Anda di halaman 1dari 48

BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

PUSAT PEMETAAN TATA RUANG

MODUL 6
TEKNIK DELINEASI POLA RUANG
DAN JARINGAN PRASARANA

0
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

DAFTAR ISI

1 PENDAHULUAN ...........................................................................1
A Latar Belakang ..................................................................................... 1
B Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
2 JENIS DAN MUATAN PETA DALAM PENYUSUNAN
DOKUMEN RDTR .......................................................................3
A Rencana Pola Ruang ........................................................................ 7
B Output Peta Pola Ruang dan Jaringan Prasarana ............. 34
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Modul 6 akan membahas mengenai


pemahaman tentang tata cara pembuatan peta
RDTR yang meliputi teknik delineasi pola ruang
dan jaringan prasarana untuk RDTR dan akan
menghabiskan 60 menit pembelajaran.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013
Tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang pada paragraf 3 peta
rencana pola ruang, pasal 9 menyebutkan bahwa peta Rencana Pola
Ruang Wilayah meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya
yang digambarkan dalam bentuk delineasi. Adapun Delineasi
kawasan lindung dan kawasan budi daya harus dipetakan pada
lembar kertas yang menggambarkan wilayah secara utuh dengan
yang penggambarannya disajikan dalam bentuk simbol. Peta
Rencana Pola Ruang dapat digambarkan dalam beberapa lembar
Peta yang tersusun secara sistematis mengikuti penggambaran
wilayah secara utuh. Untuk menghasilkan peraturan atau kebijakan
yang terstruktur.

Implikasi dari peraturan diatas Selanjutnya diterjemahkan kedalam


bentuk rencana yang lebih detail dalam atau RDTR. Selanjutnya peta
RDTR dapat digambarkan kedalam peta BWP yang terdiri atas Sub
BWP/zona. Zona yang terdapat pada wilayah perencanaan RDTR
harus tetap sesuai dominasi kawasan pada rencana pola ruang RTRW
meskipun terdapat zona-zona lainnya selain zona dominasi tersebut.
Pendetailan ke skala 1:5000 menunjukkan bahwa di dalam zona yang
mendominasi tersebut bisa saja terdapat fungsi zona lainnya.

1
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Mengingat pentingnya peta sebagai wahan penyimpanan dan


penyajian data kondisi suatu wilayah, begitupun dalam penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota, maka peraturan atau
kebijakan yang menjadi rujukan didadasari pada Permen PU No. 20
Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang Kabupaten/Kota juga diamanatkan salahsatunya bahwa dalam
muatannya, RDTR Kabupaten/Kota juga harus memuat peta sebagai
wahana penyajian kondisi eksisting dan rencana obyek kajian yang
akan disusun RDTRnya.
Pada modul 6 ini dibuat untuk memberikan pengetahuan tentang
tata cara pembuatan peta Rencana Detail Tata Ruang sesuai dengan
Permen PU No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


Modul ini dimaksudkan sebagai bahan masukan maupun
pemahaman bagi aparat pemerintah maupun masyarakat didalam
pembuatan peta Rencana Detail Tata Ruang.
Adapun tujuan dari modul 6 ini adalah memberikan gambaran umum
dan pengetahuan tentang :
1. Jenis peta yang harus ada dalam penyusunan dokumen RDTR
2. Muatan dari jenis peta yang harus ada dalam penyusunan
dokumen RDTR

2
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

BAB II
JENIS DAN MUATAN PETA DALAM PENYUSUNAN DOKUMEN
RENCANA DETAIL TATA RUANG

Dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang, sudah seyogyanya


termuat peta RDTR didalamnya , yang sekurang-kurangnya memuat
jenis peta:
1. Peta Profil Wilayah Perencanaan, yang meliputi:
 Peta orientasi
 Peta batas administrasi
 Peta guna lahan
 Peta rawan bencana
 Penetapan sebaran penduduk
 Peta jaringan prasarana eksisting
 Peta-peta tematik lainnya yang dirasa perlu untuk
ditampilkan dalam album peta
2. Peta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), yang meliputi:
 Peta rencana pola ruang
 Peta rencana jaringan prasarana
 Peta Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya

Tabel 1 Tabel I Jenis dan Muatan Peta dalam Penyusunan


RDTR
No. Nama Peta Muatan Peta
A. Peta Profil Wilayah Perencanaan
1. Peta orientasi Peta skala kecil disesuaikan dengan ukuran kertas
yang menunjukkan kedudukan geografis wilayah
perencanaan di dalam wilayah yang lebih luas.

3
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

No. Nama Peta Muatan Peta


2. Peta batas Delineasi wilayah perencanaan:
administrasi a. skala peta mengikuti ukuran kertas;
b. setiap kabupaten atau kota serta wilayah
perencanaan dan subwilayah perencanaan
lainnya diberi warna berbeda; dan
c. setiap delineasi wilayah perencanaan diberi
nama/kode wilayah perencanaan bersangkutan.

3. Peta guna lahan Berisi delineasi jenis guna lahan yang ada di
seluruh wilayah perencanaan:
a. skala peta mengikuti ukuran kertas; dan
b. klasifikasi pemanfaatan ruangnya bebas sesuai
dengan apa yang ada di kenyataan (tidak harus
mengikuti klasifikasi untuk rencana pola ruang).
4. Peta rawan Berisi delineasi wilayah rawan bencana menurut
bencana tingkatan bahayanya:
a. skala peta mengikuti ukuran kertas; dan
b. tingkatan bahaya bencana alam dinyatakan
dalam gradasi warna.
5. Penetapan Berisi pola kepadatan penduduk tiap wilayah
sebaran perencanaan untuk menggambarkan dimana
penduduk terdapat konsentrasi penduduk:
a. skala peta mengikuti ukuran kertas;
b. klasifikasi kepadatan penduduk disesuaikan
dengan kondisi data, sekurangnya 3 (tiga)
interval dan sebanyak-banyaknya 5 (lima)
interval; dan
c. gradasi kepadatan penduduk (interval)
digambarkan dalam gradasi warna yang
simultan.
6. Peta-peta tematik lainnya yang dirasa perlu untuk ditampilkan dalam
album peta.

B. Peta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)


1. Peta rencana a. Skala peta 1:5.000, bila tidak dapat disajikan
pola ruang secara utuh dalam 1 lembar kertas, peta
disajikan beberapa lembar. Pembagian lembar
penyajian peta harus mengikuti angka bujur dan
lintang geografis yang beraturan, seperti halnya
pada peta dasar.
b. Pada setiap lembar peta harus dicantumkan
peta indeks dan nomor lembar peta yang

4
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

No. Nama Peta Muatan Peta


menunjukkan posisi lembar peta yang disajikan
di dalam wilayah kabupaten/kota secara
keseluruhan atau wilayah perencanaan yang
disusun RDTR-nya.
c. Setiap wilayah perencanaan dan subwilayah
perencanaan dicantumkan kode wilayahnya
d. Kandungan peta meliputi:
 batas wilayah wilayah perencanaan dan
subwilayah perencanaan yang didasarkan
pada batasan fisik
 jaringan jalan,jaringan jalur kereta api,dan
sungai
 delineasi rencana zona dan subzona yang
merupakan pembagian pemanfaatan ruang
berdasarkan fungsinya
 Pewarnaan zona disesuaikan dengan
peraturan perundang-undangan mengenai
ketelitian peta, sedangkan sub zona dibagi
sesuai ketentuan dan pada peta diberi
keterangan sistem kode.
contoh : Zona perumahan (R),sub zona
perumahan kepadatan sangat tinggi warna di
peta adalah kuning tua dengan kode R-1
2. Peta rencana Skala peta adalah 1:5000 yang terdiri dari :
jaringan a. Peta rencana jaringan pergerakan,
prasarana menggambarkan seluruh jaringan primer dan
jaringan sekunder pada wilayah perencanaan
yang meliputi jalan arteri, jalan kolektor, jalan
lokal, jalan lingkungan, dan jaringan jalan
lainnya yang tidak termasuk dalam jaringan
pergerakan yang direncanakan dalam RTRW;
b. Peta rencana energi/kelistrikan,
menggambarkan seluruh jaringan subtransmisi,
jaringan distribusi primer (SUTUT, SUTET,
SUTT),jaringan distribusi sekunder, jaringan
pipa minyak/gas bumi, dan seluruh bangunan
pendukung lain yang termasuk dalam jaringan-
jaringan tersebut;
c. Peta rencana pengembangan jaringan
telekomunikasi memuat rencana
pengembangan infrastruktur dasar
telekomunikasi berupa lokasi pusat

