Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PROSEDUR ANALISIS IBUPROFEN

Disusun untuk memenuhi salahsatu tugas matakuliah Pengembangan metode analisis


dan validasi yang diampu oleh

Ginayanti Hadisoebroto M.Si., Apt

Disusun Oleh :

Dwiki M Ramdhan D1A161331

Neng Puteri Malikal J D1A161337

Seny Lafia D1A161340

Sri Ayu D1A161325

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS AL-GHIFARI BANDUNG

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Pengembangan metode analisis dan validasi yang berjudul “Prosedur
Analisis Ibuprofen” ini dengan baik.

Adapun makalah matakuliah Pengembangan metode analisis dan validasi ini telah
kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan banyak terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah
membantu serta memberi semangat kepada kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu
kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik
kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah matakuliah Pengembangan
metode analisis dan validasi ini.

Penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat menambah wawasan dan
dapat diambil manfaatnya bagi pembaca.

Bandung, November 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar belakang ................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................................ 2
BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................................... 3
2.1 Ibuprofen ........................................................................................................... 3
2.1.1 Morfologi ................................................................................................. 3
2.1.2 Pengertian ................................................................................................. 3
2.1.3 Struktur ..................................................................................................... 3
2.2 Pengembangan Analisis Ibuprofen .................................................................... 4
2.2.1 Metode Klasik .......................................................................................... 4
2.2.2 Metode Modern ........................................................................................ 5
2.2.3 Perbedaan ................................................................................................. 6
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................... 8
3.1 Metode Klasik ................................................................................................... 8
3.2 Metode Modern ................................................................................................. 9
BAB IV PENUTUP ................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pada dasarnya metode analisis terbagi menjadi 2, yakni metode klasik atau metode
konvensional dan metode modern. Metode konvensional,metode gravimetri dan metode
volumetri. Pada tahun 1920-an hampir semua analisis dilakukan dengan metode
konvensional ini. Sementara itu, metode analisis modern lebih mengarah pada
penggunaan alat /instrumen yang canggih. Metode gravimetri mendasarkan pada
penimbangan berat konstan suatu senyawa yang dianalisis, sementara itu metode
volumetri merupakan metode analisis yang mendasarkan pada pengukuran volume
larutan baku yang bereaksi dengan senyawa yuang akan dianalisis dan reaksinya
berlangsung secara kuantitatif. Secara umum metode modern lebih unggul dibanding
dengan metode konvensional, karena metode modern menawarkn kepekaan yang tinggi
(batas reaksinya kecil), jumlah sampel yang diperlukan sedikit, dan waktu pengerjaannya
relatif cepat karena seperti beberapa metode modern (seperti kromatografi), selain dapat
digunakan dalam secara kuantitatif dan juga digunakan untuk melakukan pemisahan
senyawa yang terdapat dalam sampel. Meskipun demikian, tidak selamanya metode
modern memberikan keuntungan dibanding metode konvensional. Penggunaannya yang
meluas tidak menyebabkan metode klasik menjadi using, situasi itu dipengaruhi tiga
factor utama:
1. Peralatan untuk prosedur klasik murah dan mudah didapat dalam semua laboratorium
sedangkan banyak instrument mahal harganya dan penggunaanya hanya akan
dibenarkan jika harus dianalisis banyak contoh
2. Dengan kebanyakan metode instrument diperlukan melakukan operasi kalibrasi
dengan menggunakn suatu contoh bahan yang susunannya diketahui sebagai zat
pembanding; data analisis yang eksak untuk standar ini haruslah ditegakkan oleh
prosedur lain (alternative) yang biasanya akan berarti digunakannya metode kimia
klasik

1
3. Sementara suatu metode instrumental idealnya cocok untuk penetapan rutin yang
berjumlah besar, untuk analisis tak rutin yang hanya kadang-kadangm seringkali
lebih sederhana untuk menggunakan metode klasik daripada susah payah
mempersiapkan standar yang diperlukan dan mengkalibrasi suatu instrument.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana morfologi ibuprofen?
2. Bagaimana perkembangan metodenya analisisnya?
3. Bagaimana proses analisisnya?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami tentang proses perkembangan metode analisis
ibuprofen

