Anda di halaman 1dari 10

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengaruh Daya Microwave Terhadap Laju Pemanasan

Daya pada oven microwave memegang peranan penting dalam perubahan

temperature selama waktu pirolisis berlangsung. Data dari temperatur ampas tebu dan

waktu pirolisis kemudian diplot dalam grafik dimana waktu pirolisis di sumbu x dan

suhu pirolisis berada di sumbu y untuk melihat perbedaan temperature yang

dihasilkan oleh masing-masing daya microwave selama pirolisis berlangsung. Grafik

perubahan temperatur terhadap waktu pirolisis ampas tebu adalah sebagai berikut :

Gambar 4.1.Grafik perubahan temperatur terhadap waktu pirolisis ampas tebu

Temperatur pirolisis dan laju pemanasan tidak dikontrol dalam penelitian ini

sehingga menjadi variabel dependen. Temperatur selama proses pirolisis dipengaruhi

oleh besarnya daya yang diberikan dan kemampuan sampel untuk menyerap

gelombang mikro. Pada pengaturan daya 180 Watt temperatur naik dari suhu awal

40oC hingga mencapai 100oC di 15 menit awal dimana bio-oil mulai diproduksi dan

31
terus diproduksi dengan sangat lambat hingga menit ke-60. Hal ini dikarenakan

gelombang mikro yang dihasilkan oleh daya 180 Watt diserap oleh sampel sehingga

molekul-molekul ion dalam sampel saling bergesekan karena pengaruh energi

elektromagnetik yang dihasilkan oleh gelombang mikro pada tingkat molekular.

Proses penyerapan energi ini disebut sebagai pemanasan dielektrik (dielectric

heating). Molekul pada sampel bersifat elektrik dipol (electric dipoles), artinya

memiliki muatan negatif pada satu sisi dan muatan positif pada sisi yang lain.

Akibatnya, dengan adanya medan elektrik yang berubah-ubah yang diinduksikan

melalui gelombang mikro pada masing-masing sisi akan berputar untuk saling

mensejajarkan diri satu sama lain. Pergerakan molekul ini akan menciptakan panas

seiring dengan timbulnya gesekan antara molekul yang satu dengan molekul

lainnya (Mujumdar, 2004). Panas ini yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya

pemanasan pada sampel. Pemanasan ini menyebabkan terdekomposisinya senyawa

kimia dalam ampas tebu sehingga menjadi fasa gas yang mengalir pada selang kaca

dan akhirnya didinginkan oleh kondensor sehingga berubah fasa menjadi fasa cair

yaitu bio-oil. Dengan perlakuan sampel yang sama, pada daya oven mikrowave 300

Watt temperatur naik sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga produksi bio-oil

pada daya ini terjadi pada menit ke-6 dengan suhu 102oC hingga produksi bio-oil

diamati mulai melambat pada menit ke-45 dimana temperature yang tercatat adalah

sebesar 225oC. Hal ini dikarenakan dengan pemberian daya 300 Watt menyebabkan

frekuensi gelumbang mikro yang dihasilkan oleh oven microwave menjadi lebih

besar daripada sebelumnya sehingga sampel menyerap lebih banyk gelombang mikro

32
untuk menghasilkan panas. Untuk pengaturan daya 450 Watt temperatur naik dengan

sangat cepat di menit awal pirolisis dibandingkan dua sampel sebelumnya. Bio-oil

mulai diproduksi pada menit ke-4 dengan suhu tercatat 114oC dan produksi terlihat

melambat sekitar menit ke-39 dengan temperature tercatat sekitar 312oC. Gambar 4.1

juga menjelaskan bahwa semakin tinggi daya gelombang mikro, maka semakin tinggi

tingkat pemanasan oleh molekul air bahan biomassa pada tahap awal pemanasan

sehingga laju pemanasan gas yang dihasilkan akibat pirolisis juga lebih tinggi karena

efek pemanasan dielektrik yang lebih besar (Yin, 2012).

Laju pemanasan adalah selisih antara temperatur akhir dengan temperatur

awal yang dibagi waktu selama penelitian. Hal tersebut menunjukkan kemampuan

reaktor gelombang mikro untuk memanaskan sampel. Laju pemanasan dihitung

berdasarkan persamaan 2.1. Untuk menghitung laju pemanasan harus dilihat garis

linear grafik yang diperoleh. Satuan laju pemanasan ini adalah oC/menit. Sehingga

laju pemanasan dapat dihitung dan ditampilkan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.1. Daya dan laju pemanasan selama 60 menit


180 Watt 300 Watt 450 Watt
3.333333333 10.3333333 28.2
4.818181818 7.92307692 -0.22
0.564102564 0.66666667
-0.8 0.192307692

Berdasarkan Tabel 4.1, diperoleh analisa bahwa daya 180 Watt memiliki laju

pemanasan yang paling lambat dibandingkan dengan laju pemanasan pada daya

33
lainnya. Laju pemanasan untuk daya 180 Watt dibagi menjadi 4 bagian sesuai dengan

kelinearannya. Bagian pertama yaitu rentang temperature dari 40oC-50oC rentang

temperature bagian kedua hingga bagian ke-4 berturut-turut adalah 40oC-93oC, 93oC-