5
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

No. Nama Peta Muatan Peta


automatisasi sambungan telepon; jaringan
telekomunikasi telepon kabel (dari jaringan
kabel primer hingga jaringan kabel sekunder)
termasuk penyediaan stasiun telepon otomat,
rumah kabel, dan kotak pembagi;kebutuhan
penyediaan telekomunikasi telepon selular
termasuk infrastruktur telepon nirkabel berupa
lokasi menara telekomunikasi termasuk menara
Base Transceiver Station (BTS); dan sistem
jaringan televisi kabel seperti stasiun transmisi
dan jaringan kabel distribusi;
d. Peta rencana pengembangan jaringan air
minum memuat sistem penyediaan air minum
wilayah perencanaan mencakup sistem jaringan
perpipaan dan bukan jaringan perpipaan,
bangunan pengambil air baku, seluruh pipa
transmisi air baku dan instalasi produksi,
seluruh pipa unit distribusi hingga persil,
seluruh bangunan penunjang dan bangunan
pelengkap, dan bak penampung;
e. Peta rencana pengembangan jaringan drainase
memuat rencana jaringan drainase primer,
sekunder, tersier, lingkungan, dan apabila
kondisi topografi wilayah perencanaan
berpotensi terjadi genangan maka digambarkan
pula pada peta terkait lokasi kolam
retensi/sistem pemompaan/pintu air;
f. Peta rencana pengembangan jaringan air limbah
memuat seluruh sistem pembuangan on site
dan/atau off site di wilayah perencanaan
beserta seluruh bangunan pengolahan air
limbah; dan
g. Peta rencana jaringan prasarana lainnya
disesuaikan kebutuhan wil. perencanaan, misal
peta rencana jalur evakuasi bencana.
3. Peta Sub BWP a. Skala peta 1:5.000, bila tidak dapat disajikan
yang secara utuh dalam 1 lembar kertas, peta
diprioritaskan disajikan beberapa lembar. Pembagian lembar
penanganannya penyajian peta harus mengikuti angka bujur dan
lintang geografis yang beraturan, seperti halnya
pada peta rupa bumi.
b. Pada setiap lembar peta harus dicantumkan

6
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

No. Nama Peta Muatan Peta


peta indeks dan nomor lembar peta yang
menunjukkan posisi lembar peta yang disajikan
di dalam wilayah perencanaan secara
keseluruhan.
c. Peta memuat delineasi lokasi yang
diprioritaskan penanganannya pada wilayah
perencanaan

Keterangan:
Muatan peta pada dokumen Rencana Detail Tata Ruang akan
berbeda-beda pada setiap kawasan perkotaan yang dibuat RDTR-
nya, hal ini disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan perkotaan
itu sendiri (untuk Peta Profil Wilayah Perencanaan), dan kebutuhan
pengembangan kawasan perkotaan yang dibuat RDTR-nya (untuk
Peta Rencana Detail Tata Ruang RDTR).

A. Rencana Pola Ruang


Rencana pola ruang dalam RDTR Kabupaten merupakan rencana
distribusi sub zona peruntukan (hutan lindung, zona yang
memberikan perlindungan terhadap zona bawahannya, zona
perlindungan setempat, perumahan, perdagangan dan jasa,
perkantoran, industri, RTNH, dan penggunaan lainnya) ke dalam
blok-blok.
Peta pola ruang juga berfungsi sebagai zoning map bagi Peraturan
Zonasi, baik apabila Peraturan Zonasi dipisah maupun disatukan
dengan RDTR.
Rencana pola ruang berfungsi:
a. sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial,
ekonomi, serta kegi atan pelestarian fungsi lingkungan dalam
wilayah perencanaan;
b. sebagai dasar penerbitan izin pemanfaatan ruang;
c. sebagai dasar penyusunan Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan;

7
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

d. sebagai dasar penyusunan rencana jaringan prasarana RDTR.


Rencana pola ruang dirumuskan berdasarkan:
a. daya dukung dan daya tampung ruang dalam wilayah
perencanaan; dan
b. prakiraan kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan
sosial ekonomi dan pelestarian fungsi lingkungan.
Rencana pola ruang dirumuskan dengan kriteria:
a. mengacu pada rencana pola ruang yang telah ditetapkan
dalam RTRW Kabupaten;
b. memperhatikan rencana pola ruang bagian wilayah yang
berbatasan;
c. memperhatikan mitigasi bencana pada wilayah perencanaan;
dan
d. menyediakan RTH dan RTNH untuk menampung kegiatan
sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Rencana pola ruang RDTR terdiri atas:
a. Zona Lindung yang meliputi:
1) zona Hutan Lindung;
2) zona yang memberikan perlindungan terhadap zona
bawahannya, yang meliputi zona bergambut dan zona
resapan air;
3) zona perlindungan setempat, yang meliputi sempadan
pantai, sempadan sungai, zona sekitar danau atau waduk,
zona sekitar mata air;
4) zona ruang terbuka hijau (RTH) kota, yang antara lain
meliputi taman RT, taman RW, taman kota dan
pemakaman;
5) zona suaka alam dan cagar budaya;
6) zona rawan bencana alam, yang antara lain meliputi zona
rawan tanah longsor, zona rawan gelombang pasang, dan
zona rawan banjir; Zona ini digambarkan dalam peta
terpisah;
8
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

7) zona lindung lainnya.


b. Zona Budidaya yang meliputi:
1) zona perumahan yang dapat dirinci ke dalam perumahan
dengan kepadatan: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah,
dan sangat rendah; Bila diperlukan dapat dirinci lebih
lanjut ke dalam rumah susun, rumah kopel, rumah deret,
rumah tunggal, rumah taman, dan sebagainya;
2) zona perdagangan dan jasa yang meliputi perdagangan
jasa deret dan perdagangan jasa tunggal;
Bila diperlukan dapat dirinci lebih lanjut ke dalam pasar
tradisional, pasar modern, pusat perbelanjaan, dan
sebagainya;
3) zona perkantoran yang meliputi perkantoran pemerintah
dan perkantoran swasta;
4) zona sarana pelayanan umum yang meliputi sarana
pelayanan umum pendidikan, sarana pelayanan umum
transportasi, sarana pelayanan umum kesehatan, sarana
pelayanan umum olahraga, sarana pelayanan umum
sosial budaya, sarana pelayanan umum peribadatan;
5) zona industri yang meliputi industri kimia dasar, industri
mesin dan logam dasar, industri kecil, dan aneka industri;
6) zona Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH);
7) zona khusus meliputi zona untuk keperluan pertahanan
dan keamanan, zona Instalasi Pembuangan Air Limbah
(IPAL), zona Tempat Pengolahan Akhir (TPA), dan
instalasi penting lainnya; dan
8) zona lainnya (yaitu: zona yang tidak selalu ada di
kawasan perkotaan) antara lain seperti pertanian,
pertambangan, dan pariwisata.
9) zona campuran, yaitu zona budidaya dengan beberapa
peruntukan fungsi dan/atau bersifat terpadu, seperti
perumahan dan perdagangan/jasa, perumahan,
perdagangan/jasa dan perkantoran.

9
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Rencana pola ruang tersebut di atas digambarkan kedalam peta


wilayah perencanaan. Setiap wilayah perencanaan terdiri atas sub
wilayah perencanaan yang ditetapkan dengan mempertimbangkan:
a. morfologi wilayah perencanaan;
b. keserasian dan keterpaduan fungsi wilayah perencanaan;
c. jangkauan dan batasan pelayanan untuk keseluruhan wilayah
perencanaan kota yang memperhatikan rencana struktur
ruang RTRW.
Setiap sub wilayah perencanaan terdiri atas blok yang dibagi
berdasarkan batasan fisik antara lain seperti jalan, sungai dan
sebagainya.

Gambar 1. Ilustrasi Pembagian Wilayah Perencanaan ke Sub Wilayah Perencanaan

Ilustrasi gambar diatas merupakan pertampalan peta hasil delineasi


berdasarkan fisik (wilayah perencanaan, sub wilayah perencanaan
dan blok) dan juga peta berdasarkan fungsi (zona dan sub zona).
Kemudian akan disusun kedalam perencanaan yang lebih detail
berdasarkan sub wilayah dan dibagi lagi kedalam bentuk blok, untuk

10
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

menghasilkan pola ruang. dan akan dijadikan bahan kajian


pemanfaatan ruang. Dalam hal luas wilayah perencanaan relatif kecil,
rencana pola ruang dapat langsung digambarkan ke dalam blok.
Tahap selanjutnya adalah pendelineasian peta yang digambarkan
dari wilayah perencanaan ke sub wilayah perencanaan hingga blok.
Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh
batasan fisik nyata (seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran,
irigasi, saluran udara tegangan (ekstra) tinggi, dan pantai) atau yang
belum nyata (rencana jaringan jalan dan rencana jaringan prasarana
lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota).

Gambar 2. Ilustrasi Pembagian Wilayah Perencanaan ke Sub Wilayah Perencanaan


kemudian Blok

Pendeliniasian peta yang digambarkan dari wilayah perencanaan


langsung pada blok dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini:

11
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Gambar 3. Ilustrasi Pembagian Wilayah Perencanaan langsung ke Blok

Adapun pengilustrasian pembagian zona-zona peruntukan kedalam


blok disertai pengkodean berbagai sub zona pada suatu sub wilayah
perencanaan dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4. Ilustrasi Pembagian Sub Zona di dalam Blok dan Sub Blok pada satu Sub
Wilayah Perencanaan

12
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Apabila wilayah perencanaan terlalu luas untuk digambarkan


kedalam satu peta berskala 1:5000, maka peta rencana pola tersebut
dapat digambarkan lagi kedalam beberapa lembar peta dimana
pembagiannya tergantung dari sub wilayah perencanaan, seperti
yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4. Ilustrasi Peta Pola Ruang (zoning map)

Lokasi Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya Lokasi


dapatmeliputi seluruh wilayah Sub BWP yang ditentukan, atau dapat
juga meliputi sebagian saja dari wilayah Sub BWP tersebut. Tema
penanganannya adalah program utama untuk setiap lokasi, yang
terdiri atas:
 perbaikan prasarana, sarana, dan blok/kawasan;
 pengembangan kembali prasarana, sarana, dan
blok/kawasan;
 pembangunan baru prasarana, sarana, dan blok/kawasan;
 pelestarian/pelindungan blok/kawasan.

