Anda di halaman 1dari 72

BUKU AJAR

FISIKA TERAPAN 1

oleh :
Drs. I Nyoman Sugiarta

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK LISTRIK


POLITEKNIK NEGERI BALI
2015
KATA PENGANTAR
Untuk menunjang kelancaran pendidikan di Politeknik Negeri Bali, diperlukan
buku handout sebagai pendukung penerapan kurikulum , memiliki tujuan yaitu :
menghasilkan output yang sesuai dengan keinginan pasar dan outcome (lulusan) yang
berkwalitas (memiliki kompetensi dalam bidang Manajemen Informasi). Pembuatan
handout ini bertujuan untuk melengkapi bahan ajar bagi perkuliahan Fisika Terapan
Manajemen Informatika untuk mahasiswa semester ganjil pada tahun pertama serta
staf pengajar fisika yang bersangkutan.Adapun manfaat yang diharapkan adalah buku
ini dapat digunakan sebagai bahan ajar di dalam kelas (buku acuan) atau sebagai
pegangan mahasiswa untuk belajar sendiri di rumah.
Isi handout Fisika Terapan ini terdiri dari beberapa bab yang didahului oleh
penjelasan singkat tentang teori-teori, prinsip-prinsip, hukum-hukum yang kemudian
diikuti contoh-contoh soal disertai penyelesaiannya, ringkasan , soal-soal latihan
untuk mahasiswa dan daftar pustakanya. Buku ini hanya berisi informasi minimal
yang harus dikuasai oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa amat dianjurkan untuk
menambah pengatahuannya sendiri lewat sumber-sumber lain.Mahasiswa diharapkan
agar membaca tiap pokok bahasan sebelum tatap muka (waktu kuliah) sehingga waktu
kuliah dapat dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang belum dipahami betul.
Kami menyadari banyak kesalahan-kesalahan yang di buat dalam dalam buku ini, baik
kesalahan dalam penguraian suatu konsep maupun dalam pengetikannya, untuk itu
penyusun dengan terbuka selalu menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun
dan membantu perbaikan buku pegangan ini untuk tahun ajaran mendatang

Denpasar, Januari 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………. ii
DAFTAR ISI………………………………………………………... iii
BAB I VEKTOR DAN SISTEM SATUAM………………………… 1
A. Tujuan ………………………………………………… 1
B. Sistem Satuan, Skalar dan Vektor……………………... 1
1. Sistem Internasional……………………………. 2
2. Skalar dan Vektor………………………….…… 4
3. Contoh Soal………………………………….…. 12
4. Rangkuman……………………………………. 16
5. Latihan………………………………………… 16
BAB II KINEMATIKA DAN DINAMIKA…………… 17
A. Tujuan ……………………………………………..…. 17
B. Kinematika dan Dinamika…………………..………. 17
1. Gerak Lurus, Melingkar dan Hukum Newton 18
2. Contoh Soal…………………………………… 47
3. Rangkuman……………………………………. 53
4. Latihan………………………………………… 54
BAB III USAHA, ENERGI DAN DAYA..…………… 55
A. Tujuan …………………………………………….….. 55
B. Usaha, Energi dan Daya……………………..…..……. 55
1. Konsep Usaha, Energi dan Daya.……………… 55
2. Contoh Soal……………………………….…… 57
3. Rangkuman…………………………….………. 58
4. Latihan…………………………………….…… 58
BAB IV TEMPERATUR DAN PERPINDAHAN KALOR.……...… 59
A. Tujuan ………………………………………………… 59
B. Temperatur dan Perpindahan Kalor …………………. 59
1. Konsep Temperatur…..………..……………… 59
2. Contoh Soal…………………………………… 70
3. Rangkuman……………………………………. 72
4. Latihan………………………………………… 72
BAB V TERMODINAMIKA…………………………… 74
A. Tujuan ………………………………………………... 74
B. Termodinamika……………..………………………… 74
1. Hukum-hukum Termodinamika..……..……… 74
2. Contoh Soal…………………………………… 90
3. Rangkuman……………………………………. 91
4. Latihan………………………………………… 91
BAB VI GELOMBANG………………..……………… 93
A. Tujuan ………………………………………………... 93
B. Gelombang …………………………………..………. 93
1. Macam-macam Gelombang…………………… 94
2. Contoh Soal………………………………..… 103
3. Rangkuman…………………………………… 105
4. Latihan…………………………………..…… 105
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
VEKTOR DAN SISTIM SATUAN

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihannya,
diharapkan anda mampu :
- Menyebutkan keuntungan-keuntungan menggunakan sistem Internasional
sebagai sistem satuan dibandingkan dengan sistem-sistem yang lain.
- Dapat membedakan satuan dasar , satuan tambahan dan satuan turunan dalam
sitem internasional.
- Mengubah suatu satuan ke satuan dasar atau sebaliknya.
- Menyebutkan perbedaan besaran vector dan scalar.
- Mengklasifikasikan suatu besaran kepada vector atau scalar.
- Dapat menjumlahkan , mengurangi dan mengalikan suatu besaran.

B. Sistim Satuan ,Skalar dan Vektor


Gunanya : Untuk dapat menyatakan besarnya suatu besaran dalam fisika
Contohnya : Panjang satuannya km, m, cm, foot.
Sistim Satuan Panjang Massa Waktu Gaya
Statis (besar) m kg Secon kg f
Statis (kecil) cm g Sekon gf
MKS m kg Sekon Newton
CGS cm kg Sekon Dyne
British Absolut ft lbm Sekon Pdl
British Enginering ft slug Sekon Lbf

Sistim satuan terbagi :


1. Sistim Statis
2. Sistim Dinamis (MKS/CGS)
3. Sistim Inggris (Absolut-Engineering)
4. Sistim Internasional
1. Sisiem Internasional ( SI )
 Bersifat Desimal (Metrik) : Tidak sukar dalam hitungan
 Bersifat Mutlak : Tidak tergantung pada lokasi
 Bersifat Praktis : Sudah banyak di pergunakan
_ Bersifat Koheran : Setiap besaran SI dapat dikalikan, dibagi
pada besaran SI yang lain dan
menghasilkan besaran SI juga
_ Bersifat Lengkap : Hanya memiliki sejumlah besaran dasar
yang dengan mudah dan lengkap
mencakup semua besaran fisis yang ada.
Sistim Internasional memiliki 3 macam satuan
1) Satuan Dasar
2) Satuan Turunan
3) Satuan Tambahan
a. Satuan Dasar
Besaran SI Lambang
Panjang Meter m
Massa Kilogram kg
Waktu Sekon s
Arus Listrik Ampere A
Suhu termodinamik Kelvin K
Intensitas cahaya Kandela cd
Gram Molekul Mole mol

b.Satuan Tambahan.
Besaran S.I Lambang
Sudut datar Radian Rad
Sudut ruang Ste Radian SR

c. Satuan Turunan.
Satuan turunan ini di bentuk dari tujuh satuan dasar dengan
mengkombinasikannya secara aljabar sesuai dengan kuantitas yang di
turunkannya
Besaran SI Lambang Persamaan
Gaya Newton N Kg m/s2
Tekanan (umum) Paskal Pa N/m2
Energi/Kerja/Panas Joule J N.m
Daya Watt W J/s
Frekuensi Hertz Hz 1/s
Potensial Listrik Volt V W/A
Muatan Listrik Coulomb C A.s

Exs Konveksi
1 ft (Foot) : 30,5 cm
1 lbm (poun mass) : 453,59 gram
1 slug : 32,174 1 lbf (pound force) : 332,174 pdl
1slug : 14,59 kg
1 foot (ft) : 0,305 m
Deci (d) 10-1 Deka (da) 101
Centi (c ) 10-2 Kilo (K ) 103
Milli (m) 10-3 Hekto ( h ) 102
Micro (  ) 10-6 Mega (M ) 106
Nano (n) 10-9 Giga (G) 109
Piko (p) 10-12 Tera (T) 1012

Berikut ini adalah tabel dari satuan kecepatan bit dalam saluran transmisi.

Satuan Definisi Singkatan


Kilobit 1000 bit Kb
Kilobit per second 1000 bit / detik Kbps
Megabit 1000.000 bit Mb
megabit per second 1000.000 bit / detik Mbps
Gigabit 1000.000.000 bit Gb
gigabit per second 1000.000.000 bit / detik Gbps
Byte 8 bit Byte (B)

B. Skalar dan Vektor

Dalam Fisika jenis besaran :


 Skalar
 Vektor
Skalar : Besaran yang di cirikan oleh besar saja tidak
tergantung sistim koordinat.
Exs :
Volume : volume botol 60 cm3
Massa : Massa batu 5 kg

Vektor : Besaran yang memiliki besar dan arah atau besaran yang
pengukurannya tergantung pada sistim koordinat
Gaya : Andi mendorong ke atas dengan gaya 15 N
Kecepatan : Mobil bergerak ke utara dengan kecepatan 100 km/jam
Penggambaran Vektor
Arah Vektor : Arah anak panah AB
A B Panjang : Panjang AB

Simbol AB

a. Penjumlahan Vektor
M. Grafis : Penjumlahan vektor dengan cara memindahkan salah satu vektor ke kepala
vektor yang lainnya.
Contoh :.

B R
A+B=R
B
A A
M. Trigonometri : Penjumlahan vektor dengan menggunakan fungsi dasar

Trigonometri : Sinus, Cosinus, Tangen dari suatu sudut.

