Anda di halaman 1dari 20

170

BAB IV
PENILAIAN FORMASI

4.1. Tujuan Penilaian Formasi


Penilaian formasi dilakukan setelah terdapat lubang pemboran yang
membuktikan terdapatnya hidrokarbon pada cekungan tersebut. Evaluasi formasi
adalah ilmu atau keahlian untuk dapat melihat atau meneliti keadaan subsurface
baik untuk keperluan pemboran, produksi, penelitian reservoir dan lain-lain.
Evaluasi formasi meliputi penilaian litologi, petrofisik, isi atau kandungan batuan,
dan produktifitas batuan. Evaluasi tersebut dilakukan dengan cara pemeriksaan di
laboratorium (analisa core) maupun dengan cara pengukuran langsung di sumur
(well logging, drill stem test, dan lain-lain). Tujuan utama dan evaluasi formasi
adalah Identifikasi reservoir, Perkiraan cadangan hidrokarbon di tempat, dan
Perkiraan perolehan hidrokarbon.
Secara umum logging dapat melakukan pengukuran parameter-parameter
berikut ini :
1. Porositas, baik primer maupun sekunder.
2. Permeabilitas.
3. Saturasi air dan kemampuan bergeraknya hidrokarbon.
4. Tipe hidrokarbon.
5. Lithologi.
6. Kemiringan formasi dan struktur.
7. Lingkungan sedimentasi.

4.2. Metode Penilaian Formasi


Secara keseluruhan jenis dari penilaian formasi dapat dirangkum seperti
terlihat pada table 4.1.
171

Tabel 4.1 Jenis dari Penilain Formasi


Phase Activity Formation Evaluation
Methods
Exploration Define Structure Seismic Data, Gravity,Magnetics
Drilling Drill Well Mud Logging, Coring
Measurement While Drilling
Logging Log Well Openhole Logs
Primary Evaluation Log Analysis Sidewall Cores
Testing Wireline Formation Testing
Drillsteam Testing
Vertical Seismic Profile
Analysis Core Analysis Laboratory Studies
Feedback Refinement of Seismic Log-core Integration
Model
Log Analysis Log-seismic Integration
Exploitation Producing Hydrocarbons Material Balance Analysis
Secondary Production Logging Production Log Analysis
Recovery
Log-inject Log Flood Efficiency Analysis
Water or Gas Injection Micro-rock Property Analysis
Abandonment Economic Decisions

Berikut ini akan dijelaskan sekilas tentang teknik yang sering digunakan
dalam operasi penilaian formasi.

4.2.1. Mud Logging


Yaitu dengan mengamati, meneliti dan mencatat kondisi lumpur yang
disirkulasikan dalam pemboran dengan mengamati cutting hasil pemboran atau
kandungan hidrokarbon yang ikut terbawa aliran lumpur dengan menggunakan
beberapa jenis peralatan.

4.2.2. Coring
Yaitu dengan mengambil contoh batuan formasi melalui operasi coring pada
dinding bor. Pada proses pengambilan core ini menggunakan peralatan khusus.
Tujuan dari pengambilan sampel core ini adalah untuk mengetahui sifat fisik dari
172

batuan reservoir, yaitu porositas, permeabilitas, kebasahan serta saturasi fluida


yang terdapat dalam batuan.
 Bottom Hole Coring
Bottom Hole Coring yaitu cara pengambilan core yang dilakukan
pada waktu pemboran berlangsung. Pada metode Bottom Hole Coring
menggunakan jenis bit yang ditengahnya terbuka dan mempunyai jenis
pemotong bit berupa dougnot shope hole.
Pada saat pemboran berlangsung core ini akan menempati core
barrel yang berada diatas bit dan akan tetap akan berada disana sampai
diambil ke permukaan. Peralatan-peralatan yang termasuk dari bottom
hole coring adalah :
1. Conventional Coring
Metode ini menggunakan bit jenis khusus yang disebut
Conventional Rotary Core Drill. Pada saat bit bergerak ke bawah
menembus formasi maka core akan masuk kedalam Inner Core
Barrel dan core tidak akan bisa keluar lagi, karena core barrel
mempunyai roll dan ball bearing.
Pada pekerjaan ini untuk mendapatkan core yang baik maka
di usahakan beban bit dan kecepatan putar bit kecil. Core yang
terbawa tetap terlindungi dan mempunyai ukuran diameter 2 3/8”,
sampai dengan 3 9/16”, dengan panjang 20 ft. Sehingga apabila
menginginkan core yang panjang maka dibutuhkan beberapa kali
round trip.
Kelebihan dari conventional rotary drill core bit ini adalah
core yang dibawa kepermukaan tetap dalam keadaan terlindungi,
tetapi pada jenis ini data yang diperoleh kurang representatif
karena ukuranya yang lebih kecil jika dibandingkan dengan
menggunakan diamond bit, selain itu hanya dapat digunakan pada
lapisan-lapisan tertentu.
2. Diamond Coring
173

