oksigen (Effendi, 2003).

Logam berat seperti timbal (Pb) yang terdapat di dalam perairan habitat

ikan dapat menyebabkan akumulasi pada tubuh ikan. Masuknya logam berat

secara terus-menerus ke dalam perairan akan meningkatkan konsentrasinya,

sehingga dapat menyebabkan bioakumulasi pada biota perairan, bahkan dapat

membunuh ikan-ikan apabila logam berat timbal dalam air mencapai konsentrasi

188 mg/l (Palar, 2004).

Pada hewan dan manusia timbal dapat masuk ke dalam tubuh melalui

makanan dan minuman yang dikonsumsi serta melalui pernapasan dan penetrasi

pada kulit. Di dalam tubuh manusia, timbal dapat menghambat aktifitas enzim

yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin yang dapat menyebabkan penyakit

anemia. Gejala yang diakibatkan dari keracunan logam timbal adalah kurangnya

nafsu makan, kejang, lesu dan lemah, muntah serta pusing-pusing. Timbal dapat

juga menyerang susunan saraf, saluran pencernaan serta depresi (Darmono, 1995).

2.5 Logam Berat Cd (Cadmium)

Kadmium (Cd) memiliki karakteristik berwarna putih keperakan seperti

logam aluminium, tahan panas, tahan terhadap korosi. Kadmium (Cd) digunakan

untuk elektrolisis, bahan pigmen untuk industri cat, enamel, dan plastik. Kadmium

(Cd) merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini

beresiko tinggi terhadap pembuluh darah, Kadmium berpengaruh terhadap


10

manusia (Palar, 2004). Kadmium adalah logam berwarna putih perak, lunak,

mengkilap, tidak larut dalam basa, mudah bereaksi, serta menghasilkan Kadmium

Oksida bila dipanaskan. Kadmium (Cd) umumnya terdapat dalam kombinasi

dengan klor (Cd Klorida) atau belerang (Cd Sulfit). Kadmium membentuk Cd2+

yang bersifat tidak stabil. Cd memiliki nomor atom 40, berat atom 112,4, titik

leleh 321°C, titik didih 767°C dan memiliki masa jenis 8,65 g/cm3 (Widowati

dkk., 2008).

Kadmium yang ada di air berasal dari berbagai proses yaitu cadmium

masuk kedalam perairan karena adanya proses erosi tanah, pelapukan batuan

induk. Cadmium lebih banyak masuk kedalam air karena kegiatan manusia seperti

perindustrian dimana limbah hasil dari pabrik tersebut dibuang langsung kedalam

perairan yang akan terakumulasi di dasar perairan yang membentuk sedimen. Cd

juga dapat masuk kedalam organisme yang hidup di air dimana Cd dapat masuk

melalui oral, inhalasi atau dermal (Indirawati, 2017).

Keracunan kadmium dapat bersifat akut dan kronis. Efek keracunan yang

dapat ditimbulkannya berupa penyakit paru-paru, hati, tekanan darah tinggi,

gangguan pada sistem ginjal dan kelenjer pencernaan serta mengakibatkan

kerapuhan pada tulang (Lu, 2006).


11

III. METODOLOGI PRAKTEK MAGANG

3.1 Waktu dan Tempat

Praktek magang ini telah dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2018

sampai dengan 15 Februari 2018 yang bertempat di UPT Pusat Produksi, Inspeksi

dan Sertifikasi Hasil Perikanan, Provinsi DKI Jakarta.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan praktek magang yakni dengan

metode eksperimen serta mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer

diperoleh dari dialog dengan pegawai laboratorium dengan melakukan wawancara

secara langsung maupun tertulis dan disertai dengan pengambilan gambar pada

saat kegiatan praktek berlangsung. Sedangkan data sekunder diperoleh selama

kegiatan magang berlangsung.

3.3 Prosedur Pelaksanaan

Prosedur pelaksanaan praktek magang di UPT Pusat Produksi Inspeksi dan

Sertifikasi Hasil Perikanan, Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta dengan

melakukan proses pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd secara langsung

pada ikan kakap merah yang berasal dari perusahaan yang ingin melakukan

pengujian dan diuji di Laboratorium UPT Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi

Hasil Perikanan dengan proses prosedur analisis, penimbangan sampel,

pengabuan sampel, melarutkan sampel, dan pembacaan dengan menggunakan

spektrofotometri serapan atom graphite furnace.

