Anda di halaman 1dari 16

ISSN : 2302 - 1590

E-ISSN: 2460 – 190X

ECONOMICA
Journal of Economic and Economic Education Vol.3 No.1 (42 - 52)

PENGARUH SUMBER DAYA ALAM DAN SUMBER DAYA MANUSIA


TERHADAP PENERIMAAN DAERAH

Jolianis
Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP- PGRI Sumbar
Jl. Gunung Pangilun No.1, Padang Sumatera Barat
Email :jolianiskoto@ymail.com

submited: 14.05.17 reviewed:14.07.30 accepted: 14.10.30


http://dx.doi.org/10.22202/economica.2014.v3.i1.235

Abstract
This study aims torevealthe effect ofnatural resourcesand human resourcesto the regional
revenuestogetheror inparsial. This research is aquantitativeresearchcausative. Data analysis
techniquesusedtoperformhypothesistestingismultiple linear regression analysis. Results ofthe
study found that : 1) Put togethernatural resourcesand human resourcessignificant effect
onlocal revenues. 2) Natural resourcessignificantly influence theregional revenues.3) Human
resources significantly influence theregional revenues.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh sumber daya alam dan sumber daya
manusia terhadap penerimaan daerah secara bersama-sama maupun secara parsial. Jenis
penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat kausatif. Teknik analisis data yang
digunakan untuk melakukan pengujian hipótesis adalah analisis regresi linear
berganda.Hasil penelitian ini menemukan bahwa : 1) Secara bersama-sama sumber daya
alam dan sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap penerimaan daerah. 2)
Sumber daya alam berpengaruh signifikan terhadap penerimaan daerah. 3) Sumber daya
manusia berpengaruh signifikan terhadap penerimaan daerah.

Keywords : Regional Revenuess, Natural ResourcesandHuman Resources

©2014 Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI, Padang


Joliani
s
PENDAHULUAN keuangan negara dan pelaksanaan otonomi
Keberhasilan otonomi daerah tidak daerah itu sendiri, maka kepada setiap
dapat dilepaskan dari kemampuan daerah daerah dituntut harus dapat membiayai diri
di bidang keuangan yang merupakan salah sendiri melalui sumber–sumber keuangan
satu indikator penting guna mengukur yang dikuasainya. Peranan Pemerintah
tingkat otonomi suatu daerah karena untuk Daerah dalam menggali dan
menjalankan fungsi pemerintahan faktor mengembangkan berbagai potensi daerah
keuangan merupakan suatu hal yang sangat sebagai sumber penerimaan daerah akan
penting, karena hampir tidak ada kegiatan sangat menentukan keberhasilan
pemerintahan yang tidak membutuhkan pelaksanaan tugas pemerintahan,
biaya untuk operasional. pembangunan, dan pelayanan masyarakat
Tujuan Otonomi Daerah menurut UU di daerah.
No. 32 Tahun 2004 pada dasarnya adalah Peningkatan PAD sangat menentukan
sama yaitu otonomi diarahkan untuk sekali dalam penyelenggaraan otonomi
memacu pemerataan pembangunan dan daerah karena semakin tinggi PAD disuatu
hasil-hasilnya, meningkatkan daerah maka daerah tersebut akan menjadi
kesejahteraan masyarakat, menggalakkan mandiri dan mengurangi ketergantungan
prakarsa dan peran serta aktif kepada pusat sehingga daerah tersebut
masyarakatmeningkatkan pendayagunaan mempunyai kemampuan untuk
potensi daerah secara optimal dan terpadu berotonomi. Jadi PAD merupakan salah
secara nyata dan bertanggung jawab, satu modal dasar pemerintah daerah dalam
sehingga memperkuat persatuan dan mendapatkan dana pembangunan dan
kesatuan bangsa, mengurangi beban dan memenuhi belanja daerah. Biasanya
campur tangan pemerintah pusat di daerah penerimaan PAD untuk masing-masing
yang akan memberikan peluang untuk daerah berbeda dengan yang lainnya,
koordinasi lokal. rendahnya PAD merupakan indikasi nyata
Untuk menyelenggarakan otonomi di mana masih besarnya ketergantungan
daerah yang luas, nyata dan bertanggung daerah kepada pusat terhadap pembiayaan
jawab diperlukan kewenangan dan pembangunan baik langsung maupun tidak
kemampuan yang menggali sumber langsung. Hal ini disebabkan di samping
keuangan sendiri yang didukung oleh rendahnya potensi Pendapatan Asli Daerah
perimbangan keuangan antara pusat dan di daerah juga disebabkan kurang
daerah. Dalam menjamin terselenggaranya intensifnya pemungutan pajak dan retribusi
otonomi daerah yang semakin mantap, di daerah.
maka diperlukan usaha-usaha untuk Pembangunan daerah merupakan
meningkatkan kemampuan keuangan bagian dari pembangunan wilayah yang
sendiri yakni dengan upaya peningkatan komponennya berisikan berbagai kegiatan
penerimaan Pendapatan Asli Daerah pembangunan yang dilakukan secara
(PAD), baik dengan meningkatkan bertahap dan berkesinambungan. Untuk
penerimaan sumber PAD yang sudah ada melaksanakan pembangunan di Kabupaten
maupun dengan penggalian sumber PAD Lima Puluh Kota setiap tahunnya dibiayai
yang baru sesuai dengan ketentuan yang oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja
ada serta memperhatikan kondisi dan Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan
potensi ekonomi masyarakat. Di sisi lain, Belanja Negara (APBN).
saat ini kemampuan keuangan beberapa Berikut ini adalah data tentang
Pemerintah Daerah masih sangat realisasi APBD dan konstribusi PAD
tergantung pada penerimaan yang berasal terhadap APBD Kabupaten Lima Puluh
dari Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, Kota selama 5 tahun terakhir :
bersamaan dengan semakin sulitnya

