Anda di halaman 1dari 19

JOURNAL READING

KEAMANAN DAN EFIKASI 3 TEKNIK ANESTESI DALAM OPERASI
TOTAL HIP ARTHROPLASTY

Oleh:
dr. Muhammad Remo Lingga Riesta Armyda
NIM 1671102005

PEMBIMBING:
Dr. dr. Tjok Gede Agung Senapathi, Sp.An, KAR

PROGRAM STUDI ILMU ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018

Kata kunci : Anestesi. dan teknik CEA merupakan teknik yang lebih baik dibandingkan SEA. juga tampak pada grup GA dibandingkan grup lainnya. Kesimpulan : CEA dan SEA merupakan teknik anestesi yang lebih efektif dibandingkan GA pada operasi THA. Jionlin Wei. Pasien grup GA memberlukan analgesic yang lebih tinggi setelah operasi dibandingkan pasien di grup CEA dan SEA. dan kelompok anestesi spinal-epidural (SEA. Kami membandingkan efek samping pasca operasi yang terjadi pada pasien dari 3 grup teknik anestesi tersebut. kelompok anestesi epidural kaudal (CEA. Xiaoxi Cai. Weilong Lin. serta skor MMSE yang lebih rendah. Keamanan Dan Efikasi 3 Teknik Anestesi Dalam Operasi Total Hip Arthroplasty Chengwei Lian. Yonggian Fan. . spinal arthroplasty. dan ekspresiβ-amyloid (Aβ) dihitung untuk menentukan nyeri pasca operasi dan disfungsi kognitif pasien dari dari 3 teknik anestesi yang berbeda. anestesi umum. Hasil : Pada grup CEA dan SEA terdapat efek samping perioperative yang lebih rendah daripada grup gA. hip replacement. n=66). n=66). skor Minimum Mental State Examination (MMSE). Ekspresi β-amyloid dan skor VAS lebih tinggi. dan Fengjian Yang Abstrak Studi ini membandingkan efikasi dan keamanan dari 3 teknik anestesi yang berbeda dalam operasi total hip arthroplasti (THA) Metode: Kami mengalokasikan 198 pasien yang akan menjalani THA dalam 3 grup : kelompok yang menggunakan anestesi umum (grup GA n=66). anestesi epidural. Skor Visual Analog Scale (VAS).

dengan blok motoric lebih cepat (p<0. c. Menelaah Jurnal Uji Klinis (Critical Apraisal) Judul Keamanan Dan Efikasi 3 Teknik Anestesi Dalam Operasi Total Hip Arthroplasty Penulis Chengwei Lian. DOI 10. dan Fengjian Yang Publikasi Med Sci Monit.  Pasien pada grup GA memiliki konsumsi analgesic lebih tinggi dibandingkan grup CEA maupun SEA.12659/MSM. . Tujuan Tambahan Penelitian Tujuan tambahan pada penelitian ini dapat ditemukan secara eksplisit pada bagian hasil penelitian. Yonggian Fan. Deskripsi Jurnal a.05). 2017. Tujuan Utama Penelitian Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dan keamanan dari 3 teknik anestesi yang berbeda dalam operasi total hip arthroplasti (THA) b. dan durasi anestesi yang lebih pendek dibandingkan grup GA (p<0. sementara itu pasien grup CEA konsumsi analgesic lebih rendah dibandingkan grup SEA. Weilong Lin.902768] Penelaah M. Remo Lingga Tanggal Telaah 12 November 2018 1. Berikut adalah identifikasi tujuan tambahan yang dapat ditemukan.05). Hasil Utama Penelitian  Hasil utama pada penelitian ini adalah sebagai berikut :  Grup CEA dan SEA keduanya menunjukkan durasi operasi yang lebih pendek (p<0. 23: 3752–3759.  Untuk mengetahui evaluasi kognitif berupa ekspresi amyloid beta pada ketiga teknik anestesi. Xiaoxi Cai. Jionlin Wei.05).