3.4 Analisis Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data

primer dan data sekunder yang telah dikumpulkan disajikan dalam bentuk tabel

dan gambar. Selanjutmya data tersebut dianalisis secara deksriptif sehingga dapat
12

ditarik kesimpulan tentang pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd pada ikan

kakap di UPT Pusat Produksi Inspeksi Dan Sertifikasi Hasil Perikanan, Provinsi

DKI Jakarta.

3.5 Kegiatan Magang

3.5.1 Pengujian Kandungan Logam berat Pb dan Cd pada Ikan Kakap


Merah

Pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd pada ikan kakap merah

dilakukan untuk mengetahui kadar logam berat yang terkandung di dalam ikan

yang diuji dan kemudian hasil uji dibaca pada alat AAS yang nantinya akan di

operasikan menggunakan rumus dibawah ini :

Konsentrasi Pb atau Cd µg/g = (D-E)xFp x V


W

Keterangan :

D : konsentrasi contoh µg/l dari hasil pembacaan AAS

E : Konsentrasi blanko contoh µg/l dari hasil pembacaan AAS

Fp : faktor pengenceran

V : volume akhir larutan contoh (ml) diubah ke dalam satuan liter

W : berat contoh (gr)

*Catatan µg/g setara dengan mg/kg


13

Gambar 2. Kurva standar logam Pb

Gambar 3. Kurva standar logam Cd

3.5.2 Prinsip Kerja

Unsur logam Pb dan Cd dilepaskan dari jaringan daging dengan cara

pengabuan pada suhu 450oC. Logam dalam abu diikat dalam asam klorida (HCl) 6

M dan asam nitrat (HNO3) 0,1 M secara berurutan. Larutan yang dihasilkan

selanjutnya diatomisasi menggunakan graphite furnace. Atom-atom unsur Pb dan

Cd berinteraksi dengan sinar dari lampu Pb dan Cd. Interaksi tersebut berupa

serapan sinar, yang besarnya dapat dilihat pada tampilan monitor


14

spektrofotometer serapan atom (Atomic Absorpstion Spectrofotometer). Jumlah

serapan sinar sebanding dengan konsentrasi unsur logam Pb dan Cd tersebut.

3.5.3 Alat yang Digunakan

Alat yang digunakan pada pengujian logam berat Pb dan Cd adalah gelas

beaker 100 ml dan 250 ml, cawan porselen, corong plastik, hot plate, labu takar 50

ml dan 1000 ml, lemari asam, kertas saring, mikropipet, pipet volumetrik 2ml dan

5 ml, penjepit, refrigerator, sendok, seperangkat alat spektrofotometri serapan

atom graphite furnace, timbangan analitik dan tungku pengabuan (furnace).

3.5.4 Bahan Pereaksi

Bahan-bahan pereaksi yang digunakan pada pengujian logam berat Pb dan

Cd adalah Sedangkan bahan- bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini

meliputi HCl 37% , HCl 6 M (encerkan 496 ml HCl 37% dengan aquades dan

tepatkan hingga 1000 ml), HNO3 65%, HNO3 1% ( encerkan 15,4 ml HNO3 65%

dengan aquades dan tepatkan hingga 1000 ml).

Larutan standar timbal (Pb) dan kadmium (Cd) meliputi : larutan standar

primer 1000 mg/l, larutan standar sekunder pertama : 10 mg/l (pipet 1 ml larutan

standar primer 1000 mg/l, masukkan ke dalam labu takar 100 ml dan encerkan

dengan larutan HNO3 0,1 M), larutan standar sekunder kedua : 1 mg/l ( pipet 5 ml

dari larutan sekunder pertama masukkan ke dalam labu takar 50 ml dan encerkan

dengan larutan HNO3 0,1 M), larutan standar sekunder ketiga : 100 µg/l ( pipet 5

ml dari larutan sekunder kedua masukkan ke dalam labu takar 50 ml dan encerkan

dengan larutan HNO3 0,1 M ), larutan standar kerja dibuat dari larutan standar

sekunder ketiga yang konsentrasinya disesuaikan dengan daerah kerja alat AAS

yang digunakan untuk logam Pb pada umumnya pada kisaran konsentrasi 1 µg/l –

20 µg/l, larutan standar kerja ini harus dibuat ketika akan melakukan analisa.
15