13
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Tabel 2
Kriteria Pengklasifikasian Zona dan Sub Zona Kawasan Lindung
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
1. Hutan Lindung HL Peruntukan tanah  memelihara dan  kawasan hutan dengan faktor-faktor
yang merupakan mewujudkan kelestarian kelas lereng, jenis tanah dan
bagian dari kawasan fungsi hutan lindung dan intensitas hujan setelah masingmasing
lindung yang mencegah timbulnya dikalikan dengan angka penimbang
mempunyai fungsi kerusakan hutan. mempunyai jumlah nilai (skor) 175
pokok sebagai  meningkatkan fungsi atau lebih
perlindungan sistem hutan lindung terhadap  kawasan hutan yang mempunyai lereng
penyangga kehidupan tanah, air, iklim, lapangan 40 % atau lebih; dan/atau
untuk mengatur tata tumbuhan dan satwa. kawasan hutan yang mempunyai
air, mencegah banjir, ketinggian 2000 m di atas permukaan
mengendalikan erosi, laut atau lebih
mencegah intrusi air  kawasan bercurah hujan yang tinggi,
laut, dan memelihara berstruktur tanah yang mudah
kesuburan tanah. meresapkan air dan mempunyai
geomorfologi yang mampu meresapkan
air hujan secara besarbesaran.
2. Perlindungan PB Peruntukan tanah  meresapkan air hujan  kawasan yang mempunyai kemampuan
terhadap yang merupakan sehingga dapat menjadi tinggi untuk meresapkan air hujan
kawasan bagian dari kawasan tempat pengisian air sebagai pengontrol tata air permukaan.
bawahannya lindung yang bumi (akuifer) yang
mempunyai fungsi berguna sebagai sumber
pokok sebagai air.
perlindungan
terhadap kawasan di
bawahannya meliputi
kawasan bergambut
dan kawasan resapan
air.
3. Perlindungan PS Peruntukan tanah  mempertahankan Sempadan pantai Rujukan: Permen
setempat yang merupakan kelestarian fungsi pantai, daratan sepanjang tepian yang lebarnya PU No. 63/PRT/1
bagian dari kawasan waduk, dan sungai. proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik 993
lindung yang menjaga kawasan agar pantai, minimal 100 meter dari titik pasang
mempunyai fungsi tidak terganggu aktifitas tertinggi ke arah darat
pokok sebagai manusia.

14
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
perlindungan Sempadan waduk
terhadap sempadan daratan sepanjang tepian danau yang
pantai, sempadan lebarnya proporsional dengan bentuk dan
sungai, kawasan kondisi fisik danau/waduk antar 50- 100
sekitar danau atau meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat
waduk, kawasan
sekitar mata air. Sempadan sungai
 garis sempadan sungai bertanggul
ditetapkan dengan batas lebar
sekurang-kurangnya 5 (lima) meter di
sebelah luar sepanjang kaki tanggul
 garis sempadan sungai tidak
bertanggul ditetapkan berdasarkan
pertimbangan teknis dan sosial
ekonomis oleh Pejabat yang berwenang
 garis sempadan sungai yang bertanggul
dan tidak bertanggul yang berada di
wilayah perkotaan dan sepanjang jalan
ditetapkan tersendiri oleh Pejabat yang
berwenang
4. Zona Ruang RTH Ruang Terbuka Hijau  menjaga ketersediaan  dialokasikan pada pada pusat-pusat Rujukan:
Terbuka Hijau (RTH), adalah area lahan sebagai kawasan pelayanan sesuai dengan hierarki Permen PU No.
memanjang/jalur dan resapan air. taman yang akan direncanakan. 05/PRT/M/2008
atau mengelompok,  menciptakan aspek  memiliki jalan akses minimum berupa tentang Pedoman
yang penggunaannya planologis perkotaan jalan lingkungan (untuk taman Penyediaan dan
lebih bersifat terbuka, melalui keseimbangan lingkungan, jalan kolektor untuk taman Pemanfaatan
tempat tumbuh antara lingkungan alam kecamatan dan taman kota). Ruang Terbuka
tanaman, baik yang dan lingkungan binaan  memperhatikan ketentuan ketentuan Hijau di Kawasan
tumbuh tanaman yang berguna untuk yang terkait dengan perencanaan ruang L1-2 Perkotaan
secara alamiah kepentingan masyarakat. terbuka hijau perkotaan.
maupun yang sengaja  meningkatkan
ditanam. keserasian lingkungan
perkotaan sebagai sarana
pengaman lingkungan
perkotaan yang aman,
nyaman, segar, indah,
dan bersih.
5. Suaka alam dan SC Peruntukan tanah  meningkatkan fungsi  kawasan yang ditunjuk mempunyai

15
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
cagar budaya yang merupakan lindung terhadap tanah, keanekaragaman jenis tumbuhan dan
bagian dari kawasan air, iklim, tumbuhan dan satwa serta tipe ekosistemnya; dan
lindung memiliki ciri satwa, serta nilai budaya atau mewakili formasi biota tertentu
khas tertentu baik di dan sejarah bangsa. dan/atau unit-unit penyusunnya.
darat maupun di  mempertahankan  mempunyai kondisi alam, baik biota
perairan yang keanekaragaman hayati, maupun fisiknya yang masih asli dan
mempunyai fungsi satwa, tipe ekosistem tidak atau belum diganggu manusia;
pokok sebagai dan keunikan alam. dan/atau mempunyai luas dan bentuk
kawasan pengawetan tertentu agar menunjang pengelolaan
keragaman jenis yang efektif dengan daerah
tumbuhan, satwa dan penyangga yang cukup luas.
ekosistemnya beserta  mempunyai ciri khas dan dapat
nilai budaya dan merupakan satu-satunya contoh di
sejarah bangsa. suatu daerah serta keberadaannya
memerlukan observasi.
6. Rawan bencana RB Peruntukan tanah  menetapkan zona yang  lokasi yang berdekatan dengan Rujukan:
alam yang merupakan tidak boleh dijadikan sumber-sumber bencana (tebing tinggi, Permen PU
bagian dari kawasan sebagai lokasi laut, bantaran sungai, gunung berapi, no.21/PRT/M/200
lindung yang memiliki pembangunan. daerah sesah gempa) yang memiliki 7
ciri khas tertentu baik  pencegahan dan tingkat resiko kecil, sedang, hingga
di darat maupun di penanganan secara tinggi bagi manusia untuk
perairan yang sering serius dalam bencana menyelamatkan diri pada saat bencana
atau berpotensi tinggi alam. terjadi.
mengalami tanah  meminimalisir korban
longsor, gelombang jiwa dalam bencana
pasang,banjir, letusan alam.
gunung berapi, dan
gempa bumi.

16
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana

Tabel 3
Kriteria Pengklasifikasian Zona dan Sub Zona Kawasan Budidaya
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
I. ZONA PERUMAHAN
Definisi :
Peruntukkan tanah yang yang terdiri dari kelompok rumah tinggal yang mewadahi kehidupan dan penghidupan masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitasnya.
Tujuan Penetapan :
 Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian dengan kepadatan yang bervariasi;
 Mengakomodasi bermacam tipe hunian dalam rangka mendorong penyediaan hunian bagi semua lapisan masyarakat;
 Merefleksikan pola-pola pengembangan yang diinginkan masyarakat pada lingkungan-lingkungan hunian yang ada dan untuk masa yang akan datang.
1. Rumah kepadatan R-1 Peruntukan tanah yang Bertujuan menyediakan Zona dengan wilayah perencanaan yang
sangat tinggi merupakan bagian dari zona untuk pembangunan memiliki kepadatan bangunan diatas
kawasan budidaya unit hunian dengan tingkat 1000 rumah/hektar
difungsikan untuk kepadatan sangat tinggi.
tempat tinggal atau Dalam pembangunan rumah
hunian dengan dengan kepadatan sangat
perbandingan yang tinggi berlaku kepemilikan
sangat besar antara berdasarkan strata title,
jumlah bangunan dimana setiap pemilik unit
rumah dengan luas hunian memiliki hak
lahan menggunakan bagian
bersama, benda bersama
dan tanah
bersama dan kewajiban
dalam menyediakan fasilitas
lingkungan di dalam satuan
perpetakannya
(apartemen/rumah susun)
2. Rumah kepadatan R-2 Peruntukan tanah yang Bertujuan menyediakan Zona dengan wilayah perencanaan yang
tinggi merupakan bagian dari zona untuk pembangunan memiliki kepadatan bangunan 100-1000
kawasan budidaya unit hunian dengan tingkat rumah/hektar
difungsikan untuk kepadatan tinggi.
tempat tinggal atau
hunian dengan
perbandingan yang
besar antara jumlah
bangunan rumah

17
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
dengan luas lahan
3. Rumah kepadatan R-3 Peruntukan tanah yang Bertujuan menyediakan Zona dengan wilayah perencanaan yang
sedang merupakan bagian dari zona untuk pembangunan memiliki kepadatan bangunan 40-100
kawasan budidaya unit hunian dengan tingkat rumah/hektar
difungsikan untuk kepadatan sedang.
tempat tinggal atau
hunian dengan
perbandingan yang
hampir seimbang
antara jumlah
bangunan rumah
dengan luas lahan
4. Rumah kepadatan R-4 Peruntukan tanah yang Bertujuan menyediakan Zona dengan wilayah perencanaan yang
rendah merupakan bagian dari zona untuk pembangunan memiliki kepadatan bangunan dibawah
kawasan budidaya unit hunian dengan tingkat 10-40 rumah/hektar
difungsikan untuk kepadatan rendah.
tempat tinggal atau
hunian dengan
perbandingan yang
kecil antara jumlah
bangunan rumah
dengan luas lahan
5. Rumah kepadatan R-5 Peruntukan tanah Bertujuan menyediakan Zona dengan wilayah perencanaan yang
sangat rendah yangmerupakan zona untuk pembangunan memiliki kepadatan bangunan dibawah
bagian dari kawasan unit hunian dengan tingkat 10 rumah/hektar
budidaya difungsikan kepadatan sangat rendah.
untuk tempat tinggal
atau hunian dengan
perbandingan yang
sangat kecil antara
jumlah bangunan
rumah dengan luas
lahan.
II. ZONA PERDAGANGAN DAN JASA
Definisi :
Peruntukkan tanah yang merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan untuk pengembangan kegiatan jual beli yang bersifat komersial, fasilitas
umum, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi
Tujuan Penetapan :