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi Aβ antara grup CEA dan SEA pada seluruh poin waktu e. 2.6.05).  Hasil studi tingkat keamanan yang dinilai dari munculnya komplikasi menunjukkan efek samping postoperative seperti emboli pulmonum. penggunaan analgesia). Grup GA memiliki ekspresi Aβlebih tinggi dibandingkan grup SEA dan CEA pada T2 (p<0.  Skor VAS postoperasi 24 jam: Pasien pada grup GA memiliki skor VAS lebih tinggi daripada CEA ataupun SEA (p<0. Kriteria Seleksi Subjek penelitian adalah pasien dewasa yang akan menjalani TAH dengan ASA1-3 tanpa riwayat gangguan neurologis. Kesimpulan Penelitian Teknik anestesi CEA lebih superior dibandingkan SEA dan teknik CEA maupun SEA lebih superior dibandingkan GA pada operasi TAH dari aspek efikasi dan keamanan secara fisik maupuan mental yang disimpulkan dari nilai keluaran perioperative (durasi operasi. dan penglihatan.05). pneumonia.05 pada evaluasi jam ke 3. Seluruh pasien yang menolak untuk berpartisipasi . ventilasi mekanik terdapat pada seluruh grup dan tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada ketiga grup.24 post op) d. anestesi. skor MMSE. myocardial infark. dan ekspresi Aβ. serta skor VAS.  Ekspresi Aβ pada 3 poin waktu : ekspresi Aβ tertinggi pada T2. maupun gangguan mental. transfuse darah. Paada grup GA skor MMSE lebih rendah dibandingkan grup CEA pada T2 dan T3 (p<0. sedangkan grup SEA memiliki skor VAS lebih tinggi dibandingkan grup CEA (P<0. Hasil Tambahan Penelitian Hasil tambahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :  Skor MMSE pada 3 poin waktu: Skor MMSE secara menyeluruh menurun dari T1 ke T2 dan meningkat pada poin waktu T2 ke T3. gagal ginjal. Validitas Penelitian a.05). jantung. Skor MMSE CEA lebih tinggi dibandingkan grup SEA pada point waktu T2 dan T3 (Terutama T2) (p<0.05).

dalam studi serta skor MMSE < 23 dengan gangguan neurologis maupun mental. penyakit katup aorta. Variabel tersebut dapat diketahui dari adanya pernyataan bahwa pasien dengan kelainan pintas intrakardiak atau ekstrakardiak. Data dianalisis secara statistic dengan program SPSS 18. di presentasikan dalam bentuk rerata dan standar deviasi (SD). dengan riwayat konsumsi alcohol. . delirium. d. Pasien yang menunjukkan tanda obstruksi saluran napas selama prosedur tidak diikutsertakan dengan pertimbangan bahwa peserta tersebut tidak menghasilkan pengukuran tekanan vena sentral yang dapat diandalkan b. agitasi. dengan penggunaan sedative maupun obat anti depresan lama. dan pasien yang tidak dapat di anestesi secara sukses dalam 15 menit setelah injeksi di eksklusi dari studi. preoperative hipovolemia. atau usia lebih dari 21 tahun tidak diikutsertakan dalam penelitian. e.0. Komparabilitas Baseline Data Tidak ada perbedaan karakteristik data pada dua kelompok pengukuran. dengan dua anak di bawah usia 2 tahun.05 3. sedangkan analisis dengan chi-square digunakan untuk menilai perbedaan variable antar grup. Nilai tengah dari usia subjek penelitian adalah 12 tahun. Pengontrolan Perancu pada Tahap Desain : Restriksi dan Randomisasi Pada penelitian ini terdapat beberapa perancu yang dikontrol dengan cara restriksi. Metode Alokasi Subjek Penelitian ini mengalokasikan subjek kedalam 3 grup secara acak menggunakan computer c. Validitas Pengontrolan Perancu a. infeksi pada lokasi pungsi. Jenis Analisis Penelitian ini merupakan studi analisis komparatif varians 1 arah dengan ANOVA atau tes Kruskal-Wallis. b. Demografi pasien ditunjukkan pada tabel 1. Angka Drop Out Pada penelitian ini tidak didapatkan peserta yang mengalami drop out. Concealment Penelitian ini tidak ada concealment. Nilai signifikansi yang dipakai pada studi adalah P<0.

4±3. Pengontrolan Perancu saat Analisis Tidak terdapat perancu pada analisis 4. Temporality Pada penelitian ini prinsip temporality telah terpenuhi. 5.0±2.2±3.582 Berat badan (kg) 70±11 69±9 70±11 0. Validitas Interna Kausal a.800 c. berikut juga dengan hasil tambahan. Kesimpulan : penelitian ini memiliki validitas informasi yang baik.9 23. Analisis terhadap Baseline Data Dilakukan secara Statistik Baseline data dilakukan dengan signifikansi lebih dari P<0.Tabel 1. 6.05. Dosis Respon . Blinding (Penyamaran) Pada penelitian ini dilakukan blinding b.132 BMI (kg/m2) 23.3 23. Validitas Analisis a. Komponen Pengukuran Variabel Penelitian Pada penelitian ini komponen pengukuran variabel penelitian telah dijelaskan. Analisis dan Interpretasi terhadap Hasil Utama dan Hasil Tambahan Analisis dan interpretasi hasil utama menggunakan nilai signifikansi p<0. Spesifikasi Pada penelitian ini spesifikasi telah terpenuhi karena diterapkan kriteria eksklusi yang dapat menjadi perancu c. Validitas Informasi a. b.868 Usia (tahun) 68±11 67±12 66±10 0. sehingga tidak tampak perbedaan pada ketiga grup pada baseline data b.05 yang telah ditunjukkan pada hasil penelitian.7 0.815 Tinggi (cm) 163±8 165±9 166±9 0. Demografi Pasien Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (N=66) P-Value Jenis kelamin W/P 37/29 34/32 35/31 0.

