Anda di halaman 1dari 17

Banjir di Inhu Riau Kian Meluas, 10

Kecamatan Tergenang
Chaidir Anwar Tanjung - detikNews

Pekanbaru - Banjir masih mengepung di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau. Saat ini ada 10
kecamatan tergenang air luapan dari sungai Indragiri.

"Air belum juga surut sampai saat ini. Saat ini ada 10 kecamatan terdampak banjir luapa sungai
Indragiri," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhu, Widodo kepada
detikcom, Jumat (9/11/2018).

Widodo menjelaskan, banjir ini sudah melebihi dari tiga hari. Kondisi banjir ini disepanjang bantaran
sungai Indragiri. Dari perbatasan Kabupaten Kuansing, hingga ke bagian hilir ke Kota Rengat, Ibu Kota
Kabupaten Inhu.

"Jadi sepanjang dari perbatasan Kabupaten Kuansing, hingga ke Rengat berimbas banjir," kata
Widodo.

Menurut Widodo, genangan air di pelataran rumah warga bervariasi. Dari ketinggian air 30 cm
hingga 60 cm. Namun demikian, warga belum ada yang mengungsi.

"Warga hanya menyelamatkan barang-barangnya yang diletakkan di atas meja, atau dikeluarkan agar
tidak tergenang air. Rata-rata mereka hanya pindah sementara ke rumah sanak familinya yang tidak
terkena banjir," kata Widodo.

Banjir yang saat ini terjadi, kata Widodo, tidak terlepas dari bagian hulu sungai Indragiri yang ada di
Sumatera Barat.

"Jadi banjir kita ini kiriman dari bagian hulunya di Sumbar. Belum ada tanda-tanda air akan surut,"
kata Widodo.

Sebelumnya tercatat ada 4,000 rumah warga sepanjang bantara sungai tergenang air. BPBD Inhu
telah menyalurkan bantuan sembako ke korban banjir.

"Kita sudah menyalurkan bantuan dari Pemkab Inhu untuk memberikan sembako pada korban
banjir," tutup Widodo.
(cha/rvk)
Kali Ciliwung Meluap, Kampung Melayu
Direndam Banjir 1 Meter
Ibnu Hariyanto - detikNews

Jakarta - Banjir setinggi 90-120 cm merendam permukiman warga di Kampung Melayu, Jakarta
Timur. Banjir tersebut terjadi akibat luapan air dari Kali Ciliwung.

Pantauan detikcom, sekitar pukul 09.30 WIB, banjir masih merendam RW 04 dan 05 Kebon Pala II,
Kampung Melayu, Senin (21/5/2018). Terlihat air berwarna cokelat bercampur sampah merendam
setiap rumah warga.

Terlihat dari angka yang terdapat di tiang listrik, permukaan air mencapai tinggi 90 cm. Sedangkan di
tiang listrik yang lain, permukaan air semakin tinggi di posisi 120 cm.

Beberapa rumah juga sudah terlihat surut. Warga pun mulai melakukan bersih-bersih dari sisa banjir.

Salah satu warga RW 04, Unus (50), mengatakan banjir tersebut mulai naik ke permukiman warga
sekitar pukul 03.00 WIB. Warga mengaku kesulitan beraktivitas karena banjir tersebut.

"Iya terganggu sih, warga sini banyak yang dagang soalnya, kalau terganggu sih pasti," kata Unus di
lokasi banjir.

Dia menambahkan ketinggian air sempat mencapai 1,75 meter. Namun saat ini air sudah berangsur
surut.

"Kalau dekat bantaran tadi 1,75 meter sekarang di sini sudah tinggal 90 cm," terangnya.

Warga lain, Feri, mengatakan ini kedua kalinya RW 04 dan RW 05 terendam banjir setelah terjadi
pada Minggu (20/5) kemarin. Meski demikian, tidak ada warga yang mengungsi akibat banjir
tersebut.

"Nggak ada yang ngungsi (warga) sih, udah biasa, Ini udah kedua, kemarin juga banjir tapi nggak
segini, paling semeter kalau kemarin," terangnya.
Sopir Truk Mabuk Tabrak Guru dan Bocah
SD hingga Tewas
Sigit Dzakwan

KOTAWARINGIN BARAT - Kecelakaan maut terjadi antara truk dan sepeda motor di Jalan
Padat Karya I, Kawasan Bundaran Monyet, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, kalteng,
Selasa (8/1/2019).