115oC dan 115oC-107oC. Begitu pula untuk laju pemanasan pada daya 300 Watt

dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama yaitu rentang temperature dari 40oC-102oC

rentang temperature bagian kedua hingga bagian ke-4 berturut-turut adalah 102oC-

205oC, 205oC-215oC dan 215oC-220oC. Sedangkan laju pemanasan paling cepat

terjadi pada bagian pertama dari daya 450 Watt yaitu sebesar 28,2 oC/menit dari

rentang temperatur 31oC-313oC. Sedangkan untuk bagian kedua laju pemanasan

berkurang menjadi -0,22oC/Menit. Hal ini terjadi karena temperature mulai konstan

pada bagian kedua yang diakibatkan berkurangnya kemampuan sampel untuk

berinteraksi dengan gelombang mikro. Sehingga berdasarkan tabel 4.1 terlihat dengan

jelas daya mempengaruhi laju pemanasan dalam proses pirolisis menggunakan oven

microwave. Dengan daya yang lebih besar maka frekuensi gelombang mikro yang

dihasilkan oleh magnetron pada oven microwave menjadi lebih tinggi sehingga

pemanasan dielektik yang terjadi pada sampel menjadi lebih cepat.

B. Pengaruh Daya Dan Waktu Microwave Terhadap Volume Dan Komposisi

Bio-oil

Untuk mengamati waktu optimal pada proses pirolisis oven microwave,

dilakukan variasi lama waktu proses pirolisis menjadi 90 menit dan diplot grafik

perubahan temperature terhadap waktu sebagai berikut :

34
Gambar 4.2 Grafik perbandingan perubahan temperatur terhadap waktu pirolisis

Dengan dilakukannya penambahan lama waktu pirolisis maka dapat diamati

produksi bio-oil untuk 50 gram ampas tebu setelah 60 menit. Untuk daya 300 Watt

dan 450 Watt tidak terlihat terjadi produksi bio-oil setelah menit ke-60 sedangkan

untuk daya 180 Watt bio-oil masih terlihat di produksi dengan sangat lambat dan

berhenti diproduksi pada menit ke-70. Berhentinya produksi bio-oil disebabkan

karena kemampuan sampel untuk menyerap gelombang mikro menjadi berkurang.

Seperti dijelaskan Supramono (2015) pada penelitiannya yang menunjukkan bahwa

setelah waktu yang lebih lama berlalu daya gelombang mikro tidak lagi

mempengaruhi temperatur gas yang dihasilkan dari pirolisis. Tampaknya biomassa

telah menghabiskan kadar airnya dan juga kekurangan molekul polar yang

menyebabkan konversi energi gelombang mikro menjadi panas. Akibatnya efek daya

microwave pada konversi menjadi panas berkurang.

35
Alasan tersebut juga diperkuat dengan plot grafik yang diperoleh. Berdasarkan

gambar 4.1 dan 4.2 dapat dilihat bahwa terdapat 4 tahap dalam proses pirolisis

dengan menggunakan gelombang mikro. Keempat tahap ini adalah tahap pertama

dimana suhu naik secara signifikan, tahap kedua dimana temperatur mencapai nilai

kalor tinggi sampai mencapai nilai maksimum, tahap ketiga dimana suhu sedikit

berkurang dan tahap keempat dimana suhu mencapai nilai hampir konstan.

Temperatur yang mendekati nilai konstan mencirikan bahwa molekul ionik pada

sampel yang menyebabkan terjadinya panas telah berkurang keberadaanya. Tahap

keempat juga menyiratkan bahwa ada keseimbangan antara panas yang dihasilkan

oleh pirolisis dan panas yang dikeluarkan dari reaktor. Pada tahap pertama proses

pirolisis dengan bantuan gelombang mikro, senyawa yang pertama kali menyerap

energi gelombang mikro adalah air (Hu et al., 2012). Sehingga seiring dengan

lamanya proses berlangsung kemampuan sampel menyerap gelombang mikro

menjadi berkurang begitu juga dengan volume bio-oil yang dihasilkan.

Dalam penelitian ini dilakukan variasi daya yaitu 180 Watt, 300 Watt, 450

Watt guna menguji berapa banyak volume yang dihasilkan dengan waktu yang

digunakan sebanyak 60 dan 90 menit. Adapaun volume bio-oil ampas tebu yang

dihasilkan ditunjukkan pada tabel.

