Anda di halaman 1dari 74

ANGGOTA

1. Adinda Triandari (04121001056)


2. Devuandre Naziat (04121001061)
3. Ardi Septiawan (04121001064)
4. Sandria (04121001068)
5. Fitri Amaliah (04121001073)
6. Shabrina Yunita (04121001079)
7. Citra Indah Sari (04121001089)
8. Renita Agustina (04121001095)
9. Praditya Briyandi (04121001124)
10. Muhammad Faqih H (04121001129)
11. Valeria R Silalahi (04121001144)
12. Trikaya Cuddhi (04121001146)

1|Page
KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa karena atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya lah kami dapat meyusun laporan tutorial ini
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Laporan ini merupakan tugas hasil kegiatan tutorial scenario C blok 6 pendidikan dokter
umum fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya tahun 2013. Di sini kami membahas sebuah
kasus kemudian dipecahkan secara kelompok berdasarkan sistematikanya mulai dari klarifikasi
istilah, identifikasi masalah, menganalisis, meninjau ulang dan menyusun keterkaitan antar
masalah, serta mengidentifikasi topik pembelajaran.
Bahan laporan ini kami dapatkan dari hasil diskusi antar anggota kelompok dan bahan ajar
dari dosen-dosen pembimbing.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa, orang tua, tutor dr. Yan Effendi H, DAHK, dan para anggota kelompok yang telah
mendukung baik moril maupun materil dalam pembuatan laporan ini. Kami mengakui dalam
penulisan laporan ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami memohon maaf dan
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi kesempurnaan laporan kami di kesempatan
mendatang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih.

Palembang, April 2013

Penulis,

2|Page
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... 2

Daftar Isi ........................................................................................................................ 3

I. Petugas Kelompok ......................................................................................... 4

II. Skenario ......................................................................................................... 4

III. Klarifikasi Istilah ........................................................................................... 5

IV. Identifikasi Masalah ....................................................................................... 5

V. Analisis Masalah ............................................................................................ 6

VI. Keterkaitan antarmasalah ............................................................................... 45

VII. Learning Issuedan Sintesis Masalah .............................................................. 46

VII. Kerangka Konsep ........................................................................................... 73

IX. Kesimpulan .................................................................................................... 74

X. Daftar Pustaka ................................................................................................ 74

3|Page
TUTORIAL BLOK 6 SKENARIO C

I. Petugas Kelompok
Tutor : dr. Yan Effendi H, DAHK.
Moderator : Devuandre Naziat
Sekretari : Muhammad Faqih Habiburrahman
Anggota : 1. Adinda Triandari
2. Ardi Septiawan
3. Citra Indah Sari
4. Fitri Amaliah
5. Praditya Briyandi
6. Renita Agustina
7. Sandria Azhar
8. Shabrina Yunita
9. Trikaya Cuddhi
10. Valeria Silalahi

II. SKENARIO

Ny. Pregnita berusia 37 tahun datang ke Klinik Keluarga menyatakan sudah 2 bulan tidak
datang haid. Tiba-tiba, pagi ini keluar flek darah di celana dalam disertai kram perut.
Menurut Ny. Pregnita, ia mengira dirinya hamil karena adanya keluhan sering mual dan
pusing, kadang muntah, sering kali buang air kecil dan dada terasa kencang.
Ia sudah 3 tahun menikah tetapi belum juga dapat keturunan, takut infertile, tidak
merokok, tidak minum alcohol, tidak sedang makan obat, tidak pernah sakit menahun. Riwayat
haid teratur menarche usia 13 tahun, siklus menstruasi rata-rata 28 hari teratur. Semua saudaranya
mempunyai keturunan dan suaminya berusia 40 tahun, jarang pulang karena bekerja sebagai ABK
antarbenua.
Hasil pemeriksaan fisik : TD 130 / 85 mmHg, RR 18/menit, BB 55 kg, TB 155 cm, ukuran
panggul normal, perut datarm hyperpigmentasi areola dan nipple
Pemeriksaan labor : tes urine B HCG (+)
Menurut dokter keluarga, Ny. Pregnita hamil 8 minggu dengan ancaman abortus

4|Page
III. Klarifikasi Istilah :
1. Haid : keadaan fisiologi dan siklik berupa pengeluaran secret yang terdiri
dari darah dan jaringan glukosa dari uterus melalui vagina
2. Flek darah : serpihan partikel berccak atau titik darah
3. Kram perut : kontraksi muscular disertai rasa nyeri pada perut
4. Hamil : keadaan mengandung embrio atau fetus yang bertumbuh di dalam
tubuh
5. Infertile : kurangnya atau hilangnya kemampuan menghasilkan keturunan
6. Sakit menahun : Sakit yang membutuhkan terapi penyembuhan dalam jangka waktu
yang lama
7. Menarche : pembentukan atau permulaan fungsi menstruasi
8. ABK antarbenua : Anak buah kapal yang berlayar dari satu benua ke benua lain
9. Hyperpigmentasi : pigmentasi atau kewarnaan yang meingkat secara abnormal
10. Niple : papilla mammae, tonjoklan berpigmen pada permukaan anterior
payudara, dikelilingi oleh areola
11. Areola : daerah sirkular yang memiliki warna berbeda yang mengelilingi
suatu titik pusat seperti yang mengelilingi putting susu
12. Abortus : janin dengan usia gastasional kurang dari 20 minggu pada waktu
dikeluarkan dari uterus sehingga tidak memiliki harapan untuk
hdup
13. Dada terasa kencang : perasaan kencangnya dada dikarenakan adanya peningkatkan
hormone progesterone sehingga terjadi hypersekresi di glandula
mammae

IV. Identifikasi masalah


1. Ny. Pregnita, 37 tahun, menyatakan sudah 2 bulan tidak datang haid, tiba-tiba keluar flek
darah di celana dalam disertai kram perut
2. Ny. Pregnita sering mual dan pusing, kadang muntah, sering kali buang air kecil, dan dada
terasa kencang
3. Ny. Pregnita 3 tahun menikah belum dapat keturunan, takut infertile, tidak merokok, tidak
minum alcohol, tidak sedang makan obat, tidak pernah sakit menahun
4. Riwayat haid teratur menarche di usia 13 tahun, sikluas menstruasi rata-rata 28 hari
teratur.
5. Suaminya berusia 40 tahun dan jarang pulang karena bekerja sebagai ABK antarbenua
5|Page
6. >Hasil pemeriksaan fisik :
TD : 130/85 mmHg, RR : 18/menit, BB : 55 kg, TB : 155 cm, panggul normal, perut datar,
hyperpigmentasi areola dan nipple
>Hasil pemeriksaan labor : tes urine beta HCG (+)
7. Diagnosis : hamil 8 minggu dengan ancaman abortus

Chief Complaint : Ny. Pregnita, 37 tahun, menyatakan sudah 2 bulan tidak datang haid,
tiba-tiba keluar flek darah di celana dalam disertai kram perut
Keluhan tambahan : Ny. Pregnita sering mual dan pusing, kadang muntah, sering kali buang
air kecil, dan dada terasa kencang
Main problem : Diagnosis : hamil 8 minggu dengan ancaman abortus

V. Analisis Masalah
1. Ny. Pregnita lama tidak haid tetapi tiba-tiba keluar flek darah di celana dalam disertai kram
perut (chief complaint)
a. Mengapa flek darah keluar setelah lama tidak haid ?
Flek darah dalam kasus ini bisa disebabkan sebagai berikut :
1. Adanya kelainan pada kehamilan, misalnya abortus
2. Perdarahan pada vagina sedikit
Bercak darah ini muncul biasanya terjadi antara 8-10 hari setelah terjadinya ovulasi. Bercak
darah ini disebabkan oleh implantasi (implantation bleeding) atau menempelnya embrio
pada dinding rahim.Selain itu, keluarnya bercak darah biasanya diikuti oleh kram perut.
Kram perut pada kondisi terjadinya kehamilan akan terjadi secara teratur. Dan kondisi
kram perut ini, akan terus berlanjut sampai kehamilan trimester kedua, sampai letak uterus
posisinya berada ditengah dan disangga oleh panggul

b. Bagaimana mekanisme terjadinya kram perut ketika keluar flek darah?


Perdarahan saat hamil normal terjadi. Hal yang menyebabkan perdarahan saat hamil,
misalnya :
 Ketika sel telur yang telah dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim di awal
kehamilan.
 Saat plasenta tertanam dalam lapisan rahim.
 Melunaknya serviks juga bisa menyebabkan perdarahan pada awal kehamilan.
6|Page
 Hormon-hormon kehamilan menutupi siklus hormon biasa. Akibatnya, beberapa ibu
mengalami perdarahan di sekitar waktu menstruasi.
 Infeksi vagina
Kram perut terjadi diakibatkan kontraksi endometrium apabila terjadi 5 kemungkinan
tersebut.

2. Ny. Pregnita sering mual dan pusing, kadang muntah, sering kali buang air kecil, dan dada
terasa kencang (keluhan tambahan)
a. Apa hubungan mual dan muntah dengan terlambatnya haid?
Ada 2 kemungkinan :
Mual atau nausea, pada bulan-bulan pertama kehamilan disebabkan meningkatnya
produksi hormon estrogen yang memancing peningkatan keasaman lambung. Jika
frekuensi mual muntah lebih sering di pagi hari, itu karena jarak antara waktu makan
malam dengan makan pagi cukup panjang. Akibatnya, perut kosong mengeluarkan asam
lambung yang membuat ibu merasa lebih mual
Ada juga teori yang mengatakan, biang keladi mual-muntah tak lain adalah faktor
HCG (Human chorionic gonodotropin). Hormon ini dihasilkan plasenta (ari-ari) selama
awal kehamilan. Perubahan dalam tubuh ibu yang dipicu hormon ini kemudian
menimbulkan rasa mual. Fungsi plasenta sebagai sirkulasi dan pemberi makanan pada
janin akan tumbuh maksimal ketika kehamilan menginjak usia 12-14 minggu. Pada saat
ini biasanya mual-muntah akan berhenti.

b. Apa hubungan pusing dengan terlambatnya haid?


Perasaan pusing yang dialami Ny. Pregnita kemungkinan disebabkan oleh karena
defisit nutrisi. Meningkatnya ketbutuhan metabolik janin yang sedang tumbuh
meningkatkan kebutuhan nutrisi bagi ibu. Secara umum, janin mengambil apa yang
diperlukan oleh ibunya, meskipun hal itu menyebabkan ibu mengalami defisit nutrisi.
Sebagai contoh, hormon hCS (human chorionic somatomammotropin) diperkirakan
berperan menyebabkan penurunan pemakaian glukosa oleh ibu dan mobilisasi asam lemak
bebas dari simpanan lemak ibu, serupa dengan efek growth hormone. Perubahan -
perubahan metabolik pada ibu yang dipicu oleh hCS menyebabkan glukosa dan asam
lemak tersedia lebih banyak untuk dialihkan ke janin. Padahal, otak hanya dapat
menggunakan glukosa sebagai bahan bakar metaboliknya, namun jaringan saraf sama
sekali tidak dapat menyimpan glikogen
7|Page
c. Apa hubungan seringnya buang air kecil dengan terlambatnya haid?
Ada 2 kemungkinan yang menyebabkan seringnya buang air pada kehamilan
Pada awal kehamilan, rahim yang sedikit demi sedikit membesar akan menekan kandung
kemih. Ini biasanya terjadi pada trisemester pertama .
Sedangkan selama trisemester kedua, keinginan ingin buang air kecil itu menjadi
berkurang karena tekanan kandung kemih tidak sebesar pada trisemester pertama. Pada
trismester kedua rahim membesar ke atas ke arah perut sehingga terdapat ruang lebih
lapang.

d. Bagimana struktur mikroskopis glandula mammae ?


Kelenjar Mammae yang Tidak Aktif

Kelenjar mammae yang tidak aktif ditandai oleh banyaknya jaringan ikat dan
sedikit unsur kelenjar. Beberapa perubahan siklik di kelenjar mammae mungkin terlihat
selama daur haid.
Lobulus (1) kelenjar terdiri dari tubulus kecil atau duktus intralobularis (2) yang
dilapisi oleh epitel kuboid atau kolumner rendah. Di dasar epitel adalah sel mioepitel
kontraktil. Duktus interlobularis (3) yang lebih besar mengelilingi lobules dan duktus
intralobularis.
8|Page
Duktus intralobularis dikelilingi oleh jaringan ikat longgar intralobularis (4)
yang mengandung fibroblast, limfosit, sel plasma, dan eosinofil. Lobulus dikelilingi oleh
jaringan ikat padat interlobularis (5) yang mengandung pembuluh darah.
Kelenjar mammae terdiri dari 15 sampai 25 lobus. Setiap lobus dipisahkan oleh
jaringan ikat interlobularis. Duktus laktiferus muncul dari setiap lobus di permukaan
papilla mamma.

Kelenjar Mammae Selama Proliferasi dan Kehamilan Awal

Dalam mempersiapkan pengeluaran air susu (laktasi), kelenjar mammae


mengalami banyak perubahan structural. Selama paruh pertama kehamilan, duktus
intralobularis mengalami proliferasi yang cepat dan membentuk terminal bud yang
berdiferensiasi menjadi alveoli (1). Pada saat ini, kebanyakan alveoli kosong dan sulit
dibedakan antara duktus ekskretorius intralobularis (2) dan alveoli. Duktus ekskretorius
intralobularis tampak lebih teratur dengan lapisan epitel yang lebih jelas. Duktus
eksretorius intralobularis dan alveoli dilapisi oleh dua lapisan sel, epitel luminal dan
lapisan basal sel mioepitel gepeng.
Jaringan ikat longgar intralobularis (3) mengelilingi alveoli dan duktus.
Jaringan ikat yang lebih padat dengan sel adipose mengelilingi masing-masing lobules dan
9|Page
membentuk septum jaringan ikat interlobularis (4). Duktus ekskretorius
interlobularis (5) dilapisi oleh sel kolumnar tinggi, berjalan di septum jaringan ikat
interlobularis untuk menyatu dengan duktus laktiferus (6) lebih besar yang biasanya
dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris pendek. Setiap duktus laktiferus
mengumpulkan produk sekretorik dari lobus dan mengangkutnya ke papilla mamma.

e. Apa hubungan dada terasa kencang dengan terlambatnya haid?


Dada terasa kencang disebabkan oleh pengaruh progesterone yang merangsang
duktuli dan alveoli di mamma. Progesterone meningkatkan perkembangan dari lobules
dan alveoli payudara, mengakibatkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar, dan
menjadi bersifat sekretorik. Akan tetapi, progesterone tidak menyebabkan alveoli benar-
benar menyekresi air susu karena air susu disekresi hanya sesudah payudara yang siap
dirangsang lebih lanjut oleh prolaktin dari kelenjar hipofisis anterior. Progesterone juga
menyebabkan payudara membengkak. Sebagian dari pembengkakan ini terjadi karena
perkembangan sekretorik dari lobules dan alveoli, tetapi sebagian lagi kelihatannya
dihasilkan dari peningkatan cairan di dalam jaringan subkutan.

10 | P a g e
3. Ny. Pregnita, 37 tahun telah 3 tahun menikah belum dapat keturunan, takut infertile, tidak
merokok, tidak minum alcohol, tidak sedang makan obat, tidak pernah sakit menahun
a. Apa itu infertile ?
Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengandung (hamil)
setelah selamam 12 bulan melakukan hubungan seksual tanpa alat konstrasepsi. Pada
semua pasangan yang mengalami infertilitas, dilakukan evaluasi awal yang meliputi
diskusi mengenai waktu yang tepat unuk melakukan hubungan seksual, faktor risiko yang
dapat dimodifikasi seperti merokok, konsumsi alkoho/kafein, dan obesitas. Infertilitas juga
berkaitan dengan stres psikologis, karena dapat mengganggu kontrol hipotalamus dalam
ovulasi.
Di Amerika Serikat dari 5 juta pasangan, infertilitas karena penyebab faktor pria
maupun faktor wanita.
Faktor pria sebesar 25%
1. 30-40% karena hipogonadisme primer denga FSH tinggi,
2. 10-20% karena kelainan transpor sperma,
3. 2% karena hipogonadisme sekunder dengan FSH dan LH yang rendah,
4. 40-50% karena penyebab yang tidak diketahui.
Faktor perempuan 58%
1. 46% akibat amenore/disfungsi ovulasi,
2. 38% karena defek pada tuba,
Dapat disebabkan oleh penyakit panggul inflmasi, apendisitis, emdmetriosis,
perlengketan daerah panggul, operasi daerah tuba, dan riwayat penggunaan spiral.
Walaupun demikian 50% pasien dengan infertilitas disebabkan karena faktor tuba,
tidak ditemukan penyebab spesifik dari kelainan tuba tersebut.
3. 9% karena endometriosis,
Adanya kelenjar atau stroma endometrial di luar rongga endometrium.
4. 7% karena penyebab lain,
5. 17% faktor yang tidak dapat dijelaskan.