18
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
 Menyediakan lahan untuk menampung tenaga kerja, dalam wadah berupa perkantoran, pertokoan, jasa, rekreasi dan pelayanan masyarakat;
 Menyediakan ruang yang cukup bagi penempatan kelengkapan dasar fisik berupa sarana-sarana penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan
pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya dapat berfungsi sebagaimana mestinya;
 Menyediakan ruang yang cukup bagi sarana-sarana umum, terutama untuk melayani kegiatan-kegiatan produksi dan distribusi, yang diharapkan dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
6. Tunggal K-1 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk  lingkungan dengan tingkat
merupakan bagian dari  menampung tenaga kepadatan tinggi, sedang dan
kawasan budidaya kerja, pertokoan, jasa, rendah dan akan diatur lebih
difungsikan untuk rekreasi, dan lanjut didalam peraturan zonasi
pengembangan pelayanan Masyarakat  lingkungan yang diarahkan untuk
kelompok kegiatan  menyediakan fasilitas membentuk karakter tuang kota
perdagangan dan/atau pelayanan melalui pengembangan bangunan
jasa, tempat bekerja, perdagangan dan jasa bangunan tunggal
tempat berusaha, yang dibutuhkan  skala pelayanan perdagangdan
tempat hiburan dan masyarakat dalam dan jada yang direncanakan
rekreasi dengan skala skala pelayanan adalah tingkat nasional dan
pelayanan regional regional dan kota regional dan kota
yang dikembangkan  membetuk karakter  jalan akses minimum adalah jalan
dalam bentuk tunggal ruang kota melalui kolektor
secara horisontal pengembangan  tidak berbatasan langsung dengan
maupun vertikal. bangunan perumahan penduduk
perdagangdan dan
jasa dalam bentuk
tunggal
7. Deret K-2 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk:  lingkungan dengan tingkat
merupakan bagian dari  menampung tenaga kepadatan sedang sampai tinggi.
kawasan budidaya kerja, pertokoan, jasa,  skala pelayanan perdagangan dan
difungsikan untuk rekreasi, dan jada yang direncanakan adalah
pengembangan pelayanan Masyarakat tingkat regional dan kota dan lokal
kelompok kegiatan  menyediakan fasilitas  jalan akses minimum adalah jalan
perdagangan dan/atau pelayanan kolektor
jasa, tempat dengan perdagangan dan jasa  sebagai bagian daripada fasilitas
skala pelayanan yang dibutuhkan perumahan dan dapat berbatasan
regional bekerja, masyarakat dalam langsung dengan perumahan
tempat berusaha, skala pelayanan kota penduduk
tempat hiburan dan dan lokal.
rekreasi yang  membetuk karakter
dikembangkan dalam ruang kota melalui

19
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
bentuk deret pengembangan
bangunan
perdagangdan dan
jasa dalam bentuk
bangunan tunggal
III. ZONA PERKANTORAN
Definisi :
Peruntukkan tanah yang merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan untuk pengembangan kegiatan pelayanan pemerintahan, fasilitas umum,
tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi
Tujuan Penetapan :
 Menyediakan lahan untuk menampung tenaga kerja, dalam wadah berupa perkantoran, pertokoan, jasa, rekreasi dan pelayanan masyarakat;
 Menyediakan ruang yang cukup bagi penempatan kelengkapan dasar fisik berupa sarana-sarana penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan
pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya dapat berfungsi sebagaimana mestinya;
 Menyediakan ruang yang cukup bagi sarana-sarana umum, terutama untuk melayani kegiatan-kegiatan produksi dan distribusi, yang diharapkan dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
8. Pemerintah KT-1 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk  kantor pemerintahan baik tingkat
merupakan bagian dari pengembangan kegiatan pusat maupun daerah (provinsi,
kawasan budi daya pelayanan pemerintahan kota/kabupaten, kecamatan,
difungsikan untuk dan pertahanan serta kelurahan)
pengembangan keamanan sesuai dengan  kantor atau instalasi militer
kegiatan pemerintahan kebutuhan dan daya dukung termasuk tempat latihan baik pada
dan pelayanan untuk menjamin pelayanan tingkatan nasional, Kodam, Korem,
masyarakat pada masyarakat menjamin Koramil, Polda, Polwil, Polsek dan
kegiatan Pemerintahan, sebagainya
pertahanan dan keamanan  untuk pemerintah tingkat pusat,
yang berkualitas tinggi, dan propinsi dan kota Aksesibilitas
melindungi minimum adalah jalan kolektor
pengguaan lahan untuk  untuk pemerintah tingkat
pemerintahan, pertahanan kecamatan dan dibawahnya
dan keamanan Aksesibilitas minimum adalah
jalan lingkungan utama.
9. Swasta KT-2 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  lingkungan dengan tingkat
merupakan bagian dari  menampung tenaga kepadatan tinggi, sedang dan
kawasan budi daya kerja di sektor jasa rendah dan akan diatur lebih
difungsikan untuk komersial, rekreasi, lanjut didalam peraturan zonasi
pengembangan dan sebagai bagian  lingkungan yang diarahkan untuk
kelompok kegiatan dari pelayanan membentuk karakter tuang kota
Perkantoran swasta, kebutuhan melalui pengembangan bangunan

20
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
Jasa, tempat bekerja, masyarakat bangunan tunggal
tempat berusaha  skala pelayanan yang
dengan fasilitasnya direncanakan adalah tingkat
yang dikembangkan nasional dan regional dan kota
dengan bentuk tunggal  jalan akses minimum adalah jalan
/renggang secara kolektor
horisontal maupun  tidak berbatasan langsung dengan
vertikal perumahan penduduk
IV. ZONA INDUSTRI
Definisi :
Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang
lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Tujuan Penetapan :
 Menyediakan ruang bagi kegiatan-kegiatan produksi suatu barang yang mempunyai nilai lebih untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan
perekayasaan yang berkaitan dengan lapangan kerja perekonomian lainnya;
 Memberikan kemudahan pertumbuhan industri baru dengan mengendalikan pemanfaatan ruang lainnya, untuk menjaga keserasian lingkungan sehingga
mobilitas antar ruang tetap terjamin serta terkendalinya kualitas lingkungan.
10. Industri Kimia I-1 Zona industri yang  pengelolaan kegiatan  dikembangkan pada lingkungan
Dasar mengolah bahan industri yang dengan tingkat kepadatan rendah
mentah menjadi bahan dilakukan secara  tidak berada maupun berbatasan
baku serta memiliki terpadu dengan langsung dengan zona perumahan.
proses kimia yang penyediaan fasilitas-  penentuan lokasi industri
menghasilkan produk fasilitas bersama, dilakukan dengan memperhatikan
zat sehingga para rencana tranportasi yang
kimia dasar,seperti pengguna dapat berhubungan dengan simpul
asam sulfat (H2SO4) bekerja secara efisien bahan baku industri dan simpul
dan ammonia (NH3), dan pengawasan simpul pemasaran hasil produksi
seperti Industri kertas, terhadap keselamatan yang merupakan bagian dari
semen, obat-obatan, kerja maupun rencana umum jaringan
pupuk, kaca, dll bangunan dapat transportasi yang tertuang
termonitor dengan didalam rencana tata ruang
baik maupun rencana induk
transportasi.
 memperhatikan ketentuan
ketentuan yang tertuang dengan
peraturan terkait dengan
pengembangan lahan industri;
11. Industri Mesin dan I-2 Zona industri bahan  menyediakan ruang  dikembangkan pada lingkungan

21
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
Logam Dasar logam dan produk untuk pengembangan dengan tingkat kepadatan rendah
dasar yang industri mesin dan  penentuan lokasi industri
menghasilkan bahan logam dasar beserta dilakukan dengan memperhatikan
baku dan bahan fasilitas pelengkapnya rencana tranportasi yang
setengah jadi, seperti yang membutuhkan berhubungan dengan simpul
industri peralatan lahan luas ditata bahan baku industri dan simpul
listrik, mesin, besi secara horizontal simpul pemasaran hasil produksi
beton, pipa baja, yang merupakan bagian dari
kendaraan bermotor, rencana umum jaringan
pesawat terbang, dll transportasi yang tertuang
didalam rencana tata ruang
maupun rencana induk
transportasi.
 memperhatikan kepadatan lalu
lintas dan kapasitas jalan di sekitar
kawasan industri;
 tidak berada maupun berbatasan
langsung dengan zona perumahan
 memperhatikan penanganan
limbah industri
 memperhatikan ketentuan
ketentuan yang tertuang dengan
peraturan terkait dengan
pengembangan lahan industri;
12. Industri Kecil I-3 Zona industri dengan Menyediakan ruang untuk  dikembangkan pada lingkungan
modal kecil dan tenaga untuk industri-industri kecil dengan tingkat kepadatan rendah
kerja yang sedikit yang mengakomodasi sampai sedang
dengan peralatan kegiatan industri skala kecil  penentuan lokasi industri
sederhana. Biasanya ditata dalam perpetakan dilakukan dengan memperhatikan
merupakan industri kecil dengan lantai dua keserasian dengan lingkungan
yang dikerjakan per sampai empat lapis, sekitar serta kebutuhannya
orang atau rumah sehingga memungkinkan  memperhatikan kepadatan lalu
tangga, seperti indutri masyarakat luas berusaha lintas dan kapasitas jalan di sekitar
roti, kompor minyak, pada bangunan industri industri;
makanan ringan, yang berdekatan dengan  dapat dikembangkan di zona
minyak goreng curah rumah tinggalnya. perumahan selama tidak
dll. mengganggu aspek lingkungan
 memperhatikan penananganan