44
Joliani
s
Tabel 1. APBD Kabup aten Lima Puluh Kota
APBD Persentase Kontribusi
No Tahun
Total Pert PAD terhadap APBD
1 2005 352.673.319.400,00 - -
2 2006 393.190.316.142,00 11,79 4,27
3 2007 457.777.565.329,31 16,43 3,86
4 2008 510.088.812.146,98 11,43 3,99
5 2009 530.702.450.525,10 4,04 3,68
Sumber : BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, 2013

44
Joliani
s
Dari data di atas terlihat APBD Dalam prakteknya penerimaan
secara kuantitas mengalami peningkatan daerah ini sangat dipengaruhi oleh banyak
setiap tahun tetapi persentasenya sektor, dimana apabila sektor-sektor dalam
mengalami perubahan yang berfluktuasi perekonomian mengalami perkembangan
setiap tahunnya. Selanjutnya terlihat yang cukup baik tentunya akan
bahwa relatif kecilnya kontribusi PAD menyebabkan terjadinya peningkatan dari
terhadap APBD setiap tahunnya dan penerimaan daerah. Menurut Boediono
persentasenyapun mengalami penurunan (2002:61) bahwa potensi penerimaan
setiap tahun. Terjadinya penurunan daerah terdiri dari 1) PDRB sektor sumber
kontribusi PAD terhadap APBD tentunya daya alam (primer), 2) PDRB sektor
disebabkan adanya kegagalan pemerintah industri dan jasa lainnya (non primer), 3)
dalam menggali potensi perekonomian besarnya angkatan kerja.
sehingga PAD tidak mengalami Adapun penerimaan daerah, sumber
peningkatan yang signifikan setiap daya alam dan sumber daya manusia dapat
tahunnya. dilihat dari tabel 1 berikut ini:
Tabel 2. PAD, SDA dan Angkatan Kerja Kabupaten Lima Puluh Kota
PAD SDA Angkatan Kerja
No Tahun Total (Juta Total (Juta
Pert Pert Indeks SDM Pert.
Rupiah) Rupiah)
1 2005 19,764,4 - 875,996.44 - 161.240 -
2 2006 16,786,4 (15,06) 927,679.97 5,89 142.845 18,77
3 2007 17,681,9 5,33 989,755.56 6,69 167.603 (11,41)
4 2008 20,337,8 15,02 1,048,552.59 5,94 168.030 17,33
5 2009 19,514,1 (4,04) 1,107,349.290. 5,60 182.352 0,25
Sumber : BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, 2013

Berdasarkan data pada Tabel 2 daerah karena pada prinsipnya persentase


terlihat bahwa pemerintah daerah tidak pertumbuhan dari pendapatan sektor
mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alami itu mengalami
penerimaan daerah karena diperlihatkan peningkatan setiap tahunnya agar
oleh perubahan yang berfluktuasi dari penerimaan daerah juga mengalami
pendapatan asli daerah, pertumbuhan dari peningkatan.
pendapatan sektor sumber daya alam, Fenomena yang terjadi pada
pendapatan sektor industri dan indeks pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota
sumber daya manusia. Terlihat bahwa dalam meningkatkan potensi
apabila terjadi peningkatan ataupun penerimaannya disebabkan oleh banyak
penurunan PAD tidak selalu diikuti oleh faktor. Penulis mengasumsikan bahwa
peningkatan dan penurunan dari faktor yang paling dominan mempengaruhi
pendapatan dari sektor sumber daya alam, potensi penerimaan daerah Kabupaten
industri dan indeks sumber daya manusia. Lima Puluh Kota adalah pendapatan sektor
Fenomena di atas ini merupakan sumber daya alam, pendapatan sektor
indikasi dari kurang efektifnya pemerintah industri dan indeks sumber daya manusia.
dalam meningkatkan potensi penerimaan Dimana dengan adanya peningkatan dari

