Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN

PEMILIHAN BAHAN & PROSES

SWASH PLATE A/C COMPRESSOR

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Pemilihan Bahan dan Proses

Syarat Kelulusan Mata Kuliah Pemilihan Bahan dan Proses Disusun oleh : Kelompok III Muhammad Saefurrizqi

Disusun oleh :

Kelompok III Muhammad Saefurrizqi (2613131046) Mizan Nursiadi (2613131049) Candra Dewi Romadona (2613131096)

JURUSAN TEKNIK METALURGI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

BANDUNG

2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan

Laporan Pemilihan Bahan dan Proses Swash Plate A/C Compressor dengan baik. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pemilihan Bahan dan Proses serta untuk memicu kepekaan setiap mahasiswa dalam mempelajari atau mengetahui ilmu-ilmu dalam pemilihan suatu bahan dan proses manufaktur untuk suatu komponen. Laporan ini juga bertujuan untuk membuat mahasiswa mampu berfikir dan bertindak secara ilmiah sehingga dapat mengaplikasikannya di masyarakat. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak baik dari segi moril maupun materil. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT. yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah penyusun dan meminta pertolongan-Nya.

2. Kedua orang tua yang selalu mendukung baik dari segi moril maupun materil.

3. Bapak Kusharjanto, ST., MT. Selaku dosen mata kuliah Pemilihan Bahan

dan proses.

4. Rekan-rekan angkatan 2013 yang selalu bersedia menjadi teman diskusi mengenai masalah-masalah yang ada dalam penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan

umumnya bagi pembaca. Penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk penyusunan laporan yang lebih baik kedepannya. Bandung, 19 Januari 2017

i

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

i

DAFTAR

ISI

ii

DAFTAR

GAMBAR

iv

DAFTAR

TABEL

v

BAB

I PENDAHULUAN

 

1

1.1 Latar Belakang Masalah

1

1.2 Identifikasi Masalah

2

1.3 Tujuan Penelitian

2

1.4 Metodologi

Penelitian

2

1.5 Sistematika

Pembahasan

3

BAB II DASAR TEORI

5

 

2.1.

Sistem A/C

5

 

2.4.1 Kompresor

5

2.4.2 Kondensor

6

2.4.3 Filter atau Dryer

7

2.4.4 HPS - LPS / High-Low Pressure Switch

7

2.4.5 Ekspansi Valve

8

2.4.6 Evaporator

8

2.4.7 Selang dan

Pipa

9

2.4.8 Kompresor A/C

10

BAB III PROSES MANUFAKTUR SWASH PLATE

16

 

3.1. Product Design

 

16

3.2. Raw Material

17

3.3. Die Casting

17

3.4. Dry Lubricating

18

BAB

IV DATA DAN ANALISIS

20

4.1. Komposisi Kimia

20

4.2. Pemeriksaan Metalografi

20

ii

4.3.

Pengujian Kekerasan

22

4.4.

Analisa

24

4.4.1. Kriteria Pemilihan Bahan dan Proses

24

4.4.2. Komposisi Kimia

25

4.4.3.

Hasil

Pemeriksaan Metalografi

26

4.4.4. Hasil

Pengujian Kekerasan

27

BAB V PROSES MANUFAKTUR SWASH PLATE

28

5.1.

Kesimpulan

 

28

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema proses pemilihan bahan dan proses swash plate Gambar 2.1 Siklus dalam sistem A/C

3

5

Gambar

2.2

A/C

Compressor

5

Gambar

2.3

A/C

Kondensor

6

Gambar 2.4 A/C Filter drier

 

7

 

Gambar 2.5 Katup ekspansi

 

8

Gambar 2.6 A/C Evaporator

 

8

Gambar

2.7

A/C

Compressor

10

Gambar 2.8 A/C Compressor tipe through vane Gambar 2.9 Prinsip kerja A/C Compressor tipe through vane Gambar 2.10 A/C Compressor tipe scroll

11

12

13

Gambar

2.11

A/C

Compressor

tipe

torak

13

Gambar 2.12 A/C Compressor tipe crank Gambar 2.13 A/C Compressor tipe swash plate

14

14

Gambar

2.14

A/C

Compressor

tipe

wooble plate

15

Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate

16

Gambar 3.2 Produk desain swash plate Gambar 3.3 Ingot aluminium Gambar 3.4 Proses die cast

 

16

17

18

Gambar

3.5

Crystal Structure of MoS 2

 

19

Gambar 4.1. (a). Hubungan antara kandungan silicon dengan kekerasan. (b) hubungan antara kandungan silicon dengan kekuatan tarik maksimum

26

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Komposisi Kimia Perbandingan Seri Aluminium

20

Tabel 4.2. Hasil Pemeriksaan Metalografi

21

Tabel 4.3. Hasil Pengujian Kekerasan

23

Tabel 4.4. Perbandingan Nilai Kekerasan Material Pembanding dengan Hasil Pengujian

23

v

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia otomotif khusunya mobil terdapat komponen-komponen pendukung berupa komponen elektronik dan komponen mekanikal. Salah satu komponen pendukung mekanikal adalah A/C system. A/C system ini berfungsi untuk menghasilkan dan mendinginkan udara di dalam kabin mobil. A/C system ini terdiri dari beberapa komponen yaitu kondensor, kompresor, filter drier, expansion valve, evaporator, selang dan pipa. Kompresor dalam sistem A/C menjadi peran penting karena berfungsi sebagai penghisap refrigerantt dari evaporator yang bertekanan dan bertemperatur rendah kemudian memampatkan gas tersebut menjadi gas yang bertekanan dan bertemperatur tinggi. Fungsi kompresor ini seperti halnya jantung pada sistem peredaran darah manusia. Pada pemilihan bahan dan proses ini fokus pada salah satu komponen mekanikal di dalam kompresor yaitu swash plate. Swash plate ini adalah bagian dari DENSO 10PA A/C Compressor tipe reciprocating/swash plate. Swash Plate berfungsi untuk mengubah gerak rotasi dan meneruskan gaya dari shaft menjadi gerak reciprocating pada piston. Cara kerja piston pada tipe ini, yaitu apabila salah satu sisi melakukan langkah kompresi maka sisi lainnya melakukan langkah isap.

Piston akan bergerak ke kanan dan kiri sesuai dengan putaran piringan pengatur (swash plate) untuk menghisap dan menekan refrigerantt. Swash plate terhubung dengan piston, jika piston berputar maka swash plate akan ikut berputar, perputaran ini akan mendorong piston, dilain sisi akan bergesekan dengan sepatu piston. Untuk menunjang fungsi dari swash plate ini maka dibutuhkan bahan atau material dan proses manufaktur untuk menghasilkan swash plate sesuai fungsi tersebut. Pada pemilihan bahan dan proses ini dilakukan proses pemilihan bahan dan proses sesuai dengan hasil translation atau kriteria pemilihan, lalu dilakukan screening dan ranking untuk menentukan pilihan bahan dan proses. Dengan didukung data informasi berupa pengujian kekerasan, pemeriksaan metalografi dan studi literatur maka didapatkan bahan dan proses manufaktur yang sesuai.