22
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
limbah industri ;
 berada di dalam bangunan
deret/perpetakan
 disediakan lahan untuk bongkat
muat barang hasil industri
sehingga tidak mengganggu arus
lalu lintas sekitar pemukiman
 memperhatikan ketentuan
ketentuan yang tertuang dengan
peraturan terkait dengan
pengembangan lahan industri;
13. Aneka Industri I-4 Aneka industri adalah Menyediakan ruangan bagi  dikembangkan pada lingkungan
industri yang kegiatan-kegiatan industri dengan tingkat kepadatan rendah
menghasilkan beragam yang beragam untuk sampai sedang
kebutuhan konsumen memenuhi permintaan  penentuan lokasi industri
Dibedakan kedalam 4 pasar serta meningkatkan dilakukan dengan memperhatikan
golongan, yaitu: keseimbangan antara rencana tranportasi yang
1) Aneka penggunaan lahan secara berhubungan dengan simpul
pengolahan ekonomis dan mendorong bahan baku industri dan simpul-
pangan: yang pertumbuhan lapangan simpul pemasaran hasil produksi
menghasilkan kerja yang merupakan bagian dari
kebutuhan rencana umum jaringan
pokok di bidang transportasi yang tertuang
pangan) seperti didalam rencana tata ruang
garam, gula, maupun rencana induk
margarine, transportasi.
minyak goreng,  memperhatikan kepadatan lalu
rokok, susu, lintas dan kapasitas jalan di sekitar
tepung terigu. industri;
 disediakan lahan untuk bongkat
2) Aneka muat barang hasil industri
pengolahan sehingga tidak
sandang: yang mengganggu arus lalu lintas
menghasilkan sekitar pemukiman
kebutuhan
sandang, seperti
bahan tenun,
tekstil, industri

23
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
kulit dan pakaian
jadi.
3) Aneka kimia dan
serat: yang
mengolah bahan
baku melalui
proses kimia
sehingga
menjadi barang
jadi yang dapat
dimanfaatkan,
seperti ban
kendaraan, pipa
paralon, pasta
gigi, sabun cuci,
dan korek api.
4) Aneka bahan
bangunan: yang
mengolah aneka
bahan bangunan,
seperti industri
kayu, keramik,
kaca, marmer.

V. ZONA SARANA PELAYANAN UMUM


Definisi :
Peruntukan tanah yang dikembangkan untuk menampung fungsi kegiatan yang berupa Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan, Sosial budaya, Olahraga dan
Rekreasi, dengan fasilitasnya yang dikembangkan dalam bentuk tunggal/ renggang, deret/rapat dengan skala pelayanan yang ditetapkan dalam rencana kota
Tujuan Penetapan:
 Menyediakan ruang untuk pengembangan kegiatan kegiatan Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan, Sosial budaya, Olahraga dan Rekreasi, dengan fasilitasnya
dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat seseuai dengan jumlah pendududk yang dilayani dan skala pelayanan fasilitas yang akan dikembangkan;
 Menentukan pusat pusat pelayanan lingkungan sesuai dengan skala pelayanan sebaimana tertuang didalam rencana tata ruang kota
 Mengatur hierarki pusat pusat pelayanan sesuai dengan rencana tata ruang kota.
14. Pendidikan SPU-1 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  penempatan sarana pendidikan
merupakan bagian dari  pengembangan dasar dan sarana pendidikan
kawasan budidaya kelompok kegiatan menengah disesuaikan dengan

24
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
yang dikembangkan pendidikan dan ketentuan jarak jangkau
untuk Sarana fasilitasnya yang maksimum dari permukiman serta
pendidikan dasar meliputi pendidikan menjadi orientasi pelayanan
sampai dengan dasar, pendidikan lingkungan untuk sarana
pendidikan tinggi, menangah dan pedidikan dasar dan menengah
pendidikan formal pendidikan tinggi  jumlah sarana pendidikan dasar
maupun informal dan  pelayanan kebutuhan dan menengah dalam satu wilayah
dikembangkan secara penduduk akan disesuaikan dengan jumlah
horisontal maupun sarana pendidikan penduduk minimum yang
vertikal terlayani.
 sarana pendidikan tinggi pada
lingkungan padat minimum
dengan aksesibilitas jalan kolektor
dan dikembangkan secara vertikal,
perletakan tidak boleh berbatasan
langsung dengan perumahan
 sarana pendidikan formal meliputi
sekolah dasar, sekolah menengah
pertama, sekolah menengah
umum dan pendidikan tinggi serta
akademi.
 sarana pendidikan informal
meliputi kurus pendiidkan dan
perpustakaan tingkat kelurahan,
perpustakaan subwilayah dan
perpustakaan wilayah
dikembangkan sesuai dengna
jumlah penduduk minimum
penduduk terlayani
15. Transportasi SPU-2 Peruntukan tanah yang  menyediakan ruang  memperhatikan kebijakan sistem
merupakan bagian dari untuk pengembangan transportasi nasional
kawasan budi daya fungsi transportasi  memperhatikan kebijakan
yang dikembangkan udara, jalan raya, Pemerintah yang menunjang pusat
untuk manampung kereta api, laut, sungai pertumbuhan ekonomi;
fungsi transportasi dan danau  memperhatikan ketersediaan
dalam upaya untuk  menetapkan kriteria lahan sesuai dengan kebutuhan
mendukung kebijakan pengembangan zona pelayanan transportasi yang akan
pengembangan sistem transportasi dikembangkan serta sarana

25
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
transportasi yang pergantian moda angkutan.
tertuang didalam  aksesibilitas yang menghubungkan
rencana tata ruang antar lokasi kegiatan transportasi
yang meliputi minimal jalan kolektor
transportasi darat,  tidak berbatasan langsung dengan
udara dan perairan. zona perumahan
16. Kesehatan SPU-3 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  sarana kesehatan yang
merupakan bagian dari  pengembangan dikembangkan dalam satu zona
kawasan budidaya kelompok kegiatan tersendiri adalah sarana kesehatan
yang dikembangkan kesehatan dan dengan skala pelayanan tingkat
untuk pengembangang fasilitasnya yang kecamatan atau lebih yang
sarana kesehatan hierarki dan skala meliputi rumah bersalin,
dengan hierarki dan pelayanannya laboratorium kesehatan,
skala pelayanan yang disesuaikan dengan puskesmas kecamatan, RS
disesuaikan dengan jumlah penduduk pembantu tipe C, RS wilayah tipe B
jumlah penduduk yang yang terlayani dalam dan RS tipe A
akan dilayani yang satu wilayah  sarana kesehatan berupa pos
dikembangkan secara administrasi kesehatan, apotik, klinik, praktek
horisontal maupun  pelayanan kebutuhan dokter tidak dikembangkan dalam
vertikal penduduk akan satu zona terpisah dan akan diatur
sarana kesehatan lebih lanjut dalam peraturan
zonasi
 rumah sakit dikembangkan
dengan dengan jalan akses
minimum jalan kolektor, perletaka
tidak boleh berbatasan langsung
dengan perumahan.
 puskesmas dikembangkan dengan
jalan akses minimum jalan
lingkungan utama.
 mengacu pada ketentuan
ketentuan lain yang berlaku dalam
pengembangan sarana kesehatan

17. Olahraga SPU-4 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  sarana olah raga yang
merupakan bagian dari  pengembangan dikembangkan dalam satu zona
kawasan budidaya kelompok kegiatan tersendiri adalah sarana olahraga
yang dikembangkan sarana olah raga dan tingkat pelayanan kecamatan yang

