Anda di halaman 1dari 14

Pemeriksaan Makroskopik-Mikroskopik Urine

Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin
rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urine yang meliputi
pemeriksaan protein dan glukosa.Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urine
lengkap adalah pemeriksaan urine rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton,
bilirubin,urobilinogen, darah samar dan nitrit.

A. Makroskopik Urine
Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urine.
Pengukuran volume urine berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kwantitatif atau semi
kwantitatif suatu zat dalam urine dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan
badan.
Pengukuran volume urine yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urine bermanfaat
untuk menentukan gangguan faal ginjal.

1. Volume

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urine seperti umur, berat badan,
jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang
bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urine dalam 24 jam antara 800 – 1300 ml
untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka
keadaan itu disebut poliuria. Poliuria ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti
pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika.
Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus,
diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urine selama 24
jam 300-750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. Keadaan ini mungkin didapat pada
diare, muntah - muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuria adalah suatu keadaan
dimana jumlah urine selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada
shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali
lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia,
seperti didapat pada diabetes mellitus

2. Warna

Pemeriksaan terhadap warna urine mempunyai makna karena kadang-kadang dapat


menunjukkan kelainan klinik. Warna urine di nyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda,
kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan
sebagainya. Warna urine dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang di minum maupun
makanan. Pada umumnya warna di tentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa
makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua
yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin.
Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada
dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat.
Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal,
seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna
coklat. Warna urine yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan
kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada
urine.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh
atau sangat keruh. Biasanya urine segar pada orang normal jernih.
Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit
yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang
mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urine yang telah keruh pada waktu
dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan
eritrosit dalam jumlah banyak

3. BJ

Pemeriksaan berat jenis urine bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan
dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno
meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara
1,003 - 1,030 . Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin
rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urine makin tinggi berat jenisnya, jadi
berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis
1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai
pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009
dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan
ginjal yang menahun.

4. Bau

Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang
abnormal. Bau urine normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang
berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol,
bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh
bakteri dan biasanya terjadi pada urine yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang
berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih
umpamanya pada karsinoma saluran kemih.

5. pH

Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat


memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urine normal berkisar antara 4,5 - 8,0 .
Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi.
Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urine bereaksi asam, sedangkan pada infeksi
dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi amoniak akan menyebabkan
urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urine dipertahankan
asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urine sebaiknya
dipertahankan basa.

B. Mikroskopik Urine

Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urine yaitu pemeriksaan sedimen


urine. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta
berat ringannya penyakit.Urine yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urine yang
dikumpulkan dengan pengawet formalin.
Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang
dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK.Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X)
yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB. Jumlah unsur sedimen bermakna di
laporkan secara semi kuantitatif,yaitu : Jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB
untuk eritrosit dan leukosit.
Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan
dengan :
+ (ada),
++ (banyak)
+++ (banyak sekali).

Unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu :


* unsur organik
* non organik.

Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit,
leukosit, silinder, potongan jaringan,sperma, bakteri, parasit dan yang non organik tidak
berasal dari sesuatu organ atau jaringan.seperti urat amorf dan kristal. Eritrosit atau Leukosit
didalam sedimen urine mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari
saluran kernih.
Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan
Leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari
genitalia. Adanya eritrosit dalam urine disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh
perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih
dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya Leukosit dalam jumlah banyak di
urin disebut piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi
dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus. Epitel merupakan unsur sedimen
organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin.Dalam keadaan
patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi,radang dan batu dalam
saluran kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat
bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat
dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan
mikroskop polarisasi.
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu didalam saluran kemih.

Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang
sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu
merupakan hasil metabolisme yang normal.Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis
makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urine.
Disamping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat -obatan atau kristal-
kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk didalam tubulus ginjal, mempunyai
matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya
terdapat leukosit, eritrosit dan epitel.Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.
Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya
penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit
eritrosit, lekosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder lekosit,
silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius.
Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat
ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat
silinder berbutir dan silinder lilin.