1.2.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang dikemukakan di atas kemudian timbul beberapa masalah

yang diidentifikasi sebagai berikut:

1. Apa fungsi dari swash plate A/C compressor?

2. Bagaimana prinsip kerja swash plate A/C compressor?

3. Material apa yang digunakan pada swash plate A/C compressor?

4. Bagaimana proses manufaktur swash plate A/C compressor?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan laporan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemilihan Bahan Dan Proses pada Program Studi Teknik Metalurgi, Universitas Jenderal

Achmad Yani Bandung dimana tujuan khususnya adalah:

1. Mengetahui sistem kerja A/C mobil.

2. Mengetahui fungsi dan prinsip kerja dari A/C kompresor tipe swash plate.

3. Mengetahui fungsi dan prinsip kerja komponen swash plate pada A/C

compressor.

4. Mengetahui bahan yang digunakan untuk komponen swash plate pada A/C compressor.

5. Mengetahui proses manufaktur dari komponen swash plate pada A/C compressor.

1.4. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metode yuridis normatif dan deskriptif analisis. Metode yuridis normatif dilakukan dengan penelitian kepustakaan sehingga diperoleh data-data teoritis. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan menganalisis data atau informasi yang terkumpul pada saat proses pengerjaan. Langkah awal penelitian dilakukan dengan studi literatur sehingga didapatkan pengetahuan awal untuk mengkaji objek penelitian pada tahap selanjutnya. Studi literatur juga dilakukan untuk membandingkan dan sebagai sumber utama proses-proses manufaktur pada objek penelitian yang dapat dan mungkin dilakukan.

Penelitian yang dilakukan menghasilkan data-data penting yang nantinya akan memberikan jawaban dari tujuan. Data-data didapatkan dari hasil pengukuran yang telah dilakukan pada objek penelitian. Data yang didapatkan antara lain hasil uji keras dan metalografi. Analisa dilakukan dengan bantuan beberapa literatur seperti jurnal, standard dan patent dari berbagai sumber sehingga dapat dibandingkan dan diperkirakan proses manufaktur yang dilakukan pada objek penelitian beserta materialnya.

Desain Pemilihan Pemilihan Proses material manufaktur Translation Screening Ranking Informasi pendukung
Desain
Pemilihan
Pemilihan Proses
material
manufaktur
Translation
Screening
Ranking
Informasi pendukung
Pengumpulan Data
Pemeriksaan
Pengukuran
Pengujian
Metalografi
ketebalan
kekerasan
Pemilihan Material dan
manufaktur akhir
Lapisan
Brinell
Pengolahan Data

Gambar 1.1 Skema proses pemilihan bahan dan proses swash plate

1.5. Sistematika Pembahasan

1. BAB I Pada BAB I dijelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penulisan, metodologi penelitan yang memaparkan bagaimana penelitian ini dilakukan dan sistematika pembahasan yang membahas kerangka penulisan tiap bab.

2. BAB II Pada BAB II dipaparkan landasan teori mengenai objek penelitian yang didapatkan dari studi literatur.

3.

BAB III Pada BAB III dipaparkan proses manufaktur dari komponen swash plate.

4. BAB IV BAB IV dipaparkan data yang diperoleh dari hasil pengukuran dan analisis berdasarkan data pengamatan yang diperoleh.

5. BAB V BAB V berisi tentang simpulan yang diambil berdasarkan analisa yang dilakukan pada objek penelitian.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB II DASAR TEORI

2.1. Sistem A/C Air Conditioner atau biasa dikenal dengan A/C saat ini menjadi kebutuhan sekunder masyarakat khususnya masyarakat perkotaan. Alat pendingin ini biasanya terpasang pada kantor, toko, mall dan masih banyak tempat lainnya. Kini A/C Mobil juga dipasang pada semua merek dan tipe kendaraan roda empat atau mobil sebagai salah satu fasilitas penunjang transportasi. Alat ini dirasakan sangat perlu mengingat cuaca yang panas dan kemacetan yang dapat membuat stress sehingga dapat menyejukan keadaan mobil.

membuat stress sehingga dapat menyejukan keadaan mobil. Gambar 2.1 Siklus dalam sistem A/C 2.1.1. Kompressor A/C

Gambar 2.1 Siklus dalam sistem A/C

2.1.1. Kompressor A/C

dapat menyejukan keadaan mobil. Gambar 2.1 Siklus dalam sistem A/C 2.1.1. Kompressor A/C Gambar 2.2 A/C

Gambar 2.2 A/C Compressor

Kompresor ini memiliki fungsi untuk mengalirkan refrigerantt atau freon media pendingin dalam sistem A/C mobil. Kompresor ini digerakkan oleh mesin mobil. Kompresor biasanya juga didefinisikan sebagai alat mekanis yang bertugas untuk melakukan penghisapan uap refrigerantt dari evaporator. Kemudian melakukan penekanan atau compress dan dengan demikian suhu dan tekanan uap tersebut menjadi lebih tinggi.

2.1.2. Kondensor

tekanan uap tersebut menjadi lebih tinggi. 2.1.2. Kondensor Gambar 2.3 A/C Kondensor Kondensor atau condenser pada

Gambar 2.3 A/C Kondensor

Kondensor atau condenser pada A/C Mobil berfungsi untuk mendinginkan atau membuang panas dari refrigerantt atau freon bersuhu dan bertekanan tinggi yang datang dari kompessor A/C. Menggunakan cooling fan mesin atau condenser fan untuk merubah gas freon menjadi cair.

2.2.2.

Filter atau Dryer

2.2.2. Filter atau Dryer Gambar 2.4 A/C Filter drier Filter drier adalah tabung untuk menampung sementara

Gambar 2.4 A/C Filter drier

Filter drier adalah tabung untuk menampung sementara freon cair sebelum

disalurkan ke evaporator, dan kenapa disebut filter drier, dikarenakan part ini

didalamnya terdapat dua bagian yaitu filter kasa dan silika gel (penyerap air) serta

mempunyai fungsi ganda yaitu pertama untuk menyaring kotoran dan partikel halus

dalam system dan juga berfungsi untuk menyerap kandungan uap air yang ada

dalam Freon.