Konsistensi Internal Penelitian ini tidak menggunakan stratifikasi perlakuan sehingga konsistensi internal tidak dapat dievaluasi. dan pasien pediatrik dengan penurunan CO. Berdasarkan pertimbangan . Validitas Eksterna a. Biological Plausibility Tidak terdapat Biological Plausibility 7. Konsistensi Eksternal Penelitian ini mendukung penelitian lain yang menyatakan manfaat positif penggunaan USCOM. wanita hamil. USCOM dikatakan memiliki nilai kepercayan baik untuk pasien neonatus dan anak-anak. unit gawat darurat pediatrik. Penelitian ini merupakan studi komparatif tidak menggunakan dosis respon d. Validitas Eksterna 1 : Besar sampel yang diikutsertakan pada penelitian ini adalah ditentukan menggunakan rumus dan didapatkan angka 198 Participation rate pada penelitian ini adalah 100%. walaupun bertentangan dengan hasil penelitian yang membandingkan antara USCOM dengan ekokardiografi transtorakal. Penelitian Tahun Kesimpulan Mauermann 2006 Neuroaxial blok memiliki et al angka postoperative nausea dan munta lebih rendah pada operasi THA Wulf et al 1999 Pasien THA dengan CEA memiliki identifikasi mental dan koordinasi lebih kuat dari pasien dengan GA Shi et al 2015 Pasein operasi THA dengan GA memiliki skor MMSE lebih rendah dibandingkan CEA Level Aβ meningkat pada pasien POCD yang menggunakan teknik GA Horlocker et 2010 Anestesi Neuraxial perifer al dengan analgesia dengan opioid ataupun non-opiod secara efisien menurunkan derajat nyeri f. e.

dan aspek applicability yang baik. Importancy Penelitian ini memiliki importansi yang tinggi untuk mengurangi memberikan efek anestesi. sedasi yang lebih adekuat dan meminimalisir nyeri post operatif Kesimpulan : penelitian ini memenuhi aspek importancy. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Penelitian ini memiliki validitas. Validitas Eksterna 2 : Karena secara logis penelitian ini dapat digeneralisasi pada populasi target. 9. maka hasil yang diperoleh pada penelitian ini dapat digeneralisasikan pada populasi terjangkau. maka hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan pada populasi targetnya. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah dewasa yang menjalani THA yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi 8. besar sampel minimal terpenuhi dan participation rate 100%. Saran Penelitian dengan populasi lebih besar diperlukan untuk mengilustrasikan signifikansi lebih nyata . Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah dewasa yang menjalani THA yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi b. Applicability Penelitian ini sudah diterapkan di senter RSUP Sanglah dan adanya penelitian ini membuat penggunaanya lebih terpercaya Kesimpulan : penelitian ini memenuhi aspek applicability 10. aspek importancy.

dan teknik CEA merupakan teknik yang lebih baik dibandingkan SEA. Keamanan Dan Efikasi 3 Teknik Anestesi Dalam Operasi Total Hip Arthroplasty Chengwei Lian. Ekspresi β-amyloid dan skor VAS lebih tinggi. n=66). Kesimpulan : CEA dan SEA merupakan teknik anestesi yang lebih efektif dibandingkan GA pada operasi THA. dan Fengjian Yang Abstrak Studi ini membandingkan efikasi dan keamanan dari 3 teknik anestesi yang berbeda dalam operasi total hip arthroplasti (THA) Metode: Kami mengalokasikan 198 pasien yang akan menjalani THA dalam 3 grup : kelompok yang menggunakan anestesi umum (grup GA n=66). skor Minimum Mental State Examination (MMSE). hip replacement. Weilong Lin. fraktur femur proksimal dan kerusakan sendi hip lainya [1]. spinal arthroplasty. Hasil : Pada grup CEA dan SEA terdapat efek samping perioperative yang lebih rendah daripada grup gA. Xiaoxi Cai. dan kelompok anestesi spinal-epidural (SEA. Teknik ini menggantikan disfungsi permukaan sendi dengan protese artifisial agar nyeri berat dapat di kurangi dan fungsi sendi normal dapat . anestesi umum. Yonggian Fan. dan ekspresiβ-amyloid (Aβ) dihitung untuk menentukan nyeri pasca operasi dan disfungsi kognitif pasien dari dari 3 teknik anestesi yang berbeda. kelompok anestesi epidural kaudal (CEA. serta skor MMSE yang lebih rendah. Pendahuluan THA merupakan salah satu operasi tersering sejak 1960 dan telah di anggap sebuah teknik yang berevolusioner yang berubah secara signifikan untuk pasien dengan osteoarthritis degenerative. juga tampak pada grup GA dibandingkan grup lainnya. Kami membandingkan efek samping pasca operasi yang terjadi pada pasien dari 3 grup teknik anestesi tersebut. n=66). Pasien grup GA memberlukan analgesic yang lebih tinggi setelah operasi dibandingkan pasien di grup CEA dan SEA. Kata kunci : Anestesi. Skor Visual Analog Scale (VAS). artritis rematoid. anestesi epidural. Jionlin Wei.