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Ibuprofen

2.1.1 Morfologi
Nama kimia : asam 2-(4-isobutil-fenil)-propionat
Pemerian : serbuk kristal berwarna putih, dan tidak berbau
Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah larut dalam etanol
RM/BM : C16H14O3/ 206,285 g / mol
Stabilitas : stabil jika tidak terkena cahaya, atau tidak
terdekomposisi
pH : 1-7,5
pKa : 5.2/4.91

Khasiat : NSAID
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan ditempat kering

2.1.2 Pengertian
Ibuprofen adalah turunan sederhana dari phenylpropionic acid dengan
rumus kimia (±)-2- (p-Isobutilfenil) asampropionat, rumus molekul
C13H18O2 dan bobot molekul 206,28 (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

2.1.3 Struktur

Gambar 2.1 Struktur Kimia Ibuprofen (Kementerian Kesehatan RI,


1995)

3
2.2 Pengembangan Analisis Ibuprofen
Berdasarkan dasar analisisnya, analisis diklasifikasikan menjadi analisis klasik
dan analisis modern.

2.2.1 Metode Klasik


Analisis klasik (analisis kimiawi, analisis konvensional) merupakan analisis
yang berdasarkan sifat kimiawi yaitu reaksi kimia spesies. (Padmaningrum,
2013)
Analisis kuantitatif cara klasik dapat dibedakan berdasarkan besaran yang
diukur yaitu besaran volume (analisis volumetri) dan besaran massa
(analisis gravimetri. Analisis volumetri dibedakan berdasarkan jenis
reaksinya meliputi reaksi asam-basa (asidi-alkalimetri), reaksi pengendapan
(presipitimetri), reaksi pembentukan kompleks (kompleksometri), reaksi
redoks (permanganometri, oksidimetri). Dalam gravimetri dilakukan
pengukuran massa zat hasil reaksi yang berupa padatan atau gas atau
pereaksi yang berupa padatan (Padmaningrum, 2013)
Volumetri adalah metode analisis kimia kuantitatif untuk menentukan kadar
analit dengan menggunakan larutan pereaksi yang konsentrasinya telah
diketahui. Pereaksi harus bereaksi stoikiometri dengan analit dan kadar zat
dihitung dari volume pereaksi yang bereaksi ekuivalen dengan analit
(Satiadarma, 2004). Analisis volumetri yang cocok untuk ibuprofen adalah
reaksi penetralan. Reaksi penetralan adalah suatu cara penetapan kadar suatu
zat (asam atau basa) berdasarkan prinsip netralisasi. Bila sebagai titran
digunakan larutan baku asam, maka penetapan tersebut dinamakan
asidimetri. Sebaliknya bila larutan baku basa sebagai titran, maka penetapan
itu disebut alkalimetri (SA Kulichenko and SO Fessenko, 2003)
Untuk analisis ibuprofen dilakukan titrasi alkalimetri yang merupakan suatu
metode sederhana, akurat, ekonomis, dan merupakan alternatif yang baik
yang telah banyak dilakukan karena jika ditinjau dari nilai pKa, ibuprofen
dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri (The Stationery Office; 2007)

4
Kadar ibuprofen dapat ditetapkan secara titrasi menggunakan larutan NaOH
0.1 N dengan indikator fenolftalein yang dapat bereaksi dengan air sehingga
cincin laktonnya terbuka dan membentuk asam yang berwarna. Metode ini
didasarkan pada perpindahan proton dari zat yang bersifat asam. efek
samping iritasi saluran cerna. (Basset, J, 1994)

2.2.2 Metode Modern


Analisis modern (analisis instrumental) merupakan analisis berdasarkan
pengukuran sifat fisik suatu spesies seperti sifat optik, Analisis modern
memerlukan waktu lebih cepat, dengan langkah/prosedur lebih sederhana,
serta mempunyai sensitifitas lebih tinggi bila dibanding dengan analisis
klasik. Kelebihan lain adalah cara analisis ini dapat digunakan untuk
menentukan analit dalam konsentrasi runudan mikro. Namun karena dasar
analisisnya adalah sifat fisika menyebabkan cara analisis ini mempunyai
jangkauan terbatas dan harus distandardisasi terlebih dahulu dengan metode
klasik. (Padmaningrum, 2013)

