Anda di halaman 1dari 3

HIPERPLASIA

Hiperplasia adalah peningkatan jumlah sel yang terjadi ppada suatu organ akibat peningkatan
mitosis. Hyperplasia dijumpai pada sel-sel yang dirangsang oleh peningkatan beban kerja, sinyal
hormon, atau sinyal yang dihasilkan secara lokal sebagai respon terhadap penurunan kepadatan
jaringan. Hyperplasia hanya dapat terjadi pada sel-sel yang mengalami mitosis, misalnya sel,
hati, ginjal, dan jaringan ikat. Hyperplasia dapat bersifat fisiologis, patologis, atau dapat terjadi
sebagai kompensasi terhadap kehilangan atau jaringan cedera jaringan.

Hyperplasia fisiologis terjadi setiap bulan pada sel endometrium uterus selama stadium
folikular pada siklus menstruasi.

Hyperplasia patologis dapat terjadi akibat perangsangan hormon yang berlebihan. Hal ini
dijumpai pada akromegal, suatu penyakit jaringan ikat yang ditandai oleh kelebihan hormon
pertumbuhan.

Hiperplasia kompensasi terjadi ketika sel jaringan berproduksi untuk mengganti jumlah
sel yang sebelumnya mengalami penurunan. Hyperplasia ini dijumpai disel hati, setelah
pengangkatan sebagian jaringan hati melalui pembedahan. Hyperplasia kompensasi terjadi
dengan kecepatan yang sangat mencolok.

METAPLASIA

Metaplasia adalah perubahan sel dari satu subtype ke subtype lainnya. Metaplasia biasanya
terjadi sebagai respon terhadap cedera atau iritasi kontinu yang menghasilkan peradangan kronis
pada jaringan. Dengan mengalami metaplasia, sel-sel yang lebih mampu bertahan terhadap iritasi
dan peradangan kronik akan menggantikan jaringan semula. Walaupun sel metaplastik bukan
merupakan sel kanker, namun iritan yang menyebabkan perubahan awal tersebut bersifat
karsinogenik dan metaplasia adalah sebuah tanda iritasi selular yang signifikan.

Contoh metaplasia yang paling umum adalah perubahan sel saluran pernapasan dari sel
saluran pernapasan dari sel epitel kolumnar bersilia menjadi sel epitel skuamosa bertingkat
sebagai respon terhadap merokok jangka panjang. Sel bersilia, yang penting untuk mengeluarkan
kotoran, mikroorganisme, dan toksin disaluran pernapasan, mudah mengalami cedera olehb asap
rokok. Sel epitel bertingkat lebih mampu bertahan terhadap kerusakan asap rokok. Sayangnya
sel-sel ini tidak memiliki peran pelindung seperti sel-sel bersilia. Karsinoma sel skuamosa adalah
jenis kanker paru tersering di Amerika Serikat.
DISPLASIA

Dysplasia adalah kerusakan pertumbuhan sel yang menyebabkan lahirnya sel yang berbeda
ukuran, bentuk, dan penampakannya dibandingkan sel asalnya. Dysplasia tampak terjadi pada sel
yang terpajan iritasi dan peradangan kronik. Walaupun perubahan sel ini tidak bersifat kanker,
dysplasia adalah indikasi adanya suatu situasi berbahaya dan terdapat kemungkinan timbulnya
kanker.

Tempat tersering terjadinya dysplasia adalah saluran pernapasan (terutama sel skuasoma
yang muncul akibat metaplasia) dan serviks wanita. Dysplasia serviks biasanya terjadi akibat
infeksi sel oleh virus papiloma manusia (human papilloma virus, HPV). Dysplasia biasanya
diklasifikasikan dalam suatu skala untuk menggambarkan derajatnya, dari ringan sampai berat.

CEDERA SEL

Cedera sel terjadi apabila suatu sel tidak lagi dapat beradaptasi terhadap rangsangan. Hal ini
dapat terjadi bila rangsangan tersebut terlalu lama atau terlalu berat. Sel dapat pulih dari cedera
atau ….. bergantung pada sel tersebut dan besar serta jenis cedera.