Seorang guru SMP, Juhari (38) yang mengendarai sepeda motor bersama tiga orang anaknya
yang masih bocah, menjadi korbannya. Juhari dan anak keduanya, Ahmad Dhafari (7) yang
duduk persis di belakangnya tewas akibat kejadian ini.

Anak bungsunya, Ahmad Faeyzafari (5) mengalami beberapa luka, dan langsung dibawa ke
klinik terdekat. Sementara anak sulungnya, Ahmad Ghifari (11), hingga kini masih menjalani
perawatan serius di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun.

Sebelum kecelakaan itu terjadi, seperti biasa, Juhari terlebih dahulu mengantarkan ketiga
anak ke sekolah, untuk kemudian berangkat mengajar di SMP Negeri 5 Kumai.

Wagiman, guru di SMA Negeri 1 Kumai, yang lokasinya tak jauh dari kecelakaan lalu lintas
itu, bersama warga, lantas melarikan Juhari dan dua anaknya ke rumah sakit.

Sementara anak sulung Juhari sudah terlebih dulu diselamatkan warga ke klinik terdekat.
"Bapaknya meninggal dunia tak lama setelah tiba di rumah sakit. Beberapa jam kemudian
anak keduanya pun mengembuskan napas terakhirnya," ujar Wagiman.

Kasatlantas Polres Kotawaringin Barat, AKP Marsono mengatakan, Markus, sang sopir ugal-
ugalan itu, selain dalam keadaan mabuk, juga dipastikan positif memakai narkoba setelah
menjalani tes urine pagi tadi. "Kecelakaan karena kelalaian pengemudi truk," kata dia, Selasa
(8/1/2019) siang.

Marsono menjelaskan, pada saat mengemudikan truk jenis Mitsubishi Canter bernomor polisi
L9132AQ, Markus tidak membawa Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK).

Sementara itu, Muhammad Jamri (35), warga di tempat kejadian perkara menuturkan,
Markus sebelumnya diduga menyerempet seorang pengendara sepeda motor. Pengendara
sepeda motor itu kemudian mengejar Markus.

Hingga sore ini, Anak bungsunya, Ahmad Faeyzafari (5) yang mengalami beberapa luka
masih dirawat di klinik terdekat lokasi kejadian. Sementara anak sulungnya, Ahmad Ghifari
(11), hingga kini masih menjalani perawatan serius di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan
Bun.
(sms,nag)
Bus Jemaat Gereja Terguling di Tol
Semarang-Batang, 1 Tewas 47 Luka
Ahmad Antoni

BATANG - Kecelakaan kembali terjadi di jalur tol Trans Jawa. Sebuah bus yang membawa
rombongan Jemaat Gereja asal Tanjungpriok, Jakarta (6/10/2019) mengalami kecelakaan
tunggal di ruas tol Semarang-Batang, Jawa Tengah, Minggu (6/1/2019).

Kasatlantas Batang AKP Ferdy Kastalani membenarkan kejadian itu. Bus pariwisata
bernomor polisi B 7330 FDA itu baru saja melakukan safari rohani ke Jawa Timur (Jatim)
mengalami kecelakaan tunggal di ruas tol Semarang-Batang.

Dari keterangan penumpang, Ferdiyanto yang mengemudikan bus tersebut diduga mengantuk
hingga mengakibatkan bus terguling di kilometer 351 atau di Kecamatan Kandeman-Batang
menuju arah Jakarta.

“Akibatnya 1 penumpang meninggal dunia di lokasi kejadian atas nama Ana Maria (51).
Sopir mengalami luka berat dan 47 luka ringan dirawat di RSUD Kalisari Batang. Empat
orang opname, yang lain rawat jalan, dan 3 korban di Rumah Sakit QIM Batang,” sebut AKP
Ferdy Kastalani.

Pihaknya memperkirakan bahwa bus yang membawa rombongan Jamaat Gereja asal
Tanjungpriok disebabkan karena pengemudi yang mengantuk. “Prediksi kami kecalakaan ini
disebabkan kelalaian sopir karena mengantuk,” ungkapnya.
(rhs)
Tim Gabungan BNN dan Bea Cukai
Tangkap Kapal Bermuatan Narkoba di
Aceh
Gusti Eddy

ACEH - Tim Satgas ops BNN dan Bea Cukai Berhasil menangkap kapal dengan 3 ABK yang
diduga membawa narkotika di perairan Lhoksukon Aceh Utara dan Langsa. Dari hasil
penyergapan ini, petugas berhasil menemukan 72 bungkus sabu dan 2 bungkus pil ektasi
seberat total 72 kilogram (kg).

Deputi Brantas Irjen pol Arman Depari dalam siaran persnya mengatakan, kasus
penyeludupan sabu dan pil ektasi ini sudah lama diintai oleh Tim gabungan BNN dan Bea
dan Cukai di tengah laut perbatasan Malaysia dan Indonesia.

Barang haram itu dipindahkan dari kapal ke kapal (Ship to Ship) dan kemudian dibawa ke
wilayah Aceh menggunakan kapal kayu bernama KM Karibia. "Saat ini masih dalam
pengembangan,” tegas Arman.

Arman megatakan, untuk barang bukti narkoba yang disita yaitu Kapal Kayu Karibia, GPS
dan alat Navigasi, telepon genggam, telepon satelit dan lainnya. Seluruh kegiatan
penyeludupan Narkoba tersebut dikendakikan oleh Napi di Lapas Tanjung Gusta, Medan
bernama Ramli.

(rhs)
Sekolah di Kembangan Dijadikan Gudang
Penyimpanan Narkoba
Yan Yusuf

JAKARTA - Sekolah yang mestinya jadi tempat bagi generasi muda untuk menimba ilmu
justru dimanfaatkan tiga pria berinisial, AJ (29), DL (29), dan CP (30). Mereka malah
menjadikan sebuah ruangan sekolah sebagai gudang penyimpanan narkoba dan obat daftar G.

Aksi ketiganya pun terbongkar. Unit Narkoba Polsek Kembangan, Jakarta Barat menciduk
ketiganya di tempat terpisah bersama barang bukti 355,56 gram sabu dan 7.910 butir obat
golongan IV.

Kapolsek Kembangan, Kompol Joko Handono, mengungkapkan, kejadian ini bermula saat
anggotanya melakukan observasi lingkungan. Kala itu pihaknya mencurigai AJ. Pengintaian
pun dilakukan hingga akhirnya AJ dibekuk di kawasan perbatasan Kebon Jeruk.

“Kala itu dia hendak bertransaksi narkoba. Saat digeledah kami temukan plastik tempat sisa
sabu-sabu,” ujar Joko di Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (15/1/2019).

Dari temuan sabu-sabu dalam plastik itu pihaknya selanjutnya melakukan pengembangan.
Hasil intrograsi kemudian membawa tersangka ke sebuah sekolah swasta di kawasan
Kembangan, Kebon Jeruk, Jumat (11/1/2019) lalu. Disitulah pihaknya mengamankan kakak
beradik, DL dan CP, beserta sejumlah sabu-sabu dan psitropika.

Selain mengedarkan sabu dan psitropika, ketiganya juga merupakan pemakai. Hal itu
terungkap setelah polisi melakukan tes urine beberapa menit setelah penangkapan terhadap
ketiganya. Mereka dinyatakan positif narkoba dan sedang dalam pengaruh sabu-sabu.

“Ngomongnya balelol, bahkan dalam kondisi fly. Makanya pas diintograsi kami menunggu
mereka sadar dulu,” tandasnya.

Hasil penyidikan sementara, terungkap DL dan CP merupakan karyawan sebuah sekolah di


daerah Kembangan. Mereka bekerja di sekolah itu sebagai staf tata usaha dan penjaga
sekolah. Orang tua mereka juga merupakan pengurus sekolah.

Karenanya, kakak adik ini kerap tinggal di sekolah itu. Mereka lalu memanfaatkan sebuah
ruangan di laboratorium sekolah berukuran 3x4 meter sebagai kamar tidur. Ruangan itu
jugalah yang selama ini mereka jadikan sebagai gudang penyimpanan barang haram tersebut.

Dengan kondisi sekolah yang relatif aman, membuat ketiganya dengan mudah menyebarkan
narkoba dan psitropika. Alhasil, selama enam bulan tinggal di sana, ketiganya sudah sudah
menerima 10 kali barang psitropika. Adapun untuk sabu-sabu tersangka mengaku baru sekali
transaksi.

“Sekali kiriman bisa sampai ribuan. Di jual paling lama 2-3 minggu,” pungkas Joko.
(thm)

Dinas Kesehatan Kota Salatiga Tetapkan


Enam Kelurahan Endemis DBD
Angga Rosa AD

Kamis, 10 Januari 2019 - 09:45 WIB


views: 4
SALATIGA - Ada enam kelurahan di Kota Salatiga, Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai
daerah endemis penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dinas Kesehatan Kota (DKK)
Salatiga, menetapkan enam kelurahan tersebut sebagai endemis DBD didasarkan pada kasus
yang terjadi.

Kepala DKK Salatiga Siti Zuraidah menjelaskan, jumlah kasus DBD selama beberapa tahun
terakhir ini, mengalami fluktuatif. Namun sebagian besar kasus terdapat di daerah yang
dinyatakan sebagai endemis DBD. Enam keluarahan tersebut, adalah Kelurahan Kauman
Kidul dan Sidorejo Lor di Kecamatan Sidorejo, Mangunsari dan Dukuh di Kecamatan
Sidomukti serta Ledok dan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo.

"Dari tahun ke tahun jumlah penderita DBD di Salatiga meningkat. Pada 2017 ditemukan 13
kasus. Kemudian pada 2018 jumlah penderita DBD tercatat ada 27 orang. Dan pada awal
Januari 2019 ini sudah ditemukan orang," jelasnya, Kamis (10/1/2019).

Dia menyatakan, belakangan ini penyebaran DBD sulit dikendalikan lantaran nyamuk
penyebab penyakit ini, yaitu aedes aegypti sudah kebal terhadap sejumlah jenis obat-obatan
yang digunakan untuk membasmi nyamuk. Karena itu, masyarakat harus proaktif dalam
upaya pengendalian dan pencegahan DBD.

Menurut dia, upaya pencegahan penyakit DBD yang paling efektif adalah pemberantasan
sarang nyamuk (PSN). Dengan PSN, perkembangbiakan nyamuk bisa ditekan lantaran
jentiknya juga ikut mati.

Disamping itu, kata Siti Zuraidah, upaya antisipasi penyebaran penyakit DBD harus
dilakukan mulai tingkat rumah tangga. Karena itu, masyarakat juga harus berperan aktif
dalam melakukan langkah antisipasi.

"Itu bisa dilakukan dengan menjaga pola hidup sehat dan melakukan PSN. Kami imbau
masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan PSN terlebih pada
musim penghujan ini," ujarnya.

Menurut dia, pada musim hujan banyak genangan air yang bisa jadi tempat berkembangbiak
nyamuk termasuk nyamuk penyebar DBD yakni aedes aegypti. "Untuk itu, kebersihan
lingkungan harus terjaga. Jangan sampai ada genangan air agar nyamuk tidak mudah
berkembang biak," tandasnya.
(wib)
Penderita DBD Tinggi, Warga Sulut
Diimbau Waspada
Cahya Sumirat

MANADO - Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Sulawesi Utara (Sulut) setiap
tahunnya cukup tinggi. Berdasarkan laporan Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Kota se-
Provinsi Sulut, distribusi kasus DBD di Provinsi Sulut tahun 2015-2019 (tanggal 1-6 Januari
2019) menunjukkan kenaikan.

Jika tahun 2015 sebanyak 1.546 kasus, di 2016 menjadi 2.217 kasus. Meski 2017 hanya 578
kasus namun pada 2018 mengalami kenaikan sebanyak 1.713 kasus dan 2019 sejak 1-6
Januari sebanyak 67 kasus.

Sementara itu, kasus kematian akibat DBD di Sulut tahun 2015-2019 (tanggal 1-6 Januari)
memperlihatkan ada 21 orang meninggal pada tahun 2015. Tahun 2016 sebanyak 17 orang,
tahun 2017 sebanyak 9 orang dan pada 2018 mengalami kenaikan yakni 24 orang meninggal.
Sedangkan 2019 sejak 1-6 Januari sudah 3 orang yang meninggal akibat kasus DBD.

Pemerintah Provinsi Sulut di bawah pimpinan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil
Gubernur Steven Kandouw bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulut mengajak semua
lapisan masyarakat yang ada di daerah bumi Nyiur Melambai untuk bersama-sama mencegah
penyebar luasan penyakit DBD.

Pemerintah mengingatkan kembali tiga langkah pencegahan (3M Plus) penyakit DBD yakni
menguras dan menutup tempat penampungan air, memanfaatkan/mendaur ulang barang
bekas. Pencegahan alternatif penyakit DBD yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti
dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti
nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, tidak menggantung pakaian dalam
kamar dan menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut, dr Debby Kalalo menyatakan penanganan
DBD harus cepat karena itu merupakan momok menakutkan.

"Jangan setelah ada kejadian baru melakukan bergerak melakukan pencegahan. Kalau hanya
melakukan fogging itu tidak akan maksimal, karena bersifat sementara dan hanya membunuh
nyamuk DBD tapi tidak untuk jentik-jentiknya. Selain itu jika kebanyakan fogging bisa
berdampak pada keracunan melalui pengasapan," ujar Kalalo.

Dikatakan, masyarakat harus memaksimalkan program 3 M yakni menguras dan menyikat


tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur
atau membakar, membuang sampah pada tempatnya terutama barang bekas yang bosa
digenangi air hujan. “Di samping itu, mengganti vas/pot bunga, memelihara ikan pemakan
jentik nyamuk serta menggunakan obat nyamuk," pungkas Kalalo.
(kri)
Rumah Dua Pimpinan KPK Diteror Bom
Molotov, Polri Kerahkan Densus 88
Raka Dwi Novianto

JAKARTA - Rumah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilempari benda
mirip bom molotov, Rabu (9/1/2019) pagi.

Adapun kasus dugaan teror itu terjadi di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Perumahan
Graha Indah, Jatiasih, Kota Bekasi, dan rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif
di Jalan Kalibata, Jakarta Selatan.

Peristiwa ini dibenarkan oleh Mabes Polri. "Telah ditemukan benda mirip bom di rumah dua
pimpinan KPK, Pak Agus di Bekasi dan Pak Laode di Kalibata," kata Kepala Divis Humas
Mabes Polri, Inspektur Jenderal Polisi Mohammad Iqbal di Mabes Polri di Jalan Trunojoyo,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (9/1/2019) siang.

Dia menjelaskan Polri telah menurunkan tim di kedua lokasi untuk olah TKP (tempat
kejadian perkara).

"Tim dari Bareskrim, Inafis, Puslabfor serta Densus 88," sambungnya.

Menurut Iqbal, Polri akan berusaha bekerja semaksimal untuk mengungkap kasus tersebut.
Berbagai pihak juga diminta tenang dalam menyikapi hal tersebut.

"Tidak perlu di-framing soal macam-macam untuk hal ini. Kami imbau masyarakat tenang
karena situasi dan kondisi Jakarta tetap aman dan kondusif," tuturnya.
(dam)
Sebanyak 396 Orang Pelaku Teror
Ditangkap
Mohammad Yamin

Kamis, 27 Desember 2018 - 14:28 WIB


JAKARTA - Pengungkapan kasus tindak pidana terorisme oleh Polri meningkat selama
tahun 2018. Salah satunya terlihat dari jumlah pelaku yang ditangkap.

"Jumlah pelaku teror yang berhasil diungkap sepanjang tahun 2018 meningkat 113 persen,"
kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis
(27/12/2018).

Peningkatan itu dijelaskan Kapolri berdasarkan atas sejumlah variabel. salah satunya
banyaknya pelaku teror yang ditangkap. Tercatat sebanyak 396 pelaku teror yang dibekuk di
tahun 2018. Sementara pada 2017 tercatat sekitar 176 pelaku.

Tidak hanya pengungkapan yang meningkat. Peningkatan juga terlihat dari jumlah personel
kepolisian yang menjadi korban akibat terorisme. Data korban luka hingga gugur dalam
upaya penanganan kasus terorisme meningkat hingga 72%.

Sementara dari keseluruhan pengungkapan kasus terorisme selama tahun 2018, jumlah
pelaku teror yang tewas sebanyak 25 orang atau sebesar 6%. Kemudian pelaku yang tewas
akibat bunuh diri sebanyak 13 orang atau 3% dan meninggal dunia karena sakit ada satu
orang atau 0,2%.

"Yang divonis sebanyak 12 orang atau 3 persen, yang masih disidang berjumlah 141 orang
atau 35 persen, dan yang masih dalam penyidikan sebanyak 204 orang atau 52 persen," kata
mantan Kapolda Metro Jaya ini.
(dam)
Warga 2 Desa Bentrok , 1 Motor Dibakar
Usai Tonton Sepak Bola Tarkam
Nanang Fahrurozi

Minggu, 6 Januari 2019 - 08:29 WIB


MERANGIN - Puluhan warga dari dua desa di Kabupaten Merangin, Jambi, terlibat tawuran
pada Sabtu, 5 Januari 2019 kemarin. Tawuran ini pecah usai pertandingan sepak bola antar-
kampung (tarkam) yang mempertemuan klub dari dua desa tersebut.

Akibat keributan antar-warga Desa Baru Air Batu dengan Desa Simpang Parit, dua warga
menjadi korban dan satu sepeda motor dibakar massa. Dari informasi yang diperoleh,
kejadian penyerangan warga Desa Baru Air Batu terhadap warga Desa Simpang Parit
bermula saat gesekan antara warga dua desa tersebut saat menonton pertandingan bola di
Desa Guguk.

Setelah pertandingan selesai, bukannya membubarkan diri warga Desa Baru Air Batu
bukannya pulang malah berkumpul di persimpangan Desa Guguk menunggu warga Desa
Simpang Parit. Melihat warga Desa Simpang Parit melintasi pesimpangan Desa Guguk,warga
Desa Baru Air Batu langsung melakukan penyerangan dan mengakibatkan dua warga Desa
Simpang Parit yakni, Mardawin(30) dan Arbain (30) mengalami luka-luka.

Beberapa menit usai kejadian, satu sepeda motor milik warga Desa Baru Air Batu dibakar
oleh orang yang belum di ketahui identitasnya. Untuk menenangkan situasi, aparat kepolisian
dan TNI langsung turun ke lokasi kejadian.

Kapolsek Sungai Manau, Iptu Nixon mengatakan, hingga kini pinyaknya masih menyelidiki
kasus tawuran antar-warga desa tersebut. "Keributan gara-gara bola. Di mana antara dua
pemuda Desa Baru Air Batu dan Desa Simpang Parit terjadi perselisihan saat menyaksikan
pertandingan bola di Desa Guguk," kata Nixon, Minggu (6/1/2019).

Untuk korban saat kejadian ada dua orang dan kini menjalani perawatan di RSU Bangko.
"Korban sudah di rumah sakit, sedangkan sepeda motor yang di bakar sudah kami amankan
di Polsek. Sementara untuk situasi di lokasi sudah kondusif," ucapnya.
(whb)
5 Pelajar Tewas dan Lima Cacat Seumur
Hidup akibat Tawuran di Tangsel
TANGERANG SELATAN - Tawuran pelajar dan antarpemuda di Kota Tangerang Selatan
(Tangsel) sepanjang 2018 ini masih terbilang tinggi. Sebanyak lima pelajar tewas, dan lima
lainnya menderita cacat seumur hidup akibat tawuran tersebut.

Para pelaku tawuran, didominasi pelajar atau anak-anak. Pendekatan terhadap para pelaku,
terutama dari orangtua dan sekolah, dikatakan, sebagai formula dini untuk pencegahan.
Selama 2018 ini, menurut catatan Polres Tangsel, sedikitnya ada sejumlah tawuran dan
kekerasan remaja yang terjadi dan menyebabkan korban tewas maupun cacat.

Kasus pertama, terjadi pada 1 Januari 2018, di Boulevard, Sektor 9, Bintaro Jaya, Pondok
Aren. Dalam peristiwa ini, kawanan remaja dengan menggunakan motor, menusuk remaja
lainnya di bagian leher hingga tewas.
Kasus kedua terjadi pada 13 Agustus 2018, di dekat Sekolah Binus, Lengkong Karya,
Kecamatan Serpong. Seorang remaja nekat membacok remaja lainnya berkali-kali di bagian
punggungnya hingga korban tewas.

Selanjutnya pada 18 Oktober 2018, di daerah Padat Karya, Kecamatan Curug. Kali ini
melibatkan dua kelompok siswa SMK Mandiri, Kecamatan Panongan, dengan SMK
Yupentek 24. Tawuran yang dipicu akibat pertandingam futsal itu, mengakibatkan lengan
seorang siswa putus, setelah dibacok dengan sebilah celurit. Korban selamat, tapi harus
menderita cacat seumur hidup.

Kasus keempat terjadi di RM Tandika, Jalan Cirendeu Raya, Ciputat Timur, pada 26 Mei
2018. Dalam kejadian itu, seorang remaja kembali dibuat cacat. Pergelangan tangan
kanannya nyaris putus dibacok celurit. Kekerasan remaja selanjutnya, terjadi di Jalan Raya
Sepong, pada 15 Desember 2018. Kali ini melibatkan kawanan remaja yang tergabung dalam
fan grup musik.

Dalam peristiwa ini, seorang remaja salah satu pendukung grup musik tewas dibacok dengan
celurit. Tidak berhenti di situ, pada 31 Juli 2018, tawuran antar kelompok pelajar juga terjadi
Jalan Raya Puspitek. Kali ini, tawuran melibatkan pelajar dari SMK Sasmita Jaya, dengan
SMK Bhipuri. Salah seorang pelajar SMK Sasmita Jaya tewas.

Terakhir, tawuran terjadi pada 2 Desember 2018, di Jalan Bintaro Utama, Sektor III,
Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren. Dalam peristiwa itu, satu pelajar
tewas, dan tiga lainnya menderita cacat.

Sembilan orang pelaku diamankan dalam tawuran itu. Pelakunya rata-rata pelajar, mulai
tingkat SMP hingga SMA. Dari sembilan orang itu, hanya 1 yang dewasa.
(whb)
Usia TPA Sumur Batu Bekasi Tersisa
Delapan Bulan
Abdullah M Surjaya

BEKASI - Lokasi pembuangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu di
Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, ternyata cukup hanya delapan bulan menampung
sampah. Padahal, Pemkot Bekasi sudah menambah lahan seluas 3,5 hektare beberapa waktu
lalu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfi mengatakan, kondisi TPA milik
Kota Bekasi tersebut hampir melebihi kapasitas yang ada (overload). Kemungkinan hanya
mampu menampung sampah selama delapan bulan kedepan, walaupun pada 2017 ada
penambahan 3,5 hektare.

“Sekarang ini ketinggian sampah sudah 20 meter dari tanah,” kata Lutfi kepada wartawan
Kamis (3/1/2018). Menurut Lutfi, sejak 2017 pemerintah daerah sudah melakukan
pembebasan lahan. Apalagi, lahan seluas 6.000 meter yang sudah dibeli untuk dijadikan
lokasi pembuangan baru.

Tapi kapasitas itu, hanya bertahan beberapa bulan saja. Sehingga, pemerintah hanya
meratakan sampah agar tidak menggunung. Kemudian di tahun yang sama, pemerintah
daerah kembali membebaskan lahan seluas 3,5 hektare, yang dijadikan pembuangan di Zona
Vb.

Namun, kapasitas itu diperkirakan hanya bertahan delapan bulan di tahun 2019. “Karena
memang ada sudah sebagian sampah yang dibuang ke lokasi yang baru, sebelum selesai
kontruksi, apalagi kondisinya sudah memprihatinkan, karena tidak muat menampung,”
ujarnya.

Bila mengacu pada Keputusan Wali Kota Bekasi bernomor 658.12/kep.377-dinsih/vi/2016


tentang Penunjukkan Lahan sebagai Rencana Perluasan dan Pengembangan TPA Sumur Batu,
bahwa pada tahun 2030 Bekasi harus memiliki lahan TPA hingga 38,9 hektare. Untuk luas
lahan saat ini totalnya mencapai 19 hektare. Apalagi, Kota Bekasi sudah tidak bisa
melakukan pembebasan lahan.

Selain faktor keberadaan lahan, juga masalah harga menjadi masalah yang utama.”Harga
lahan sangat tinggi, jadi susah untuk dibebaskan lahanya,” ungkapnya.

Untuk itu, pemerintah daerah akan memaksimalkan industrialisasi sampah di TPA Sumur
Batu. Menurut dia, dengan adanya sistem pengolahan sampah menjadi energi akan
mengurangi beban sampah yang ada di lokasi pembuangan milik Kota Bekasi tersebut.

Saat ini, untuk volume sampah yang dihasilkan dari masyarakat jumlahnya mencapai 600 ton
per tiap hari. Namun, untuk perayaan malam pergantian tahun 2018/2019 penambahan hanya
50 ton.”Penambahanya kecil, karena tidak ada pesta kembang api,” ucapnya.
(whb)
Usia TPST Bantargebang Tersisa 3 Tahun,
DKI Lakukan 3 Hal Ini
Komaruddin Bagja Arjawinangun

BEKASI - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, diperkirakan


hanya mampu menampung sekitar 10 juta ton sampah rumah tangga warga DKI Jakarta atau
cuma bisa bertahan hingga 2021.

“Kapasitas TPST Bantargebang diperkirakan (memuat) sebesar 49 juta ton yang mana saat ini
sudah berisi 39 juta ton. Sehingga hanya bersisa 10 juta ton lagi, yang diprediksi di tahun
2021 sudah akan penuh," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji di
TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (15/1/2019).

Hadir dalam kesempatan ini Kepala Biro Tata Pemerintahan DKI Jakarta Premi Lasari, Ketua
Komisi D DPRD DKI Jakarta, perwakilan BPPT, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, Kepala
Dinas LH Kota Bekasi Jumhana Lutfi, Camat Bantar Gebang Asep Gunawan, dan Lurah
Ciketing Udik.

Menurut Isnawa, untuk mengatasi masalah sampah di Ibu Kota, Pemprov DKI Jakarta telah
menetapkan kegiatan strategis daerah (SKD), yaitu pembangunan fasilitas pengolahan
sampah atau intermediate treatment facility (ITF) di Sunter, pengurangan sampah di sumber,
dan optimalisasi TPST Bantargebang.

Dalam rencana KSD optimalisasi Bantargebang, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta
memiliki target dan harapan bagaimana menjadikan TPST Bantargebang sebagai TPST ramah
lingkungan dan TPST ramah sosial.

Guna mewujudkan target itu, kata Isnawa, berbagai kegiatan akan dilakukan dilakukan Dinas
Lingkungan Hidup DKI di TPST Bantargebang. Pertama, memelihara kondisi landfill dengan
melakukan penutupan menggunakan geo membrane dan tanah merah. Kedua, melakukan
pemeliharaan terhadap jalan operasional yang ada di kawasan ini.

"Yang ketiga, kami juga melakukan upaya memelihara instalasi pengolahan air sampah atau
biasa kita sebut dengan IPAS beserta salurannya. Kami juga melakukan penghijauan dan
mengoperasikan pusat daur pulang kompos serta berbagai kegiatan lainnya,” tandasnya.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat volume sampah yang diproduksi warga DKI
yang dibuang ke TPST Bantargebang saat ini telah berada di angka 7.400 ton per hari.

Selama ini, TPST Bantargebang masih menerapkan sistem sanitary landfill (pemusnahan
sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung). Ke depan, Dinas
Lingkungan Hidup DKI Jakarta akan melakukan landfill mining atau penambangan sampah.
(thm)
Pesawat Kargo Iran Jatuh, 15 Orang Tewas
dan 1 Orang Selamat
Novi Christiastuti - detikNews

Teheran - Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan pesawat kargo jenis
Boeing 707 di Iran. Satu orang yang merupakan teknisi pesawat menjadi satu-satunya korban
selamat.

Seperti dilansir Reuters, Senin (14/1/2019), militer Iran telah mengakui bahwa pesawat kargo
yang mengalami kecelakaan itu merupakan miliknya. Hal ini mengakhiri informasi simpang
siur soal status kepemilikan pesawat kargo yang sebelumnya sempat disebut milik
Kyrgyzstan itu.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Iran, Fars News Agency, militer Iran menyebut
pesawat kargo itu membawa 16 orang (sebelum disebut 10 orang) saat kecelakaan terjadi
pada Senin (14/1) waktu setempat. Pesawat kargo itu disebut jatuh di dekat Bandara Fath
yang terletak dekat kota Karaj, Provinsi Alborz.

Militer Iran menyebut satu teknisi pesawat berhasil selamat dan telah dilarikan ke rumah
sakit setempat. Identitasnya tidak sebut lebih lanjut.

"Sebuah pesawat kargo Boeing 707 yang membawa muatan daging dari Bishkek di
Kyzgyzstan melakukan pendaratan darurat di Bandara Fath hari ini ... Teknisi penerbangan
tersebut telah dibawa ke rumah sakit setempat," demikian pernyataan militer Iran.

"Pesawat itu keluar dari landasan saat melakukan pendaratan dan terbakar setelah menabrak
tembok yang ada di ujung landasan," imbuh pernyataan itu.

Penyebab pesawat kargo itu melakukan pendaratan darurat tidak diketahui pasti. Laporan
menyebut kecelakaan terjadi di tengah cuaca buruk.

Televisi lokal Iran melaporkan bahwa tim penyelamat telah dikerahkan ke lokasi kejadian
yang berada di antara Bandara Fath dan Bandara Payam. Tayangan televisi setempat
menunjukkan puing pesawat yang hangus terbakar dan kepulan asap membubung ke udara
dari lokasi kecelakaan.

(nvc/ita)
Lion Air yang Jatuh Angkut 188 Orang,
Ada 2 Bayi
Dhani Irawan - detikNews

Jakarta - Pesawat Lion Air JT610 dipastikan jatuh di laut utara Karawang, Jawa Barat. Ada
188 orang di dalamnya.

"Pesawat yang membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak, dan 2 bayi
dengan 2 pilot dan 5 flight attendant," ucap Kepala Bagian Kerja sama dan Humas Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan, Sindu Rahayu,
dalam keterangannya, Senin (29/10/2018).

Koordinasi sedang dilakukan dengan Basarnas. Lokasi pesawat juga sudah disampaikan oleh
Basarnas sudah ditemukan.

Tiga kapal dan satu helikopter Basarnas telah meluncur ke lokasi. Basarnas akan menggelar
jumpa pers untuk menjelaskan peristiwa ini.

Pesawat itu lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada pukul 06.20 WIB.
Selanjutnya, pesawat itu hilang kontak pukul 06.33 WIB.

(dhn/tor)