2.2.3. HPS - LPS / High-Low Pressure Switch

Mengamankan komponen komponen A/C mobil pada saat tekanan A/C melampaui batas maximal (diatas 450 psi) dengan cara menghentikan aliran listrik

ke kompresor sehingga kompresor berhenti bekerja. Tekanan terlalu tinggi biasanya diakibatkan oleh:

a. Fan motor A/C mati

b. Freon kepenuhan

c. Ada komponen yang tersumbat LPS: Low Pressure Switch mengamankan dan mencegah rusaknya kompresor saat freon kosong, pada saat terjadi kebocoran maka tekanan freon akan menurun dan pada tekanan dibawah 25 psi maka LPS akan memutuskan aliran listrik ke kompresor, fungsi LPS dan HPS terdapat dalam satu komponen spare part bernama pressure switch.

2.2.4.

Ekspanstion Valve

2.2.4. Ekspanstion Valve Gambar 2.5 Katup ekspansi Fungsi katup ekspansi adalah mengabutkan freon ke dalam e

Gambar 2.5 Katup ekspansi

Fungsi katup ekspansi adalah mengabutkan freon ke dalam evaporator

sehingga mudah menguap dan dinginnya terserap dalam kisi-kisi evaporator yang

nantinya akan ditiup angin blower ke dalam kabin, juga berfungsi untuk mengatur

banyaknya jumlah freon yang dialirkan ke dalam evaporator sesuai dengan yang

dibutuhkan (hal ini tergantung dari beban pendinginan dalam kabin dan ini diatur

oleh capilary tube dibagian ekspansi).

2.2.5.

Evaporator

dalam kabin dan ini diatur oleh capilary tube dibagian ekspansi). 2.2.5. Evaporator Gambar 2.6 A/C Evaporator

Gambar 2.6 A/C Evaporator

Merupakan hasil akhir dari semua proses kerja semua komponen A/C mobil,

ditempat ini lah dingin dihasilkan dan diserap oleh kisi-kisi evaporator yang kemudian di tiup oleh udara motor blower ke seluruh ruangan kabin. Untuk evaporator genuine denso mempunyai tiga macam dan tipe evaporator yaitu:

a. Tipe plate fin - untuk evaporator universal.

b. Tipe corrugate fin - evaporator sirip lebar.

c. Tipe drop cup - evaporator sirip rapat. Untuk tipe drop cup/sirip rapat mempunyai banyak keunggulan yaitu:

a. Kontruksi lebih kuat dan kokoh.

b. Penyerapan dingin lebih merata.

c. Aliran freon bergerak dari atas ke bawah dan dari kiri kekanan mangikuti alur pipa capiler evaporator.

d. Untuk mobil mobil keluaran terbaru diatas tahun 2000 sudah memakai tipe ini.

kekurangannya yaitu:

a.

Harga lebih mahal

b.

Bila bocor susah dilas

2.2.6.

Selang dan Pipa

 

Adalah

penghubung

dan

penghantar

tekanan

freon

keseluruh

bagian

komponen A/C mobil, selang dibuat dari bahan karet syntetis yang dirancang tahan

terhadap tekanan /suhu tinggi dan tahan terhadap kandungan kimia dari refrigerantt

dan pipa A/C terbuat dari bahan: aluminium atau tembaga atau juga ada yang

terbuat dari baja.

Selanjutnya, katup ekpansi yang memiliki fungsi sebagai penurun tekanan media pendingin, dan langkah terakhirnya adalah eveporator yang dalam sistem tersebut berguna sebagai penyerap panas udara dari luar yang mengalir dalam ruangan yang didinginkan. Cara kerjanya yaitu kompresor yang digerakan dengan tenaga mesin mobil memompa dan mengalirkan media pendingin atau freon yang berbentuk gas ke dalam sistem ini dengan tekanan tertentu.

Selanjutnya media pendingin atau freon dialirkan ke bagian kondensor A/C dan di dalam kondensor tersebut freon akan didinginkan dengan cara melepaskan panas ke udara melalui sirip-sirip kondensor sehingga diubah dalam bentuk cair. Kemudian media pendingin yang telah berubah menjadi bentuk cair dialirkan ke komponen selanjutnya yaitu filter atau dryer. Di dalam dryer dilakukan penyaringan dan pengeringan uap air yang masih ikut beredar di dalam sistem. Setelah itu media pendingin yang telah difilter dialirkan ke katup ekspansi untuk menurunkan tekanan media pendingin. Oleh karena tekanannya turun, maka media pendingin menjadi kabut yang memiliki temperatur rendah. Media pendingin yang memiliki tekanan dan temperatur rendah dialirkan ke eveporator, evaporator menjadi dingin, udara yang mengalir melalui sirip-sirip evaporator dan diserap panasnya. Terakhir, udara yang temperaturnya telah turun dialirkan ke dalam ruang kendaraan.

2.2.7. Kompresor A/C

dialirkan ke dalam ruang kendaraan. 2.2.7. Kompresor A/C Gambar 2.7 A/C Compressor Kompresor merupakan komponen yang

Gambar 2.7 A/C Compressor

Kompresor merupakan komponen yang bekerja menghisap dan memompa refrigerantt agar dapat bersirkulasi ke seluruh unit A/C mobil, sehingga terdapat perbedaan tekanan, baik sebelum atau sesudah masuk kedalam kompresor. Prinsip kerja kompresor mirip dengan ‘jantung’ pada tubuh manusia dan refrigerantt sebagai darahnya.

Tenaga penggerak kompresor untuk mensirkulasikan refrigerantt berasal dari tenaga mesin. Dengan perantaraan belt, pulley dan magnetic clutch, kompresor dapat berputar seirama dengan putaran mesin. Dengan adanya pembagian tenaga mesin untuk menggerakkan kompresor, maka beban mesin akan bertambah, sehingga secara otomatis konsumsi bahan bakar pun akan meningkat. Compressor itu sendiri berfungsi untuk memompakan refrigerantt yang berbentuk gas agar tekanannya meningkat sehingga juga akan mengakibatkan temperaturnya meningkat. Proses kerja kompresor adalah untuk memastikan bahwa suhu gas

refrigerantt yang disalurkan ke kondensor harus lebih tinggi dari suhu condensing medium. Bila suhu gas refrigerantt lebih tinggi dari suhu condensing medium (udara atau air) maka energi panas yang dikandung refrigerantt dapat dipindahkan ke condensing medium akibatnya suhu refrigerantt dapat diturunkan walaupun tekanannya tetap. Oleh karena itu kompresor harus dapat mengubah kondisi gas refrigerantt yang bersuhu rendah dari evaporator menjadi gas yang bersuhu tinggi pada saat meninggalkan saluran discharge kompresor. Tingkat suhu yang harus dicapai tergantung pada jenis refrigerant dan suhu lingkungannya. Dilihat dari prinsip operasinya, maka kompresor dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