Perbedaan dengan conventional coring adalah pada bitnya


saja, yaitu jenis ini menggunakan jenis diamond bit, Diamond bit
ini sangat cocok untuk batuan sedimen yang keras, dan
memberikan penetrasi rate yang lebih besar serta tidak perlu
menambah rotary speed untuk memotong core. Core yang didapat
bisa mencapai panjang 90 ft dengan diameter 2 7/8”, hanya saja
pada metode ini sangat mahal dikarenakan harga dari peralatannya.
3. Wire Line Coring
Pengambilan core dilakukan dengan jalan menurunkan
peralatan semacam inner barrel kedalam drill pipe, kemudian core
yang telah didapatkan akan masuk kedalam inner barrel dan ditarik
ke permukaan dengan jalan menarik pull barrel dengan wire line.
Inner barrel yang terisi contoh batuan ditarik ke permukaan tanpa
harus menarik pipa bor, sehingga metode ini dapat menghemat
biaya dalam operasinya. Core yang diperoleh mempunyai diameter
1" sampai 23/16" dan panjangnya 10 sampai 20 feet.

 Side Wall Coring


Pengambilan core yang dilakukan setelah operasi pemboran
berlangsung selesai atau pada waktu pemboran berhenti

 Analisa Core
Analisa core adalah tahapan analisa batuan setelah contoh inti batuan
bawah permukaan di peroleh. Tujuan dari analisa core yaitu mengetahui
informasi langsung tentang sifat-sifat fisik batuan yang ditembus selama
pemboran berlangsung.
Dari hasil coring maka core yang didapat dapat dianalisa besaran-
besaran petrofisiknya di laboratorium, analisa core ada dua macam yaitu
analisa core rutin dan core spesial. Analisa core rutin meliputi pengukuran
porositas, permeabilitas, saturasi fluida. Dikarenakan beberapa
pengukuran dari sifat-sifat batuan memerlukan sampel yang bersih dan
kering. Sampel yang dipergunakan untuk permeabilitas dan porositas
174

secara keseluruan dicuci dari semua fluida yang tertinggal dan kemudian
dikeringkan.
Core special dikembangkan untuk memperoleh data-data sifat fisik
batuan yang lebih akurat, khususnya pengukuran data distribusi fluida dari
batuan reservoir yang digunakan untuk study reservoir secara detail.
Analisa core special diperlukan core yang segar (fresh), namun pada
prakteknya sampel dibersihkan dengan cara ekstrasi dan dikembangkan
sesuai kondisi semula. Secara umum parameter yang diukur atau
ditentukan dengan analisa core adalah distribusi fluida (minyak dan air
atau gas dan air) di dalam reservoir.

4.2.3. Measurement While Drilling (MWD)


Dewasa ini karakteristik formasi dapat diukur selama pemboran sedang
berlangsung (measurement while drilling, MWD). Alat ini biasanya digunakan
untuk pemboran sumur-sumur berarah atau miring, sehingga dapat mengurangi
operasi tripping dan dapat menghemat waktu pemboran.

4.2.4. Testing
Formation testing adalah salah satu cara untuk membuktikan ada tidaknya
hidrokarbon dalam formasi tersebut, bila terdapat aliran hidrokarbon pada saat
dilakukan drillstem test. Drillstem test (DST) menyediakan data tidak hanya
kandungan hidrokarbon namun juga memberikan data besarnya reservoir dan
kemampuan produksi suatu reservoir.
175

Gambar 4.1. Struktur Penilaian Formasi


4.3. Logging
Logging adalah suatu metoda penelitian dengan pekerjaan mencatat atau
merekam data-data di bawah permukaan untuk setiap kedalaman, mulai dari dasar
sumur sampai ke permukaan dengan menggunakan peralatan log. Log adalah
gambar kurva yang memberikan informasi tentang sifat- sifat batuan dan fluida
yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur. Jadi tujuan dari
logging adalah untuk memperoleh data sumur yang akan diinterpretasikan.
Kegiatan logging dapat dilakukan setelah proses pemboran (open hole logging)
atau bersamaan dengan proses pemboran (LWD) maupun pada tahap produksi
(cased hole logging).

