Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

ISI KYOTO PROTOKOL

DI SUSUN

OLEH :

NAMA : ALEX WAY

NIM : 2015-69-029

PRODI : S1 TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

UNIVERSITAS PAPUA

2018
ISI KYOTO PROTOKOL

Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan
mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan
tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan
jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%).

Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon
dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai
rata-rataselama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkiasar dari pengurangan
6% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan
yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.

Target penurunan emisi dikenal dengan nama quantified emission limitation and reducation
commitment (QELROs) merupakan pokok permasalahan dalam seluruh urusan Protokol
Kyoto dengan memiliki implikasi serta mengikat secara hukum, adanya periode komitmen,
digunakannya rosot (sink) untuk mencapai target, adanya jatah emisi setiap pihak di Annex I,
dan dimasukannya enam jenis gas rumah kaca seperti CO 2, CH4, N2O, HFC, PFC dan SF6
(basket of gases) dan disertakan dengan CO2.

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan
Iklim atau yang dikenal sebagai UNFCCC. UNFCCC ini diadopsi pada Pertemuan Bumi di
Rio de Jenerio pada 1992. Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau
meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto
diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang.

Protokol ini telah disepakati pada Konferensi ke-3 Negara-negara pihak dalam Konvensi
Perubahan Iklim (The United Nations Frame Work Convention on Climate Change/the
UNFCCC) yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang tanggal 11 Desember 1997. Dan terbuka
untuk ditandatangani dari tanggal 16 Maret 1998 sampai 15 Maret 1999 di Markas Besar
PBB, New York. Pada waktu itu Protokol telah ditandatangani oleh 84 negara penandatangan.
Namun demikian, bagi negara pihak yang belum menandatanganinya dapat mengaksesi
protokol tersebut setiap saat.

Protokol Kyoto mewajibkan negara pihak pada the UNFCCC untuk


meratifikasi, akseptasi, memberikan approval ataupun aksesi, serta berlaku mengikat pada
hari kesembilan setelah tidak kurang dari 55 negara pihak pada the UNFCCC, termasuk
negara yang disebut dalam ANNEX I the UNFCCC dimana negara-negara yang masuk dalam
kelompok tersebut memiliki kewajiban untuk mengurangi tingkat emisi GHGs-nya minimal
5,5 % dari tingkat emisi tahun 1990, telah mendepositkan instrumen ratifikasi, aksptasi,
approval atau aksesi-nya.

Adapun isi Protokol Kyoto pada pokoknya mewajibkan negara-negara industri maju untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca (Green House Gases/GHGs) - CO2, CH4, N2O, HFCS,
PFCS dan SF6- minimal 5,5 % dari tingkat emisi tahun 1990, selama tahun 2008 sampai
tahun 2012. Protokol Kyoto juga mengatur mekanisme teknis pengurangan emisi gas rumah
kaca (GHGs) yang dikenal dengan Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development
Mechanism/CDM). CDM adalah suatu mekanisme di bawah Protokol Kyoto yang
dimaksudkan untuk mambantu negara maju/industri memenuhi sebagian kewajibannya
menurunkan emisi GHGs serta membantu negara berkembang dalam upaya menuju
pembangunan berkelanjutan dan kontribusi terhadap pencapaian tujuan the UNFCCC.
Mekanisme ini menawarkan win-win solution antara negara maju dengan negara
berkembang dalam rangka pengurangan emisi GHGs, dimana negara maju menanamkan
modalnya di negara berkembang dalam proyek-proyek yang dapat menghasilkan
pengurangan emisi GHGs dengan imbalan CER (Certified Emission Reduction).
Sampai dengan tanggal 19 Maret 2001, 84 negara telah ikut menan datangani Protokol Kyoto
dan 33 negara telah meratifikasinya. Sedangkan Indonesia sebagai negara berkembang yang
belum diwajibkan untuk menurunkan emisi GHGs-nya belum meratifikasi Protokol ini.
Akan tetapi sebagai negara yang terdiri dari banyak pulau, lautan serta memiliki hutan yang
sangat luas dan untuk kepentingan pembangunan bangsa di masa depan, ada upaya-upaya
untuk menjajagi kemungkinan ratifikasi.
DAFTAR PUSTAKA

http://untukbumiku.blogspot.com/2009/07/tentang-protokol-kyoto.html

http://mcarmand.blogspot.com/2009/03/isi-protokol-kyoto.html
Isi dari kyoto protokol

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau
yang dikenal sebagai UNFCCC. ... Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau
meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan.

Protokol Kyoto adalah sebuah amendemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan
Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional tentang pemanasan global.

Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas
tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas
manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat
penguapan air dari laut, danau dan sungai.

Protokol Montreal (lengkapnya: Protokol Montreal atas Zat-Zat yang mengurangi Lapisan Ozon)
adalah sebuah traktat internasional yang dirancang untuk melindungi lapisan ozon dengan
meniadakan produksi sejumlah zat yang diyakini bertanggung jawab atas berkurangnya lapisan ozon.

Hasil yang di capai pada kyoto

Kyoto Protocol adalah sebuah perjanjian internasional yang dimaksudkan untuk menurunkan
emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dunia, yang harus dicapai pada tahun
2012. Idealnya, hasil dari Protokol Kyoto adalah terjadinya pengurangan emisi gas di bawah
level yang terukur pada tahun 1990.2 Mar 2017