Anda di halaman 1dari 42

BAB 4

LINGKUNGAN MERUPAKAN MEDIA PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan kajian bab ini, pembaca diharapkan dapat


memahami tentang lingkungan merupakan media pembelajaran, teknik
menggunakan lingkungan, jenis lingkungan belajar serta langkah dan prosedur
penggunaannya.
Penggunaan media grafis, tiga dimensi, dan proyeksi seperti telah
dijelaskan sebelumnya, pada dasarnya memvisualkan fakta, gagasan, kejadian,
peristiwa dalam bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya untuk dibahas di dalam
kelas dalam membantu proses pengajaran. Di lain pihak guru dan siswa bisa
'mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa
kepada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya
dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan para
siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami,
sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan. Membawa kelas atau para siswa keluar kelas dalam
rangka kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu. Artinya tidak selalu memakan
waktu yang lama, tapi bisa saja dalam satu atau dua jam pelajaran bergantung
kepada apa yang akan dipelajarinya dan bagaimana cara mempelajarinya. Banyak
keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses
belajar antara lain:
a) Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas
berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi
b) Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi
dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
c) Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga
kebenarannya lebih akurat.
d) Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara,
membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.

58
e) Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari
bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan
buatan, dan lain-lain.
f) Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di
lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan
kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Oleh sebab itu lingkungan di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai media dalam
pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sumber belajar para siswa. Berbagai
bidang studi yang dipelajari siswa di sekolah hampir bisa dipelajari dari
lingkungan seperti ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, bahasa, kesenian,
keterampilan, olah raga kesehatan, kependudukan, ekologi, dan lain-lain.
Beberapa kelemahan dan kekurangan yang sering terjadi dalam
pelaksanaannya berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar.
Misalnya:
a) Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada
waktu siswa dibawa ke tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang
diharapkan sehingga ada kesan main-main. Kelemahan ini bisa diatasi dengan
persiapan yang matang sebelum kegiatan itu dilaksanakan. Misalnya
menentukan tujuan belajar yang diharapkan dimiliki siswa, menentukan cara
bagaimana siswa mempelajarinya, menentukan apa yang harus dipelajarinya,
berapa lama dipelajari, cara memperoleh informasi, mencatat hasil yang
diperoleh, dan lain-lain.
b) Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan
memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu untuk
belajar di kelas. Kesan ini keliru sebab kunjungan ke kebun sekolah untuk
mempelajari keadaan tanah, jenis tumbuhan, dan lain-lain cukup dilakukan
beberapa menit, selanjutnya kembali ke kelas untuk membahas lebih lanjut
apa yang telah dipelajarinya.
c) Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam
kelas. la lupa bahwa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar jam kelas atau
pelajaran baik secara individual maupun kelompok dan satu di antaranya
dapat dilakukan dengan mempelajari keadaan lingkungannya.

59
A. Teknik Menggunakan Lingkungan

Ada beberapa cari bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber
belajar.
Cara pertama dengan survey, yakni siswa mengunjungi lingkungan seperti
masyarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, ekonomi,
kependudukan, dan lain-lain. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi,
wawancara dengan beberapa pihak yang dipandang perlu, mempelajari data atau
dokumen yang ada, dan lain-lain. Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah
untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi
bahan pengajaran. Pengajaran yang dapat dilakukan untuk kegiatan survey
terutama bidang studi ilmu sosial dan kemasyarakatan, seperti ekonomi, sejarah,
kependudukan, hukum, sosiologi, antropologi, dan kesenian.
Cara kedua dengan kamping atau berkemah. Kemah memerlukan waktu
yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam
seperti suhu, iklim, suasana, dan lain-lain. Kemah cocok untuk mempelajari ilmu
pengetahuan alam, ekologi, biologi, kimia, dan fisika. Siswa dituntut merekam
apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung.
Hasilnya dibawa ke sekolah untuk dibahas dan dipelajari bersama-sama.
Cara ketiga adalah field trip atau karyawisata. Dalam pengertian
pendidikan karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari
objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum
karyawisata dilakukan siswa, sebaiknya direncanakan objek yang akan dipelajari
dan cara mempelajarinya serta kapan sebaiknya dipelajari.
Objek karyawisata harus relevan dengan bahan pengajaran misalnya
museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, taman
mini untuk pelajaran ilmu bumi dan kebudayaan, peneropongan bintang di
Lembang untuk fisika dan astronomi. Karyawisata di samping untuk kegiatan
belajar sekaligus juga rekreasi yang mengandung nilai edukatif. Karyawisata
sebaiknya dilakukan pada akhir semester atau catur wulan dan dikaitkan dengan
keperluan pengajaran dari berbagai bidang studi secara bersama-sama dan
dibimbing oleh guru bidang studi yang bersangkutan.

60
Cara keempat dengan praktek lapangan. Praktek lapangan dilakukan oleh
para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya
siswa SPG diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan sebagai guru
di sekolah. Siswa SMEA dikirimkan ke perusahaan untuk mempelajari dan
mempraktekkan pembukuan, akuntansi dan lain-lain. Siswa STM diterjunkan ke
pabrik-pabrik untuk melatih kemahirannya dalam bidang-bidang tertentu sesuai
dengan keahlian yang dipelajarinya. Dengan demikian praktek lapangan
berkenaan dengan keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah-
sekolah kejuruan.
Cara kelima mengundang manusia sumber atau nara sumber. Berbeda
dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan nara sumber
merupakan kebalikannya. Jika pada cara sebelumnya kelas dibawa ke masyarakat,
pada nara sumber mengundang tokoh masyarakat ke sekolah untuk memberikan
penjelasan mengenai4ce-ahliannya di hadapan nara siswa. Misalnya mengundang
dokter atau mantri kesehatan untuk menjelaskan berbagai penyakit, petugas
Keluarga Berencana untuk menjelaskan keluarga kecil, petugas pertanian untuk
menjelaskan cara bercocok tanam, dan lain-lain. Nara sumber yang diundang
harus relevan dengan kebutuhan belajar sehingga apa yang diberikan oleh nara
sumber dapat memperkaya materi yang diberikan guru di sekolah. Kriteria nara
sumber dilihat dari keahliannya dalam suatu bidang tertentu yang diperlukan
bukan jabatannya atau kedudukannya.
Cara keenam melalui proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat.
Cara ini dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama
melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan,
penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang
diperlukan). Proyek pelayanan pada masyarakat mengandung manfaat yang baik
bagi para siswa maupun bagi masyarakat setempat. Bagi siswa merupakan
penerapan atau mencoba melakukan kegiatan sehubungan dengan kecakapan
belajarnya dalam bidang tertentu sedangkan bagi masyarakat dirasakan
manfaatnya sebab secara langsung turut memperbaiki keadaan yang menjadi
garapan masyarakat itu sendiri. Misalnya para siswa membantu memberikan

61
pelayanan posyandu, perbaikan, jembatan, jalan-jalan, kebersihan lingkungan,
penyuluhan KB dan lain-lain.
Sebelum mengundang nara sumber hendaknya dipersiapkan topik apa
yang diminta untuk dibahas, siapa yang paling tepat untuk membahasnya (nara
sumber), kapan waktunya, bagaimana menghubunginya, serta apa yang harus
dilakukan siswa pada waktunya (kegiatan belajar).
Enam cara yang dikemukakan di atas tidak hanya bermanfaat bagi proses belajar
siswa namun lebih dari itu dapat digunakan sebagai media kerja sama sekolah
dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat sangat penting dalam
pendidikan agar memperoleh masukan-masukan bagi program pendidikan agar
lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memperkaya lingkungan belajar
para siswa di sekolah.

