Anda di halaman 1dari 9

ANTIHIPERLIPIDEMIA

DEFINISI
Hiperlipidemia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh peningkatan kadar lipid / lemak ddarah
melewati batas normal. Obat antihiperlipidemia merupakan obat yang digunakan untuk dislipidemia
(misalnya dengan cara mengurangi level lemak pada darah). Secara menyeluruh, biasanya obat-obat ini
menurunkan jumlah kolesterol dan LDL (low density lipoprotein) dalam darah dan meningkatkan HDL
(high density lipoprotein). Beberapa obat yang termasuk di dalamnya antara lain statin (yang lebih
dikenal sebagai HMG-CoA (Hydroxymethylglutaryl-coenzim A) reductase inhibitor), fibrat, ezetimib,
bile-acid binding resin (resin pengikat asam empedu, misalnya colestipol, colestyramine) dan asam
nikotinat (niacin).

Berdasarkan jenisnya, hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu :


1. Hiperlipidemia Primer
Banyak disebabkan oleh karena kelainan genetik. Biasanya kelainan ini ditemukan pada waktu
pemeriksaan laboratorium secara kebetulan. Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan
yang agak berat tampak adanya Xantoma (penumpukan lemak di bawah jaringan kulit).
2. Hiperlipidemia Sekunder
Pada jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, misal : diabetes
mellitus, gangguan tiroid, penyakit hepar, dan penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat
reversible ( berulang ). Ada juga obat-obatan yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak, seperti
β – Bloker , diuretik, kontrasepsi oral (estrogen, gestagen).

PEMBAGIAN OBAT

(a) Statin

Statin merupakan obat yang dapat ditolerasi dengan baik, tetapi mempunyai dua efek samping yang
cukup besar. Penggunaannya meningkatkan enzim hati dan dapat menyebabkan gangguan otot rangka
(seperti myalgia, myopathy dan rhabdomyolysis). Rhabdomyolysis merupakan suatu sindrom yang
menyebabkan rusaknya otot rangka, yang mengakibatkan pengeluaran enzim creatine kinase ke
sirkulasi. Creatine kinase ini dikenal sebagai creatine phospokinase. Rhabdomyolysis dapat
dikategorikan dari elevasi asimtomatik creatine kinase hingga kerusakan ginjal akut, dan beberapa
bentuk lagi yang membahayakan jiwa. Dengan meningkatnya level creatine kinase, tanda-tanda dan
simtom-simtom dari rhabdomyolysis antara lain nyeri otot dan lemas, urin yang berwarna kemerahan
(myoglobinuria). Walaupun mekanisme statin sebagai penyebab gangguan otot belum diketahui secara
pasti, namun kemungkinan berkaitan dengan peningkatan level statin. Oleh karena itu, interaksi yang
menyebabkan hal ini, harus ditangani dengan serius. Salah satu cara peningkatan level statin dalam
darah adalah jika obat yang menginteraksi dapat menghambat metabolisme statin, yang mengakibatkan
pengeluaran statin dalam darah yang lambat dan akhirnya akan terakumulasi. Resiko myopathy dengan
penggunaan statin berkisar 0,5%, walaupun ada catatan terjadinya myopathy dengan penggunaan statin
saja hingga 7%. Pasien-pasien dengan faktor resiko terkena myopathy antara lain:

a. umur lebih dari 80 tahun


b. lemah
c. banyak penyakit
d. hipotiroid
e. pengguna alkohol
f. perempuan

Untuk mengurangi resiko myopathy telah disarankan penggunaan statin harus diamati pada pasien yang
beresiko terkena efek samping. Faktor lainnya adalah penggunaan fibrat, seperti gemfibrozil, dengan
inhibitor ensim CYP3A4 seperti siklosporin, makrolida, azole, dan protease inhibitor.

Lovastatin dan simvastatin dimetabolisme oleh isoenzym sitokrom P450 CYP3A4 oleh karena itu obat
yang dapat menghambat enzim ini dan mengakibatkan naiknya kadar statin dalam darah. Atorvastatin
juga dimetabolisme oleh CYP3A4, tapi tidak sebanyak lovastatin atau simvastatin. Beberapa statin tidak
dimetabolisme oleh enzym ini sehingga dapat berbeda interaksinya. Fluvastatin dimetabolisme oleh
CYP2C9.

Selain itu, statin juga merupakan substrat P-glikoprotein, dan oleh karena itu dapat berinteraksi dengan
cara berkompetisi dengan substrat untuk berikatan dengan protein pembawa ini, yang mengakibatkan
perubahan bioavailabilitas pemakaian oral. tetapi dengan rendahnya afinitas atorvastatin dan
simvastatin terhadap protein pembawa ini, menyebabkan interaksi yang terjadi dapat lebih signifikan.

