Anda di halaman 1dari 12

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DI HUTAN EVERGREEN TAMAN

NASIONAL BALURAN, SITUBONDO, JAWA TIMUR

1. Latar belakang
Taman Nasional Baluran adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak
di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi (sebelah utara), Jawa
Timur, Indonesia. Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di
daerah ini, yaitu Gunung Baluran. Gerbang untuk masuk ke Taman Nasional Baluran berada
di 7°55'17.76"S dan 114°23'15.27"E. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana,
hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan
yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendominasi kawasan Taman
Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan.
Luas Kawasan :
Berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 279/Kpts.-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997
kawasan TN Baluran ditetapkan memiliki luas sebesar 25.000 Ha. Sesuai dengan
peruntukkannya luas kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan SK. Dirjen
PKA No. 187/Kpts./DJ-V/1999 tanggal 13 Desember 1999 yang terdiri dari:

1. zona inti seluas 12.000 Ha.


2. zona rimba seluas 5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha).
3. zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 Ha.
4. zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan zona rehabilitasi seluas 783 Ha

2. Tujuan :
Untuk mengetahui Keanekaragaman tumbuhan, Hutan evergreen, Taman Nasional
Baluran
3. Metodologi :
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di hutan evergreen yang merupakan bagian ekosistem
Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.Waktu penelitian dimulai dari 3 juni 2014
sampai dengan 4 juni 2014.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah thermometer, hygrometer,
pita ukur, pita meter, patok, tali rapia, alat tulis, tally sheet, pH meter, dan kamera digital.

3.3 Teknik Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan menganalisis vegetasi tumbuhan dengan
carajalur/garis berpetak. Dibuat tiga buah transek, masing-masing transek berukuran 50 x 50
m dengan interval dari satu transek ke transek lainnya 10 m. Transek dibuat sebanyak tiga
buah, 2 buah transek diletakan dibatas hutan evergreen dan 1 transek diletakan di bagian
tengah kawasan evergreen. Pada setiap transek penelitian dibuat plot dengan ukuran yang
berbeda yaitu 10 x 10 m (data pohon) sebanyak 3 buah, 5 x 5 m (data belta) sebanyak 3 buah
dan plot ukuran 2 x 2 m (data semai/herba) sebanyak 3 buah.

Gambar 1. Desain petak pengamatan menggunkan Layot Out Kombinasi Antara Jalur dan
Cara Garis Berpetak (Soerianegara dan Indrawan, 2012).
Pengukuran faktor abiotik dilakukan disekitar plot dengan menggunakan alat hygrometer
untuk mengukur kelembaban, thermometer untuk pengukuran suhu, dan pH meter untuk
mengukur Ph tanah. 2.4 Analisis Data Untuk mengetahui gambaran tentang komposisi
tumbuhan dan data ekologi tumbuhan dilakukan perhitungan terhadap parameter yang
meliputi indeks nilai penting, indeks dominansi , indeks kergaman jenis, kemerataan jenis,
keragaman dan kekayaan jenis.
a. Indeks Nilai Penting
Dalam penelitian ini nilai INP dihitung dengan rumus [5]:
INP = KR+FR (Untuk semai dan belta)
INP = KR+FR+DR (Untuk pohon)
Rumus yang digunakan dalam analisis data
4. Hasil Dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukan komposisi jenis tumbuhan pada tingkat semai terdiri
dari 15 jenis,belta 12 jenis tumbuhan, dan pada tingkat pohon ditemukan 9 jenis tumbuhan.
Perbandingan jumlah jenis di gambarkan dalam bentuk histogram di bawah ini.

Gambar 2. Perbandingan jumlah jenis tumbuhan yang ditemukan pada berbagai tingkat
pertumbuhan Total jenis yang ditemukan pada masing-masing tingkat pertumbuhan yaitu,
semai, belta, dan pohon secara terperinci disajikan dalam tabel 1 untuk tingat semai, tabel 2
untuk tingkat belta dan tabel 3 untuk tingkat pohon. Hasil analisis data diketahui nilai
kekayaan jenis, kemerataan jenis, keragaman jenis, dan dominansi untuk setiap tingkat
pertumbuhan tersaji dalam tabel 4.
Tabel 1. Tumbuhan dominansi pada tingkat pertumbuhan semai.

Berdasarkan indeks nilai penting (INP) yang tersaji dalam tabel 1, maka tumbuhan
dengan tingkat dominansi tertinggi adalah emprit-empritan (Eragrostis amabilis) dengan INP
46,06%. Morfologi dari tumbuhan emprit-empritan (Eragrostis amabilis) terdapat pada
gambar 3.