B. Jenis Lingkungan Belajar


Dari semua lingkungan masyarakat yang dapat digunakan dalam proses
pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga macam
lingkungan belajar yakni lingkungan sosial, lingkungan alam dan lingkungan
buatan.
Lingkungan sosial '
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi
manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan
kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur
pemerintahan, agama dan sistem nilai. Lingkungan sosial tepat digunakan untuk
mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dalam praktek pengajaran
penggunaan lingkungan sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya
dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun
tetangga, rukun warga, kampung, desa, kecamatan dan seterusnya. Hal ini
disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak
didik. Sebagai contoh: Dalam pelajaran Ilmu Bumi dan kependudukan siswa
diberi tugas untuk mempelajari aspek kependudukan di rukun tetangganya. Siswa
diminta untuk mempelajari jumlah penduduknya, jumlah keluarga, komposisi
penduduk menurut umur, agama, mata pencaharian, tingkat pendidikan, peserta

62
KB, pertambahan penduduk dari tahun ke tahun dan lain-lain. Dalam studi ini
siswa menghubungi ketua RT dan bertanya kepadanya, di samping melihat sendiri
keadaan penduduk di RT tersebut. Hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah
untuk dipelajari lebih lanjut. Kegiatan seperti ini ditugaskan kepada siswa dalam
bentuk kelompok, agar mereka bekerja bersama-sama. Kelompok siswa lain
mungkin ditugaskan untuk mempelajari struktur pemerintahan desa termasuk
organisasi sosial yang ada di desa tersebut.
Melalui kegiatan belajar seperti itu, siswa lebih aktif dan lebih produktif
sebab ia mengerahkan usahanya untuk memperoleh informasi sebanyak-
banyaknya dari sumber-sumber yang nyata dan faktual.
Lingkungan Alam
Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti
keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan),
fauna (hewan), sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan dan lain-lain).
Lingkungan alam tepat digunakan untuk bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam.
Aspek-aspek lingkungan alam di atas dapat dipelajari secara langsung oleh
para siswa melalui cara-cara seperti telah dijelaskan sebelumnya. Mengingat sifat-
sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial, maka
akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya
secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk
prosesnya dan sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah ke-rusakan-
kerusakan lingkungan alam termasuk faktor penyebabnya seperti erosi,
penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para siswa dapat lebih
memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta alam,
kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam
menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga
kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia. Sebagai
contoh: Dalam rangka mempelajari IPA, siswa diminta mempelajari lingkungan
alam di tempat tinggalnya- Siswa diminta mencatat dan mempelajari suhu udara,
jenis tumbuhan, hewan, batu-batuan, kerusakan lingkungan, pencemaran dan lain-
lain. Baik secara individual maupun kelompok para siswa akan melakukan

63
kegiatan belajar seperti mengamati, bertanya kepada orang lain, membuktikan
sendiri atau mencobanya. la akan memperoleh sesuatu yang berharga dari
kegiatan belajarnya yang mungkin tidak ditemukan dari pengalaman belajar di
sekolah sehari-hari.

Lingkungan buatan

Di samping lingkungan sosial dan lingkungan alam yang sifatnya alami, ada juga
yang disebut lingkungan buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau
dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Lingkungan buatan antara lain irigasi atau pengairan, bendungan,
pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga
listrik.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti
prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta
aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan
masyarakat pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan dengan
kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah.
Ketiga lingkungan belajar di atas dapat dimanfaatkan sekolah dalam
proses belajar - mengajar melalui perencanaan yang saksama oleh para guru
bidang studi baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Penggunaan lingkungan
belajar dapat dilaksanakan dalam jam pelajaran bidang studi di luar jam pelajaran
dalam bentuk penugasan ke-pada siswa atau dalam waktu khusus yang sengaja
disiapkan pada akhir semester, atau pertengahan semester. Teknis penggunaan
lingkungan belajar hendaknya ditempatkan sebagai media maupun sebagai
sumber belajar dalam hubungannya dengan materi bidang studi yang relevan.
Dengan demikian lingkungan dapat berfungsi untuk memperkaya materi
pengajaran, memperjelas prinsip dan konsep yang dipelajari dalam bidang studi
dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa.

C. Langkah dan Prosedur Penggunaan


Menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses
pengajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang saksama dari para guru.

64
Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa bisa tidak terkendali,
sehingga tujuan pengajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan
belajar yang diharapkan.
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan
lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yakni langkah persiapan,
pelaksanaan, dan tindak lanjut.

Langkah persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan ini, antara
lain:
1. Dalam hubungannya dengan pembahasan bidang studi tertentu, guru dan
siswa menentukan tujuan belajar yang diharapkan diperoleh para siswa
berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar.
Misalnya siswa dapat menjelaskan proses kerja pembangkit listrik tenaga air.
Atau siswa dapat menjelaskan struktur pemerintahan tingkat kecamatan. Siswa
dapat mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan dan hewan di daerahnya.
2. Tentukan objek yang harus dipelajari dan dikunjungi. Dalam menetapkan
objek kunjungan tersebut hendaknya diperhatikan relevansi dengan tujuan
belajar, kemudahan menjangkaunya misalnya cukup dekat dan murah
perjalanannya, tidak memerlukan waktu yang lama, tersedianya sumber-
sumber belajar, keamanan bagi siswa dalam mempelajarinya serta
memungkinkan untuk dikunjungi dan dipelajari para siswa.
3. Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan. Misalnya
mencatat apa yang terjadi, mengamati suatu proses, bertanya atau wawancara
dengan petugas dan apa yang harus ditanyakannya, melukiskan atau
menggambarkan situasi baik berupa peta, sketsa, dan lain-lain, kalau mungkin
mencobanya dan kegiatan lain yang dianggap perlu. Di samping itu ada
baiknya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi
tugas khusus dalam kegiatan belajarnya.
4. Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika diperlukan. Misalnya membuat
dan mengirimkan surat permohonan untuk mengunjungi objek tersebut agar
mereka dapat mempersiapkannya. Dalam surat tersebut dijelaskan kegiatan

65
belajar dan tujuan yang diharapkan dari kunjungan tersebut. Hal ini penting
agar petugas di sana mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
5. Persiapan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar, seperti tata tertib di
perjalanan dan di tempat tujuan, perlengkapan belajar yang harus dibawa,
menyusun pertanyaan yang akan diajukan, kalau ada kamera untuk mengambil
foto, transportasi yang digunakan, biaya, makanan atau perbekalan,
perlengkapan P3K.
Persiapan tersebut dibuat guru bersama siswa pada waktu belajar bidang studi
yang bersangkutan, atau dalam program akhir semester.

Langkah pelaksanaan
Pada langkah mi adalah melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai
dengan rencana yang telah dipersiapkan. Biasanya kegiatan belajar diawali
dengan penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi sesuai dengan
permintaan yang telah disampaikan sebelumnya. Dalam penjelasan tersebut, para
siswa bisa mengajukan beberapa pertanyaan melalui kelompoknya masing-masing
supaya waktunya bisa lebih hemat Catatlah semua informasi yang diperoleh dari
penjelasan tersebut Setelah informasi diberikan oleh petugas, para siswa dengan
bimbingan petugas melihat dan mengamati objek yang dipelajari. Dalam proses
ini petugas memberi penjelasan berkenaan dengan cara kerja atau proses kerja,
mekanismenya atau hal lain sesuai dengan objek yang dipelajarinya. Siswa bisa
bertanya atau juga mempraktekkan jika dimungkinkan serta mencatatnya.
Berikutnya para siswa dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil belajarnya,
untuk lebih melengkapi dan memahami materi yang dipelajarinya.
Akhir kunjungan dengan ucapan terima kasih kepada petugas dan
pimpinan objek tersebut Apabila objek kunjungan suatnya bebas dan tak perlu ada
petugas yang mendampinginya, seperti kemah, mempelajari lingkungan sosial,
dan lain-lain, para siswa langsung mempelajari objek studi mencatat dan
mengamatinya atau mengadakan wawancara dengan siapa saja yang menguasai
persoalan.

Tindak lanjut

66
Tindak lanjut dari kegiatan belajar butir b) di atas adalah kegiatan belajar di kelas
untuk membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan. Setiap
kelompok diminta melaporkan hasil-hasilnya untuk dibahas bersama.
Guru dapat meminta kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan
belajar tersebut, di samping menyimpulkan materi yang diperoleh dan
dihubungkan dengan bahan pengajaran bidang studinya. Di lain pihak guru juga
memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang
dicapainya. Tugas lanjutan dari kegiatan belajar tersebut dapat diberikan sebagai
pekerjaan rumah, misalnya menyusun laporan yang lebih lengkap, membuat
pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan hasil kunjungan, atau membuat
karangan berkenaan dengan kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan
belajarnya.
Memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan penggunaan lingkungan
sebagai media dan sumber belajar banyak manfaatnya baik dari segi motivasi
belajar, aktivitas belajar siswa, kekayaan informasi yang diperoleh siswa,
hubungan sosial siswa, pengenalan lingkungan, serta sikap dan apresiasi para
siswa terhadap kondisi sosial yang ada di sekitarnya.
Proses pengajaran yang mengoptimalkan lingkungan sebagai media dan
sumber belajar dikenal dengan pendekatan ekologis. Dalam upaya pembaharuan
kurikulum melalui kurikulum muatan lokal pendekatan lingkungan (ekologis)
mutlak diperlukan sehingga lingkungan di sekitarnya betul-betul menjadi tujuan
dan sumber belajar para siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.

