Anda di halaman 1dari 4

Mengenal Fuel Cell, Teknologi Pembangkit Listrik Tanpa Limbah

Oleh : Ifana Futramsyah

Usaha manusia untuk menemukan teknologi penghasil listrik yang ramah lingkungan
telah banyak dilakukan. Teknologi Photovoltaics atau panel surya, pembangkit listrik tenaga
angin (PLTB), teknologi microhydro, pembangkit listrik tenaga arus laut, teknologi pembangkit
biomassa dan pembangkit tenaga panas bumi merupakan contoh teknologi pembangkit yang
telah ditemukan dan dikembangkan manusia. Namun ada salah satu teknologi pembangkit listrik
lain yang umumnya belum diketahui oleh banyak orang. Teknologi itu adalah Fuel Cell.
Teknologi yang dipandang lebih efisien dan ramah lingkungan karena dapat menghasilkan listrik
dari hidrogen dan hanya menghasilkan air sebagai produk buangan.

Hydrogen + Oxygen = Electricity + Water Vapor

Fuel Cell adalah sebuah alat konversi elektrokimia yang menghasilkan listrik dari hasil
reaksi antara hidrogen dan oksigen[1]. Fuel Cell bekerja seperti baterai, hanya saja tidak
memerlukan pengisian ulang/recharging karena akan terus menerus menghasilkan listrik selama
bahan bakarnya, hidrogen dan oksigen terpenuhi[2]. Sebuah Fuel Cell memiliki dua elektroda
yaitu elektroda positif (katoda) dan elektroda negatif (anoda). Pada elektroda tersebut terjadi
reaksi yang menghasilkan listrik. Selain itu terdapat juga elektrolit yang terletak diantara kedua
elektroda yang berfungsi membawa muatan-muatan listrik dari satu elektroda ke elektroda lain
dan juga katalis untuk mempercepat reaksi yang terjadi pada elektroda. Prosesnya yang terjadi
pada Fuel Cell adalah bahan bakar Fuel Cell yakni hidrogen akan diumpan ke anoda dan udara
diumpan ke katoda. Katalis pada Fuel Cell akan memisahkan hidrogen menjadi proton dan
elektron. Kedua partikel tersebut akan berpindah dengan jalur yang berbeda menuju katoda
dimana elektron yang bermuatan negatif menggunakan sirkuit eksternal yanag akan
menghasilkan arus listrik dan proton yang bermuatan positif berpindah melewati elektrolit
bergabung dengan oksigen untuk menghasilkan air dan panas.
Gambar I. Blok Diagram Fuel Cell, Marc Marshall, Schatz Energy Research Center

Fuel Cell dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis elektrolit
yang digunakan. Klasifikasi ini akan menentukan jenis reaksi elektrokimia yang terjadi, jenis
katalis yang diperlukan, kisaran suhu yang diperlukan, bahan bakar yang diperlukan serta faktor-
faktor lainnya. Beberapa jenis Fuel Cell antara lain :

1. Polymer electrolyte membrane (PEM) Fuel Cell


Menggunakan bahan polimer padat sebagai elektrolit dan karbon berongga sebagai
elektroda. PEM hanya memerlukan hidrogen, oksigen dari udara dan air. PEM juga
beroperasi dalam rentang suhu relatif rendah sekitar 80°C (176°F)
2. Direct Methanol Fuel Cells
Menggunakan metanol, etanol dan bahan bakar hidrokarbon yang direformasi untuk
menghasilkan hidrogen. Sering digunakan untuk menyediakan energi untuk aplikasi
portabel seperti laptop dan telepon seluler
3. Reversible Fuel Cells
Sama seperti jenis Fuel Cells lainnya namun pada RFC menggunakan listrik dari sel
surya, tenaga angin ataupun sumber lain untuk memisahkan air menjadi oksigen dan
hidrogen dengan proses elektrolisis.

Pengembangan Fuel Cells saat ini masih difokuskan pada pengembangan jenis elektrolit
dan elektrodanya. Para peneliti terus berupaya menemukan jenis elektrolit dan elektroda yang
dapat meningkatkan energi yang dihasilkan yang dapat menekan biaya produksi. Selain itu
kebutuhan bahan bakar Fuel Cell berupa hidrogen murni memerlukan alat yang dapat khusus
memurnikan hidrogen. Negara yang konsisten mengembangkan Fuel Cells antara lain Jerman,
Jepang dan Korea Selatan. Jerman mengumumkan telah berhasil mengembangkan kereta api
berbahan bakar hidrogen Fuel Cell pertama di dunia yang diberi nama The Coradia iLint. Kereta
tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun 2021[3]. Korea Selatan melalui perusahaan
otomotif raksasanya Hyundai berhasil mengembangakan mobil hidrogen Fuel Cell Hyundai
Neko yang berhasil meraih bintang lima dalam penilaian Euro NCAP. Mobil tersebut menjadi
yang pertama di dunia meraih bintang lima dalam penilaian tersebut [4]. Jepang memulai
pembangunana pembangkit Fuel Cell 10 MW yang diberi nama Fukushima Hydrogen Energy
Research Field (FH2R) [5].

Teknologi Fuel Cell menjadi jawaban atas tuntunan untuk mencari teknologi yang ramah
lingkungan. Bayangkan saja hasil buangan dari prosesnya hanya uap air yang tidak mencemari
lingkungan. Sehingga bukan tidak mungkin dengan teknologi Fuel Cell kita akan melihat
berjuta-juta mobil lalu lalang dijalan tanpa menghasilkan gas beracun, melainkan uap air yang
tidak menimbulkan pencemaran lingkungan

Referensi :

[1] “Energi Indonesia.” [Online]. Available:


http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1111012997&6. [Accessed: 30-Oct-2018].

[2] “Fuel Cells | Department of Energy.” [Online]. Available:


https://www.energy.gov/eere/fuelcells/fuel-cells. [Accessed: 30-Oct-2018].

[3] “Could the Okanagan’s transit future be hydrogen powered rail? | CBC News.” [Online].
Available: https://www.cbc.ca/news/canada/british-columbia/could-the-okanagan-s-
transit-future-be-hydrogen-powered-rail-1.4871090. [Accessed: 30-Oct-2018].

[4] “Hyundai Nexo hydrogen fuel cell car earns five stars in Euro NCAP safety testing.”
[Online]. Available: https://www.telegraph.co.uk/cars/news/hyundai-nexo-hydrogen-fuel-
cell-car-earns-five-stars-euro-ncap/. [Accessed: 30-Oct-2018].

[5] “Japan hits the gas on 10MW hydrogen plant construction - Energy Live News - Energy
Made Easy.” [Online]. Available: https://www.energylivenews.com/2018/10/01/japan-
hits-the-gas-on-10mw-hydrogen-plant-construction/. [Accessed: 30-Oct-2018].