Tumbuhan emprit-empritan merupakan tumbuhan bawah yang paling sering ditemui


pada tingkat semai. Tumbuhan ini ditemukan ditepian jalan dengan tutupan tajuk pohon yang
menaunginya jarang sehingga sinar matahari dapat dengan mudah mempangaruhi
pertumbuhan tanaman pada tingkat semai.Sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan
hingga ke lantai, sehingga tidak memungkinkan bagi semak untuk berkembang dibawah
naungan tajuk pohon [3]. Berdasarkan hasil penelitian semakin dalam hutan maka tanaman
dengan jenis emprit-empritan (Eragrostis amabilis) tidak dapat ditemukan lagi, dikarenakan
tutupan tajuk yang semakin rapat.
Tabel 2 Tumbuhan dominansi pada tingkat pertumbuhan belta.

Berdasarkan indeks nilai penting (INP) yang tersaji dalam tabel 2, maka tumbuhan
dengan tingkat dominansi tertinggi adalah Mimicilon endule dengan INP 50,69. Morfologi
dari tumbuhan Kebesi (Mimicilon edule) terdapat pada gambar 3.

Tumbuhan Kebesi (Mimicilon edule) merupakan tumbuhan pohon yang ditemukan pada
tingkat belta. Pada tingkat pertumbuhan ini tidak hanya jenis Kebesi (Mimicilon edule) yang
mudah ditemui ada juga tumbuhan jarong (Jarong (Achyranthes aspera) dengan indeks nilai
penting sebesar 31,31. Kedua tumbuhan ini memiliki bentuk morfologi yang hampir sama.
Namun pada tumbuhan Mimicilon endule memiliki tekstur permukaan yang lebih mengkilat
dibandingkan dengan jarong (Achyranthes aspera) hal ini disebabkan karena adanya lapisan
kutikula pada permukaan daun. Selain itu kedua tanaman tersebut memiliki struktur yang
cenderung kaku.
Berdasarkan tabel 3, tumbuhan yang memiliki tingkat dominansi/penguasaan tertinggi
adalah Gebang (Corypa utan) dengan nilai INP 112,8%. Morfologi dari tumbuhan Kebesi
(Mimicilon edule) terdapat pada gambar 4. Tumbuhan ini kaya akan manfaat, Daun pada
tanaman gebang sering digunakan untuk penutup atap rumah. .

Berdasarkan tabel 4 diperoleh nilai dominansi (C), indeks kekayaan (R1), indeks
kemerataan (E), indeks keanekaragaman (H’) dari setiap tingkat pertumbuhan tanaman di
hutan evergreen Taman Nasional Baluran Jawa Timur.
Menurut [2], nilai R1 <3,5 menunjukan kekayaan jenis yang tergolong rendah. R1
3,5-5,0 menunjukan kekayaan jenis tergolong sedang, dan R1 > 5,0 menunjukan kekayaan
jenis tegolong tinggi. Maka kekayaan jenis tumbuhan semai menunjukan kategori rendah,
karena memiliki nilai R1 2,34. Tumbuhan tingkat belta memiliki nilai R1 2,80 menujukan
kekayaan jenis yang rendah. Sedangkan tumbuhan tingkat pohon memiliki 2,14 yang
menunjukan kekayaan jenis rendah. Ketiga jenis tingkat pertumbuhan tanaman tersebut yang
memiliki indeks kekayaan lebih tinggi yaitu belta.Nilai dari indeks kekayaan dari setiap
tingkat pertumbuhan tersebut dibuatlah histogram untuk menggambarkan Perbedaan nilai.
tersebut disajikan dalam Gambar 6.
Hasil perhitungan tingkat kekayaan jenis belta menunjukan bahwa belta memiliki tingkat
kekayaan yang lebih besar dibandingkan dengan semai dan pohon. Nilai indeks
keanekaragaman jenis menurut Magurran dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan,
yaitu: jika nilai H’ < 2 maka nilai H’ tegolong rendah, jika nilai H’ 2-3 maka tergolong
sedang dan jika nilai H’ > 3 maka tergolong tinggi. Berdasarkan pengklasifikasiannya,
tumbuhan tingkat semai memperoleh angka 1,65 maka semai memiliki keanekaragaman yang
rendah, Belta bernilai 2,31 menunjukan kategori sedang dan pohon bernilai 1,64 yang
menunjukan kategori rendah. Nilai indeks keanekaragaman tesebut menunjukan bahwa
kemelimpahan jenis tumbuhan belta lebih besar dibandingakan dengan semai dan
pohon.Perbandingan nilai tersebut disajikan dalam Gambar 7.