A. Rotary Action/ Sistem Gerak Putar

Pada rotary action compressor, efek kompresi diperoleh dengan menekan gas yang berasal dari ruang chamber menuju ke saluran tekan yang berdiameter kecil

untuk menurunkan volum gas. Berikut beberapa jenis compressor dengan sistem rotary:

1. Tipe Through Vane

jenis compressor dengan sistem rotary : 1. Tipe Through Vane Gambar 2.8 A/C Compressor tipe through

Gambar 2.8 A/C Compressor tipe through vane

Kompresor tipe ini memiliki dua buah bilah (vane) yang terpasang saling tegak lurus pada bagian dalam silinder. Jika rotor berputar maka bilah akan bergeser pada arah radial dan menyentuh bagian dalam silinder (stator). Ruang yang dibentuk oleh bilah, dinding silinder dan rotor membentuk ruang pemasukan dan pengeluaran refrigerantt. Pada saat bilah berputar bersama rotor, gaya sentrifugal bekerja pada bilah sehingga bergerak menyentuh dinding stator. Ketika saluran pemasukan terbuka, refrigerantt terhisap masuk. Seiring berputarnya bilah, refrigerantt yang sudah masuk kemudian dikompresikan dengan cara mempersempit ruang dan selanjutnya menekan refrigerantt pada saluran pengeluaran. Terlihat pada gambar bahwa pada saat terjadi langkah pengeluaran refrigerantt, pada sisi lain dari rotor dan bilah melakukan langkah pemasukan refrigerantt.

rotor dan bilah melakukan langkah pemasukan refrigerantt . Gambar 2.9 Prinsip kerja A/C Compressor tipe through

Gambar 2.9 Prinsip kerja A/C Compressor tipe through vane

2. Tipe Scroll Tipe kompresor ini terdiri dari scroll tetap dan scroll putar. Ruang pemasukan dan pengeluaran terbentuk di antara scroll putar dan scroll tetap saat scroll putar diputar oleh poros kompresor. Ketika lubang pemasukan terbuka, refrigerant terhisap masuk kemudian dibawa berputar sambil dimampatkan hingga mencapai lubang pengeluaran untuk disalurkan ke kondensor pada kondisi bertekanan tinggi.

Gambar 2.10 A/C Compressor tipe scroll B. Mechanical Action / Sistem Gerak Bolak-Balik (tipe torak)

Gambar 2.10 A/C Compressor tipe scroll

B. Mechanical Action / Sistem Gerak Bolak-Balik (tipe torak) Pada mechanical action compressor, efek kompresi gas diperoleh dengan menurunkan volum gas secara reciprocating. Yang termasuk dalam jenis ini adalah:

Kompresor Torak.

. Yang termasuk dalam jenis ini adalah: Kompresor Torak. Gambar 2.11 A/C Compressor tipe torak Kompresor

Gambar 2.11 A/C Compressor tipe torak

Kompresor didesain dan dirancang agar dapat memberikan pelayanan dalam jangka panjang walaupun digunakan secara terus menerus dalam sistem refrigerasi kompresi gas. Untuk dapat melakukan performa seperti yang diharapkan maka kompresor harus bekerja sesuai kondisi yang diharapkan, terutama kondisi suhu dan tekanan refrigerant pada saat masuk dan meninggalkan katup kompresor. Compressor tipe Reciprocating/Torak mengubah putaran crankshaft menjadi gerakan bolak-balik pada piston. Berikut beberapa jenis compressor dengan sistem torak:

1.

Tipe Crank

1. Tipe Crank Gambar 2.12 A/C Compressor tipe crank Pada tipe ini sisi piston yang berfungsi

Gambar 2.12 A/C Compressor tipe crank

Pada tipe ini sisi piston yang berfungsi hanya satu sisi saja, yaitu bagian atas. Oleh sebab itu pada kepala silinder (valve plate) terdapat dua katup yaitu katup isap (suction) dan katup penyalur (Discharge). Pada saat piston bergerak ke bawah, ruangan di atas piston volumenya membesar sehingga tekanannya turun. Katup pemasukan bergerak membuka sehingga refrigerant terhisap masuk. Poros engkol yang berputar akan menggerakkan piston untuk bergerak ke atas, tekanan di atas piston naik dan menyebabkan katup pengeluaran membuka sehingga refrigerant terdorong keluar menuju ke kondensor.

2. Tipe Swash Plate

refrigerant terdorong keluar menuju ke kondensor. 2. Tipe Swash Plate Gambar 2.13 A/C Compressor tipe swash

Gambar 2.13 A/C Compressor tipe swash plate

Terdiri dari sejumlah piston dengan interval 72 o untuk kompresor 10 silinder dan interval 120 o untuk kompresor 6 silinder. Cara kerja piston pada tipe ini, yaitu apabila salah satu sisi melakukan langkah kompresi maka sisi lainnya melakukan langkah isap. Piston akan bergerak ke kanan dan kiri sesuai dengan putaran piringan pengatur (swash plate) untuk menghisap dan menekan refrigerant. Saat piston bergerak ke arah dalam dalam, katup pemasukan terbuka dan menghisap refrigerantt ke dalam silinder. Sebaliknya ketika piston bergerak keluar katup pemasukan menutup dan katup pengeluaran membuka untuk menekan refrigerant keluar. Katup pemasukan dan pengeluaran yang bekerja satu arah mencegah terjadinya pemasukan balik.

3. Tipe Wobble Plate

System kerja kompresor tipe ini sama dengan kompresor tipe swash plate. Namun, dibandingkan dengan kompresor tipe swash plate, penggunaan

kompresor tipe wobble plate lebih menguntungkan diantaranya adalah kapasitas kompresor dapat diatur secara otomatis sesuai dengan kebutuhan beban pendinginan. Selain tiu, pengaturan kapaitas yang bervariasi akan mengurangi kejutan yang disebabkan oleh operasi coupling magnetic (magnetic clutch).

oleh operasi coupling magnetic ( magnetic clutch ). Gambar 2.14 A/C Compressor tipe wooble plate Cara

Gambar 2.14 A/C Compressor tipe wooble plate

Cara kerjanya, gerakan putar dari poros kompresor diubah menjadi gerakan bolak-balik oleh plate penggerak (drive plate) dan wobble plate dengan bantuan guide ball. Gerakkan bolak-balik ini selanjutnya diteruskan ke piston melalui batang penghubung.