a. Spektrofototmetri UV-VIS

Jika dilihat dari strukturnya Ibuprofen memiliki gugus kromofor yang


dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, Menurut Ebeshi, U. B.,
2009, kadar ibuprofen dalam sediaan tablet dapat ditetapkan kadarnya
secara spektrofotometri ultraviolet karena Ibuprofen memiliki serapan
maksimum dalam larutan basa pada panjang gelombang 265 nm (A1
1=18.5a)

b. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 dan USP XXX


tahun 2007

c. Kromatografi Lapis Tipis

5
Metode ini merupakan metode yang mempunyai cara preparasi yang
mudah, waktu pengerjsaan yang singkat, perawatan alat yang mudah
serta biaya yang lebih. Selain itu KLT memiliki sensitivitas yang tinggi

2.2.3 Perbedaan
a. Klasik-Modern
Tabel 1. Perbedaan Metode Analisis Klasik dan Modern
Klasik Modern

Dilakukan dengan menentukan Sensitivitas yang lebih tinggi, limit


berat atau volum. Kurang sensitive, deteksi kecil, jumlah sampel yang
waktu pengerjaan relative lebih sedikit, waktu pengerjaan relatif
lama, ribet, penganalisaan masih lebih cepat menggunakan alat atau
berkaitan dengan ilmu perhitungan instrumen yang canggih,
kimia (stoikiometri) penganalisaan seringkali berkaitan
dengan ilmu-ilmu fisika atomik,
fisika gelombang, dll

b. Modern
Tabel 2. Perbedaan Metode Analisis Modern (Spektro UV Vis dan
KCKT)

Perbandingan Spektrofototmetri UV-VIS Kromatografi Cair


Kinerja Tinggi &
KLT

Prinsip Spektrofotometri Kromatografi

Preparasi Tidak perlu fase gerak Perlu adanya


optimasi komposisi
fase gerak
Biaya Untuk pelarut yang digunakan Fase gerak yang
tidak semahal fase gerak digunakan cukup
KCKT mahal

6
Waktu Tidak memerlukan waktu Waktu analisis
yang lama cukup singkat, tetapi
waktu untuk
mencapai kondisi
stabil
Hasil Analisis Tidak terlalu peka (karena Dapat diketahui
signal berasal dari campuran) kandungan sampel
benar-benar murni
atau tidak (kepekaan
tinggi dalam
analisis)
(A Sabrina, 2013)

7
BAB III
PROSEDUR ANALISIS

3.1 Metode Klasik


a. Alat
Alat yang digunakan terdiri dari batang pengaduk, beaker glass, buret, kaca arloji,
kertas perkamen, labu erlenmeyer, labu ukur 100 ml, 25 ml, dan 5 mL, neraca
analitis, pipet tetes, pipet volume 10 mL, 2 mL, dan 1 mL, plastik wrap, spatel,
spektrofotometer UV, dan statif.
b. Bahan
Bahan yang digunakan adalah aquadest bebas CO2, etanol, serbuk asam oksalat,
serbuk fenolftalein, serbuk ibuprofen, serbuk ibuprofen BPFI, dan serbuk natrium
hidroksida.
c. Prosedur
 Pembuatan Larutan Baku NaOH 0,1 N
Sebanyak 2 gram NaOH ditimbang. Aquadest sebanyak 500 mL dipanaskan
hingga mendidih agar bebas dari CO2. Serbuk NaOH dilarutkan dalam beaker
glass dengan aquadest bebas CO2 lalu diaduk hingga larut dan homogen.
 Pembuatan Larutan Baku Primer Asam Oksalat
Sebanyak 1,57 gram asam oksalat ditimbang dan dilarutkan dalam labu ukur 250
mL dengan aquadest secukupnya, kemudian aquadest ditambahkan sampai tanda
batas.
 Pembuatan Indikator Fenolftalein
Sebanyak 200 mg Fenolftalein ditimbang, dilarutkan dalam beaker glass dengan
etanol 96% sebanyak 60 mL, lalu aquadest ditambahkan hingga 100 mL.
 Pembakuan NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat 0,1 N
Sebanyak 10 mL larutan asam oksalat dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer.
Kemudian, ditambahkan tiga tetes fenolftalein dan dititrasi dengan NaOH. Titrasi
dilakukan sebanyak tiga kali (triplo). Volume NaOH dicatat hingga mencapai titik
akhir titrasi (warna rosa). Normalitas NaOH dihitung.