26
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
untuk menampung fasilitasnya yang meliputi gedung olahraga, kolam
sarana olah raga dalam hierarki dan skala renang, gelanggang olahraga,
bentuk terbuka pelayanannya stadion mini
maupun tertutup disesuaikan dengan  sarana olah raga dengan skala
sesuai dengan lingkup jumlah penduduk pelayanan lebih rendah dari
pelayanannya dengan yang terlayani dalam tingkat kecamatan tidak
hierarki dan skala satu wilayah dikembangkan dalam satu zona
pelayanan yang administrasi tersendiri namun merupakan satu
disesuaikan dengan  pelayanan kebutuhan kesatuan dengan permukiman
jumlah penduduk penduduk akan (bagian dari fasilitas perumahan)
sarana olah raga dan akan diatur lebih lanjut dalam
peraturan zonasi
 fasilitas olah raga dengan skala
pelayanan lebih besar atau sama
dengan tingkat kecamatan
dikembangkan dengan dengan
jalan akses minimum jalan
kolektor,
18. Sosial Budaya SPU-5 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  sarana sosial budaya yang
merupakan bagian dari  pengembangan dikembangkan dalam satu zona
kawasan budidaya kelompok kegiatan tersendiri adalah sarana sosial
yang dikembangkan sosial abudaya dan budaya tingkat pelayanan
untuk menampung fasilitasnya yang kecamatan atau lebih besar yang
sarana sosial budaya hierarki dan skala meliputi balai warga, gedung serba
dengan hierarki dan pelayanannya guna, balai latihan kerja, panti
skala pelayanan yang disesuaikan dengan sosial, gedung jumpa bhakti,
disesuaikan dengan jumlah penduduk gedung pertemuan umum dengan
jumlah penduduk yang yang terlayani dalam besaran minimum diatur dialam
dikembangkan secara satu wilayah peraturan zonasi
horisontal maupun administrasi  sarana sosial budaya dengan skala
vertikal  pelayanan kebutuhan pelayanan lebih rendah dari
penduduk akan tingkat kecamatan tidak
sarana sosial budaya dikembangkan dalam satu zona
tersendiri namun merupakan satu
kesatuan dengan permukiman
(bagian dari fasilitas perumahan)
dan akan diatur lebih lanjut dalam
peraturan zonasi

27
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
 fasilitas sosial budaya dengan
skala pelayanan lebih besar atau
sama dengan tingkat kecamatan
dikembangkan dengan dengan
jalan akses minimum jalan
kolektor,
19. Peribadatan SPU-6 peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  sarana ibadah yang dikembangkan
merupakan bagian dari  pengembangan dalam satu zona tersendiri
kawasan budidaya kelompok kegiatan meliputi sarana ibadah tingkat
yang dikembangkan peribadatan dan pelayanan kecamatan atau lebih
untuk menampung fasilitasnya yang besar
sarana ibadah dengan herarki dan skala  sarana ibadah dengan skala
herarki dan skala pelayanannya pelayanan lebih rendah dari
pelayanan yang disesuaikan dengan tingkat kecamatan tidak
disesuaikan dengan jumlah penduduk dikembangkan dalam satu zona
jumlah penduduk yang terlayani dalam tersendiri namun merupakan satu
satu wilayah kesatuan dengan permukiman
administrasi (bagian dari fasilitas perumahan)
 pelayanan kebutuhan dan akan diatur lebih lanjut dalam
penduduk akan peraturan zonasi
sarana peribadatan  fasilitas peribadatan dengan skala
sesuai dengan pelayanan lebih besar atau sama
proporsi jumlah dengan tingkat kecamatan
pemeluk agama yang dikembangkan dengan dengan
dilayani dalam satu jalan akses minimum jalan
wilayah kolektor,
 mengacu pada ketentuan
ketentuan lain yang berlaku dalam
pengembangan sarana
peribadatan
VI. ZONA RUANG TERBUKA NON HIJAU
20. Ruang Terbuka RTNH Ruang terbuka di  tempat untuk  pelataran tempat berkumpulnya Rujukan :
Non Hijau bagian wilayah berbagai aktivitas, massa dengan berbagai jenis Pemen PU No.
perkotaan yang tidak selain yang berupa kegiatan seperti sosialisasi, duduk- 12/PRT/M/2009
termasuk dalam RTH duduk, aktivitas massa, dll. tentang Pedoman
kategori RTH, berupa  menciptakan  pelataran dengan fungsi utama Penyediaan dan
lahan yang diperkeras keseimbangan antara meletakkan kendaraan seperti Pemanfaatan Ruang
atau yang berupa lingkungan alam dan mobil, motor, dan kendaraan Terbuka Non Hijau di

28
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
badan air, maupun lingkungan binaan lainnya. Wilayah
kondisi permukaan yang berguna untuk  pelataran dengan fungsi utama Kota/Kawasan
tertentu yang tidak kepentingan tempat dilangsungkannya kegiatan
dapat ditumbuhi masyarakat. olahraga.
tanaman atau berpori  mengoptimalkan  pelataran dengan kelengkapan
(cadas, pasir, kapur, fungsi ruang terbuka tertentu untuk mewadahi kegiatan
dan lain sebagainya) sebagai tempat utama bermain atau rekreasi
aktivitas sosial dan masyarakat.
budaya.  jalur dengan fungsi utama sebagai
pembatas yang menegaskan
peralihan antara suatu fungsi
dengan fungsi lainnya
 jalur dengan fungsi utama sebagai
sarana aksesibilitas pejalan kaki
yang bukan merupakan trotoar
(jalur pejalan kaki yang berada di
sisi jalan)
VII. ZONA PERUNTUKAN LAINNYA
Definisi :
Peruntukan tanah yang dikembangkan untuk menampung fungsi kegiatan di daerah tertentu berupa pertanian, pertambangan, pariwisata, dan peruntukan-
peruntukan lainnya.
Tujuan Penetapan :
 Menyediakan ruang untuk pengembangan kegiatan kegiatan di daerah tertentu seperti pertanian, pertambangan, pariwisata, dengan fasilitasnya dalam upaya
memenuhi lapangan pekerjaan masyarakat di daerah tersebut;
 Mengembangkan sektor-sektor basis tertentu agar dapat meningkatkan pendapatan daerah
21. Pertanian PL-1 Peruntukan ruang Peruntukan lahan untuk : Peruntukan pertanian :
yang dikembangkan  menghasilkan bahan  ruang yang secara teknis dapat
untuk menampung pangan, palawija, digunakan untuk lahan pertanian
kegiatan kegiatan yang tanaman keras, hasil basah (irigasi maupun non irigasi)
berhubungan dengan peternakan dan ataupun lahan kering tanaman
pengusahaan perikanan; pangan maupun palawija.
mengusahakan  sebagai daerah  ruang yang apabila digunakan
tanaman tertentu, resapan air hujan untuk kegiatan pertanian lahan
pemberian makanan, untuk kawasan basah ataupun lahan kering secara
pengkandangan, dan sekitarnya; ruang dapat memberikan manfaat
pemeliharaan hewan  membantu ekonomi, ekologi maupun sosial
untuk pribadi atau penyediaan lapangan  kawasan pertanian tanaman lahan
tujuan komersial kerja bagi masyarakat basah dengan irigasi teknis tidak

29
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
setempat boleh dialihfungsikan
Memperhatikan ketentuan pokok
tentang perencanaan dan
penyelenggaraan budi daya tanaman;
serta tata ruang dan tata guna tanah
budidaya tanaman mengacu kepada
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budi Daya Tanaman
Peruntukan perkebunan, peternakan,
perikanan:
 tidak mengganggu permukiman
penduduk terkait dengan limbah
yang dihasilkan;
 pada lingkungan dengan
kepadatan rendah;
 memperhatikan Ketentuan pokok
tentang pemakaian tanah dan air
untuk usaha peternakan; serta
penertiban dan keseimbangan
tanah untuk ternak mengacu
kepada Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan
22. Pertambangan PL-1 peruntukan ruang Menyediakan ruang untuk :  Ruang yang secara teknis dapat
yang dikembangkan  Kegiatan-kegiatan digunakan untuk pemusatan
untuk menampung pertambangan dalam kegiatan pertambangan, serta
kegiatan upaya meningkatkan tidak menggangu kelestarian
pertambangan bagi keseimbangan antara fungsi lingkungan hidup
wilayah yang sedang penggunaan lahan  ruang yang apabila digunakan
maupun yang akan secara ekonomis, untuk kegiatan pertambangan
segera dilakukan lingkungan dan secara ruang akan memberikan
kegiatan mendorong manfaat secara ekonomi, sosial
pertambangan, pertumbuhan budaya dan ekologi baik skala
meliputi golongan lapangan kerja nasional, regional maupun lokal
bahan galian A, B, dan  memberikan  memperhatikan ketentuan
C kemudahan dalam ketentuan pokok yang diatur
fleksibilitas bagi dialam Undang undang no 11

30
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
pertambangan baru tahun 1967 tentang ketentuan
 Menjamin kegiatan ketentuan pokok pertambangan
pertambangan yang
berkualitas tinggi, dan
melindungi
penggunaan lahan
untuk pertambangan
serta
membatasi
pernggunaan non
pertambangan
23. Pariwisata PL-3 peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk : Kawasan wisata yang dikembangkan di
merupakan bagian dari  Menyediakan lahan tempat berlangsungnya atraksi budaya,
kawasan budidaya untuk pengembangan prosesi upacara adat, dan sekitarnya
yang dikembangkan akomodasi pariwisata yang ditujukan untuk mengakomodasi
untuk dengan kepadatan wisata dengan minat khusus
mengembangkan yang bervariasi di (tengeran/landmark, cagar budaya)
kegiatan pariwisata seluruh kawasan. Kawasan wisata di tempat objek alam
baik alam, buatan,  Mengakomodasi (gunung, sawah, pantai, laut, teIuk,
maupun budaya bermacam tipe lembah) dan kawasan di sekitarnya yang
akomodasi pariwisata ditujukan untuk mengakomodasi wisata
seperti hotel, vila, minat alam yang memiliki
resort, dll yang kecenderungan mendapatkan sesuatu
mendorong dan pengalaman baru yang bermanfaat
penyediaan dari objek wisata alam yang dikunjungi
akomodasi bagi
wisatawan.