Sin  = B/R A2 + B2 = R2

R  A2 牋
|R|牋  B2
B
 Cos  = A/R  R2 牋
|A|牋  B2
A
 R2 牋
|B|牋  A2

B
Tg 
A

M. Komponen : Penjumlahan Vektor dengan cara menguraikan vektor ke arah


horisontal sumbu x dan ke arah vertikal sumbu y
Prosedur

 Uraikan vektor awal ke dalam komponen arah x dan y


 Repleksikan vektor-vektor pada sumbu x dan y
 Jumlahkan komponen arah x bersama  Fx, dan komponen
arah y bersama  Fy.
 Fx : Ax + Bx + Cx +…
 Fy : Ay + By + Cy +…
 Hitung besar dan arah resultannya R
Resultannya : R2 =  Fx2 + Fy2


R 燜 x 2   Fy2

Hitung sudut resultan θ


  Arctg 
Fy
 Fx
Contoh :

D1 = 620

530 450

D2 = 440
D3 = 550

Penyelesaian dengan metode komponen

D1 = 620
D2 Cost 450
440 Cost 450 =
311

D2 Sin 450 450


440 Cost 450 =
311

D2 = 440

D3 Cost 530
550 Cost 530 =
331

0
D3 Sin 530
53 550 Sin 530 = 439

D3 = 550

Komponen Sumbu X Komponen Sumbu Y

+ 620 - 311

+311 - 439

- 331

∑ 𝐹𝑥 =600 ∑ 𝐹𝑦 =750

Resultannya adalah :

R2 = 6002 + 7502
R = √6002 + 7502

= 961

Sudut Resultannya adalah :


−750
Θ = Arctg = 510
600

Macam-macam segitiga

A : Panjang sisi dihadapan sudut 

B : Panjang sisi dihadapan sudut 

C : Panjang sisi dihadapan sudut 


C Segitiga tumpul (salah satu
B
sudutnya tumpul  > 900 )
 
A

C Segitiga siku-siku (salah satu


 B
sudutnya siku-siku  = 900 )
 
C  B
A

 Segitiga lancip (semua sudutnya


 lancip , ,  < 900
A

Hukum penjumlahan vektor

Hukum yang berlaku :



C A+B=C
B
 C2 = A2 + B2 - 2 AB Cos 

A Sin  = Sin  = Sin 
A B C
Contoh :

C2 = A2 + B2 - 2 AB Cos 

C2 = 42 + 62 -2(4)(6) cos 

 C2 = 52 - 48 Cos 
C=?
B= 6.0
 +  = 180o
o
=?  60
 +60o = 180o
A= 4.0
 = 120o

C2 = 52 - 48 Cos 120o

C = 76
Sin = B/C Sin 

Sin  = 6/ 76
c. Selisis Vektor

Sin selisih
Mencari = 0,596 
dua vektor=a37 o
- b adalah sama dengan menjumlahkan vektor
a dengan vektor negatif b atau (-b )
A - B = A + (B) a-b= c

-b

b
a

c a
-b A=4
Contoh :
120o B =3
B =3
C 120o

A-B=C A=4
A + (-B) = C

C2 = A2 + (-B)2 - 2 A (B) Cos 120o

42   3 ? 2.4  3 Cos 120o


 牋
2

C = 6.1

3. Contoh Soal Vektor

Soal Vektor

F
a. 

Cari komponen horizontal dan vertikal untuk gaya (F) ini bila  = 30o

Jawaban:
300
a) F = 10 N Fy F
 = 30o Fx

Fx : F cos  : 10 N . Cos 30o : 8 . 66 N

Fy : F Sin  : 10 N . Sin 30o : 5 . 00 N

FR :  Fy 2 ?
Fx 2 牋

8 . 66    5 . 00 
2 2
:

: 10 N

b. Mobil dengan berat 10 N berada diatas bukit membentuk sudut 20o dengan

horizontal .

W=10 N

 = 20
Tentukan komponen berat yang sejajar dan tegak lurus jalan 

Jawaban : Y

W=10 N

F1 =w= sin
20 θ
= 10 cos 200
= 3.42 N

200

Fy : W Sin  F2 = w cos θ
: 10 sin 20 : 3.420 N = 10 cos 200 = 9.4 N
Fx : W Cos 
: 10 Cos 20 : 9.400 N

d. Mobil bergerak dari kota A ke utara 30 km kemudian menuju kota B 50 km ke


barat lalu ke tenggara ke kota C 120 km. Tentukan jarak dari kota A ke kota C 

Jawaban :
50 km
Fx : 30 - 20 Sin 45
o
20 km 45
30 km : 15,86 km

R Fy : 50 - 20 Cos 45

: 35,86 km

 15,86  ?  ?5,86 
2 2
R =

= 39 km

C. Rangkuman
 Vektor adalah besaran yang mempunyai besar dan arah, sedang scalar
adalah besaran yang hanya mempunyai besar saja.
 Penjumlahan vector dapat dilakukan dengan sistem grafis,
trigonometri dan dengan metode komponen.
 Selisih dua vector adalah sama dengan menjumlahkan vector pertama
dengan negative vector kedua.
D. Latihan
- Ubah kecepatan sebuah mobil 0,200 cm/s menjadi km/tahun !
- Bila  = 35o  = 40o β = 30o

F3 F1 = 180 N F3 = 130 N
F2
  F2 = 120 N F4 = 170 N
F1

F4
Tentukan Resultan Gaya dan uraikan komponennya ?
BAB II

KINEMATIKA & DINAMIKA

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal latihannya, anda
diharapkan mampu :
 Memahami pengertian kecepatan sesaat dan kecepatan rata-rata.
 Menyebutkan besaran-besaran gerak melingkar serta konversinya.
 Menghubungkan kecepatan /percepatan linier terhadap
kecepatan/percepatan sudut (anguler)
 Menyelesaikan persoalan-persoalan praktis yang berkaitan dengan
gerak melingkar.
 Menyebutkan hukum-hukum Newton I, II dan III tentang gaya.
 Menyelesaikan persoalan-persoalan praktis menyangkut gaya dan
gerak yang bekerja pada suatu benda.

B. Kinematika dan Dinamika


Kinematika Partikel
Gerakan partikel yang tidak mempermasalahkan apa yang menyebabkan terjadinya
gerakan tersebut
Dinamika partikel
Gerakan partikel yang membahas hubungan gerak dan penyebabnya
Pembahasan di batasi untuk gerakan partikel kecepatan jauh lebih kecil dari
kecepatan cahaya. Mekanika seperti ini didasarkan pada hukum-hukum Newton .
sedang untuk gerakan yang kecepatanya mendekati kecepatan cahaya, hukum-hukum
newton tidak berlaku.

1. Gerak Lurus, Melingkar dan Hukum Newton


a. Gerak Lurus
- Kecepatan
Besaran vektor yang menyatakan 2 hal :
1. Berapa cepat gerakannya
2. Arah yang dituju
Jika sebuah benda ,yang mula-mula pada posisi S0 dan waktu t0 kemudian
mengalami perpindahan sejauh posisi S1 dan waktu t1 maka :
𝑝𝑒𝑟𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛
Kecepatan rata-rata 𝑣 =
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢

t0 S 0 S 1 t1

∆𝑠 𝑠1−𝑠0
𝑣𝑟𝑎𝑡𝑎 = =
∆𝑡 𝑡1−𝑡0
Kecepatan rata-rata memberi keterangan kasar tentang gerak benda dalam
suatu selang waktu. Hanya tergantung pada posisi benda pada awal dan akhir
saja.
Kecepatan sesaat : Kecepatan benda pada saat tertentu
x dx
V( t ) = Limit =
t  0 t dt
Contoh : fungsi x (t) = 5t3 (Persamaan gerak)
dx d (5 t3)
Kecepatan sesaat V (t) = =
dt dt
= 15 t2
Jadi kalau kita ingin tahu berapa kecepatan pada saat 2 detik, maka :
V = 15 t
= 15 . 22 m/s
= 60 m/s
- Percepatan
Pada umumnya kecepatan benda juga berubah terus dengan waktu. Laju
perubahan kecepatan ini sering disebut percepatan .
Percepatan : besar yang menyatakan perubahan kecepatan terhadap waktu .
Jika pada saat to benda mempunyai kecepatan Vo dan pada saat t1 kecepatanya
V1 , maka percepatan rata-rata adalah :
∆𝑣 𝑣1−𝑣0
𝑎𝑟𝑎𝑡𝑎 = =
∆𝑡 𝑡1−𝑡0
dengan V = V1- V0 adalah perubahan kecepatan selama waktu tertentu.
Analog dengan pengertian kecepatan, percepatan sesaat pada saat t dinyatakan
oleh:
V dV
a (t) = limit = =
t 0 t t
- Gerak Lurus
Rumus-rumus yang berlaku :
Vt = V0 + at .........................................................(1)
S = Vo .t + ½ at 2 …….. ………………………..(2)

Vt2 = Vo2 + 2aS …………………………………..……(3)

Bila benda yang dipercepat mula-mula dalam keadaan diam maka V0 = 0

sehingga persamaan (1) , (2) dan (3) akan menjadi:

Vt = a.t

S = ½ at2

Vt2 = 2 a S
Gerak Lurus Beraturan

Pengertian :

Gerak yang lintasannya garis lurus dengan kecepatan selalu tetap.

s
v
t

 s = perubahan jarak
 t = perubahan waktu

Kecepatan tetap : Bila anda naik mobil sepanjang


V (m/dt) jalan yang lurus sejauh 150 km dalam 2 jam,maka
kecepatan rata-rata nya adalah 75 km/jam

V
t (dt)

t
S (jarak ) = V . t

Pada kondisi dimana mobil bergerak dengan kecepatan tetap maka kecepatan rata-
rata akan sama dengan kecepatan sesaat.
Pada kondisi dimana anda mengendarai mobil dengan total perjalanan 15 km dalam
waktu 30 menit. Mula-mula anda bergerak dengan laju 15 km/jam
(spedometer:kecepatan sesaat) kemudian melambat ke 20 km/jam dan seterusnya
seperti grafik dibawah ini maka kecepatan rata-rata dapat dicari dengan hanya
memperhatikan kondisi awal dan akhir saja :

Kecepatan
(km/jam)

Kecepatan rata-rata (30 km/jam)

Waktu (jam)

Gerak Lurus Berubah Beraturan

Pengertian :

Gerak lurus yang memiliki kecepatan selalu berubah di setiap saat dan

perubahan kecepatan tersebut di setiap saat selalu sama, tetap atau konstan.