8
 Penetapan Kadar Ibuprofen
Sebanyak 100 mg ibuprofen dilarutkan dalam etanol 96% (pH netral) dalam labu
erlenmeyer sebanyak 10 mL lalu dititrasi dengan NaOH. Titrasi dilakukan
sebanyak tiga kali (triplo). Volume NaOH dicatat hingga mencapai titik akhir
titrasi (warna rosa). Persentase kadar ibuprofen dalam sampel ditentukan. Hasil
yang didapatkan dibandingkan dengan literatur.

3.2 Metode Modern


a. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
Bahan
HPLC grade Sodium dihydrogen phosphate (NaH2PO4), disodium hydrogen
phosphate Na2HPO4), acetonitrile. Aquabidest
Kondisi HPLC: Kolom yang digunakan terbuat dari stainless steel berukuran
150 mm long, 4.6 mm (Inertsil C18, 5µ , 150 mm x 4.6 mm. fase gerak
acetonitrile : dapar fosfat dengan perbandingan 60:40 (v/v pH 7.0) di suhu
kamar. Laju alir yang digunakan 0.8 ml/min dan UV 260 nm. Larutan stok
standar ibuprofen dilarutkan 25mg/25ml acetonitrile

b. Spektro UV VIS
Spektrofotometri UV
 Pembuatan Larutan Baku Standar
Ibuprofen BPFI ditimbang sebanyak 12,5 mg, dimasukkan dalam labu ukur
25 mL, dan ditambahkan etanol sampai larut lalu ad etanol sampai tanda
batas.
 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum
Larutan baku stok 500 ppm dipipet ke dalam kuvet. Absorbansi diukur pada
rentang 190-380 nm. Dihasilkan panjang gelombang maksimum 266 nm.
 Pembuatan Kurva Baku
Dipipet 4, 3, dan 2,5 mL larutan baku stok 500 ppm, dimasukkan masing-
masing ke dalam labu ukur 5 mL, ad dengan etanol hingga tanda batas

9
sehingga dihasilkan konsentrasi 400 ppm, 300 ppm, dan 250 ppm. Larutan
tersebut diukur pada panjang gelombang maksimum 266 nm. Hasil dibuat
kurva kalibrasi dengan persamaan regresi linier konsentrasi terhadap
absorbansi.
4. Pengukur Kadar Ibuprofen
Sampel ibuprofen ditimbang 25 mg dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
lalu ditambahkan etanol sampai larut dan ad etanol sampai tanda batas.
Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum 266 nm.
c. KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
a) Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain: Lampu UV 254 dan 366 (Camag®),
TLC Scanner 4 dengan software Wincat (Camag®), Pipet Kapiler ukuran 5
µL (Camag®), Twin Chamber ukuran 20 x 20 cm (Camag®), Penotol
Nanomat 4 (Camag®), plat silica gel 60 F254 250 μm (Merck®) ukuran 20 x
20 cm, sonikator, desikator vakum, timbangan digital (type ABJ 220-4M),
corong, gelas ukur (Pyrex), pipet ukur (Pyrex), pipet tetes, spatel, labu ukur
(Pyrex), kertas perkamen, kertas saring (Whatman No. 41).

b) Bahan

Bahan yang digunakan Baku Pembanding Farmakope Indonesia Ibuprofen


didapat dari PT Indo Farma, tablet generik mengandung ibuprofen 200 mg
dari PT Indo Farma (No. Batch CD3F023), tablet ibuprofen dengan nama
dagang Proris® mengandung Ibuprofen 200 mg dari PT Pharos (No. Batch
BN C4G580B), metanol p.a (Emsure®), kloroform p.a (Emsure®), aseton p.a
(Emsure®) dan etil asetat p.a (Emsure®) dari PT Merck. Pengembangan
Metode Analisis Fase diam: Plat Silica gel 60 F254 250 μm.

10
Tabel 3. Fase gerak untuk eluen Ibuprofen (Moffat et al., 2011)

Dari sistem TAD dengan fase gerak kloroform:metanol (9:1) dilakukan


pengembangan yaitu kloroform:metanol (10:1). Fase gerak yang dipilih
adalah fase gerak yang memenuhi kriteria rentang Rf 0,2-0,8 (Watson, 2009).