4.3.1. Logging While Drilling


Logging while drilling (LWD) merupakan suatu metode pengambilan data
log dimana logging dilakukan bersamaan dengan pemboran (Harsono,1997). Hal
ini dikarenakan alat logging tersebut ditempatkan di dalam drill collar. Pada
LWD, pengukuran dilakukan secara real time oleh measurement while drilling
(Harsono,1997).
Alat LWD terdiri dari tiga bagian yaitu: sensor logging bawah lubang bor,
sebuah sistem transmisi data, dan sebuah penghubung permukaan. Sensor logging
ditempatkan di belakang drill bit, tepatnya pada drill collars (lengan yang
176

berfungsi memperkuat drill string) dan aktif selama pemboran dilakukan


(Bateman,1985). Sinyal kemudian dikirim ke permukaan dalam format digital
melalui pulse telemetry melewati lumpur pemboran dan kemudian ditangkap oleh
receiver yang ada di permukaan (Harsono,1997). Sinyal tersebut lalu dikonversi
dan log tetap bergerak dengan pelan selama proses pemboran. Logging
berlangsung sangat lama sesudah pemboran dari beberapa menit hingga beberapa
jam tergantung pada kecepatan pemboran dan jarak antara bit dengan sensor di
bawah lubang bor (Harsono,1997).
Layanan yang saat ini disediakan oleh perusahaan penyedia jasa LWD
meliputi gamma ray, resistivity, densitas, neutron, survei lanjutan (misalnya
sonik). Tipe log tersebut sama (tapi tidak identik) dengan log sejenis yang
digunakan pada wireline logging. Secara umum, log LWD dapat digunakan sama
baiknya dengan log wireline logging dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang
sama pula (Darling,2005). Meskipun demikian, karakteristik pembacaan dan
kualitas data kedua log tersebut sedikit berbeda.

4.3.2. Wireline Logging


Log adalah suatu grafik kedalaman (atau waktu), dari satu set data yang
menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah
sumur (Harsono, 1997). Log diperoleh dari operasi logging di sumur terbuka yang
umumnya dimulai dari kedalaman maksimum (total depth) sampai dengan sepatu
selubung (casing shoe). Kurva log mampu memberikan informasi tentang sifat-
sifat batuan dan cairan pada situasi dan kondisi yang sesungguhnya di dalam
sumur. Operasi logging yang baik memiliki interval yang tidak terlalu panjang
sehingga dapat di peroleh informasi yang lebih akurat dan menghindari
keterbukaan lapisan formasi yang terlalu lama terhadap sistem lumpur.
Prinsip dasar wireline log adalah mengukur parameter sifat-sifat fisik dari
suatu formasi pada setiap kedalaman secara kontinyu dari sumur pemboran.
Adapun sifat-sifat fisik yang diukur adalah potensial listrik batuan/kelistrikan,
tahanan jenis batuan, radioaktivitas, kecepatan rambat gelombang elastis,
kerapatan formasi (densitas), dan kemiringan lapisan batuan, serta kekompakan
177

formasi yang kesemuanya tercermin dari lubang bor. Secara kualitatif dengan data
sifat-sifat fisik tersebut kita dapat menentukan jenis litologi dan jenis fluida pada
formasi yang tertembus sumur. Sedangkan secara kuantitatif dapat memberikan
data-data untuk menentukan ketebalan, porositas, permeabilitas, kejenuhan fluida,
dan densitas hidrokarbon.