dipulihkan [2.14]. perbandingan secara komprehensif teknik anestesi untuk THA sudah kadaluarsa. efek samping [4. Analgesia regional dapat diimplementasikan pada teknik epidural.18. Namun belakangan ini. terutama pada pasien ortopedi [11]. Terdapat berbagai macam anestesi dan analgesic yang telah digunakan dengan THA. durasi lamanya rawat inap. Selain dari itu disfungsi kognitif posoperasi (POCD) setelah anestesi pada THA. memberikan administrasi secara spesifik. durasi efikasi anestesi. Terdapat juga teknik kombinasi yang telah di praktikan. dan anestesi spinal epidural (SEA) [7-10]. dan memiliki waktu lebih sedikit untuk mencapai efek anestesi [17].5. Beberapa laporan telah mengindikasikan bahwa SEA memiliki efektivitas lebih superior dan pasien yang di terapi dengan teknik ini memiliki risiko efek samping lebih rendah dibandingkan regional anestesi yang konvensional [15. spinal maupun kombinasi [15]. skor VAS post operatif. yang merupakan suatu komplikasi yang dapat mempengaruhi .19]. maka para peneliti melakukan suatu terobosan untuk penggunaan teknik anestesi yang efektif untuk meningkatkan efektifitas THA. dimana kemudian di dampingi dengan kateter epidural agar nyeri dapat berkurang secara kontinyu [15. Terdapat banyak studi yang merekomendasikan anestesi neuraxial (epidural maupun spinal) yang dinilai efektif untuk memperbaiki keluaran perioperative. Namun. Implementasi anestesi regional dapat didapatkan melalui teknik epidural. anestesi regional berhubungan dengan menurunnya risiko komplikasi parah seperti thrombosis vena dalam dan infeksi pada lokasi operasi [9.12. jadi kurang ideal untuk pasien tua yang biasanya memiliki risiko hipertensi. anestesi regional mendapatkan atensi lebih oleh karena adanya kemampuan potensi lebih dari GA. Untuk spinal anestesi obat di injeksikan secara langsung ke liquor serebrospinalis. 20-20]. teknik klasik yang biasanya diapakai seperti anestesi umum (GA). injeksi obat analgesic ke ruang epidural melalui kateter [16]. Selain itu. yakni dengan injeksi spinal tunggal. anestesi kaudal epidural (CEA). Namun THA biasanya berhubungan dengan nyeri parah pada periode perioperative.3]. penggunaan dosis analgesic. disfungsi renal maupun gangguan jantung iskemik. Sebagai hasilnya. Berbagai pengukuran telah ditetapkan untuk menilai efektifitas dan keamanan teknik anestesi termasuk didalamnya yakni onset anestesi.23]. GA merupakan standard baku emas untuk prosedur tulang panggung secara mayoritas dan dapat menginduksi dengan cepat [12-13]. [4-6].

serta delirium atau agitasi. pasien dialokasikan secara acak kedalam 3 grup: grup anestesi umum (GA n=66). seluruh pasien dengan ASA 1-3 yang dipersiapkan untuk artroplasti dalam kurun waktu Maret 2013 dan Maret 2015 di masukkan. jantung. Kami mengeksklusi seluruh pasien yang tidak setuju untuk ikut dalam penelitian. Kriteria inklusi dan eksklusi Sesuai rekomendasi dari ASA. Metode dan Materi Pasien Pasien yang kami ikutsertakan dalam penelitian berjumlah 198 pasien (106 perempuan dan 92 laki-laki dengan usia rerata 67 tahun) yang sedang dipersiapkan untuk menjalani operasi THA. dengan hipovolemia perioperative dan infeksi pada lokasi pungsi. Pasien yang dimasukkan dalam studi tidak memiliki riwayat gangguan neurologis. Studi ini dapat memberikan informasi yang sangat berguna untuk para klinisi dalam memilih teknik anestesi yang tepat pada pasien operasi THA.fungsi kognitif dan mengakibatkan amnesia jangka pendek [24-26] juga termasuk pertimbangan dalam menilai efikasi pada teknik anestesi yang berbeda-beda. Secara komputerisasi digitasi permutasi. dengan riwayat konsumsi alcohol. Studi ini yang pertama akan membandingkan efek anestesi pada keluaran perioperative pada operasi THA. . Formulir persetujuan tindakan diambil dari pasien sebelum inklusi. Seluruh prosedur dalam penelitian telah disetujui para komite etik rumah sakit Huangdong dan Universitas Fudan. penglihatan dan system saraf pusat. Hasil yang kami dapatkan bahwa SEA dan CEA merupakan teknik yang lebih dipilih dibandingkan GA pada pasien THA. dengan penggunaan obat sedative atau anti depressant jangka lama. dan pasien yang tidak dapat di anestesi dalam 15 menit setelah injeksi. dan anestesi spinal epidural (SEA n=66). serta pada pasien yang memiliki skor MMSE kurang dari 23. dengan gangguan neurologis atau mental. grup anestesi kaudal epidural (CA n=66). gangguan mental.

