Anda di halaman 1dari 3

Judul: Dilan 1990

Jenis Film : Drama


Produser : Ody Mulya Hidayat
Sutradara : Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Pemain : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal,
Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan
Penulis : Pidi Baiq, Titien Wattimena
Produksi : MAX Pictures

Film Dilan 1990 merupakan film yang sukses menjadi film Indonesia kedua terlaris
sepanjang masa. Dalam data terbaru yang dikeluarkan, Sabtu (10/2), selama kurun
dua minggu lebih sejak tayang perdana pada 25 Januari 2018, Dilan 1990 telah
membuat baper 4.722.000 penonton.
Jumlah penonton film yang berlatar tahun 1990-an itu melampaui pencapaian
Habibie & Ainun serta Laskar Pelangi. Berdasarkan situs filmindonesia.or.id, Habibie
& Ainun (2012) mengumpulkan 4.583.641 sementara Laskar Pelangi (2008)
menghimpun 4.719.453 penonton.
Kini, Dilan 1990 masih butuh waktu untuk bisa menggeser Warkop DKI Reborn:
Jangkrik Boss Part. 1 dari posisi pertama dengan jumlah penonton 6.858.616.

Disutradarai oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq, Dilan 1990 dibintangi oleh Iqbaal
Ramadhan, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal, Teuku Rifnu
Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, dan Farhan.
Manisnya kisah cinta remaja SMA menjadi suguhan utama dalam film Dilan 1990
yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq. Film yang berlatar di Kota
Bandung pada awal 1990 ini memberi gambaran awal mula kisah asmara Dilan dan
Milea.

Dikisahkan, Milea (Vanesha Prescilla) bertemu dengan Dilan (Iqbaal Ramadhan) di


sebuah SMA di Bandung. Itu adalah tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke
Bandung. Dilan berupaya untuk mendekati Milea.
Perkenalan yang tidak biasa kemudian membawa Milea mulai mengenal keunikan
Dilan lebih jauh. Dilan yang pintar, baik hati dan romantis... semua dengan caranya
sendiri. Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelakinya yang
lain, bahkan Beni, pacar Milea di Jakarta.

Tingkah tak terduga Dilan yang melancarkan rayuan-rayuan menggelitik membuat


Milea mabuk kepayang. Milea yang mulai penasaran akhirnya jatuh cinta dengan
pria yang awalnya ia anggap aneh.
Bagaimana tidak aneh, di awal
loading...
perkenalan saja yang pertama yang diucap Dilan adalah ramalan pertemuan mereka
kelak di kantin sekolah. Belum lagi hadiah ulang tahun berupa buku Teka-Teki Silang
(TTS) yang sudah diisi penuh. Agar Milea tak pusing untuk mengisi, katanya.

Kala Milea sakit, Dilan malah mengirim tukang pijat alih-alih langsung datang
menjenguknya. Namun hal-hal aneh itulah yang membuat Milea luluh dan terus
merindukan Dilan, menanti suara telepon di rumah berdering hanya untuk
mendengar suara di seberang yang gemar merayu.
Cara berbicara Dilan yang terdengar kaku, lambat laun justru membuat Milea kerap
merindukannya jika sehari saja ia tak mendengar suara itu.

Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, gank motor, tawuran, Anhar,
Kang Adi, semua mewarnai perjalanan itu. Dan Dilan, dengan caranya sendiri, selalu
bisa membuat Milea percaya ia bisa tiba di tujuan dengan selamat. Tujuan dari
perjalanan ini, perjalanan mereka berdua.
Katanya, dunia SMA adalah dunia paling indah. Dunia Milea dan Dilan satu tingkat
lebih indah daripada itu.

Film yang diarahkan oleh sutradara Fajar Bustomi dengan keterlibatan langsung dari
sang empunya cerita, Pidi Baiq, membuat Dilan 1990 menjadi adaptasi yang cukup
baik. Meski diakui sutradara ada beberapa adegan yang dipotong karena
keterbatasan durasi, benang merah cerita tetap dapat diwujudkan.
Terlebih, kisah Dilan 1990 sendiri memang sudah memiliki cerita yang kuat. Dalam
hal ini, penulis naskah Titien Wattimena patut diapresiasi yang mampu membawa
dialog di film tetap memiliki jiwa seperti di novelnya.

Penggambaran kehidupan remaja di masa SMA pun masih terasa masuk akal. Dari
tingkah nakal remaja yang membolos, berpakaian tidak rapi, memiliki konflik dengan
guru atau teman sebaya dan lainnya.
Peran Iqbaal yang sebelumnya sempat diragukan dan menuai banyak reaksi negatif
terbilang cukup berhasil menjelma sebagai Dilan. Pada beberapa adegan, Iqbaal
mampu 'berbicara' sebagai karakter Dilan dengan baik. Aksinya dalam bermain lakon
setidaknya dapat diterima, meskipun pada beberapa bagian awal masih terasa kaku.
Selain itu, debut Vanesha berakting juga memberi kesan yang baik. Dia mampu
membawakan karakter Milea sesuai ekspektasi. Ekspresinya sebagai remaja yang
polos pun tidak berlebihan. Melihat Vanesha berakting, membuat kita percaya peran
Milea memang ditakdirkan untuknya.

Pendekatan untuk latar tahun 1990-an digambarkan cukup pas dengan suasana kota
Bandung yang masih sepi sebelum dipadati kendaraan. Saat itu, pakaian dengan
potongan longgar, rambut hitam tergerai, berkomunikasi lewat orang ketiga, surat,
serta telepon sedang tren. Namun sayangnya, riasan para pemain yang diceritakan
masih siswa SMA itu menjadi kelemahan film ini. Riasan wajah pemain terlihat
berlebihan dan tidak natural.
Secara keseluruhan, film ini setidaknya terasa tepat untuk menjadi hiburan bagi para
remaja dan masih dapat dinikmati untuk sekadar bernostalgia.
"Jangan rindu, (rindu itu) berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja..."