VIII. ZONA PERUNTUKAN KHUSUS


Definisi :
Peruntukan tanah yang merupakan bagian dari kawasan budi daya yang dikembangkan untuk menampung peruntukan-peruntukan khusus Militer, Tempat
Pembuangan Akhir (TPA), Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL), dan lain-lain yang memerlukan penanganan, perencanaan sarana prasarana serta fasilitas

31
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
tertentu, dan belum tentu di semua wilayah memiliki peruntukan khusus ini.
Tujuan Penetapan :
 Menyediakan ruang untuk pengembangan fungsi khusus militer, Tempat Pembuangan Akhir, dan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL)
 Menetapkan kriteria pengembangan zona khusus menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan;
24. Militer KH-1 Peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  memperhatikan kebijakan sistem
merupakan bagian dari  tempat kegiatan dan pertahanan dan keamanan
kawasan budidaya pengembangan nasional
yang dikembangkan bidang pertahanan  memperhatikan kebijakan
untuk menjamin dan keamanan negara Pemerintah yang menunjang pusat
kegiatan dan agar dapat menjamin militer nasional
pengembangan bidang kondisi negara yang  memperhatikan ketersediaan
pertahanan dan kondusif. Tempat lahan sesuai dengan kebutuhan
keamanan seperti pelatihan para bidang militer beserta sarana dan
kantor, instalasi prajurit dan pasukan prasarana penunjangnya
militer, termasuk militer sebagai garda  aksesibilitas yang menghubungkan
tempat latihan baik depan negara yang zona militer adalah jalan kolektor;
pada tingkat nasional, khusus dibina untuk tidak berbatasan langsung dengan
Kodam, Korem, menjamin zona perumahan dan komersial.
Koramil, dsb. keberlangsungan
keamanan dan
pertahanan negara
25. TPA KH-2 Peruntukan tanah di Menyediakan ruang untuk :  memperhatikan kebijakan sistem
daratan dengan batas-  menimbun segala persampahan (jalur dan saluran)
batas tertentu yang sampah yang  memperhatikan ketersediaan
yang digunakan ditimbulkan dari lahan sesuai dengan kebutuhan
sebagai tempat untuk konsumen di suatu Tempat Pemrosesan Akhir serta
menimbun sampah wilayah ruang ruang yang diperlukan
dan merupakan bentuk mengumpulkan didalam operasi pembuangan
terakhir perlakuan timbunan sampah akhir sampah.
sampah sebagai pool yang  aksesibilitas yang menghubungkan
terakhir sebelum tempat pengbuangan akhir
sampah- sampah minimal adalah jalan lokal.
tersebut diolah lebih  tidak berbatasan langsung dengan
lanjut agar lingkungan zona perumahan, zona komersial,
tidak tercemar. dan zona zona lainnya dapat
berdekatan dengan zona industri
namun harus berdasarkan syarat-
syarat tertentu

32
Modul 6 Teknik Delineasi Pola Ruang dan Jaringan Prasarana
NO ZONA KODE DEFINISI TUJUAN PENETAPAN KRITERIA PERENCANAAN KETERANGAN
26. IPAL KH-3 peruntukan tanah yang Menyediakan ruang untuk :  memperhatikan sistem
terdiri atas daratan  tempat pengolahan air pembuangan air limbah
dengan batas batas limbah agar segera pemukiman dan industri yang
tertentu yang dapat diolah & tidak berlaku di suatu wilayah
berfungsi untuk mencemari  memperhatikan standar-standar
tempat pembuangan lingkungan teknis sarana dan prasarana yang
segala pemukiman dan harus dipenuhi dalam
macam air buangan industri. pembangunan instalasi
(limbah) yang berasal  meningkatkan pembuangan akhir limbah (IPAL)
dari limbah-limbah kesehatan masyarakat  tidak berbatasan langsung dengan
domestik, industri, melalui peningkatan zona perumahan dan industri
maupun komersial dan akses masyarakat
lain-lainnya terhdap pelayanan air
limbah dengan sistem
setempat dan sistem
terpusat.
 melindungi sumber-
sumber air baku bagi
air minum dari
pencemaran air
limbah pemukiman
dan industri.

33
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

B. OUTPUT PETA POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA


Delineasi peta pola ruang merupakan point penting dalam
penyusunan rencana wilayah. Tampalan kawasan lindung dan
kawasan budidaya menjadi bahan untuk kajian kebijakan ruang
yang berkelanjutan. Untuk menciptakan kawasan kota atau
Bagian wilayah perkotaan agar sesuai zoning regulations.

Gambar 5. Peta Pola Ruang RDTR

34
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

Secara umum ketentuan penggambaran peta rencana pola ruang


sekaligus zoning map adalah sebagai berikut:
a. rencana pola ruang RDTR digambarkan pada peta dengan
tingkat ketelitian skala minimal 1:5000 dan mengikuti
ketentuan sistem informasi geografis yang dikeluarkan oleh
lembaga yang berwenang;
b. rencana pola ruang RDTR dapat digambarkan dalam
beberapa lembar peta yang tersusun secara beraturan
mengikuti ketentuan yang berlaku;
c. peta rencana pola ruang RDTR juga berfungsi sebagai zoning
map bagi peraturan zonasi;
d. peta rencana pola ruang RDTR harus sudah menunjukkan
batasan persil untuk wilayah yang sudah terbangun.
Rencana jaringan prasarana berfungsi sebagai pembentuk sistem
pelayanan, terutama pergerakan di bagian wilayah perkotaan.
sebagai dasar perletakan jaringan serta rencana pembangunan
prasarana dan utilitas dalam BWP sesuai dengan fungsi
pelayanannya; dan sebagai dasar rencana sistem pergerakan dan
aksesibilitas lingkungan dalam RTBL dan rencana teknis sektoral.
Rencana jaringan prasarana dirumuskan berdasarkan; rencana
struktur ruang wilayah kabupaten/kota yang termuat dalam RTRW;
sebagai kebutuhan pelayanan dan pengembangan bagi BWP; sebagai
rencana pola ruang BWP yang termuat dalam RDTR; sebagai sistem
pelayanan, terutama pergerakan, sesuai fungsi dan peran BWP; dan
sebagai ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana jaringan prasarana merupakan pengembangan hierarki
sistem jaringan prasarana yang ditetapkan dalam rencana struktur
RTRW/RDTR Kabupaten/Kota.
Rencana jaringan prasarana wilayah perencanaan berfungsi sebagai:
a. pembentuk sistem pelayanan dan pergerakan di dalam
wilayah perencanaan;
b. dasar perletakan jaringan dan rencana pembangunan
prasarana, dan utilitas dalam wilayah perencanaan sesuai
dengan fungsi pelayanannya; dan

35
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

c. dasar rencana sistem pergerakan dan aksesibilitas


lingkungan dalam RTBL dan rencana teknis lainnya.
Rencana jaringan prasarana wilayah perencanaan dirumuskan
berdasarkan:
a. rencana struktur ruang wilayah kabupaten dalam RTRW
kabupaten;
b. kebutuhan pelayanan dan pengembangan bagi wilayah
perencanaan;
c. rencana pola ruang wilayah perencanaan dalam RDTR;
d. sistem pelayanan dan pergerakan sesuai fungsi dan peran
wilayah perencanaan; dan
e. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana jaringan prasarana wilayah perencanaan dirumuskan
dengan kriteria:
a. memperhatikan rencana struktur ruang bagian dari wilayah
kabupaten/kota lainnya atau wilayah administrasi
kabupaten/kota sekitarnya yang berbatasan;
b. menjamin keterpaduan dan prioritas pelaksanaan
pembangunan prasarana dan utilitas dalam jangka waktu
perencanaan pada wilayah perencanaan;
c. mengakomodasi kebutuhan pelayanan prasarana dan utilitas
wilayah perencanaan; dan
d. mengakomodasi kebutuhan fungsi dan peran pelayanan
kawasan di dalam struktur ruang wilayah perencanaan.
Materi dari rencana jaringan prasarana RDTR meliputi :
a. Rencana Jaringan Pergerakan
Rencana jaringan pergerakan dalam RDTR merupakan
seluruh jaringan primer dan jaringan sekunder pada wilayah
perencanaan yang meliputi: jalan arteri, jalan kolektor, jalan
lokal, jalan lingkungan, dan jaringan jalan lainnya yang tidak
termasuk dalam jaringan pergerakan yang direncanakan
dalam RTRW, terdiri atas:

36
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

1. jaringan jalan arteri primer dan sekunder;


2. jaringan jalan kolektor primer dan sekunder;
3. jaringan jalan lokal primer dan sekunder;
4. jaringan jalan lingkungan sekunder;
5. jaringan jalan lainnya yang meliputi :
i. jalur kereta api termasuk kereta bawah
tanah,monorail,dan stasiun (jika ada);
ii. jalur pelayaran untuk kegiatan angkutan sungai,
danau, penyebrangan, dan pelabuhan/ dermaga pada
wilayah perencanaan (jika ada);
iii. jalan masuk dan keluar terminal barang serta
terminal orang/penumpang sesuai ketentuan yang
berlaku (terminal tipe A, B dan C hingga pangkalan
angkutan umum);
iv. jaringan jalan moda transportasi umum (jalan masuk
dan keluarnya terminal barang/ orang hingga
pangkalan angkutan umum dan halte); jalan masuk
dan keluar parkir;
v. sistem jaringan jalur pejalan kaki dan jalur sepeda.

b. Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan


Rencana pengembangan jaringan energi/listrik menjabarkan
tentang jaringan distribusi dan pengembangannya
berdasarkan prakiraan kebutuhan energi/listrik di wilayah
perencanaan yang terdiri atas:
1) jaringan subtransmisi yang berfungsi menyalurkan daya
listrik dari sumber daya besar (pembangkit) menuju
jaringan distribusi primer (gardu induk) yang terletak di
wilayah perencanaan (jika ada);
2) jaringan distribusi primer (jaringan SUTUT, SUTET,
SUTT) berfungsi menyalurkan daya listrik dari jaringan
subtransmisi menuju jaringan distribusi sekunder,