Hipoksia (kekurangan oksigen), infeksi mikroorganisme, suhu yang berlebihan, trauma


fisik, radiasi, dan terpajan oleh radikal beban semuanya menyebabkan cedera sel. Apabila suatu
sel mengalahkan cedera, maka sel tersebut dapat mengalami perubahan dalam ukuran, bentuk,
sintetis protein, susunan genetic, dan sifat transportasinya.

KEMATIAN SEL

Terdapat dua kategori utama kematian sel. Kategori pertama adalah kematian sel nekrotik, terjadi
apabila suatu rangsangan yang menyebabkan cedera pada sel terlalu kuat atau berkepanjangan.
Nekrosis sel dicirikan dengan adanya pembengkakan dan ruptur organel internal yang
kebanyakan mengenai mitokondria, dan jelasnya stimulasi respon peradangan. Kategori kedua
kematian sel apoptosis, yaitu kematian sel yang diprogram. Apoptosis adalah suatu proses yang
ditandai dengan terjadinya urutan teratur tahap molekullar yang menyebabkan disentegrasi sel.
Apoptosis tidak ditandai dengan adanya pembengkakan atau peradangan, namun sel yang akan
mati menyusut dengan sendirinya dan dimakan oleh sel disebelahnya. Apoptosis berperan dalam
menjaga jumlah sel relatif konstans dan merupakan suatu mekanisme yang dapat mengeliminasi
sel yang tidak diinginkan, sel yang menua, sel berbahaya, atau sel pembawa transkripsi DNA
yang salah. Apoptosis merupakan proses aktif yang melibatkan kerja sel itu sendiri, dan namanya
diambil dari kata yunani yang berarti “menciut” seperti menguncupnya sebuah bunga.

Timidin fosforilase (TP), suatu factor pertumbuhan sel endotel yang dihasilkan trombosit,
telah terbukti melindungi sel dari apoptosis dengan merangsang metabolisme nukleosida dan
angiogensis. Pengrekomendasikan untuk memperbaiki efek kemotrapi konvensional dengan
meningkatkan apoptosis sel-sel yang bermutasi.
PENYEBAB KEMATIAN SEL NEKROTIK

Factor yang sering menyebabkan kematian sel nekrotik adalah hipoksia berkepanjangan, infeksi
yang menghasilkan toksin dan radikal bebas, dan kerusakan integritas membran sampai pada
pecahnya sel. Respons imun dan peradangan terutama sering dirangsang oleh nekrosis yang
menyebabkan cedera lebih lanjut dan kematian sel sekitar. Nekrosis sel dapat menyebar
diseluruh tubuh tanpa menimbulkan kematian pada individu.

PENYEBAB APOPTOSIS

Kematian sel terprogram dimulai selama embryogenesis dan terus berlanjut sepanjang waktu
hidup organisme. Eangsangan yang menimbulkan apoptosis meliputi isyarat hormon, rangsangan
anti gen, peptide imun, dan sinyal m,embran yang mengidentifikasi sel yang menua atau
bermutasi. Virus yang menginfeksi sel akan seringkali menyebabkan apoptosis, yang pada
akhirnya mengakibatkan kematian virus dan sel penjamu (host). Hal ini merupakan satu cara
yang dikembangkan oleh organisme hidup untuk melawan infeksi virus. Virus tertentu (mis,
virus epsteinbarr yang bertanggung jawab terhadap mononucleosis) pada gilirannya
menghasilkan protein khusus yang menginaktifkan respon apoptosis. Defesiensi apoptosis telah
berpengaruh pada perkembangan kanker dan penyakit neuro degenerative dengan penyebab yang
tidak diketahui, termasuk penyakit Alzheimer dan sklerosis lateral amiotrofik (penyakit Lou
Gehrig). Apoptosis yang dirangsang antigen dari sel imun (sel T dan B) sangat penting dalam
menimbulkan dan mempertahankan toleransi diri imu.