Pembuatan Larutan Baku

Ibuprofen Ditimbang 1000 mg Ibuprofen masukkan dalam labu ukur 100 mL,
kemudian dilarutkan dalam metanol sambil diaduk dan dicukupkan
volumenya hingga tanda batas. Larutan ibuprofen ini mengandung 10 mg/mL
atau 10.000 ppm.

Penyiapan Sampel

Tablet generik ibuprofen mengandung ibuprofen 200 mg dan tablet ibuprofen


dengan nama dagang Proris® mengandung ibuprofen 200 mg, dua puluh
tablet dari masingmasingnya ditimbang dan dihitung rata-rata beratnya.
Tablet kemudian digerus dan jumlah yang setara dengan berat satu tablet
dilarutkan dalam 50 mL metanol. Larutan tablet generik ibuprofen dan tablet
ibuprofen dengan nama dagang Proris® masing-masingnya mengandung 4
mg/mL atau 4000 ppm. Larutan ini disonikator lalu disaring melalui kertas
Whatman no. 41.

Analisis kualitatif

Larutan Sampel Siapkan plat KLT 20 x 20 cm buat masingmasing garis


penotolan 1 cm dari tepi bawah dan 1 cm dari atas. Larutan standar, sampel
generik dan sampel proris® masing-masing dengan konsentrasi 4 mg/mL atau
4000 ppm ditotolkan 5µL sebanyak 3 totolan pada garis awal dengan jarak
penotolan masing-masingnya 1 cm, masukkan plat kedalam chamber yang

11
telah dijenuhkan dengan fase gerak terpilih tutup chamber dan dibiarkan
sehingga fase gerak bergerak sampai mencapai garis atas. Chamber dibuka,
plat KLT diambil dan dikering anginkan kemudian ditentukan nilai Rf

Linearitas Kurva Baku

Dari larutan standar ibuprofen dibuat larutan bertingkat dipipet masing-


masing secara berurutan 2, 4, 6, 8, dan 10 mL dari larutan standar dalam labu
ukur 10 mL sampai tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10
mg/mL. Ibuprofen untuk kurva baku dibuat dengan menotolkan 5 µL setiap
konsentrasi diterapkan pada plat KLT silika gel 60 F254 kemudian dielusi
dengan eluen terbaik sampai tanda batas atas dan dikeringkan dengan cara
dianginkan-anginkan di suhu kamar. Plat yang telah terpisah dianalisis
dengan densitometer, sehingga akan didapat data Retention factor (Rf) dan
Area Under Curve (AUC). Linearitas kurva baku ditentukan dengan cara
mengolah data konsentrasi seri kadar (x) dan AUC diperoleh dengan
persamaan regresi linier.

Batas Deteksi dan Kuantifikasi

Setelah diperoleh kurva kalibrasi, konsentrasi kecil yang masih dapat


dideteksi (LOD) dan terdeteksi secara kuantifikasi (LOQ) dihitung secara
statistik melalui garis linier dari kurva standar.

Pengujian Presisi

Pengujian presisi dilakukan adalah keterulangan (repeatability) sebagai


variasi dalam sehari. Kadar yang digunakan dalam pengujian presisi adalah 6,
8, 10 mg/mL ditotolkan pada plat silika gel 60 F254 dengan volume 5 µL dan
dielusi dengan eluen terbaik dan dikeringkan, bercak dalam plat silika
kemudian dianalisis dengan densitometer. Data yang akan diperoleh adalah
Rf dan AUC kemudian dihitung nilai rata-rata, standar deviasi (SD) dan

12
standar deviasi relatif (RSD). Ketepatan menengah metode presisi intraday
dilakukan selama satu hari pada pagi, siang dan sore, sedangkan metode
presisi interday diperiksa dengan mengulangi penelitian selama tiga hari
berturut-turut. Konsentrasi standar ibuprofen dari sampel dihitung dengan
persamaan regresi yang didapat dari kurva kalibrasi.