67
Rangkuman

Lingkungan sebagai media dan sumber belajar para siswa dapat dioptimalkan
dalam proses pengajaran untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa di
sekolah. Prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media dan
sumber belajar ditempuh melalui beberapa cara antara lain survey, berkemah,
karyawisata pendidikan, praktek lapangan, pelayanan pada masyarakat, manusia
sumber. Ada tiga macam lingkungan belajar yakni lingkungan sosial, lingkungan
alam, dan lingkungan buatan.
Agar penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar berhasil
baik hendaknya dipersiapkan secara seksama melalui tiga tahapan kegiatan yakni
tahap persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Dalam setiap tahapan di atas
hendaknya dilibatkan guru dan siswa sehingga semua kegiatan belajar dan
pemanfaatan lingkungan belajar menjadi tanggung jawab para siswa itu sendiri.

Latihan :
1. Berikan contoh bahwa lingkungan adalah merupakan salah satu media
pembelajaran!
2. Keuntungan apa yang dapat diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan
dalam proses belajar ?
3. Mengapa lingkungan harus dioptimalkan sebagai media pembelajaran dan
dapat dijadikan sebagai sumber belajar siswa !
4. Ada tiga macam lingkungan belajar sebagai media pembelajaran dan sumber
belajar, sebut dan jelaskan !

68
BAB 5
PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan kajian bab ini, pembaca diharapkan dapat


memahami tentang media pembelajaran suatu kebutuhan, perumusan tujuan
pengajaran, mengembangkan bahan ajar, visualisasi pesan pengajaran serta
pembuatan media pembelajaran.

A. Media Pembelajaran Suatu Kebutuhan


Kebutuhan belajar siswa adalah kesenjangan antara kemampuan dan
keterampilan yang dimiliki siswa saat ini dengan kemampuan dan keterampilan
yang kita harapkan akan dimiliki siswa. Misalnya kalau yang kita inginkan adalah
siswa dapat membaca dan menulis, sedang saat ini siswa baru dapat menulis saja
maka kebutuhan adalah belajar membaca. Apa yang kita inginkan dapat dimiliki
siswa dapat kita lihat dalam kurikulum. Materi kurikulum itu oleh guru biasanya
dijabarkan ke dalam satuan-satuan pelajaran. Pada setiap akhir caturwulan siswa
dituntut menguasai suatu hasil belajar tertentu. Sedangkan pada awal caturwulan.
pada umumnya siswa belum menguasai apa yang dituntut padanya. Kesenjangan
kemampuan itulah yang menjadi kebutuhan belajar siswa pada caturwulan
tersebut. Kebutuhan belajar ini harus digunakan oleh guru sebagai rujukan dalam
menyusun materi pelajaran yang perlu diberikan ke pada siswa. Sebab itu jika kita
akan membuat media pengajaran, program media itu juga harus disesuaikan
dengan kebutuhan belajar siswa itu.
Jadi kalau Anda akan membuat media pengajaran, harus jelas dalam
pikiran Anda siapa siswa Anda, bagaimana karakteristiknya dan apa kebutuhan
belajarnya.

B. Perumusan Tujuan Pengajaran


Di muka telah dibicarakan bahwa kalau kita mengajar. kita perlu
mengetahui kebutuhan belajar siswa. Dalam sistem pendidikan sekolah,
kebutuhan belajar itu telah dijabarkan dalam kurikulum dalam bentuk topik-topik
atau pokok-pokok bahasan yang perlu diajarkan pada,siswa.

69
Supaya kita dapat mengajar secara efektif dan efisien kita harus dapat
merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus untuk setiap topik dan pokok
bahasan itu. Tujuan ini hanya mencerminkan kemampuan dan keterampilan yang
harus dimiliki siswa berkaitan dengan topik atau pokok bahasan itu.
Tujuan pengajaran itu sangat penting karena dapat menjadi tolok ukur
berhasil tidaknya pengajaran kita. Kalau tujuan tercapai, itu berarti bahwa siswa
memiliki kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan yang berkaitan dengan
topik-topik atau pokok bahasan yang bersangkutan. Bila siswa telah menguasai
topik atau pokok bahasan itu, dapatlah diartikan bahwa kebutuhan belajarnya telah
terpenuhi.

Tujuan pengajaran itu perlu dirumuskan dengan mengikuti beberapa


ketentuan sebagai berikut:
1. Tujuan itu berupa kalimat penyataan yang menyatakan kemampuan atau
keterampilan yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti kegiatan
pengajaran tertentu. Tujuan itu menyatakan dengan jelas perilaku yang
diharapkan dapat dilakukan siswa.
2. Tujuan itu harus jelas subjeknya atau pokok kalimatnya, yang menjadi subjek
atau pokok kalimat itu adalah siswa atau sasaran didik. Seyogianya subjek itu
jelas dan spesifik.

Contoh:

1. Siswa dapat menghitung satu sampai dua puluh.


2. Siswa TK dapat menghitung satu sampai dua puluh.

Kedua rumusan di atas telah dirumuskan dengan betul. Tetapi tujuan


pada contoh kedua lebih jelas dan lebih baik, karena subjeknya lebih spesifik.
3. Tujuan harus mengandung kata kerja yang mencerminkan perilaku yang
diharapkan dapat dilakukan siswa. Pada tujuan khusus kata kerja yang
digunakan harus operasional. Artinya kata kerja itu mencerminkan perilaku
yang dapat diamati atau dapat diukur. Pada tujuan umum kata kerja yang
digunakan boleh kala kerja tak operasional, boleh juga kata kerja operasional.
Yang membedakan tujuan khusus dari tujuan umum itu bukan kata kerjanya,
melainkan luas cakupannya.

70
4. Tujuan yang lengkap menyebutkan juga tingkat keberhasilan yang harus
dicapai siswa.

Contoh:
Siswa SD kelas I dapat menghitung satu sampai empat puluh tanpa
kesalahan.
Tanpa kesalahan, dalam tujuan di atas menunjukkan tingkat keberhasilan yang
diharapkan.

5. Tujuan yang lengkap menyebutkan juga kondisi yang harus dipenuhi saat hasil
belajarnya , dievaluasi.

Contoh :

Siswa SD kelas I dapat menjumlahkan angka sampai sepuluh tanpa bantuan


jari atau lidi atau benda lainnya.
Tanpa bantuan jari, atau lidi atau benda lainnya, dalam tujuan di atas adalah
kondisi yang harus dipenuhi.
Karena media pengajaran itu digunakan untuk membantu siswa belajar, waktu
kita membuat media pengajaran kita juga harus menentukan tujuan yang ingin
dicapai. Kita harus telah mempunyai gambaran yang jelas mengenai
kemampuan apakah yang diharapkan akan dimiliki siswa setelah belajar
dengan menggunakan media itu.

C. Pengembangan Bahan Ajar

Setelah tujuan pengajaran dirumuskan, langkah berikutnya ialah


memikirkan bagaimanakah carinya agar tujuan itu dapat dicapai atau
bagaimanakah caranya supaya siswa memiliki kemampuan atau dapat melakukan
keterampilan yang diharapkan.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dalam belajar siswa itu melalui
tiga proses, yaitu (a) menerima informasi, (b) memahami informasi itu, (c)
menggunakan informasi itu dalam kehidupan. Jadi supaya siswa dapat melakukan
keterampilan tertentu mereka perlu (a) memperoleh informasi mengenai cara
melakukan keterampilan itu, (b) memahami cara melakukan keterampilan itu, dan
(c) dapat mempraktekkan keterampilan itu.