Pada waktu pelaksanaan pemboran akan terjadi filtrasi lumpur yang


merembes atau masuk ke dalam formasi (perbedaan tekanan) akibatnya akan
terbentuk tiga zona akibat pengaruh lumpur pemboran, yaitu :

a. Zona Terinvasi (Invaded Zone atau Flushed Zone)


Zona ini terletak paling dekat dengan lubang bor dan terisi oleh air
filtrasi lumpur yang mendesak kandungan semula, namun mungkin saja
tidak semua kandungan fluida awal terdesak ke dalam zona yang lebih
dalam.
b. Zona Peralihan (Transition Zone)
Zona peralihan terletak di sebelah dalam zona terinvasi, sebagian
isinya adalah kandungan fluida awal dan filtrat lumpur pemboran yang
masuk ke dalam zona ini.
c. Zona Tidak Terinvasi (Uninvaded Zone)
Zona ini terletak paling jauh dari lubang bor, serta seluruh pori batuan
masih terisi oleh kandungan semula. Oleh karena itu sifat petrofisik yang
ada pada zona ini merupakan sifat asal dari formasi atau reservoir tersebut.
Sifat petrofisik yang bias dikaji secara kuantitatif pada zona ini adalah Rt
(Resistivitas formasi sebenarnya), Rw (Resistivitas air), dan Sw .

4.3.3. Jenis-jenis Logging


Konsep dan dasar interpretasi logging ini didasarkan pada jenis deteksi yang
digunakan. Untuk melakukan suatu interpretasi atau analisa log baik kualitatf
maupun kuantitatif, digunakan tiga jenis log utama, yaitu :
178

1. Log listrik atau elektrik


2. Log radioaktif
3. Log akustik atau sonic log

Disamping ketiga jenis log tersebut di atas, digunakan pula Log Caliper
yang merupakan log penunjuk kondisi lubang sumur.

4.3.3.1.Jenis Log Listrik atau Elektrik


Log listrik atau elektrik adalah jenis log yang digunakan untuk mengukur
resistivitas atau tahanan jenis batuan dan potential diri batuan. Adapun jenis log
listrik atau elektrik diantaranya adalah :
1. SP Log (Spontaneous Potential Log)
2. Resistivity Log

1. Spontaneous Potensial Log (SP Log)


Spontaneous Potensial (SP) Log adalah rekaman selisih potesial antara
elektroda yang ditempatkan di permukaan tanah dengan elektroda yang
diturunkan ke dalam lubang. Satuannya adalah millivolt (mV). Spontaneous
potensial ini merupakan sirkuit sederhana yang terdiri dari dua buah elektroda dan
sebuah galvanometer. Sebuah elektroda (M) diturunkan kedalam lubang sumur
dan elektroda yang lain (N) ditanamkan di permukaan. Disamping itu masih juga
terdapat sebuah baterai dan sebuah potensiometer untuk mengatur potensial
diantara kedua elektroda tersebut. SP Log tidak dapat direkam di dalam lubang
sumur yang diisi oleh lumpur yang tak konduktif karena diperlukan medium yang
dapat menghantarkan arus listrik antara elektroda alat dan formasi. Pada lapisan
serpih (shale), kurva SP log umumnya berupa garis lurus yang disebut garis dasar
serpih (shale base line), sedangkan pada formasi permeable kurva SP log
menyimpang dari garis dasar serpih yaitu garis pasir (sand line). Penyimpangan
kurva SP log dapat ke kiri shale base line (disebut defleksi negatif) atau kekanan
(disebut defleksi positif), hal ini karena adanya perbedaan kadar garam atau
salinitas dan air formasi dan filtrasi lumpur.
179

Adapun komponen elektromagnetik dari SP tersebut adalah sebagai berikut:


A. Elektrokimia, dibagi menjadi dua bagian,yaitu:
 Membran Potensial, terjadi karena adanya struktur dan muatan
maka lapisan shale bersifat permeable terhadap kation Na+ dan
kedap terhadap anion Cl-. Jika lapisan shale memisahkan dua
larutan yang mempunyai perbedaan konsentrasi NaCl, maka kation
Na+ bergerak menembus shale dari larutan yang mempunyai
konsentrasi tinggi ke larutan yang mempunyai konsentrasi rendah,
sehingga terjadi suatu potensial.
 Liquid Junction Potential, terjadi karena adanya perbedaan salinitas
antara air filtrat dengan air formasi, sehingga kation Na+ dan ion
Cl- dapat saling berpindah selama ion Cl- mempunyai mobilitas
yang lebih besar dari Na+, maka terjadi aliran muatan negatif Cl-
dari larutan yang berkonsentrasi tinggi ke larutan yang
berkonsentrasi rendah.