semuanya di monitor pada saat pasien dalam ruang operasi. dan frekuensi respirasi 10–12 times/min. Infiltrasi kutan dilakukan dengan 1% lidocaine.Evaluasi dan Anestesia EKG dan tekanan darah non invasive. and 1 ml fentanyl (25 μg). Ketika blok sensorik mencapai dermatome T10 maka pasien dianggap sudah siap untuk dioperasi. SEA dilakukan dengan teknik jarum-jarum pada L1-2 atau L3-4 diskus intervertebralis dengan jarum 18 g Tuohy (Perifix. Co2 end tidal di pertahankan pada 32 and 38 mmHg. dan vecuronium bromide (0. Hiatus sacrum pada pasien grup CEA di inspeksi dan ketika berada ruang operasi posisi diubah menjadi posisi lateral decubitus.1–0. Blok motoric di evaluasi setiap 5 menit dalam 30 menit setelah injeksi epidural.5 mg/kg). dengan skor Bromage (BS) [27]. Aspirasi negative dilakukan untuk mencegah insersi intravascular dan injeksi intratekal tidak disengaja. propofol (1–1. Volume tidal adalah 8–10 mg/kg.5% bupivacaine plain) ke dalam ruang epidural. 2 ml 0. Pemulihan dari blok motoric didefinisikan sebagai waktu dari injeksi epidural hingga BS0 Hipotensi merupakan turunnya rerata tekanan darah arteri dari pre-operasi atau tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg. Jerman). BS2 gangguan sendi panggul. BS0 adalah flexi hip penuh. BS1 flexi hip berkurang . Kemudian injeksi epidural dilakukan dengan 10 ml 0. denyut nadi. Pada posisi duduk. Jepang) digunakan untuk injeksi kontinyu anestesi (0.25% bupivacaine. Ketika terjadi hipotensi maka pasien diterapi dengan 5 mg injek ephedrine. GA di induksi dengan Midazolam (0. BS3 tidak dapat flexi dan seterusnya untuk blok motoric secara penuh. Pemeliharaan anestesi dilakukan dengan infus propofol 6–8 mg/kg. saturasi O2 perifer.1 mg/kg). Jarum 22 g (Terumo.5% bupivacaine hiperbarik di injeksi. fentanyl (2–4 μg/kg). Pungsi dural dilakukan dengan jarum spinal ujung pencil 27 g. Ketika cairan liquor serebrospinal di aspirasi.15 mg/kg). Bradikardia merupakan turunnya denyut . Penentuan Blok Sensorik dan Motorik Blok sensorik di evaluasi setiap 2 menit dalam 30 menit pada injeksi epidural dengan tes pinprick. 1 ml clonicine (2 μg/kg).

gagal ginjal. Skor VAS dievaluasi setiap 15 menit intraoperative dan setiap 3 jam postoperative pada 12 jam pertama. Analsisi varian satu arah (ANOVA) atau Kruskal-Wallis tes di gunakan untuk analisis perbedaan antar grup. hipertensi. POCD di nilai dengan skor MMSE. MMSE mengandung 30 buah pertanyaan yang jumlah skor totalnya 30. dan apabila terjadi pasien di terapi dengan injeksi atropine 0. Setelah operasi pasien dengan VAS > 4 maka pemberian fentanyl diberikan dengan penaikan 50 μg. transfuse darah. sedangkan pasien dengan skor VAS < 4 diberikan infus acetaminophen [28-29] Komplikasi postoperative dan evaluasi kognitif Efek samping post operasi yang tercatat yakni emboli paru. IL. Data dipresentasikan dalam bentuk rataan dengan standard devaisi (SD). Analsisi Statistik Seluruh analisis statistic dilakukan dengan program SPSS 18. . pneumonia. POCD di diagnosis apabila skor MMSE kurang dari 23. dimana tes chi square digunakan untuk evaluasi perbedaan variable kategorik antar grup. P< 0. Kami mengkoleksi 5 ml darah puasa dari pasien 1 hari sebelum operasi (T1). Rentang skor VAS dari 0 (tidak nyeri ) hingga 10 (nyeri terparah).5 mg.jantung dibawah 50x/menit. Semua pasien menerima injeksi acetaminophen (15 mg/kg) sebelum operasi selesai dan setiap 6 jam. Evaluasi Nyeri dan Tatalaksana Nyeri intraoperative dan postoperative dievaluasi dengan skor VAS. USA). dan ventilasi mekanik. infark myokard. dan 1 hari setelah operasi (T2) dan 5 hari setelah operasi (T3).05 merupakan nilai signifikansi statistic yang digunakan.00 (Chicago. dan 12 jam ke 2 oleh dokter anestes yang tidak mengerti alokasi grup. Ekspresi β-amyloid (Aβ) Ekspresi Aβ di deteksi dengan ELISA.

