Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : Tn. F
Umur : 35 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Wawonii Timur
Suku : Buton
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Tanggal Berobat : 31 Desember 2018
No. Register : 07 XX XX
Dokter Muda Pemeriksa : Nurul Aulia Humairah Halim
B. ANAMNESIS
Keluhan utama : Nyeri pada mata kanan
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke RS diantar dengan keluarga, pasien mengaku 2 bulan lalu
mata kanannya terkena serpihan gurinda di tempat kerja, pasien menggosok-gosok
matanya sejak hari itu dan menimbulkan mata merah dan berair, alih-alih pergi ke
dokter pasien malah menetesken obat tetes mata yang dibelinya sendiri. 3 minggu
lalu penglihatan pasien masih baik, namun sejak 2 hari yang lalu penglihatan
pasien sangat menurun dan hanya bisa melihat lambaian tangan serta mata
kanannya mengeluarkan nanah
 Riwayat trauma pada mata 2 bulan yang lalu
 Riwayat penyakit mata : Pasien tidak memiliki penyakit mata lain sebelumnya
 Riwayat penggunaan kaca mata disangkal
 Riwayat penyakit terdahulu: Hipertensi, stroke, dan diabetes melitus disangkal
 Riwayat keluarga : Memiliki keluhan serupa disangkal.
 Riwayat pengobatan sebelumnya: Menggunakan cendo xytrol di mata kanan

1
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status present
Kesadaran kompos mentis, sakit ringan, status gizi kesan baik.
2. Status ophtalmologis
a. Inspeksi
Pemeriksaan OD OS

Palpebra Blepharospasme (+)Edema(-)Hiperemis(-) Ptosis (-)Edema (-), Hiperemis (-)


Sekret Sekret (-) Sekret (-)
App. Lakrimalis Lakrimasi (+) Lakrimasi (-)
Silia Madarosis(-)Sikatrik(-) Madarosis(-)Sikatrik(-)
Konjungtiva Edema (-), Hiperemis (+) Edema (-), Hiperemis (-)

Mekanisme Bergerak kesegala arah Bergerak kesegala arah


muscular bola
mata

Kornea Edema(+)Ulkus(+)
Edema(-)Ulkus(-)
.
Bilik mata depan Tidak dapat dinilai Kesan normal
Iris Tidak dapat dinilai Coklat, kripte (+)
Pupil Tidak dapat dinilai Bulat, Sentral, Diameter 2,5 mm,
RC(+)
Lensa Tidak dapat dinilai Jernih

b. Palpasi
Pemeriksaan OD OS

Tensi Okuler N N
Nyeri Tekan Kesan (-) Kesan (-)
Massa Tumor Kesan (-) Kesan (-)
Glandula Periaurikuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)
c. Tonometri : Tidak dilakukan pemeriksaan
d. Visus : VOD (1/300) VOS (6/6)

2
e. Penyinaran Obliq
Pemeriksaan OD OS
Konjungtiva Edema (-), hiperemis (+) Edema (-), Hiperemis (-)
Kornea Ulkus(+) sentral d:2mm Jernih
Bilik mata depan Sulit dinilai Normal
Iris Sulit dinilai Coklat, kripte (+)
Pupil Sulit dinilai Bulat, Sentral, Diameter
2,5 mm, RC(+)
Lensa Sulit dinilai Jernih
f. Campus Visual : Tidak dilakukan pemeriksaan
g. Colour Sense : Test Ishihara (-)
h. Funduskopi : Refleks fundus (sulit dinilai), Perdarahan retina (-)
i. Slit Lamp : SLODS: Palpebra spasm(+/-),silia sekret(-/),konjung-
tiva hiperemis (+/-), Kornea jernih (-/+), BMD (sulit
dinilai/normal) iris coklat kripte (sulit dinilai/+),
pupil bulat isokor (sulit dinilai/2,5mm), RC (sulit
dinilao/+), lensa jernih (sulit dinilai/+)
j. Laboratorium : DBN
D. RESUME
Laki-laki 35 tahun datang diantar keluarga dengan keluhan nyeri pada mata
kanan sejak 2 bulan lalu. Keluhan ini dirasakan setelah terkena serpihan gurinda
ditempat kerja, awalnya setelah terkena serpihan gurinda, pasien merasa nyeri,
mata merah dan berair sehingga pasien menggosok-gosok matanya, namun sejak
2 hari yang lalu penglihatan pasien sangat menurun dan nyeri berlanjut. Riwayat
pengobatan sebelumnya (+). Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum:
kesadaran kompos mentis, sakit ringan, status gizi kesan baik. Pada pemeriksaan
opthalmologis di dapatkan VOD 1/300 dan VOS 6/6. Pada OD didapatkan
konjungtiva palpebra dan bulbi sangat hiperemis, dan hiperlakrimasi, kornea
didapatkan ulkus di sentral kornea, iris, pupil, lensa sulit dinilai.
E. DIAGNOSIS
OD ulkus kornea ec susp bakteri