BAB III PROSES MANUFAKTUR SWASH PLATE

Product

Design

Raw

Material

Die Cast

Process

Dry

Lubricating

Product

Control

Assembly
Assembly

Finish

Product

Lubricating Product Control Assembly Finish Product Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate
Lubricating Product Control Assembly Finish Product Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate

Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate

3.1. Product Design

Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate 3.1. Product Design Gambar 3.2 Produk desain swash
Gambar 3.1. Alur proses manufaktur komponen swash plate 3.1. Product Design Gambar 3.2 Produk desain swash

Gambar 3.2 Produk desain swash plate

Membuat desain produk yang akan di produksi berupa gambar teknik produk. Dengan spesifikasi produk sebagai berikut:

Produk Compressor Style Type Model Temperatur intake Tekanan intake Oil Condensor Refrigerant Speed

3.2. Raw Material

: AC Compressor : DENSO : Reciprocating/Swash Plate : 10 PA : 70: 300 Psi : ND-8 : R-134a : 2.000-3.500 Rpm

10 PA : 70 ℃ : 300 Psi : ND-8 : R-134a : 2.000-3.500 Rpm Gambar

Gambar 3.3 Ingot aluminium

Mengacu pada prinsip kerja dari swash plate itu sendiri, yaitu mengubah

reciprocating, material yang digunakan adalah

gerak

aluminium 390, dengan kriteria:

rotasi

menjadi

gerak

1. Strength

2. Corrosion Ressistance

3. Wear Ressistance

4. Fatigue Strength

5. Thermal Ressistance

3.3. Die Casting

Mengacu pada Austin Group, LLC. ALUMINUM CASTING PROCESS COMPARISON CHARTS yang berisi tentang perbandingan compatibility process for aluminium, Proses manufaktur yang paling cocok digunakan untuk memproduksi swash plate adalah die cast.

Gambar 3.4 Proses die cast Die casting adalah proses memaksa logam cair di bawah tekanan

Gambar 3.4 Proses die cast

Die casting adalah proses memaksa logam cair di bawah tekanan tinggi ke

dalam rongga cetakan (yang mesin menjadi die). Benda tuang kebanyakan terbuat

dari logam non-ferrous, khususnya seng, tembaga, aluminium, magnesium, timbal,

timah dan timah paduan berbasis, meskipun logam mengandung besi tuang die yang

mungkin dengan metode die casting. Die casting sangat cocok untuk aplikasi di

mana sejumlah besar bagian-bagian berukuran kecil dan menengah diperlukan,

memastikan kualitas permukaan yang tepat dan konsistensi dimensi. Tingkat

fleksibilitas telah menempatkan benda tuang di antara produk yang dibuat volume

tertinggi di industri pengerjaan logam.

1. Sebuah volume produksi yang besar diperlukan untuk membuat alternatif

ekonomis untuk proses lainnya.

3.4. Dry Lubricating Dry lubrication atau teknis pelumasan dengan film kering memang sering

digunakan untuk beberapa aplikasi pada industri dan manufaktur.

Dry Lubrication lebih umum dikenal dengan menggunakan anti friction coating.

Jadi cara aplikasi yang sedikit berbeda dengan teknis pelumasan yang biasanya

dengan pelumas basah seperti grease dan oli.

Dry Lubrication dengan film kering adalah dengan bahan padat yang memberikan perlawanan gesek rendah antara permukaan ketika diterapkan langsung ke permukaan yang saling berinteraksi. Setiap bahan memiliki sifat yang berbeda. Kisi (lamella) bahan struktur kristal, seperti Molibdenum disulfida (MoS 2 ), Tungsten disulfida (WS 2 ) dan Grafit. Secara luas digunakan sebagai pelumas yang berdiri sendiri. Bahan-bahan ini digunakan secara terpisah atau dalam kombinasi lainnya dengan logam (timah, tembaga) untuk mencapai hasil yang diinginkan. Lamella / kisi permukaan pelumas kering memiliki gaya geser rendah antara lapisan kisi kristal mereka yang meminimalkan perlawanan antara permukaan geser.

mereka yang meminimalkan perlawanan antara permukaan geser. Gambar 3.5 Crystal Structure of MoS 2 Bahan-bahan ini

Gambar 3.5 Crystal Structure of MoS 2

Bahan-bahan ini telah terstruktur lapisan yang membentuk dan berinteraksi terhadap lapisan struktur lainnya. Kebanyakan bahan film pelumasan kering bekerja dengan baik di lingkungan yang kering dan bahan lapisan baik tambahan atau batas dengan system pelumas cair.

BAB IV DATA DAN ANALISIS

Pada BAB IV ini dilakukan analisis data pembanding dan penunjang dari

kriteria pemilihan bahan dan proses manufaktur.

4.1. Komposisi Kimia

Tabel 4.1. Komposisi Kimia Perbandingan Seri Aluminium

Alloy

 

Aluminium seri-

 

Composition

           

(%Max or

360

380

383

384

390

413

range)

Silicon

9-10

7.5-9.5

9.5-11.5

10.5-12

16-18

11-13

Iron

1.3

1.3

1.3

1.3

1.3

1.3

Copper

0.6

3.4

2.3

3-4.5

4.5

1.0

Manganese

0.35

0.50

0.50

0.50

0.50

0.35

Magnesium

0.4-0.6

0.10

0.10

0.10

0.45-0.65

0.10

Nickel

0.50

0.50

0.30

0.50

0.10

0.50

Zinc

0.50

3.0

3.0

3.0

1.5

0.50

Tin

0.15

0.35

0.35

0.35

0.20

0.15

Titanium

-

-

-

-

0.20

-

Total others

0.25

0.50

0.50

0.50

0.20

0.25

Aluminium

BAL.

BAL.

BAL.

BAL.

BAL.

BAL.

Sumber : Aluminum Alloy Castings: Properties, Processes, and Applications. Kaufman G., J. & Rooy, Elwin L., ASM International 2004

4.2. Pemeriksaan Metalografi

Pada komponen swash plate dilakukan proses metalografi. Metalografi yang

dilakukan adalah metalografi kualitatif untuk mengobservasi struktur mikronya.

Pemeriksaan metalografi ini mengacu ke standar ASTM E3 untuk persiapan

spesimen dan langkah observasinya. Proses metalografi diawali dengan analisa

pendahuluan untuk menentukan daerah yang akan di uji. Komponen dipotong

dengan menggunakan gergaji tangan, lalu dimounting menggunakan resin. Setelah

itu komponen diampelas menggunakan ampelas 60 mesh sampai 2000 mesh, lalu

dilanjutkan dengan pemolesan menggunakan pasta gigi yang mengandung alumina.

Kemudian dilakukan proses pengetsaan, larutan etsa yang digunakan adalah HF

(Hydroflouric Acid). Struktur mikro diobservasi menggunakan mikroskop cahaya.

Hasil pemeriksaan metalografi dibandingkan dengan referensi dan hasilnya

disajikan dalam tabel 4.2.