Indeks kemerataan jenis (E), nilai yang ditunjukan pada berbagai tingkat pertumbuhan
bereda. Besaran nilai E <0,3 menunjukan kemerataan jenis rendah, E=0,30,6 menunjukan
kemerataan jenis tergolong sedang, dan E > 0,6 maka kemeraan jenis tinggi. Berdasarkan
tingkatan kategori tersebut, maka semai yang memiliki angka 0,61 menunjukan kemertaan
jenis yang tinggi, belta memiliki nilai 0,86 berkategori tinggi dan pohon bernilai 0,75 dengan
kategori tinggi. Meskipun ketiganya memiliki kategori kekayaan jenis yang tinggi, namun
kekayaan jenis yang paling tinggi ditunjukan oleh tingkat jenis tanaman belta.
Indeks dominansi (C), nilai yang ditunjukan pada berbagai tingkat pertumbuhan berbeda.
Besaran nilai 0<C<0,3 maka indeks dominansi rendah, apabila 0,3<C<1 maka indeks
dominansi dikatakan tinggi. Berdasarkan nilai dominansi yang telah ditetapkan maka indeks
dominansi pada tingkat semai dikatakan rendah karena nilai dominansi kurang dari 0,3 yaitu
sebesar 0,133. Pada tingkat pertumbuhan belta indeks dominansinya sebesar 0,1205 maka
dominansi dikatakan rendah. Pada tingkat pertumbuhan pohon nilai indeks dominansi sebesar
0,2555, maka dominansi pohon dikatakan rendah karena kurang dari 0,3. Nilai-nilai
dominansi tersebut disajikan pada Gambar 8.

Berdasarkan pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui faktor abiotik di hutan Evergreen
Taman Nasional Baluran, didapatkanlah data pada Tabel 5.
Berdasarkan nilai yang dipaparkan pada tabel 5, suhu di kawasan hutan evergreen
pada pagi hari yaitu 270 C, pada siang dan sore hari yaitu 28o C, adapun nilai pengukuran PH
tanah yang dilakukan pada dua kawasan di wilayah hutan evergreen, adalah 7 yang berarti pH
tanah tersebut bersifat netral sedangkan pH tanah di kawasan bekas aliran sungai dikawasan
hutan evergreen adalah 5 yang berati tanah tersebut bersifat asam. Kedalaman humus yang
ada di kawasan hutan evergreen yaitu sedalam 50 cm. Hutan hujan tropis merupakan kawasan
hutan yang terbentuk oleh vegetasi klimaks pada daerah curah hujan hujan 2000-4000 mm
per tahun.Rata-rata temperature 250C-270C dengan perbedaan temperature yang kecil
sepanjang tahun dan rata-rata kelembaban udara 80% [3]. Berdasarkan data yang diperoleh di
lapangan dan teori yang telah dipaparkan, maka Hutan evergreen taman Nasional Baluran
termasuk kawasan hutan hujan tropis karena tersusun atas vegetasi klimaks dengan suhu
270C dan kelembaban 80%. pH tanah dikawasan hutan adalah netral hal tersebut
mengakibatkan tumbuhan pada wilayah hutan evergreen dapat tumbuh dengan baik. pH tanah
yang cocok (6-7) merupakan hal vital bagi pertumbuhan tanaman.Taman Nasional ini
memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan dan di antaranya merupakan tumbuhan asli yang khas
dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. Tumbuhan khas tersebut adalah:

 Widoro bukol (Ziziphus rotundifolia)


 Mimba (Azadirachta indica)
 Pilang (Acacia leucophloea)

Tumbuhan lainnya antara lain:

 Asam jawa (Tamarindus indica)


 Gadung (Dioscorea hispida)
 Kemiri (Aleurites moluccana)
 Gebang (Corypha utan)
 Api-api (Avicennia sp.)
 Kendal (Cordia obliqua)
 Salam (Syzygium polyanthum)
 Kepuh (Sterculia foetida
PENUTUP

5. Kesimpulan
Keanekaragaman tumbuhan pada tingkat belta tergolong tinggi, di mana nilai
keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan belta lebih tinggi di bandingan semai dengan
pohon. Jenis emprit-empritan (Eragrostis amabilis) mendominasi pada tingkat pertumbuhan
semai.Timungu (Mimicilon edule) mendominasi pada tingkat belta dan gebang (Corypa utan)
mendominasi pada tingkat pohon.
Daftar Pustaka
Hardjadi. 1991. Pengantar Agronomi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hilwan, dkk.2013. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto
(Enterolobium cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasa
Tambang Batubara PT Kitadin, Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan
Timur.Journal.IPB.ac.Id/ index.pHp/ jsilviks.article/ download/6923/5394. Diakses 12 Juni
2014. Indriyanto. Ekologi Hutan. 2008.Jakarta: Bumi Aksara.
Salisbury dan Ross. Fisiologi tumbuhan. 1995.Bandung: ITB.
Soerdjanegara dan Indrawan. Ekologi Hutan Indonesia. 2012. Bogor: IPB.
Manan,Syafii. Hutan Rimbawan Dan Masyarakat. 1998. Bogor. IPB