3
F. PENATALAKSANAAN
1. Rujuk ke rumah sakit tipe B
2. Ciprofloxacin tab 750 mg, 2 dd 1
3. LFX ED 8 dd gtt 1 OD
4. Eyefresh ED 8 dd gtt 1 OD
k. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad fungsionam : Dubia ad malam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
l. GAMBAR KLINIS

Gambar 1. Mata kanan pasien

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI dan FISIOLOGI KORNEA


Kornea (latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian
selaput mata yang tembus cahaya. Kornea transparan (jernih), bentuknya hampir
sebagian lingkaran dengan diameter vertikal 10-11 mm, horizontal 11-12 mm,
tebal 0,6-1 mm dan terdiri dari 5 lapis, indeks bias 1,375 dengan kekutan
pembiasan 80%.
Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea
yang uniform, avaskuler dan diturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan
kornea, yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh
fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam
mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi/fisik pada endotel jauh lebih berat
daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat
transparan hilang dan edema kornea di mana trauma atau penyakit yang merusak
endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga
dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya
regenerasi, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat
karena akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel. Kornea dipersarafi oleh
N.V yang berfungsi sebagai media penglihatan. Kornea juga mempunyai sedikit
immunoglobulin. Peradangan dapat terjadi di darah limbus atau adanya bagian
kornea yang rusak (Ilyas dan Yulianti, 2015).
Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutup bola mata sebelah depan
dan terdiri atas 5 lapisan: (Ilyas dan Yulianti, 2015).
1. Epitel kornea
Tersusun atas epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Lapisan ini merupakan
lapisan terluar kornea, merupakan lapisan yang lipofilik. Epitel kornea
mengandung banyak serabut saraf, oleh karena itu kelaianan pada epitel akan
menyebabkan gangguan sensibilatas korena dan rasa sakit dan mengganjal.
Daya regenerasi cukup besar, perbaikan dalam beberapa hari tanpa
membentuk jaringan parut.

5
2. Membrana Bowman
Merupakan lapisan fibrosa yang terletak di bawah membran basal epitel
kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma
dan berasal dari bagian depan stroma. Mempertahankan bentuk kornea, tidak
mempunyai daya regenerasi, sehingga jika terjadi kerusakan akan berakhir
dengan terbentuknya jaringan parut.
3. Stroma
Lapisan yang paling tebal. Merupakan lapisan yang hidrofilik. Terdiri atas
jaringan kolagen, substansi dasar, dan fibroblas, avaskular. Gangguan dari
susunan serat kornea terlihat keruh. Waktu regenerasi serat kolagen pada
stroma bias mencapai 15 bulan.
4. Membran Descemet
Lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat dan tidak berstruktur dan bening
terletak dibawah stroma dan pelindung atau barrier infeksi. Bersifat sangat
elastis dan berkembang terus seumur hidup.

Gambar 2. Lapisan Kornea


(Sumber: Heiting, G. 2017)
5. Endotel
Satu lapis sel terpenting untuk mempertahankan kejernihan kornea,
mengatur cairan didalam stroma kornea, tidak mempunyai daya regenerasi.

