Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Sumber Penganggaran Kesehatan

2.1.1 Dasar Hukum Penganggaran Kesehatan

 UU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan


Nasional
 UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
 UU No. 23 Th 2014 ttg Pemerintah Daerah
 UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
 PP No 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan
 PP No 7 Tahun 2008 tentang Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
 UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN
 UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS

2.1.2 Metode Penyusunan Anggaran Di Negara Kesatuan Republik Indonesia

Metode Penyusunan Anggaran Di Negara Kesatuan Republik Indonesia diatur


dalam sejumlah Peraturan Perundangan yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional;

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara ;

4. Undang-Undang 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan


Tanggungjawab Keuangan Negara

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah


sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Antara Pusat dan Pemerintahan Daerah;

2.1.3 Sumber dana penganggaran kesehatan

Sumber biaya kesehatan tidaklah sama antara satu negara dengan negara lain.
Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Bersumber dari anggaran pemerintah

Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan


sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan secara cuma-
cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang penyelenggaraan pelayanan
kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara yang kondisi keuangannya
belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena memerlukan dana yang sangat
besar.

a. Dana Pemerintah Pusat


- Dana Kementrian (Dana Program Kemenkes)
- Dana Dekonsentrasi (ke Provinsi) dan Tugas Pembantuan (ke
Kabupaten/Kota)
Penggunaan dana dekontrasi digunakan untuk 7 program yang meliputi:
 Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya
kementrian kesehatan.
 Program penguatan pelaksanaan jaminan kesehatan nasional.
 Program kesehatan masyarakat
 Program pelayanan kesehatan
 Program pencegahan dan pengendalian penyakit
 Program kefarmasian dan alat kesehatan
 Program pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia
kesehatan.
- Bantuan Operasional Kesehatan

- JAMKESMAS dan JAMPERSAL


b. Dana Pemerintah Provinsi
- Dana APBD Provinsi (DAU Provinsi)
c. Dana Pemerintah Kabupaten/Kota
- Dana APBD Kabupaten/Kota (PAD)
Pendapatan asli daerah (PAD) merupakan penerimaan yang diperoleh dari
sumber-sumber dalam wolayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang terdiri atas;
 Pajak Daerah
 Retribusi Daerah
 Hsl. Pengelolaan Kekayaan Daerah yg dipisahkan
 Lain-lain PAD yang sah
- Dana Perimbangan
 Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak
Dana bagi hasil pajak (DBH) merupakan dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan
angka persentase tertentu untuk medanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana bagi hasil terdiri atas DBH pajak dan DBH bukan pajak atau
sumber daya alam
 Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana alokasi umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang di alokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam pelaksanaan desentralisasi. DAU diukur dari total penerimaa
transfer yang didasarkan pada alokasi dasar dan celah fiscal.
 Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas
nasional.

Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan adalah Dana yang bersumber dari
APBN yang dialokasikan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan
kesehatan yang difokuskan pada penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak,
penanggulangan masalah gizi, serta pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan
terutama untuk pelayanan kesehatan penduduk miskin, dan penduduk di daerah
tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepalauan dan daerah bermasalah kesehatan.

DAK bidang kesehatan terdiri atas dua, yaitu

1. DAK fisik bidang kesehatan (Permenkes RI No. 66 tahun 2017 tentang petunjuk
operasional penggunaan dana alokasi khusus fisik bidang kesehatan tahun
anggaran 2018)

Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Kesehatan tahun anggaran 2018 terdiri atas:

 Dana Alokasi Khusus Fisik afirmasi bidang kesehatan;


 Dana Alokasi Khusus Fisik penugasan bidang kesehatan; dan
 Dana Alokasi Khusus Fisik Reguler bidang kesehatan.

DAK non-fisik bidang kesehatan (Permenkes Ri No. 61 Tahun 2017 tentang


petunjuk teknis penggunaan dana alokasi khusus nonfisik bidang kesehatan tahun
anggaran 2018)

Ruang lingkup DAK Nonfisik Bidang Kesehatan Tahun 2018 meliputi:

1. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK):

 BOK Puskesmas
 BOK Kabupaten/Kota
 BOK Provinsi
 Distribusi obat, vaksin dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) serta
dukungan pemanfaatan sistem informasi atau aplikasi logistik obat dan
BMHP secara elektronik