44
pendapatan sektor sumber daya alam, di samping kemampuan berdagang
pendapatan sektor industri dan peningkatan yang baik.
indeks sumber daya manusia akan Dari beberapa hal di atas kita yakin
meningkatkan juga potensi penerimaan otonomi daerah merupakan sistem
daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. pemerintahan yang pas dan dapat
Menurut Boediono (2002) bahwa meningkatkan kesejahteraan
potensi penerimaan daerah terdiri atas masyarakatnya. Namun semua potensi
variabel-variabel sebagai berikut : 1) yang dimiliki oleh Kabupaten Lima Puluh
PDRB sektor sumber daya alam (primer), Kota masih belum dapat digali seoptimal
2) PDRB sektor indsutri dan jasa lainnya mungkin, hal ini terlihat pada fluktuasi
pertumbuhan PAD sebagai mana terlihat
(non primer), 3) Besarnya angkatan kerja.
pada tabel di atas. Semua ini disebabkan
Jika kita lihat bahwa pemerintah masih rendahnya kontribusi yang diberikan
daerah Kabupaten Lima Puluh Kota oleh sumber daya manusia terhadap
mempunyai potensi yang tinggi untuk potensi sumber daya alam dan potensi
meningkatkan penerimaannya karena industri di Kabupaten Lima Puluh Kota,
daerah ini mempunyai sumber daya yang hal ini disebabkan masih rendahnya indeks
cukup untuk dikembangkan yaitu: sumber daya manusia (0,49) Kabupaten
1. Potensi sumber daya alam banyak hal Lima Puluh Kota dibandingkan indeks
ini dapat kita lihat dari: rendahnya indeks sumber daya manusia
a. Luasnya kebun gambir propinsi Sumatera Barat (0,70).
b. Luasnya kebun karet Tujuan penelitian ini adalah untuk
c. Adanya kebun sawit mengetahui dan menganalisis : 1)
d. Memiliki batu bara Pengaruh sumber daya alam dan sumber
e. Subur dan luas areal perkebunan daya manusia secara bersama-sama
f. Banyaknya perternakan unggas terhadap penerimaan daerah, 2) Pengaruh
g. Dan lain-lainnya sumber daya alam terhadap penerimaan
2. Sumber daya manusia dengan tingkat daerah, 3) Pengaruh sumber daya manusia
pendidikan cukup tinggi terhadap penerimaan daerah.
3. Letak daerah yang strategis, hubungan Secara konseptual dapat digambarkan
lancar dan luas kerangka berpikir penelitian ini adalah
4. Potensi lain yang cukup banyak seperti sebagai berikut
adanya industri Marmar dan batu bata

SDM (X1)

SDM (X2)

45
Penerimaan
Daerah (Y)

Gambar 1. Kerangka Konseptual


Adapun hipotesis yang akan diuji Metodologi Penelitian
pada penelitian ini adalah: 1) Sumber daya Jenis penelitian ini adalah penelitian
alam dan sumber daya manusia secara kuantitatif yang bersifat kausatif. Menurut
bersama-sama berpengaruh signifikan Sugiyono (2007:41) bahwa penelitian
terhadap penerimaan daerah, 2) Sumber kuantitatif yang bersifat kausatif dimana
daya alam berpengaruh signifikan terhadap berbicara dengan angka-angka serta
penerimaan daerah, 3) Sumber daya melihat pengaruh antara variabel bebas
manusia berpengaruh signifikan terhadap (independen) dengan variabel terikat
penerimaan daerah. (dependent). Jenis data yang digunakan
adalah data dokumenter yaitu data yang