Contohnya : Bola yang meluncur di bidang miring yang rata, benda jatuh bebas dll.

v
a
t

vt  vo
a
tt  to

a = percepatan

vo = kecepatan awal vt = kecepatan setelah bergerak t detik

to = waktu awal tt = waktu setelah t detik


Sebuah mobil bergerak dan mengalami percepatan seragam atau konstan dari

35 m/dt pada t = 7 dt ke 50 m/dt pada t = 10 dt. Berapa jauh mobil bergerak antara t

= 8 dt dan t = 9 dt ?

60 Kecepatan vs Waktu
Percepatan konstan
v 35
50 tg    5(m / dt 2)
t 5
Kecepatan (m/dt)

40

30

20

10

0
0 5 Waktu (dt) 10 15

 40m / dt  45m / dt 
x   (1dt )  42,5m
 2 

Gerak lurus dipercepat beraturan

Pengertian :

Gerak lurus yang kecepatannya makin lama makin bertambah besar, dengan

pertambahan kecepatan tiap selang waktu yang sama, besarnya tetap

b. Gerak melingkar

- Kecepatan Sudut
Def : Gerakan pertikel yang lintasannya berbentuk lingkaran.
Dalam gerak melingkar jarak partikel pada setiap saat terhadap pusat lingkaran adalah
sama dan tetap.
Perpindahan sudut  (Theta) biasanya dinyatakan dalam radian, derajat atau putaran.
1 putaran = 3600 = 2 Rad
10 : 2,01745 Rad R
 S
1 Rad : 57,30
 = S/R
Sudut Dalam = Panjang busur (S )
Radian Jari-jari
Satu Radian adalah sudut datar pada pusat lingkaran diantara dua buah jari-jari yang
mencakup busur sepanjang jari-jari pada keliling lingkaran. Satuan Rad sebagai
ukuran sudut merupakan suatu bilangan, dan sebenarnya tidak memiliki satuan.
Kecepatan sudut ( < omega >) adalah : perubahan koordiant sudut yakni perpindahan
sudut  dalam jelang waktu t.
 Rata-rata =>  = t - o
/t
t a : konstan
= o + t
Satuan kecepatan sudut 2
Radian/detik (Rad/S)
Putaran/detik (Rev/S) (RPS)
Putaran/menit (Rpm)
I Rev/s = 2 Rad/s = 6,28 Rad/s
I Rpm = 2 Rad/s = 0,105 Rad/s
60

Percepatan sudut ( <alpha>) adalah perubahan kecepatan sudut dalam selang waktu
t.
 Rata-rata  = t - o = 
t t
Percepatan = Perubahan kecepatan sudut
sudut t
Kecepatan sudut sesaat
sesaat = limit 
t  0 t
Percepatan sudut sesaat
sesaat = limit 
t  0 t
Kecepatan sudut (kecepatan angular),  adalah besar sudut yang ditempuh persatuan
waktu.
 =  = 2 Rad/detik (1 putaran)
t T
 = Sudut yang ditempuh (Radial atau Rad)
t = waktu tempuh (detik)
 = kecepatan sudut (Rad/detik)
 = 2 . 1 = 2 . f
T
T (Periode/waktu edar)
adalah waktu yang diperlukan untuk satu kali berputar.
f (Frekuensi)
adalah banyaknya putaran perdetik ; satuan frekuensi adalah : Hertz
Putaran perdetik = Hertz (Hz) = Rps (Rotation per second)

- Kecepatan dan Percepatan Linier


Kecepatan linier (Kecepatan singgung) V
adalah kecepatan yang arahnya selalu menyinggung lintasan dan selalu tegak
lurus jari-jari.
V = Kecepatan linier, bersatuan m/det
a Kecepatan linier = Jarak yang ditempuh
waktu tempuh
R V
R V =S
T
Untuk satu kali melingkar, jarak yang ditempuh
S = 2 . R sedang waktu tempuhnya
t =T
Sehingga V = 2 . R = 2R.f =  . R
T
(Hubungan kecepatan linier dengan kecepatan sudut)
Percepatan linier (percepatan tangensial)
adalah percepatan yang arahnya selalu menyinggung lingkaran dan tegak lurus
jari-jari.
a : percepatan linier, bersatuan m/dt2
V . R
a= =
t t
=.R
(Hubungan Percepatan Linier dengan Percepatan Sudut)
Satuan  adalah Rad/S2 ; putaran/S2
Hubungan Gerakan Melingkar - Gerakan Linier
Sebuah benda yang bergerak dalam lintasan melingkar pada kecepatan yang
mempunyai besar konstan dikatakan mengalami gerakan melingkar beraturan.
Kecepatan sudut 
 = 2. F
f : banyaknya putaran per detik
Kecepatan linier (keliling ) V
V=.R
Percepatan linier a
a=.R
Gerak Lurus (Linier) Gerak Melingkar
V = ½ (Vt + Vo)  = ½ (t + o)
S=V.t =.t
Vt = Vo + a.t t = o + .t
2 2
Vt = Vo + 2.a.s t2 = o+ 2. . t
S = Vo.t + ½ . a.t2  = o. t + ½ . t2

Sehingga percepatan sesaat yang kita kenal dengan sebutan percepatan sentripental
(as) diberikan oleh :
as = lim V = lim V2 t
t  t t 0 R t
= V2
R
arahnya menuju pusat atau arah sentripental.
V2 ( R)2
as = = = 2 . R
R R
Penggunaan
Ta = Tb ; fa = fb
VA VB a = b
Va  Vb dan Va < Vb

B A Va = Vb (lajunya)
a > b
fa > fb ; Ta < Tb

Va = Vb (lajunya)

A a > b
B
fa > fb ; Ta < Tb
Hubungan antara besaran sudut dan besaran tangensial : apabila roda / motor dengan
jari-jari R berputar melalui porosnya .
a) S =  . R
b) V =  . R
c) a =  . R
Dimana :
  Rad S  meter (cm)
  Rad /s Vm/s
   Rad/s2   m / s2
S = panjang tali yang melilit tepi roda
V = laju pusat perputaran roda
a = percepatan pusat perputaran roda

c. Hukum Newton
Dinamika partikel
 Gerakan partikel yang membahas hubungan gerak dan penyebabnya
Pembahasan di batasi untuk gerakan partikel kecepatan jauh lebih kecil dari
kecepatan cahaya. Mekanika seperti ini didasarkan pada hukum-hukum Newton .
sedang untuk gerakan yang kecepatanya mendekati kecepatan cahaya, hukum-hukum
newton tidak berlaku.
- Hukum Newton I
 Setiap benda akan berada dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan kecuali
benda itu di paksa untuk mengubah keadaan tersebut oleh gaya-gaya yang di
kerjakan padanya.
 Jika tidak ada gaya yang berpengaruh pada suatu benda maka percepatannya nol
Gaya juga dapat didepinisikan sebagai suatu yang menyebabkan perubahan
kecepatan. Suatu kenyataan bahwa jika tidak ada gaya, benda tetap dalam keadaan
diam atau bergerak lurus beraturan , ini merupakan sipat INERSIA (sifat
kelembaman)  massa (m)
- Hukum Newton II
 Gaya efektif yang bekerja pada sebuah benda berbanding langsung dengan
massa benda dan percepatannya, arah gaya adalah sama dengan percepatan
benda.
F = m.a
Gaya = massa . percepatan
Jika terhadap suatu benda berpengaruh gaya, maka terjadi perubahan kecepatan atau
timbul kecepatan. Ternyata percepatan benda berbanding lurus dengan resultan gaya
yang berpengaruh.
Terlihat hukum Newton I merupakan keadaan khusus hukum Newton II
Untuk F = 0 Maka a = 0
Jika resultan gaya = 0 maka percepatan benda = 0 sehingga benda bergerak dengan
kecepatan konstan atau diam
Satuan massa & gaya
Sistim SI, satuan massa adalah kg
m : kg (m)
F : Newton (N)
a : m/s2
Sebuah gaya efektif 1 N bekerja pada massa 1 kg menghasilkan percepatan
1m/s2
- Berat dan Massa
Berat suatu benda adalah gaya pada benda karena tarikan bumi
Berat adalah besaran Vektor, arah vektor ini adalah menuju pusat bumi
Untuk benda dengan massa m di permukaan bumi yang percepatannya g
(perecepatan grafitasi ) dan gaya yang berpengaruh padanya adalah W maka hukum
ke II newton menjadi
w = m.g
Berat = massa . Percepatan grafitasi
Harga g akan berbeda untuk berbagai tempat di bumi, sehingga berat suatu
benda dengan massa m pada tempat yang berbeda akan berbeda juga.
Jika tidak diketahui massa benda,tetapi diketahui gaya yang bekerja padanya
maka dari hubungan
F : m.a dan W :m.g
Dapat dirumuskan
W W
m= shg F = a
g g
- Hukum Newton III
Suatu gaya yang berpengaruh pada sebuah benda selalu bersal dari benda
lain.
Jika sebuah benda melakukan gaya terhadap benda lain, maka benda lain ini
selalu memberikan gaya balik. Ternyata gaya ini sama besarnya, namun
berlawanan arah.
Jadi ada 2 buah gaya yang bekerja pada interaksi antara 2 buah benda
- Gaya aksi
- Gaya reaksi
Oleh Newton kedua gaya ini di formulasikan dalam hukum ke III
F aksi : F reaksi
Setiap aksi selalu dilawan oleh reaksi yang sama besarnya dan berlawanan
arahnya
- Macam-Macam Gaya
Bertitik pada cara gaya berpengaruh pada suatu benda, maka dapat dibedakan
antara
 Gaya dengan jarak antara
 Gaya hubung
* Gaya dengan jarak antara
Adalah gaya yang timbul tanpa terjadinya persinggungan antara yang
memberi dengan yang menerima
Contohnya:
Gaya grafitasi
Gaya magnit
Gaya elektrostatis
* Gaya hubung
Adalah gaya yang timbul apabila yang menderita gaya dan yang
memberikan gaya berhubungan langsung, umpamanya
 Gaya normal
 Tegangan tali
 Gaya gesekan