(b) Resin Pengikat Asam Empedu

Obat dalam golongan ini menurunkan kolesterol dengan cara mengikat asam empedu pada saluran
pencernaan untuk membentuk kompleks yang tidak larut dan diekskresikan melalui feses. Hal ini
memungkinkan adanya interaksi dengan obat-obatan yang juga dapat berikatan dengan asam empedu,
yang khirnya dapat mencegah absorpsi ataupun efek lokal dari obat yang dipengaruhi.

(c) Ezetimibe

Golongan ini merupakan obat yang dapat menghambat absorpsi kolesterol, dan, Ezetimibe dan
metabolitnya yaitu ezetimibe glucorinide, mengganggu absorpsi kolesterol, baik dari makanan maupun
kolesterol empedu. Absorpsi lemak lainnya tidak dipengaruhi. Ezetimibe tidak mempunyai interaksi
yang signifikan dengan sitokrom P450.
(d) Fibrat

Fibrat merupakan obat yang berikatan dengan protein yang dimetabolisme melalui sitokrom P450
CYP3A4. Golongan ini umumnya dikenal sebagai inhibitor enzim tersebut. Walaupun ikatannya pada
protein merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan interaksi, mekanisme tersebut biasanya
tidak menyebabkan interaksi yang serius. Dengan itu, mekanisme interaksi obat dari golongan ini tidak
diketahui secara pasti, walaupun diperkirakan berkaitan dengan kemampuannya menginhibisi
glukoronidasi. Seperti statin, fibrat juga dapat menyebabkan myopathy, dan resiko ini bertambah besar
apabila penggunaannya diikuti dengan penggunaan statin.

(e) Asam Nikotinat

Asam nikotinat mempunyai efek yang sangat kecil terhadap sistem isoenzim sitokrom P450, oleh
karena itu, penggunaan obat golongan ini tidak mempunyai interaksi yang signifikan. Namun
penggunaannya dapat juga meningkatkan resiko myopathy ketika digunakan dengan staton. Walaupun
tidak ada interaksi yang telah dilaporkan mengenai penggunaannya dengan acipimox, penggunaannya
dengan obat yang mempunyai interaksi dengan asam nikotinat dilarang. Hal ini dikarenakan asam
nikotinat merupakan analog dari acipimox, sehingga kemungkinan mempunyai interaksi yang sama.
Tabel interaksi obat
CONTOH OBAT DIPASARAN

DAFTAR PUSTAKA
Baxter, K. (2008). Stockley’s Drug Interaction, Eight edition. London: Pharmaceutical Press.
ISFI (2008). Informasi Spesialite Obat Indonesia. Volume 43. Jakarta : Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia.
MACAM-MACAM ANTIHIPERLIPIDEMIA
TABEL INTERAKSI OBAT

