Anda di halaman 1dari 13

Transparansi Pengelolahan Keuangan Daerah di Dinas Kesehatan Kota Makassar (2014)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Administrasi Publik

Dosen Pembimbing : Dr. Sri Juni Woro Astuti M.com

Disusun Oleh :

Moh sunardi
17031133

PROGRAM STUDI ADMINITRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Transparansi
Pengelolahan Keuangan Daerah di Dinas Kesehatan Kota Makassar (2014)”, yang kami sajikan
berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini
dapat terselesai

Makalah ini memuat tentang “Transparansi Pengelolahan Keuangan Daerah di Dinas


Kesehatan Kota Makassar (2014)”.menjelaskan pengertian etika dan paradigma etika,serta data
analisis Penyediaan informasi,kemudahan akses informasi,peningkatan Arus Informasi Melalui
Kerjasama dengan Media Massa.dan Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang
dilanggar atau permintaan untuk membayar uang suap kurang maksimal di Dinas Kesehatan Kota
Makassar (2014)

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan
saran dari pembaca yang membangun. Terimakasih.

Surabaya,13 januari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
1.1.latar belakang ..................................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ............................................................................................................................... 2
1.3.Tujuan ................................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................................................... 3
2.1 Teori Etika ........................................................................................................................................... 3
2.2 Transparansi Pengelolahan keuangan dinas kesehatan kota makassar ............................................. 2
2.3 Upaya yang dilakukan dalam pengelolahan keuangan daerah agar transparan di dinas kesehatan
kota makasar ............................................................................................................................................. 5
BAB III PENUTUP ........................................................................................................................................... 7
3.1 Simpulan ............................................................................................................................................. 7
3.2 Saran ................................................................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................................... 2

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.latar belakang

Pelaksanaan perundang-undangan bidang keuangan negara telah dikeluarkan berbagai


aturan pelaksanaan dalam bentuk Peraturan Pemerintah antara lain: Peraturan Pemerintah Nomor
20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2004 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, dan lain-lain. Berkenaan
dengan pengelolaan Keuangan Daerah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dan terakhir telah direvisi
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu bagian yang mengalami perubahan
mendasar dengan ditetapkannya UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU
No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah. Kedua Undang-undang tersebut telah memberikan kewenangan lebih luas kepada
pemerintah daerah. Kewenangan dimaksud diantaranya adalah keleluasaan dalam mobilisasi
sumber dana, menentukan arah, tujuan dan target penggunaan anggaran, demikian pula dengan
otoritas Dinas Kesehatan Kota Makassar untuk mengelola sumber-sumber pendapatan baik dari
pendapatan APBN maupun dari APBD.
Tuntutan transparansi dalam system SKPD semakin meningkat pada era reformasi saat
ini, tidak terkecuali transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah di Dinas Kesehatan Kota
Makassar. Pejabat yang berwenang pada bidang keuangan kantor pada biro keuangan diwajibkan
menyusun laporan pertanggungjawaban yang menggunakan sistem akuntansi yang diatur oleh
pemerintah pusat dalam bentuk Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang bersifat
mengikat seluruh elemen pejabat pelaksana keuangan daerah. Dimana pengawasan pengelolaan
anggaran tiap tahun dilakukan dengan menggunakan sistem pelaporan dengan pencatatan yang
disertai bukti-bukti pengeluaran.
Masih ada beberapa kekurangan yang ditemui di lapangan dalam transparasi pengelolaan
keuangan daerah di dinas kesehatan kota makassar yang perlu untuk dibenahi seperti dalam
hal;Penyediaan informasi,kemudahan akses informasi,peningkatan Arus Informasi Melalui
Kerjasama dengan Media Massa.dan Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan
yang dilanggar atau permintaan untuk membayar uang suap kurang maksimal, ini terlihat dengan
adanya perbedaan persepsi tentang layanan pengaduan. Di satu sisi informasi dari responden
mengatakan layanan pengaduan cukup sering dilakukan. Sementara di sisi lain dari informasi
informan mengatakan layanan pengaduan ini belum maksimal.
Etika dalam kinerja pelayanan publik diperlukan sebagai bentuk adanya sikap tanggap
dari aparat birokrasi terhadap kepentingan masyarakat pengguna jasa. Kepentingan pengguna
jasa harus ditempatkan sebagai tujuan utama, melalui prinsip pelayanan tersebut diharapkan