B. Elektrokinetik
Potensial elektrokinetik merupakan hasil suatu aliran elektrolit
yang melewati unsure-unsur dalam media berpori. Besarnya elektrokinetik
ini tergantung dari perbedaan tekanan yang menghasilkan aliran dan
tahanan dari elektrolit pada suatu media porous. Potensial elektrolit disini
dapat diabaikan karena pada umumnya perbadaan tekanan hidrostatik
lumpur dengan tekanan formasi tidak begitu besar dan untuk lapisan shale
pengaruh filtrasi dari alir lumpur kecil.
Jika pengaruh SP log melalui lapisan cukup tebal dan kondisinya
bersih dari clay, maka defleksi kurva SP akan mencapai maksimum.
Defleksi SP yang demikian disebut statik SP atau SSP, yang dapat
dituliskan dalam persamaan sebagai berikut:
Rmfeq
SSP   K c log ……………..…………………………
Rweq

(4-6)
180

dimana :
SSP = statik spontaneous potensial, mv
Kc = konstanta lithologi batuan
= 61   0.133  T  , dalam oF
= 65   0.24  T  , dalam oC
Rmfeq = tahanan filtrat air lumpur, ohm-m
Rweq = tahanan air formasi, ohm-m

SP log berguna untuk mendeteksi lapisan-lapisan yang porous dan


permeabel, menentukan batas-batas lapisan, menentukan harga tahanan air
formasi (Rw) dan dapat juga untuk korelasi batuan dari beberapa sumur di
dekatnya.
Defleksi kurva SP selalu dibaca dari shale base line yang mana bentuk dan
besar defleksi tersebut dapat dipengaruhi oleh ketebalan lapisan batuan formasi,
tahanan lapisan batuan, tahanan shale dalam lapisan batuan, diameter lubang bor,
dan invasi air filtrat lumpur. Satuan ukuran dalam spontaneous potensial adalah
millivolt (mv).

2. Resistivity Log
Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu kemampuan batuan
beserta isinya untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui
batuan tersebut. Resistivitas rendah bila batuan mudah mengalirkan arus listrik
dan resistivitas tinggi bila batuan sulit mengalirkan arus listrik. Resistivitas
kebalikan dari konduktivitas, satuan dari resistivitas adalah ohm-meter.
Besarnya resistivitas suatu batuan tergantung pada sifat atau karakter fisik
dari batuan tersebut. Sifat atau karakter fisik dari batuan diantaranya adalah
porositas, salinitas dan jenis batuan. Disamping itu, factor kandungan fluida juga
ikut menentukan besarnya harga resistivitas.
a. Induction Log
181

Alat logging ini terdiri dari transmitter dan receiver. Prinsip kerja
induction log yaitu didalam kumparan pemancar mengalir arus dengan
amplitude konstan dan frekuensi sebesar 20 kHz. Arus ini menimbulkan
sebuah medan magnet yang menyebabkan suatu arus circular mengalir
dalam media di sekitar alat yang disebut arus eddy. Arus eddy ini lalu
menimbulkan medan magnet dan menghasilkan arus sekunder didalam
formasi batuan. Arus sekunder (arus induksi) yang dihasilkan akan diterima
kumparan penerima sebagai arus konduktivitas yang sebanding dengan
konduktivitas formasi, dimana selanjutnya dikonversikan kedalam
resistivitas. Induction Log dapat dipakai untuk lubang bor yang berisi selain
lumpur air tawar.

b. Lateral Log
Lateral Log merupakan alat electric survey log yang telah
ditingkatkan kemampuannya karena dilengkapi dengan pelindung (guarded)
electrode sehingga dapat bekerja tanpa dipengaruhi efek lubang bor yang
tidak diinginkan. Arus listrik dengan kuat arus tertentu dipancarkan dari
transmitter masuk ke dalam formasi. Arus listrik yang dipancarkan dapat
dipaksakan mengalir masuk ke formasi karena arus listrik yang dipancarkan
dapat diatur. Alat ini terdiri dari dua elektroda arus A dan B serta dua
elektroda potensial M dan N.
Lateral Log akan sangat baik digunakan pada lubang bor yang berisi
lumpur air tawar dan rasio Rmf/Rw kurang dari 3. Selain itu, Lateral Log
akan memberikan hasil yang lebih baik ketika lapisan formasi yang tebalnya
minimal 10 ft. Lateral Log akan menghasilkan hasil yang lebih baik dari
induction log. Tujuan log ini adalah untuk mengukur Rt, yaitu resistivitas
formasi yang terinvasi.

c. Micro Lateral Log


Micro Lateral Log merupakan alat resistivitas yang dirancang khusus
untuk menentukan resistivity flushed zone (Rxo) pada lumpur dasar air
182

(water base mud). Prinsip kerja alat tersebut adalah elektroda-elektroda


yang ada, terbuat dari bahan konduktif yang berbentuk lingkaran atau
persegi yang melekat pada sebuah bantalan hidrolik, dan mempunyai
jangkauan pengukuran yang sangat dangkal.