71
Kalau kita kembali pada pertanyaan: Bagaimanakah caranya supaya tujuan
dapat tercapai, maka jawabannya yang dapat diberikan ialah:

1. Tujuan pengajaran itu harus diurai menjadi kemampuan-kemampuan yang


lebih sempit. Dalam merinci kemampuan-kemampuan itu kita selalu bertanya:
Kemampuan-kemampuan apakah yang harus dimiliki siswa sebelum mereka
dapat mencapai tujuan? Setelah itu setiap kemampuan yang lebih sempit
(kalau dapat) diurai lagi menjadi kemampuan-kemampuan yang lebih sempit
lagi. Kalau hal tersebut dilakukan dengan cermat kita tentu akan memperoleh
materi pelajaran yang rinci yang berbentuk kemampuan-kemampuan yang
dapat mendukung tercapainya tujuan. Kalau semua kemampuan yang lebih
sempit itu dapat dikuasai siswa, tujuan pengajaran tentu dapat tercapai.
2. Rincian kemampuan itu harus di informasikan kepada siswa.
3. Perlu diusahakan supaya siswa memahami atau menguasai kemampuan-
kemampuan itu.
4. Perlu diusahakan supaya siswa dapat mempraktekkan atau menerapkan
kemampuan itu.

Peranan media dalam proses belajar di atas ialah sebagai penyalur


informasi. Media yang dikembangkan dengan baik diharapkan juga dapat
membantu siswa dalam memahami dan menggunakan informasi itu.
Kalau Anda membuat media pengajaran yang independen seperti film,
video, atau film bingkai, semua kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan itu dapat diinformasikan melalui media itu. Tetapi kalau Anda
membuat media dependen yang akan digunakan guru sebaiknya alat bantu
mengajar, Anda dapat memilih materi tertentu saja yang dimediakan. Tentu saja
materi yang dipilih ialah materi yang dapat disajikan lebih baik melalui media
daripada hanya melalui penjelasan lisan dari guru.

D. Visualisasi Pesan Pengajaran

Seorang guru kelas I SD menerangkan secara lisan dengan panjang lebar


tentang apa yang dimaksud dengan benda hidup? Bagaimana ciri-cirinya? dan
sebagainya.

72
Guru tersebut sedang menyampaikan pesan pengajaran atau pengalaman
belajar dengan kata-kata. Ternyata pengalaman serupa ini sukar dimengerti siswa
dan cenderung membuat isi pelajaran kurang menarik dan mudah dilupakan.
Sebagai contoh, kalau siswa mendengar atau membaca bahwa ciri-ciri
benda hidup antara lain makan, minum, bernapas, tumbuh dan berkembang biak,
mungkin kata-kata itu tidak berarti apa-apa, kecuali ia pernah mengalaminya. Apa
yang dilakukan dan dialaminya itu merupakan pengalaman langsung. Tidak
seperti pengalaman dengan kata-kata. Ternyata untuk siswa SD pengalaman nyata
lebih mudah dimengerti. Hal ini terjadi karena pengalaman langsung itu
mengikutsertakan semua indera dan akal. Namun demikian penyampaian pesan
pengajaran melalui pengalaman langsung ini banyak keterbatasannya. Artinya
siswa harus tetap belajar walau tanpa mengalami sendiri. Oleh karena itu
diperlukan pengganti pengalaman nyata tersebut (pelajari kembali kerucut
pengalaman Edgar Dale). Tentunya timbul pertanyaan, bagaimana caranya? Salah
satu di antaranya adalah dengan memvisualisasikan pesan pengajaran.
Visualisasi pada dasarnya merupakan upaya penyampaian pesan
pengajaran melalui pengalaman melihat. Upaya ini didasarkan pada prinsip-
prinsip psikologis bahwa seseorang akan memperoleh pengertian yang lebih baik
dari sesuatu yang dilihatnya daripada sesuatu yang didengarnya. Namun demikian
perlu disadari bahwa tidak ada bentuk visual dari pesan pengajaran yang
sepenuhnya nyata. Hal ini disebabkan adanya tingkat realisme isi pesan yang akan
disampaikan. Memang pengajaran akan lebih efektif apabila materi pengajarannya
dan pesan pengajarannya yang akan disampaikan dapat divisualisasikan serealitis
mungkin. Namun demikian tidaklah berarti bahwa dalam membuat media, benda
atau objek itu harus digambarkan persis seperti keadaan sebenarnya.
Misalnya. sebuah peta wilayah dalam mata pelajaran IPS. Bila pela
tersebut dibuat dalam bentuk relief yang mencantumkan semua hal yang terdapat
di wilayah itu, peta relief itu mungkin akan menjadi sangat rumit atau kompleks
sehingga sulit dipelajari. Begitu pula kalau untuk menjelaskan peredaran darah
manusia. Anda menggambarkan bagian dalam tubuh manusia secara lengkap dan
rinci, gambar itu mungkin akan terlalu rumit sehingga tak banyak membantu
siswa dalam memahami peredaran darah.

73
Gambar. Visualisasi Ciri-ciri Benda Hidup

Dalam memvisualisasikan pesan Anda perlu memperhatikan dua hal yaitu:


(1) tingkat perkembangan dan (2) latar belakang budaya siswanya. Untuk siswa
SD visualisasi pesan seyogianya tidak disampaikan secara keseluruhan tetapi tidak
lebih tepat bila divisualisasikan bagian demi bagian. Hal di alas sesuai dengan
tingkat perkembangan siswa SD. Penyesuaian itu penting sebab jiwa seseorang
mempengaruhi keterbacaan visualnya. Penerimaan siswa terhadap pesan-pesan
visual juga mempengaruhi latar belakang budayanya. Siswa yang memiliki latar
belakang budaya yang berbeda akan menyimak pesan-pesan visual secara berbeda
pula. Karena itu pesan visual yang disajikan untuk siswa SD di kota besar
seyogianya berbeda dari yang disajikan untuk siswa SD di pedesaan. Sebab itu
pesan visual perlu disesuaikan dengan latar belakang budaya, pengalaman belajar
sebelumnya, atau pengetahuan awal siswa yang menjadi sasaran program media
yang dibuat.

E. Pembuatan Media Pengajaran

Telah disinggung sebelumnya bahwa pembuatan media pengajaran


hendaknya selalu berorientasi pada tujuan pengajaran khusus, materi pengajaran
dan telaah karakteristik sasaran program media. Berikut ini akan disajikan cara-

74
cara pembuatan media gambar sederhana, diagram, peta timbul, poster, papan
flanel, papan magnet, papan buletin, mock up, diorama serta transparansi.

1. Pembuatan gambar sederhana

Bahan yang diperlukan:


a. kertas manila
b. penggaris
c. jangka
d. pensil
e. spidol
f. penghapus

Gambar: Visualisasi Pesan dengan Gambar Sederhana

Cara membuatnya:

Kalau bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia, pekerjaan selanjutnya


adalah:
a. Membuat sketsa lebih dahulu dengan pensil (penggaris, jangka, penghapus) di
atas kertas yang telah tersedia.
b. Jika sketsa sudah baik, tebalkan garis-garisnya dengan spidol.
c. Simpanlah hasilnya dengan baik dan gunakan pada saat yang diperlukan.

2. Pembuatan Diagram Bel Listrik:Bahan yang diperlukan:

a. kertas manila
b. pensil

75
c. penggaris
d. jangka
e. spidol .
f. simbol-simbol dan informasi cara kerja bel listrik, dan
g. gunting

Gambar: Diagram Bel Listrik

Cara membuatnya:

Jika bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia, pekerjaan selanjutnya adalah:

a. gunting kertas sesuai dengan ukuran yang diperlukan


b. buatlah sketsa lebih dahulu dengan pensil
c. perhatikan apakah penggunaan simbol-simbolnya sudah tepat
d. Jika sketsa sudah baik, tebalkan garis-garis dengan spidol
e. Simpanlah hasilnya dengan baik dan gunakan pada saat yang tepat

3. Pembuatan Peta Timbul

Bahan yang diperlukan:


a. kertas bekas
b. tanah liat
c. perekat kanji
d. cat berwarna
e. tripleks
f. kertas layang-layang

76
Gambar: Peta Timbul

Cara membuatnya:

Jika bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia, pekerjaan selanjutnya adalah:


a. membuat bentuk peta yang menggambarkan gunung dan lembah beserta
kelengkapannya dari tanah liat dan barang bekas di atas papan atau tripleks,
lalu keringkan.
b. setelah kering, semua permukaan bentuk tanah liat itu dibasahi dengan air
sabun.
c. menempelkan kertas bekas yang telah dirobek-robek (2x10 cm) dengan
perekat kanji menutupi semua permukaan tanah liat itu (± 10 lapis) ada
baiknya bila tempelan kertas itu dilebihkan sedikit melewati kaki bentuk tanah
liat itu supaya nantinya dapat ditempelkan pada alas yang permanen.
d. menempelkan kertas layang-layang pada sebuah permukaan yang telah
dilapisi dengan kertas bekas.
e. keringkan.
f. setelah kering, lapisan kertas dilepas dari acuan tanah liat dan kakinya
direkatkan pada alas tripleks yang telah disiapkan.
g. lapisan kertas yang sudah berbentuk dan tertempel pada alas tripleks itu
kemudian diberi warna yang sesuai.