Tabel 4.2. Hasil Pemeriksaan Metalografi

Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant
Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat: Paten US 20100288461 A1. Wear-resistant

Larutan etsa : HF Perbesaran : 200x Fasa yang terlihat:

Paten US

20100288461 A1.

Wear-resistant

aluminum alloy

MERCALLOY.

www.mercury.com

Effect of Cooling Rate on Microstructure and Mechanical Properties in Al-Si Alloys. Proceedings of the
Effect of Cooling
Rate on
Microstructure and
Mechanical
Properties in Al-Si
Alloys.
Proceedings of the
12th International
Conference on
Aluminium Alloys,
September 5-9,
2010, Yokohama,
Japan
Tebal lapisan dry
lubricating rata-
rata: 4,798
mikrometer

4.3. Pengujian Kekerasan Sebelum diuji kekerasan, spesimen dilakukan preparasi awal yaitu membersihkan dan meratakan permukaan dengan mesin grinding dan kertas ampelas 60 mesh. Pengujian kekerasan dilakukan dengan mesin uji kekerasan rockwell yang mengacu pada standard ASTM E18.

Tabel 4.3. Hasil Pengujian Kekerasan

Pengujian Kekerasan
Pengujian Kekerasan

Pengujian

Nilai

Rata-rata

Ke-

Kekerasan

 

1 BHN

112

 
 

2 BHN

114

113 BHN

 

3 BHN

114

Pengujian

: Brinell

Metode

: Indentasi

Jenis Indentor

: Bola Baja

Dia. Indentor

: 5 mm

Beban

: 250 Kg

Waktu

Penekanan

: 10 detik

Standar

: ASTM E10

Tabel 4.4. Perbandingan Nilai Kekerasan Material Pembanding dengan Hasil Pengujian

Kekerasan

pembanding

Nilai Kekerasan

Hasil Pengujian

Aluminium 360

75 BHN

113 BHN

Aluminium 380

80 BHN

Aluminium

383

75

BHN

Aluminium

384

85

BHN

Aluminium 390

120 BHN

Aluminium

413

80 BHN

4.4. Analisa 4.4.1. Kriteria Pemilihan Bahan dan Proses Berdasarkan prinsip kerja dan desain dari swash plate maka dipilih bahan dan proses manufaktur yang sesuai. Pemilihan bahan dan proses manufaktur ini dilakukan secara paralel sehingga pemilihannya terintegrasi. Dilakukan langkah translation untuk menerjemahkan kriteria dari bahan dan proses manufaktur. Kriteria bahan dan proses manufaktur yang dibutuhkan oleh komponen swash plate adalah sebagai berikut:

Pemilihan Proses

1. Tool life

2. Tool cost

3. Complexity of Design

4. Dimensional Tolerance

5. Relative Surface Finish Pada pemilihan proses manufaktur dibutuhkan proses manufaktur yang dapat

menghasilkan relative surface finish yang baik atau halus karena kerja dari swash

plate bergesekan dengan sepatu piston. Relative surface yang halus dapat memberikan perlawanan terhadapa gesekan lebih rendah sehingga akan

menghasilkan gerak rotasi yang baik.

Pemilihan Bahan

1. Tensile Strength

2. Fatigue Strength

3. Corrosion ressitance

4. Thermal Ressistance

5. Wear Ressistance

6. Lighweight

Semua bahan dan proses manufaktur dilakukan proses screening dan ranking untuk menentukan bahan dan proses manufaktur yang sesuai dengan kriteria dari swash plate.

4.4.2. Komposisi Kimia Beberapa seri aluminium yang dapat dilakukan proses die casting dilakukan perbandingan komposisi kimia. Perbandingan komposisi kimia ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur terhadap mechanical properties dari swash plate. Berdasarkan kondisi kerja dari swash plate yang bergesekan dengan sepatu piston (shoe) maka dibutuhkan sifat ketahanan aus terhadap gesekan yang tinggi. Sifat ini diakomodir dengan adanya unsur silika. Unsur silicon dapat meningkatkan nilai kekerasan karena sifat dari silicon sendiri termasuk kedalam unsur padatan yang keras. Dengan penambahan unsur silicon dapat meningkatkan nilai kekerasan dari komponen. Kekerasan akan berkorelasi dengan nilai ketahanan aus, semakin tinggi nilai kekerasan maka ketahanan aus terhadap gesekan pun akan semakin tinggi. Kandungan silicon juga berhubungan dengan kekuatan tarik maksimum dari komponen. Kandungan silicon tertinggi berada pada aluminium seri 390 yaitu sebesar 16-18%. Hubungan antara nilai kekerasan, kekuatan tarik maksimum dan kandungan silicon ditunjukkan oleh gambar 4.1 dibawah ini.

antara nilai kekerasan, kekuatan tarik maksimum dan kandungan silicon ditunjukkan oleh gambar 4.1 dibawah ini. (a)

(a)

(b) Gambar 4.1. (a). Hubungan antara kandungan silicon dengan kekerasan. (b) hubungan antara kandungan silicon

(b)

Gambar 4.1. (a). Hubungan antara kandungan silicon dengan kekerasan. (b) hubungan antara kandungan silicon dengan kekuatan tarik maksimum. (sumber: Impact of Silicon Content on Mechanical Properties of Aluminum Alloys International Journal of Science and Research (IJSR)

ISSN (Online): 2319-7064 )

4.4.3. Hasil Pemeriksaan Metalografi Berdasarkan hasil pemeriksaan metalografi kualitatif terhadap komponen swash plate yang disajikan dalam tabel 4.2 menunjukkan adanya silicon crystal sludge, aluminium matrix, eutectic silicon, dan aluminium oxide. Penentuan ini merujuk pada referensi-referensi yang dibandingkan dalam tabel 4.2. Hasil metalografi menunjukkan hasil yang identik dengan referensi yaitu aluminium seri 390. Adanya silicon crystal sludge menunjukkan tingginya kandungan silicon dalam komponen. Silicon crystal sludge ini dihasilkan dari hyperutectic silicon jika merujuk kepada diagram fasa Al-Si (terlampir). Kandungan silicon yang tinggi ini dapat meningkatkan kekerasan yang dibuktikan dengan hasil pengujian kekerasan dan perbandingan nilai kekerasan. Aluminium oxide pada komponen juga dapat meningkatkan kekerasan dari komponen. Pada potongan melintang komponen dilakukan juga proses metalografi untuk memeriksa dan memastikan adanya dry lubrication yang diaplikasikan dalam proses manufaktur swash plate. Dry lubrication atau teknis pelumasan dengan film kering adalah dengan bahan padat yang memberikan perlawanan gesek rendah antara permukaan ketika diterapkan langsung ke permukaan yang saling berinteraksi. Dry lubrication ini sebagai mekanisme perlindungan kedua ketika pelumas antara swash plate dan shoe

berkurang. Pada hasil metalografi didapatkan rata-rata tebal lapisan dry lubrication ini sebesar 4.798 mikrometer. Tebal lapisan ini adalah tebal lapisan setelah mengalami aus. Asumsi ini ditunjukkan dengan permukaan komponen yang memiliki perbedaan warna.