6
B. DEFINISI
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian
jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek
kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel
sampai stroma (Novita, 2015).
C. EPIDEMIOLOGI
Di Amerika, ulkus kornea merupakan penyebab tersering kebutaan dengan
insidensi 30.000 kasus pertahun. Faktor predisposisi terjadinya ulkus kornea
antara lain trauma, pemakaian lensa kontak, riwayat operasi kornea, penyakit
permukaan okular, pengobatan topikal lama dan penyakit imunosupresi sistemik.
Di Indonesia, Insiden ulkus kornea tahun 2013 adalah 5,5% dengan prevalensi
tertinggi di Bali (11,0%) (Rahayu, 2016).
Petani/nelayan/buruh mempunyai prevalensi kekeruhan kornea tertinggi
(9,7%) dibanding kelompok pekerja lainnya. Prevalensi kekeruhan kornea yang
tinggi pada kelompok pekerjaan petani/nelayan/buruh mungkin berkaitan dengan
riwayat trauma mekanik atau kecelakaan kerja pada mata, mengingat pemakaian
alat pelindung diri saat bekerja belum optimal dilaksanakan di Indonesia (Rahayu,
2016).
D. ETIOLOGI
1) Infeksi
a) Infeksi bakteri (Farida Y, 2016).
P. aeruginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella
merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk
sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar
bersifat mukopurulen yang bersifat khas menunjukkan infeksi P
aeruginosa.
b) Infeksi jamur
Disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan
spesies mikosis fungoides
c) Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk
khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang

7
bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk
disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya
varicella-zoster, variola, vacinia (jarang) (Farida Y, 2016).
d) Achantamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam air
yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi
kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada
pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam
buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensa
kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar
2) Non-infeksi
a) Bahan kimia (Farida, 2016).
1. Asam
Bila bahan asam mengenai mata, maka akan terjadi pengendapan
protein pada permukaan, jika konsentrasinya rendah maka tidak
bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja.
Trauma kimia asam adalah trauma pada kornea dan konjungtiva yang
disebabkan karena adanya kontak dengan bahan kimia asam yang
dapat menyebabkan kerusakan permukaan epitel bola mata, kornea
dan segmen anterior yang cukup parah serta kerusakan visus permanen
baik unilateral maupun bilateral. Sebagian besar bahan asam hanya
akan mengadakan penetrasi terbatas pada permukaan mata, namun bila
penetrasi lebih dalam dapat membahayakan visus. Asam sulfat
merupakan penyebab paling sering dari seluruh trauma kimia asam.
Asam bereaksi dengan air mata yang melapisi kornea dan
mengakibatkan temperatur meningkat (panas) dan menyebabkan luka
bakar kornea. Semua asam cenderung akan mengkoagulasi dan
mengendapkan protein. Sel-sel yang terkoagulasi pada permukaan
berfungsi sebagai penghalang agar cairan kimia tidak berpenetrasi
lebih dalam.

8
2. Basa
Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang
mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan
terjadi penghancuran kolagen kornea. Trauma basa biasanya lebih
berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa memiliki dua
sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat
berpenetrasi pada sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan
sampai retina. Selain itu karena adanya iskemia limbus suplai nutrisi
berkurang sehingga menyebabkan tidak terjadinya reepitelisai kornea
dan pada akhirnya dapat timbul sikatrik pada kornea.
b) Abrasi kornea (Tubert, 2018).
Goresan pada kornea atau trauma menyebabkan abrasi jika tidak sembuh
dengan baik, defek yang terjadi pada mata akan menimbulkan ulkus yang
akan berakibat pada penurunan tajam penglihatan. Pemakaian lensa
kontak sangat rentan terhadap iritasi mata, lensa kontak dapat bergesekan
dengan permukaan bola mata, menyebabkan kerusakan kecil pada epitel
yang memungkinkan bakteri menembus mata.
c) Autoimun
Rheumatoid arthritis, sjorgen sindrom, Systemic lupus eritematous (SLE)
E. KLASIFIKASI (Farida, 2015).
1) Ulkus kornea bakterial
Streptokokus: Gambaran ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah
kornea(serpiginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram
dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan
menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh
streptokok pneumonia.
Stafilokokus: Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih kekuningan
disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati
secara adekuat, akan terjadi edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun
terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.