4. Pembuatan Poster dengan Cetak Soring (Stensil atau Sablon)

Bahan yang diperlukan:

77
a. saringan monil
b. bingkai (ukurannya harus lebih besar dari ukuran gambar yang dihasilkan)
c. papan landasan
d. pelumar
e. kertas pembatas
f. pisau penyayat
g. rak pengering
h. kertas transparan.

Gambar: Cetak Saring

Gambar: Poster

Cara membuatnya:

78
Pembuatan poster dengan cetak saring dilakukan melalui dua tahap, yaitu
(1) membuat sablon, dan (2) mencetak.

1) Membuat sablon
Membuat sablon bisa dilakukan dengan banyak cara.
Sedang cara yang paling mudah dan paling murah adalah membuat sablon
dengan kertas sebagai bahan penutup monil. Kertas yang digunakan harus tipis
dan tidak menyerap. Bahan penutup tidak boleh larut bila terkena bahan warna
yang digunakan untuk mencetak. Misalnya kalau kita membuat sablon dengan
bahan penutup kertas, gunakan cat dengan pelarut bukan air. Sebaliknya kalau
bahan penutupnya monil tahan air, kita dapat menggunakan bahan warna dengan
pelarut air.

Cara membuatnya:

a. siapkan gambar utama yang diperlukan;


b. letakkan gambar itu di atas papan landasan pada tempat yang telah dibatasi
dengan kertas pembatas;
c. letakkanlah kertas transparan di atas gambar yang telah disiapkan sebelumnya,
kemudian rekatkan keempat sudutnya dengan -ita perekat ke papan landasan;
d. tandailah kertas transparan yang digunakan dengan pensil tepat pada bagian-
bagian yang akan disayat;
e. sayatlah dengan pisau penyayat bagian-bagian yang harus meluluskan bahan
warna, sesudah itu tanggalkan;
f. lepaskanlah pita perekat yang merekatkan pita transparan dengan hati-hati.
Jaga supaya kedudukan pita tersebut tidak bergeser dari tempat semula.
Caranya dengan melepas pita perekat yang menempel pada satu sudut kertas
transparan lebih dahulu. Sesudah itu mengangkat ujung kertas itu.
Pasanglah pita perekat lagi antara kertas transparan dengan gambar utama.
Bagian yang mengandung perekat menghadap ke atas. Dengan cara yang sama
lakukan pula pada ketiga ujung yang lain;
g. turunkan bingkai, rekatkan kertas transparan pada monil dengan menekan
sedikit lem cair pada beberapa tempat melalui monil;

79
h. sediakan cat yang sedikit kental untuk menempelkan kertas transparan ke
monil;
i. angkat bingkai dan ganti kertas gambar dengan selembar kertas yang akan
dicetak;
j. sapukan cat pada permukaan monil dengan pelumar;
k. selanjutnya monil siap digunakan untuk mencetak.

Cara pembuatan di atas memerlukan ketelitian dan kerajinan, terutama


dalam menempelkan kertas transparan kc monil. Saat ini ada cara yang lebih
praktis yaitu dengan menggunakan sticker.
Ada dua macam tlicker yang tersedia di toko sablon, yaitu sticker kertas
dan sticker vinyl. Dengan menggunakan sticker sebagai pengganti kertas
transparan, cara mengerjakannya menjadi lebih mudah. Ini disebabkan kertas
khusus dan vinyl yang harus ditempelkan pada monil punggungnya mengandung
perekat sehingga lebih mudah menempelkannya ke monil. Dalam perkembangan
berikutnya, di samping dengan menggunakan kertas atau sticker, pembuatan
sablon dapat juga dilakukan dengan beberapa cara lain yaitu (1) campuran diasol
dan kalium bikhromat, (2) transfer film, (3) lem cair dan lacquer, (4) tushe dan
lem cair, serta (5) lem cair.

2) Mencetak
Jika sablon sudah dibuat, maka langkah berikutnya adalah mencetak.
Sebelum mencetak perlu diperhatikan hal-hal berikut: (1) apakah semua peralatan
yang diperlukan sudah tersedia, (2) siapkan cat yang diperlukan, (3) tentukan letak
yang tepat bagi kertas-kertas yang akan dicetak, dengan meletakkan kertas-kertas
pembatas pada sisi bawah dan sisi kiri, (4) jagalah ketepatan keenceran cat.
Hal ini dapat dilihat dari hasil cetakannya. Kalau sekali sapuan pelumar
dapat menghasilkan cetakan yang baik dan kertas tidak melekat pada monil
keenceran cat itu sudah baik, (5) jagalah supaya tidak ada cat yang merembes
pada bagian monil yang seharusnya tertutup. Bila hal-hal di atas sudah benar-
benar disiapkan dengan baik, maka kegiatan mencetak bisa dimulai.
Pembuatan poster dengan cetak saring ini dapat dilakukan dengan satu
warna atau lebih. Cara yang telah diterangkan di atas adalah cara-cara pembuatan

80
poster dengan satu warna. Kalau dikehendaki lebih dari satu warna, maka harus
disiapkan sablon sebanyak warna itu pula. Sablon pertama untuk warna pertama,
sablon kedua untuk warna kedua dan seterusnya. Kalau sudah tersedia sablon
yang diperlukan, yang penting adalah menjaga agar tiap sablon dapat ditempatkan
di tempat yang sama seperti sablon yang terdahulu. Hanya perlu diingat bahwa
sebelum menyapu warna berikutnya, warna terdahulu harus kering betul lebih
dahulu.

5. Pembuatan Papan Flanel

Bahan yang diperlukan:


a. tripleks
b. laken, flanel
c. paku
d. gunting / pemotong
e. alat penyerut
f. kertas gosok

Gambar: Papan Flanel

Cara membuatnya:

Jika bahan yang diperlukan sudah tersedia, maka pekerjaan selanjutnya adalah:

a. memotong tripleks sesuai dengan ukuran yang dikehendaki


b. memotong laken atau flanel dengan ukuran yang sesuai, ukuran laken lebih
besar dari ukuran tripleks agar ada bagian laken yang dapat dilipatkan ke
bagian belakang tripleks untuk dilekatkan atau dipakukan

81
c. memberi bingkai pada bagian pinggir tripleks itu agar penampilan menjadi
kuat menarik.

d. membuat dudukan atau gantungan papan sehingga akan memudahkan dalam


penggunaannya.

6. Pengembangan OHT dan OHP

Dalam mengembangkan media ini pada dasarnya kita melakukan kegiatan


perancangan dan pembuatan.
Dalam merancang media OHT perlu diperhatikan beberapa prinsip yaitu:

a. Kesederhanaan
Konsep materi yang disajikan harus sederhana, jelas, mudah dibaca dan
mudah dipahami.

b. Kekompakan
Bagian-bagian yang divisualisasikan harus menunjukkan kekompakan dan
kesatuan fungsi.

c. Keseimbangan
Rancangan media harus memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan
sehingga pesan yang disajikan memiliki kesan dinamis atau statis tergantung
dari keseimbangan mana yang dianut.

d. Penekanan

Identifikasi pesan-pesan pengajaran tertentu yang perlu mendapat tekanan atau


penonjolan. Penekanan atau penonjolan dapat dilakukan dengan memperbesar,
memperjelas, mewarnai atau dengan cara lainnya.
Jika kegiatan perancangan telah dilakukan, maka kegiatan berikutnya
adalah membuat media transparansinya. Ada dua cara pembuatan transparansi
yaitu dengan (1) proses langsung dan (2) proses tidak langsung. Proses langsung
adalah proses pembuatan media transparansi dengan jalan menggambarkan
pesannya langsung pada proses transparansi itu. Sedang proses tidak langsung
adalah proses pembualan media transparansi dengan memindahkan gambar atau

82
tulisan yang mengandung pesan pengajaran yang sudah dipersiapkan pada bahan
lain ke transparansi dengan cara membuat foto copy-nya.