Penetapan Kadar

Larutan uji dengan konsentrasi 4 mg/mL ditotolkan masing-masing sampel


sebanyak 3 totolan dengan volume 5 µL pada garis awal dengan jarak
penotolan masing-masingnya 1 cm. Masukkan plat kedalam chamber yang
telah dijenuhkan dengan fase gerak terpilih, tutup chamber dan dibiarkan
sehingga fase gerak bergerak sampai mencapai garis atas. Chamber dibuka,
plat KLT diambil dan dikeringanginkan. Kemudian diamati dibawah lampu
UV 254 nm. Kemudian bercak discanning dengan alat Camag TLC Scanner 4
dengan panjang gelombang 222 nm dan didapat data luas histogram dari
senyawa uji. Luas area dimasukkan dalam persamaan regresi yang diperoleh
dari perhitungan luas area pada konsentrasi senyawa uji, maka didapatkan
kadar senyawa.

Akurasi

Studi recovery dilakukan untuk memeriksa akurasi metode ini. Sampel yang
dianalisis mengandung 4 mg/mL ibuprofen. Pemulihan percobaan dilakukan
dengan menambahkan tiga jumlah yang berbeda dari ibuprofen yaitu 80, 100
dan 120 % diharapkan dapat mewakili kadar terendah dan kadar tertinggi dari
kurva baku yang digunakan. Ditotolkan pada plat silika gel 60 F254
masingmasing kadar 3 kali penotolan dengan volume penotolan 5 µL dan
dielusi dengan eluen terbaik. Bercak pada plat silika kemudian dianalisis
dengan densitometer dan akan diperoleh data berupa nilai AUC sampel yang
telah ditambahkan standar kemudian dihitung % perolehan kembali dari

13
masing-masing kadar standar yang ditambahkan dalam sampel dengan
menentukan % analit yang ditambahkan yang dapat diukur.

14
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dasar analisisnya, analisis diklasifikasikan menjadi analisis klasik dan


analisis modern. Secara umum metode modern lebih unggul dibanding dengan metode
konvensional, karena metode modern menawarkn kepekaan yang tinggi (batas reaksinya
kecil), jumlah sampel yang diperlukan sedikit, dan waktu pengerjaannya relatif cepat
karena seperti beberapa metode modern (seperti kromatografi), selain dapat digunakan
dalam secara kuantitatif dan juga digunakan untuk melakukan pemisahan senyawa yang
terdapat dalam sampel.

Untuk analisis ibuprofen dilakukan metode analisis klasik dan juga modern . Metode analisis
klasik yaitu Titrasi alkalimetri yang merupakan suatu metode sederhana, akurat, ekonomis, dan
merupakan alternatif yang baik yang telah banyak dilakukan. Sedangkan metode analisis modern
yaitu Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang
merupakan suatu metode yang memiliki ensitivitas lebih tinggi, limit deteksi kecil, jumlah
sampel yang digunakan sedikit, waktu pengerjaan relatif lebih cepat menggunakan alat
atau instrumen yang canggih.

15
DAFTAR PUSTAKA

Annina Sabrina, e. a. (n.d.). Perbandingan Metode Spektrofotometri UV-Vis dan KCKT


(Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) pada Analisis Kadar Asam Benzoat dan
Kafein dalam Teh Kemasa. Universitas Negeri Malang . Retrieved from
Universitas Negeri Malang .
Anonim. (2007). British Pharmacopeia Volume III. London: The Stationery Offic.
Anonim. (n.d.). Pubchem NCBI. Retrieved from ibuprofen:
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/ibuprofen#section=Top
B, S. d. ( 2000). Kimia Medisinal Edisi 2. Surabaya: Airlangga University.
Basset, J. e. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:
EGC.
Basset, J. e. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:
EGC.
Ebeshi, U. (2009). Comparative Utilization of Visual, Potentiometric Titrations, and UV
Spectrophotometric Methods in The Determination of Ibuprofen. . African
Journal Of Pharmacy And Pharmacology, :426 -431.
Fessenko., S. K. (2003). Determination of Ibuprofen and Novocaine Hydrochloride with
The Use of Water–Micellar Solutions of Surfactants. Analytica Chimica Acta,
481:149–153.
Indonesia, K. K. (1995). Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Indonesia., K. K. (2014). Farmakope Indonesia Edisi Kelima. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Katzung, G. (2002). Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Salemba Medika.
Moffat, A. O. (2011). Clarke’s Analysis of Drug and Poisons. (Edisi IV). London:
Pharmaceutical Press.
Satiadarma, K. e. (2014). Asas Pengembangan Prosedur Analisis. Surabaya: Airlangga
University .
Tjay, T. d. ( 2008). Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

16