9
Pseudomonas: Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. Ulkus
sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyebaran ke
dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. Gambaran
berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan
berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam
bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak.

Gambar 3. Ulkus kornea bakterial Gambar 4. Ulkus kornea bakterial


(staphylococcus) (pseudomonas)
(Sumber: Sharma dan Vajpayee, 2008) (Sumber: Sharma dan Vajpayee, 2008)

2) Ulkus kornea virus


Ulkus kornea herpes zoster: Pada palpebra ditemukan vesikel dan edem
palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat
subepitel dan stroma. Kornea hiperestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan yang
berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Dendrit herpes
zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah yang mengikuti
dermatom.
Ulkus kornea herpes simplex: Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda
injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan
epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit. Terdapat hiperestesi pada kornea
secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel.
Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin
dengan benjolan diujungnya.
3) Ulkus kornea jamur
Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang
agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti
bulu pada bagian epitel yang baik, terdapat lesi satelit. Ulkus kadang-kadang

10
dalam, seperti ulkus yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk
ulkus lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat
rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.
4) Ulkus kornea achantamoeba
Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya,
kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen,
cincin stroma, dan infiltrat perineural.
5) Ulkus kornea perifer
Ulkus marginal: Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk
simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada
infeksi stafilococcus, toksik atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza
disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin
atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut,
sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.
Ulkus mooren: Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea
kearah sentral. Ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya
sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu
adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya
unilateral, dan nyeri hebat. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan
kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral.
Ulkus ring: Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat
ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa
dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi. Ulkus marginal yang
banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer.

Gambar 5. Ulkus marginal Gambar 6. Ulkus kornea jamur


(Sumber: Farida, 2015) (Sumber: Farida, 2015)

11
F. PATOFISIOLOGI dan MANIFESTASI KLINIS (Farida, 2015; Tubert, 2018).
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina. Perubahan dalam bentuk dan
kejernihan kornea mengganggu pembentukan bayangan di retina. Oleh karenanya,
kelainan sekecil apapun di kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan.
Kornea bagian mata yang avaskuler, bila terjadi infeksi maka proses infiltrasi dan
vaskularisasi dari limbus baru akan terjadi 48 jam kemudian. Badan kornea,
wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja
sebagai makrofag, kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang
terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi perikornea (Farida, 2016).
Selanjutnya terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN) yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus kornea (Farida, 2015).
Adapun manifestasi klinis ulkus kornea yaitu:
1) Hiperlakrimasi
2) Fotofobia
3) Blefarospasme
4) Mata merah
5) Nyeri pada mata
6) Sensasi benda asing pada mata
7) Sekret mukopurulen
8) Penglihatan kabur
9) Edema palpebra
10) Terlihat bercak putih pada kornea
G. DIAGNOSIS (Basic and clinical science course, 2009).
Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan
pemeriksaan penunjang. Keberhasilan pengobatan ulkus kornea tergantung pada
ketepatan diagnosis, penyebab infeksi dan besarnya kerusakan yang terjadi.
Adapun jenis pemeriksaan yang dapat membantu penegakan diagnosis adalah:

12
1) Anamnesis
Dari anamnesis, didapatkan gejala seperti yang telah dituliskan pada bagian
manifestasi klinis diatas, adanya trias kornea berupa hiperlakrimasi, fotofobia
dan blefarospasme. Juga ditanyakan adanya riwayat trauma, kemasukan benda
asing, pemakaian lensa kontak dan adanya penyakit autoimun.
2) Pemeriksaan fisis
Visus: jika mengenai visual aksis maka akan didapatkan penurunan visus
Slit lamp: iris, pupil dan lensa sulit dinilai oleh karena adanya kekeruhan pada
kornea terutama jika lesi ulkus merupakan lesi sentral, injeksi konjungtiva
ataupun perikorneal. Lesi khas yang telah disebutkan sebelumnya, tergantung
penyebab.
3) Pemeriksaan penunjang
Tes fluoresein: pada ulkus kornea didapatkan hilangnya sebagian permukaan
kornea, warna hijau menunjukkan daerah defek pada kornea, sedangkan warna
biru menunjukkan daerah yang intak.
Pewarnaan gram dan KOH: untuk menentukan mikroorganisme penyebab
ulkus, oleh jamur.
Kultur: untuk menentukan jenis bakteri penyebab ulkus, dan sebagai tes
sensitivitas antibiotik.
H. PENATALAKSANAAN
1) Penatalaksanaan non-medikamentosa (Rahim, 2017).
a. Jika memakai lensa kontak, segera lepaskan
b. Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
c. Cegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan
mengeringkannya dengan kain yang bersih
2) Penatalaksanaan medis (Farida, 2016).
a. Pengobatan sistemik
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum
yang kurang baik, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan
makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat.