Infertilitas akibat amenore sendiri; 51% akibat kelainan hipotalamus, 30% karena
sindrom ovarium polikistik, 12% karena kegagalan ovarium prematur, 7% karena kelainan
uterus atau traktus jalan lahir.

11 | P a g e
b. Apa hubungan antara merokok, minum alcohol, konsumsi obat, dan sakit menahun,
dengan infertile?
Penyebab infertilitas pada laki-laki
Penyebab utama infertilitas pada pria adalah Jumlah sperma rendah atau volume.
Produksi sperma dipengaruhi karena masalah hormonal pada testis atau kelenjar pituitari,
pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radiasi dan beberapa faktor lainnya. Kadang-
kadang masalah genetik juga berperan. Diabetes dan tiroid juga menyebabkan kemandulan
pada pria yang menderita dari mereka. Ejakulasi masalah seperti ejakulasi diblokir dan
ejakulasi retrograde juga memainkan peran penting dalam ketidaksuburan. Sindrom
Klinefelter atau masalah kromosom menyebabkan kemandulan juga.

Penyebab infertilitas pada perempuan


Tingkat kesuburan wanita dipengaruhi oleh usia. Kondisi lain yang menyebabkan
kemandulan pada perempuan adalah penyakit radang panggul, kesulitan ovulasi, diabetes,
gangguan tiroid, masalah hati, penyakit ginjal, masalah dalam rahim, tuba falopi dan leher
rahim dan endometriosis (gangguan pada organ reproduksi wanita). Faktor kurang dikenal
yang dapat menyebabkan kemandulan pada wanita kelebihan berat badan atau penurunan
berat badan.

Lingkungan dan faktor gaya hidup yang bertanggung jawab untuk infertilitas
Faktor gaya hidup tertentu seperti merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan,
gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, latihan yang ketat dan
mengambil stres fisik berlebihan dapat menyebabkan infertilitas. Faktor lingkungan
seperti paparan racun seperti lem, pelarut organik yang mudah menguap, silikon, agen
fisik, debu dan pestisida kimia juga berkontribusi terhadap infertilitas.

Hubungan antara merokok dan infertilitas


Merokok tidak hanya berbahaya bagi jantung dan organ pernapasan, tetapi juga
fungsi reproduksi. Merokok atau konsumsi zat yang mengandung tembakau mengurangi
produksi sperma pada pria dan mempengaruhi kualitas telur pada wanita, menyebabkan
infertilitas dalam perjalanan waktu. Merokok juga menurunkan produksi testosteron pada
pria, sehingga menyebabkan impotensi. Merokok pada perempuan menyebabkan
perubahan pada lendir serviks, yang mencegah sperma mencapai sel telur dan
menginduksi infertilitas.
12 | P a g e
4. Riwayat haid teratur menarche di usia 13 tahun, sikluas menstruasi rata-rata 28 hari teratur,
tetapi sudah 2 bulan tidak datang haid.
a. Apa itu menarche ? (definisi, factor-faktor, rentang usia)
Definisi
Permulaan siklus menstruasi saat periode puncak pubertas yang ditandai dengan
sekresi hormone gonadotropin oleh hipofisis
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Menarche
Menurut Atikah Proverawati & Siti Misaroh (2009) Faktor – faktor yang
mempengaruhi menarche adalah :
1) Aspek psikologi yang menyatakan bahwa menarche merupakan bagian dari masa
pubertas. Menarche merupakan suatu proses yang melibatkan sistem anatomi dan fisiologi
dari proses pubertas yaitu sebagai berikut :
a) Dieksresikan estrogen oleh ovarium yang distimulasi oleh hormon ptuitari.
b) Estrogen menstimulasi pertumbuhan uterus.
c) Fluktuasi tingkat hormon yang dapat menghasilkan perubahan suplai darah yang
adekuat ke bagian endometrium.
d) Kematian beberapa jaringan endometrium dari hormon ini dan adanya peningkatan
fluktuasi suplai darah desidua ( Proverawati & Misaroh, 2009 ).
2) Menarche dan kesuburannya
Pada sebagian besar wanita, menarche bukanlah sebagai tanda terjadinya ovulasi.
Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa interval rata – rata antara menarche
dan ovulasi terjadi beberapa bulan. Secara tidak teratur menstruasi terjadi selama 1 – 2
tahun sebelum terjadi ovulasi yang teratur. Adanya ovulasi yang teratur menandakan
interval yang konsisten dari lamanya mens dan perkiraan waktu datangnya kembali dan
untuk mengukur tingkat kesuburan seorang wanita.
3) Pengaruh waktu terjadinya menarche
Menarche biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah perkembangan payudara. Namun
akhir – akhir ini menarche terjadi pada usia yang lebih muda dan tergantung dari
pertumbuhan individu tersebut, diet dan tingkat kesehatannya.
4) Menarche dan lingkungan sosial
Menurut sebuah penelitian menyatakan bahwa lingkungan sosial berpengaruh
terhadap waktu terjadinya menarche. Salah satunya yaitu lingkungan keluarga.
Lingkungan keluarga yang harmonis dan adanya keluarga yang besar yang baik dapat
memperlambat terjadinya menarche dini sedangkan anak yang tinggal ditengah –
13 | P a g e
tengah keluarga yang tidak harmonis dapat mengakibatkan terjadinya menarche dini.
Struktur dan fungsi keluarga juga berpengaruh terhadap terjadinya pubertas yang
lambat yaitu adanya keluarga yang besar, hubungan yang positif dalam keluarga serta
adanya dukungan dan tingkat stress yang rendah dalam lingkungan keluarga.

5) Umur menarche dan status sosial ekonomi


Menarche terlambat terjadi pada kelompok sosial ekonomi sedang sampai tinggi
yang memiliki selisih sekitar 12 bulan. Hal ini telah diteliti di India berdasarkan
pendapatan perkapita. Orang yang berasal dari kelompok keluarga yang biasa
mengalami menarche lebih dini. Namun setelah diteliti lebih lanjut asupan protein lebih
berpengaruh terhadap kejadian menarche yang lebih awal.
Rentang usia biasanya pada usia 11-16 tahun (rata-rata usia 13 tahun)

b. Bagaimana histofisiologis dari menarche ?


Menarche
Menarche adalah saat haid/menstruasi yang dating pertama kali yang sebenarnya
merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri
yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda ia sudah mampu hamil. Usia remaja
putrid saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 1-16 tahun, tetapi rata-
rata pada usia 12.5 tahun. (Sarwono,2005)
Kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktro yang mempunyai sistem
tersendiri yaitu sistem susunan saraf pusat dengan panca inderanya, sistem hormonal aksis
hipotalamo-hipofisis-ovarial, perubahan yang terjadi pada ovarium, perubahan yang
terjadi pada uterus sebagai organ akhir, dan rangsangan estrogen dan progesteron pada
panca indera, langsung pada hipotalamus, dan melalui perubahan emosi (Manuaba,1999)
Selain estrogen dan progesteron, hormon-hormon yang berpengaruh terhadap
terjadinya proses menstruasi yaitu horom perangsang folikel (FSH), berfungsi merangsang
folikel primordial yang dalam perjalanannya mengeluarkan hormon estrogen untuk
pertumbuhan tanda seks sekunder wanita, luteinizing hormon (LH) yang berfungsi
merangsang indung telu. (Manuaba,1999).

Kondisi Uterus
Selama fase menstruasi, endometrium di stratum functionale mengalami
degenerasi dan terlepas. Endometrium yang terlepas mengandung kepingan-kepingan
14 | P a g e
stroma yang hancur, bekuan darah. dan kelenjar uterus. Beberapa kelenjar uterus yang
utuh terisi oleh darah. Di lapisan endometrium yang lebih dalam, stratum basale, dasar
kelenjar uterus tetap utuh selama pelepasan stratum functionale dan pengeluaran darah
haid.
Stroma endometrium pada sebagian besar stratum functionale mengandung
kumpulan eritrosit yang keluar dari pembuluh darah yang robek dan mengalami
disintegrasi. Selain itu, stroma endometrium memperlihatkan infiltrasi limfosit dan
neutrofil.
Stratum basale, endometrii tetap tidak terpengaruh selama fase ini. Bagian distal
(superficial) arteri spiralis mengalami nekrosis, sedangkan bagian arteri yang lebih dalam
tetap utuh.

15 | P a g e
5. Bagaimana siklus menstruasi yang normal?
Umumnya, jarak siklus menstruasi berkisar dari 15-45 hari, dengan rata-rata 28
hari. lamanya berbeda-beda antara 2-8 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah menstruasi
biasanya tidak membeku. Jumlah kehilangan darah tiap siklus berkisar dari 60-80 ml

SIKLUS OVARIUM
1. Fase Folikular
Siklus diawali dengan hari pertama menstruasi atau terlepasnya endometrium. FSH
merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium. Umumnya
hanya satu yang berkembang dan menjadi folikel de graff dan yang lainnya
bedegenerasi. Folikel terdiri dari sebuah ovum dan dua lapis sel yang mengelilinginya.
Lapisan dalam, yaitu sel-sel granulose menyintesis progesterone yang disekresi ke
dalam cairan folikular selama paruh pertama siklus menstruasi, dan bekerja sebgai
16 | P a g e
prekursor pada sintesis estrogen oleh lapisan sel teka interna yang mengelilinginya.
Estrogen disintesis dalam sel-sel lutein pada teka interna. Jalur biosintesis estrogen
berlangsung dari progesterone dan pregnenolon melalui jalur 17-hidroksilasi turunan
dari androstenedion, testosterone, dan estradiol. Kandungan enzim aromatisasi yang
tinggi pada sel-sel ini mempercepat perubahan androgen menjadi estrogen. Di dalam
folikel, oosit primer mulai menjalani proses pematangannya. Pada waktu yang sama,
folikel yang sedang berkembang menyekresi estrogen lebih banyak ke dalam system
ini. Kadar estrogen yang meningkat menyebabkan pelepasan LHRH melalui
mekanisme umpan balik positif.
2. Fase Luteal
LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat sebelum ovulasi, oosit
primer selesai menjalani pembelahan meiosis pertamanya. Kadar estrogen yang tinggi
kini menghambat produksi FSH. Kemudian kadar estrogen mulai menurun. Setelah
oosit terlepas dari folikel deGraaf, lapisan granulose menjadi banyak mengandung
pembuluh darah dan sangat terluteinisasi, berubah menjadi korpus luteum yang
berwarna kuning pada ovarium. Korpus luteum terus menyekresi sejumlah kecil
estrogen dan progesterone yang makin lama makin meningkat.

SIKLUS ENDOMETRIUM
1. Fase Proliferasi
Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium
istirahat. Stadium ini berlangsung kira-kira 5 hari. kadar estrogen yang meningkat dari
folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh
dan menebal., kelenjar-kelenjar menjadi hipertrofi dan berproliferasi, dan pembuluh
darah menjadi banyak sekali. Kelenjar-kelenjar dan stroma berkembang sama
cepatnya. Kelenjar menjadi tambah panjang tetapi tetap lurus dan berbentuk tubulus.
Epitel kelenjar berbentuk toraks dengan sitoplasma eosinofilik yang seragam dengan
inti di tengah. Stroma cukup padat pada lapisan basal tetapi makin ke permukaan
semakin longgar. Pembuluh darah akan mulai berbentuk spiral dan lebih kecil.
Lamanya fase proliferasi sangat berbeda-beda pada tiap orang, dan berakhir pada saat
terjadinya ovulasi.

17 | P a g e
2. Fase Sekresi
Setelah ovulasi, di bawah pengaruh progesterone yang terus meningkat dan terus
diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium menebal dan menjadi
seperti beludru. Kelenjar menjadi lebih besar dan berkelok-kelok, dan epitel kelenjar
menjadi berlipat-lipat. Inti sel bergerak ke bawah, dan permukaan epitel tampak kusut.
Stroma menjadi endematosa. Terjadi pula infiltrasileukosit yang banyak, dan
pembuluh darah menjadi makin berbentuk spiral dan melebar. Lamanya fase sekresi
sama pada setiap perempuan yaitu 14±2 hari

3. Fase Menstruasi
Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari,
dan kemudian mulai beregresi. Akibatnya terjadi penurunan progesterone dan estrogen
yang tajam sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium. Perubahan
iskemik terjadi pada arteriola dan diikuti dengan menstruasi

18 | P a g e
6. Apa itu haid ?
Menstruasi atau haid merupakan salah satu proses alami seorang perempuan yaitu
proses deskuamasi atau meluruhnya dinding rahim bagian dalam (endometrium) yang
keluar melalui vagina (Prawirohardjo,2007; Suwarni 2009). Siklus menstruasi berkisar
antara 21 - 40 hari, hanya 10 – 15% wanita yang memiliki siklus 28 hari dan lebih dari 35
hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan
sesaat sebelum menopause, lamanya mengeluarkan darah pun berbeda-beda, biasanya
antara 3-5 hari,7-8 hari dan ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit.

19 | P a g e
Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya hormon esterogen dan progesteron,
terutama progesteron, pada akhir siklus ovarium bulanan, efek pertama adalah penurunan
rangsangan terhadap sel-sel endometrium oleh kedua hormon ini. Diikuti dengan cepat
oleh involusi endometrium sendiri menjadi kira-kira 65 persen dari ketebalan sempurna.

7. Bagaimana siklus haid ?


Siklus Menstruasi
Kerja hormon hormon ovarium (estrogen dan progesteron ) dibawah rangsangan
lobus anterior hipofisis menyebabkan endometrium mengalami siklus perubahan structural
yang merupakan siklus menstruasi. Siklus menstruasi di akibatkan perubahan pada
ovarium yang dikaitkan dengan pembentukan ovum, wanita hanya subur selama tahun-
tahun dimana ia mempunyai siklus menstruasi.tetapi tidak berarti aktifitas seksual berakhir
pada masa monopose. Permulaan siklus menstruasi dimulai pada waktu darah menstruasi
timbul. Kotoran menstruasi terdiri atas endometrium yang dirusak sebagian dan
mengalami deskuamasi dan bercampur dengan darah dari pembuluh pembuluh yang
mengalami degenerasi.Fase menstruasi ditempatkan sebagai hari pertama sampai hari ke
empat siklus, fase proliferasi hari ke lima sampai hari ke empat belas, dan fase sekresi
pada hari ke lima belas sampai hari ke dua puluh delapan.
Urutan fungsional siklus menstruasi :
1. fase proliferasi
Setelah fase menstruasi, mukosa uterus menipis sampai berupa pita kecil jaringan
penyambung yang mengandung bagian basal kelenjar kelenjar tetapi tanpa bagian
atasnya dan epitel pembatas.Fase proliferasi adalah fase estrogenic karena berteptan
dengan perkembangan folikel ovarium dan pembentukan estrogen. Proliferasi seluler
terus berlangsung pada fase proliferasi, dan mitosis ditemukan pada epitel pembatas
dan dalam kelenjar kelenjar. Pada akhir fase proliferasi kelenjar kelenjar tampak
lurus, lumen sempit, dan sel-selnya mulai mengumpulkan glikogen pada tempat
dibawah inti.Arteri spinalis memanjang dan berkelok kelok.