1
tidak terjadi diskriminasi dalam pemberian pelayanan, dan bersikap ramah dalam memberi
pelayanan, sehingga pengguna jasa merasa memperoleh pelayanan yang sebaik-baiknya. Jika
kondisi pelayanan yang demikian diciptakan maka etika pelayanan publik dapat berjalan sesuai
dengan misi aparat birokrasi dan tuntutan masyarakat pengguna jasa (Dwiyanto, 2000:201-202).
Kinerja birokrasi dalam hal etika di Indonesia memang masih mengecewakan, dan dibutuhkan
suatu kajian untuk mengetahui etika birokrat dalam pelayanan publik. Birokrat merupakan wujud
dari abdi masyarakat dan abdi negara. Sehingga maksud dari public service tersebut demi
mensejahterakan masyarakat.

Perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, sejalan dengan tingkat


kehidupan yang semakin baik, telah meningkatkan kesadarannya akan hak dan kewajibannya
sebagai warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat
yang semakin kritis dan berani untuk mengajukan keinginan, tuntutan dan aspirasinya, serta
melakukan kontrol atas kinerja pemerintah. Masyarakat semakin berani menuntut birokrasi
publik untuk mengubah posisi dan perannya (revitalisasi) dalam memberikan layanan publik.
Kebiasaan suka mengatur dan memerintah mesti diubah menjadi suka melayani, dari yang lebih
suka menggunakan pendekatan kekuasaan, berubah menjadi suka menolong, semuanya menuju
ke arah fleksibilitas, kolaboratis dan dialogis, dan menghilangkan cara-cara yang tidak terpuji
menuju cara-cara kerja yang realistik pragmatis (Thoha, 1988:119).

Upaya peningkatan Transparansi Pengelolahan Keuangan Daerah di Dinas Kesehatan


pemerintahan daerah, baik kabupaten maupun kota. Tidak cukup hanya dengan memperbaiki
struktur kelembagaan, sistem insentif, tetapi juga di dalam penataan proses pelayanan yang
diberikan. Berdasarkan beberapa hal yang sudah dipaparkan diatas, penulis tertarik untuk
menyusun makalah berjudul Transparansi Pengelolahan Keuangan Daerah di Dinas Kesehatan
Kota Makassar (2014)

1.2 Rumusan masalah


1. Apakah transparansi keuangan dinas kesehatan kota makasar (2014) sudah sesuai dengan yang
ingin dicapai ?

1.3.Tujuan

1.untuk dapat menganalisis mengenai kondisi Transparansi Pengelolahan Keuangan


Daerah di Dinas Kesehatan Kota Makassar (2014) dan sebagai bahan evaluasi bagi penyedia
layanan masyarakat yaitu Dinas Kesehatan Kota Makassar