3.5.5 Prosedur Preparasi Sampel

Pertama disiapkan cawan porsel dan kode sampel dicatat pada cawan

porselen, setelah itu sampel ditimbang sebanyak 5 gr dan dimasukkan kedalam

cawan porselen serta dicatat beratnya (W). Selanjutnya sampel dimasukkan

kedalam tungku pengabuan (furnace) secara bertahap 100oC/30 menit sampai

mencapai 450oC selama 3 jam dan setelah suhu konstan dipertahankan selama 18

jam. Selanjutnya sampel dikeluarkan dari tungku pengabuan dan didinginkan pada

suhu kamar. Setelah dingin dilakukan proses digesti dengan ditambahkan 1 ml

HNO3 65%, digoyangkan secara hati-hati sehingga semua abu terlarut dalam

asam. Selanjutnya diuapkan diatas hot plate sampai kering. Setelah kering

dimasukkan kembali kedalam tungku pengabuan, suhu dinaikkan bertahap

100oC/30 menit sampai mencapai 450oC selama 3 jam dan setelah suhu konstan

dipertahankan selama 3 jam. Setelah abu terbentuk sempurna berwarna putih,

didinginkan pada suhu ruang. Sampel ditambahkan 5 ml HCl 6M, goyang secara

hati-hati hingga abu larut dalam asam lalu diuapkan diatas hot plate sampai

kering. Setelah itu ditambahkan 10 ml HNO3 0,1M kedalam cawan, digoyang 25

kali. Lalu disaring dan dimasukkan kedalam labu takar 50 ml dan dibilas tub

sebanyak 3 kali menggunakan larutan sampel dan ditambahkan dengan HNO3 0,1

M sampai tanda tera dan tutup. Kemudian sampel diurutkan sesuai kode dari

angka terkecil-terbesar. Hasil uji dibaca dengan menggunakan AAS graphite

furnace.
16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Lokasi Magang

4.1.1 Identitas umum perusahaan

UPT. Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan Provinsi

DKI Jakarta berada di Jalan Raya Pluit Permai No. 1 Penjaringan Jakarta Utara.

UPT Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan ini memiliki status tanah

dan bangunan milik pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta dengan sertifikat

nomor 35 Tahun 1985. Status akreditasi terakhir UPT PPISHP adalah akreditasi

nomor LSPR-066-IDN tanggal berlaku 21 Februari 2018 s/d 20 Februari 2022.

Adapun jenis komoditi yang diuji seperti udang, ikan (tuna, cakalang, kakap,

meka, layur, kerapu, tenggiri, dan lain-lain), ubur- ubur, ikan asin, sirip hiu dan

tepung ikan dengan negara tujuan yaitu Australia, Afrika, Amerika, Asia, Korea,

Malaysia, Rusia, Singapura, Uni Eropa dan lain-lain.

Gambar 4. UPT PPISHP


17

4.1.2 Profil PPISHP

Unit pelaksana teknis pusat produksi inspeksi dan sertifikasi hasil

perikanan secara operasional merupakan unit pelaksana teknis pemerintah DKI

Jakarta dibawah binaan Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan

Provinsi DKI Jakarta dan secara teknis dibawah binaan BKIPM dan Ditjen P2HP,

Kementerian Kelautan dan Perikanan. UPT Pusat produksi inspeksi dan sertifikasi

hasil perikanan telah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional

(KAN) sejak tahun 1997 dan telah diakreditasi kembali dengan nomor : LPSR-

066-IDN yang berlaku sampai dengan tanggal 20 Februari 2022.

Unit Pelaksanaan Teknis Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil

Perikanan Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu bagian dari pengembangan

nasional yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil perikanan,

baik untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi bahan baku industri maupun

ekspor hasil perikanan sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan

masyarakat nelayan atau petani melalui peningkatan pendapatan serta peningkatan

ikan secara hiegenis.

Unit Pelaksanaan Teknis Pusat produksi inspeksi dan sertifikasi hasil

perikanan melayani penerbitan sertifikat ekspor ke 194 Negara dan juga melayani

pengujian untuk produk impor dan lokal (sentra hasil perikanan, pasar swalayan

dan tradisional) dalam rangka menjamin keamanan pangan hasil perikanan bagi

masyarakat DKI Jakarta.