2. Fase sekresi atau fase luteal


fase ini mulai setelah ovulasi tergantung pada pembentukan fase luteum yang
mengekresi progesterone.progesteron bekerja pada kelenjar kelenjar yang telah
berkembang oleh kerja estrogen. Progesteron merangsang sel sel kelenjar untuk
20 | P a g e
bersekresi. Endometrium mencapai tebal maksimal (5nm) sebagai akibat penimbunan
sekresi udem stoma.
3. Fase Menstruasi
fertilisasi yang dikeluarkan oleh ovarium tidak terjadi , kadar estrogen dan
proghesteron darah mendadak turun, endometrium berkembang akibat respon
rangsangan hormone hormone ini mengalami involusi dan dihancurkan sebagian.
Akhir fase sekresi dinding arteria spiralis berkontraksi menutup aliran darah dan
iskemia.Stadium ini deskuamasi endometrium dan reptura pembuluh pembuluh darah
diatas konstriksi berlangsung dan perdarahan mulai timbul. Endometrium sebagian
lepads, pada akhir menstruasi endometrium hampir selalu berkurang sampai habis
kecuali lapisan basalis, Poriferasi sel sel kelenjar dan migrasinya kepermukan
mengawali fase proliferasi, dan siklus dimulai lagi
c. Apa saja factor-faktor hormonal yang mempengaruhi siklus haid ?
Siklus haid seorang wanita diatur oleh beberapa hormon gonadotropin, diantaranya
adalah hormon yaitu FSH dan LH yang di hasilkan oleh hipofisis anterior yang kerjanya
distimulasi oleh Hipotalamus menggunakan faktor pelepas penting, GnRH. Dan juga oleh
hormon-hormon ovarium, yaitu esterogen dan progesteron.
Fase proliferatif di tandai oleh pertumbuhan dan perkembangan endometrium
yang cepat yang berkaitan secara erat dengan pertumbuhan cepat folikel ovarium dan
peningkatan produksi esterogen. Fase ini dimulai pada hari ke 5 sampai hari ke 14 daur
haid.
Fase sekretori dimulai segera setelah ovulasi sekitar hari ke 15 sampai hari ke 28
daur haid. Selama fase ini, korpus luteum menyekresi sejumlah besar esterogen dan
progesteron. Semua hormon ini menekan FSH dan LH, dan mengurangi hormon ini
sampai kadar terendah. Endometrium menjadi tebal dan menimbun cairan, menjadi
edematosa. Arteri spiralis di endometrium juga memanjang, menjadi lebih bergelung dan
menjulur hampir ke permukaan endometrium.
Fase menstruasi dimulai ketika oosit yang berevolusi tidak di buahi.
Berkurangnya kadar estreogen dan progesteron, akibat regresi korpus luteum, memulai
fase ini. Berkurangnya kedua kadar hormon ini menyebabkan konstriksi intermiten arteri
spiralis dan terganggunya aliran darah ke stratum functionale endometrii, sementara aliran
darah ke stratum basale tetap tidak terganggu. Sesudah terjadinya konstriksi pembuluh
darah, arteri spiralis melebar, mengakibatkan pecahnya dinding yang mengalami nekrosis
dan pendarahan ke dalam stroma.
21 | P a g e
d. Apa saja penyebab terlambatnya haid ?
Penyebab terbanyak dari amenorea sekunder adalah kehamilan, setelah kehamilan,
menyusui, penyebab lainnya adalah:
Stress dan depresi
Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan berlebihan, olahraga berlebihan, obesitas
Gangguan hipotalamus dan hipofisis
Gangguan indung telur
Obat-obatan
Penyakit kronik dan Sindrom Asherman

e. Bagaimana histofisiologis organ reproduksi femina interna ?


Ovarium dilapisi oleh satu lapisan kuboid atau gepeng yaitu epitel germinal (11),
yang bersambung dengan mesotelium (13), peritoneum visceral. Di bawah epitel germinal
adalah lapisan jaringan ikat padat yang disebut tunica albugenia (15)
Ovarium memiliki korteks (10) di tepi dan medulan(8) di tengah, tempat
ditemukannya banyak pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe. Selain folikel, korteks
mengandung fibrosit dengan serat kolagen dan reticular. Medula adalah jaringan ikat
padat tidk teratur yang bersambung dengna ligamentum mesovarium (23) yang
menggantungkan ovarium. Pembuluh darah (8) besar di medulla dilapisi oleh epitel
germinal dan mesotelium peritoneum.
Di stroma korteks terlihat banyak folikel ovarium, terutama jenis yang lebih kecil,
dalam berbagai tahapan perkembangan. Folikel yang paling banyak adalah folikel
primordial (19), yang terletak di tepi korteks dan dibawah tunika albugenia. Folikel
primordial adalah struktur yang paling kecil dan sederhana. Folikel ini dikelilingi oleh satu
lapisan sel folikular gepeng. Folikel primordial mengandung oosit primer yang kecil dan
imatur, yang membesar secara bertahap seiring perkembangan folikel menjadi folikel
primer, sekunder, dan matur. Sebelum ovulasi folikel matur, semua folikel yangs edang
berkembang mengandung oosit primer (2,12,21)
Folikel yang lebih kecil dengan sel kuboid, silindris, atau berlapis kuboid yang
mengelilingi oosit primer disebut folikel primer (12). Seiring dengan bertambahnya
ukuran folikel, cairan, yang disebut liquor folikuli, mulai menumpuk di antara sel-sel
folikuler, yang sekarang disebut sel granulose (5). Daerah-daerah yang mengandung
cairan akhirnya menyatu untuk membentuk suatu rongga berisi cairan yaitu antrum
22 | P a g e
(4,20).Folikel dengan rongga antrum disebut folikel sekunder (21). Folikel ini lebih besar
dan terletak lebih dalam di korteks. Semua folikel yang lebih besar, termasuk folikel
primer, sekunder, dan folikel matur memperlihatkan lapisan sel granulose, teka interna (6)
dan lapisan jaringan ikat sebelah luar, teka eksterna (7)
Folikel ovarium yang paling besar adalah folikel matur. Folikel ini
memperlihatkan struktur sebagai berikut :Antrum besar yang berisi liquor folikuli;
cumulus ooforus (1); suatu bukit keil di tempat oosit primer berada, corona radiate (3)
lapisan sel yang langsung melekat pada oosit primer; sel granulose yang mengelilingi
antrum; lapisan dalam teka interna; dan lapisan luar teka eksterna.
Setelah ovulasi, folikel besar kolaps dan berubah menjadi organ endokrin
sementara, korpus luteum (16). Sel granulose folikel berubah menjadi sel lutein granulose
yang berwarna lebih berwarna, dan sel teka interna menjadi sel teka lutein yang bewarna
lebih gelap. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum mengalami
regresi, degenrasi, dan akhirnya berubah menjadi jaringan parut yang disebut korpus
albikans (9,14).
Kebanyakan folikel ovarium tidak mencapai maturitas. Folikel-folikel ini
mengalami degenerasi (atresia) pada semua tahap perkembangan folikel and menjadi
folikel atretic (22) yang akhirnya diganti oleh jaringan ikat.

23 | P a g e
24 | P a g e
8. Suaminya berusia 40 tahun dan jarang pulang karena bekerja sebagai ABK antarbenua
a. Bagaimana histofisiologis dari organ reproduksi maskulin ?
Organ Reproduksi Pria
1. Struktur makrokopis
Organ reproduksi pria dibagi menjadi dua, yaitu
a. Genitalia Interna
 Glandula prostat
Glandula prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi
urethra pars prostatica. Prostate mempunyai panjang kurang lebih 1,25 ichi (3 cm)
dan terletak di antara collum vesicae di atas dan diaphragm urogenitale di bawah.
Prostate dikelilingi oleh capsula fibrosa. Prostate berbentuk keruncut dan
mempunyai bagian basis dan apex prostatae.
Fungsi prostate adalah menghasilkan cairin tipis seperti susu yang mengandung
asam sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan ke semen pada waktu
ejakulasi. Secret prostat bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana asam
di vagina. Prostat diperdarahi oleh cabang a. vesicalis inferior dan a. rectalis
media, serta plexus venosus prostaticus.

 Vesica seminalis
Vesica seminalis merupakan dua buah organ yang berlobus dengan panjang kurang
lebih 2 inchi dan terletak pada facies posterior vesicae. Di posterior, vesica
seminalis berbatasan dengan rectum. Ke inferior, masing-masing vesica seminalis
menyempit dan bersatu dengan duktus deferens sisi yang sama untuk membentuk
ductus ejaculatorius.
Fungsi vesica seminalis adalah menghasilkan secret yang ditambahkan pada cairan
semen. Sekretnya mengandung zat yang penting sebagai makanan spermatozoa.
Vesica seminalis memiliki lumen yang berkelok-kelok dan tidak teratur. Epitel
kelenjar vesica seminalis bervariasi dengan sel sekretoris silindris rendah atau
kuboid. Muskularisnya terdiri atas tunica muskularis otot polos longitudinal luar
dan sirukulari dalam. Di bagian luar, terdapat lapisan adventisia yang mengelilingi
muskularis dan menyatu dengan jaringan ikat.

25 | P a g e
 Duktus deferens
Ampulla ductus deferentis merupakan bagian terminal vas deferens. Vas deferens
merupakan saluran berdinding tebal dnegan panjang kurang lebih 18 inci, yang
menyalurkan sperma matangdari epididymis ke ductus ejaculatorius dan urethra.

b. Genitalia Eksterna
 Penis
Penis mempunyai radix penis yang terfiksasi dan corpus yang tergantung bebas.
Radix Penis dibentuk oleh tiga massa jaringan erektil yang dinamakan bulbus
penis dan crus penis dextra dan sinistra. Bulbus penis ditembus oleh urethra dan
permukaan luarnya dibungkus oleh musculus bulbospongiosus. Masing-masing
crus penis melekat pada pinggir arcus pubicus dan permukaan luarnya diliputi oleh
musculus ischiocavernosus. Bubus melanjutkan diri ke dapan sebagai corpus penis
dan membentuk corpus spongiosum penis. Di anterior kedua crus penis saling
mendekati dan di bagian dorsal corpus penis terletak berdampingan membentuk
corpus cavernosum penis.
Corpus Penis terdiri atas tiga jaringan erektil (satu corpus spongiosum penis dan
dua corpora cavernosa penis) yang diliputi fascia berbentuk tubular (facia Buck).
Pada bagian distal corpus spongiosum melebar membentuk glans penis. Corpus
penis disokong oleh dua buah kondesasi fascia profunda yang berjalan ke bawah
dari linea alba dan symphisis pubis untuk melekat pada fascia penis.
Corpora cavernosa penis diperdarahi oleh a. profunda penis, sedangkan corpus
spongiosum penis diperdarahi oleh a. bulbi penis. Persarafannya berasal dari n.
pudendus dan plexus pelvicus.

Tindakan seks pada pria melibatkan 2 komponen:

26 | P a g e
b. Apa hubungan antara usia dengan fertilitas ?
Spermatogenesis
Seperti yang kita tahu, Spermatozoa diproduksi (Spermatositogenesis) di testis
tepatnya didalam tubulus seminiferus, yang dipengaruhi oleh hormone testosterone.
Spermatogenesis terdiri dari pembelahan sel secara mitosis termasuk proliferasi dan
maintenance dari spermatogonia. Terdapat tiga tipe sel spermatogonia, yaitu : A-
spermatogonia, I-spermatogonia (intermediet)dan B-spermatogonia. A-spermatogonia
akan mengalami pembelahan secara mitosis menjadi A1 sampai A4. Kemudian A4 dan I
spermatogonia akan menjadi B spermatogonia. A spermatogonia menjadi sumber
spermatogenesis, sedangkan yang akan membelah secara mitosis menjadi spermatosit
primer adalah spermatogonia B. Pada usia lanjut jumlah spermatogonia tipe A akan
berkurang yang ini berarti sumber spermatozoa berkurang. Selain itu sel Sertoli yang
merupakan sumber nutrisi sperma akan berkurang jumlahnya dan terakumulasi lipid
sehingga tidak berfungsi dengan optimal. Sedangkan sel Leydig yang memproduksi
hormone testosterone juga berkurang jumlahnya. Selain itu pada usia tua sering terjadi
kasus penyakit infeksi urogenital, usia 25 tahun (6.1%) sedangkan usia 40 tahun (13.6%).
Kejadian infeksi ini juga menurukan total jumlah sperma. “Sperm slow down with age,”
(Andrew Wyrobek, head of the Health Effects Genetics Division at Lawrence Livermore
National Laboratory).
Fertility dipengaruhi oleh kualitas sperma bukan kemampuan ejakulasi. Volume
semen akan berkurang 20% anatara pria sehat berusia 30 tahun dan 50 tahun. Volume ini
akan menurun gradually 0.5% pertahun. Sedangkan motilitas sperma ini akan menurun
dengan bertambahnya usia dengan penurunan 0.17%-0.7% pertahun. Perubahan motilitas
pada pasien infeksi urogenital :
 25 % pada usia 22 tahun
 40 % pada usia 30 tahun
 60 % pada usia 40 tahun
 85 % pada usia 60 tahun
Konsentrasi juga dilaporkan mengalami penurunan dan kelainan morfologi sperm
dilaporkan meningkat. Konsentrasi sperma abnormal dilaporkan meningkat dengan seiring
bertambahnya usia, 5% pada usia 30 tahun, 10% pada usia 50 tahun dan 35% pada usia 80
tahun. Semen (cairan ejakulat) juga dilaporkan mengalami penurunan konsentrasi fruktosa

27 | P a g e
yang notabene sumber energi bagi sperma. So dengan makin lanjut usia akan
mempengaruhi kualitas spermatozoa. Ini dilihat dari kualitas sperma secara mikroskopik.
Ada beberapa laporan yang menyebutkan bahwa DNA sperma dari pria usia tua
akan mengalami mutasi, misal mutasi pada satu basa (hanya satu) pada 3 genes : RET dan
FGFR2 (fibroblast growth factor receptor 2) dan FGFR3 (fibroblast growth factor receptor
3). RET and FGFR2 merupakan gene pada kromosom 10 gene yang bila mengalami
mutasi menyebabkan, yang ditandai dengan abnormalitas dari tulang tengkorak dan wajah,
tangan dan kaki. Misal terjadi penutupan tulang tengkorak yang lambat sehingga
menyebabkan bentuk kepala yang abnormal. Mutasi pada FGFR3 akan menyebabkan
achondroplasia (kelainan tulang punggung). Studi menunjukkan bahwa 2% bayi yang lahir
dari ayah dengan usia 45 – 50 tahun akan menyebabkan schizophrenia (mental disorder).
Pada usia ayah yang tua juga meningkatkan resiko trysomy 21, yang menyebabkan down
syndrome.

Oogenesis
Selama kehidupan perempuan rata-rata, hanya sekitar 400 oosit akanberovulasi.
Ada total 20-30 pembelahan sel telur yang diproduksi untuk masing-masing, sehingga,
kemungkinan telur yang diberikan setiap mengakuisisi mutasi DNA berbasis merugikan
relatif rendah. Namun, tingkat tinggi darikesalahan pembelahan meiosis terlihat dalam
oogenesis. Hal ini juga mencatatbahwa para ibu yang lebih tua memiliki peningkatan
risiko untuk konsepsi yang baik trisomi (satu kromosom ekstra) atau monosomi (satu
kromosomhilang). Kesalahan ini kemungkinan besar terkait dengan periode lama
stasisantara kelahiran dan ovulasi oosit ketika diadakan tersuspensi dalampembelahan sel
pertengahan.Telah menyarankan bahwa, dari waktu ke waktu,mekanisme pembelahan sel
menjadi kurang stabil yang mengarah padapeningkatan frekuensi kesalahan. Sayangnya,
jumlah abnormal kromosom yangberhubungan dengan cacat fisik dan / atau mental,
sehingga konsepsi sepertiitu sering mengakibatkan terminasi spontan. Sebuah
ketidakseimbangankromosom beberapa, termasuk trisomi 13, trisomi 18, trisomi 21
(sindromDown), dan monosomi X (Turner sindrom), kadang-kadang ditoleransi dandapat
menimbulkan bayi lahir hidup, tetapi anak-anak ini akan memilikisejumlah masalah mulai
dari kelainan jantung, kelainan struktural, danretardasi pertumbuhan, keterbelakangan
mental ringan sampai parah.

28 | P a g e
c. Apa hubungan antara pekerjaan sebagai ABK antarbenua dengan fertilitas ?
Pekerjaan sebagai ABK antarbenua menyebabkan jarangnya frekuensi
berhubungan seksual. Namun, intensitas berhubungan seksual tidaklah terlalu berpengaruh
pada fertilisasi. Faktor yang lebih berpengaruh adalah ketepatan momen. Ketepatan
momen disini adalh ketika suami dan istri sama-sama sedang mengalami fase masa subur.
Ketika suami dan istri sama-sama mengalami fase subur, peluang untuk terjadinya
fertilisasi menjadi sangat besar.

d. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi infertilitas ?