13
b. Pengobatan lokal
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus di berikan:
1. Sulfas atropine, kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama
1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropin: menurunkan tanda-tanda radang,
menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan
lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodasi sehingga
mata dalam keadaan istirahat.
2. Analgetik, untuk menghilangkan nyeri, dapat diberikan tetes pantokain.
3. Antibiotik salep, tetes atau injeksi subkonjungtiva spektrum luas. Pada
pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat
memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi
kornea kembali.
4. Anti jamur, seperti topikal amphotericin B, Thiomerosal 10 mg/ml,
Natamycin >10 mg/ml, golongan Imidazole
5. Anti virus, untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik
diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik,
antibiotik spektrum luas untuk infeksi sekunder, analgetik bila terdapat
indikasi (Farida Y, 2016).
3) Pembedahan (Farida, 2016; Deschenes, 2019).
a. Reseksi jaringan
Reseksi jaringan untuk menghilangkan sumber kolagenase, sitokin dan
sel-sel inflamasi dari jaringan yang terkena ulkus.
b. Perekatan jaringan
Pengaplikasian perekat jaringan seperti lem cyanoacrylate untuk
membatasi ulkus agar tidak terjadi perforasi, kemungkinan efektif hanya
pada perforasi kecil.
c. Flap konjungtiva
Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan melepaskan
konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus
dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk

14
mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini
dapat dilepaskan kembali.
d. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak
berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu
penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam
penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu: kemunduran visus
yang cukup menggangu aktivitas penderita, kelainan kornea yang
mengganggu mental penderita, kelainan kornea yang tidak disertai
ambliopia.
I. PENCEGAHAN (Rahim, 2017).
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi
kepada ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak
kecil pada kornea dapat mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang
sangat buruk bagi mata.
- Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata,
apalagi jika bekerja di tempat yang kemungkinan besar mengalami cedera
pada mata
- Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa
menutup sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan
basah
- Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan
merawat lensa tersebut
J. KOMPLIKASI (Farida, 2016).
a. Endoftalmitis
b. Panoftalmitis
c. Perforasi kornea
d. Prolaps iris
e. Sikatrik kornea
f. Glaukoma sekunder

15
K. PROGNOSIS
Prognosis penderita ulkus kornea buruk karena komplikasi yang dapat
terjadi berupa perforasi kornea, endopthalmitis, panopthalmitis. Apabila
sembuh maka akan menyebabkan terbentuknya sikatriks kornea yang juga
akan mengganggu penglihatan penderita (Wirata, 2017).