Gaya Normal
F.N 
Lihat Gambar
F.N F.N
m.g
m.g

m.g

Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya berat m . g dan gaya reaksi dari bidang
adalah gaya normal FN (gaya yang tegak lurus terhadap bidang)
Gaya normal FN besarnya tergantung pada bentuk bidang
Bidang datar FN = m.g
 Bidang miring FN = m.g Cos 
 Bidang lengkung FN = m.g Cos 
Tegangan tali
Perhatikan sistim balok dibawah ini
Massa m1 terletak pada bidang datar.
T
M1
karena pengaruh gaya berat m2 begerak
ke bawah. Massa m1 dan m2di
T

M2
hubungkan dengan tali yang massanya
diabaikan.

Pada tali timbul gaya di sebut tegangan tali T. Tegangan tali tersebut dapat dihitung
dengan menggunakan hukum-hukukm Newton :
F=m.a
m2 . g - T = m2 . a2
T = m1 . a1
Karena panjang tali adalah tetap maka bakok m1dan benda m2 kecepatannya sama
maka percepatannya juga sama
m2 . g - T = m2 . a
T = m1 . a
Akibatnya kita dapatkan
m2 . g = (m1 + m2 ) . a
m2
a= g
m1 + m2
m1 . m2
T= .g
m1 + m2
Gaya gesekan
Sebuah buku diluncurkan di atas suatu lantai kecepatannya akan berkurang
danakhirnya berhenti.
Terlihat ada gaya antara lantai dan buku  gaya gesekan
 Gaya gesekan statik
 Gaya gesekan Kinetik
Gaya gesekan statik : Gaya terkecil yang menyebabkan benda bergerak
fs : s . N
N : gaya normal
Gaya gesekan kinetik : Gaya yang bekerja antara dua permukaan yang saling
bergerak
fk = k . N
k : Koefisien gesekan kinetik
N : gaya normal
Konstanta k dan s adalah beasaran tanpa satuan. Untuk dua permukaan tertentu,
biasanya s > k

Koefisien gesekan antara 2 permukaan bergantung :


 Bahan yang dipergunakan
 Halus atau kasar permukaan
 kelembaman
 selaput permukaan
 Temperatur
 Kebersihan permukaan
2. Contoh soal-soal
*Soal G. Lurus
1.Benda yang mula-mula diam dipercepat dengan percepatan 8m/s2dan
menempuh garis lurus
 Tentukan kecepatan pada akhir detik ke-5
 Tentukan kecepatan rata-rata dalam selang waktu 5 detik pertama
 Jarak yang ditempu dalam 5 detik tersebut
2. Sebuah mobil mempunyai percepatan 8m/s
a) Berapa waktu yang diperlukan untuk mobil mencapai kecepatan 240m/s, mulai
dari keadaan diam?
b) Berapa jauh mobil berjalan selama periode waktu ini
3. Rem sebuah mobil yang mempunyai kecepatan awal 30 m/s dipakai, dan mobil
menerima percepatan - 6 m/s2
a) Berapa lama perginya bila kecepatannya diturunkan ke 15 m/s ?
b) Bila datang menuju pemberhentian berapa jaraknya ?

Jawaban
1. Kita hanya memperhatikan gerak selama 5 s pertama. Pada gerak ini diketahui Vo
= 0 ; t= 5 s ; a = 8 m/s2. Gerak adalah gerak dipercepat beraturan, maka:
a) Vt = Vo + at = 0+ (8 m/s2) . (5 s) = 40 m/s
b) V = (Vo + Vt) / 2 = (0+40)/2 = 20 m/s
c) S = Vot + ½ at2 = 0 + ½ (8).(5)2 = 100m atau
S = V.t = (20) . (5) = 100m
2. Diketahui ;
a = 8 m/s2 Vo = 0
Vt = 240m/s
a) t = (Vt-Vo)/a = ( 24-0 )/ 8 =3s

b) S = Vot + ½ at2 = 0 + ½.8.(3)2= 36 m


3. Diketahui
a = -6 m/s2 Vt = 0
Vo = 30m/s
a) t = Vt - Vo = 0 - 30 = 5 s
b) Tanda Vo dan a merupakan hal yang penting
Kecepatan awal mobil V0 = 30 m/s dan percepatannya -6 m/s2 maka
S = Vo.t + ½ at2 = 30.5- ½ (6).(5)2 atau
S = V.t = V0 + Vt .t = 30. 5 = 75m
2 2
*Soal G. Melingkar
4. Motor dengan jari-jari 5 cm berputar dengan kecepatan 900 Rpm
maka :
. T =  = 900 Rpm . t = 15 Rps . t

2 Rad 94 Rad
= (15 Rps) = .t
put t
= 94 Rad
S =  . R = 94 Rad . 0,05 = 4,7 m
5. Nyatakan dalam besaran sudut yang lain
a) 28o
b) ¼ putaran / det
c) 2,18 Rad/s2
d) 900 Rpm
Jawaban
1 putaran
a) 28o = (28o) = 0,078 putaran
360o
2  Rad
= (28o) = 0,49 Rad
360o
2  Rad
b) ¼ put/det = ( 0,25 put/det) = 90o/det
360o
2  Rad 
= ( 0,25 put/det) = Rad/det
1 put 2
3600
c) 2,18 Rad/S2 = ( 2,18 Rad/S2) = 125 o/S2
2  Rad
1 put
= ( 2,18 Rad/S2) = 0,35 put/S2
2  Rad
900
d) 900 Rpm = Rps = 15 put/S
60
2 Rad
= (15 put/S) = 94 Rad/S
1 Putaran
6. Suatu silinder baja bergaris tengah 12 cm hendak dibubut dengan laju linier
permukaan 60 cm/dt. Tentukan rpm putaran mesin !
Jawab :
v 60
   10rad / dt
r 6
Karena 1 rpm = /30 rad/s maka
v 60 30
   10rad / dt. rpm  95rpm
r 6 
7. Motor listrik memerlukan waktu 5 detik untuk meningkatkan putarannya dari 600
rpm menjadi 1200 rpm. Tentukan jumlah putaran yang ditempuhnya selama 5 detik
tersebut!
Jawab :
 = o. t + ½ . t2
 = o + . t
1200 = 600 + (1/12) .
Maka diperoleh :
 = 7200 put/menit2
Jumlah putaran dapat dihitung sebagai :
 = o. t + ½ . t2

 = 600 . (1/12) + ½ .7200 (1/12)2


= 75 put
*Soal H. Newton

1 Hitung gaya tegangan pada tali dan percepatan


pada ke dua benda tersaebut ? Massa tali dan
katrol di abaikan, gesekan tali pada katrol juiga
di abaikan
m1 = 100 kg
m2 = 200 kg
2 Sebuah benda diukur beratnya dengan timbangan pegas dalam suatu elevator.
Bila elevator diam, berat benda terbaca 20 N, jika elevator di percepat keatas
dengan kecepatan 5 m/s. berapa harga terbaca pada skala timbangan ?
Jawaban
1 Persamaan gerak untuk m1
T1 - m1 . g = m1 . a
untuk m2
T2 - m2 . g = - m2 . a
Karena massa tali dari massa katrol diabaikan maka T1 = T2 = T
Dari kedua persamaan diperoleh
m2 - m1
a = m2 + m1 .g
2 m2 . m1
T = m2 + m1 . g
Diketahui m1 = 100 kg ; m2 = 200 kg
200 - 100
a = 200 + 100 . 9,8 = 3,27 m/s2
2 200 . 100
T = 200 +100 .9,8 = 1360,67 N
2 Sistim dalam keadaan diam
T1 = m . g : 2 . 10 : 20 N
g = 10 m/s2  m = 2 kg
Sistim bergerak keatas
 Fy = T1 - m . g = m . a
atau T1 = m . g + m . a
= m . (g + a) = 2 . (10 + 5 ) = 30 N
3. Rangkuman
 Kecepatan rata-rata adalah perubahan jarak dibagi dengan waktu.
 Percepatan rata-rata adalah perubahan kecepatan dibagi dengan perubahan
waktu.
 Kecepatan sesaat dapat ditentukan melalui rumus dx/dt.
 Percepatan sesaat dapat ditentukan melalui dv/dt.
 Kecepatan anguler dapat ditentukan melalui perubahan sudut dibagi dengan
perubahan waktu.
 Percepatan anguler dapat ditentukan melalui perubahan kecepatan sudut dibagi
dengan perubahan waktu.
 Hubungan antara besaran anguler dan besaran linier pada gerak melingkar
dinyatakan dengan : x= θ.r ; v = ω.r dan a= α.r.
 Hukum Newton I menyatakan bahwa setiap benda akan berada dalam keadaan
diam atau bergerak lurus beraturan kecuali benda itu dipaksa untuk mengubah
keadaan tersebut oleh gaya yang dikerjakan padanya.
 Hukum Newton II menyatakan gaya efektif yang bekerja pada sebuah benda
berbanding langsung dengan massa dan percepatan benda tsb.
 Hukum Newton III menyatakan jika sebuah benda melakukan gaya terhadap
benda lain maka benda lain ini selalu memberikan gaya balik.