Faktor Umum
1. Umur
Umur mempengaruhi kesuburan dimana pada usia tertentu tingkat kesuburan
seorang pria akan mulai menurun secara perlahan-lahan.’ Kesuburan pria ini diawali saat
memasuki usia pubertas ditandai dengan perkembangan organ reproduksi pria, ratarata
umur 12 tahun. Perkembangan organ reproduksi pria mencapai keadaan stabil umur 20
tahun. Tingkat kesuburan akan bertambah sesuai dengan pertambahan umur dan akan
mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Setelah usia 25 tahun kesuburan pria mulai
menurun secara perlahan-lahan, dimana keadaan ini disebabkan karena perubahan bentuk
dan faal organ reproduksi
2. Frekuensi sanggama.
Fertilisasi (pembuahan) atau peristiwa terjadinya pertemuan antara spermatozoa
dan ovum,akan terjadi bila koitus berlangsung pada saat ovulasi. Dalam keadaan normal
sel spermatozoa masih hidup selama 1-3 hari dalam organ reproduksi wanita, sehingga
fertilisasi masih mungkin jilka ovulasi terjadi sekitar 1-3 hari sesudah koi tus berlangsung.
Sedangkan ovum seorang wanita umurnya lebih pendek lagi yaitu lx24 jam, sehingga bila
kiotus dilakukan-pada waktu’ tersebut kemungkinan besar bisa terjadi pembuahan. Hal ini
berarti walaupun suami istri mengadakan hubungan seksual tapi tidak bertepatan dengan
masa subur istri yang hanya terjadi satu kali dalam sebulan maka tidak akan terjadi
pembuahan, dengan arti kata tidak akan terjadi kehamilan pada istri

Faktor Khusus
a. Faktor Pre testikular
Yaitu keadaan-keadaan diluar testis dan mempengaruhi proses spermatogenesis.

29 | P a g e
1. kelainan endokrin. Kurang lebih 2% dari infertilitas pria disebabkan karena adanya
kelainan endokrin antara lain berupa:
a) kelainan paras hipotalamus-hipopise seperti; tidak adanya sekresi gonadotropin
menyebabkan gangguan spermatogenesis
b) kelainan tiroid. Menyebabkan gangguan metabo1isme androgen.
c) kelainan kelenjar adrenal, Congenital adrenal hyperplasi menyebabkan gangguan
spermatogenesis.
2. Kelainan kromosom. Misal penderita sindroma klinefelter, terjadi penambahan
kromosom X, testis” tidak berfungsi baik,sehingga spermatogenesis tidak terjadi.
3. Varikokel, yaitu terjadinya pemanjangan dan dilatasi serta kelokan-kelokan dari pleksus
pampiriformis yang mengakibatkan terjadinya gangguan vaskularisasi testis yang akan
mengganggu proses spermatogenesis;

b. Faktor Post testikular


1. Kelainan epididimis den funikulus spermatikus, dapat berupa absennya duktus deferens,
duktus deferens tidak bersambung dengan epididimis, sumbatan dan lain-lain
2. Kelainan duktus eyakulatorius, berupa sumbatan
3. Kelainan prostat dan vesikula seminalis, yang sering adalah peradangan, biasanya
mengenai kedua organ ini, tumor prostat dan prostatektomi
4. Kelainan penis / uretra. berupa malformasi penis, aplasia, anomali orifisium uretra
(epispadia ,hipospadia). anomali preputium (fimosis), dan lain-lain.

c. Faktor testikular
Atrofi testi primer;gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kriptorkidism,
trauma, torsi, peradangan, tumor. Hampir 9% infertilitas pria disebabkan karena
kriptorkismus (testis tidak turun pada skrotum).

d. Reaksi imunologis
Dalam hal ini analisis sperma biasanya tidak menunjukan kelainan, kecuali terlihat
adanya aglutinasi spermatozoa yang dapat ditentukan dengan tes imunologis

e. Faktor lingkungan
1. suhu, memegang peranan penting pada spermatogenesis. Pada mamalia spermatazoa
hanya dapat diproduksi bila suhu testis 29- 30’C, sedikitnya. 1,5-2.0C· dibawah suhu
30 | P a g e
dalam tubuh, kenaikan suhu beberapa derajat akan menghambat proses spermatogenesis,
sebaliknya suhu rendah akan meningkatkan spermatogenesis pada manusia.
2. tempat/dataran tinggi. Atmosfer dataran tinggi (high altitude) juga menghambat
pembuatan spermatozoa.
3. sinar Rontgen, spermatogonia dan spermatosit sangat peka terhadap sinar Rontgen, tapi
spermatic dan sel sertoli tidak,banyak terpengaruh bahan kimia dan obat-abatan tertentu
dapat menghambat proses spermatogenesis, misal metronidazol, simetidin dan lain-lain

Pihak Istri, penyebab infertilitas pada istri sebaiknya ditelusuri dari organ luar
sampai dengan indung telur.
a) Gangguan ovulasi, misal: gangguan ovarium, gangguan hormonal.
b) Gangguan ovarium dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya tumor pada indung telur
dan gangguan lain yang menyebabkan sel telur tidak dapat masak. Sedangkan gangguan
hormonal disebabkan oleh bagian dari otak (hipotalamus dan hipofisis) tidak
memproduksi hormon-hormon reproduksi seperti FSH dan LH.
c) Kelainan mekanis yang menghambat pembuahan, meliputi kelainan tuba,
endometriosis, stenosis canalis cervicalis atau hymen, fluor albus, kelainan rahim. d)
Kelainan tuba disebabkan adanya penyempitan, perlekatan maupun penyumbatan pada
saluran tuba.
e) Kelainan rahim diakibatkan kelainan bawaan rahim, bentuknya yang tidak normal
maupun ada penyekat. Sekitar 30-40 % pasien dengan endometriosis adalah infertil.
Endometriosis yang berat dapat menyebabkan gangguan pada tuba, ovarium dan
peritoneum. Infertilitas yang disebabkan oleh pihak istri sekitar 40-50 %, sedangkan
penyebab yang tidak jelas kurang lebih 10-20 %.

9. • Hasil pemeriksaan fisik :


TD : 130/85 mmHg, RR : 18/menit, BB : 55 kg, TB : 155 cm, panggul normal, perut datar,
hyperpigmentasi areola dan nipple
• Hasil pemeriksaan labor : tes urine beta HCG (+)
a. Bagaimana struktur makroskopis pelvis wanita ?
Pelvis Major
Pelvis major dianggap masih sebagai bagian dari cavitas abdominalis. Pelvis major
melindungi isi abdomen dan setelah kehamilan bulan ketiga, membantu menyokong uterus

31 | P a g e
gravidarum. Selama satadium awal persalinan, pelvis major membantu menuntun janin
masuk ke pelvis minor.
Pelvis Minor
Pelvis minor pada wanita harus dilalui oleh janin saat proses persalinan. Pelvis minor
memiliki pintu masuk, pintu keluar, dan sebuah cavitas.
Apertura pelvis superior, atau pintu atas panggul di posterior dibatasi oleh
promontorium ossis sacri, di lateral oleh linea terminalis, dan di anterior oleh symphisis
pubica.
Apertura pelvis inferior di posterior dibatasi oleh os coccygeus, di lateral oleh tuber
ischiadicum, dan di anterior oleh arcus pubicus.
Cavitas pelvis terletak di antara apertura pelvis superior dan apertura pelvis inferior.
Struktur dinding pelvis dibentuk oleh tulang dan ligamenta yang sebagian diantaranya
dilapisi oleh otot beserta fascia serta peritoneum parietale. Pelvis memiliki dinding
anterior, posterior, lateral, dan inferior atau dasar pelvis.
Dinding anterior pelvis di bentuk oleh permukaan posterior corpus ossis pubis, rami
pubicum, dan symphisis pubis.
Dinding posterior pelvis luas dan di bentuk oleh os sacrum dan os coccygis serta
musculus piriformis dan fascia pelvis parietalis yang meliputinya.
Os sacrum
Bassis os sacrum bersendi dengan vertebra lumbalis V. Pinggir inferior yang sempit
bersendi dengan os coccygeus, pinggir lateral berssendi dengan kedua os coxae
membentuk articulatio sacroilliaca. Pinggir anterior dan atas verterbra sacralis pertama
menonjol ke depan sebagai promontorium os sacrum, yang penting bagi ahli kandungan
untuk menentukan ukuran pelvis.
Os coccygis
Terdirri dari empat vertebra rudimenter yng bersatu membentuk tulang segitiga kecil
yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum.
Musculus piriformis
Musculus piriformis muncul dari permukaan depan pars lateralis os sacrum, dan
meninggalkan pelvis untuk masuk ke regio glutealis dengan berjalan ke lateral melalui
foramen ischiadicum majus. Otot ini berisertio pada pinggir atas trochanter major femur.
Fungsi otot ini adalah rotator lateral femur pada articulatio coxae.

32 | P a g e
Dinding lateral pelvis dibentuk oleh sebagian os coxae di bawah apertura pelvis
superior, membrana obturatoria, ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale,
serta musculus obturatorius internus beserta fascia yang meliputinya.

Dinding inferior atau dasar pelvis menyokong viscera pelvis dan dibentuk oleh
diafragma pelvis. Dasar pelvis terbentang sepanjang pelvis dan membagi pelvis menjadi
cavitas pelvis utama di sebelah atas yang berisi viscera pelvis; dan perineum yang terletak
dibawahnya.
Diafragma pelvis dibentuk oleh musculus levator ani dan musculus coccygeus serta
fascia yang menutupinya. Di anterior diafragma pelvis tidak tertutup rapat sehingga
memungkinkan lewatnya urethra pada laki-laki serta urethra dan vagina pada wanita.
Fascia pelvis dibentuk oleh jaringan ikat dan dilanjutkan ke atas sebagai fascia yang
membatasi dinding abdomen. Di bawah, fascia melanjut sebagai fascia perinei. Fascia
pelvis dapat dibagi menjadi fascia pelvis parietalis dan visceralis.
Persarafan pada pelvis berasal dari plexus sacralis dan plexus lumbalis. Plexus
sacralis terletak pada dinding posterior pelvis di depan musculus piriformis. Plexus ini
dibentuk dari rami anteriorers nervis lumbales IV dan V serta rami anteriores nervis
sacrales I, II, III, dan IV. Sebagian nervus lumbalis IV bergabung dengan nervus lumbalis
V untuk membentuk trunkus lumbosacralis.
Plexus lumbalis memiliki cabang-cabang di antaranya adalah trunkus lumbosacralis
yang masuk ke dalam pelvis dengan berjalan di epan articulatio sacroilliaca dan
bergabung dengan plexus sacralis. Cabang lain adalah nervus obturatorius, yang akan
terbagi dua menjadi cabang anterior dan posterior yang masuk ke regio aduktor tungkai
atas.

33 | P a g e
Perbedaan pelvis pria dan wanita :
1. Pelvis minor wanita lebih dangkal dan pada laki-laki dalam.
2. Apertura pelvis superior wanita berbentuk oval.
3. Cavitas pelvis pada perempuan lebih lapang di bandingkan laki-laki dan jarak antara
apertura pelvis superior dan apertura pelvis inferior lebih pendek.
4. Sacrum pada wanita lebih pendek, lebih lebar, dan lebih rata.
5. Angulus subpubicus atau arcus pubicus pada perempuan lebih bulat dan lebar.

b. Bagaimana hubungan hyperpigmentasi areola dan nipple dengan kehamilan?


Kehamilan menyebabkan pengeluaran "pro-opio-cortin stimulating hormon" yang
oleh kelenjar pituitari anterior akan diubah menjadi MSH alfa dan beta (Melanosit
Stimulating Hormone/ Melanophore Stimulating Hormone) bersama estrogen sehingga
meningktan timbunan melanin dan dermal makrofag didalam kulit sehingga terjadi
hiperpigmentasi.

Hiperpigmentasi bisa terjadi di:


* aerola mammae
* linea alba--------> linea nigra
* lipatan paha dan ketiak
* pipi = chloasma/ molasma gravidarum

34 | P a g e
Terjadi hiperpigmentasi, yaitu kelebihan pigmen di tempat tertentu. Pada
wajah,pipi dan hidung mengalami hiperpigmentasi sehingga menyerupai topeng (Kloasma
gravidarum). Pada daerah areola mamae dan puting susu, daerah yang berwarna hitam di
sekitar putting susu akan menghitam. Sekitar areola yang biasanya tidak berwarna akan
berwarna hitam. Hal ini disebut areola mamae sekunder. Putting susu menghitam dan
membesar sehingga lebih menonjol. Pada area suprapubis, terdapat garis hitam yang
memanjang dari atas sympisis sampai pusat. Warnanya lebih hitam dibandingkan
sebelumnya, muncul garis baru yang memenjang di tengah atas pusat (linea nigra). Pada
perut, selain hiperpigmentasi, terjadi strie gravidarum yang merupakan garis pada kulit.
Terdapat dua jenis strie gravidarum, yaitu strie livide (garis yang berwarna biru) dan strie
albikan (garis yang berwarna putih). Hal ini terjadi karena pengaruh melanophore
stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis.

c. Apa hubungan Beta HCG (+) dengan kehamilan?


Hubungan tes urine beta hCG (+) dengan kehamilan adalah tes urine beta hCG (+)
menandakan adanya kehamilan. hCG dapat ditemukan di dalam darah dan air kencing wanita
hamil. hCG bersifat antigen oleh karena terdiri dari polipeptida. Di dalam plasenta, homon ini
ditemukan dalam konsetrasi yang tinggi. Bukti bahwa hormone chronic gonadotropin dibuat
di plasenta adalah karena jaringan plasenta yang dibiakkkan menghasilkan hormone ini.
Hormone ini dibentuk oleh sinsitiotrofoblas. Dengan lebih tuanya kehamilan, trofoblas
membentuk lebih banyak jonjot; dalam hubungan ini produksi dan ekskresi hCG meningkat
pula. Hal ini mencapai puncaknya pada kehamilan 60 hari untuk kemudian menurun kembali,
sesuai dengan adanya korion leave dan terbentuknya plasenta yang tetap, sehingga kadar hCG
di dalam serum pun kurang lebih menetap. Setelah 1 minggu postpartum hCG tidakan
ditemukan lagi di dalam serum dan air kencing.
Produksi HCG merupakan reaksi terhadap tertanamnya bakal janin (blastokista) pada
dinding rahim, berarti tertanamnya blastokista pada dinding rahim terjadi sebelum HCG
diproduksi. Blastokista mulai tertanam pada dinding rahim sekitar 6-12 hari setelah ovulasi,
yang paling banyak adalah pada hari ke 10. Sehingga waktu yang tepat untuk memastikan
kehamilan adalah sekitar hari ke 7 setelah ovulasi. Kondisi ini seperti ini tidak selalu terjadi
pada semua wanita

35 | P a g e
Kegagalan peningkatan yang sesuai pada konsentrasi hCG merupakan indikasi adanya
implantasi abnormal seperti kehamilan ektopik atau intrauterin yang tidak dapat hidup. Kadar
hCG yang lebih tinggi daripada yang diharapkan terlihat pada kehamilan kembar.
Peran biologis utama hCG adalah untuk “menyelamatkan” korpus luteum ovarium dari
kematian yang telah diprogram saat 12-14 hari setelah ovulasi. Karena adanya hubungan
struktural yang dekat antara hCG dan LH, makan hCG dapat berikatan dengan reseptor LH
pada sel luteal. hCG kemudian dapat menggantikan LH, menunjang korpus luteum saat terjadi
kehamilan. Pemeliharaan korpus luteum memungkinkan sekresi progesteron ovarium yang
terus menerus setelah hari ke 14 pasca ovulasi. Pengangkatan korpus luteum dengan
pembedahan tanpa pemberian suplemen progesteron atau sebelum kehamilan minggu ke 9
siklus menstruasi akan menyebabkan keguguran. Kadar hCG tetap tinggi selama beberapa
bulan, setelah itu plasenta mengambil alih sebagai sumber estrogen dan progesteron.

36 | P a g e
Sepanjang Kehamilan normal
Rentang normal untuk tes darah kehamilan Bhcg :
Minggu dari periode mesntruasi Jumlah HCG dalam mIU /
terakhir ml
3 5-50
4 3-426
5 19-7.340
6 1.080-56.500
7-8 7.650 - 229.000
9-12 25.700 - 288.000
13-16 13.300 - 254.000
17-24 4.060 - 165.400
25-40 3.640 - 117.000

d. Mengapa perut datar padahal dia hamil?