4.4.4. Hasil Pengujian Kekerasan Hasil pengujian kekerasan menghasilkan nilai kekerasan 113 BHN. Nilai kekerasan ini jika dibandingkan dengan kekerasan material pembanding maka aluminium seri 390 nilai kekerasannya paling mendekati yaitu sebesar 120 BHN. Nilai kekerasan ini dapat tercapai karena adanya kandungan silicon yang tinggi dari komposisi kimia aluminium seri 390. Kandungan silicon yang tinggi menghasilkan silicon crystal sludge yang sifatnya keras.

BAB V KESIMPULAN

1. Fungsi swash plate adalah mengubah/mengkonversi gerak rotasi menjadi gerak reciprocating pada piston compressor.

2. Berdasarkan kriteria bahan yang dibutuhkan (strength, cast ability, stiffness, lightweight, dan corrosion ressistance) maka pemilihan bahan yang tepat untuk swash plate A/C compressor Denso 10PA adalah Alumunium seri 3 yaitu 390. (United States Patent no. 4,950,132)

3. Berdasarkan kriteria manufaktur yang dibutuhkan (tool life, tool cost, complexity of design, relative surface finish, dimensional tolerance, dan defect probability ) maka pemilihan proses yang tepat untuk Swash Plate A/C Compressor Denso 10PA adalah Die Cast. (United States Patent no. 4,950,132)

4. Pemeriksaan metalografi terhadap komponen swash plate menunjukan alumunium oxide, silicon crystals sludge, alumunium matrix, eutectic silicon yang identik dengan referensi aluminium 390.

5. Dry Lubricant film berfungsi sebagai anti friction film ketika terjadi kekurangan pelumas pada swash plate.

6. Nilai kekerasan rata-rata hasil pengujian brinell pada Swash Plate A/C Compressor Denso 10PA adalah 113 BHN mendekati nilai referensi yaitu 120 BHN.

DAFTAR PUSTAKA

4. Lee, Geon Ho and Lee, Tae Jin. A Study on Variable Displacement Mechanism of Swash Plate Type Compressor for Automotive Air Conditioning System. 2010. International Compressor Engineering Conference. Paper 1706.

5. NADCA Product Spesification Standards for Die Casting. Section 3.

2003

6. Nunez, Emerson Escobar and Polycarpou, Andreas A. Tribological Study of Aluminum 390-T6, Gray Cast Iron, and Manganese-Silicon Brass as Metallic Interfaces for Air-Conditioning Compressors in the Presence of CO 2 . 2008. International Compressor Engineering Conference. Paper 1890.

7. N, Yu, A, A. Polycarpou, and T.F. Conry. Experimental, Analytical and Finite Element Studies of the Nanoidentation Technique to Investigate Material Properties of Surface Layers Less Than Nanometers Thick. 2003. Urbana

LAMPIRAN

TECHNICAL DRAWING

TECHNICAL DRAWING Produk Compressor Style Type Model Temperatur intake Tekanan intake Oil Condensor Refrigerant Speed
TECHNICAL DRAWING Produk Compressor Style Type Model Temperatur intake Tekanan intake Oil Condensor Refrigerant Speed

Produk Compressor Style Type Model Temperatur intake Tekanan intake Oil Condensor Refrigerant Speed

: AC Compressor : DENSO : Reciprocating/Swash Plate : 10 PA : 70: 300 Psi : ND-8 : R-134a : 2.000-3.500 Rpm

Data Perbandingan Proses Manufaktur

CASTING

METALS

SIZE RANGE

TOLERANCES

AVERAGE

SURFA/CE

MINIMUM DRAFT

EASE OF CASTING COMPLEX DESIGNS

EASE OF

PROCESS

TOOLING COST

FINISH

REQUIRED

CHANGING

     

0-3" = 0.03" per in.

 

Ferrous: 420-900

     

GREEN

Most Castable

All sizes per foundry capabilities

Low

RMS

1-5 degrees

Fair to Good

Best

SAND

Metals

+

0.005" per

Aluminum: 175-

 

in. for eA/Ch

 

350

RMS

     
     

0-3" = 0.03" per in.

         

Most Castable

Up to several hundred pounds

+

0.005" per

Per type of foam used

LOST FOAM

Metals

in. for eA/Ch additional in. A/Cross parting line add

Low

None

Good

Good

     

Aluminum:

         

PERMANENT

Aluminum &

All sizes per foundry

+/-0.015" per in. up to 1" add 0.002" per in. over 1" A/Cross parting line add 0.010" to small castings, 0.030" to

Medium

Aluminum: 125-

200

RMS

Ferrous: 3-5 degrees Aluminum: 2-4 degrees

Fair

Poor

MOLD

Copper Base

Copper Base: 175-

capabilities; Aluminum = 0.5 to 100 lbs.

225

RMS

Copper Base: 3-5 degrees

 

Aluminum, Zinc,

 

0.0015" per in. Not less than 0.002" on any one dimension. A/Cross parting line add 0.010"

         

DIE CAST

Magnesium, &

Copper Base

Typical max mold

area = 3 ft 2

High

20-90 RMS

Aluminum: 1-3 degrees Zinc & Mag: 0.5-2 degrees

Good

Poorest

 

Most Castable

All sizes per foundry capabilities

+/-0.010" per in. up to 1" add 0.002" per in. over 1" A/Cross parting line add

         

V-PROCESS

Metals

Medium

125-250 RMS

None

Good

Good

Sumber: Austin Group, LLC. 2002

Screening dan Ranking Go-No-Go Proses Manufaktur

 

Go-No-Go

 

Relative rating number - R (=rating number x weighting fA/Ctor)

 

ΣR

Σr

ΣR/r

Process

       

Relative

         

Compatibility

Tool

Tool

Complexity

Surface

Dimensional

Defect

Casting for

Life

Cost

of Design

Finish

Tolerance

Probability

Aluminium

(4)

(4)

(4)

(5)

 

(4)

(4)

     

V-

                   

Process

S

4

x 4

4

x 4

1

x 4

3

x 5

3 x 4

2

x 4

71

25

2,84

Lost

                   

Foam

S

5

x 4

2

x 4

5

x 4

4

x 5

4 x 4

2

x 4

92

25

3,68

Sand

                   

Cast

S

3

x 4

5

x 4

3

x 4

1

x 5

1 x 4

1

x 4

57

25

2,28

Die

                   

Cast

S

2

x 4

1

x 4

4

x 4

5

x 5

5

x 4

5

x 4

93

25

3,72

Perm.