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Etika
a.pengertian etika
Dimensi etika dianalogikan dengan sistem sensor didalam administrasi publik. Dimensi
ini dapat berpengaruh pada dimensi-dimensi lain, dan sangat mempengaruhi tercapai tidaknya
tujuan administrasi publik pada umumnya, dan tujuan organisasi publik pada khususnya. Kerena
itu dimensi ini dianggap sebagai dimensi strategis dalam administrasi publik. John A. Rohr
(1989: 60) yang mendasarkan pendapatnya pada buku Morality and Administration in
Democratic Goverment karya Paul Appleby, menyatakan bahwa diskresi administrasi menjadi
“starting point” bagi masalah moral atau etika dalam dunia administrasi publik. Upaya perbaikan
moralitas dalam kebijakan , organisasi dan manajemen sangat potensial dalam membantu
penghematan biaya baik dalam pelayanan publik maupun pembangunan. Berbagai bentuk
tindakan amoral diantara para administrator dan pejabat publik yang hanya menguntungkan
mereka dan kroni-kroninya, telah merugukan negara selama beberapa dasawarsa, dan membuat
perekonomian negara bertambah terpuruk dengan beban utang yang semakin membengkak.
Bertens berkesimpulan bahwa ada tiga arti penting etika, yaitu etika (1) sebagai nilai-nilai
moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok dalam
mengatur tingkah lakunya, atau disebut dengan “sistim nilai”, (2) sebagai kumpulan asas atau
nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”, dan (3) sebagai ilmu tentang yang baik atau
buruk, yang acap kali disebut “filsafat moral”.
Dalam dunia administrasi publik atau pelayanan publik, etika diartikan sebagai filsafat
dan :profesional standards” (kode etik), atau right rules of conduct” (aturan berprilaku yang
benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik atau administrator publik (lihat
Denhardt, 1988). Menurut The Public Administration Dictionary (Chandler & Plano, 1988: 17),
etika didefinisikan sebagai cabang filsafat yang berkenaan dengan nilai-nilai yang berhubungan
dengan perilaku manusia, dalam kaitannya dengan benar atau salah suatu perbuatan, dan baik
atau buruk motif dan tujuan dari perbuatan tersebut (lihat Chandler & Plano, 1988:17).
b. Paradigma etika
Menurut Chandler dan Plano (1988) dalam etika terdapat empat aliran yaitu, Empirical
theory,berpendapat bahwa etika diturunkan dari pengalaman manusia dan persetujuan umum.
Rational theory melihat bahwa bahwa baik atau buruk sangat tergantung dari alasan dan logika
yang melatarbelakangi suatu perbuatan, bukan pengalaman. Intutitive theory berargumen bahwa
etika tidak harus berasal dari pengalaman dan logika, tetapi diri manusia secara ilmiah memiliki
pemahaman tentang apa yang benar dan salah, baik atau buruk. Relevation theory berpendapat
bahwayang benar atau yang salah berasal dari kekuasaan diatas manusia yaitu tuhan sendiri.
Disamping empat aliran utama diatas, yang sering dipertentangkan dalam administrasi
publik karena pengaruhnya kepada administrator adalah pendekatan teologis, utilitarianisme,
dentologis, dan virtue etnics. Pendekatan teologis dan utilitarianisme merupakan pendekatan
yang berorientasi kepada tujuan dan difokuskan kepada akibatnya. Teologis secara khusus

3
berkenaan dengan maksud dan tujuan, sementara utilitarian berkenaan dengan akibat yang
dirasakan.
Deontologi merupakan salah satu cabang etika yang menekankan kewajiban, tugas,
tanggung jawab dan prinsip-prinsip yang harus diikuti. Menurut aliran Virtue Ethnics, baik atau
buruk ditentukan dari “the excelences of character” yang ditunjukan dari integritas (lihat
Bownman, 2003: 1259 – 1263). Wayne A.R.Leys (1994) menyatakan bawha kebiasaan dan
tradisi tersebut harus “digoyang” dengan standard etika yang ada dimana etika, katanya, harus
dilihat sebagai source of doubt.
Oleh Denhardt (1988) ini disebut sebagai model I – the 1940’s. Hurst A. Anderson
ditahun 1953 mengungkapkan dalam suatu pidatonya dengan judul Etchnical Values in
Administration (nilai-nilai etika dalam administrasi). Katanya etika sangat penting dalam setiap
keputusan administratif, tidak hanya bagimereka yang memformulasikan kebijakan publik. Oleh
Denhardt ini diklasifikasikan sebagai model II – the 1950’s. Robert T.Gombelski melihat etika
sebagai “contemporary standars of right conduct” yang harus disesuaikan dengan perubahan
waktu. Denhardt melihat ini sebagai model III – 1960’s. Dalam model IV – 1970’s, yang
merupakan akumulasi penyempurnaan dari model-model sebelumnya dimana dikatakan bahwa
agar menjadi etis seorang administrator harus benar-benar memberi perhatian pada proses
menguji dan mempertanyakan standard, atau asumsi yang melandaskan pembuatan keputusan
administratif. Dalam model ke V – after Rohr, dimana dikatakan bahwa untuk dapat disebut etis
maka seorang administrator harus secara independen masuk dalam proses menguji dan
mempertanyakan standard-standard yang digunakan dalam membuat keputusan.Dalam model ke
VI menggambarkan pemikiran Cooper bahwa antara administrator, organisasi, dan etika terdapat
hubungan penting bahwaetika para administrator justru ditentukan oleh konteks organisasi
dimana ia bekerja (Denhardt, 1988:26)