4.3.3.2.Jenis Log Radioaktif


Log Radioaktif pad adasarnya adalah log yang menggunakan detektor
radioaktif. Sampai saat ini berbagai log yang menggunakan detektor radioaktif
telah dikembangkan untuk memperkirakan karakteristik formasi, diantaranya
adalah Gamma Ray Log, Densitas Log, dan Neutron Log. Alat tersebut antara lain
digunakan untuk menentukan litologi formasi, porositas dan volume shale.

1. Gamma Ray Log (GR Log)


Gamma Ray Log merupakan log radioaktif yang baik untuk memisahkan
antara lapisan shale dan lapisan permeabel. Prinsip dasar Gamma Ray Log adalah
perekaman radioaktif alami yang dikandung suatu batuan yang berasal dari tiga
unsur utama, yaitu, Uranium-U, Thorium-T, dan Potasium-K yang secara kontinu
memancarkan Gamma Ray dalam bentuk pulsa-pulsa energi radiasi tinggi. Sinar
Gamma ini mampu menebus batuan dan diseteksi oleh detector. Selama proses
perubahan geologi batuan, umumnya tingkat radiasi shale lebih tinggi
dibandingkan dengan batuan lain, ini disebabkan karena unsur radioaktif. Lebih
cenderung mengendap dilapisan shale yang impermeable.
Rekaman Gamma Ray Log diukur dalam satuan API dan biasanya
ditampilkan pada kolom pertama bersama-sama dengan kurva SP Log dan
Caliper. Hubungan antara kandungan shale dengan Gamma Ray Log dirumuskan
sebagai berikut.

Dimana:
Vshale = Volume Shale, fraksi
GRlog = Pembacaan log pada lapisan yang diteliti, API
183

Grmin = Pembacaan log pada lapisan yang bersih, API


Grmax =Pembacaan log pada lapisan 100% shale (clay), API
Kegunaan dari Gamma Ray Log adalah:
1. Menghitung besarnya volume shale.
2. Menentukan lapisan permeabel.
3. Korelasi log pada sumur dengan sumur lainnya.
4. Mendeteksi dan evaluasi terhadap mineral radioaktif (potassium dan
uranium), mendeteksi mineral tidak radioaktif (batubara),

2. Density Log
Density Log mengukur perbedaan intensitas radiasi sinar gamma yang
dipancarkan dan diterima detektor dan merupakan kurva yang menunjukkan
besarnya densitas batuan. Sinar gamma merupakan partikel dengan kecepatan
yang tinggi akan membentur elektro-elektron yang terdapat dalam formasi,
sehingga benturan tersebut akan menyebabkan sinar gamma kehilangan energi.
Bila jumlah elektron diformasi meningkat maka jumlah sinar gamma yang
kehilangan juga meningkat,meyebabkan sinar gamma yang tercatat pada detektor
menurun. Jadi sinar gamma yang terukur oleh alat pencatat (detektor) tergantung
pada jumlah elektron yang berbenturan.
Rekaman densitas log ini diukur denga satuan gr/cc dan biasanya
ditampilkan pada track 3 (tiga) bersama-sama dengan Neutron Log. Densitas dari
batuan (pma) dalam gr/cc adalah sebagai berikut:
Sandstone =2.65 g/cc
Limestone =2.71 gr/cc
Dolomite =2.85 gr/cc
Anhydrite =2.95 gr/cc

Penentuan porositas dari densitas batuan dinyatakan dengan rumus:


184

Dimana:
Pma = Densitas alatrik (gr/cc)
Pb = Pembacaan dari Densitas log (gr/cc)
Pf = Densitas fluida lumpur pemboran (gr/cc)

3. Neutron Log
Neutron Log digunakan untuk menentukan porositas total bantuan formasi.
Biasanya semakin banyak fluida (minyak atau air) yang terkandung dalam formasi
akan memberikan pembacaan porositas yang tinggi. Sedangkan pada formasi yang
mengandung gas akan memberikan pembacaan porositas yang lebih rendah
karena pada gas konsentrasi hidrogen lebih rendah. Neutron Log ini biasanya
ditampilkan pada Track 3 (tiga), bersama-sama dengan Densitas Log.