4. Latihan
1. Suatu kantrol berjari-jari 5 cm dalam waktu 2 detik kecepatan sudutnya berubah
dari 30 putaran/detik menjadi 20 putaran/detik.
a. Berapakah percepatan sudut yang dialami katrol ?
b. Berapa putaran ditempuh katrol itu dalm waktu 2 detik ?
c. Seandainya katrol dipakai untuk menggulung tali, berapakah panjang tali yang
digulung dalam 2 detik ?
2. Ban mobil berjari-jari 30 cm. Kalau mobil dari keadaan diam dapat dipercepat
beraturan hingga dalam waktu 8 detik kecepatannya mencapai 15 m/s.
a. Berapa percepatan sudut ban ?
b. Berapa kali ban telah berputar ?

3. O Bola B berputar pada ujung tali yang diikat O. Bola


berputar seperti pada gambar.
24 cm 30O
a) Berapa kecepatan bola ?
C

BAB III
USAHA, ENERGI DAN DAYA

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal latihannya , diharapkan
anda mampu :
 Memahami dan mendefinisikan usaha, energi dan adaya.
 Mengkonversikan satuan usaha, energi dan daya.
 Menghitung efisiensinya.
B. Usaha, Energi dan Daya
1. Konsep Usaha, Energi dan Daya
a. Energi
Energi benda adalah kemampuan benda tersebut melakukan usaha. Energi
adalah kekal artinya ia dapat berubah dari satu bentuk kebentuk yang lain, dapat
berpindah dari satu sitem ke sistem yang lain akan tettapi jumlah keseluruhannya
adalah tetatp. Energi tidak dapat dibentuk dari nol dan juga tidak dapat
dimusnahkan.
Proses transfer dan transformasi energi :

Uap air
torak s

api W= F.s

kompor

Energi dalam minyak ( Transformasi energi )


Energi dalam api (Transfer energi kedalam air )
Transfer energi akibat perbedaaan temperatur disebut kalor.
Uap air menggerakkan torak sehingga benda berpindah sejauh S ( energi
dipindahkan dari satu sitem ke sistem yang lain melalui gaya F yang
menyebabkan pergeseran posisi benda S (kerja (W))
Energi Potensial :
Kemampuan benda tersebut melakukan usaha karena kedudukannya dalam
medan grafitasi. Jika massa m jatuh bebas sejauh h, benda itu dapat melakukan
usaha sebesar :
Ep : m.g.h ( dimana g adalah percepatan grafitasi bumi ).
Energi Kinetik :
Kemampuan benda tersebut melakukan usaha karena bergerak. Jika benda
yang bermassa m mempunyai kecepatan v, maka energi kinetiknya adalah :
Ek = ½. m. v2
Energi Listrik :
Usaha sebesar W dalam joule bekerja pada rangkaian untuk memindahkan
muatan q Coulomb antara terminal yang mempunyai perbedaan potensial
sebesar V dirumuskan :
W = q.V
= (I.t).V
= V.I.t
karena V = I.R maka W = I2.R.t
I : Arus listrik
R : Hambatan
t : waktu
Jadi energi listrik dalam joule (V.I.t) akan berubah menjadi panas pada
konduktor dari tahanan R Ohm yang membawa arus I Ampere (I2.R.t ) Joule
= 0,239 I2.R.t (kalori). 1 Joule = 0,239 kalori atau 1 kalori = 4,2 joule.
b. Daya
Daya adalah jumlah kerja yang dilakukan per satuan waktu
Daya rata-rata : P = W/t
= dW/dt = F.ds/dt = F.v
= V.I = I2.R = V2/R
Satuan daya adalah joule/detik atau Watt
1 Watt = 0.239 kal/dt = 0.738 ft.lb/dt
1 Kilowatt (kW) = 1000 Watt = 1.341 hp = 56.9 Btu/menit
1 hp = 0.746 kW = 330 . 104 ft.lb/menit = 42.4 Btu/menit.
c. Efisiensi
Efisiensi adalah perbandingan usaha/daya yang dihasilkan dengan
usha/daya yang dimasukkan.
2. Contoh Soal :
Pesawat katrol dapat mengangkat beban 3000 kg setinggi 8 meter dalam waktu 20
detik. Daya untuk menggerakkan pesawat itu adalah 18 pk.
Hitunglah :
 Keluaran usaha
 Keluaran daya dan masuknya daya
 Efisiensi pesawat
Jawab :
- Usaha yang dihasilkan = gaya pengangkat x tinggi
= (3000 . 9.8 N).(8 m)
= 235000 J
- Daya yang dihasilkan = Usaha yang dihasilkan : waktu yang diperlukan

= 235 kJ / 20 dt
= 11.8 kW
- Daya yang dimasukkan = (18 pk).(0.746 kW/1pk)
= 13.4 kW
- Efisiensi = 11.8 kW/13.4kW x 100 % = 88 %
3. Rangkuman
 Usah - Kerja - Energi benda adalah kemampuan benda tersebut
melakukan usaha.
 Daya adalah jumlah kerja yang dilakukan persatuan waktu.
 Hukum kekekalan energi secara umum mengatakan bahwa energi
tak dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi dapat berubah bentuk.
 Energi potensial adalah kemampuan benda tersebut melakukan
usaha karena kedudukannya dalam medan grafitasi.
 Energi kinetic adalah kemampuan benda tersebut melakukan usaha
karena bergerak.
 Efisiensi adalah usaha/daya yang dihasilkan dibagi dengan
usaha/daya yang dimasukkan.
4. Latihan
 Suatu pembangkit diberi daya oleh motor 15 kW dipakai untuk menaikkan
beton 0.5 kg pada ketinggian 80 m . Bila efisiensinya 80% tentukan waktu
yang dibutuhkan ?
 Sebuah mobil 1000 kg mendaki dengan kemiringan 10o. Kecepatannya 45
km/jam. Bila efisiensi mobil 70% , berapakan daya yang keluar pada mesin
mobil tersebut ?
 Berapa besar biaya untuk pemanas listrik yang diperlukan untuk
memanaskan air sebanyak 50 liter dari 27o C menjadi 100o C dengan biaya
Rp. 4500 /kWh ?

BAB IV
TEMPERATUR DAN PERPINDAHAN KALOR

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal latihannya , diharapkan
anda mampu :
 Memahami konsep temperatur.
 Menghitung perubahan dimensi panjang, luas dan volume terhadap perubahan
temperatur.
 Memahami kapasitas panas, kapasitas panas jenis massa/molukuler, dan panas
laten.
 Menyebutkan macam-macam perpindahan panas.
 Menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perpindahan kalor.
B. Temperatur dan Perpindahan Kalor
1. Konsep Temperatur
Besaran fisis yang menentukan ukuran panas dinginnya suatu benda disebut
Temperatur. Dengan mengukur perubahan-perubahan-perubahan (panjang, luas,
volume, tahanan listrik, spektrum (warna) , gaya gerak listrik) yang sesuai
dengan berubahnya temperatur merupakan kosep dasar dari cara kerja alat
pengukur temperatur  Termometer.
Besaran yang tergantung pada temperatur suatu termometer dinamakan sifat
termometer dari temperatur tersebut. Sedang bahannya disebut bahan
temometris.

273K 00C 320F

T: 100K tc: 1000C Tf: 1800C

273K 00C 320F

Atau dirumuskan :
tK : tc + 273
9
tF : tc + 320 F
5
9
tC : ( tF - 320 F)
5
- Pemuaian Panas
Salah satu sifat termometris yang umum adalah perubahan dimensi (panjang,
luas, volume) terhadap perubahan temperatur.
Perubahan Panjang
lo
t = 0 oC
l
T = t + l
k
Secara matematik ditulis :
l =  lo t
l = perubahan panjang
t = perubahan temperatur
lo = panjang batang mula-mula
 = koefisien muai panjang
1 l
 = =
lo t
Dengan mengganti l = l = lo diperoleh : l =  lo t
l – lo =  lo t
l = lo +  lo t
= lo ( 1 +  t )
l = panjang batang setelah perubahan temperatur sebesar t.
Koefisien muai panjang
Bahan ( o C -1)
Aluminium 24 . 10-6
Kuningan 20
Tembaga merah 14
Gelas 6-9
Baja 12
Seng 26