2.2 Transparansi Pengelolahan keuangan dinas kesehatan kota makassar


Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk
memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentang kebijakan,
proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai. Indikator-indikator
transparansi adalah sebagai berikut: (1) Penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur-
prosedur, biaya-biaya dan tanggung jawab, (2) Kemudahan akses informasi, (3) Menyusun suatu
mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar atau permintaan untuk membayar uang
suap, (4) Meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non
pemerintah.
1. Penyediaan informasi
Penyediaan informasi adalah sebuah wujud layanan dari salah satu bentuk transparansi dengan
indikator; informasi prosedur-prosedur yang jelas dan biaya-biaya. Data yang dihimpun dari
responden untuk variable penyediaan informasidengan indikator penyediaan informasi prosedur-
prosedur yang jelas nampak pada tabel berikut :
Tabel 1 : Distribusi tanggapan Responden tentang penyediaan informasi Prosedur-
prosedur yang jelas
Kategori Jawaban Frekuensi

2
(orang)
Sangat Transparan -
Transparan -
Cukup Transparan 8
Tidak Transparan 12
Total 20
Sumber data: Hasil Olahan Data Kuesioner , 2014
Pada indikator penyediaan informasi tentang prosedur-prosedur yang jelas, tidak terdapat
tanggapan pada kategori sangat transparan, tidak terdapat tanggapan pada kategori transparan,
terdapat 7 orang yang memberi tanggapan cukup transparan, terdapat 13 orang yang memberi
tanggapan tidak transparan. Kategori terbesar berada pada kategori tidak transparan sebanyak 13
orang. variabel penyediaan informasi dengan indikator penyediaan informasi prosedur-prosedur
yang jelas yang dilakukan dinas kesehatan kota Makassar belum dilakukan dengan baik sesuai
dengan prinsip transparansi. Sebagaimana hasil tanggapan responden dengan ke dua indikator di
atas menunjukkan hasil dengan rata-rata berada pada kategori tidak transparan.
2. Kemudahan akses Informasi
variabel penyediaan informasi dengan indikator penyediaan informasi prosedur-prosedur
yang jelas yang dilakukan dinas kesehatan kota Makassar belum dilakukan dengan baik sesuai
dengan prinsip transparansi. Sebagaimana hasil tanggapan responden dengan ke dua indikator di
atas menunjukkan hasil dengan rata-rata berada pada kategori tidak transparan. dibutuhkan.
Informasi tidak langsung adalah informasi yang didapatkan melaui media perantara seperti
penggunaan IT, pengumaman lewat brosur, pamplet dll. Berikut data yang dihimpun dari
responden untuk variabel kemudahan akses informasi dengan indikator akses informasi secara
langsung tampak pada tabel berikut:

Tabel 2 : DistribusiTanggapan Responden Tentang Informasi secara langsung


Kategori Frekuensi
Jawaban (orang)
Sangat Mudah 3
Mudah 6
Cukup Mudah 9
Sulit 2
Jumlah 20
Sumber data: Hasil Olahan Data Kuesioner, 2014
Pada indikator akses informasi secara langsung, terdapat 3 orang yang memberi
tanggapan sangat mudah, terdapat 6 orang yang memberi tanggapan mudah, terdapat 9 orang
yang memberi tanggapan cukup mudah, dan terdapat 2 orang yang memberi tanggapan sulit.
Kategori terbesar berada pada kategori cukup mudah sebanyak 9 orang.
Terkait kemudahan akses informasi secara langsung telah dilakukan, namun cara ini
memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan informasi yang dapat di akses
secara langsung adalah kejelasan informasi karena mendapatkan penjelasan yang detail
sementara kelemahannya adalah keberadaan pimpinan untuk memperoleh informasi yang jarang
3
berada di kantor karena kesibukannya. Kelebihan informasi yang bisa diakses melalui media
adalah informasi yang bisa diakses tanpa membutuhkan waktu yang lama. Sementara
kelemahannya adalah seringnya penggunaan bahasa yang multi tafsir dan kurang dipahami.
3. Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar atau
permintaan untuk membayar uang suap
Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar atau permintaan
untuk membayar uang suap merupakan salah satu prinsip dari transparansi pengeloaan keuangan
dengan indikator pelayanan pengaduan. Berikut data yang dihimpun dari responden untuk
indikator mengadakan pelayanan pengaduan tampak pada tabel berikut:

Tabel 3 : DistribusiTanggapan Responden

Kategori Frekuensi
Jawaban (orang)
Sangat Sering -
Sering -
Cukup Sering 7
Tidak Pernah 13
Total 20
Tentang Pelayananan Pengaduan
Sumber data: Hasil Olahan Data Kuesioner , 2014
Pada indikator pelayanan pengaduan, tidak terdapat tanggapan pada kategori sangat
sering, tidak terdapat tanggapan pada kategori sering, terdapat 7 orang yang memberi tanggapan
cukup sering, dan terdapat 13 orang yang memberi tanggapan tidak pernah. Kategori terbesar
berada pada kategori tidak pernah sebanyak 13 orang.
Dari hasil kuesioner dan hasil wawancara dengan beberpa informan terlihat ada
perbedaan persepsi tentang layanan pengaduan. Di satu sisi informasi dari responden
mengatakan layanan pengaduan cukup sering dilakukan. Sementara di sisi lain dari informasi
informan mengatakan layanan pengaduan ini belum maksimal. Dari hasil pengamatan penulis
menunjukkan bahwa layanan pengaduan dinas kesehatan kota Makassar dilakukan sesuai dengan
aturan yang ada, walau pun hal ini ditandai dengan adanya layanan telepon seluler untuk
pengaduan yang langsung terhubung dengan biro terkait dan adanya kotak saran dan kritik yang
disediakan.
4. Meningkatkan arus informasi Melalui kerjasama dengan media masa
Meingkatkan arus informasi melalui kerjasama media massa dan lembaga non pemerintah
adalah salah satu prinsip transparansi pengelolaan keuangan. Untuk mengukur sejauh mana
prinsip transparansi, berikut data yang dihimpun dari responden untuk indikator kerjasama
dengan media massa tampak pada tabel berikut:
Tabel 4 DistribusiTanggapan Responden Tentang Kerjasama dengan Media Massa