4.1.3 Tugas utama PPISHP

Tugas UPT. Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan,

Provinsi DKI Jakarta yaitu:

a. Pelaksanaan pengujian dan pengendalian standarisasi mutu serta

keamanan pangan hasil perikanan dan kelautan


18

b. Penyusunan standarisasi pengujian mutu hasil perikanan

c. Pelaksanaan pemberian informasi dalam bidang standarisasi mutu dan

keamanan pangan hasil perikanan dan kelautan

d. Penyediaan, pemeliharaan, perawatan dan kalibrasi peralatan pengujian

laboratorium dan pengolahan hasil perikanan

e. Pengambilan contoh terhadap bahan baku, bahan pembantu, bahan

tambahan, produk akhir, kemasan, serta pengecekan kelayakan peralatan

yang digunakandalam proses pengujian dan pengolahan

f. Pelaksanaan pengujian laboratorium secara organoleptik, kimia, fisika, dan

mikrobiologi terhadap bahan baku, bahan pembantu, produk akhir,

kemasan serta pengecekan kelayakan peralatan yang digunakan.

g. Pelaksanaan pengujian terhadap produk impor hasil perikanan

h. Pelaksanaan pelayanan pelatihan dan pembinaan pengujian mutu dan

pengolahan hasil perikanan

i. Pelaksanaan sistem jaminan mutu hasil perikanan,

j. Penerbitan sertifikat mutu hasil perikanan

k. Pengawasan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada

proses produksi, pengolahan dan distribusi

l. Pelaksanaan pengawasan sistem mutu dan keamanan hasil perikanan

4.1.4 Struktur organisasi

Struktur organisasi Unit Pelaksaan Teknik Pusat Produksi Inspeksi dan

Sertifikasi Hasil Perikanan Provinsi DKI Jakarta, baik secara struktural (Peraturan

Gubernur Nomor 138 tahun 2010), maupun fungsional (Surat Keputusan Manajer

Puncak) merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan, bertanggung jawab

dalam melaksakan sistem manajemen mutu.


19

MANAGER PUNCAK

Ka. PPISHP

MANAGER MUTU

Ka.Seksi Pengawasan dan

Pengendalian Sistem Mutu

KK

MANAGER UMUM MANAGER TEKNIS

Ka. Subag. Tata usaha Ka. Seksi Pengujian

PETUGAS ADMINISTRASI
PENYELIA KIMIA

PETUGAS
PENYELIA MIKROBIOLOGI
KERUMAH TANGGAAN

PETUGAS PENERIMA PENYELIA ORGANLEPTIK

CONTOH

PETUGAS PENGETIKAN

INSPEKTUR MUTU

Sesuai SK Gubernur Nomor 138 Tahun 2010

Gambar 5. Struktur Organisasi UPT PPISHP


20

4.1.5 Sumber bahan baku

Ikan kakap merah yang dijadikan sebagai bahan baku pada pengujian

logam berat diperoleh dari perusahaan yang berada di sekitar UPT PPISHP yang

ingin melakukan analisis dan pengujian mengenai keamanan ikan-ikan yang akan

dilakukan pemasaran secara lokal maupun ekspor karena dibutuhkan sertifikasi

mengenai standar keamanan mutu dari ikan tersebut agar diterima dipasar ekspor.

Bahan baku ikan yang dilakukan pengujian diterima ditempat penerimaan sampel

dan dilakukan pendataan pada setiap sampel yang masuk mulai dari jenis ikan,

tanggal sampel itu masuk dan pengujian apa yang ingin dilakukan terhadap ikan

tersebut. Sampel diberi kode sesuai dengan jenis pengujiannya dan diantar ke

laboratorium organoleptik untuk dilakukan penimbangan dan pelumatan sampel

sebelum dan laboratorium kimia untuk dilakukan pengujian yang diinginkan.

4.2 Analisis Pengujian Kandungan Logam Berat Pb dan Cd pada Ikan


Kakap Merah

Hasil yang didapatkan dari analisis uji kandungan logam berat Pb dan Cd

pada Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) di UPT. Pusat produksi inspeksi dan

sertifikasi hasil perikanan sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil pengujian kandungan Pb (Timbal) pada ikan kakap merah

Bobot Konsentrasi
Kode Absorbansi Kadar
Contoh Contoh
Sampel Contoh (mg/kg)
(gr) (ng/kg)
147.1 TRB KKP 5,0987 0,0120 1,5975 0,016

227 TRB KKP 5,0987 0,0177 3,9232 0,033

235 TRB KKP 5,0147 0,0256 7,0752 0,071

241.1 TRB KKP 5,0978 0,0264 7,4178 0,073

248 TRB KKP 5,0631 0,0147 2,7140 0,027

Sumber : Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan, 2018


21

Tabel 2. Hasil pengujian kandungan Cd (Kadmium) pada ikan kakap merah

Bobot Konsentrasi
Kode Absorbansi Kadar
Contoh Contoh
Sampel Contoh (mg/kg)
(gr) (ng/kg)
147.1 TRB KKP 5,0987 0,0136 3,0812 0,030

227 TRB KKP 5,0987 0,0109 2,3394 0,023

235 TRB KKP 5,0147 0,0105 2,2504 0,022

241.1 TRB KKP 5,0978 0,0125 2,7899 0,027

248 TRB KKP 5,0631 0,0170 3,99848 0,039

Sumber : Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan, 2018

Keterangan :

*227 adalah urutan kode sampel masuk

*TRB KKP adalah ikan kakap merah beku

Proses analisis pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd pada ikan

kakap merah menggunakan metode spektrofotometri serapan atom graphite

furnace yang mengacu pada SNI 2354.5:2011 yang mana unsur logam Pb dan Cd

dilepaskan dari jaringan daging ikan dengan proses pengabuan pada suhu 450oC.

Logam dalam abu selanjutnya diikat dalam asam klorida (HCl) 6 M dan HNO3 0,1

M secara berurutan, larutan yang dihasilkan selanjutnya diatomisasi menggunakan

graphite furnace. Atom-atom unsur Pb dan Cd berinteraksi dengan sinar dari

lampu Pb dan Cd. Interaksi tersebut berupa serapan sinar yang besarnya dapat

dilihat pada tampilan monitor spektrofotometri serapan atom. Jumlah serapan

sinar sebanding dengan konsentrasi unsur logam Pb dan Cd tersebut.

Pengujian kandungan Pb (timbal) yang telah dihasilkan menunjukkan dari

lima sampel yang diuji bahwa hasil tertinggi diantara sampel tersebut adalah pada

sampel 241.1TRB KKP dengan kandungan logam Pb yaitu 0,073 mg/kg dan hasil

terendah pada sampel 147.1 TRB KKP dengan kandungan logam Pb yaitu 0,016
22

mg/kg. Sedangkan pada sampel Cd (cadmium) hasil tertinggi yang didapatkan

yaitu sampel 248 TRB KKP 0,039 mg/kg dan hasil terendah pada sampel 235

TRB KKP dengan kandungan logam Cd sebesar 0,022 mg/kg.

Hasil kandungan logam Pb dan Cd yang didapatkan dari seluruh sampel

ikan kakap merah (Lutjanus sp.) yang telah diuji masih berada pada batas aman.

Batas aman maksimum yang ditetapkan untuk kandungan logam Pb yang terdapat

pada ikan kakap merah yaitu 0,20 mg/kg dan untuk batas aman maksimum logam

Cd pada ikan kakap merah yaitu 0,05 mg/kg.

Tinggi rendahnya konsentrasi logam berat disebabkan oleh jumlah

masukan limbah logam berat ke perairan. Semakin besar limbah yang masuk ke

dalam suatu perairan maka semakin besar konsentrasi logam berat tersebut di

suatu perairan. Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat dan

mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen, oleh karena itu kadar

logam berat pada sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air laut (Zainuri dkk.,

2011).

Menurut Prabowo (2005), meskipun di dalam suatu perairan kadar logam

berat relatif rendah, namun dapat terabsorpsi dan terakumulasi secara biologis

oleh hewan air dan akan terlibat dalam sistem jaringan makanan. Hal tersebut

akan menyebabkan terjadinya proses bioakumulasi, yaitu logam berat akan

terkumpul dan meningkat kadarnya dalam jaringan tubuh organisme air yang

hidup.