No Nama Nama Mekanisme obat A Mekanisme Obat B Interaksi


Obat A Obat B
1. Klorfibrat Kolestiramin Mekanisme Menurunkan kadar Klofibrat bersama
kerjanya dengan kolesterol plasma kolestiramin sedikit
meningkatkan dengan cara mengikat menunda
aktivitas asam empedu dalam tercapainya kadar
lipoprotein lipase saluran cerna, puncak
sehingga mengganggu sirkulasi plasma.Klofibrat
katabolisme enterohepatik sehingga menggeser
lipoprotein kaya- ekskresi steroid yang antikoagulan oral
trigliserida seperti bersifat asam dalam dari ikatannya
VLDL dan LDL tinja meningkat. dengan albumin dan
meningkat. Penurunan asam memperkuat efek
empedu oleh obat-obat ini.
pemberian resin ini
menyebabkan
meningkatnya produksi
asam empedu yang
berasal dari kolesterol.
2 Gemfibrozil Warfarin Gemfibrozil anti koagulan oral yang Gemfibrozil
meningkatkan mempengaruhi sintesa meningkatkan efek
aktivitas vitamin K-yang antikoagulan
lipoprotein lipase berperandalam warfarin
sehingga klirens pembekuan darah-
partikel kaya sehingga terjadi deplesi
trigliserid faktor II, VII, IXdan X.
meningkat. Kadar Ia bekerja di
kolesterol HDL hatidengan
juga dapat menghambat
meningkat pada karboksilasi vitamin K
pemberian obat ini. dari protein
prekursomya.
3 Kolestiramin Vitamin A, D, Keduanya Vitamin A, D , dan K Kolestiramin dan
dan Kolestipol dan K menurunkan kadar kolestipol
kolesterol plasma mengganggu
dengan cara absorpsi vitamin A,
mengikat asam D dan K karena
empedu dalam gangguan absorpsi
saluran cerna, lemak.
mengganggu
sirkulasi
enterohepatik
sehingga ekskresi
steroid yang
bersifat asam dalam
tinja meningkat.
Penurunan asam
empedu oleh
pemberian resin ini
menyebabkan
meningkatnya
produksi asam
empedu yang
berasal dari
kolesterol.
4 Pravastin Gamfibrozil Penghambat HMG Gemfibrozil Kombinasi
CoA-reduktase meningkatkan aktivitas pravastatin dan
bekerja dengan lipoprotein lipase gemfibrozil tidak
menghambat sehingga klirens dianjurkan karena
sintesis kolesterol partikel kaya trigliserid terjadi penurunan
di hati sehingga meningkat. Kadar ekskresi urin dan
menurunkan kadar kolesterol HDL juga ikatan protein
LDL plasma. dapat meningkat pada pravastatin
pemberian obat ini.
5 Atorvastatin Digoxin Penghambat HMG Mekanisme kerja Pemakaian bersama
CoA-reduktase digoxin yaitu dengan digoxin dan
bekerja dengan menghambat pompa atorvastatin
menghambat Na-K ATPase yang meningkatkan
sintesis kolesterol menghasilkan kadar tunak plasma
di hati sehingga peningkatan sodium digoxin hingga
menurunkan kadar intracellular yang 20%.
LDL plasma. menyebabkan
lemahnya pertukaran
sodim/kalium dan
meningkatkan kalsium
intracellular.
6 Atorvastatin Antasid berisi Al Penghambat HMG Antasida bekerja Pemakaian suspensi
dan Mg CoA-reduktase dengan cara antasid berisi Al dan
bekerja dengan menetralkan kondisi Mg menurunkan
menghambat “terlalu” asam tersebut, kadar plasma
sintesis kolesterol selain itu antasida juga atorvastatin hingga
di hati sehingga bekerja dengan cara 35%
menurunkan kadar menghambat aktivitas
LDL plasma. enzim pepsin yang aktif
bekerja pada kondisi
asam,
7 Atorvastatin Simetidin Penghambat HMG Cimetidine adaiah Atorvastatin +
CoA-reduktase penghambat histamin simetidin
bekerja dengan pada reseptor H2 secara menurunkan
menghambat selektif dan reversible, efektivitas
sintesis kolesterol penghambatan penurunan
di hati sehingga histamin pada reseptor trigliserida hingga
menurunkan kadar H, akan menghambat 26-34%
LDL plasma. sekresi asam lambung
baik pada keadaan
istirahat maupun
setelah perangsangan
oleh makanan,
histamin, pentagastrin,
kafein dan insulin.
8 Atorvastatin Eritromisin Penghambat HMG Golongan makrolid Atorvastatin +
CoA-reduktase menghambat sintesis eritromisin (suatu
bekerja dengan protein kuman dengan inhibitor sitokrom)
menghambat jalan berikatan secara meningkatkan
sintesis kolesterol reversible dengan kadar plasma
di hati sehingga ribosom subunit 50S, atorvastatin hingga
menurunkan kadar dan bersifat 40%
LDL plasma. bakteriostatik atau
bakterisid tergantung
dari jenis kuman dan
kadarnya

CONTOH OBAT DIPASARAN

Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen

Gemfibrozil Lopid Kapsul/Tablet 300, 450, 600, 900 Park Davis


mg
Lipidan Dankos
Kapsul/Kaplet 300, 600 mg
Lapibroz Lapi
Kapsul 300, 600 mg

Fenofibrat Evothyl Kapsul 100, 300 mg Guardian

Hipolip Kapsul 100, 300 mg Mecosin

Hyperchol Kapsul 100, 300 mg Ikapharmindo

Klofibrat Arterol Kapsul 250, 500 mg Pharos Chemie

Bezafibrat Bezalip Tablet 200 mg Boehringer M.

Atorvastatin Lipitor Tablet 10, 20 mg Marner-Lambert

Lovastatin Belvas Tablet 20 mg IPI

Justin Tablet 20 mg Ifars

Vastachol Tablet 20 mg Rama Farma

Fluvastatin Leschol Kapsul 40 mg Novartis

Simvastatin Liponorm Tablet 5, 10 mg Dankos

Normofat Tablet 5, 10 mg Soho

Sinova Tablet 5, 10 mg Combiphar


Pravastatin Pravachol Tablet 10, 20 mg Bristol Myers

Mevalotin Tablet 5, 10 mg Sankyo, KF

Asam nikotinat Tablet 100 mg

NO Nama Nama Generik Golongan Potensi Nama Mekanisme


Paten Obat Obat Perusahaan Kerja
1 Lipitor® Atorvastin Statin
2 Lescol® Fluvastatin
3 Bezalip® Bezafibrate Fibrat
4 Modalim® Ciprofibrate
5 Questran® Colestyramine Resin
6 Colestid® Colestipol
7 Ezetrol® Ezetimibe Inhibitor
absorpsi
kolesterol
selektif
8 Niaspan® Asam Turunan
nikotinat/niasin asam
nikotinat
9 Inegy® Simvastatin Obat
dan ezetimibe kombinasi
10 Omacor® Minyak
ikan
omega-3