36
Tabel 4.2. Pengaruh daya dan waktu terhadap volume bio-oil
Waktu (Menit) Daya (Watt) Volume (ml)
180 25
60 300 32
450 39
180 28
90 300 31
450 37

Berdasarkan data diatas sehingga dapat dipilot grafik hubungan antara daya

dan volume sebagai berikut

Gambar 4.3. Grafik hubungan Daya dan Volume

Berdasarkan grafik dapat diamati bahwa perubahan volume yang terjadi

karena penambahan lama waktu pirolisis tidak begitu sginifikan terjadi untuk setiap

daya. Perbedaan volume terbesar yang terjadi hanya sekitar 3 ml yaitu pada daya 180

Watt. Perbedaan ini terjadi karena bio-oil pada daya ini terus diproduksi dengan

lambat hingga menit ke-70. Sedangkan untuk daya 450 Watt dan 300 Watt untuk

37
waktu 60 menit dan 90 menit tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini

disebabkan karena produksi bio-oil pada daya ini diamati telah berhenti pada waktu di

bawah 60 menit. Berhentinya produksi bio-oil disebabkan oleh telah berkurangnya

kemampuan bahan untuk menyerap gelombang mikro sehingga pemanasan yang

terjadi pada sampel juga berkurang.

Berdasarkan halis karakterisasi menggunakan gc-ms diperoleh komposisi

senyawa kimia yang terkandung dalam bio-oil hasil pirolisis untuk daya 180 watt 90

menit, 300 watt 90 menit dan 450 watt 60 menit didominasi oleh kelimpahan senyawa

furfural (C5H4O2). Sedangkan untuk bio-oil hasil pirolisis dengan daya 450 watt

sekama 90 menit, senyawa furfural (C5H4O2) tidak lagi mendominasi. Senyawa yang

mendominasi adalah Acetic acid, anhydride with formic acid (C3H4O3). Hasil

karakterisasi menggunakan gc-ms juga menunjukan teridentifikaisnya senyawa-

senyawa yang dibutuhkan dalam indusrti kimia dan energi alternatif seperti asam

asetat dan etanol.

Tabel 4.3. Identifikasi senyawa asam asetat dan etanol bio-oil hasil pirolisis
Identifikasi (%)
Rumus 180 300 450 450
Nama senyawa watt watt watt watt
molekul
90 90 90 60
menit menit menit menit
Acetic acid C2H4O2 6.06 0 0 5.52
Acetic acid ethenyl ester C4H6O2 2.99 4.41 0 0
Acetic acid, anhydride with formic acid C3H4O3 7.76 4.46 23.69 5.86
Acetic acid, oxo-, methyl ester C3H4O3 1.49 0 3.82 0.35
Acetic anhydride C4H6O3 9.34 17.39 16.02 2.46
Ethanol, 2-methoxy-, acetate C5H10O3 4.23 0 0 0
Ethanol, 2-nitro-, propionate (ester) C5H9NO4 1.23 0 0 0

38
Ketidak hadiran senyawa Ethanol pada pirolisis dengan daya yang lebih tinggi

disebabkan karena senyawa ini telah terpecah menjadi senyawa lain salah satunya

Acetic acid, anhydride with formic acid. Hal ini dapat diamati dengan meningkatnya

identifikasi senyawa Acetic acid, anhydride with formic acid pada daya pirolisis yang

lebih tinggi dan waktu yang lebih lama.

C. Perbandingan Dengan Pirolisis Konvensional

Perbandingan dilakukan dengan mengamati jumlah rendemen bio-oil yang

dihasilkan pada penelitian ini dan penelitian terdahulu yang menggunakan metode

pirolisis tanpa bantuan gelombang mikro. Sebagai pembanding digunakan hasil

penelitian milik Erawati Dkk. (2013). Perhitungan jumlah rendemen bio-oil yang

dihasilkan secara umum dihitung menggunakan persamaan :

𝐵𝑖𝑜−𝑜𝑖𝑙 (𝑔𝑟)
Yield bio-oil (%) = 𝐵𝑖𝑜𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 (𝑔𝑟) x 100% (Garg, dkk., 2016).

Erawati Dkk. (2013) memvariasikan ukuran diameter partikel dan tegangan

listrik untuk 150 gram biomassa ampas tebu sehingga diperoleh hasil bio-oil sebagai

berikut :

Tabel 4.4. Yields Bio-Oil Variasi Diameter Partikel


Diameter Partikel % Yields
(-20 + 25) mesh 40,32
(-25 + 30) mesh 37,47
(-30 + 35) mesh 37,27
(-35 + 40) mesh 39,26
- 40 mesh 34,16

39
Tabel 4.5. Yields Bio-Oil Variasi Kecepatan Pemanasan
Tegangan Listrik % Yields
100 volt 33,31
105 volt 38,82
115 volt 37,00
120 volt 36,10

Dalam penelitian dilakukan variasi daya oven microwave dan lama proses

pirolisis untuk 50 gram biomassa ampas tebu sehingga diperoleh hasil bio-oil sebagai

berikut :

Tabel 4.6. Yields Bio-Oil hasil pirolisis dengan bantuan


gelombang mikro.
Waktu (Menit) Daya (Watt) Yeilds (%)
60 180 52
60 300 66.56
60 450 81.12
90 180 58.24
90 300 64.48
90 450 76.96

Berdasarkan jumlah rendemen bio-oil yang dihasilkan dari kedua penelitian

tersebut terlihat bahwa pirolisis biomassa ampas tebu dengan bantuan gelombang

mikro memiliki jumlah rendemen bio-oil yang cukup signifikan dibandingkan

pirolisis tanpa bantuan gelombang mikro.

40