16
BAB III
PEMBAHASAN

Laki-laki 35 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada mata kanan
sejak 2 bulan lalu. Keluhan ini dirasakan setelah terkena serpihan gurinda ditempat
kerja, awalnya setelah terkena serpihan gurinda, pasien merasa nyeri, mata merah
dan berair sehingga pasien menggosok-gosok matanya, namun sejak 2 hari yang
lalu penglihatan pasien sangat menurun dan nyeri berlanjut. Riwayat keluhan yang
sama sebelumnya (-), riwayat pengobatan sebelumnya (+), riwayat penyakit lain
disangkal Keluhan pasien diatas sesuai dengan kepustakaan ulkus kornea bahwa
ulkus kornea menyebabkan nyeri karena terdapat banyak serabut saraf pada
kornea.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan keadaan umum: kesadaran kompos mentis,
sakit ringan, status gizi kesan baik. Pada pemeriksaan opthalmologis di dapatkan
blepharospasme, konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi sangat hiperemis,
hiperlakrimasi, pada kornea didapatkan ulkus di sentral disertai hipopion, iris,
pupil, lensa sulit dinilai. Pemeriksaan visus didapatkan VOD 1/300 dan VOS 6/6.
Gangguan penglihatan yang terjadi pada pasien ini dikarenakan ulkus terletak di
sentral dan mengenai visual aksis yang mana mengganggu pembiasan cahaya yang
masuk ke mata sehingga cahaya tidak dapat difokuskan ke retina. Terjadi
blepharospasme karena pasien merasa silau. Adanya mata merah dan
hiperlakrimasi atau mata berair dikarenakan adanya proses inflamasi yang
menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yang dilakukan, jenis ulkus pada pasien
ini mengarah pada ulkus kornea bakterial. Pada ulkus kornea bakterial lesi ulkus
merupakan tipe sentral, dan umunya terdapat hipopion. Pada ulkus kornea karena
virus biasanya didapatkan riwayat penggunaan kortikosteroid jangka panjang,
disertai dengan adanya lesi vesikel pada kulit, dan terjadi penurunan sensitivitas
kornea. Pada ulkus kornea karena jamur, khas terdapat lesi berupa satelit.

17
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan bisa dengan menggunakan
kultur untuk mengetahui jenis dari bakteri penyebab ulkus kornea pada pasien dan
tes sensitivitas antibiotik untuk mengetahui golongan antibiotik yang sesuai untuk
pasien. Hal ini dapat membantu dalam pemilihan terapi yang adekuat. Untuk
penanganan awal bisa menggunakan antibiotik spektrum luas, topikal maupun
sistemik seperti yang diresepkan pada kasus ini yaitu ciprofloxacin tablet dan
levofloxacin tetes mata.
Prognosis pada pasien ini mengarah ke buruk, karena gambaran klinis ulkus
yang luas dan sudah disertai hipopion, juga komplikasi yang dapat timbul seperti
endoftalmitis, panoftalmitis, bahkan perforasi dan jika dapat sembuh akan
menimbulkan sikatrik yang dapat mengganggu penglihatan, dan jika dilakukan
keratoplasti maka harus menunggu adanya donor jika menggunakan teknik
alograft.

18
DAFTAR PUSTAKA
Basic and Clinical Science Course. 2009. External Disease and Cornea Part 1, Section
8. American Academy of Ophtalmology. USA.

Deschenes, J. 2019. Corneal Ulcer Treatment & Management. Diakses pada tanngal
9 januari 2019, melalui http://emedicine.medscape.com/article/1195680-
treatment#showall

Farida, Y. 2015. Corneal Ulcers Treatment. Fakultas Kedokteran Universitas


Lampung. Majority 4(1):119

Heiting, G. 2017. Cornea of the eye. Diakses pada tanngal 8 januari 2019, melalui
http://www.allaboutvision.com/resurces/cornea.htm

Ilyas, S., Yulianti, SR. 2015. Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Jakarta. Badan Penerbit FK
UI.

Knobbe, CA. 2016. Corneal Ulcers – Causes and Treatment. Diakses pada tanngal 9
januari 2019, melalui http://www.allaboutvision.com/conditions/corneal-
ulcer.htm

Novita, D. 2015. Pengobatan Rasional pada Ulkus Kornea Bakteri. Semarang. SMF
ilmu kesehatan mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro 3(1): 70-72.

Rahayu, R. 2016. Ulkus Kornea dan Prolaps Iris. Fakultas Kedokteran Universitas
Lampung. Lampung. Medula Unila 5(2): 1

Rahim, N. 2017. Ulkus Kornea Bakterial. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

Sharma, N., Vajpayee, RB. 2008. Corneal Ulcers Diagnosis and Management. India.
Jaypee Brothers Medical Publishers.

Tubert, D. 2018. What is Corneal Ulcers. Diakses pada tanngal 9 januari 2019, melalui
http://www.aao.org/eye-health/disease/corneal-ulcer

Wirata, G. 2017. Ulkus Kornea. Fakultas kedokteran Universitas Udayana. Bali

19