46
sudah jadi yang memuat tentang periode 1980-2009. Total pendapatan
penerimaan daerah berupa pendapatan asli potensi penerimaan dari sektor sumber
daerah, sumber daya alam dan sumber daya alam ini akan dihitung dalam satuan
daya manusia. Data dokumenter ini rupiah.Sumber daya manusia yang
diperoleh dari laporan realisasi anggaran dimaksud pada penelitian ini adalah
pendapatan dan belanja daerah pada Badan jumlah angkatan kerja selama 30 tahun
Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) dan terakhir. Variabel potensi sumber daya
BPS Kabupaten Lima Puluh Kota selama manusia pada penelitian ini di ukur dalam
30 tahun terakhir (1980-2009) satuan jumlah orang. Teknik analisis data
Variabel penelitian ini terdiri dari dua untuk pengujian hipotesis adalah regresi
variabel bebas yaitu sumber daya alam berganda.
(X1), dan sumber daya manusia (X2) serta A. Hasil Uji Asumsi Klasik
satu variabel terikat yaitu penerimaan 1) Uji Multikolinearitas
daerah (Y). Penerimaan daerah yang Tujuan dilakukan pengujian ini
dimaksud pada penelitian ini total adalah untuk mengetahui apakah sesama
penerimaan daerah yang diukur dari variable independent terjadi korelasi atau
realisasi pendapatan asli daerah (PAD) hubungan antara satu variable dengan
selama 30 tahun terakhir yaitu tahun 1980- variable yang lain. Dalam menggunakan
2009. Total pendapatan asli daerah ini analisis regresi linear berganda maka data
akan dihitung dalam satuan rupiah. Sumber hasil penelitian tidak boleh mengalami
daya alam yang dimaksud pada penelitian multikolinearitas. Adapun hasil analisis
ini adalah total penerimaan dari sektor- data untuk uji multikolinearitas data
sektor yang termasuk dalam sumber daya penelitian adalah sebagai berikut :
alam selama 30 tahun terakhir yaitu
Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas
No Variabel Tolerence VIF
1 SDA (X1) 0,714 1,096
2 SDM (X2) 0,787 1,271
Sumber: Pengolahan data sekunder, 2013
Berdasarkan hasil olahan data disimpulkan bahwa tidak terjadi
diketahui bahwa nilai tolerance dari autokorelasi pada data hasil penelitian.
Collinearity Statistics mendekati 1 dan Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
nilai VIF (Variance Inflation Factor) untuk tidak ada korelasi antara kesalahan
semua variabel bebas di bawah 10. Hal ini pengganggu pada periode t dengan
menunjukkan bahwa tidak terdapat kasus kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya)
multikolinearitas antara sesama variabel sehingga data hasil penelitian dapat
bebas. dianalisis dengan analisis regresi linear
berganda.
2) Uji Autokorelasi 3) Uji Heteroskedastisitas
Autokorelasi digunakan apabila data Ujiheteroskedastisitasdilakukan
yang digunakan adalah data time series, untuk mengetahui apakah dalam sebuah
gunanya adalah untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varian
dalam sebuah model regresi linear ada dari residual atas suatu pengamatan ke
korelasi antara kesalahan pengganggu pada pengamatan lain. Adapun hasil analisis
periode t dengan kesalahan pada periode t- data untuk uji hetrroskedastisitasumber
1 (sebelumnya). Berdasarkan hasil daya alamta penelitian adalah sebagai
pengolahan data diperoleh nilai DW adalah berikut
sebesar 1,974. Dengan demikian dapat
Tabel 4. Hasil Uji Heterosksedastisitas
No Variabel Sig
1 SDA (X1) 0,091
2 SDM (X2) 0,557
Sumber : Pengolahan data sekunder, 2013
Berdasarkan analisis data untuk uji Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
heteroskedastisitas terlihat bahwa nilai Untuk membuktikan hipotesis yang
signifikansi dari semua variabel bebas diajukan, digunakan analisis regresi linear
adalah lebih besar dari tingkat signifikan berganda dengan pendekatan OLS
yang digunakan (  =0,05). Jadi (Ordinal Least Square). Hasil analis
dapat dikatakan bahwa data hasil penelitian regresi linear berganda yang telah penulis
tidak mengalami kasus heteroskedastsitas. lakukan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut
ini :
Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

No Variabel Koefisien t hitung Sig.


1 Kontanta - 13.054,082
2 SDA (X1) 41,702 2,288 0,003
3 SDM (X2) 79,057 0,121 0,213
Sumber : Pengolahan data primer, 2013
Nilai koefisien regresi masing- sebesar 41,702 dalam setiap satuannya.
masing variabel dapat tuliskan ke dalam Dengan asumsi variabel lain tidak
persamaan regresi linear berganda sebagai mengalami perubahan (ceteris paribus).
berikut: 3. Nilai koefisien regresi dari variabel
Yˆ = - 13.054,082 + 41,702 X1 + 79,057 sumber daya manusia (X2)adalah
X2 sebesar 79,057. Hal ini berarti dengan
Nilai koefisien dari masing-masing adanya peningkatan dari sumber daya
variabel dapat diartikan sebagai berikut : manusia dalam setiap satuannya akan
1. Nilai konstanta (a) sebesar - dapat meningkatkan nilai penerimaan
13.054,082berarti tanpa adanya daerah (Y) sebesar 79,057 dalam setiap
pengaruh dari sumber daya alam dan satuannya. Dengan asumsi variabel lain
sumber daya manusia maka nilai tidak mengalami perubahan (ceteris
penerimaan daerah hanyalah sebesar - paribus).
13.054,082. Tanda minus pada 4. Nilai R-Square) sebesar 0,817, hal ini
konstanta berarti nilai variabel berarti besarnya pengaruh dari sumber
penerimaan daerah sebelum daya alam dan sumber daya manusia
dipengaruhi sumber daya alam dan terhadap penerimaan daerah adalah
sumber daya manusia nilainya sangat 81,70% dan sisanya sebesar 28,30 %
kecil tetapi dengan adanya pengaruh
dipengaruhi oleh variabel lain yang
dari kedua variabel tersebut nilai dari
tidak masukan ke dalam model
variabel penerimaan daerah akan
mengalami peningkatan karena kedua penelitian.
variabel bebas mempunyai tanda 5. Nilai F hitung adalah 38,751 dengan
koefisien regresi positif. nilai signifikansi sebesar 0,000. Jika
2. Nilai koefisien regresi dari variabel nilai signifikansi dibandingkan dengan
sumber daya alam (X1)adalah sebesar alpha (  =0,05) maka terbukti bahwa
41,702. Hal ini berarti dengan adanya nilai signifikansi lebih kecil dari alpha
peningkatan sumber daya alam dalam (0,000 < 0,05). Hal ini berarti terdapat
setiap satuannya akan dapat pengaruh yang signifikan sumber daya
meningkatkan penerimaan daerah (Y) alam dan dan potensi sumber daya
manusia secara bersama-sama terhadap
sumber daya manusia maka akan dapat
penerimaan daerah. Dengan demikian meningkatkan penerimaan daerah.
hipotesis pertama dapat diterima pada
tingkat kepercayaan 95%.
6. Hasil analisis regresi linear berganda
diketahui bahwa nilai koefisien regresi
variabel potensi sumber daya alam (X1)
adalah sebesar 41,702dengan nilai
signifikansi sebesar 0,003. Jika nilai
signifikansi dibandingkan dengan
alpha (  =0,05), maka terbukti
bahwa
nilai signifikansi lebih kecil dari alpha
(0,003 < 0,05). Hal ini berarti terdapat
pengaruh yang signifikan sumber daya
alam terhadap penerimaan daerah.
Dengan demikian hipotesis kedua
dapat diterima pada tingkat
kepercayaan 95%. Tanda koefisien
regresi dari variabel sumber daya alam
yang bertanda positif menunjukkan
terjadi pengaruh yang searah dari
sumber daya alam terhadap penerimaan
daerah. Artinya semakin tinggi nilai
sumber daya alam yang dimiliki maka
semakin tinggi pula penerimaan
daerah.
7. Hasil analisis regresi linear berganda
diketahui bahwa nilai koefisien regresi
dari variabel sumber daya manusia
(X2) adalah 79,057dengan nilai
signifikansi 0,213. Jika nilai
signifikansi dibandingkan dengan
alpha (  = 0,05) maka terbukti
bahwa
nilai signifikansi lebih besar dari alpha
(0,213 > 0,05). Hal ini berarti tidak
terdapat pengaruh yang signifikan
sumber daya manusia terhadap
penerimaan daerah. Dengan demikian
hipotesis ketiga tidak dapat diterima
(Ha ditolak atau Ho diterima).
Pembahasan Hasil Penelitian
Pengaruh Sumber Daya Alam dan
Sumber Daya Manusia Secara Bersama-
Sama Terhadap Penerimaan Daerah

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis


pertama diketahui bahwa terdapat
pengaruh signifikan sumber daya alam dan
sumber daya manusia terhadap penerimaan
daerah. Dengan terjadinya peningkatan
sumber daya alamdan peningkatan dari
Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah menjelaskan untuk
menyelenggarakan otonomi daerah yang
luas, nyata dan bertanggung jawab
diperlukan kewenangan dan kemampuan
menggali sumber keuangan sendiri, yang
didukung oleh perimbangan keuangan
antar pemerintah pusat dan daerah serta
antar propinsi dan kabupaten atau kota
yang merupakan prasyarat sistem
pemerintah daerah.
Pendapatan Asli Daerah merupakan
suatu pendapatan yang di gali murni dari
masing-masing daerah, sebagai sumber
keuangan daerah yang digunakan untuk
membiayai pengadaan pembelian dan
pemeliharaan sarana dan prasarana
pembangunan daerah yang tercermin
dalam anggaran pembangunan.
Temuan penelitian ini konsisten
dengan pendapat Boediono (2002:61) yang
menyatakan bahwa apabila potensi sumber
daya alam, industri dan sumber daya
manusia semakin baik maka kemampuan
untuk mengoptimalkan penerimaan daerah
akan semakin baik.
Temuan penelitian ini didukung oleh
pendapat Mardiasmo (2004:49) bahwa
potensi penerimaan daerah dapat
ditingkatkan dengan cara menggali
sumber-sumber pendapatan daerah
diantaranya melalui peningkatan
pengelolaan sumber daya alam yang
tersedia, hal ini dimungkinkan terjadi
karena pada saat ini pemerintah daerah
pada umumnya kurang mampu mengelola
potensi sumber daya alam yang tersedia di
daerah.
Sepanjang potensi sumber keuangan
daerah belum mencukupi, pemerintah
pusat memberikan sejumlah sumbangan
kepada pemerintah daerah. Dengan
demikian bagi pemerintah daerah
Kabupaten Lima Puluh Kota, di samping
mendapat bantuan dari pemerintah pusat
juga mendapat limpahan dari pemda
Tingkat I Propinsi. Meskipun bisa jadi
limpahan dana dari propinsi tersebut juga
berasal dari pemerintah pusat lewat APBN.
Berbagai penelitian empiris yang pernah
dilakukan menyebutkan bahwa dari ketiga
sumber pendapatan daerah seperti tersebut pertumbuhannya, karena PAD merupakan
di atas, peranan dari pendapatan yang indikator penting untuk memenuhi tingkat
berasal dari pusat sangat dominan. kemandirian pemerintah di bidang
diharapkan dapat menjadi penyangga keuangan. Semakin tinggi peranan PAD
utama dalam pembiayaan pembangunan di terhadap APBD maka semakin berhasil
daerah hingga kualitas otonomi makin usaha pemerintah daerah dalam membiayai
baik. Untuk mewujudkannya UU No 33 penyelenggaraan pemerintahan dan
tahun 2004 memberi kewenangan lebih pembangunan daerah.
luas kepada daerah untuk mengelola Temuan penelitian ini membuktikan
keuangan dan diperkuat oleh UU No 32 bahwa dalam upaya peningkatan
Tahun 2004 untuk memacu pemerataan kemandirian daerah pemerintah daerah
pembangunan dan hasil-hasilnya, juga dituntut untuk mengoptimalkan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, potensi pendapatan yang dimiliki dan salah
menggalakkan prakarsa dan peran aktif satunya memberikan proporsi belanja
masyarakat dan meningkatkan modal yang lebih besar untuk
pendayagunaan potensi daerah secara pembangunan pada sektor-sektor yang
optimal dan terpadu secara nyata dan produktif di daerah. Tiga sektor yang perlu
bertanggung jawab. Untuk meningkatkan mendapat perhatian yaitu sektor sumber
kualitas otonomi diperlukan kemampuan daya alam, industri dan sumber daya
untuk menggali sumber keuangan sendiri. manusia. Apabila ketiga sektor dapat digali
Pemerintah daerah menuntut mampu secara optimal pada Kabupaten Lima
menggali potensi yang dimiliki daerahnya Puluh Kota tentunya akan menunjang
sebagai sumber penerimaan asli daerah terhadap peningkatan penerimaan daerah
dalam upaya meningkatkan kemandirian setiap tahunnya karena Pendapatan Asli
daerah. Daerah merupakan suatu pendapatan yang
Menurut Halim (2001:175) ciri digali murni dari masing-masing daerah,
utama suatu daerah mampu melaksanakan sebagai sumber keuangan daerah yang
otonomi adalah (1) kemampuan keuangan digunakan untuk membiayai pengadaan
daerah, yang berarti daerah tersebut pembelian dan pemeliharaan sarana dan
memiliki kemampuan dan kewenangan prasarana pembangunan daerah yang
untuk menggali sumber-sumber keuangan, tercermin dalam anggaran pembangunan.
mengelola dan menggunakan keuangannya
sendiri untuk membiayai penyelenggaraan Pengaruh Sumber Daya Alam Terhadap
pemerintahan; (2) Ketergantungan kepada Penerimaan Daerah
bantuan pusat harus seminimal mungkin, Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
oleh karena itu PAD harus menjadi sumber kedua diketahui bahwa terdapat pengaruh
keuangan terbesar yang didukung oleh yang signifikan positif sumber daya alam
kebijakan perimbangan keuangan pusat terhadap penerimaan daerah. Dimana
dan daerah. Kedua ciri tersebut akan dengan terjadinya peningkatan dari potensi
mempengaruhi pola hubungan antara sumber daya alam akan meningkatkan
pemerintah pusat dan daerah. Secara penerimaan daerah.
konseptual, pola hubungan keuangan Potensi sumber daya alam perlu
antara pemerintah pusat dan daerah harus ditingkatkan secara komprehensif agar
sesuai dengan kemampuan daerah dalam mengalami peningkatan yang berarti,
membiayai pelaksanaan pemerintahan. karena potensi sumber daya alam