83
a. Proses Langsung

Pada proses langsung ini, kita dapat menggunakan alat, antara lain (1)
feltpen dan (2) letter press. Ada dua macam feltpen untuk transparansi, yaitu yang
mudah dihapus dan bersifat permanen. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
a. pena (spidol)
b. film OHT (transparan)
c. alkohol
d. kapas
e. pena rotring
f. tinta
g. penggaris
h. gunting / pemotong
i. masking tape
j. letter press
k. mounting frame (bingkai)
l. kertas milimeter
m. jangka
n. penggosok

b. Proses Tidak Langsung

Proses tidak langsung ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1)
menggunakan proses diazo dan (2) menggunakan thermofax.

Proses diazo adalah proses yang menggunakan uap amonia. Master yang
akan dikopi dipindahkan ke transparansi. Proses diazo ini menggunakan
penyinaran dengan sinar ultra violet. Kemudian transparansi dimasukkan ke
dalam tabung yang dialiri uap amonia. Kelebihan proses ini adalah dapat
menghasilkan gambar yang tahan lama dan dengan warna yang cemerlang.

Pada proses thermofax harus dipersiapkan gambar atau tulisan yang berisi
pesan pada kertas HVS, kemudian difotokopi. Hasil foto kopi ini dipindahkan ke
transparansi melalui proses thermal. Bahan yang diperlukan pada proses ini:

84
a. Pensil
b. Penggaris
c. Jangka
d. pena rotring
e. penghapus
f. tinta gambar
g. gunting / pemotong
h. transparansi
i. thermofax
j. bingkai
k. kertas
l. mesin fotokopi

7. Pembuatan Papan Magnetik

Bahan yang diperlukan pada proses ini:


a. tripleks (warna sesuai yang dikehendaki)
b. pelat besi
c. mesin bor
d. alat penyerut
e. kertas gosok
f. paku
g. palu
h. obeng
i. alat pemotong
j. cat
k. kikir
l. potongan potongan magnet
m. pelat Aluminium siku (profil)

85
Gambar: Papan Magnetik
Cara membuatnya:

Jika bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia, pekerjaan selanjutnya adalah:


a. memotong pelat besi dan tripleks sesuai dengan ukuran yang dikehendaki
(ukuran standar papan tulis).
b. meratakan permukaan tripleks dan pelat besi dengan menggunakan alat
penyerut, kikir dan kertas gosok.
c. melubangi bagian-bagian tertentu dari pelat besi (tempat paku) dengan
menggunakan mesin bor.
d. melapiskan tripleks dan pelat besi menjadi satu kesatuan dengan
menggunakan paku dan sekrup.
e. memberi bingkai aluminium pada semua sisi papan magnet.
f. mengecat permukaan pelat besi.

8. Pembuatan Diorama

Bahan bahan yang diperlukan:


a. Kertas
b. karet busa
c. gunting
d. kawat
e. kertas layang-layang
f. karbon
g. lumut-lumutan
h. cat.
i. Lilin
j. tanah liat

86
k. kain bekas
l. sisir
m. kanji

Gambar: diorama

Cara membuatnya:

Jika bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia, pekerjaan selanjutnya adalah:

a. membuat sketsa yang dibuat dan gambar perspektif rencana diorama


disampaikan sesuai dengan pesan pengajaran yang akan dibuat;
b. menyimpan tempat diorama. Tempat diorama ini dapat berupa kotak karton
(misalnya bekas tempat sepatu), kolak kayu, meja, lantai dan sebagainya
sesuai dengan ukuran diorama yang dikehendaki;
c. mengerjakan bagian-bagian diorama secara rinci sesuai dengan yang
direncanakan dalam gambar sketsa. Misalnya membuat pohon-pohonan dari
kawat yang dibalut dengan kertas berwarna, membuat hutan dan semak-semak
dari busa hijau, membuat rumah-rumahan dari karton. membuat orang-
orangan dari tanah liat atau lilin, dan seterusnya ;
d. mewarnai diorama supaya menarik dan lebih hidup.

87
Rangkuman

Seorang guru selalu menginginkan agar pesan pengajaran itu dapat


diterima siswa iya dengan efektif dan efisien. Untuk itu diperlukan media
pengajaran. Dalam kenyataannya di sekolah guru sering kali belum dapat memilih
media yang sesuai. Kesulitan memilih media ini semata-mata bukan disebabkan
oleh ketidakmampuan guru dalam memilih, tetapi mungkin juga karena media
yang sesuai atau diperlukan memang tidak tersedia.

Dalam kondisi demikian guru tersebut diharapkan dapat merancang,


mengembangkan dan membuat sendiri media yang diperlukan (terutama untuk
media sederhana).

Latihan : (Bab V)
1. a. Buatlah suatu media gambar sederhana yang mengacu pada bahwa
pembuatan media pengajaran hendaknya selalu berorientasi pada tujuan
pengajaran khusus, materi pengajaran dan telaah karakteristik sasaran
program media !
b. Tentukan topik pelajaran yang sesuai dengan pembuatan media gambar
sederhana tersebut !

2. Mengapa pesan visual untuk siswa SD perlu disesuaikan dengan latar


belakang budaya, pengalaman belajar sebelumnya, atau pengetahuan awal
siswa yang menjadi sasaran program media yang dibuat ?

88
BAB 6
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan kajian bab ini, pembaca diharapkan dapat


memahami tentang penggunaan media pembelajaran pola dan prosedur.

A. Pola Penggunaan Media Pembelajaran

Di bab sebelumnya telah diuraikan bagaimana memilih media secara


sistematis. Dengan cara demikian prosedur belajar - mengajar diharapkan dapat
berjalan efektif dan efisien.

Namun betapapun canggihnya media yang dipilin. bila tidak digunakan


dengan baik tentunya tidak banyak gunanya. Agar media pengajaran itu efektif,
maka penggunaan media harus direncanakan dan dirancang secara sistematik.
Masalahnya, ada beberapa pola penggunaan media pengajaran yaitu pola
penggunaan media untuk tatanan (1) di dalam kelas. dan (2) di luar kelas.

Gambar: Bagan Pola Penggunaan Media

1. Pada pola penggunaan di dalam kelas, media itu digunakan dengan tujuan
untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Karena itu dalam
merencanakan penggunaan media guru harus mempertimbangkan tujuan
pengajaran. Materi pengajaran dan strategi pengajaran.

89
Contoh:
Misalnya seorang guru telah memiliki OHT dan OHP sebagai media pengajaran
dalam satu satuan mata pelajaran yang direncanakan. Selanjutnya guru itu harus
merencanakan langkah-langkah penggunaannya. Ada beberapa hal yang perlu
dipikirkannya.

a. Apakah media transparansi yang diperlukan telah tersedia. Kalau sudah perlu
diteliti apakah isinya sesuai untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran
yang telah ditetapkan. Selanjutnya perlu juga diteliti apakah isinya sesuai
dengan pokok-pokok materi yang akan diajarkan? Apakah isinya dapat
membantu siswa memahami konsep-konsep yang akan dipelajari?
Kalau media transparansi itu belum tersedia, perlu dipikirkan bagaimana cara
mengadakannya. Kalau transparansi itu harus dibuat sendiri, ada beberapa hal
yang harus dilakukan guru. Pertama guru perlu mengidentifikasi pokok-pokok
isi pelajaran yang akan dituangkan dalam transparansi itu. Sebaiknya pokok-
pokok isi ini dapat dirakit dalam bagan sederhana, gambar-gambar, atau kata-
kata yang dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan.
Kedua guru perlu menuangkan bagan, gambar. atau kata-kata kunci tadi ke
dalam transparansi. Untuk menggambari atau menulisi transparansi itu. guru
harus menggunakan pen khusus. Penggambaran dan penulisannya harus
dirancang dengan baik supaya, setelah diproyeksikan nanti gambar atau
tulisannya (a) dapat dilihat atau dibaca dengan jelas, (b) mudah dipahami
maknanya, dan (c) memenuhi syarat-syarat keindahan. Perlu juga diingat
bahwa dalam setiap lembar transparansi, pesan yang disajikan sebaiknya tidak
terlalu banyak. Ketiga setelah semua pokok-pokok materi dituangkan dalam
transparansi, guru perlu menyusun transparansi tersebut dalam urutan sajian
yang logis dan teratur.
b. Teknik atau metode apakah yang akan digunakan oleh guru? Transparansi itu
termasuk media dependen. Artinya, media ini biasanya digunakan oleh guru
untuk membantunya dalam menyajikan pelajaran. Efektivitas media ini
tergantung pada guru yang menggunakannya. Sedikitnya transparansi itu dapat
digunakan dengan dua cara. Pertama, transparansi itu digunakan untuk