Luasan papan atau lempeng dipanaskan


1 A
Koefisien muai luas  =
Ao t
Ao = Luasan pada temperatur 0oC
A = A - Ao
A = Ao ( 1 +  t)
A = Ao ( 1 + 2t) dimana : 2 = 
A = Ao ( 1 +  t) ………………………………………………. 2
Balok pejal dipanaskan
1 V
Koefisien muai ruang  =
Vo t
Vo = volume pada temperatur 0 oC
V = V - Vo
V = Vo ( 1 +  t)
V = Vo ( 1 + 3 t) dimana 3  = 
= Vo ( 1 + t) …………………………………………………… 3
a. Kalorimeter
Awal abad ke 19
Panas : sesuatu yang dipindahkan dari sistem kesekelilingnya karena
adanya perbedaan temperatur saja.
Rumford
Panas : suatu bentuk energi
Percobaan : panas timbul akibat energi mekanik selama proses
pengeboran.
Joule
Panas : jika sejumlah energi mekanik diubah menjadi panas, maka
banyaknya panas yang timbul setara dengan energi mekanik
tersebut.
Satuan panas
1 kalori : banyaknya panas yang diperlukan untuk menaikkan
temperatur 1 gr air sebesar 1 oC, dari temperatur 14,5 oC
menjadi 15,5 oC pada tekanan 1 atm.
1 kalori : 1/860 watt - jam = 4,18605 joule
- Kapasitas Panas ( c )
Perbandingannya antara banyaknya panas Q yang diberikan pada benda untuk
mengubah temperatur benda sekuat T
Q
C= (joule/k ) ( kal/ k )
T
Note
t (Co) = 5/9 ( toF  32 )
t ( oF) = 9/5 t(oC ) + 32
t (oC ) = t (oR)  273,16
t (oR) = t (oC) + 272,16
Kapasitas panas jenis massa ( C )
Banyak panas yang dilakukan untuk menaikkan temperatur benda tersebut
persatuan temperaturnya persatuan massa.
1 Q
C= joule/ kg k atau kol / gram k
m T
Kapasitas panas jenis molekuler (Co)
Banyak panas yang dibutuhkan untuk menaikan temperatur benda tersebut
persatuan perubahan temperaturnya , per molenya.
1 Q
C= joule/ mole K atau kol / mole K
m T
panas yang dibutuhkan suatu benda suatu benda massa m yang mempunyai
kapasitas panas jenis massa c, untuk merubah temperaturnya dari T1 ke T2
adalah
T2
Q = m.c.dT
T1
Panas Laten ( L )
Banyaknya panas yang diserap atau dikeluarkan per satuan massa benda pada
waktu terjadinya perubahan phasa.
Q = M.L
dengan
Q = panas yang diserap atau dikeluarkan pada perubahan phasa.
M = massa benda
L = panas laten
b. Perpindahan Panas
Gejala perpindahan panas terjadi apabila dua tempat mempunyai temperatur
yang berbeda. Perpindahan panas ini terjadi dari tempat bertemperatur tinggi ke
tempat bertemperatur rendah dan dapat berlangsung dengan ataupun tanpa
perantaraan medium.
- Konduksi
Perpindahan panas yang disebabkan karena gesekan baik translasi
maupun vibrasi dari molekul - moleku ( atom - atom atau elektron-
elektron.
Konduksi dalam keadaan steady ( mantap )
ISOLATOR

A T2
T1 BATANG

L
Tinjau sebatang batang logam homogen yang panjangnya L dan luas
penampangnya A, ujung kirti dan kanan batang dijaga agar mempunyai
temperatur yang tetap masing - masing T1 dan T2 suatu diisolasi supaya
tidak ada panas yang lobang ke daerah sekitarnya, apabila T1> T2 maka
panas akan dihantarkan dari kiri ke kanan
dT
Gradien temperatur =
dx
Menurut Fourier jumlah panas yang di lontarkan sepanjang batang
persatuan waktu (H) berbanding lurus dengan gradien temperatur dan
luas permukaan (A)
dT
Secara matematis ditulis : H =  k A
dx
k = konstanta daya hantar (konduktivitas panas) bahan.
H . dx = - k A dT

L T2
H dx = - K.A.d
0 T1
atau
kA .( T2 - T2 )
H=
L
H = disebut arus panas yang dinyatakan dalam joule/detik atau
kal/detik.
Hantaran panas lewat dinding berlapis

k1 Dinding berlapis tiga masing -


k1 k3 masing dengan konduktivitas panas .
Tb Td
L3 k1, k2, k3 ,tebal L1,L2,dan L3sedang
Ta L2 luas penampang yang tegak lurus dan
L1
Tc panas adalah A..
Jika Ta.>Tb>Tc>Td dan temperaturnya tersebut dijaga agar tetap
harganya, maka arus panas di hantarkan dari kiri ke kanan dan dalam
keadaan mantap, besarnya arus ini tetap.
Hantaran panas dari Ta  Tb
Ta - Tb H - L1
H k1 A atau Ta - Tb =
L1 k1 - A
Hantaran panas dari Tb  Tc
Tb - Tc H - L2
H k2 A atau Tb - Tc =
L2 k2 - A
Hantaran panas dari Tc  Td
Tc - Td H - L3
H k3 A atau Tc - Td =
L3 k3 - A
Dengan penjumlahan didapat
H L1 L2 L3
Ta - Tb  Tb - Tc  Tc - Td  Ta - Td  ( + + )
A k1 k2 k3
A ( Ta  Td )
Jadi H 
L1/k1 L2/k2L3k3
Bila terdapat U lapis maka
A ( Ta Tu )
H =
u ∑ Li/ki
i=1
Ta = Temperatur permukaan paling kiri
Tu = Tmperatur permukaan paling kanan
Ci = Tebal lapisan kc - i
ki = Konduktivitas panas bahan ke - i
Hantaran panas lewat silinder
L Sebuah pipa yang panjangnya L dan
dilapisi dengan bahan isolator T1 dan
dR
T2 adalah masing - masing temperatur

R1 T1 permukaan dalam dan permukaan luar.

T2
R2
R1 dan R2 masing - masing jari permukaan dalam dan jari permukaan
luar.
Jika T1 > T2 dan dijaga tetap,maka panas dalam dihantar arah radial pada
keadaan mantap, arus panas (H ) adalah sama untuk semua luasan
permukaan.
dT
H =  k.A = konstan
dR
dan a = 2  R.L sehingga :
dT
H 2 = - k.2.R.L
dR
dR
H = - 2 k.L dT
R
Bila diintegralkan maka
R2 dR T2
H = = - 2 k.L dT
R1 R T1
H ln ( R 2/R1) = 2 . k . L ( T1  T2 )
2 . k . L ( T1  T2 )
H=
( R1/ R2 )
Hantaran panas pada konduktor berbentuk bola
Sebuah bola berongga dengan radius dalam dan
luarnya masing - masing a dan b suhu
Ta
a permukaan dalam dan besarnya dijaga konstan
b
Tb T a dan T b ( Ta > Tb ).
Pada konduktor berbentuk bola , luas dalam adalah :
A = 4 R2
sehingga
dT
H =  k 4 R2
dR
- Konveksi
Perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan
perantara medium.
Konveksi Bebas
Konveksi yang disebabkan oleh rapat massa fluida.
Konveksi Paksa
Konveksi yang dipakai karena medium dipaksa beredar.
Panas yang di terima / hilang dari permukaan fluida tergantung dari :
 keadaan permukaan vertikal , horisontal
 jenis fluida ( cair, gas )
 sifat - sifat fisis fluida:rapat massa, kekentalan
 kecepatan fluida
 keadaan fluida penguapan, pengembunan
perpindahan panas konveksi secara matematis
H = h A T
Dengan
H = arus panas
A = luas permukaan konveksi
T = perbedaan temperatur
h = koefisien konveksi
- Radiasi (Pancaran)
Radiasi adalah salah satu bentuk perpindahan panas yang telah
memerlukan zat perantara.
Panas matahari sampai ke bumi ( perantara panas ini berbentuk
gelombang elektromanet ).
Energi panas yang dipancarkan oleh suatu permukaan persatuan waktu
persatuan luas disebut dengan laju pancaran panas persatuan luas sangat
bergantung pada keadaan dan temperatur permukaan .
Laju pancaran panas dari suatu permukaan selain tergantung pada
temperatur permukaan , juga tergantung pada keadaan permukaan
(warna,kasar,halus).
Dan dinyatakan dengan hukum Stefan sebagai berikut :
K = C  T4
Dengan :
R = Laju pancaran panas persatuan luas permukaan yang dapat
dinyatakan dalam joule/dt cm2( watt / cm2 )
T = temperatur mutlakpermukaan dalam ok
 = Konstanta Stefan boltzmann yang harganya 5,6696.10-8 watt /
m2.K4
C = Emisitivitas permukaan yang harganya bergantung pada keadaan
permukaan dan tidak bersamaan.
Emivitas permukaan harganya diantara nol - satu (0ccc1) dan umumnya
e permukaan kasar lebih kasar dari permukaan e permukaan licin, untuk
benda yang hitam sempurna e = 1.
Apabila sebuah benda yang permukaannya mempunyai temperatur
T1(ok) diletakkan pada suatu daerah bertemperatur T2(ok) maka energi
panas netto dipancarkan / serap oleh permukaan benda ke sekitarnya dan
besar laju pancaran panas persatuan luas :
R = e  ( T14 - T24 )

2. Contoh Soal :
Sebuah plat datar yang permukaannya bertemperatur konstan sebesar 100 oC dan
berada diudara bertekanan 1 atom pada suhu 20oC.
Berapakah panas yang hilang akibat konvwksi bebas dari kedua permukaan plat tiap
- tiap m2selama 10 menit jika
a) letak plat horizontal
b) letak plat vertikal
Jawaban :
Koefisien konveksi beberapa permukaan
Keadaan Permukaan h ( kol / det . cm2 . oC
Pelat datar vertikal menghadap o,595 .10 4 ( T ) ¼
ke atas
Pelat datar horizontal 0,314 . 10 4 ( T ) ¼
menghadap ke bawah
Pelat datar vertikal 0,424 . 10 4 (T ) ¼
Pipa horizontal atau vertikal 1,00  10 4 ( T ) ¼
diameter D