Maka dari itu hasil yang telah didapatkan menunjukkan bahwa ikan kakap

merah yang diuji di UPT PPISHP tersebut aman dan layak dikonsumsi oleh

masyarakat dan dapat diekspor keluar negeri serta dapat dijadikan sebagai

indikator pencemaran bahwa perairan dimana ikan tertangkap belum tercemar

logam berat Pb dan Cd.


23

UPT PPISHP setelah melakukan pengujian akan menerbitkan sertifikat

mutu ekspor yang digunakan untuk kepentingan ekspor apabila hasil yang

didapatkan masih dalam batas aman namun jika hasil yang didapat melebihi batas

aman yang telah ditetapkan hanya menerbitkan laporan hasil uji atau test result.
24

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd pada

ikan kakap merah (Lutjanus sp.) di UPT Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi

Hasil Perikanan DKI Jakarta dapat disimpulkan dari hasil pembacaan yang

dilakukan pada lima sampel ikan kakap merah yang diuji bahwa hasil tertinggi

untuk logam Pb diantara sampel tersebut adalah sampel 241.1TRB KKP

mengandung 0,073 mg/kg dan hasil terendah sampel 147.1 TRB KKP

mengandung 0,016 mg/kg. Sedangkan pada sampel Cd (cadmium) hasil tertinggi

yang didapatkan yaitu sampel 248 TRB KKP mengandung 0,039 mg/kg dan hasil

terendah pada sampel 235 TRB KKP 0,022 mg/kg.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kandungan logam Pb dan Cd yang

terdapat pada ikan kakap merah masih dibawah batas maksimum yang telah

ditetapkan yaitu 0,20 mg/kg untuk logam Pb dan 0,05 mg/kg untuk logam Cd.

Sehingga ikan kakap merah tersebut aman dan layak untuk dikonsumsi serta

untuk dilakukan ekspor keluar negeri dan sumber perairan tempat ikan ditangkap

tidak tercemar.

5.2 Saran

Untuk melakukan pengujian kandungan logam berat Pb dan Cd sebaiknya

dilakukan dengan teliti karena sangat berpengaruh pada hasil akhir pembacaan

sampel pada AAS dan kehati-hatian saat melakukan penelitian karena pengujian

kandungan logam berat berbahaya bagi kesehatan analis. Dan sebaiknya selalu

mengkonsumsi susu setelah pengujian agar terhindar dari keracunan.


25

DAFTAR PUSTAKA

Adriyani R dan Mahmudiono T. Kadar logam berat cadmium, protein dan


organoleptik pada daging bivalvia dan perendaman larutan asam cuka.
Jurnal Penelit. Med. Eksakta 8(2).

Ali H, Khan E, Sajad MA. 2013. Phytoremediation of heavy metals-concepts and


applications. Chemosphere 869-881.

Cahyani N, Djamar TF dan Sulistiono. Kandungan logam berat Pb, Hg, Cd, dan
Cu pada daging ikan rejung (Sillago sihama) di estuari sungai Donan,
Cilacap, Jawa Tengah.

Cotton FA dan Wilkinson G. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Penerjemah Sahati


Suharto, Yarti A. Koestoer. UI Press. Jakarta.

Dahuri R. 2003. Keaneka Ragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan


Berkelajutan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 412 hal.

Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI Press. Jakarta
Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Fitriyah AW, Utomo Y dan Kusumaningrum IK. 2013. Analisis kandungan


tembaga (Cu) dalam air dan sedimen di Sungai Surabaya. Jurnal Kimia
2(1).
Fitriyah AW, Utomo Y dan Kusumaningrum IK. 2013. Analisis kandungan
tembaga (Cu) dalam air dan sedimen di Sungai Surabaya . Jurnal Kimia
2(1).

Hartati R, I. Riyantini dan A. Djunaedi. 1993. Pemantauan Logam-Iogam Berat


pada Kenang-kerangan yang Dihasilkan dari Perairan Pantai Utara
Gunung Muria. PPLH Undip, Semarang. 38 Hal.

Hartoyo dan Mahdiana A. 2007. Analisis resiko kontaminasi cadmium pada ikan
terhadap masyarakat pesisir Sungai Donan Kabupaten Cilacap, Sains.
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, 10 (2), 96-104.