Pertumbuhan uterus dimulai setelah implantasi dengan proses hiperplasia dan
hipertrofi sel. Hal ini terjadi akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Penyebab
pembesaran uterus antara lain:
 Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah;
 Hiperplasia dan hipertrofi, dan
 Perkembangan desidua
Uterus bertambah berat sekitar 70 – 1100 gram selama kehamilan. Ukuran uterus
mencapai umur kehamilan aterm adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas > 4000 cc.
Perubahan bentuk dan posisi uterus antara lain: bulan pertama uterus berbentuk seperti
alpukat, 4 bulan berbentuk bulat, akhir kehamilan berbentuk bujur telur. Rahim yang tidak
hamil/ rahim normal sebesar telur ayam, pada umur 2 bulan kehamilan sebesar telur bebek
dan umur 3 bulan kehamilan sebesar telur angsa.
Pada kasus ini, Ny. Pregnita hamil dengan umur 8 minggu atau 2 bulan, sehingga uterus
masih berukuran seperti telur bebek dan tidak terlihat.
Tinggi fundus uteri selama kehamilan:
Umur Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
12 minggu 3 jari di atas simpisis
20 minggu 3 jari di bawah pusat

37 | P a g e
24 minggu Setinggi pusat
28 minggu 3 jari di atas pusat
32 minggu Pertengahan pusat dengan prosessus xifoideus
36 minggu Setinggi prosessus xifoideus
40 minggu 2 jari di bawah prosessus xifoideus

10. Diagnosis : hamil 8 minggu dengan ancaman abortus (main problem)


a. Bagaimana histofisiologis kehamilan ?
Pematangan Dan Pembuahan Ovum
Ketika masih berada di dalam ovarium, ovum berada dalam tahap oosit primer.
Sesaat sebelum dilepaskan dari folikel ovarium, nukleusnya membelah dengan cara
meiosis dan dari nukleus oosit tersebut dilepaskan badan polar pertama. Oosit primer
kemudian menjadi oosit sekunder. Dalam proses ini, masing-masing dari 23 pasang
kromosom kehilangan salah satu pasangannya, yang bergabung dengan badan polar yang
dikeluarkan. Hal ini membuat 23 kromosom yang tidak berpasangan berada dalam oosit
sekunder. Pada saat inilah ovum, yang masih dalam tahap oosit sekunder, berovulasi ke
dalam rongga perut. Kemudian, dalam seketika, ovum tersebut memasuki bagian ujung
salah satu tuba fallopii yang berfimbria.

Masuknya Ovum ke Tuba Fallopi (Oviduk).


Ketika ovulasi terjadi, ovum, bersama dengan seratus atau lebih sel granulosa
yang melekat padanya, yang membentuk korona radiata, dikeluarkan langsung ke dalam
rongga peritoneum dan selanjutnya harus masuk ke dalam salah satu tuba fallopii untuk
mencapai cavum uteri. Ujung fimbria dari setiap tuba fallopii jatuh secara alami di sekitar
ovarium. Permukaan bagian dalam tentakel fimbria dibatasi oleh epitel bersilia, dan silia
tersebut teraktivasi oleh estrogen dari ovarium, yang menyebabkan silia secara terus-
menerus bergerak ke arah pembukaan, atau ostium, dari tuba fallopii yang terlibat. Dengan
cara ini, ovum memasuki salah satu tuba fallopii.
Pembuahan Ovum
Setelah laki-laki mengejakulasi cairan semen ke dalam vagina selama hubungan
seksual, dalam waktu 5 sampai 10 menit, beberapa sprema dari vagina akan dihantarkan
ke ata,melalui uterus dan tuba fallopii, ke ampullae tuba fallopii. Penghantaran sperma
tersebut dibantu oleh kontraksi uterus dan tuba fallopii yang dirangsang oleh prostaglandin
dalam cairan semen laki-laki, dan juga oleh oksitosin yang dilepaskan dari kelenjar
38 | P a g e
hipofisis posterior wanita selama wanita tersebut mengalami orgasme. Dari hampir
setengah miliar sperma disimpan di vagina, beberapa ribu sperma tersebut berhasil
mencapai ampula masing-masing.
Pembuahan ovum biasanya terjadi di ampula dari salah satu tuba fallopii, segera
setelah sperma dan ovum masuk ke ampula. Tapi sebelum sperma dapat masuk ke ovum,
terlebih dahulu harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat pada bagian
luar ovum (korona radiata) dan kemudian melekat dan menembus zona pelusida yang
mengelilingi ovum itu sendiri.
Sekali sebuah sperma telah memasuki ovum (yang masih dalam tahap
perkembangan oosit sekunder), oosit membelah kembali untuk membentuk ovum matang
ditambah badan polar kedua. Ovum yang matang itu masih membawa pada nukleusnya
(sekarang disebut pronukleus wanita) 23 kromosom. Salah satu kromosom adalah
kromosom perempuan, yang dikenal sebagai kromosom X.
Sementara itu, sperma yang membuahi juga berubah. Ketika sperma memasuki
ovum, kepalanya akan membengkak untuk membentuk sebuah pronukleus pria.
Kemudian, ke-23 kromosom yang tidak berpasangan dari pronukleus pria dan ke-23
kromosom yang tidak berpasangan dari pronukleus perempuan berikatan bersama-sama
untuk membentuk kembali komplemen menyeluruh dengan 46 kromosom (23 pasang)
dalam sebuah ovum yang sudah dibuahi.

39 | P a g e
Transportasi dari Ovum dibuahi di tuba Tube
Setelah pembuahan terjadi, untuk mentranspor ovum yang telah dibuahi melalui
sisa bagian tuba fallopii ke dalam cavum uteri biasanya perlu waktu 3 sampai 5 hari.
Transpor ini terutama dipengaruhi oleh arus cairan yang lemah di dalam tuba akibat kerja
sekresi epitel ditambah kerja epitel bersilia yang melapisi tuba, silia selalu bergerak
menuju uterus. Lemahnya kontraksi tuba fallopi juga dapat membantu lewatnya ovum.
Tuba fallopii dilapisi dengan permukaan cryptoid yang tidak rata yang menghambat
perjalanan ovum
meskipun ada
arus cairan.
Selain itu,
isthimus tuba
fallopii (2
terakhir
sentimeter
sebelum
memasuki uterus)
tetap
berkonstraksi
secara spatik
selama 3 hari
pertama setelah
ovulasi. Setelah
ini, progesteron
meningkat pesat disekresikan oleh korpus luteum ovarium pertama-tama akan memacu
peningkatan reseptor progesteron pada sel-sel otot polos tuba fallopi, kemudian
progesteron akan mengaktifkan reseptor, melepaskan suatu efek relaksasi tuba yang
memungkinkan masuknya ovum ke uterus. Transpor ovum terbuahi yang tertunda melalui
tuba fallopi ini memungkinkan terjadinya beberapa tahap pembelahan sel sebelum ovum
yang sudah membelah itu (blastocyst) yang mengandung sekitar 100 sel memasuki rahim.
Selama waktu tersebut, sel-sel sekretori tuba fallopii membentuk sejumlah besar sekret
yang digunakan untuk nutrisi perkembangan blastokista.

40 | P a g e
b. Apa saja tanda-tanda terjadinya kehamilan?
Sejumlah perubahan fisik terjadi pada ibu untuk mengakomodasi kebutuhan
selama kehamilan. Perubahan yang paling nyata adalah pembesaran uterus. Uterus
mengembang dan bertambah beratnya lebih dari 20 kali, di luar isinya. Payudara
membesar dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan susu. Sistem - sistem tubuh
diluar sistem reproduksi juga melakukan berbagai perubahan yang diperlukan. Volume
darah meningkat sebesar 30% dan sistem kardiovaskular berespons terhadap peningkatan
kebuuhan oleh massa plasenta yang tumbuh. Penambahan berat selama kehamilan hanya
sebagian yang disebabkan oleh berat janin. Sisanya terutama disebabkan oleh peningkatan
berat uterus, termasuk plasenta, dan bertambahnya volume darah. Aktivitas pernapasan
meningkat sekitar 20% untuk mengatasi kebutuhan tambahan pemakaian O2 dan
pengeluaran CO2 dari janin. Pengeluaran urin meningkat, dan ginjal mengeluarkan zat -
zat sisa tambahan dari janin.
Meningkatnya kebutuhan metabolik janin yang sedang tumbuh meningkatkan
kebutuhan nutrisi bagi ibu. Secara umum, janin mengambil apa yang diperlukan dari
ibunya, meskipun hal ini menyebabkan ibu mengalami defisit nutrisi. Sebagai contoh, jika
ibu tidak mengonsumsi Ca2+, maka hormon plasenta yang serupa dengan hormon
paratiroid, parathyroid hormone-related peptide (PTHrp), memobilisasi Ca2+ dari tulang
ibu untuk menjamin kalsifikasi tulang-tulang janin.
Terjadi Perubahan Pada Payudara
Jika terjadi kehamilan, maka payudara akan membesar, hal ini disebabkan oleh
meningkatnya produksi hormon esterogen dan progesteron. Selain itu kondisi payudara
juga akan terasa makin lembut, hal ini menimbulkan rasa sensitif yang lebih tinggi, hingga
payudara akan terasa sakit atau nyeri saat dipegang. Puting susu membesar pula dan
warnanya akan semakin gelap, kadang juga terasa gatal. Pembuluh vena pada payudara
juga akan terlihat akibat penegangan payudara. Selain itu terjadi aktivitas hormon HPL
(Human Placental Lactogen). Hormon tersebut diproduksi oleh tubuh saat ibu mengalami
kehamilan untuk mempersiapkan

Munculnya bercak darah atau flek yang diikuti kram perut


Bercak darah ini muncul sebelum menstruasi yang akan datang, biasanya terjadi
antara 8-10 hari setelah terjadinya pembuahan. Bercak darah ini disebabkan oleh
implantasi (implantation bleeding) atau menempelnya embrio pada dinding rahim.

41 | P a g e
Munculnya bercak darah pada saat kehamilan Bercak darah kadang disalah artikan sebagai
menstruasi.
Selain itu, keluarnya bercak darah biasanya diikuti oleh kram perut. Kram perut
pada kondisi terjadinya kehamilan akan terjadi secara teratur. Dan kondisi kram perut ini,
akan terus berlanjut sampai kehamilan trimester kedua, sampai letak uterus posisinya
berada ditengah dan disangga oleh panggul

Mual dan muntah (Morning sicknes)


Sekitar 50% perempuan yang mengalami kehamilan akan memiliki tanda-tanda
ini. Pemicunya adalah peningkatan hormon secara tiba-tiba dalam aliran darah. Hormon
tersebut adalah HCG (Human chorionic Gonadotrophin). Selain dalam darah, peningkatan
hormon ini juga terjadi pada saluran air kencing. Makanya, alat ini dilakukan melalui
media air seni, hal ini dilakukan untuk mengukur terjadinya peningkatan kadar hormon
HCG tersebut. Peningkatan hormon ini akan mengakibatkan efek pedih pada lapisan perut
dan menimbulkan rasa mual. Rasa mual ini biasanya akan menghilang memasuki
kehamilan trimester kedua. Jika, rasa mual dan muntah masih terjadi pada usia kehamilan
trimester kedua, sebaiknya periksakan dan mengenai hal ini ke dokter anda, karena akan
mengganggu kehamilan anda. Mual dan muntah ini biasa morning sickness karena
biasanya terjadi pada saat di pagi hari. Namun kenyataannya, mual dan muntah dapat
terjadi pada siang dan malam hari juga. Bahkan morning sickness terjadi hanya ketika si
ibu mencium aroma atau wewangian tertentu.
Sering kencing/buang air kecil (Frequent Urination)
Setelah haid terlambat satu hingga dua minggu, keinginan untuk buang air kecil
menjadi lebih sering dari kebiasaannya. Ini disebabkan di rahim menekan kandung kemih
dan akibat adanya peningkatan sirkulasi darah. Selain itu kandung kemih lebih cepat
dipenuhi oleh urine dan keinginan untuk buang air kecil menjadi lebih sering. Peningkatan
rasa buang air kecil juga disebabkan oleh peningkatan hormon kehamilan. Walaupun
buang air kecil ini sering, jangan sampai membatasinya atau menahannya. Selain itu
hindarkan dehidrasi dengan lebih meningkatkan asupan cairan ke dalam tubuh.
Pusing dan sakit kepala (Headaches)
Gangguan pusing dan sakit kepala yang sering dirasakan oleh ibu hamil
diakibatkan oleh faktor fisik; rasa lelah, mual, lapar dan tekanan darah, rendah. Sedangkan
penyebab emosional yaitu adanya perasaan tegang dan depresi. Selain itu peningkatan
pasokan darah ke seluruh tubuh juga bisa menyebabkan pusing saat ibu berubah posisi.
42 | P a g e
Rasa lelah dan mengantuk yang berlebih (Fatigue)
Pada ibu hamil selain disebabkan oleh perubahan hormonal, juga akibat kinerja
dari beberapa organ vital seperti ginjal, jantung, dan paru-paru, semakin bertambah.
Organ-organ vital ini tidak hanya bekerja untuk mencukupi kebutuhan ibu saja, namun
juga untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Perut ibu yang semakin membesar
seiring dengan bertambahnya usia kehamilan juga memberikan beban tersendiri bagi
tubuh ibu.
Sembelit
Sembelit terjadi akibat peningkatan hormon progesterone. Hormon ini selain
mengendurkan otot-otot rahim, juga berdampak pada mengendurnya otot dinding usus
sehingga menyebabkan sembelit atau susah buang air besar. Namun keuntungan dari
keadaan ini adalah memungkinkan peyerapan nutrisi yang lebih baik saat hamil.
Sering meludah (hipersalivasi)
Tanda kehamilan ini terjadi akibat pengaruh perubahan hormon estrogen, biasanya terjadi
pada kehamilan trimester pertama. Kondisi ini biasanya menghilang setelah kehamilan
memasuki trimester kedua
Naiknya temperatur basal tubuh
Jika terjadi kehamilan atau ovulasi, maka suhu basal tubuh ibu akan meningkat. Kondisi
ini akan bertahan selama terjadinya kehamilan. Kondisi ini tidak akan turun ke kondisi
sebelum terjadinya ovulasi.

c. Apa itu abortus ? (definisi, penyebab, gejala)


Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil kehamilan sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada
usia kehamilan kurang dari 26 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Atau buah
kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.
Beberapa penyebab abortus adalah sebagai berikut :
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat
kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor-
faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:
- Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X.
- Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
- Pengaruh dari luar akibat radiasi, virus, obat-obatan.

43 | P a g e
b. Kelainan pada plasenta misalnya endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan
menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan kematian janin.
c. Fakrot maternal (Faktor Ibu) : terjadi infeksi (virus, bakteri) pada awal trimester 1 dan
trimester 2, contoh infeksi karena rubella CMV, herpes simplex, varicella zoster,
vaccinia, campak, hepatitis, polio, ensefalomyelitis ; Salmonella typhi ; Toxoplasma
gondii, Plasmodiu. Penyakit vaskuler (pembulh darah) contoh: hipertensi vaskuler,
kelainan endokrin contoh pada defisiensi insulin atau disfungsi dari kelenjar tyroid,
penyakit imunitas inkomptabilitas HLA, trauma, kelainan uterus, psikosomatik
d. Kelainan Traktus Genetalis
Mioma uteri, kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Sebab lain abortus
dalam trisemester ke 2 ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan
bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan
serviks luar yang tidak dijahit.