T = 100  20 = 80 oC.
Untuk :
Pelat horizontal menghadap keatas
h = 0,595  104 ( 80 )1/4
 1,779  10 4 kol/det.cm2 oC
H = k A . T
Q = k A T . t
= 1,779 . 10 -4 x 10 4 x 80 x 600
= 8.539 . 104 kal
Plat horizontal menghadap kebawah
h = 0,314 . 10 -4 ( 80 ) ¼
= 0,939 . 10-4 kol / det cm2 oC
Q = h A T . t
= 0,939.10-4 x 104 x 80 x 600
= 4,51.104 kal

Sehingga :
Jumlah panas yang hilang selruhnya dari plat tiap 1 m2 selama 10 menit adalah
Q1  Q2 = 13,046.104 kal
b) Plat Vertikal
h = 0,424.10-4 ( 80 )1/4
= 1,268.10-4 kol/cm2 det oC
Q = h .A.T.t
= 2X1,260.10-4X kol / cm 2 det oC
= 12,172 kal
- Sebuah benda yang luas permukaannya 10 cm2 bersuhu 127 oC dan
diletakkan pada suatu daerah yang bersuhu 27oC jika emisivitas
permukaannya ¼, berapakah energi yang dipancarkan tiap detik. ( =
5,6699.10-3 watt / m2.k4 )
T = 127 + 273 = 400ok
To = 27 + 273 = 300ok
A = 10 cm2 = 10-3 m2
Energi pancaran
R = = e  ( T4  To4 )
waktu . luas
Energi pencaran R.A.t
Daya = =
waktu t
= e.  (T4  To4 ) . A
= ¼ . 5,6699.10-8 ( 400 4 - 3004 ) .10-3
= 0,248 watt
3. Rangkuman
 Perubahan dimensi panjang, luas dan volume terhadap perubahan
temperature secara matematik dirumuskan :
Δl = α.lo. Δt ; ΔA = γ.Ao. Δt ; ΔV= β.Vo. Δt
 Perpindahan panas ada 3 macam : Konduksi, Konveksi dan Radiasi.
 Konduksi adalah perpindahan panas yang disebabkan oleh gesekan
baik translasi maupun vibrasi dari molekul/atom /electron.
 Konveksi adalah perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat yang
lain dengan perantaraan medium.
 Radiasi adalah perpindahan panas yang tidak memerlukan zat
perantara.
4. Latihan
1. Volume bola suatu termometer air raksa dalam gelas pada 0oC adalah 0,15 cm2,
sedang luas penampang tabungnya 10-3 cm2. Koefisien muai panjang gelas adalah
5.10-6 (oC)-1, sedang koefisien mua ruang pada 0 oC air raksa tepat memenuhi
seleuruh bola, berapa tinggi kolo, air raksa pada temperatur 100 oC.
2. Alas jalan Golden Gate Bridge mempunyai panjang 1280 m. Selama berapa tahun,
temperatur berubah-ubah dari - 12 oC hingga 38 oC.
Berapakah besarnya perbedaan panjang pada temperatur itu, jika sebuah jalan
ditopang oleh balok penopang baja ? untuk  = 1,27 x 10-15 k-1
3. Sebuah cakram baja yang berbentuk lingkaran mempunyai sebuah lubang
lingkaran melalui pusatnya, jika cakram itu dipanaskan dari 10oC menjadi 100
o
C. Berapa besarkan perbandingan pertambahan luas itu ?
4. Titik lebur perak dalam skala Fahrenheit adalah 1760 0F . Nyatakan titik bentuk itu
dalam C dan K

5. Batang logam A dan batang logam B mempunyai luas penampang dan panjang yang
sama , salah satu ujung batang A dan batang B dihubungkan rapat - rapat.
Suhu ujung batang A dan B yang bebas dijaga konstan masing - masing T1dan T2
( T1 > T2 ) jika koefisien konduktif panas A dan panas B masing - masing k dan
3/2 k dan panas terkonduksi dalam keadaan steady satu dimensi maka tentukan
temperatur pada suatu titik yang berjarak ¼ L dari ujung B yang bebas .
( L = panjang batang ); ( A = luas batang ).
Gambar :
A B ¼L

T1 Q
t T2
3
k /2 k
P Q S R
L L
6. Suatu bejana berisi 1 kg es dengan temperaturnya -10oC, kapasitas panas bejana
dapat diabaikan kepada sistem diberi panas rata - rata 2000 kal /menit selama 100
menit.
a) Buatlah diagram phasa yang menyatakan hubungan dimana
temperaturnya dan waktu dari es tersebut.
b) Berapakah banyaknya es yang menguap ?

Diketahui :
Panas jenis es = 0,6 kal /gr
Panas peleburan es = 80 kal/gr
Panas jenis air = 1 kal/gr. 0 C
Panas penguapan = 540 kal/gr
Titik lebur es = 0oC
Titik didih air = 100oC
BAB V
TERMODINAMIKA

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal latihannya, diharapkan anda
mampu :
 Mamahami konsep gas ideal, proses isochoris, isobaris, isothermis,
adiabatis dan siklis.
 Menyebutkan hukum termodinamikan pertama, kedua dan ketiga.
 Memahami perumusan Kevin – Plank dan Clausius.
B. Termodinamika
1. Hukum – hukum termodinamika
a. Gas ideal
1. Gas idial terdiri atas partikel (atom maupun molekul) dan jumlah yang
besar sekali.
2. Partikel itu tersebar merata dan bergerak secara rombongan
3. Jarak antar partikel jauh lebih besar dari pada ukuran partikel
4. Tidak ada gaya antara partikel yang sama dengan yang lain, kecuali bila
kedua buah partikel itu bertumbukan.
5. Semua tumbukan, baik antara 2 buah partikel atau antara partikel dengan
dinding adalah lenting sempurna dan terjadi dalam waktu yang singkat.
6. Hukum Newton tentang gerak berlaku disini.
Isochoris ( gas yang mengalami proses pada volume tetap)
P . V = n. R. T
P = nr.T
V
= Cv.T

Cv T
P

V
Isobaris
P . V = n.R. T
V = nR.T
p
= Cp.T
V
Cp

T
P

V
Isothermal / Isothermis
P
P . V = n. R. T
P. V =K
P =K K
V V

Adiabatis
P
P . V.γ = Konstan
 = cp
cv

Siklis
P

V
b. Usaha

ds

F
P A
Gaya yang bekerja pada penghisap
F = P. A
Karena gaya F maka penghisap bergeser sejauh ds berarti F melalui usaha
dw = F. ds
= P. A. ds
= P. dV
Dimana : dV : perubahan volume gas
Jika volume gas mula-mula V1 kemudian V2 maka usaha yang dilakukan.

v2
W = 
v1
P.dV

P
I
2
I

II
V
1 2 W1 = luas dibawah I
1 2 W2 = luas dibawah II
W1  W2 tergantung padam proses yang dialami sistem.
Usaha pada macam-macam proses
Isochoris
dV = 0, jadi W = 0
Tidak ada usaha yang dilakukan
Isobaris
v2
W = 
v1
P.dV

= P. (V2-V1)
Isotermis
T = konstan; dU=0 ; Q = W
v2
W = 
v1
P.dV

P = n.R.T
V
dV

v2
W = n.R.T
v1 V
v
= n.R.T In V v12

= n.R.T In V2
V1
Adiabatis
Q = 0; dU = -W

Siklis

P
W

V1 V2 V
W = luas bidang yang diarsir
W + bila arah siklus searah jarum jam
W – bila arah siklus berlawanan arah jarum jam.
c. Hukum Termodinamika I
Bila sistem diubah dari keadaan awal (P1, V1, T1)manjadi keadan (P2, V2, T2)
usaha dan panas yang diperlukan tegantung pada proses.
Dari percobaan membuktikan bahwa:
-Selisih antara panas dan usaha pada tiap proses perubahan
(P1, V1, T1) (P2, V2, T2) selalu sama.
Jadi tak tergantung pada prosesnya
Energi Dalam (U)
Suatu besaran yang hanya tergantung pada keadaan sistem
UB – UA = QA B – WA B

QA B = WA B+ (UB – UA)
dQ = dW + dU
 Panas yang diberikan pada suatu sistem, sebagian dipakai untuk melakukan
kerja dan sisanya untuk menambah tenaga dalam dari sistem.
W > 0 bila sistem melakukan usaha
W < 0 bila sistem dilakukan usaha
Q > 0 bila sistem menyerap panas
Q < 0 bila sistem mengeluarkan panas
Usaha, Kalor dan Energi Dalam
Kita tinjau kembali besaran W, Q, dan U kalau keadaan gas sudah tertentu, U tertentu
pula.
Misal gas dengan banyak tertentu bervolume V1 dan tekanan P1, sesudah proses
volumenya menjadi V2 dan tekanannya P2.
Apapun proses yang dialami, pambahasan energi dalam gas itu tertentu, U = U2 – U1,
hanya tergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir.
Sedang usahanya tidak (lihat gambar)
P

P1

P2

V1 V2 V

P1

P2

V1 V2 V
Jadi w1  w2 walau keadaan awal dan akhir sama
Demikian pula untuk kalor Q1  Q2
Dalam mekanik kita pelajari bahwa kalau benda itu usahanya ditentukan oleh titik awal
dan titik akhirnya, tidak oleh lintasannya, dapatlah untuk benda itu ditentukan fungsi
yang disebut oleh tempat. Maka dalam hal ini U berperan sebagai potensial itu. Q dan
W tidak memnuhi syarat demikian. Tetapi keistimewaan yang diperoleh disini adalah
:
Q – W =  U, memenuhi syarat itu.
d. Hukum Termodinamika II
siklis (siklus)
Belum pernah kita menjumpai pesawat yang terus-menerus mengubah kalor yang
diserapnya menjadi usaha. Proses pengubahan terus menerus tidak kita jumpai akan
tetapi pengubahan kalor seluruhnya menjadi usaha dalam satu tahap saja dapat terjadi,
contohnya proses Isotermik.
Gas idial dengan banyak tertentu (V1, P1, T1)
Karena T tetap maka
dU = 0, dQ = dW
Setelah volumenya menjadi V2, usahanya
V2
W = n R T In
V1
Dalam hal ini jelas kalor itu diubah menjadi usaha.
Gambar