                   

Mold

S

1

x 4

3

x 4

2

x 4

2

x 5

2

x 4

2

x 4

50

25

2

Excellent : 5 Very good: 4 Good: 3 Fair : 2 Poor : 1

Tool Life: 4 Tool Cost: 4 Complexity of Design: 4 Relative SurfA/Ce Finish: 5 Dimensional Tolerance: 4 Defect Probability : 4

 

S: satisfA/Ctory U: unsatisfA/Ctory Go-No-Go Property:

 

Compatibility Casting for Alumunium

Data Perbandingan Seri Aluminium

AA/ANSI

 

Aluminium Die Casting Alloy Properties

 

Designation

           

System

360

380

383

384

390

413

 

Mechanical Properties

 

Ultimate

           

Tensile

Strength

300

320

310

330

320

290

(Mpa)

Yield

           

Strength

170

160

150

170

250

140

(Mpa)

Elongation

           

(% in 2in

2.5

3.5

3.5

2.5

<1

2.5

(51mm)

Hardness

           

(BHN)

75

80

75

85

120

80

Impact

           

Strength (J)

-

4

4

-

-

-

Young’s

           

Modulus

71

71

71

-

81.3

71

(Gpa)

Fatigue

           

Strength

140

140

145

140

140

130

(Mpa)

Physical Properties

Density (g/cm 3 ) Coefficient of Thermal Expansion ( ⁄ °)

2.63

2.74

2.74

2.82

2.73

2.66

21

22

21

21

18

20.4

Sumber: NADCA Product Specifcation Standards for Die Castings / Section 3 / 2003

Die Casting and Other Characteristics: Al Alloys least desirable)

(1 = most desirable, 5 =

 

Aluminum Die Casting Alloys

 

Commercial:

360

380

383

384

390*

13

ANSI/AA:

360.0

380.0

383.0

384.0

B390.0

413.0

Resistance to

           

Hot Cracking

1

2

1

2

4

1

Pressure

Tightness

 

2

2 2

 

2

4

1

Die-Filling

Capacity

 

2

3 1

 

1

1

1

Anti-Soldering to the Die

2

1

2

2

2

1

Corrosion

           

Resistance

2

4

3

5

3

2

Machining Ease & Quality

3

3

2

3

5

4

Chemical Oxide

           

Protective Coating

3

4

4

5

5

3

Strength at

1

3

2

2

3

3

Elevated

Sumber: NADCA Product Specifcation Standards for Die Castings / Section 3 / 2003

Screening dan Ranking Go-No-Go Beberapa Material Umum

Material

Go-No-

 

Relative rating number - R

 

SR

Sr

SR/r

Go

 

(=rating number x weighting factor)

   

Cast

   

Corrosion

     

Strength

Ability

Stiffness

Lightweight

Resistance

(4)

(4)

 

(5)

(4)

 

17

 

Baja

S

4

x 4

4

x 4

1

x 4

2

x 4

44

17

2,58

Aluminium

S

4

x 4

3

x 4

4

x 4

5

x 4

64

17

3,76

Besi Cor

S

4

x 4

4

x 4

3

x 4

2

x 4

52

17

3,05

Kuningan

S

3

x 4

3

x 4

2

x 4

3

x 4

44

17

2,58

Excellent : 5 Very good: 4 Good: 3 Fair : 2 Poor : 1

 

Cast Ability: 5

   

Stiffness: 4

Go-No-Go Property: [Strength]

 

S: Satisfactory

 

Lightweight: 4

Corrosion Resistance: 4

 

U: Unsatisfactory

Screening dan Ranking Go-No-Go Seri Aluminium

Material

Go-No-

 

Relative rating number - R

 

SR

Sr

SR/r

Go

(=rating number x weighting factor)

 
   

Cast

Stiffness

Corrosion

Wear

Fatigue

Thermal

     

Strength

Ability

Ressistance

Ressistance

Strength

Ressistance

(3)

(4)

(4)

(5)

(4)

(4)

     

Al seri

                   

1xx

S

4

x 4

3

x 4

3

x 4

1

x 4

1

x 4

1

x 4

52

24

2,16

Al seri

                   

2xx

S

4

x 4

3

x 4

2

x 4

2

x 4

2

x 4

2

x 4

60

24

2,5

Al seri

                   

3xx

S

4

x 4

3

x 4

3

x 4

5

x 4

5

x 4

3

x 4

92

24

3,83

Al seri

                   

4xx

S

4

x 4

3

x 4

2

x 4

1

x 4

2

x 4

3

x 4

60

24

2,5

Al seri

                   

5xx

S

4

x 4

3

x 4

5

x 4

1

x 4

2

x 4

2

x 4

68

24

2,83

Al seri

                   

7xx

S

4

x 4

3

x 4

3

x 4

1

x 4

2

x 4

2

x 4

60

24

2,5

Al seri

                   

8xx

S

4

x 4

3

x 4

3

x 4

1

x 4

2

x 4

2

x 4

60

24

2,5

Excellent : 5 Very good: 4 Good: 3 Fair : 2 Poor : 1

 

Corrosion Ressistance: 4 Wear Ressistance: 4 Fatigue Strength: 4 Thermal Ressistance : 4

 

Go-No-Go Property: [Strength] S: Satisfactory U: Unsatisfactory

Screening dan Ranking Go-No-Go Aluminium Die Cast Alloy

 

Go-No-

 

Relative rating number - R (=rating number x weighting factor)

       

Go

Material

 

Corrosion

Wear

Fatigue

Thermal

SR

Sr

SR/r

Strength

Resistance

Resistance

Strength

Resistance

(4)

(5)

(5)

(4)

360

S

4

x 4

4

x 5

3

x 5

3

x 4

63

18

3,5

380

S

3

x 4

2

x 5

3

x 5

3

x 4

49

18

2,72

383

S

4

x 4

2

x 5

3

x 5

3

x 4

53

18

2,94

384

S

4

x 4

4

x 5

3

x 5

3

x 4

63

18

3,50

390

S

3

x 4

5

x 5

3

x 5

3

x 4

64

18

3,55

413

S

4

x 4

3

x 5

3

x 5

3

x 4

58

18

3,22

Excellent : 5 Very good: 4 Good: 3 Fair : 2 Poor : 1

 

Corrosion Ressistance: 4 Wear Ressistance: 4 Fatigue Strength: 4 Thermal Ressistance : 4

 

Go-No-Go Property:

Temper

designation:

F (as cast)

[Strength]

S: Satisfactory

U: Unsatisfactory