Gejala Abortus:
Tanda dan gejala pada abortus Imminen :
1. Terdapat keterlambatan datang bulan
2. Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi
kontraksi otot rahim
4. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis servikalis
masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim
5. Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif

Tanda dan gejala pada abortus Insipien :


1. Perdarahan lebih banyak
2. Perut mules atau sakit lebih hebat
3. Pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan
jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba

Tanda dan gejala abortus Inkomplit :


1. a. Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis
2. b. Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
44 | P a g e
3. c. Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi
4. d. Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma)

Tanda dan gejala abortus Kompletus :


1. Uterus telah mengecil
2. Perdarahan sedikit
3. Canalis servikalis telah tertutup

Tanda dan gejala Missed Abortion :


1. Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorbsi air ketuban dan maserasi
janin
2. Buah dada mengecil kembali
3.
VI. KETERKAITAN ANTARMASALAH

Usia Ny. Pregnita 37 tahun

HAMIL

Ancaman
Abortus

Tidak haid
2 bulan
flek-flek
darah

Mual dan pusing hiperpigmentasi Dada terasa sering buang


muntah areola dan nipple kencang air kecil

45 | P a g e
VII. LEARNING ISSUE DAN SINTESIS MASALAH
A. ANATOMI PELVIS WANITA
Pelvis Major
Pelvis major dianggap masih sebagai bagian dari cavitas abdominalis. Pelvis major
melindungi isi abdomen dan setelah kehamilan bulan ketiga, membantu menyokong uterus
gravidarum. Selama satadium awal persalinan, pelvis major membantu menuntun janin masuk ke
pelvis minor.
Pelvis Minor
Pelvis minor pada wanita harus dilalui oleh janin saat proses persalinan. Pelvis minor
memiliki pintu masuk, pintu keluar, dan sebuah cavitas.
Apertura pelvis superior, atau pintu atas panggul di posterior dibatasi oleh promontorium
ossis sacri, di lateral oleh linea terminalis, dan di anterior oleh symphisis pubica.
Apertura pelvis inferior di posterior dibatasi oleh os coccygeus, di lateral oleh tuber
ischiadicum, dan di anterior oleh arcus pubicus.
Cavitas pelvis terletak di antara apertura pelvis superior dan apertura pelvis inferior. Struktur
dinding pelvis dibentuk oleh tulang dan ligamenta yang sebagian diantaranya dilapisi oleh otot
beserta fascia serta peritoneum parietale. Pelvis memiliki dinding anterior, posterior, lateral, dan
inferior atau dasar pelvis.
Dinding anterior pelvis di bentuk oleh permukaan posterior corpus ossis pubis, rami
pubicum, dan symphisis pubis.
Dinding posterior pelvis luas dan di bentuk oleh os sacrum dan os coccygis serta musculus
piriformis dan fascia pelvis parietalis yang meliputinya.
Os sacrum
Bassis os sacrum bersendi dengan vertebra lumbalis V. Pinggir inferior yang sempit bersendi
dengan os coccygeus, pinggir lateral berssendi dengan kedua os coxae membentuk articulatio
sacroilliaca. Pinggir anterior dan atas verterbra sacralis pertama menonjol ke depan sebagai
promontorium os sacrum, yang penting bagi ahli kandungan untuk menentukan ukuran pelvis.
Os coccygis
Terdirri dari empat vertebra rudimenter yng bersatu membentuk tulang segitiga kecil yang
basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum.
Musculus piriformis
Musculus piriformis muncul dari permukaan depan pars lateralis os sacrum, dan
meninggalkan pelvis untuk masuk ke regio glutealis dengan berjalan ke lateral melalui foramen
46 | P a g e
ischiadicum majus. Otot ini berisertio pada pinggir atas trochanter major femur. Fungsi otot ini
adalah rotator lateral femur pada articulatio coxae.
Dinding lateral pelvis dibentuk oleh sebagian os coxae di bawah apertura pelvis superior,
membrana obturatoria, ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale, serta musculus
obturatorius internus beserta fascia yang meliputinya.

Dinding inferior atau dasar pelvis menyokong viscera pelvis dan dibentuk oleh diafragma
pelvis. Dasar pelvis terbentang sepanjang pelvis dan membagi pelvis menjadi cavitas pelvis utama
di sebelah atas yang berisi viscera pelvis; dan perineum yang terletak dibawahnya.
Diafragma pelvis dibentuk oleh musculus levator ani dan musculus coccygeus serta fascia
yang menutupinya. Di anterior diafragma pelvis tidak tertutup rapat sehingga memungkinkan
lewatnya urethra pada laki-laki serta urethra dan vagina pada wanita.
Fascia pelvis dibentuk oleh jaringan ikat dan dilanjutkan ke atas sebagai fascia yang
membatasi dinding abdomen. Di bawah, fascia melanjut sebagai fascia perinei. Fascia pelvis
dapat dibagi menjadi fascia pelvis parietalis dan visceralis.
Persarafan pada pelvis berasal dari plexus sacralis dan plexus lumbalis. Plexus sacralis
terletak pada dinding posterior pelvis di depan musculus piriformis. Plexus ini dibentuk dari rami
anteriorers nervis lumbales IV dan V serta rami anteriores nervis sacrales I, II, III, dan IV.
Sebagian nervus lumbalis IV bergabung dengan nervus lumbalis V untuk membentuk trunkus
lumbosacralis.

47 | P a g e
Plexus lumbalis memiliki cabang-cabang di antaranya adalah trunkus lumbosacralis yang
masuk ke dalam pelvis dengan berjalan di epan articulatio sacroilliaca dan bergabung dengan
plexus sacralis. Cabang lain adalah nervus obturatorius, yang akan terbagi dua menjadi cabang
anterior dan posterior yang masuk ke regio aduktor tungkai atas.

Perbedaan pelvis pria dan wanita :


1. Pelvis minor wanita lebih dangkal dan pada laki-laki dalam.
2. Apertura pelvis superior wanita berbentuk oval.
3. Cavitas pelvis pada perempuan lebih lapang di bandingkan laki-laki dan jarak antara
apertura pelvis superior dan apertura pelvis inferior lebih pendek.
4. Sacrum pada wanita lebih pendek, lebih lebar, dan lebih rata.
5. Angulus subpubicus atau arcus pubicus pada perempuan lebih bulat dan lebar.

48 | P a g e
B. HISTOFISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI WANITA
ORGAN-ORGAN
A. Ovarium
Ovarium dilapisi oleh satu lapisan kuboid atau gepeng yaitu epitel germinal (11), yang
bersambung dengan mesotelium (13), peritoneum visceral. Di bawah epitel germinal adalah
lapisan jaringan ikat padat yang disebut tunica albugenia (15)
Ovarium memiliki korteks (10) di tepi dan medulan(8) di tengah, tempat ditemukannya
banyak pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe. Selain folikel, korteks mengandung fibrosit
dengan serat kolagen dan reticular. Medula adalah jaringan ikat padat tidk teratur yang
bersambung dengna ligamentum mesovarium (23) yang menggantungkan ovarium. Pembuluh
darah (8) besar di medulla dilapisi oleh epitel germinal dan mesotelium peritoneum.
Di stroma korteks terlihat banyak folikel ovarium, terutama jenis yang lebih kecil, dalam
berbagai tahapan perkembangan. Folikel yang paling banyak adalah folikel primordial (19), yang
terletak di tepi korteks dan dibawah tunika albugenia. Folikel primordial adalah struktur yang
paling kecil dan sederhana. Folikel ini dikelilingi oleh satu lapisan sel folikular gepeng. Folikel
primordial mengandung oosit primer yang kecil dan imatur, yang membesar secara bertahap
seiring perkembangan folikel menjadi folikel primer, sekunder, dan matur. Sebelum ovulasi
folikel matur, semua folikel yangs edang berkembang mengandung oosit primer (2,12,21)
Folikel yang lebih kecil dengan sel kuboid, silindris, atau berlapis kuboid yang
mengelilingi oosit primer disebut folikel primer (12). Seiring dengan bertambahnya ukuran
folikel, cairan, yang disebut liquor folikuli, mulai menumpuk di antara sel-sel folikuler, yang
sekarang disebut sel granulose (5). Daerah-daerah yang mengandung cairan akhirnya menyatu
untuk membentuk suatu rongga berisi cairan yaitu antrum (4,20).Folikel dengan rongga antrum
disebut folikel sekunder (21). Folikel ini lebih besar dan terletak lebih dalam di korteks. Semua
folikel yang lebih besar, termasuk folikel primer, sekunder, dan folikel matur memperlihatkan
lapisan sel granulose, teka interna (6) dan lapisan jaringan ikat sebelah luar, teka eksterna (7)
Folikel ovarium yang paling besar adalah folikel matur. Folikel ini memperlihatkan
struktur sebagai berikut :Antrum besar yang berisi liquor folikuli; cumulus ooforus (1); suatu
bukit keil di tempat oosit primer berada, corona radiate (3) lapisan sel yang langsung melekat
pada oosit primer; sel granulose yang mengelilingi antrum; lapisan dalam teka interna; dan
lapisan luar teka eksterna.
Setelah ovulasi, folikel besar kolaps dan berubah menjadi organ endokrin sementara,
korpus luteum (16). Sel granulose folikel berubah menjadi sel lutein granulose yang berwarna
lebih berwarna, dan sel teka interna menjadi sel teka lutein yang bewarna lebih gelap. Jika tidak
49 | P a g e
terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum mengalami regresi, degenrasi, dan akhirnya
berubah menjadi jaringan parut yang disebut korpus albikans (9,14).
Kebanyakan folikel ovarium tidak mencapai maturitas. Folikel-folikel ini mengalami
degenerasi (atresia) pada semua tahap perkembangan folikel and menjadi folikel atretic (22) yang
akhirnya diganti oleh jaringan ikat.

50 | P a g e
B. Uterus
Permukaan endometrium dilapisi oleh epitel (1), selapis silindris yang ebrada di atas
lamina propria (2) tebal. Epitel meluas ke bawah ke dalam jaringan ikat lamina propria dan
membentuk kelenjar uterus(4) tubular yang panjang. Pada fase proliferative, kelenjar uterus
biasanya lurus di bawah superficial endometrium, tetapi membentuk percabangan di bagian yang
lebih dalam di dekat miometrium. Akibatnya, banyak kelenjar uterus terlihat pada potongan
melintang.
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan : Endometrium di sebelah dalam; lapisan tengah
otot polos miometrium (5,6); perimetrium membrane serousa di sebelah luar. Endometrium dibagi
menjadi 2 zona atau lapisan : stratum basale (8) yang sempit dan dalam, dekat miometrium dan
stratum functionale (7), lapisan superficial yang lebih lebar di atas stratum basale yang meluas ke
lumen uterus.
Selama daur haid, endometrium menunjukkan perubahan morfologi yang secara langsung
berkaitan dengan fungsi ovarium. Perubahan siklik pada uterus yang tidak hamil dibagi menjadi 3
fase perbedaan : Fase proferatif (folikular), fase sekretori (luteal), dan fase menstruasi.
Pada fase proliferative daur haid dan di bawah pengaruh estrogen ovarium, stratum
functionale semakin tebal dan kelenjar uterus memanjang dan berjalan lurus di permukaan Arteri
spiralis (3) terutama terlihat di endometrium yang lebih dalam. Lamina propria di bagian atas
endometrium mengandung banyak sel yang menyerupai jaringan mesenkim. Jaringan ikat di
stratum basale lebih padat. Endometrium terus ebrkembang selama fase proliferative akibat
meningkatnya kadar estrogen yang di sekresi oleh folikel ovarium yang sedang berkembang.
Endometrium terleta di atas miometrium, yang terdiri pada berkas otot polos dipisahkan
oleh untai tipis jaringan ikat interspesial (9) dengan banyak pembuluh darah (10). Akibatnya,
berkas otot terlihat pada potongan melintang, memanjang , dan oblique

51 | P a g e
MENSTRUASI
Menstruasi atau haid merupakan salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses
deskuamasi atau meluruhnya dinding rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui
vagina (Prawirohardjo,2007; Suwarni 2009). Siklus menstruasi berkisar antara 21 - 40 hari,
hanya 10 – 15% wanita yang memiliki siklus 28 hari dan lebih dari 35 hari. Jarak antara siklus
yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan sesaat sebelum menopause,
lamanya mengeluarkan darah pun berbeda-beda, biasanya antara 3-5 hari,7-8 hari dan ada yang
1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit.

52 | P a g e
Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya hormon esterogen dan progesteron, terutama
progesteron, pada akhir siklus ovarium bulanan, efek pertama adalah penurunan rangsangan
terhadap sel-sel endometrium oleh kedua hormon ini. Diikuti dengan cepat oleh involusi
endometrium sendiri menjadi kira-kira 65 persen dari ketebalan sempurna
Umumnya, jarak siklus menstruasi berkisar dari 15-45 hari, dengan rata-rata 28 hari. lamanya
berbeda-beda antara 2-8 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah menstruasi biasanya tidak
membeku. Jumlah kehilangan darah tiap siklus berkisar dari 60-80 ml

SIKLUS OVARIUM
1. Fase Folikular
Siklus diawali dengan hari pertama menstruasi atau terlepasnya endometrium. FSH
merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium. Umumnya hanya satu yang
berkembang dan menjadi folikel de graff dan yang lainnya bedegenerasi. Folikel terdiri dari
sebuah ovum dan dua lapis sel yang mengelilinginya. Lapisan dalam, yaitu sel-sel granulose
menyintesis progesterone yang disekresi ke dalam cairan folikular selama paruh pertama siklus
menstruasi, dan bekerja sebgai prekursor pada sintesis estrogen oleh lapisan sel teka interna yang
mengelilinginya. Estrogen disintesis dalam sel-sel lutein pada teka interna. Jalur biosintesis
estrogen berlangsung dari progesterone dan pregnenolon melalui jalur 17-hidroksilasi turunan
dari androstenedion, testosterone, dan estradiol. Kandungan enzim aromatisasi yang tinggi pada
sel-sel ini mempercepat perubahan androgen menjadi estrogen. Di dalam folikel, oosit primer
mulai menjalani proses pematangannya. Pada waktu yang sama, folikel yang sedang berkembang
menyekresi estrogen lebih banyak ke dalam system ini. Kadar estrogen yang meningkat
menyebabkan pelepasan LHRH melalui mekanisme umpan balik positif.
2. Fase Luteal
LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat sebelum ovulasi, oosit primer
selesai menjalani pembelahan meiosis pertamanya. Kadar estrogen yang tinggi kini menghambat
produksi FSH. Kemudian kadar estrogen mulai menurun. Setelah oosit terlepas dari folikel
deGraaf, lapisan granulose menjadi banyak mengandung pembuluh darah dan sangat
terluteinisasi, berubah menjadi korpus luteum yang berwarna kuning pada ovarium. Korpus
luteum terus menyekresi sejumlah kecil estrogen dan progesterone yang makin lama makin
meningkat.

53 | P a g e
SIKLUS ENDOMETRIUM
1. Fase Proliferasi
Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium istirahat.
Stadium ini berlangsung kira-kira 5 hari. kadar estrogen yang meningkat dari folikel yang
berkembang akan merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal., kelenjar-
kelenjar menjadi hipertrofi dan berproliferasi, dan pembuluh darah menjadi banyak sekali.
Kelenjar-kelenjar dan stroma berkembang sama cepatnya. Kelenjar menjadi tambah panjang
tetapi tetap lurus dan berbentuk tubulus. Epitel kelenjar berbentuk toraks dengan sitoplasma
eosinofilik yang seragam dengan inti di tengah. Stroma cukup padat pada lapisan basal tetapi
makin ke permukaan semakin longgar. Pembuluh darah akan mulai berbentuk spiral dan lebih
kecil. Lamanya fase proliferasi sangat berbeda-beda pada tiap orang, dan berakhir pada saat
terjadinya ovulasi.

2. Fase Sekresi
Setelah ovulasi, di bawah pengaruh progesterone yang terus meningkat dan terus
diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium menebal dan menjadi seperti beludru.
Kelenjar menjadi lebih besar dan berkelok-kelok, dan epitel kelenjar menjadi berlipat-lipat. Inti
sel bergerak ke bawah, dan permukaan epitel tampak kusut. Stroma menjadi endematosa. Terjadi
pula infiltrasileukosit yang banyak, dan pembuluh darah menjadi makin berbentuk spiral dan
melebar. Lamanya fase sekresi sama pada setiap perempuan yaitu 14±2 hari

54 | P a g e
3. Fase Menstruasi
Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari, dan
kemudian mulai beregresi. Akibatnya terjadi penurunan progesterone dan estrogen yang tajam
sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium. Perubahan iskemik terjadi pada
arteriola dan diikuti dengan menstruasi

C. HISTOFISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI PRIA


Organ Reproduksi Pria
1. Struktur makrokopis
Organ reproduksi pria dibagi menjadi dua, yaitu
a. Genitalia Interna
 Glandula prostat
Glandula prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra
pars prostatica. Prostate mempunyai panjang kurang lebih 1,25 ichi (3 cm) dan terletak

55 | P a g e
di antara collum vesicae di atas dan diaphragm urogenitale di bawah. Prostate
dikelilingi oleh capsula fibrosa. Prostate berbentuk keruncut dan mempunyai bagian
basis dan apex prostatae.
Fungsi prostate adalah menghasilkan cairin tipis seperti susu yang mengandung asam
sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan ke semen pada waktu ejakulasi.
Secret prostat bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana asam di vagina.
Prostat diperdarahi oleh cabang a. vesicalis inferior dan a. rectalis media, serta plexus
venosus prostaticus.

 Vesica seminalis
Vesica seminalis merupakan dua buah organ yang berlobus dengan panjang kurang
lebih 2 inchi dan terletak pada facies posterior vesicae. Di posterior, vesica seminalis
berbatasan dengan rectum. Ke inferior, masing-masing vesica seminalis menyempit dan
bersatu dengan duktus deferens sisi yang sama untuk membentuk ductus ejaculatorius.
Fungsi vesica seminalis adalah menghasilkan secret yang ditambahkan pada cairan
semen. Sekretnya mengandung zat yang penting sebagai makanan spermatozoa.
Vesica seminalis memiliki lumen yang berkelok-kelok dan tidak teratur. Epitel kelenjar
vesica seminalis bervariasi dengan sel sekretoris silindris rendah atau kuboid.
Muskularisnya terdiri atas tunica muskularis otot polos longitudinal luar dan sirukulari
dalam. Di bagian luar, terdapat lapisan adventisia yang mengelilingi muskularis dan
menyatu dengan jaringan ikat.

 Duktus deferens
 Ampulla ductus deferentis merupakan bagian terminal vas deferens. Vas deferens
merupakan saluran berdinding tebal dnegan panjang kurang lebih 18 inci, yang
menyalurkan sperma matangdari epididymis ke ductus ejaculatorius dan urethra.

b. Genitalia Eksterna
 Penis
Penis mempunyai radix penis yang terfiksasi dan corpus yang tergantung bebas.
Radix Penis dibentuk oleh tiga massa jaringan erektil yang dinamakan bulbus penis dan
crus penis dextra dan sinistra. Bulbus penis ditembus oleh urethra dan permukaan
luarnya dibungkus oleh musculus bulbospongiosus. Masing-masing crus penis melekat

56 | P a g e
pada pinggir arcus pubicus dan permukaan luarnya diliputi oleh musculus
ischiocavernosus. Bubus melanjutkan diri ke dapan sebagai corpus penis dan
membentuk corpus spongiosum penis. Di anterior kedua crus penis saling mendekati
dan di bagian dorsal corpus penis terletak berdampingan membentuk corpus
cavernosum penis.
Corpus Penis terdiri atas tiga jaringan erektil (satu corpus spongiosum penis dan dua
corpora cavernosa penis) yang diliputi fascia berbentuk tubular (facia Buck). Pada
bagian distal corpus spongiosum melebar membentuk glans penis. Corpus penis
disokong oleh dua buah kondesasi fascia profunda yang berjalan ke bawah dari linea
alba dan symphisis pubis untuk melekat pada fascia penis.
Corpora cavernosa penis diperdarahi oleh a. profunda penis, sedangkan corpus
spongiosum penis diperdarahi oleh a. bulbi penis. Persarafannya berasal dari n.
pudendus dan plexus pelvicus.

Ereksi, atau mengerasnya penis yang normalnya lunak agar penis dapat masuk ke dalam
vagina.
Penis hampir seluruhnya terdiri dari jaringan erektilyang dibentuk oleh 3 kolom
rongga-rongga vaskular mirip spons. Tanpa rangsangan seks, jaringan erektil hanya
mengandung sedikit darah karena arteriol yang mendarahi rongga-rongga vaskular ini
berkontriksi.
Selama rangsangan seks, arteriol-arteriol ini secara refleks melebar dan jaringan
erektil terisi oleh darah sehingga penis bertambah panjang dan besar serta menjadi kaku.
Vena-vena yang mengalirkan darah dari jaringan erektil penis tertekan secara mekanis
oleh pembengkakan dan ekspansi rongga-rongga vaskular ini sehingga aliran keluar vena
berkurang dan hal ini ikut berkontribusi dalam penumpukan darah, atau vasokongesti.
Refleks ereksi adalah refleks spinal yang dipicu oleh stimulasi mekanoreseptor
yang sangat peka di glans penis. Di medula spinalis, terdapat pusat pembentuk ereksi. Jika
57 | P a g e
glans mendapat stimulasi taktil, pusat ini akan memicu peningkatan aktivitas vasodilatasi
parasimpatis dan penurunan aktivitas vasokontriksi simpatis ke arteriol-arteriol penis.
Akibatnya, vasodilatasi hebat ke arteriol-arteriol tersebut, dan ereksi.
Vasodilatasi dipicu oleh aktivitas parasimpatis. Stimulasi parasimpatis
menyebabkan relaksasi otot polos arteriol penis oleh nitrat oksida, yang menyebabkan
vasodilatasi arteriol sebagai respons terhadap perubahan jaringan lokal di bagian tubuh
lain. Stimulasi parasimpatis dan inhibisi simpatis secara bersamaan pada arteriol penis
menyebabkan vasodilatasi yang lebih cepat dan kuat dibandingkan yang mungkin terjadi
di arteriol lain yang hanya mendapat persarafan simpatis.

Ejakulasi, atau penyemprotan kuat semen ke dalam uretra dan keluar dari penis.
Ejakulasi adalah suatu refleks spinal. Rangsangan taktil dan psikis yang
menyebabkan ereksi akan menyebabkan ejakulasi ketika eksitasi sudah mencapai puncak.

Terbagi menjadi 2 fase:

Emisi
Impuls simpatis menyebabkan rangkaian kontraksi otot polos di prostat, saluran
reproduksi, dan vesikula seminalis. Aktivitas kontraktil ini mengalirkan cairan prostat,
kemudian sperma, kemudian cairan vesikula seminalis (secara kolektif disebut semen) ke
dalam uretra. Selama waktu ini, sfingter di leher kandung kemih tertutup erat untuk
mencegah semen masuk ke kandung kemih dan urin keluar bersama dengan ejakulat
melalui uretra.

Ekspulsi
Pengisian uretra oleh semen memicu impuls saraf yang mengaktifkan serangkaian
otot rangka di pangkal penis. Kontriksi ritmik otot-otot ini terjadi pada interval 0,8 detik
dan meningkatkan tekanan di dalam penis, memaksa semen keluar melalui uretra ke
eksterior.

Orgasme
Kontraksi ritmik yang selama ekspulsi semen disertai oleh denyut ritmik
involunter otot-otot panggul dan memuncaki intensitas respons tubuh keseluruhan yang
naik selama fase-fase sebelumnya. Bernafas berat, kecepatan jantung hingga 180 kali per
58 | P a g e
menit, kontraksi otot rangka generalisata yang mencolok, dan peningkatan emosi. Respons
panggul dan sistemik yang memuncaki tindakan seks ini berkaitan dengan rasa nikamt
intens yang ditandai oleh perasaan lepas dan puas.

Resolusi
Impuls vasokonstriktor memperlambat aliran darah ke dalam penis, menyebabkan
ereksi mereda. Setelah terjadi relaksasi dalam, sering disertai rasa lelah. Tonus otot
kembali ke normal sementara sistem kardiovaskular dan pernafasan kembali ke tingkat
sebelum rangsangan. Setelah terjadi ejakulasi timbul periode refrakter temporer dengan
durasi bervariasi sebelum rangsangan seks dapat memicu kembali ereksi. Karena itu, pria
tidak dapat megalami orgasme multiple dalam hitungan menit, seperti pada wanita.

Campuran cairan yang dihasilkan oleh organ-organ reproduksi pria yang dinamai semen
(air mani) mencakup:
1. Cairan vesikula seminalis, yang membentuk 60 persen dari volume total semen.
Cairan ini mengandung mukoid, prostaglandin E2, fruktosa, dan fibrinogen.
2. Cairan prostat, yang membentuk 20 persen dari volume semen dan mengandung
NaHCO3 (pH 7,5), enzim pembekuan, kalsium, dan profibrinolisin.
3. Sel sperma.

 Testis
Testis merupakan organ kuat mudah bergerak, dan terletak di dalam scrotum.
Testis dikelilingi oleh capsula fibrosa yang kuat, yaitu tunica albuginea. Bagian dalam
organ testis terdiri atas lobuli-lobuli yang terdapat tubuli seminiferi yang berkelok-kelok.
Tubuli seminiferi bermuara ke dalam jalinan saluran yang dinamakan rete testis. Duktuli
efferentes yang kecil menghubungkan rete testis dengan ujuang atas epididymis.
Epididymis merupakan saluran yang sangat berkelok-kelok yang panjangnya hampir 6
meter, berfungsi mengabsorbsi cairan, tempat penyimpanan spermatozoa untuk menjadi
matang, dan tertanam di dalam jaringan ikat. Saluran ini berasal dari cauda epididymis
sebagai duktus deferentes dan masuk ke dalam funniculus spermaticus. Funniculus
spermaticus berisi vas deferens a. testicularis, v. testicularis, pembuluh limf, saraf otonom,
processus vaginalis, a. cremasterica, a. duktus deferentis, ramus genitalis n.
genitofemoralis, plexus pampiniformis.

59 | P a g e
 Scrotum
Scrotum merupakan kantong yang tertutp yang meliputi permukaan testis. Dinding
skrotum terdiri atas : kilit, fascia superficialis (m. dartos dan fascia Colle), fascia
spermatica externa, fascia cremasterica, fascia spermatica interna, dan tunica vaginalis.
Scrotum diperdarahi oleh a. pudenda externa dari a. femoralis dan rami scrotales a.
pudenda interna. Permukaan anterior scrotum diurus oleh n. ilioinguinalis dan ramus
genitalis n. genitofemoralis, sedangkan permukaan posterior diurus oleh cabang n.
perinealis dan n. cutaneus femoris posterior.

2. Struktur Mikroskopis
Sistem reproduksi pria terdiri atas sepasang testis, banyak duktus sekretorius, dan berbagai
kelenjar tambahan yag menghasilkan berbagai macam sekresi yang ditambahkan ke sperma
untuk membentuk semen. Testis mengandung sel induk spermatogenik yang secara terus-
menerus membelah untuk menghasilkan generasi sel baru yang akhirnya berubah menjadi
spermatozoa.

Skrotum
Arteri testikularis yang turun ke dalam skrotum dikelilingi oleh pleksus vena yang
kompleks naik dari testis dan membentuk pleksus pampiniformis. Darah yang kembali dari testis
di dalam pleksus pempiniformis lebih dingin daripada darah di arteri testikularis.

Testis
Kapsul jaringan ikat tebal. Yaitu tunika albugenia, mengelilingi setiap testis. Di posterios,
tunika albugenia menebal dan meluas ke dalam setiap testis untuk membentuk mediastinum
testis. Septum jaringan ikat tipis memanjang dari mediastinum testis dan membagi setiap testis
ke dalam sekitar 250 lobulus testis, masing-masing mengandung satu sampai empat tubuli
seminiferi contorti. Setiap tubulus seminifer dilapisi oleh epitel germinal berlapis, mengandung
sel spermatogenik yang berproliferasi dan sel penunjang atau sel sertoli yang tidak berproliferasi.
Di tubuli seminiferi, sel spermatogenik membelah, menjadi matang, dan berubah menjadi
sperma.
Setiap tubulus seminifer dikelilingi oleh fibroblas, sel mirip-otot, saraf, pembuluh darah, dan
pembuluh limfe. Selain itu diantara tubuli seminiferi terdapat kelompok sel epiteloid, sel

60 | P a g e
interstestisial (leydig). Sel ini adalah sel penghasil steroid yang membentuk hormon seks pria
testosteron.

Duktus ekskretorius
Sperma yang dilerpaskan berjalan melalui tubulus rectus dan rete testis ke ductuli
efferentes. Ductuli efferentes muncul dari mediastinum dan menyalurkan sperma ke kaput duktus
epididimis. Epitel ductuli efferente tidak rata karena adanya sel bersilis dan tidak bersilia di
lumen. Silia di ductuli efferentes mendorong sperma dan cairan dari tubuli seminiferi ke duktus
epididimis. Sel tidak bersilia mengabsorpsi sebagian bedar cairan restis sewaktu cairan melewati
duktus epididimis. Duktus epididimis berlanjut sebagai vas deferens yang menyalurkan sperma
ke uretra penis dengan dorongan dari kontraksi otot polos.

D. KEHAMILAN
Pematangan Dan Pembuahan Ovum
Ketika masih berada di dalam ovarium, ovum berada dalam tahap oosit primer. Sesaat
sebelum dilepaskan dari folikel ovarium, nukleusnya membelah dengan cara meiosis dan dari
nukleus oosit tersebut dilepaskan badan polar pertama. Oosit primer kemudian menjadi oosit
sekunder. Dalam proses ini, masing-masing dari 23 pasang kromosom kehilangan salah satu
pasangannya, yang bergabung dengan badan polar yang dikeluarkan. Hal ini membuat 23
61 | P a g e
kromosom yang tidak berpasangan berada dalam oosit sekunder. Pada saat inilah ovum, yang
masih dalam tahap oosit sekunder, berovulasi ke dalam rongga perut. Kemudian, dalam seketika,
ovum tersebut memasuki bagian ujung salah satu tuba fallopii yang berfimbria.

Masuknya Ovum ke Tuba Fallopi (Oviduk).


Ketika ovulasi terjadi, ovum, bersama dengan seratus atau lebih sel granulosa yang
melekat padanya, yang membentuk korona radiata, dikeluarkan langsung ke dalam rongga
peritoneum dan selanjutnya harus masuk ke dalam salah satu tuba fallopii untuk mencapai cavum
uteri. Ujung fimbria dari setiap tuba fallopii jatuh secara alami di sekitar ovarium. Permukaan
bagian dalam tentakel fimbria dibatasi oleh epitel bersilia, dan silia tersebut teraktivasi oleh
estrogen dari ovarium, yang menyebabkan silia secara terus-menerus bergerak ke arah
pembukaan, atau ostium, dari tuba fallopii yang terlibat. Dengan cara ini, ovum memasuki salah
satu tuba fallopii.

Pembuahan Ovum
Setelah laki-laki mengejakulasi cairan semen ke dalam vagina selama hubungan seksual,
dalam waktu 5 sampai 10 menit, beberapa sprema dari vagina akan dihantarkan ke ata,melalui
uterus dan tuba fallopii, ke ampullae tuba fallopii. Penghantaran sperma tersebut dibantu oleh
kontraksi uterus dan tuba fallopii yang dirangsang oleh prostaglandin dalam cairan semen laki-
laki, dan juga oleh oksitosin yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis posterior wanita selama
wanita tersebut mengalami orgasme. Dari hampir setengah miliar sperma disimpan di vagina,
beberapa ribu sperma tersebut berhasil mencapai ampula masing-masing.

62 | P a g e
Pembuahan ovum biasanya terjadi di ampula dari salah satu tuba fallopii, segera setelah
sperma dan ovum masuk ke ampula. Tapi sebelum sperma dapat masuk ke ovum, terlebih dahulu
harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat pada bagian luar ovum (korona
radiata) dan kemudian melekat dan menembus zona pelusida yang mengelilingi ovum itu sendiri.
Sekali sebuah sperma telah memasuki ovum (yang masih dalam tahap perkembangan oosit
sekunder), oosit membelah kembali untuk membentuk ovum matang ditambah badan polar
kedua. Ovum yang matang itu masih membawa pada nukleusnya (sekarang disebut pronukleus
wanita) 23 kromosom. Salah satu kromosom adalah kromosom perempuan, yang dikenal sebagai
kromosom X.
Sementara itu, sperma yang membuahi juga berubah. Ketika sperma memasuki ovum,
kepalanya akan membengkak untuk membentuk sebuah pronukleus pria. Kemudian, ke-23
kromosom yang tidak berpasangan dari pronukleus pria dan ke-23 kromosom yang tidak
berpasangan dari pronukleus perempuan berikatan bersama-sama untuk membentuk kembali
komplemen menyeluruh dengan 46 kromosom (23 pasang) dalam sebuah ovum yang sudah
dibuahi.

Transportasi dari Ovum dibuahi di tuba Tube


Setelah pembuahan terjadi, untuk mentranspor ovum yang telah dibuahi melalui sisa
bagian tuba fallopii ke dalam cavum uteri biasanya perlu waktu 3 sampai 5 hari. Transpor ini
terutama dipengaruhi oleh arus cairan yang lemah di dalam tuba akibat kerja sekresi epitel

63 | P a g e
ditambah kerja epitel bersilia
yang melapisi tuba, silia selalu
bergerak menuju uterus.
Lemahnya kontraksi tuba fallopi
juga dapat membantu lewatnya
ovum.
Tuba fallopii dilapisi
dengan permukaan cryptoid
yang tidak rata yang
menghambat perjalanan ovum
meskipun ada arus cairan. Selain
itu, isthimus tuba fallopii (2
terakhir sentimeter sebelum
memasuki uterus) tetap
berkonstraksi secara spatik
selama 3 hari pertama setelah
ovulasi. Setelah ini, progesteron
meningkat pesat disekresikan oleh korpus luteum ovarium pertama-tama akan memacu
peningkatan reseptor progesteron pada sel-sel otot polos tuba fallopi, kemudian progesteron akan
mengaktifkan reseptor, melepaskan suatu efek relaksasi tuba yang memungkinkan masuknya
ovum ke uterus. Transpor ovum terbuahi yang tertunda melalui tuba fallopi ini memungkinkan
terjadinya beberapa tahap pembelahan sel sebelum ovum yang sudah membelah itu (blastocyst)
yang mengandung sekitar 100 sel memasuki rahim. Selama waktu tersebut, sel-sel sekretori tuba
fallopii membentuk sejumlah besar sekret yang digunakan untuk nutrisi perkembangan
blastokista.
Selama Kehamilan, terdapat perubahan-perubahan pada ibu untuk menyesuaikan diri.

Perubahan Pada Uterus


Menurut Bobak dkk (2005 )dan Rustam Mochtar (1998 )Perubahan padauterus
meliputi perubahan dalam hal :
Ukuran
Ukuran uterus meningkat 20 kali dan kapasitasnya meningkat 500 kali (Hamilton, 1995 ).
Sedangkan ukuran uterus padakehamilan cukup bulan adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas
lebihdari 4000 cc ( Rustam Mochtar, 1998 ). Hal – hal yang
64 | P a g e
Menyebabkanterjadinya pembesaran uterus :Peningkatan vaskularisasi dan dan dilatasi
pembuluharah. Hiperplasia (produksi serabut otot dan jaringan fibro elastic baru) dan hipertrofi
(pembesaran serabut otot dan jaringan fibro elastis yang sudah ada)
Perkembangan desidua pertumbuhan jaringan uterus pada awal masa kehamilan
disebabkan oleh estrogen yang merangsang serabut otot dan bukan karena terdapatnya
pertumbuhan embrio dalam rongga uterus. Walaupun ketika ovum mengimplantasi
di luar uterus, sebagai kehamilan ektopik, uterus mengalami perbesaran kira-kira seukuran
kehamilan bulan ke-empat intra uterin. Setelah bulan ketiga,pembesaran uterus terutama
disebabkan oleh tekanan mekanis akibat pertumbuhan janin.
Perbandingan ukuran uterus wanita hamil dam tidak hamil pada minggu ke 40
Ukuran Tidak Hamil Hamil (minggu ke 40)
Panjang 6,5 cm 32 cm
Lebar 4 cm 24 cm
Kedalaman 2,5 cm 22 cm
Berat 60-70 gr 1100-1200 gr
Volume < 10 ml 5000 ml

Seperti di sebutkan pada tabel di atas, berat uterus pada keadaantidak hamil adalah 60-70
gram dan meningkat menjadi antara 1100 –1200 gram pada minggu ke 40. Pada referensi
laindisebutkan bahwa berat uterus meningkat dari 30 gram menjadi 1000gram pada akhir
kehamilan ( 40 pekan ).Dari beberapa pendapat diatas, memang menunjukkan variasi angka
peningkatan berat uterus, namun keduanya sama-sama menunjukkan adanya peningkatan berat
uterus yang pesat selama kehamilan.
Posisi-posisi rahim dalam kehamilan:
 Pada permulaan kehamilan, dalam letak antefleksi atau retrofleksi
 Pada empat bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam ronggapelvis
 Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalampembesarannya dapat mencapai
batas hati
 Rahim wanita yang hami biasanya lebih mobi, lebih mengisirongga abdomen kanan atau
kiri
Bentuk
Pada saat konsepsi uterus berbentuk seperti buah pirterbalik. Selama trimester kedua
bentuk uterus bulat.Padaakhir kehamilan bentuk uterus seperti bujur telur. Selama periode

65 | P a g e
trimester pertama hanya sedikit terjadinya perubahan berat badan, kemungkinan tidak melebihi
2,25 kg selama 13 minggu. Perut akan berubah karena pembesaran rahim 7,6 cm di bawah pusar.
Berat uterus normal lebih kurang 30 gram. Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus
menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm.
Hubungan besarnya uterus dengan tuanya usia kehamilan sangat penting diketahui, antara lain
untuk membuat diagnosis apakah tersebut fisiologik, atau hamil ganda, atau mengalami hamil
molahidatidosa dan sebagainya. Pada kehamilan 28 minggu uteri terletak kira-kira 3 jari di atas
pusat atau sepertiga jarak antara pusat ke prosesus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu fundus
uteri terletak antara setengah jarak pusat dan prosesus xipoideus. Pada kehamilan 36 minggu
fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prosesus xipoideus. Bila pertumbuhan janin normal
maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 28 minggu sekurangnya 25 cm, pada 32 minggu 27 cm,
pada 36 minggu 30 cm. Pada kehamilan 40 minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-
kira 3 jari dibawah prosesus xipoideus (Saifuddin, 2002).
Pada usia kehamilan 28 minggu fundus berada pada pertengahan antara pusat dan
xipoideus. Pada usia kehamilan 32-36 minggu fundus mencapai prosesus xipoideus. Payudara
penuh dan nyeri tak tertahan. Sering kencing kembali terjadi. Sekitar usia kehamilan 38 minggu
bayi masuk dan turun kedalam panggul. Sakit punggung dan sering kencing meningkat. Kontraksi
Braxton Hicks meningkat (JHPIEGO Buku 2, 2003).

Perubahan Pada Serviks Uteri


Bertambahnya vaskularisasi dan oedem pada serviks uteri serta hipertrofi dan hiperplasia
kelenjar serviks, akan menyebabkan serviks menjadi lembek dan sianotik. Kelenjar-kelenjar
mukosa serviks mengadakan proliferasi dan kanaliss servisis tertutup lendiryang sangat kental,
yang disebut sumbatan lendir. Kelenjar-kelenjar di dekat ostium uteri eksternum mengadakan
proliferasi di bawah epitel gepeng berlapis dan menyebabkan konsistensi serviks uteri seperti
beludru.
Pada kehamilan epitel endoserviks seringkali meluas keluar dari ostium uteri eksternum
menjadi erosio servisis yang masih fisiologik.
Serviks uteri terdiri atas sebagian besar jaringan pengikat dan sebagian kecil otot polos.
Selama kehamilan, terutama dalam persalinan, terjadi perubahan-perubahan pada serviks:
hidroksiprolin berkurang serta serabut-serabut kolagen kurang padat dan kurang kohesif.

66 | P a g e
Perubahan Pada Vagina
Pada vagina, vaskularisasi dan hiperemia bertambah sehingga selaput lendir vagina
berwarna violet, yang disebut tanda Chadwick. Mukosa bertambah tebal, jaringan pengikat
menjadi longgar dan sel-sel otot polos mengalami hipertrofi dan menyebabkan dinding vagina
bertambah panjang sehingga kadang-kadang pada multipara bagian bawah dinding vagina depan
menonjol keluar. Papil-papil mukosa vaginae mengalami hipertrofi.

Perubahan Pada Ovarium


Selama kehamilan, ovulasi tidak akan terjadi lagi. Biasanya pada salah satu ovarium
hanya ditemukan satu korpus luteum verum, yang berfungsi maksimum selama 4 minggu setelah
ovulasi dan konsepsi, kemudian fungsinya relatif berkurang selama kehamilan.
Reaksi luteinisasi yang berlebihan pada kehamilan normal menyebabkan terbentuknya
luteoma gravidarum, yang akan mengalami regresi setelah persalianan dan kemudian ovarium
berfungsi normal kembali. Meskipun luteoma gravidarum menyebabkan virilisasi yang jelas pada
ibu, tetapi fetus tidak terpengaruh karena dilindungi plasenta yang dapat mengubah androgen
menjadi esterogen.

Perubahan Pada Mammae


Pada mammae terjadi perubahna-perubahan sebagai berikut:
1. Pada permulaan kehamilan mengeluh sedikit sakit dan tegang
2. Seelah kehamilan 2 bulan mammae membesar dan berbenjol-benjol kecil kaena alveoli
mengalami hipertrofi
3. Tampak gambaran vena di bawah kulit
4. Papilla mammae membesar, berwarna lebih tua dan lebih erektil
5. Setelah kehamilan beberapa bulan mammae sering mengeluarkan cairan kuning kental, yang
disebut kolostrum
6. Areola mammae melebar dan berwarna lebih tua; pada areola mammae terdapat tonjolan-
tonjolan kecil yang disebut kelenjar Montgomery, yaitu hipertrofi kelenjar sebasea
7. Pada mammae yang sangat membesar timbul striae

E. INFERTILE
Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengandung (hamil) setelah
selamam 12 bulan melakukan hubungan seksual tanpa alat konstrasepsi. Pada semua pasangan
yang mengalami infertilitas, dilakukan evaluasi awal yang meliputi diskusi mengenai waktu yang
67 | P a g e
tepat unuk melakukan hubungan seksual, faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti merokok,
konsumsi alkoho/kafein, dan obesitas. Infertilitas juga berkaitan dengan stres psikologis, karena
dapat mengganggu kontrol hipotalamus dalam ovulasi.
Di Amerika Serikat dari 5 juta pasangan, infertilitas karena penyebab faktor pria maupun
faktor wanita.

Faktor pria sebesar 25%


1. 30-40% karena hipogonadisme primer denga FSH tinggi,
2. 10-20% karena kelainan transpor sperma,
3. 2% karena hipogonadisme sekunder dengan FSH dan LH yang rendah,
4. 40-50% karena penyebab yang tidak diketahui.
Faktor perempuan 58%
1. 46% akibat amenore/disfungsi ovulasi,
2. 38% karena defek pada tuba,
Dapat disebabkan oleh penyakit panggul inflmasi, apendisitis, emdmetriosis, perlengketan
daerah panggul, operasi daerah tuba, dan riwayat penggunaan spiral. Walaupun demikian 50%
pasien dengan infertilitas disebabkan karena faktor tuba, tidak ditemukan penyebab spesifik dari
kelainan tuba tersebut.
3. 9% karena endometriosis,
Adanya kelenjar atau stroma endometrial di luar rongga endometrium.
4. 7% karena penyebab lain,
5. 17% faktor yang tidak dapat dijelaskan.

Infertilitas akibat amenore sendiri; 51% akibat kelainan hipotalamus, 30% karena sindrom
ovarium polikistik, 12% karena kegagalan ovarium prematur, 7% karena kelainan uterus atau
traktus jalan lahir.

Tatalaksana infertilitas harus disesuaikan dengan masalha yang dihadapi oleh masing-maing
pasangan. Pendekatan tatalaksana meliputi expectant management, pemberian klomifen sitrat
(meningkatkan kadar FSH dan LH dengan cara menghambat feedback negatif estrogen di
hipotalamus) dengan atau tanpa inseminasi intrauterus, gonadotropin dengan atau tanpa
inseminasi intrauterus, dan fertilisasi in vitro.

F. ABORTUS
68 | P a g e
1. PENGERTIAN
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 26
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup
diluar kandungan.
2. ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya
pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang
menyebabkan abortus dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat kelainan
berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor-faktor yang
menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:
- Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X.
- Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
- Pengaruh dari luar akibat radiasi, virus, obat-obatan.

b. Kelainan pada plasenta misalnya endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan
menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan kematian janin.

c. Penyakit Ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, anemia berat, dan keracunan.

d. Kelainan Traktus Genetalis


Mioma uteri, kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Sebab lain abortus dalam
trisemester ke 2 ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada
serviks, dilatari serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luar yang tidak
dijahit.

3. PATOGENESIS
Pada awal abortus terjadi pendarahan dalam desidua basalis, kemudian diikuti oleh
nekrosis jaringan disekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda
asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu vili korialis belum menembus desidua secara dalam, jadi
hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu penembusan
69 | P a g e
sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak
pendarahan. Pada kehamilan lebih 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada plasenta.
Pendarahan tidak banyak jika plasenta segera dilepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini
menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan
dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak kecil tanpa bentuk
yang jelas, mungkin pula janin telah mati lama, mola kruenta, maserasi, fetus kompresus.
4. KLASIFIKASI ABORTUS
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja atau dengan
tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, semata- mata disebabkan oleh faktor-
faktor alamiah.

2. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja tanpa indikasi medis,
baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.

Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :

1. Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman terjadinya abortus, ditandai
perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam
kandungan.

2. Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam ditandai dengan serviks telah
mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran. sendiri, dengan alasan secara sembunyi-sembunyi

3. Abortus Inkompletus adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih
ada yang tertinggal.

4. Abortus Kompletus adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

70 | P a g e
5. Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal
dalam kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan
dalam kandungan.

6. Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut- turut.

7. Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia.

8. Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis (Prawirohardjo, 2009).

5. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik abortus antara lain:
- Terlambat haid atau amenote kurang dari 20 minggu
- Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau
meningkat.
- Pendarahan pervaginaan, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
- Rasa mulas atau keram perut didaerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat
kontraksi uterus.
- Pemeriksaan Ginekologi
a. Inspeksi Vulva: Pendarahan pervaginaan ada atau tidaknya jaringan hasil konsepsi,
tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo: Pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup ada atau
tidaknya jaringan keluar dari ostium, ada atau tidaknya cairan atau jaringan berbau busuk
dari ostium.
c. Colok Vagina: Porsio terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam
kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kaum douglasi tidak menonjol dan tidak
nyeri.

5. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari timbulnya suatu abortus.
Penatalaksanaan Umum:

71 | P a g e
- Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini
menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
- Pada kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan infus oksitosin dimulai 8 tetes permenit dan
naikkan sesuai kontraksi uterus.
- Bila pasien syok karena pendarahan berikan infus ringer taktat dan selekas mungkin tranfusi
darah.

Medikamentosa:
1. Simptomatik : Analgesic (a5, metenamat)
500 gram (3x1)
2. Antibiotik : Amoksilin 500 mg (3x1)
3. Education : Kontrol 3-4 hari setelah keluar
setelah keluar dari rumah sakit.

6. PROGNOSA
Mayoritas pada penderita yang mengalami abortus mempunyai prognosa yang
tergantung pada cepat atau tidaknya kita mendiagnosa dan mencari etiologinya.
Komplikasi yang sering ditimbulkan antara lain adalah:
- Pendarahan
- Perforasi
- Syok, infeksi
- Pada Missed abortion dengan refensi lama hasil konsepsi dapat
terjadi kelainan pembekuan darah.

72 | P a g e
VIII. KERANGKA KONSEP

73 | P a g e
IX. KESIMPULAN
Ny.Pregnita menikah pada umur 34 tahun dan suami berumur 37 tahun. Hasil fertilisasi
tidak berkualitas,faktor hormonal yang tidak teratur sehingga endometrium tidak mampu
mempertahankan janin ditambah dengan psikologi yang takut infertile menyebabkan dia
terancam abortus.

X. DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Idrus., dkk.2009. Ilmu Penyakit Dalam Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: InternaPublishing

Anthony L. Mescher.2010.Junqueira’s Basic Histology, 12rd ed. New York: McGraw-Hill

Eroschenko, Victor P. 2011. Atlas Histologi diFiore : dengan korelasi fungsional. Jakarta : EGC

Evelyn C. Pearce.2009. Anatomy and Physiology for Nurses, 33rd ed. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama

Guyton , Hall. 2011. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11.Jakarta : EGC

Johannes Sobotta.2006. Sobotta, Atlas der Anatomie des Menschen, 22rd ed. Munchen: Elsevier
GmbH

Kuncara, Eka Lusiandani. 2009. Perubahan Psikologis pada Masa Kehamilan.

Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT. Bina Sarwono Prawirohardjo.

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 2012. Patofisiologi. Jakarta:EGC

Snell, Richard S. 2006. Clinical Anatomy for Medical Students ed 6. Jakarta : EGC

74 | P a g e