4.3.3.3.Log Akustik atau Sonic Log


Sonic log dirancang untuk mengukur porositas batuan formasi
dengan cara mengukur interval transite time, yaitu waktu yang
dibutuhkan oleh gelombang suara untuk merambat di dalam batuan
formasi sejauh satu feet. Peralatan sonic log menggunakan sebuah
transmitter (pemancar gelombang suara) dan dua buah receiver
(penerima). Jarak antara keduanya adalah satu feet.
Interval transite time (t) suatu batuan formasi tergantung dari
lithologi dan porositasnya. Sehingga bila lithologinya diketahui, maka
tinggal tergantung pada porositasnya. Ketergantungan pada porositas
inilah yang menyebabkan sonic log dapat digunakan untuk menentukan
porositas. Pada Tabel 4.2. ditunjukkan kecepatan rambat gelombang
suara longitudinal dari beberapa jenis batuan formasi.

Tabel 4.2. Transite Time untuk Beberapa Jenis Batuan

Material Sonic Velocity (ft/sec) Transite Time (μs/ft)

Oil 4300 232


185

Water (mud) 5000 - 5300 200 - 189

Shale 6000 - 16000 167 - 62.5

Sandstone > 18000 55.6

Anhydrite 20000 50

Carbonate 21000 - 23000 47.6 - 43.5

Dolomite 24000 42

Didalam batuan formasi yang bersih dan terkonsolidasi dengan


baik, dengan distribusi porositas yang kecil dan uniform dapat
diberlakukan hubungan sebagai berikut (Wyllie formula):
tlog  t ma
 
t f  t ma

dimana:
 = porositas batuan formasi, %
tlog = transite time kurva sonic log, s/ft
tma = transite time matrik batuan, s/ft
tf = transite time fluida atau filtrat lumpur, 189 s/ft

Kondisi optimum dari sonic log adalah bila digunakan di dalam


batuan formasi yang terkonsolidasi dengan baik dengan porositas antara
10 - 20 %. Kelemahan sonic log adalah tidak dapat mendeteksi adanya
porositas sekunder. Adanya shale dalam batuan akan juga mengurangi
kecepatan rambat gelombang suara, sehingga akan memperbesar harga
transite time batuan. Menurut Wyllie, pengaruh adanya shale dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut:
t    t f  Vclay t clay  1    Vclay  t ma

dimana:
Vclay = ketebalan lapisan clay, ft
tclay = transite time clay, s/ft
186

Faktor-faktor mempengaruhi pengukuran (Δt), yaitu :


a. Shale
Batuan shale mempunyai porositas besar, walaupun
permeabilitasnya mendekati harga nol. Sehingga batuan yang
mengandung shale mempunyai harga Δt semakin besar.
b. Kekompakan Batuan
Kekompakan batuan akan memperkecil porositas, sehingga kurva
Δt akan semakin rendah.
c. Kandungan air
Adanya kandungan air dalam batuan menyebabkan kurva Δt
cenderung mempunyai harga yang semakin besar.
d. Kandungan minyak
Air (terutama air asin) mempunyai sifat penghantar suara yang
lebih baik dibanding dengan minyak, sehingga adanya minyak
dalam batuan akan berpengaruh memperkecil harga Δt.
e. Kandungan gas
Gas (hidrokarbon ringan) akan membuat transite time menjadi
lebih besar, sehingga sering kali sonic juga digunakan sebagai
indicator yang cukup bagus untuk mendeteksi adanya gas.

4.3.3.4.Caliper Log
Caliper Log digunakan sebagai log penunjang, untuk mengetahui perubahan
diameter sepanjang lubang bor. Log ini mengukur diameter lubang bor yang
bervariasi akibat adanya invasi lumpur pada saat pemboran ataupun adanya
caving pada lapisan unconsolidated. Peralatan caliper log dilengkapi dengan pegas
yang dapat mengembang secara fleksibel. Satuan caliper log ini adalah inch.
Adapun fungsi dan log caliper yaitu:
1. Menentukan lapisan permeable dan impermeable dengan melihat kandungan
kerak lumpur.
2. Untuk menghitung volume lubang bor guna menentukan volume semen
pada operasi cementing.
187

4.3.4. Penentuan Volume Shale (Vsh)


Volume shale dapat dihitung dengan menggunakan 4 (empat) rekaman log,
yaitu Resistivity, Neutron, Spontaneous Potensial dan Gamma Ray. Adanya shale
atau serpih dalam lapisan formasi dapat menyebabkan kekeliruan dalam
perhitungan porositas dan saturasi air. Shale dapat mengurangi keakuratan
interpretasi log.