7 0. riwayat penyakit terdahulu.Hasil Karakteristik klinis Karakteristik klinis pada seluruh pasien telah dibandingkan pada ketiga grup tersebut.995 Penyakit jantung coroner 11 12 10 Diabetes mellitus 39 42 41 Hiperlipidemia 32 34 29 Kardiopati 0 2 1 Penyakit serebrovascular 9 11 6 Gagal Ginjal 0 0 0 Gagal Liver 1 1 1 Diagnosis preoperatif Arthrosis 43 45 49 0. diagnosis preoperative. indeks masa tubuh.3 23. Karakteristik Klinis Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (N=66) P-Value Jenis kelamin W/P 37/29 34/32 35/31 0.132 BMI (kg/m2) 23.860 No 24 23 26 Keluaran Perioperatif Keluaran intraoperative. tinggi badan.2±3. CEA dan SEA keduanya .582 Berat badan (kg) 70±11 69±9 70±11 0. jenis kelamin. Tabel 2.9 23.0±2.745 RA 11 4 7 Ankylosing Spondylitis 9 10 6 Avaskular nerkosis 3 7 4 Limitasi contralateral hip Yes 42 43 40 0.4±3. yang terdeteksi pada ketiga grup.878 ASA II 53 49 51 ASA III 2 2 1 Penyakit terdahulu Hipertensi 31 33 34 0. dibandingkan antar grupp untuk menentukan efisiensi dan efikasi pada manajemen nyeri. dan limitasi hip kontralateral.800 ASA ASA I 11 15 12 0. berat badan. usia. Tabel 1 Tabel 1. waktu untuk mencapai blok sensorik maksimum (S Max). dan blok motoric. termasuk durasi operasi dan anestesi.868 Usia (tahun) 68±11 67±12 66±10 0. serta penggunaan analgesia post operatif. ASA. Tidak ada perbedaan signifikan pada karakteristik klinis termasuk.815 Tinggi (cm) 163±8 165±9 166±9 0.

05 dibandingkan grup GA # p< 0.5±1.0 (2) 6. Tidak tampak perbedaan yang signifikan pada ketiga grup.5 (1) 3.5±1.4±2.0±3. pneumonia.8* 15.2±2.9 3.0 (0) 0.5±22.4 14.3±13.2 jam pasca operasi (g) *p<0.5*# Waktu mencapai S max (min) 18. Pasien pada grup GA memiliki skor VAS lebih tinggi dibandingkan CEA dan SEA. Tabel 2.4±18. transfuse darah.0 (2) Transfusi darah 6.2* 14. blok motoric lebih cepat.5 (1) 0. infark myokard.6 12.0 (0) 1. hipertensi.5 (1) 0.2±2. gagal ginjal. Walaupun grup SEA menunjukkan durasi anestesi dan operasi yang lebih panjang dibandingkan CEA.5* 100. sedangkan grup SEA memiliki skor VAS lebih tinggi daripada CEA pada jam ke 3. durasi anestesi lebih pendek daripada GA grup secara signifikan. Hasil statistic perioperatif Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (N=66) Durasi operasi (min) 120.0 (0) 1.2 Waktu untuk mencapai blok 23.0 (0) Skor VAS Skor VAS dikalkulasi dalam 24 jam postoperasi untuk evaluasi intensitas nyeri oleh pasien. Pasien CEA grup menunjukkan durasi mencapai S max lebih pendek daripada GA.3±11.5 (1) 0. sedangkan grup CEA mengkonsumsi analgesic lebih rendah dibandingkan grup SEA. Komplikasi postoperatif Komplikasi GA%(n) CEA%(n) SEA%(n) P value Emboli paru 3.8*# Penggunaan analgesia dalam 48 5.2 2.0 (0) Infark myocard 3.menunjukkan durasi operasi yang lebih pendek.9257 Pneumonia 1. dan ventilasi mekanik diidentifikasi dan dibandingkan pada ketiga grup Tabel 3. dan 24 jam pasca operasi. namun kedua grup tersebut tidak memiliki perbedaan pada durasi blok motoric maupun penggunaan analgesic.3* 48.5 (1) 0.05 dibandingkan grup CEA Evaluasi komplikasi post operatif Komplikasi post operatif termasuk emboli paru.0 (2) 1.6±0.0 (2) 1.5 86.5±16.0 (4) 3.2 56. Pasien dengan GA memiliki konsumsi analgesic yang lebih tinggi disbanding kedua grup lainnya.1 (4) Ventilasi mekanik 3.3±6. Tabel 3.6 motoric (min) Total durasi anestesi (min) 207.5 (1) Gagal ginjal 1.6.4±3. Tabel 4 .5±26.0 (2) 0.