Hutomo ADM, Burhanudin dan Martosewojo S. 1986. Sumberdaya Ikan Kakap


(Lates carcariferi) dan Bambangan (Lutjanus spp.) di Indonesia. Proyek
Studi Potensi Sumberdaya Alam Hayati Ikan. Lembaga Oseanologi
Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Indirawati SM, 2017. Pencemaran logam berat Pb dan Cd dan keluhan kesehatan
pada masyarakat di kawasan pesisir Belawan. Jurnal Jumantik 2(2)

Lu FC. 2006. Toksikologi Dasar: asas, organ sasaran, dan penilaian resiko.
26

Penerjemah; Edi Nugroho; Pendamping Zunilda S. Bustami, Iwan


Darmansyah. UI-Press. Jakarta.

Myers P, et al. 2018. The Animal Diversity Web (online). Diakses di


https://animaldiversity.org

Nursyam H. 2011. Penggunaan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda sebagai


preblending pada pengolahan sosis ikan kakap merah (Lutjanus sp.).
Prosiding: Seminar Nasional Tahunan VIII Hasil Penelitian Perikanan
dan Kelautan.

Palar, H. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka Cipta

Permanawati Y, Zuraida R, dan Ibrahim A. 2013. Kandungan logam berat (Cu,


Pb, Zn, Cd, dan Cr) dalam air dan sedimen di perairan Teluk Jakarta.
Jurnal Geologi Kelautan.

Prihatiningsih, at el. Hubungan panjang-berat, kebiasaan makanan, dan reproduksi


ikan kakap merah (Lutjanus gibbus: famili lutjanidae) di perairan selatan
Banten. BAWAL 9(1):21-32.

Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I dan II. Bina Cipta,
Jakarta.

Sriati. 2011. Kajian bio-ekonomi sumberdaya ikan kakap merah yang didaratkan
di pantai selatan Tasikmalaya, Jawa Barat. Jurnal Akuatika 2(2)

Suhendryatna. 2001. Bioremoval logam berat dengan menggunakan


mikroorganisme: suatu kajian kepustakaan. Semarang. IKIP Semarang.

Sukar dan Suharjo. 2015. Bioindikator cemaran timbal pada rambut masyarakat
sekitar kilang minyak. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 9(3).

Vangronsveld J dan Clijsters H. 1994. Toxic effects of metals, in: Plants and the
Chemical Elements: Biochemistry, Uptake, Tolerance and Toxicity. VCH
Publishers, Weinheim.

Wahyuningsih, Prihatiningsih dan Tri Ernawati. 2013. Parameter populasi ikan


kakap merah (Lutjanus malabaricus) di perairan Laut Jawa bagian timur.
BAWAL 5(3).

Widowati W, Astiana S dan Raymond JR. 2008. Efek Toksik Logam, Pencegahan
dan Penanggulangan Pencemaran. Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Zainuri M, Sudrajat, dan Siboro ES. 2011. Kadar Logam Berat Pb pada Ikan
Baronang (siganus sp), Lamun, Sedimen dan Air di Wilayah Pesisir Kota
Bontang-Kalimantan Timur, Jurnal Kelautan, 4(2).

Zuraida RR, at el. 2010. Laporan Akhir Penelitian Lingkungan dan Kebencanaan
Geologi Kelautan Perairan Teluk Jakarta (Tanjung Kait-Muara Gembong).
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
27

LAMPIRAN
28

Lampiran 1. Alat dan Bahan

Mikropipet Gelas Beaker 250 ml

Pipet Volumetrik Corong Plastik

Tungku Furnace Timbangan Analitik


29

Penjepit Tabung Lemari Asam

Gelas Ukur Labu Takar 50 ml

Cawan Porselen Labu Takar 1000 ml


30

Kertas Saring Hot Plate

Spektrofotometer Serapan Atom Sampel Ikan

Larutan HNO3 65% Larutan HCL 37%


31

Larutan Standar Pb Larutan Standar Cd

Aquades
32

Lampiran 2. Kegiatan Praktek Magang

Penimbangan Sampel Proses Pengabuan I

Penambahan 1ml HNO3 65% Penguapan diatas Hot Plate

Proses Pengabuan II Penambahan 5ml HCl 6


33

Penguapan diatas Hot Plate fPenambahan 10ml HNO3

Pembacaan di SSA
34

Lampiran 3. Sertifikat Magang