Kategori Frekuensi
Jawaban (orang)
Sangat Sering -
Sering -
Cukup Sering 6

4
Tidak pernah 14
Total 20
Sumber data: Hasil Olahan Data Kuesioner , 2014
Pada indikator kerjasama dengan media massa, tidak terdapat tanggapan pada kategori
sangat sering, tidak terdapat tanggapan pada kategori sering, terdapat 6 orang yang memberi
tanggapan cukup sering, dan terdapat 14 orang yang memberi tanggapan tidak pernah. Kategori
terbesar berada pada kategori tidak pernah sebanyak 14 orang. Hal ini belum jelas terlihat
intensitas kerjasama yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota makassar dengan media massa.
Tidak hanya dengan media massa tetapi juga dengan lembaga-lembaga non pemerintah seperti
pelibatan LSM dan kerja sama dengan pihak instansi lain. Akan tetapi berita yang diekspos atau
dipumblikasikan bukanlah informasi yang mengenai pengelolaan keuangan akan tetapi kegiatan-
kegiatan yang dilakukan dinas kesehatan itupun tidak setiap kegiatannya mengundang media
untuk meliputnya.

2.3 Upaya yang dilakukan dalam pengelolahan keuangan daerah agar transparan di dinas
kesehatan kota makasar
A. Konsistensi Laporan Pertanggungjawaban
Dengan penyampaian laporan pertangguang jawaban keuangan yang memenuhi prinsip
tepat waktu dan dapat diandalkan dan telah disahkan sesuai dengan UU ini adalah upaya yang
dilakukan oleh dinas kesehatan kota Makassar agar masyarakat lebih mengetahui sejauh mana
pelaporan yang dilakukan oleh dinas kesehatan apakah sesuai dengan UU yang telah di
keluarkan oleh pemerintah. Berikut hasil kutipan wawancara dengan informan terkait dengan
upaya yang dilakukan dalam pengelolaan keuangan daerah agar transparansi seperti berikut ini:
“kami sudah melakukan beberapa upaya dalam mewujudkan transparansi, tapi kami
juga butuh kerja sama dari semua pihak yang terkait agar kedepannya dapat lebih sempurna
lagi dan dapat mewujudkan prinsip-prinsip Good Government dinas kesehatan ini”.
(wawancara, AJ).
Selanjutnya upaya yang dilakukan dalam pengelolaan keuangan daerah agar transparansi
informan memaparkan:
“itu memang sudah tugas dari setiap instansi dalam mewujudkan good government
memang harus melakukan beberapa trobosan dalam meningkatkan kepercayaan terhadap
masyarakat agar masyarakat juga dapat mengetahui apa saj yang dilakukan oleh dinas-dinas
atau instansi khususnya di dinas kesehatan kota makassar adalah salah satu instansi yang
mendapatkan anggaran yang besar dari APBD”. (wawancara, AB).
Alhasil upaya yang dilakukan oleh dinas kesehatan dengan indikator penyampaian
laporan pertanggungjawaban keuangan yang memenuhi prinsip tepat waktu dan dapat diandalkan
(reliable) dan telah disahkan sesuai dengan UU ini sudah dilakukan sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Ini selaras dengan Menurut Saprianto (2005:15) menyatakan bahwa “melalui transparansi akan
memberikan informasi yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan
bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas
pertanggung jawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya
dan ketaatannya pada Peraturan perundang - undang