90
memproyeksi kunci-kunci persoalan di layar. Pemecahan persoalan itu atau
langkah pemecahannya didiskusikan oleh siswa atau oleh siswa dan guru.
Kedua transparansi itu menjadi alat atau penuntun waktu guru memberikan
penjelasan. Kalau teknik ini yang digunakan. guru akan menayangkan
transparansi itu selembar demi selembar. Biasanya guru tidak akan
memperlihatkan isi transparansi itu sekaligus. Melainkan dibuka sedikit demi
sedikit. Biasanya dimulai dari bagian paling atas. Misalnya saja, dalam satu
lembar transparansi itu terdapat lima buah kata kunci. Mula-mula hanya kata
pertama yang diperlihatkan kata-kata yang lain ditutup dengan kertas. Setelah
kata pertama selesai dibicarakan, tutup digeser ke bawah, sehingga yang
tampak sekarang kata pertama dan kedua. Setelah kata kedua selesai
dibicarakan, tutup digeser ke bawah lagi. Demikian dan seterusnya. Maksud
dari cara ini ialah untuk menjaga supaya perhatian siswa tertuju pada masalah
yang sedang dibicarakan itu. Tidak diganggu oleh kata-kata yang belum
dibicarakan.
c. Sebelum pelajaran dimulai, bahkan sebelum bel berbunyi, guru harus mencek
apakah Overhead Proyektornya bekerja dengan baik? Apakah ruangan yang
akan dipakai ada aliran listriknya? Apakah kabel cukup panjang untuk
mencapai stop kontak yang ada? Di manakah layar akan dipasang?
Semua hal tersebut perlu dipikirkan supaya pelaksanaan pengajaran tidak
terganggu oleh tidak berfungsinya alat yang digunakan.

Contoh:

Misalnya seorang guru akan mengajarkan mata pelajaran biologi. Topiknya adalah
jenis dan ciri-ciri binatang buas. Guru ini setelah mengadakan analisis yang
mendalam memilih film atau rekaman video sebagai media pengajaran yang akan
digunakan. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan guru tersebut sebelum
mengajar.
a. Mencari film atau video yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Membuat film atau video itu sangat mahal. Karena itu boleh dikatakan tidak
ada guru yang membuat film atau video sendiri untuk mengajar. Di negara
yang telah maju ada pusat media yang meminjamkan film dan video ke

91
sekolah-sekolah. Di sekolah-sekolah telah tersedia katalog film dan video
lengkap dengan penjelasan mengenai topik, judul, sinopsis dan masa putarnya.
Di Indonesia belum ada pusat media seperti itu. Namun mungkin dapat dicoba
untuk meminjamkannya ke Pustekkom, PPFN, TVRI, Pusat Kateketik di
Yogyakarta atau tempat-tempat lain yang mungkin dapat meminjamkan film
yang bersifat pendidikan. Atau merekam dari siaran Televisi Pendidikan
Indonesia.
Misalkan saja guru di atas telah berhasil mendapatkan film atau video itu.
Langkah pertama yang perlu ia lakukan ialah melihat film atau video itu
selengkapnya. Selama melihat film atau video itu ada beberapa hal yang perlu
dipikirkan. Apakah isi film/video itu dapat menunjang? Apakah mutu filmnya
cukup baik? Apakah isinya tak bertentangan dengan latar belakang
kebudayaan siswa? Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu positif
film/video tersebut dapat digunakan.

b. Bagaimanakah film/video itu akan digunakan?


Film/video termasuk media yang independen. Film/video itu sendiri dapat
menyampaikan informasi atau pesan kepada siswa. Karena itu film/video
dapat digunakan oleh siswa bersama guru atau digunakan oleh siswa sebagai
kegiatan mandiri tanpa guru. Kalau film/video tersebut adalah film/video
instruksional yang tujuan dan isinya sama dengan yang akan diajarkan oleh
guru tersebut film/video itu dapat digunakan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dengan pelajaran di kelas. Dalam situasi seperti itu, guru dapat
menyajikan pokok-pokok isi pelajarannya secara singkat. Selelah itu siswa
dan guru bersama-sama melihat film/video tersebut. Setelah film/video itu
selesai diputar, guru dan siswa mendiskusikan isi pelajaran tersebut secara
lebih rinci. Dengan cara ini siswa dapat serta berperan secara aktif dalam
proses belajar. Kalau isi film/video tersebut hanya dapat digunakan sebagai
bahan pengayaan, atau untuk penguat informasi (reinforcement). film/video
tersebut dapat digunakan dengan cara yang agak berbeda dari cara yang telah
dibicarakan di atas. Dalam hal ini guru perlu mengajarkan semua isi
pelajarannya secara utuh. Setelah itu siswa ditugasi untuk melihat film/video
tersebut secara mandiri atau secara berkelompok di luar jam pelajaran.

92
Kegiatan seperti ini dapat dilakukan bila sekolah memiliki perpustakaan yang
dilengkapi dengan proyektor film dan pemutar video. Siswa dapat melihat
film/video tersebut dengan bantuan petugas perpustakaan.

Setelah siswa melihat film/video itu, pada pertemuan berikutnya guru dan
siswa membicarakan isi pelajaran bersangkutan secara lebih rinci dan lebih
hidup. Dalam kesempatan ini siswa diharapkan dapat berperan serta secara
aktif dalam berdiskusi.

c. Sebelum waktu mengajarnya tiba, guru perlu mencek apakah di kelas yang
akan akan digunakan ada aliran listriknya? Apakah aliran listriknya cukup?
Apakah proyektor filmnya berfungsi dengan baik? Apakah ruangan dapat
digelapkan?
Hal-hal tersebut di atas perlu diteliti supaya pelajaran tak terganggu oleh tidak
berfungsinya peralatan medianya.

2. Penggunaan media pengajaran dengan pola penggunaan di luar kelas, dapat


Anda temui pada beberapa contoh di bawah ini:

Contoh:

Seperti Anda ketahui bahwa senam kesegaran jasmani (SKJ) telah


memasyarakat di Indonesia. Tidak hanya di sekolah bahkan pada kelompok ibu-
ibu PKK-pun SKJ ini juga sudah memasyarakat. Sebagai pengiringnya sudah
beredar pita audio (kaset) SK. Perorangan atau kelompok yang membutuhkan
kaset tersebut dapat membeli dan menggunakannya secara bebas. Pemakaiannya
dapat menggunakan kapan saja, tergantung tujuan yang hendak dicapai si
pemakai.

Contoh:

Pada tanggal 16 Februari 1977 telah diresmikan program penalaran guru-


guru sekolah dasar melalui siaran Radio Pendidikan Kegiatan ini diselenggarakan
oleh Proyek Pembinaan Teknologi Komunikasi Pendidikan Dasar (TKPD).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penataran ini bertujuan untuk
(1) meningkatkan mutu sikap pengetahuan dan kemampuan profesional guru dan