05 dibandingkan grup CEA Skor MMSE Skor MMSE dikalkulasikan pada 3 poin waktu yang berbeda (T1.96*# *p<0.50 51. Tabel 5.2.45±2.46* 2.05 dibandingkan grup CEA Ekspresi Aβ Penurunan kognitif setelah anestesi diukur dengan ekspresi Aβ pada 3 poin waktu yang berbeda (T1.67 1.20±0.98 26.48±1.34±0.56* 2.94±12.3). Skor VAS pada pasien dalam 24 jam pasca operasi Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (n=66) 3 jam 5.01* 24. Skor MMSE secara general menurun pada waktu T1 ke T2 dan meningkat pada T2 ke T3.16±0.95±0.Tabel 4.28 1. Pada grup GA memiliki ekspresi Aβ lebih tinggi secara signifikan dibandingkan CEA dan SEA pada T2.62 26.69±1.69±2. Tabel 5. 6 Ekspersi Aβ pada ketiga grup pada 3 poin waktu Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (n=66) T1 ( 1 hari sebelum operasi) 51. Ekspresi Aβ tertinggi pada T2.69±0.2.55±1.89 T2 ( 1 hari setelah operasi) 22.19±2.05 dibandingkan grup GA # p< 0.91±1.89*# 6 jam 5.50*# 12 jam 3.92±0.Skor MMSE pada grup CEA lebih tinggi secara signifikan daripada grup SEA pada T2 dan T3 terutama T2.32 1. Tidak terdapat berbedaan bermakna pada ekspresi Aβ antar grup CEA dan SEA pada seluruh poin waktu.76 50.72±1.43* 22.75±0.28* 1. Tabel 6 Tabel.48*# 24 jam 4.75±0. Skor MMSE pada ketiga grup pada 3 poin waktu Variabel GA (n=66) CEA (n=66) SEA (n=66) T1 ( 1 hari sebelum operasi) 26.21* 1.86±1.16±15.49±0.32 24.13±1.9±15.98# *p<0.3).65 1. Grup GA memiliki skor MMSE yang lebih rendah dibandingkan grup CEA pada waktu T2 dan T3.78* 2.84±1.46±1.05 dibandingkan grup GA # p< 0.25 25.92 .84# T3 (5 hari setelah operasi) 24.40 1.38±1.12±1.13±0.88*# 9 jam 4.

Kami juga mengemukakan bahwa pasien grup GA lebih rentan mendapatkan infeksi paru. [24]. Hasil studi kami ini menunjukkan bahwa anestesi neuraxial (CEA dan SEA) memberikan performa yang lebih baik dari GA. thrombosis vena dalam. CEA merupakan teknik efektif untuk menurunkan perdarahan.85±13. Pada studi ini pasien pada grup SEA dan CEA memiliki komplikasi lebih rendah daripada GA. Belakangan ini para peneliti lebih prihatin pada keamanan penggunaan anestesi pada operasi oleh karena banyaknya perdarahan pada operasi artroplasti sendi total dan ini berhubungan dengan rehabilitasi dan komplikasi yang parah [30]. Sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Mauermann et al menunjukkan pasien dengan blok neuraxial memiliki kompliasi nausea. Blok perifer juga terbukti efektif dalam mengurangi komplikasi dari artroplasti sendi [35]. baik CEA dan SEA berkorelasi dengan lebih rendahnya transfuse darah dan penggunaan analgesic serta durasi anestesi. iskemia myokard dan POCD.92* T3 (5 hari setelah operasi) 54.34]. Sebaliknya Wakamatsu et al.49±11. POCD dapat mempengaruhi gangguan ingatan jangka pendek serta fungsi kognitif lainnya.97±15.52±12. hematologic dan paru.44 53. menemukan bahwa perdarahan lebih tinggi didapat pada grup SEA disbanding grup GA [32].45±17. Barnet et al melaporkan bahwa komplikasi postoperative seperti aritmia.11* 54. yang mana menurunkan biaya transfusi darah [31].57 52.26±13. dapat mempengaruhi keberhasilan operasi secara signifikan [33. efisiensi dan keamanan ketiga teknik anestsi pada operasi THA. MMSE. dan grup SEA lebih rentan terhadap komplikasi seperti gangguan persepsi dan itu dapat di akibatkan oleh teknik anestesi yang kurang cocok. genitourinaria. Pada eksperimental kami pasien grup GA memiliki skor MMSE lebih rendah pada T2 dan T3 dibanding pada grup CEA dan SEA.7 52.05 dibandingkan grup GA Diskusi Studi ini bertujuan untuk membandingkan efikasi. seperti ingatan visual verbal. serta teknik CEA bekerja lebih baik dibandingkan SEA. muntah yang lebih rendah pada operasi THA [23]. terutama pada pasien tua. Skor VAS. dan konsentrasi [36]. atensi. Pasien SEA memiliki MMSE lebih rendah dibandingkan CEA . dan ekspresi Aβ dibandingkan pada pasien yang dilakukan 3 teknik anestesi yang berbeda. Walaupun pada studi ini durasi operasi tidak memiliki perbedaan yang bermakna pada ketiga grup.25 *p<0. bahasa.T2 ( 1 hari setelah operasi) 79. infrak myokard.