4.3.5. Persamaan Saturasi Air (SW)


Ada beberapa persamaan yang umum digunakan untuk mengevaluasi nilai
saturasi air (Sw) seperti Archie, Simandoux, dan Persamaan Indonesia serta
beberapa persamaan lain. Tetapi pada formasi yang terdapat shale secara cukup
besar maka digunakan metode saturasi, antara lain metode Simandoux, Persamaan
Indonesia dan Waxman & Smith Model.

4.3.5.1.Metode Archie
Metode archie sangat cocok untuk dipakai pada formasi clean baik itu sand
maupun karbonat. Metode archie tidak cocok digunakan untuk formasi yang
terdapat Volume Shale yang cukup besar. Berikut ini adalah rumus untuk metode
Archie:

Dimana:
Rt = Resistivitas formasi, ohm meter
= Porositas, fraksi

a = Koefisien Iitologi, berkisar antara 0.6 dan 2


m = Faktor sementasi Nilai m berkisar antara 1 dan 3
n = Saturasi eksponen, berkisar anatara 1.2 2.2

Rw = Resistivitas air formasi, ohm meter


Sw = Saturasi air, fraksi
188

4.3.6. Ketebalan Formasi


Net pay atau ketebalan formasi adalah ketebalan formasi batuan yang
prosuktif. Simbol biasa digunakan untuk ketebalan formasi adalah h. Untuk dapat
membedakan net pay atau interval produktif (h) dan non produktif digunakan
beberapa cut off reservoir. Cut off adalah penghilangan beberapa bagian reservoir
yang tidak produktif untuk menentukan ketebalan formasi yang prosuktif. Secara
umum yang dimaksud dengan net pay adalah ketebalan formasi yang dihitung

menggunakan harga cut off Vsh, , dan Sw.

4.3.7. Perhitungan Cadangan Minyak Secara Volumetrik


Apabila suatu pemboran eksplorasi migas berhasil menemukan adanya
cadangan minyak dan gas di suatu reservoir, penentuan besarnya cadangan migas
tersebut penting untuk diketahui. Hal ini berkaitan dengan kelanjutan
pengembangan terhadap reservoir tersebut, apakah cadangan minyak dan gas
tersebut ekonomis atau tidak untuk diproduksikan.
Salah satu metode yang digunakan untuk menghitung besarnya cadangan
minyak dan gas tersebut adalah dengan menggunakan metode volumetrik. Metode
volumetrik lebih banyak menggunakan data-data geologi dari bawah permukaan
dan parameter petrofisik batuan formasi sehingga dapat menghitung cadangan
migas ditempat.
Metode perhitungan cadangan secara volumetrik membutuhkan peta
cadangan atau reserve map. Peta cadangan tersebut dibuat atas dasar peta struktur
dan peta geologi bawah tanah. Reserve map adalah peta bawah tanah yang
menggambarkan bentuk akumulasi minyak dan gas yang meliputi luas akumulasi
dan penyebaran ketebalan (h) lapisan gas. Dengan bantuan peta tersebut maka
volume batuan yang mengandung hidrokarbon dapat di hitung.
Untuk menghitung cadangan minyak menggunakan metode volumetrik
dibutuhkan data-data seperti porositas, saturasi air, faktor volume formasi minyak,
189

dan volume batuan. Berikut adalah persamaan untuk menghitung cadangan


minyak secara volumetrik:

Dimana:
OOIP = Volume minyak awal ditempat, STB
Vb = Volume batuan, acre-ft
= Porositas, fraksi

Sw = Saturasi air formasi awal, fraksi


Boi = Faktor volume formasi minyak awal, bbl/STB

Berikut adalah persamaan untuk menghitung cadangan gas secara


volumetrik:

Dimana:
OGIP = Volume gas awal ditempat, SCF
Vb = Volume batuan, acre-ft
= Porositas, fraksi

Sw = Saturasi air formasi awal, fraksi


Bgi = Faktor volume formasi gas awal, cuft/SCF