37
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

infrastruktur pendukung pada jaringan distribusi primer


meliputi :
i. gardu induk berfungsi menurunkan tegangan dari
jaringan subtransmisi (70-500 kv) menjadi tegangan
menengah (20 kv)
ii. gardu hubung berfungsi membagi daya listrik dari
gardu induk menuju gardu distribusi;
3) jaringan distribusi sekunder berfungsi untuk
menyalurkan/menghubungkan daya listrik tegangan
rendah ke konsumen, infrastruktur pendukung pada
jaringan distribusi sekunder adalah gardu distribusi yang
berfungsi menurunkan tegangan primer (20 kv) menjadi
tegangan sekunder (220v/380 v);
4) penjabaran jaringan pipa minyak dan gas bumi, di
wilayah perencanaan (jika ada);
(sesuai UU no.20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan,
Kepmen ESDM no.865 tahun 2003 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan)

c. Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi


Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi terdiri atas:
1) rencana pengembangan infrastruktur dasar
telekomunikasi berupa lokasi pusat automatisasi
sambungan telepon;
2) kebutuhan penyediaan jaringan telekomunikasi telepon
kabel (dari jaringan kabel primer hingga jaringan kabel
sekunder), termasuk penyediaan:
i. stasiun telepon otomat;
ii. rumah kabel;
iii. kotak pembagi;
3) kebutuhan penyediaan telekomunikasi telepon selular,
termasuk penyediaan infrastruktur telepon nirkabel

38
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

berupa lokasi menara telekomunikasi termasuk menara


Base Transceiver Station (BTS);
4) rencana sistem televisi kabel seperti stasiun transmisi
dan jaringan kabel distribusi;
5) rencana peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi
dan rencana jaringan serat optik.

d. Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum


Rencana pengembangan jaringan air minum berupa rencana
kebutuhan dan sistem penyediaan air minum, yang terdiri
atas:
1) sistem penyediaan air minum wilayah kabupaten
mencakup sistem jaringan perpipaan dan bukan jaringan
perpipaan;
2) bangunan pengambil air baku;
3) seluruh pipa transmisi air baku dan instalasi produksi;
4) seluruh pipa unit distribusi hingga persil;
5) seluruh bangunan penunjang dan bangunan pelengkap;
dan
6) bak penampung.

e. Rencana Pengembangan Jaringan Drainase


Rencana pengembangan jaringan drainase terdiri atas:
1) sistem jaringan drainase untuk mencegah genangan di
wilayah perencanaan;
2) rencana kebutuhan sistem drainase, terdiri atas:
rencana jaringan primer, sekunder, tersier, dan
lingkungan di wilayah perencanaan; dan

39
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

3) kondisi topografi di wilayah perencanaan yang


berpotensi terjadi genangan maka perlu dibuat:
i. kolam retensi
ii. sistem pemompaan
iii. pintu air

f. Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah


Prasarana dan sarana air limbah dilakukan melalui sistem
pembuangan air limbah setempat (onsite) dan atau terpusat
(offsite)
Sistem pembuangan air limbah terpusat, terdiri atas:
1) seluruh saluran pembuangan
2) bangunan pengolahan air limbah
Sistem pembuangan air limbah setempat, terdiri atas:
1) bak septik (septic tank)
2) IPLT (instalasi pengolahan lumpur tinja)

g. Penyediaan prasarana lainnya.


Direncanakan melalui penyediaan dan pemanfaatannya
disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan wilayah
perencanaan, contoh: wilayah perencanaan yang memiliki
kawasan rawan bencana wajib menyediakan rencana jalur
evakuasi bencana yang terdiri atas :
1) jalur evakuasi bencana (escape way) kawasan, maupun
lingkungan dan direncanakan untuk segala jenis bencana
yang mungkin terjadi;
2) jalur evakuasi bencana dapat dengan memanfaatkan
jaringan jalan yang sudah ada dengan memperhatikan
kapasitas jalan.

40
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

Gambar 6. Peta Jaringan Sarana dan Prasarana

Rencana jaringan prasarana di wilayah perencanaan digambarkan


dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Peta rencana jaringan prasarana memuat:

41
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

1) jaringan jalan yang terdiri dari beberapa kelas dan


tingkat jalan yang terdapat dalam wilayah perencanaan;
2) sistem prasarana wilayah lainnya digambarkan pada satu
lembar peta wilayah perencanaan secara utuh dan dapat
digambarkan masing-masing pada peta tersendiri; dan
3) sistem jaringan prasarana jalan harus digambarkan
mengikuti trase jalan yang sebenarnya.
b. Rencana jaringan prasarana digambarkan dengan ketelitian
peta skala minimum 1:5.000; dan
c. Penggambaran peta rencana jaringan prasarana bagian dari
wilayah kabupaten harus mengikuti peraturan perundangan-
undangan terkait pemetaan rencana tata ruang sesuai dengan
ketentuan sistem informasi geografis yang ditentukan oleh
instansi yang berwenang dan mengikuti peraturan
perundangan-undangan terkait lainnya;

Penetapan Bagian dari Wilayah Perencanaan (BWP) yang


Diprioritaskan Penanganannya
Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya merupakan upaya perwujudan rencana tata ruang
yang dijabarkan kedalam rencana penanganan bagian dari wilayah
perencanaan yang diprioritaskan.
Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya berfungsi :
a. mengembangkan, melestarikan, melindungi, memperbaiki,
mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan, dan/atau
melaksanakan revitalisasi di kawasan yang bersangkutan,
yang dianggap memiliki prioritas tinggi dibandingkan bagian
dari wilayah perencanaan lainnya;
b. sebagai dasar penyusunan rencana yang lebih teknis, seperti
RTBL dan rencana teknis pembangunan yang lebih rinci
lainnya; dan
c. sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program
utama RDTR.

42
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

Gambar 7. Peta Bagian Wilayah Perencanaan

Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan


penanganannya ditetapkan berdasarkan:

43
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

a. tujuan penataan ruang wilayah perencanaan;


b. nilai penting di bagian dari wilayah perencanaan yang akan
ditetapkan;
c. kondisi ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan di bagian dari
wilayah perencanaan yang akan ditetapkan;
d. usulan dari sektor;
e. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di wilayah
perencanaan; dan
f. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya ditetapkan dengan kriteria:
a. dapat merupakan faktor kunci mendukung perwujudan
rencana pola ruang, rencana jaringan prasarana, dan
pelaksanaan peraturan zonasi di wilayah perencanaan;
b. dapat mendukung tercapainya agenda pembangunan;
c. dapat merupakan bagian dari wilayah perencanaan yang
memiliki nilai penting dari sudut kepentingan ekonomi,
sosial-budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau
teknologi tinggi, fungsi dan daya dukung lingkungan hidup,
dan/atau memiliki nilai penting lainnya yang sesuai dengan
kepentingan pembangunan wilayah perencanaan;
d. dapat merupakan bagian dari wilayah perencanaan yang
dinilai perlu didikembangkan, diperbaiki, dan/atau
direvitalisasi agar dapat mencapai standar tertentu
berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial-budaya, dan/atau
lingkungan.
Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya minimum harus memuat:
a. Lokasi
Lokasi adalah tempat bagian dari wilayah perencanaan yang
diprioritaskan penanganannya.
Lokasi bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya perlu digambarkan dalam peta. Batas

44
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

delineasi lokasi bagian dari wilayah perencanaan yang


diprioritaskan penanganannya, dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan:
1. batas fisik, seperti blok dan sub-blok;
2. fungsi kawasan, seperti masing-masing zona dan sub-
zona;
3. wilayah administratif, seperti RT, RW, kelurahan,
kecamatan, dan wilayah perencanaan/desa;
4. penentuan secara kultural tradisional (traditional
cultural-spatial units), seperti desa adat;
5. penentuan berdasarkan kesatuan karakter tematis,
seperti kawasan kota lama, lingkungan sentra
perindustrian rakyat, kawasan sentra pendidikan, dan
kawasan permukiman tradisional; dan
6. penentuan berdasarkan jenis kawasan, seperti kawasan
baru yang berkembang cepat, kawasan terbangun yang
memerlukan penataan, kawasan dilestarikan, kawasan
rawan bencana, dan kawasan gabungan atau campuran.
b. Tema Penanganan
Tema penanganan adalah program utama untuk setiap lokasi.
Tema penanganan bagian dari wilayah perencanaan yang
diprioritaskan penanganannya, dapat meliputi:
1) perbaikan prasarana, sarana, dan blok/kawasan;
contohnya melalui penataan lingkungan permukiman
kumuh/nelayan (perbaikan kampung), perbaikan desa
pusat pertumbuhan, perbaikan kawasan,serta pelestarian
kawasan;
2) pengembangan kembali prasarana, sarana, dan
blok/kawasan; contoh nya melalui peremajaan kawasan,
pengembangan kawasan terpadu, revitalisasi kawasan,
serta rehabilitasi danrekonstruksi kawasan
pascabencana;

45
MODUL 6 TATA CARA TEKNIK DELINIASI POLA RUANG DAN JARINGAN PRASARANA

3) pelestarian/pelindungan blok/kawasan, contohnya


melalui pengendalian kawasan pelestarian, revitalisasi
kawasan, serta pengendalian kawasan rawan bencana.

Gambar 8. Peta Pembagian Blok

46