2. Jaminan Persalinan (Jampersal);

3. Akreditasi Puskesmas;

4. Akreditasi Rumah Sakit;

5. Akreditasi Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Tahun 2018 Pemerintah mengalokasikan anggaran DAK Bidang Kesehatan


sebesar Rp. 26,005,347,699,000,- (dua puluh enam triliun lima milyar tiga ratus
empat puluh tujuh juta enam ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah) yang terdiri
atas DAK Fisik Bidang Kesehatan sebesar Rp. 17,454,114,999,000,- (tujuh belas
triliun empat ratus lima puluh empat milyar seratus empat belas juta sembilan ratus
sembilan puluh sembilan ribu rupiah) dan DAK Nonfisik Bidang Kesehatan sebesar
Rp. 8,551,232,700,000,- (delapan triliun lima ratus lima puluh satu milyar dua ratus
tiga puluh dua juta tujuh ratus ribu rupiah).

Khusus untuk DAK Nonfisik Bidang Kesehatan terdiri atas Bantuan


Operasional Kesehatan (BOK) sebesar Rp. 6,689,644,740,000,- (enam triliun seratus
delapan puluh sembilan milyar enam ratus empat puluh empat juta tujuh ratus empat
puluh ribu rupiah) Jampersal sebesar Rp. 1,563,433,900,000,- (satu triliun lima ratus
enam puluh tiga milyar empat ratus tiga puluh tiga juta sembilan ratus ribu rupiah)
Akreditasi Puskesmas sebesar Rp 721,763,900,000,- (tujuh ratus dua puluh satu
milyar tujuh ratus enam puluh tiga juta sembilan ratus ribu rupiah) Akreditasi Rumah
Sakit sebesar Rp. 72,000,000,000,- (tujuh puluh dua milyar rupiah) dan Akreditasi
Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) sebesar Rp. 4,390,160,000,- (empat
milyar tiga ratus sembilan puluh juta seratus enam puluh ribu rupiah).

Peningkatan alokasi anggaran DAK Bidang Kesehatan tiap tahunnya untuk


mendanai kegiatan fisik dan nonfisik, diharapkan dapat mendukung pembangunan
kesehatan di daerah yang bersinergi dengan prioritas nasional, khususnya dalam
mendukung pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan.

Pengalokasian DAK Bidang Kesehatan ini tidak untuk mengambil alih


tanggung jawab pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembiayaan pembangunan
kesehatan di daerah sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan.

- lain-lain pendapatan yg sah


 Dana Hibah
 Dana Darurat
 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi/Pemerintah Daerah Lainnya
 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
 Bantuan Keuangan dari Provinsi/Pemerintah Daerah Lainnya.

2. Bersumber dari anggaran swasta dan masyarakat

Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan. Sistem ini mengharapkan


agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara mandiri dalam penyelenggaraan
maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan dampak adanya pelayanan-pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh pihak swasta, dengan fasilitas dan penggunaan alat-
alat berteknologi tinggi disertai peningkatan biaya pemanfaatan atau penggunaannya
oleh pihak pemakai jasa layanan kesehatan tersebut. Contohnya CSR atau Corporate
Social Reponsibility) dan pengeluaran rumah tangga baik yang dibayarkan tunai atau
melalui sistem asuransi.

3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri

Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk penatalaksanaan penyakit-


penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak lain, misalnya oleh
organisasi sosial ataupun pemerintah negara lain. Misalnya bantuan dana dari luar
negeri untuk penanganan HIV dan virus H5N1 yang diberikan oleh WHO kepada
negara-negara berkembang (termasuk Indonesia).

4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat

Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia karena dapat


mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang timbul pada sumber pembiayaan
kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan yang dibutuhkan ditanggung
sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan layanan kesehatan bersubsidi. Sistem
ini juga menuntut peran serta masyarakat dalam memenuhi biaya kesehatan yang
dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan.

Dengan ikut sertanya masyarakat menyelenggarakan pelayanan kesehatan,


maka ditemukan pelayanan kesehatan swasta. Selanjutnya dengan diikutsertakannya
masyarakat membiayai pemanfaatan pelayanan kesehatan, maka pelayanan kesehatan
tidaklah cuma-cuma. Masyarakat diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang
dimanfaatkannya. Sekalipun pada saat ini makin banyak saja negara yang
mengikutsertakan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, namun tidak ditemukan
satu negara pun yang pemerintah sepenuhnya tidak ikut serta. Pada negara yang
peranan swastanya sangat dominan pun peranan pemerintah tetap ditemukan. Paling
tidak dalam membiayai upaya kesehatan masyarakat, dan ataupun membiayai
pelayanan kedokteran yang menyangkut kepentingan masyarakat yang kurang
mampu.