P1
Q=W

P2 Isoterm
V1 V2 V
Lihat gambar dibawah
P
P1
T1
Q1
Q3

P2 Q2 Isoterm
V1 V2 V
(P1,V1) (P2, V2) gas mengalami Isotermis
(P2,V2) (P2, V1) gas mengalami Isobaris
(P2,V1) (P1, V1) gas mengalami Isokhoris
Netto, usaha yang dilakukan sistem dinyatakan oleh luasan yang diarsir. Proses ini
disebut siklus.
Prinsip kerja mesin pendingin kulkas
Lihat gambar

T1

Q1
Kompresor
Kondensor
Wadah
zat cair
Saluran sempit/pipa
kapiler

Evaporator

Q2

T2
1. Zat cair pada tekanan tinggi harus melalui saluran sempit, menuju ke ruang
lapangan. Proses joule-kevin.
2. Tiba diruang Evapocator zat cair berkurang tekanan dan temperaturnya serta
menguap pula. Untuk menguap zat cair membutuhkan kalor yang diserap
dari reservoir T2 (benda yang akan di dinginkan)
3. Uap pada tekanan rendah ini masuk kompresor, dimampatkan sehinggga
tekanan dan temperaturnya naik. Temperatur uap ini lebih tinggi dari pada
temperatur reservoir T1.T1 >T2.
4. Tiba di kondensor uap ini memberikan kalor pada reservoir T1. selaku
reservoir T1 dapat digunakan udara dalam kamar atau cair.
Zat yang sering digunakan pada pesawat pendingin ialah freon atau
amoniak.

Siklus Pesawat Pendingin

Q1
Adiabatik
Q2
T1
2 3 T3
V
1. 1 2 Proses joule-kevin. Keadaan sistem tidak seimbang sehingga
harga P dan V dari saat yang satu ke saat yang lain tidak
diketahui. Hanya keadaan awal (keadaan 1) dan keadaan akhir
(keadaan 2) yang seimbang dengan dengan harga P dan V
tertentu. Sehingga proses hingga tak dapat dilukiskan.
2. 2 3 Penguapan terjadi pada tekanan dan temperatur yang tetap,
dengan penyerapan kalor sebesar Q2.
3. 3 4 pemampatan secara adiabatik, sampai temperatur uap melebihi
harga T1.
4. 4 1 pendinginan pada tekanan tetap sampai temperatur uap mencapai
harga T1, dilanjutkan dengan pengembangan pada tekanan tetap
dan temperatur tetap.
Kesimpulan
Selain pemindahan kalor dari reservoir dengan (T2) ke reservoir panas (T1),
terjadi pula perubahan usaha menjadi kalor yang ikut dibuang di T1
Q1 = Q2 + W
Usaha luar W dinyatakan oleh luas bagian yang dibatasi 1 2 3 4 1

T1 T1

Q1 Q1

W W

Q2 Q2

T2 T2

Pesawat
Motor Pendingin
Bakar

2. Contoh-contoh soal
contoh 1
1 cm3 bila diuapkan pada tekanan 1 ATM akan menjadi uap dengan volunme
1671 cm3. panas penguapan pada tekanan ini adalah 539 kal/gram. Hitung usaha
luar dan penambahan energi dalamnya!
Solution
dyne
1 atm = 1,013 . 105 pascal = 1,013 . 106
cm 2
1 pascal = 1 N  m 2

1N = 105 dyne
1m = 104 cm2
1 Joule = 107 erg
k kal = 4,184 joule
Isobaris
W = P (v2 - v1)
= 1,013 . 106 (1671 – 1)
= 1,695 . 109 erg
= 169,5 joule
= 41 kal
massa 1 cm3 air adalah 1 gram
jadi panas yang diperlukan untuk menguapkan air adalah :
Q =mL
= 1 x 539
= 539 kal
dari hukum Termodinamika
U =Q–W
= 539 – 41 = 498 kal

3. Rangkuman

- Dalam termodinamika terdapat beberapa proses yang terjadi dalam sistem diantaranya,
proses Isochoris, Isobaris, Isothermis dan Adiabatis.
- Hukum termodinamika pertama, kedua dan ke tiga mengandung pemahaman usaha,
kalor dan Energi dalam.
- Rumusan Kelvin – Plank pada hukum termodinamika berlaku pada motor bakar
sedangkan perumusan Clausius umumnya berlaku pada mesin pendingin
4. Soal latihan
1. Apakah yang dimaksud dengan proses – proses
a. Isochoris
b. Isobaris
c. Isothermis
d. Adiabatis
e. Siklis

BAB VI
GELOMBANG

A. Tujuan :
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal latihannya, anda diharapkan
mampu :
 Menyebutkan macam-macam gelombang berdasarkan sifat fisisnya
gelombang.
 Menyebutkan besaran – besaran gelombang dan mendefinisikannya.
 Menurunkan persamaan-persamaan gelombang berjalan.
 Memahami paduan (interferensi) dua gelombang.
 Menyelesaikan persoalan-persoalan mengenai interferensi dua gelombang.
B. Gelombang
 Gangguan tunggal yang tidak terulang lagi disebut dengan pulsa gelombang

 Gangguan yang diberikan secara periodik disebut dengan getaran

V

Gelombang : getaran yang menyebar


Pada perambatannya gelombang meindahkan energi atau gelombang adalah gejala
perambatan energi.
1. Macam-Macam Gelombang
Berdasarkan sifat fisisnya gelombang dapat dibedakan :
Berdasarkan arah getar
 gelombang transversal
 gelombang longitidinal
Berdasarkan amplitudonya
 gelombang berjalan
 gelombang diam.
Berdasarkan medium
 gelombang mekanik
 gelombang elektromangnet
Gelombang Tranversal
Gelombang trans adalah gelombang dimana arah getarnya tegak lurus dengan arah
rambatannya gelombang.

Contohnya : - gelombang air


- gelombangtali
- gelombang elektromangnet
Gelombang Longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang dimana arah getarannya searah
dengan arah rambatan gelombang.
Contoh : gelombang pegas mendatar
gelombang bunyi

Rapatan Renggangan Rapatan



Gelombang Mekanik
Gelombang yang merambat memerlukan medium sebagai perantaranya.
Contonya : - gelombang air - gelombang bunyi
- gelombang tali - gelombang per
Gelombang Elektromangnet
Gelombang yang merambat tanpa memerlukan zat perantara .
Contohnya : - gelombang cahaya
- gelombang TV, Radar, Radio
- gelombang sinar X, gamma
a. Besaran Gelombang
Panjang gelombang (  )
jarak yang terdekat antara dua titik yang fasenya dalam satu periode ( T ).
Panjang gelombang satunnya cm dan m.
Periode ( T )
Waktu yang diperlukan oleh satu gelombang untuk melewati satu titik .
satuannya periode adalah ( t ) adalah detik.
Frekwensi ( f )
Banyaknya gelombang yang melewati titik dalam tiap detik.
Satuannya adalah : Hertz
Kecepatan Gelombang ( v )
Jarak yang ditempuh gelombang per detik.
x
v=
t
Untuk t = T, maka x =  sehingga
 1
v = atau v =  . f (f= )
T T
3. Rangkuman
 Gelombang berdasarkan arah getar dibagi menjadi dua yaitu : Gelombang
transversal dan Gelombang longitudinal.
 Gelombang berdasarkan amplitudonya dibagi menjadi dua yaitu : Gelombang
berjalan dan Gelombang diam.
 Gelombang berdasarkan medium dibagi menjadi dua yaitu : Gelombang
mekanik dan Gelombang elektromagnetik.
 Besaran-besaran gelombang yang ada adalah panjang gelombang (λ), periode
(T), frekwensi (f), dan kecepatan gelombang (v).
.
4. Latihan
DAFTAR PUSTAKA

 Bueche, Frederick J, Ph.D., 1985. Theory and Problems of College Physics,


7nd edition, Jakarta: Erlangga.
 Giancoli, Douglas C, 1997. Fisika, Edisi 4, Jakarta : Erlangga.
 Inany Furoidah, 1997. Fisika Dasar I : Mekanika dan Panas, Edisi 7, Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama.
 Kane, Joseph W, 1983. Physics, 3th edition, Brisbane : John Wiley & Sons,
Inc.
 Sutrisno, 1983. Fisika Dasar : Listrik, Magnet dan Termofisika, Edisi 3,
Bandung : ITB Bandung.
 Sutrisno, 1984. Fisika Dasar : Gelombang dan Optic, Edisi 3, Bandung : ITB
Bandung.
 Sears, Francis W, 1991. Mekanika, Panas dan Bunyi, Edisi 7, Bandung:
Binacipta Bandung.
 Sears, Francis W, 1993. Fisika Universitas, Edisi 3, Jakarta : Erlangga.
 Sardjito, 1996. Mekanika, Bandung : Pusat pengembangan pendidikan
Politeknik.
 Tippens, Paul E, 1989. Basic Technical Physics, Singapore : Mc Graw- Hill,
Inc.
 Winarto K.M, 1981. Fisika umum, Edisi 1, Bandung: CV. Armico, Bandung.