C. Pemeriksaan Warna Urine

Warna urine normal adalah kuning muda atau kuning jerami, jernih. Pada produksi
urine yang banyak, berat jenisnya antara 1.015 - 1.030 tergantung pada konsentrasi bahan
solid yang larut dalam urine. bila produksi urine sedikit, maka urine menjadi pekat dan berat
jenisnya naik, sedangkan warnanya lebih gelap. bila berat jenisnya turun, berarti urine lebih
encer dan menjadi tidak bewarna, seperti yang terjadi pada diabetes insipidus.
Urine normal agak asam atau pH nya kurang dari 7. Urine normal mengandung urea,
kreatinin, asam urat, garam, pigmen empedu, dan asam oksalat. bila urine normal ini
disimpan, maka akan bereaksi menjadi bersifat alkalis, karena urea diubah menjadi amonia.
Urine dikatakan tidak normal apabila mengandung albumin, gula, aseton, nanah, ataupun
butir darah, serta kast positif. Dalam keadaan normal, seseorang akan membuang air kecil
setiap 3 - 4 jam.

1. Warna Merah :
- Ada hemonglobin, mioglobin dan porfirin ( berarti ada perdarahan saluran kencing ).
- Oleh karena obat tertentu.
- Karena zat warna dari makanan tertentu, misal biet, senna, robarber.

2. Warna Jingga :
- Zat warna empedu.
-Karena obat-obat: antiseptic saluran kencing, pyridium, dan obat fenothiazin.

3. Warna Kuning :
- Urine pekat.
- Keberadaan urobilin dan bilirubin.
- Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif.

4. Warna Hijau :
- Keberadaan biliverdin.
- Keradaan bakteri pseudomonas
- Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif.

5. Warna Biru :
karena patologis Deuretika tertentu.

6. Warna Coklat :
- Keberadaan hematin asam, mioglobin dan zat warna empedu
- Obat-obat nitrofurantioin, levodova.

7. Warna Hitam/ hampir hitam :


Keberadaan melanin, kaskara, senyawa besi dan fenol.
- Obat levodova, kaskara, senyawa besi dan fenol .
Urine yang berwarna coklat disertai buih biasanya disebabkan oleh penyakit liver atau
saluran empedu. Pemeriksaan urine di bawah mikroskop dilakukan untuk mengetahui apakah
ada butir darah merah maupun butir darah putih, sel epithel, bakteri, jamur, dan kristal.

D. Sampel Urine

1. Pemilihan jenis sampel urine.


Tenik pengumpulan sampai dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur
yang benar.
Jenis sampel urine :

a. Urine sewaktu / urine acak (random).

Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara
khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah
putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk
pemeriksaan rutin.

b. Urine pagi

Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan
atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan
yang lama, sehingga unsur - unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik
untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya
HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine.

c. Urine tampung 24 jam


Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus -menerus
dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa
kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine
dikumpulkan dalam suatu botol besar ber volume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan
pengawet, misalnya toluene.

E. Wadah Spesimen

Wadah untuk menampung spesimen urine sebaiknya terbuat dari bahan plastik, tidak
mudah pecah, bermulut lebar, dapat menampung 10-15 ml urine dan dapat ditutup dengan
rapat. Selain itu juga harus bersih, kering, tidak mengandung bahan yang dapat mengubah
komposisi zat-zat yang terdapat dalam urine.

F. Prosedur Pengumpulan

Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali dalam keadaan
yang tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen, penderita harus diberi
penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar. Spesimen urine yang ideal adalah urine
pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine
selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai
sebelum aliran urine habis. Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan
mikroba dari luar uretra agar tidak mencemari spesimen urine. Sebelum dan sesudah
pengumpulan urine, pasien harus mencuci tangan dengan sabun sampai bersih dan
mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Pasien juga perlu
membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus
memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung spesimen.Pasien yang tidak bisa
berkemih sendiri perlu dibantu orang lain (mis. keluarga atau perawat). Orang-orang tersebut
harus diberitahu dulu mengenai cara pengumpulan sampel urine. Pada pasien bayi dipasang
kantung penampung urine pada genitalia. Pada kondisi tertentu, urine kateter juga dapat
digunakan.
Prosedur ini menyebabkan 1 - 2 % risiko infeksi dan menimbulkan trauma uretra dan
kandung kemih. Untuk menampung urine dari kateter, lakukan desinfeksi pada bagian selang
kateter dengan menggunakan alkohol 70%. Aspirasi urine dengan menggunakan spuit
sebanyak 10 - 12 ml. Masukkan urine ke dalam wadah dan tutup rapat. Segera kirim sampel
urine ke laboratorium.