mengindikasikan GA menstimulasi proses produksi Aβ sehingga memiliki risiko POCD lebih tinggi. manajemen nyeri efektif menggunakan analgesic merupakan suatu hal yang penting untuk mobilisasi lebih awal. Williams-Russo et al mengemukakan bahwa GA dan anestesi epidural tidak memiliki perbedaan signifikan pada hal POCD [26.41]. Hasil serupa telah didapatkan juga oleh Shi et al. kami mengesankan bahwa CEA dan SEA lebih cocok dipakai untuk menangani postoperative analgesia. Pengurangan nyeri dengan pengurangan dosis morfin telah diverifikasi . Bagaimanapun juga POCD memiliki gejala yang halus setelah anestesi dan telah terbukti berasosiasi kuat dengan ekspresi Aβ [38. Sebagai tambahan. Seluruh bukti menyokong bahwa GA menginduksi produksi Aβ lebih dimana dapat menstimulasi POCD dibandingkan dengan teknik CEA maupun SEA. Secara konsisten dengan asil kami seperti pada Wulf et al yang menunjukkan pasien dengan TAH menerima CEA memiliki identifikasi mental dan koordinasi lebih kuat dibandingkan dengan teknik GA [37]. anestesi neuraxial perifer dengan analgesia serta kombinasi opioid dan nonopioid analgesia dapat mengurangi intensitas nyeri secara efisien [7]. Ekspresi Aβ pada pasien dengan GA lebih tinggi secara signifikan pada T2 dibandingkan pada pasien dengan CEA maupun SEA.43]. dimana pasien grup CEA mengkonsumsi analgesic lebih rendah dibandingkan grup SEA. Sebagai tambahan. Perbedaan pada seluruh studi ini mungkin dikarenakan adanya jumlah sampel. dimana dapat mempengaruhi signifikansi klinis dan statistic.39]. skor VAS lebh tinggi pada grup GA dibandingkan grup CEA dan SEA. Kami mendemonstrasikan bahwa pasien grup GA memiliki konsumsi analgesic lebih banyak dibandingkan CEA dan SEA.40]. mengurangi durasi rawat inap. Oleh karena itu. Seperti yang disarankan oleh Horlocker et al. Anwer et al menemukan bahwa GA memiliki risiko tinggi kejadian POCD daripada anestesi epidural pada pasien tua. Shi et al menemukan juga bahwa pasien THA dengan teknik GA memiliki skor MMSE lebih rendah dibandingkan pasien dengan teknik CEA [38]/ Aβ merupakan suatu derivate precursor protein amyloid (APP) dan meningkatkan produksi Aβ disebabkan kausa sentral pada gangguan kognitif seperti penyakit Alzheimer [39. dan biaya medis yang berhubungan dengan THA [42. dimana hasil Aβ lebih tinggi pada pasien dengan POCD setelah menerima GA [38]. Sehingga studi dengan populasi lebih besar diperlukan untuk mengilustrasikan secara penuh signifikansinya.pada seluruh poin waktu. Hasil kami menyimpulkan bahwa teknik CEA merupakan teknik dengan efek pemulihan kognitif postoperative terendah.

. Hasil kami mengemukakan bahwa SEA dan CEA lebih cocok dibandingkan GA untuk pasien THA. Studi efek postoperative anestesia masih kontrakdiksi.secara RCT [33]. Oleh karena itu kami merekomendasikan untuk riset selanjutnya untuk mengetahui bagaimana GA memepengaruhi Aβ dan hubunganya dengan gangguan kognitif postoperative lainnya. CEA dan SEA lebih superior pada pemulihan post operatif. Secara kesimpulan. dan CEA merupakan teknik anestesi lebih baik dibandingkan SEA. Namun kami hanya menganalisis Aβ pada sampel darah dan masih kemungkinan banyak molekul lain yang berperan pada POCD. Kesimpulan Studi ini merupakan studi perbandingan 3 teknik anestesi pada THA pertama yang dipublikasikan. baik secara fisik dan mental dibandingkan GA. Seperti misalnya pada Harsten et al merekomendasikan bahwa GA yang digunakan pada THA memiliki peran dalam mengurangi lamanya rawat inap dan meringankan intensitas nyeri [32].