5
B. Pembuatan Website Kantor Dinas Kesehatan Kota Makassar
Pembuatan website adalah salah satu terobosan baru yang dilakukan oleh dinas kesehatan
agar masyarakat dapat mengakses dengan mudah informasi yang dibutuhkan dan masyarakat
juga dapat melihat semua agenda atau kegiatan yang dilakukan oleh dinas kesehatan. Berikut
hasil kutipan wawancara dengan informan terkait dengan upaya yang dilakukan dalam
pengelolaan keuangan daerah agar transparansi seperti berikut ini:
“baguslah kalau dinas kesehatan memiliki upaya seperti itu artinya dinas kesehatan, ini
memang mempunyai niat untuk menjadikan instansinya sebagai salah satu instansi
pemerintahan yang menerapkan prinsip-prinsip good govermant dan itu pasti masyarakat juga
akan mendudukung karena masyarakat akan merasa puas dengan informasi yang dia butuhkan
nantinya dan masyarakat juga tau berapa anggaran yang dikelola oleh dinas kesehatan.”
(wawancara, AL)
Upaya yang dilakukan dinas kesehatan kota Makassar dengan indikator pembuatan
website dinas kesehatan kota makassar itu semua adalah upaya yang baik yang dilakukan dinas
kesehatan dan pasti masyarakat bisa menilai sejauhmana usaha dari dinas kesehatan agar dapat
menjadi suatu instansi yang transparan dan dapat dipercaya dan tidak menimbulkan pertanyaan
terhadap masyarakat seberapa banyak biaya yang dikelolah oleh dinas kesehatan kota makassar
apa lagi dinas kesehatan ini salah satu instansi yang mendapatkan APBD terbanyak di Kota
Makassar. Oleh karena itu dengan adanya transparansi pengelolaan keuangan pada Dinas
Kesehatan Kota Makassar sudah tentu akan membawa dampak postif kepada dinas itu sendiri,
diantaranya yaitu menghilangkan keragu-raguan pemerintah daerah maupun investor-investor
dalam pengelolaan keuangan, kepercayaan masyarakat kepada Dinas Kesehatan mengenai
pengelolaan keuangan daerah akan semakin meningkat.

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwa Transparansi Pengelolaan
Keuangan pada Dinas kesehatan kota makassar dengan indikator; (a) variabel penyediaan
informasi dengan indikator kejelasan prosedur-prosedur dan kejelasan biaya-biaya belum
transparan. (b) Kemudahan akses informasi dengan indikator kemudahan mendapatkan informasi
langsung maupun tidak langsung berada pada kategori cukup mudah. (c) Menyusun suatu
mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar atau permintaan untuk membayar uang
suap dengan indikator layanan pengaduan belum dilakukan. (d) Meningkatkan arus informasi
melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non pemerintah belum dilakukan dan upaya
yang dilakukan oleh Dinas kesehatan kota makassar sejauh ini adalah penyampaian laporan
pertanggung-jawaban keuangan yang memenuhi prinsip tepat waktu dan dapat diandalkan
(reliable) dan telah disahkan sesuai dengan UU yang berlaku dan yang telah diterima secara
umum dan Pembuatan website kantor untuk memudahkan mendapatkan informasi baik secara
langsung maupun tidak langsung di Dinas kesehatan kota Makassar.

3.2 Saran
Dengan memperhatikan kesimpulan maka penulis merasa perlu memberikan
masukan yaitu agar trasparansi dapat terus menerus ditingkatkan dan disempurnakan
maka perlu diperoleh informasi untuk mendapatkan umpan balik dari para pembaca, penerima
trasparansi serta dilakukan evaluasi perbaikannya, perlu dibuatkan pilot project pelaksanaan
akuntabilitas yang kemudian di komunikasikan kepada seluruh pihak terkait sehingga akan
dapat diperoleh ekspektasi mereka dan bagaimana tanggapan mereka mengenai hal
tersebut. Penerimaannya suatu kelompok akan suatu hal yang baru akan banyak dipengaruhi
oleh pemahaman kelompok pada hal baru tersebut. Tanpa pengetahuan yang komprehensif akan
membawa pada penerimaan yang bias dan di perlukan komitmen yang kuat dari seluruh
stakeholder dalam hal pengelolaan keuangan yang transparan

7
DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. 1977. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Thoha,miftah.1998.prilaku organisasi konsep dasar dan aplikasinya.jakarta.rajawali press

Mappamiring,Fahril1dan Rudi Hardi.2014.” transparansi pengelolaan keuangan daerah di dinas


kesehatan kota makassar”.jurnal.makassar:fakultas ilmu sosial dan politik.universitas
muhamadiyah makassar.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang azas umum pengelolaan
keuangan daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/ Lembaga.
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Stan dar Akuntansi Pemerintahan.

UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah