Anda di halaman 1dari 17

HALAMAN JUDUL

Pemetaan Desa |i|


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

I. PENDAHULUAN .........................................................................................................1
1.1. Gambaran Umum ............................................................................................1
1.2. Landasan Hukum .............................................................................................2
1.3. Maksud dan Tujuan .........................................................................................3
1.4. Ruang Lingkup Kegiatan ..................................................................................3
1.5. Keluaran (Output) ............................................................................................4
1.6. Personil .............................................................................................................4

II. WAKTU DAN TAHAPAN PELAKSANAAN .................................................................6


2.1. Waktu Pelaksanaan .........................................................................................6
2.2. Tahapan Pelaksanaan ......................................................................................6
2.2.1. Tahap Persiapan ..................................................................................6
2.2.2. Tahap Pengumpulan Data ..................................................................6
2.2.3. Tahapan Pekerjaan Studio ..................................................................7
2.2.4. Tahapan Pembuatan Laporan ............................................................7

III. PENUTUP .................................................................................................................8

P e m e t a a n D e s a | ii |
I. PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum


Membangun desa atau desa membangun, dari desa untuk desa oleh desa,
merupakan salah satu agenda prioritas Pemerintahan Indonesia sebagai kerangka
Negara Kesatuan, guna mewujudkan percepatan pembangunan nasional berbasis
desa, demi memperkuat daerah-daerah dan desa dalam mengatasi persoalan
kesenjangan, disparitas dan ketidakmerataan pembangunan antar wilayah.
Pembangunan Desa dalam konteks keruangan dan kewilayahan pondasi
dasarnya adalah Peta. Peta Desa menyajikan informasi geospasial yang menjadi
instrumen penyelenggaraan dan pelaksanaan pembangunan desa sebagaimana
yang diamanahkan dalam Undang-Undang Desa. Namun Ketersediaan data
informasi geospasial (IG) Desa baik cakupan ketersediaan maupun tingkat
kedetailannya masih belum memadai, terkait Batas Administrasi Desa masih
menggunakan batas indikatif. Sehingga, menjadi tantangan percepatan
pembangunan nasional berbasis desa.
Badan Informasi Geospasial Indonesia (BIG) sebagai lembaga pemerintah
non-kementerian yang memiliki amanah melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang informasi geospasial yang mengacu kepada satu standar, satu referensi,
satu geodatabase, satu geoportal untuk mewujudkan satu peta menyatukan
negeri, telah merintis Sistem Informasi Geospasial Desa melalui WebGIS yang
disingkat (SIGDES) untuk mendukung percepatan pembangunan desa. Oleh karena
itu, Pemetaan Wilayah Desa salah satu aspek yang sangat diperlukan, sehingga
informasi yang disajikan tidak lagi bersifat tekstual namun lebih spesifik dengan
basis spasial.
Permendagri Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah
Administrasi Pemerintahan menyebutkan bahwa jumlah Desa dan Kelurahan di
Indonesia adalah 83.184, yang terdiri dari 74.754 Desa dan 8.430 Kelurahan.
Untuk wilayah Sulawesi-Selatan di sajikan pada tabel berikut :

Pemetaa n Desa |1|


Jumlah Luas Wilayah
Kode Kabupaten / Kota
Kecamatan Kelurahan Desa (Km2)
7301 Kepulauan Selayar 11 7 81 1357.03
7302 Bulukumba 10 27 109 1284.63
7303 Bantaeng 8 21 46 395.83
7304 Jeneponto 11 31 82 706.52
7305 Takalar 9 24 76 566.61
7306 Gowa 18 45 122 1883.32
7307 Sinjai 9 13 67 798.96
7308 Bone 27 44 328 4559
7309 Maros 14 23 80 1619.12
7310 Pangkajene Kepulauan 13 38 65 1132.08
7311 Barru 7 15 40 1174.71
7312 Soppeng 8 21 49 1557
7313 Wajo 14 48 142 2504.06
7314 Sidrap 11 38 68 1883.23
7315 Pinrang 12 39 69 1961.67
7316 Enrekang 12 17 112 1784.93
7317 Luwu 22 20 207 3343.97
7318 Tana Toraja 19 47 113 1990.22
7322 Luwu Utara 12 7 166 7502.58
7324 Luwu Timur 11 3 124 6944.88
7326 Toraja Utara 21 44 107 1215.55
7371 Kota Makassar 14 143 - 199.26
7372 Kota Pare-Pare 4 22 - 99.33
7373 Kota Palopo 9 48 - 252.99

Berdasarkan hal tersebut, informasi geospasial (IG) desa, menjadi bagian


komponen penting dalam mewujudkan sistem informasi yang akan dimanfaatkan
untuk mendukung sektor publik dalam melaksanakan proses perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi pembangunan, pengambilan keputusan, sehingga
berkontribusi pada pembangunan simpul jaringan untuk percepatan
pembangunan nasional berbasis desa.

1.2. Landasan Hukum


Pemetaan Desa untuk menghasilkan informasi geospasial desa dilakukan
sebagai implementasi dari ;
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
b. Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial
c. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa
d. Perpres No. 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu
Peta.

Pemetaa n Desa |2|


e. Permendagri No. 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa
f. Permendagri No. 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa
g. Permendagri No. 45 Tahun 2016 tentang Penetapan dan Penegasan Batas
Desa
h. Permendagri No. 1 Tahun 2017 tentang Penataan Desa

1.3. Maksud dan Tujuan


Maksud kegiatan ini adalah mendukung dan menunjang program
pemerintahan dalam menyediakan Informasi Geospasial Desa yang akan
digunakan sebagai instrumen koordinasi program kerja (perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi dan pengambilan keputusan) oleh berbagai pemangku
kepentingan baik masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kota/kabupaten,
pemerintah pusat, peneliti dan dunia usaha untuk mewujudkan percepatan
pembangunan nasional berbasis desa.
Tujuan dari kegiatan ini adalah menyajikan Informasi Geospasial Desa
sesuai dengan standar dan spesifikasi penyajian Peta Desa dari Badan Informasi
Geospasial (BIG), terkait :
a. Batas administasi yang selama ini hanya menggunakan batas indikatif
(penertiban batas administrasi desa yang sebenarnya/real world).
b. Penyajian informasi sarana dan prasarana desa.
c. Penyajian informasi penutup dan penggunaan lahan desa.

1.4. Ruang Lingkup Kegiatan


Kegiatan Pemetaan Informasi Spasial Desa meliputi pemetaan batas
wilayah, sarana dan prasarana, penutup dan penggunaan lahan desa yang diawali
dengan inventarisasi dan review data, peta-peta dan laporan terkait dengan
pemetaan desa. Pemetaan ini dilakukan menggunakan metode kartometris,
terestris, melalui proses integrasi antara sistem informasi geografi dan
penginderaan jauh.

Pemetaa n Desa |3|


Pelaksanaan Kegiatan Pemetaan Informasi Spasial Desa melalui beberapa
tahapan, sebagai berikut ;
a. Tahapan Persiapan
b. Tahapan Pengumpulan Data
c. Tahapan Pekerjaan Studio
d. Tahapan Pembuatan Laporan dan Pencetakan Output hasil kegiatan.

1.5. Keluaran (Output)


Keluaran (output) yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah tersedianya
informasi spasial desa dalam mendukung salah satu program prioritas pemerintah
yaitu percepatan pembangunan nasional berbasis desa menuju pelaksanaan
kebijakan satu peta (One Map Policy) sebagai kerangka Negara kesatuan Republik
Indonesia (Satu Peta Menyatukan Negeri). Data informasi geospasial desa
disajikan dalam bentuk hardcopy dan softcopy (CD) dengan rincian sebagai
berikut:
a. Peta Digital dan Peta Raster Desa, Peta akan dilayout pada ukuran kertas A0
dengan skala 1:2500, 1:5000, atau 1:10.000 berdasarkan luas desa, yang
terdiri dari tiga (3) tema yaitu:
1) Peta Citra Desa
2) Peta Sarana dan Prasarana Desa
3) Peta Penutup Lahan dan Penggunaan Lahan
b. Laporan hasil kegiatan Pemetaan Desa dicetak sebanyak 5 rangkap.

1.6. Personil
Adapun personil yang akan melaksanakan kegiatan Pemetaan Informasi
Spasial Desa, adalah :
1. Tenaga Ahli SIG
Tenaga ahli SIG sekaligus sebagai ketua Tim adalah penanggung jawab
pekerjaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan
pembuatan laporan akhir.

Pemetaa n Desa |4|


2. Administrasi
Tenaga teknis yang melaksanakan tugas-tugas dan kebutuhan administrasi
dan pelaporan terkait pelaksanaaan kegiatan Pemetaan Informasi Spasial
Desa.
3. Surveyor
Surveyor adalah tenaga pelaksana lapangan yang melakukan kegiatan
survey dan pemetaan serta berkoordinasi pada pekerjaan studio dimana
secara struktural dibawah pengawasan atau koordinasi ketua tim tetapi
tidak membawahi tenaga yang terlibat pengolahan data.
4. Asisten Surveyor
Merupakan tenaga pelaksana lapangan yang membantu pelaksanaan tugas
surveyor dalam proses pengumpulan data lapangan.
5. Tim Kartografi dan SIG
Tenaga yang melakukan pemrosesan data (deteksi, identifikasi, analisis
dan deliniasi) hasil survey dan interpretasi citra satelit serta melakukan
validasi data survey untuk selanjutnya pembuatan/penggambaran peta
digital desa hingga pembuatan layout peta desa dalam bentuk softcopy
dan hardcopy.

Pemetaa n Desa |5|


II. WAKTU DAN TAHAPAN PELAKSANAAN

2.1. Waktu Pelaksanaan


Adapun rencana alokasi waktu pelaksanaan kegiatan pemetaan desa ini
untuk dilaksanakan adalah selama 3 (tiga) bulan kalender setelah adanya
penandatanganan kontrak.

2.2. Tahapan Pelaksanaan


2.2.1. Tahap Persiapan
Tahapan Persiapan Persiapan meliputi hal-hal yang bersifat teknis dan non-
teknis, meliputi ;
a. Persiapan Administrasi.
b. Persiapan peralatan penunjang kegiatan survey lapangan.
c. Pengadaan citra satelit resolusi tinggi dan interpretasi citra satelit untuk
pembuatan peta kerja.
d. Print-out Peta Kerja pada ukuran kertas A0 (1189 x 841 mm).

Alokasi biaya untuk tahapan ini adalah sebesar Rp. 3,000,000.-/Desa

2.2.2. Tahap Pengumpulan Data


Tahapan ini adalah tahapan survey lapangan dan terdiri dari kegiatan
pengumpulan data primer dan data sekunder, meliputi ;
a. Orientasi lapangan terkait;
 Toponim (penamaan local)
 Batas Wilayah Administrasi (Batas Desa dan Batas Dusun),
 Plotting Sebaran Sarana dan Prasarana (fasilitas umum dan sosial),
 Pengecekan/groundtruth Penutup dan Penggunaan Lahan.
b. Pengumpulan informasi dan/atau dokumen terkait kependudukan Desa.
c. Dokumentasi.

Alokasi biaya untuk tahapan ini adalah sebesar Rp. 12,000,000.-/Desa

Pemetaa n Desa |6|


2.2.3. Tahapan Pekerjaan Studio
Pekerjaan studio adalah tahap kegiatan pengolahan data dan analisis data
oleh tenaga ahli SIG, Tim Kartografi dan SIG , yang meliputi ;
a. Analisis dan Validasi data survey lapangan, sehingga kondisi riil di lapangan
dapat tergambar dan tersaji dalam Peta Desa.
b. Digitasi atau deliniasi dan pembuatan basis data spasial desa, terkait ;
Toponim (penamaan local), Batas Wilayah Administrasi (Batas Desa dan
Batas Dusun), Sarana dan Prasarana (fasilitas umum dan sosial).
c. Penggambaran dan Layout Peta Desa sesuai ketentuan skala berdasarkan
ukuran desa pada kertas A0 (1189 x 841 mm).
UKURAN DESA*)
SKALA PETA DESA
BARAT – TIMUR UTARA – SELATAN
< 2.5 km < 2.5 km 1 : 2,500
2.5 – 3.5 km 2.5 – 3.5 km 1 : 5,000
3.5 – 7 km 3.6 – 7 km 1 : 10,000
> 7 km > 7 km 1 : 10,000 indeks
*) jarak panjang dan lebar desa terjauh hasil pengukuran di lapangan

Alokasi biaya untuk tahapan ini adalah sebesar Rp. 7,500,000.-/Desa

2.2.4. Tahapan Pembuatan Laporan


Kegiatan Pemetaan Desa ini nantinya akan dilaporkan dalam bentuk
format hardcopy sebagai laporan teknis dan juga ke dalam bentuk softcopy yang
kemudian akan dipresentasikan terhadap instansi terkait, dalam hal ini adalah
pihak pemberi kerja. Pada tahapan ini laporan akan diberikan dalam format digital
dan cetak sebanyak 5 (satu) rangkap untuk setiap Desa serta Printout Peta Desa
pada kertas A0 (1189 x 841 mm) sebanyak 6 lembar.

Alokasi biaya untuk tahapan ini adalah sebesar Rp. 2,500,000.-/Desa

Pemetaa n Desa |7|


III. PENUTUP

Demikian proposal teknis ini dibuat dengan sebenar-benarnya, dengan


harapan dapat memberikan pengetahuan dan gambaran singkat mengenai
pemetaan informasi spasial desa yang akan dilakukan oleh pelaksana kerja. Mulai
dari Tahapan Persiapan, Pengumpulan Data Sekunder, Survey Lapangan,
Pekerjaan Studio, hingga Pembuatan Laporan guna menghasilkan peta desa yang
sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan sesuai dengan standar dan
spesifikasi penyajian Peta Desa dari Badan Informasi Geospasial (BIG), dan sebagai
bahan acuan dan tersedianya data informasi geospasial desa dalam mendukung
salah satu program prioritas pemerintah yaitu percepatan pembangunan nasional
berbasis desa menuju pelaksanaan kebijakan satu peta (One Map Policy) sebagai
kerangka Negara kesatuan Republik Indonesia (Satu Peta Menyatukan Negeri).
Akhir kata kami haturkan terima kasih.

Pemetaa n Desa |8|


LAMPIRAN CONTOH PETA DESA
Berdasarkan
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial
Nomor 3 tahun 2016
Tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa

Pemetaa n Desa |9|


P e m e t a a n D e s a | 10 |
P e m e t a a n D e s a | 11 |
P e m e t a a n D e s a | 12 |
P e m e t a a n D e s a | 13 |
P e m e t a a n D e s a | 14 |
P e m e t a a n D e s a | 15 |