Oleh karena itu, untuk melihat kemampuan berpengaruh signifikan positif terhadap
daerah dalam menjalankan otonomi penerimaan daerah. Dengan demikian
daerah, salah satunya dapat diukur melalui potensi tersebut perlu dioptimalkan
kinerja keuangan daerah pengelolaannya melalui kebijakan dengan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) memperhatikan dampak negatif dari
adalah salah satu sumber yang harus selalu pengelolaan tersebut.
dan terus menerus dipacu
Temuan penelitian ini konsisten menutup pengeluaran akibat kegiatan-
dengan teori yang dikemukakan oleh kegiatan tersebut, dengan tujuan utamanya
Kuncoro (2004:76) yang menyatakan untuk mencapai keseimbangan antara
bahwa sumber daya alam yang dimiliki berbagai pembagian berdasarkan potensi
suatu daerah akan menentukan tingkat dan sumber daya masing-masing daerah.
penerimaan daerah. Daerah yang memiliki Era Otda tidak disikapi baik oleh
sumber daya alam yang banyak dan dapat aparat Pemda, DPRD maupun warga
dikelola secara baik tentunya akan masyarakat dengan kematangan berfikir,
berkontribusi positif terhadap jumlah bersikap dan bertindak. Masing-masing
penerimaan daerah. elemen masyarakat lebih menonjolkan hak
Menurut Undang-Undang Nomor 25 dari pada kewajiban dalam mengatur dan
Tahun 1999 bahwa dalam rangka mengurus sesuatu yang menjadi
pembiayaan pelaksanaan desentralisasi, kepentingan umum. Dengan kata lain,
kepada daerah dialokasikan dana masing-masing lebih mengedepankan
perimbangan yang terdiri dari bagian egonya untuk kepentingan pribadi dan
daerah dari penerimaan pajak bumi dan kelompoknya.
bangunan (PBB), bea perolehan hak atas Pemahaman terhadap Otda yang
tanah dan bangunan (BPHTB), keliru, baik oleh aparat maupun oleh warga
penerimaan sumber daya alam (SDA), masyarakat menyebabkan pelaksanaan
dana alokasi umum (DAU) dan dana Otda menyimpang dari tujuan mewujudkan
alokasi khusus (DAK). Bagi daerah-daerah masyarakat yang aman, damai dan
yang mempunyai potensi sumber daya sejahtera. Keterbatasan sumberdaya
alam yang banyak, maka secara logika dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan
potensi sumber keuangannya akan lebih dana (pembangunan dan rutin operasional
besar dari daerah yang mempunyai sumber pemerintahan) yang besar, memaksa
daya alam yang kecil. Namun perlu Pemda menempuh pilihan yang
disadari bahwa potensi sumber daya alam membebani rakyat, misalnya memperluas
tersebut sebagian besar (terutama galian dan atau meningkatkan objek pajak dan
tambang) merupakan sumber keuangan retribusi, menguras sumberdaya alam yang
daerah yang bersifat terbatas tersedia, dll. Kesempatan seluas-luasnya
eksploitasinya dan tidak dapat diperbaharui yang diberikan kepada masyarakat untuk
(unrenewable), sehingga cepat atau lambat berpartisipasi dan mengambil peran, juga
sumber tersebut akan habis. sering disalahartikan, seolah-olah merasa
Kuncoro (2004:187) menyatakan diberi kesempatan untuk mengekspolitasi
bahwa pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya alam dengan cara masing-
energi mempunyai tujuan akhir yaitu masing semaunya sendiri.
kesejahteraan masyarakat (social welfare) Di pihak lain, Dewan Perwakilan
dengan tujuan antara sebagai sumber Rakyat Daerah (DPRD), yang seharusnya
devisa, pemenuhan kebutuhan manusia, berperan mengontrol dan meluruskan
pelestarian lingkungan, pembangunan segala kekeliruan implementasi Otda tidak
daerah/masyarakat dan pemerataan. menggunakan peran dan fungsi yang
Dengan demikian pengelolaan harus semestinya, bahkan seringkali mereka ikut
bersifat normatif dan seharusnya terhanyut dan berlomba mengambil untung
mempertahankan rasio cadangan dengan dari perilaku aparat dan masyarakat yang
pemakaian, harga yang wajar, royalty yang salah. Semua itu terjadi karena Otda lebih
wajar dan rasio K/L yang relatif seimbang. banyak menampilkan nuansa kepentingan
Menurut Devas, et.al (1989:179) pembangunan fisik dan ekonomi.
tujuan hubungan pusat dan daerah Akibatnya terjadi percepatan kerusakan
menyangkut pembagian tanggung jawab hutan dan lingkungan yang berdampak
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pada percepatan sumber daya air hampir di
tertentu antara tingkat pemerintahan dan seluruh wilayah tanah air. Eksploitasi
pembagian sumber penerimaan untuk hutan dan lahan yang tak terkendali juga
telah menyebabkan hancurnya habitat dan pada sektor perekonomian di luar
ekosistem satwa liar yang berdampak Kabupaten Lima Puluh Kota. Masih
terhadap punahnya sebagian varietas banyak angkatan kerja yang bekerja pada
vegetasi dan satwa langka serta mikro sektor informal yang tentunya tidak
organisme yang sangat bermanfaat untuk memberikan kontribusi terhadap
menjaga kelestarian alam. penerimaan daerah.
Temuan penelitian ini membuktikan Berdasarkan temuan penelitian
bahwa sumber daya alam yang cukup pemerintah daerah Kabupaten Lima Puluh
melimpah sampai pada saatnya untuk Kota perlu membuat kebijakan tentang
dimanfaatkan secara efisien dan harus pemanfaatan sumber daya manusia melalui
merujuk pada pengamanan lingkungan. Balai Latihan Kerja dan kebijakan untuk
Pemanfaatan sumber daya alam yang memotivasi angkatan kerja untuk mau
boros, maka di masa mendatang, kita akan bekerja pada sektor perekonomian yang
menjadi penonton dan kekurangan bahan ada di Kabupaten Lima Puluh Kota dan