1. Cara pengumpulan urine 24 jam adalah :


- Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urin pagi pertama.
- Catat tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada periode selanjutnya
ditampung.Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus di kosongkan terlebih
dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi feaces pada sampel urine
wanita.
- Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah, pengumpulan urin
di hentikan.Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan.

2. Biakan Urine
Spesimen urine apabila ditampung secara benar mempunyai nilai diagnostic yang
besar, tetapi bila tercemar oleh kuman yang bersal dari uretra atau peritoneum dapat
menyebabkan salah penafsiran. Sampel urine acak cukup baik untuk biakan kuman. Namun,
bila spesimen urine acak tidak menunjukkan pertumbuhan, urine pekat atau urine pagi dapat
digunakan. Sampel urine yang dikumpulkan adalah urine midstream clean-catch.
Biakan kuman dengan sampel ini dapat menentukan diagnosis secara teliti pada 80%
penderita wanita dan hampir 100% penderita pria, apabila lubang uretra dibersihkan sesuai
persyaratan. Urine clean-catch adalah spesimen urin midstream yang dikumpulkan setelah
membersihkan meatus uretra eksternal. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk tes biakan
kuman (kultur). Sebelum mengumpulkan urine, pasien harus membersihkan daerah genital
dengan air bersih atau steril. Jangan gunakan deterjen atau desinfektan.
Tampung urine bagian tengah ke dalam wadah yang steril. Kumpulkan urin menurut
volume direkomendasikan, yaitu 20 ml untuk orang dewasa dan 5-10 ml untuk anak-anak.
Pada keadaan yang mengharuskan kateter tetap dibiarkan dalam saluran kemih dengan sistem
drainase tertutup, urine untuk biakan dapat diperoleh dengan cara melepaskan hubungan
antara kateter dengan tabung drainase atau mengambil sampel dari kantung drainase.
Bila tidak memungkinkan memperoleh urine yang dikemihkan atau bila diduga terjadi
infeksi dengan kuman anaerob, aspirasi suprapubik merupakan cara penampungan yang
paling baik. Spesimen yang menunjukkan pertumbuhan lebih dari satu jenis kuman, dianggap
sebagai tercemar, kecuali pada penderita dengan kateter yang menetap.

3. Cara pengambilan sampel urine clean-catch pada pasien wanita :


Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya
dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia
dengan satu tangan Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari
depan ke belakang. Bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kasa steril yang lain.
Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka dan jari tangan jangan menyentuh
daerah yang telah dibersihkan. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran
urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine
selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar
wadah. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim FBke laboratorium.

4. Cara pengambilan urine clean-catch pada pasien pria :

Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya


dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Jika tidak disunat, tarik preputium ke belakang.
Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya
ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum
aliran urine habis.
Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah. Wadah ditutup rapat dan
segera dikirim ke laboratorium.
Aspirasi jarum suprapubik transabdominal kandung kemih merupakan cara
mendapatkan sampel urine yang paling murni. Pengumpulan urine aspirasi suprapubik harus
dilakukan pada kandung kemih yang penuh. Lakukan desinfeksi kulit di daerah suprapubik
dengan Povidone iodine 10% kemudian bersihkan sisa Povidone iodine dengan alkohol 70%.
Aspirasi urine tepat di titik suprapubik dengan menggunakan spuit Diambil urine sebanyak ±
20 ml dengan cara aseptik/suci hama (dilakukan oleh petugas yang berkompenten).
Masukkan urine ke dalam wadah yang steril dan tutup rapat. Segera dikirim ke laboratorium.

SUMBER PUSTAKA

1. Ensiklopedi indonesia ,Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas depkes 1991 ,Dan


berbagai Sumber , http://ahdc.vet.cornell.edu/clinpath/modules/ua-sed/ua-intro.htm

2. http://rddachie.blogspot.com/2013/03/pemeriksaan-makroskopik-
mikroskopik.html#ixzz3K8U6XLS8
PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK
Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan
kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit
berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna
sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat
berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena
kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa).
Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam
urin.
Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan
acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara
berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat.
Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan
adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau
eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing
berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria).
Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

 Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.


Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak),
senna.

 Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk


infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.

 Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab
nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.

 Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab


nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.

 Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.

 Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh


obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.

 Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat,


indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks
besi, fenol.

ANALISIS DIPSTICK
Dipstick adalah strip reagen berupa strip
plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai
jenis parameter yang akan diperiksa. Urine Dip merupakan analisis kimia cepat untuk
mendiagnosa berbagai penyakit.
Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein, bilirubin,
urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.

Prosedur Tes

Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan


dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama
dua detik. Hilangkan kelebihan urine dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen
atau dengan meletakkan strip di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan
dengan membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada
botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan
mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan
kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk
memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual.
Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus
diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet. Setiap
habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup kembali dengan
rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap strip harus diamati
sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan warna.
Glukosa
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang
dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang
ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti
diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar
glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang
diagnosis diabetes mellitus.
Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD),
peroksidase (POD) dan zat warna.
protein
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh
tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10
mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis.
Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan
protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas
juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan
petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit
glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin
dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit
tubulointerstitiel.
Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif
terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan
mukoprotein.

bilirubin
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak
terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke
dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus
parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder),
CHF disertai ikterik.

urobilinogen
Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum,
tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar
urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah, di sini
urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke
dalam urine oleh ginjal.
Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau
terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas
kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada :
destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab
apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar,
keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis
infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif,
kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit),
penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.
Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh
kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.

keasaman PH
Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran
pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asam-
basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 – 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh
konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa
menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obat-
obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH
urine.
Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah
menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap
albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan
mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine
dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat.
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :

 pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih


(Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi
alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.

 pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik
(kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu
pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

Berat Jenis (Specific Gravity, SG)


Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi zat
terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk
memekatkan dan mengencerkan urin.
Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi
ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 – 1,025, sedangkan dengan
pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai
≥1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan
kemampuan untuk memekatkan urine.
BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia
dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat
tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi
secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah.
Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-
glukosa.

Darah (Blood)
Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk hematuria,
hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah mendeteksi
hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen. Eritrosit yang utuh
dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas peroksidase. Hal ini memungkinkan
hasil tidak sesuai dengan metode mikroskopik sedimen urine.
Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urine yang disebabkan karena
danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urine juga dapat terjadi karena urine encer,
pH alkalis, urine didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila mioglobin
dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot jantung, otot skeletal,
juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki berat molekul
kecil sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urine.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Hasil positif palsu dapat terjadi bila urine tercemar deterjen yang mengandung
hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase.

 Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urine mengandung vitamin C dosis tinggi,
pengawet formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau berat
jenis sangat tinggi.

Urine dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.

Keton
Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam β-hidroksibutirat) diproduksi untuk
menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam β-
hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama
untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton
sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk
mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang
dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.
Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet
tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan
gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh
mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein, febris.

Nitrit
Di dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang
kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia coli,
Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim reduktase, akan
mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urine telah berada dalam kandung kemih
minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak terdapat bakteriuria sebab tidak
semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau urine memang tidak mengandung nitrat,
atau urine berada dalam kandung kemih kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan
tertentu, enzim bakteri telah mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah
menjadi nitrogen.
Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam keadaan
segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang biakan bakteri di luar
saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan tertunda,
urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin).
 Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah
cukup banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism penginfeksi
mungkin tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak dalam
kandung kemih selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.

Lekosit esterase
Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes lekosit
esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik secara utuh atau
sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase sehingga tidak akan
memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil mikroskopik tidak sesuai dengan hasil
pemeriksaan carik celup.
Temuan laboratorium negatif palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urine tinggi (>500mg/dl),
protein urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis urine tinggi, kadar asam oksalat tinggi, dan urine
mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif palsu pada penggunaan
pengawet formaldehid. Urine basi dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.