93
calon guru SD. (2) memperluas kesempatan memperoleh pendidikan. (3)
memperkaya sumber belajar, (4) melaksanakan berbagai penerangan pendidikan
dan (5) membantu terciptanya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat geinar
belajar.
Sasarannya adalah guru-guru dan calon guru SD yang berada di daerah
terpencil dan sulit komunikasinya. Program siaran radio ini meliputi mata
pelajaran PMP, Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, IPS, Kesenian, PSPB. Agama
Islam dan Pendidikan Umum.
Program diproduksi di Balai Produksi Media Radio (BPMR) di Semarang
dan BPMR Yogyakarta. Program siaran radio ini dilengkapi pula dengan bahan
informasi tercetak (yang sebut bahan penyerta siaran) dan buku pedoman
pemanfaatan, sebagai pedoman bagi anggota kelompok belajar bagaimana
mengikuti siaran dengan baik. Penyiaran program dilakukan oleh 23 pemancar
RRI, 17 Radio Pemancar Pemerintah Daerah dan 4 stasiun pemancar radio Swasta
Niaga. Setiap program disiarkan dua kali sehari masing-masing selama 20 menit
menurut jadwal yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya peserta siaran didaftar dan cara belajarnya diatur
dalam kelompok belajar yang terdiri dari 6-7 orang guru dan dipimpin oleh
seorang ketua kelompok. Sebelum mendengarkan siaran, peserta siaran
diharapkan telah membaca bahan penyerta siaran, dengan demikian pada saat
mendengarkan siaran. mereka telah mengetahui tentang tujuan yang hendak
dicapai. materi siaran dan bahan-bahan yang diperlukan.
Selesai mendengarkan siaran, kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan
diskusi antar peserta. Kegiatan ini digunakan untuk mendiskusikan materi siaran
dan memperdalam pemahaman mereka. Seandainya ada kesulitan atau penanyaan
yang tidak dapat dipecahkan oleh kelompok, maka peserta dapat mengajukannya
secara tertulis kepada sanggar Tekkom atau langsung ke BPMR Semarang dan
Yogyakarta. Untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan,
kelayakan dan akseptibilitas program, dilakukan kegiatan evaluasi formatif dan
sumatif yang dikoordinasikan oleh Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan
Kebudayaan (Pustekkom), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

94
B. Prosedur Penggunaan Media Pengajaran

Telah diuraikan sebelumnya bahwa media pengajaran seharusnya dipilih


secara sistematik, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien. Ada tiga
langkah pokok dalam prosedur penggunaan media pengajaran yang perlu diikuti.
Yaitu (1) persiapan, (2) pelaksanaan (penyajian, penerimaan), dan (3)
tindak lanjut.

1. Persiapan

Langkah ini dilakukan sebelum menggunakan media. Ada beberapa hal


yang perlu diperhatikan agar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik.
yaitu: (1) pelajari buku petunjuk atau bahan penyerta siaran yang lelah disediakan.
kemudian diikuti petunjuk di dalamnya, (2) siapkan peralatan yang diperlukan
untuk menggunakan media yang dimaksud, (3) tetapkan apakah media tersebut
digunakan secara individual ataukah kelompok? Yakinkan bahwa semua peserta
sudah mengerti tujuan yang hendak dicapai, (4) atur tatanannya, agar peserta
dapat melihat, mendengar pesan-pesan pengajarannya dengan baik.

2. Pelaksanaan (penyajian)

Satu hal yang perlu diperhatikan selama menggunakan media pengajaran


yaitu hindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan, perhatian,
dan konsentrasi peserta.

3. Tidak Lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap
pokok-pokok materi atau pesan pengajaran yang hendak disampaikan melalui
media tersebut. Selanjutnya pada beberapa media yang dilengkapi dengan alat
evaluasi, maka langkah ini dimaksudkan pula untuk melihai tercapai atau tidaknya
tujuan yang ditetapkan. Kegiatan tindak lanjut ini umumnya ditandai dengan
kegiatan diskusi, tes, percobaan, observasi, latihan, remediasi dan pengayaan.

Contoli:

Prosedur Penggunaan Siaran Radio

1) Persiapan

95
Sebelum mendengarkan program siaran radio, terlebih dahulu hams
dipersiapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Sebelum siaran dilaksanakan guru perlu mempersiapkan diri dengan


mengumpulkan informasi dari sumber (buku petunjuk siaran), buku teks,
buletin, jadwal siaran dan sebagainya) yang akan digunakan untuk
mempersiapkan siswa supaya mereka dapat mengikuti siaran dengan baik.
b. Menugaskan siswa untuk mempelajari berbagai sumber di atas yang ada
hubungannya dengan topik program yang akan disiarkan.
c. Menjelang siaran dilaksanakan yakinkan bahwa siswa telah menguasai topik
dan tujuan dari program yang akan didengarkannya.
d. Menjelaskan kepada siswa tentang apa-apa yang perlu disediakan. Misalnya
alat tulis menulis dan sebagainya.
e. Selambat-lambatnya lima menit sebelum program disiarkan radio harus sudah
dihidupkan dan diarahkan pada stasiun pemancar yang akan menyiarkan
program.
f. Meletakkan radio pada posisi sedemikian rupa sehingga guru dapat
mengontrol agar penyajian program tidak terganggu.

2) Pelaksanaan

Pada saat siaran berlangsung maka perlu diperhatikan:

a. Agar siswa berada pada tempatnya sehingga tidak mengganggu program


siaran yang didengarkan.
b. Agar siswa mencatat bagian siaran yang belum jelas, belum dimengerti, untuk
ditanyakan atau didiskusikan setelah siaran berakhir.
c. Agar siswa mengerjakan tugas-tugas (bila ada) sesuai perintah dalam siaran
tersebut.

3) Tindak lanjut

Setelah program siaran selesai, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan antara


lain:

a. Mendiskusikan materi siaran

96
b. Melakukan percobaan, penelitian, tes dan melatih keterampilan sesuai dengan
topik yang disiarkan
c. Menulis laporan
d. Mendramatisasi, melakukan wawancara, dan sebagainya
e. Memberi balikan terhadap program siaran.

Contoh:

Prosedur Penggunaan Tape Recorder dan Pita Audio

Prosedur penggunaan tape recorder dan pita audio tidak jauh berbeda dengan
radio. Penggunaan media ini umumnya meliputi langkah-langkah:

1) Persiapan

Sebelum mendengarkan isi program, terlebih dahulu harus dipersiapkan hal-hal


sebagai berikut:

a. Menentukan topik dan program media yang akan diputar.


b. Menugaskan siswa untuk mempelajari berbagai sumber yang erat kaitannya
dengan topik tersebut.
c. Menjelaskan kepada siswa tentang topik dan tujuan yang hendak dicapai dari
program tersebut.
d. Menjelaskan kepada siswa tentang apa-apa yang perlu disediakan.
e. Mengecek peralatan. Misalnya apakah tape recorder dan pita audionya sudah
siap?
f. Menempatkan tape recorder pada posisi yang memungkinkan seluruh siswa
dapat mendengarkan isi program yang baik.
g. Mengatur tata letak tempat duduk siswa sedemikian rupa sehingga guru dapat
mengontrol agar suasana kelas mampu mendukung penyajian program yang
baik.

2) Pelaksanaan (Penyajian)

Pada saat penyajian program berlangsung perlu diperhatikan:

a. Agar siswa berada pada posisinya sehingga perhatian siswa tercurah pada
sajian program itu.

97
b. Agar siswa mengingat atau mencatat hal-hal yang kurang jelas dan belum
mengerti untuk ditanyakan atau didiskusikan setelah penyajian program
berakhir.
c. Agar dimungkinkan bagi guru untuk menghentikan sementara pita audio,
untuk menjelaskan hal-hal yang perlu mendapat penekanan.
d. Agar menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas (bila ada)
sesuai perintah dalam isi program tersebut.

3) Tindak lanjut

Setelah isi program disajikan, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan antara lain:

a. Mendiskusikan isi program.


b. Melakukan percobaan, penelitian, tes dan melatih keterampilan sesuai dengan
topik.
c. Menulis laporan.
d. Memberikan balikan terhadap program.

Rangkuman

Setelah mempelajari jenis-jenis media dan mampu memilih media


pengajaran yang diperlukan dengan tepat, maka langkah berikutnya adalah
menggunakan media tersebut. Mengingat media pengajaran itu dapat digunakan
untuk berbagai tatanan (setting), termasuk untuk tatanan di dalam kelas, maka
guru atau si pemakai media harus menguasai pola-pola penggunaannya.
Selanjutnya karena media bukan satu-satunya unsur di dalam suatu sistem
pengajaran, sebelum menggunakannya perlu merencanakan langkah-langkah
penggunaannya dengan baik.

Latihan :
1. Bagaimanakah pada penggunaan media pembelajaran yang efektif ?
2. Media pembelajaran bukan satu-satunya unsur di dalam suatu sistem
pembelajaran, bagaimana merencanakan langkah-langkah penggunaan media
dengan baik ?

98
3. Tatanan (setting) pola penggunaan media pembelajaran bisa di dalam kelas
dan di luar kelas. Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran buatlah
contoh masing-masing tatanan tersebut !

99