baku. Kemudian diketahui bahwa sektor formal.
keberadaan hutan alam yaitu hutan
sekunder juga belum disentuh sama sekali. PENUTUP
Padang alang-alang, gulma pisang hutan Kesimpulan
(Abaca), eceng gondok juga tidak Berdasarkan hasil pembahasan maka
dimanfaatkan, bahkan menjadikan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
problema yang cukup serius. Sektor berikut :
perkebunan juga belum dimanfaatkan, 1. Terdapat pengaruh yang signifikan
seperti limbah tandan kosong sawit, SDA dan SDM terhadap penerimaan
pelepah, pohon karet yang tidak produktif. daerah. Dengan terjadinya peningkatan
Sektor perikanan yang sampai saat ini, dari nilai SDA, dan peningkatan dari
system pengolahan pasca panen ikan hanya SDM maka akan dapat meningkatkan
dibuat ikan asin secara tradisional dan penerimaan daerah. Temuan penelitian
tidak jarang ikan asin disemprot minyak ini membuktikan bahwa tinggi
tanah atau baygon untuk tujuan tertentu. rendahnya tingkat penerimaan daerah
Pasca panen buah pisang, durian, rambutan setiap periode akan dipengaruhi oleh
juga belum diatasi secara baik. Buah-buah sumber daya alam dan sumber daya
tersebut hanya dipasarkan secara manusia..
tradisional dan belum ada industri pasca 2. Terdapat pengaruh yang signifikan
panen/sistem pengolahan di Kabupaten positif potensi SDA terhadap
Lima Puluh Kota. penerimaan daerah. Dimana dengan
terjadinya peningkatan dari potensi
Pengaruh Sumber Daya Manusia SDA akan meningkatkan penerimaan
Terhadap Penerimaan Daerah daerah. Dari temuan penelitian ini
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa potensi penerimaan
ketiga diketahui bahwa sumber daya pada sektor sumber daya alam akan
manusia tidak berpengaruh signifikan mempengaruhi tingkat penerimaan
terhadap penerimaan daerah.Dari temuan daerah, dimana dengan terjadinya
penelitian ini diketahui bahwa potensi peningkatan dari pendapatan sektor
sumber daya manusia yang ada di sumber daya alam tentunya akan
Kabupaten Lima Puluh Kota tidak meningkatkan penerimaan daerah..
mempengaruhi penerimaan daerah 3. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
Kabupaten Lima Puluh Kota mulai dari ketiga diketahui bahwa tidak terdapat
tahun 1980 sampai tahun 2009. Hal ini pengaruh yang signifikan dari potensi
disebabkan sedikitnya angkatan kerja yang SDM terhadap penerimaan daerah di
bekerja di sektor perekonomian yang ada Kabupaten Lima Puluh Kota. Dimana
di Kabupaten Lima Puluh Kota. dengan terjadinya peningkatan dari
Sebahagian besar angkatan kerja bekerja potensi SDM belum tentu
meningkatkan penerimaan daerah di potensi sumber daya manusia agar
Kabupaten Lima Puluh Kota. dapat memberi kontribusi terhadap
penerimaan daerah melalui kebijakan
Implikasi Kebijakan yang mampu meningkatkan motivasi
Berdasarkan pembahasan hasil mau bekerja di sektor perekonomian
penelitian ini maka implikasi kebijakan yang ada di Kabupaten Lima Puluh
yang dapat diambil adalah sebagai berikut : Kota dan bekerja di sektor sumber
1. Pemerintah daerah Kabupaten Lima daya alam dan sektor industri serta mau
Puluh Kota perlu mengambil kebijakan berpindah dari sektor informal ke
dalam usaha meningkatkan penerimaan sektor formal dan kebijakan untuk
daerah melalui peningkatan dari sektor menarik angkatan kerja mau bekerja di
sumber daya alamdan sumber daya Kabupaten Lima Puluh Kota dengan
manusia. Untuk meningkatkan jaminan perlindungan hukum (Perda).
penerimaan daerah dari ketiga potensi
tersebut perlu dilahirkan payung DAFTAR PUSTAKA
hukumnya dalam bentuk Perda dan
Keputusan Bupati Kabupaten Lima 10.22202/economica.2014.v3.i1.235
Puluh Kota.
2. Pemerintah daerah Kabupaten Lima Boediono. 2002. Dana Alokasi Umum :
Puluh Kota bersama Dewan Konsep, Hambatan dan Prospek di
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Era Otonomi Daerah. Jakarta : Buku
perlu membuat kebijakan untuk Kompas
meningkatkan penerimaan daerah Halim, Abdul. 2001. Analisis Deskriptif
dengan mengoptimalkan penerimaan Pengaruh Fiscal Stress pada APBD
dari sektor potensi sumber daya alam Pemerintah Kabupaten dan Kota di
dengan selalu memperhatikan Jawa Tengah. KOMPAK STIE YO.
ekosistem disertai payung hukumnnya Yogyakarta. Hal: 127-146.
(Perda). Kuncoro, Mudrajat. 2004. Otonomi dan
3. Pemerintah daerah Kabupaten Lima Pembangunan Daerah : Reformasi,
Puluh Kota perlu melakukan berbagai Perencanaan, Strategi dan Peluang.
upaya yang dapat mendorong Penerbit Erlangga.
berdirinya industri-industri baru dan Mardiasmo. 2004. Otonomi dan
meningkatkan industri yang sudah ada Manajemen Keuangan Daerah.
melalui kebijakan dan mencari peluang Yogyakarta: Penerbit Andi.
pasar serta meningkatkan kemampuan Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
bersaing, meningkatkan modal serta Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D.
mencari peluang ekspor dari komoditi Alfabeta :Bandung
andalan yang ada di Kabupaten Lima UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 33
Puluh Kota serta meningkatkan Tahun 2004 Tentang Pemerintah
investasi dari luar dengan payung Daerah
hukum (Perda). Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999
4. Pemerintah daerah Kabupaten Lima pasa 3, tentang perimbangan keuangan
Puluh Kota harus berupaya semaksimal antara pemerintah pusat dan daerah
mungkin untuk peningkatan dari