Anda di halaman 1dari 11

WAYANG GOLEK

Nama kerajinan : Wayang golek


Asal daerah : Jawa Barat
Jenis bahan : Kayu
Teknik pembuatan :
Langkah pertama yaitu, mengukir bentuk wajah. Detail wajah, mulai dari lekukan hidung,
mata, hingga hiasan dibuat sedemikian halus. Proses pewarnaannya pun menggunakan
beberapa kuas. Untuk beberapa detail seperti riasan kelopak mata perlu kuas yang kecil agar
hasilnya sempurna. Langkah selanjutnya adalah membuat bagian tubuh. Wayang golek
memiliki bentuk tubuh yang terpisah dengan tangan. Pada bagian atas, kanan, kiri dan bawah
tubuh diberi lubang untuk menyatukan kepala dan lengan menggunakan tali. Setelah
beberapa bagian selesai dibuat, sampeurit (kayu penyangga kepala) dipasang, agar kepala
wayang bisa digerakan. Kemudian tuding ( kayu pemegang dalang) dipasang di kedua tangan
wayang. Satu lagi yang menjadi bagian penting dari wayang golek adalah pakaian
tradisional sesuai dengan tokoh aslinya. Untuk atasan, terbuat dari kain bludru dengan hiasan
monte berwarna emas atau perak. Lalu bawahannya, memakai kain batik.
KERAMIK

Nama kerajinan : Keramik


Asal daerah : Jawa Tengah
Jenis bahan : Tanah liat
Teknik pembuatan :
a. Teknik coil (lilit pilin): merupakan teknik pembuatan keramik dengan cara membuat
pilinan kecil seperti cacing.
b. Teknik tatap batu/pijat jari (pinch) :cara pembuatan keramik dengan membuat
bulatan tanah liat yang dipijit dari tengah.
c. Teknik slab (lempengan) : pembuatan keramik dengan cara membuat lempengan dari
tanah liat.
d. Teknik Putar : Teknik pembuatan keramik dengan menggunakan alat putar. Teknik
pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris
(bulat, silindris) dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering
dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional
biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar kaki (kick
wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk- bentuk
yang sama seperti gentong, guci dll.
e. Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang
banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan ukuran yang sama pula. Bahan
cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga,
cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini
digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat
rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dll
PATUNG

Nama kerajinan : Patung


Asal daerah : Bali
Jenis bahan : Batu atau kayu
Teknik pembuatan :
a) Teknik Cor
Cara pembuatan dengan teknik ini yaitu dengan membuat alat cetakan, setelah itu
cetakan tersebut dituangkan adonan didalamnya. Sehingga dapat tercipta bentuk yang
diinginkan. Yang digunakan alatnya untuk teknik ini adalah cetakan.
b) Teknik Assembling
Assembling berarti perakitan/merakit. Teknik ini dibuat dengan cara mengumpulkan
beberapa macam jenis material yang kemudian macam-macam material itu menjadi
komposisi dalam teknik ini.
c) Teknik Las
Cara menggunakan teknik ini yaitu dengan menggabungkan beberapa komponen
manjadi satu.
d) Teknik Butsir
Cara yang dilakukan pada teknik ini yaitu dengan mengurangi dan menambah bahan,
sehingga benda dapat terbentuk sesuai dengan yang kita inginkan.
e) Teknik Pahat
Cara yang digunakan dalam teknik ini yaitu dengan mengurangi bahan. Alat yang
digunakan dalam teknik ini yaitu pahat. Misalkan jika kita ingin membuat patung
yang berbahan batu dan kayu, maka alat yang akan kita gunakan adalah palu dan
pahat.
MANIK-MANIK

Nama kerajinan : Manik-manik


Asal daerah : Kalimantan Timur
Jenis bahan : Manik-manik
Teknik pembuatan :
Manik-manik sari suku dayak umumnya berwarna kontras atau terang seperti merah, kuning,
hijau, putih, dan hitam. karena memurut suku daya warna-warna terang ini dianggap sebagai
lambang keharmonisan. Bukan cuma membuat langsung. Jadi, manik-manik itu disusun
mengikuti pola atau bentuk yang dianggap suci dan membawa berkah. Cara membuatnya
sama saja seperti kerajinan manik-manik pada umumnya, yaitu menggunakan benang dan
jarum untuk menyusun manik-manik agar mrmbrntuk pola yang sudah ditentukan. Hanya
saja manik-manik suku dayak memiliki motif yang telah menjadi ciri khasnya.
KOPIAH RESAM

Nama kerajinan : Kopiah resam


Asal daerah : Kepulauan Bangka Belitung
Jenis bahan : Batang resam
Teknik pembuatan :
Diawali dengan proses pemisahan serat resam dari batangnya. Serat resam tersebut kemudian
diserut sesuai kebutuhan yaitu serat halus dan serat kasar. Kemudian serat resam direndam
dalam air lebih kurang tiga hari. Setelah direndam, bahan resam dikeringkan seperlunya.
Proses selanjutnya adalah penganyaman. Penganyaman pada umumnya dilakukan oleh ibu-
ibu rumah tangga dan remaja putri. Lamanya penganyaman sangat tergantung dari halus dan
kasarnya produk yang diinginkan. Biasanya sekitar 1 minggu hingga 3 bulan. Langkah
selanjutnya, kopiah resam yang sudah selesai dianyam dilakukan penyamakan dengan getah
pohon tertentu. Untuk hasil yang terbaik , penyamakan dilakukan berulang-ulang kali.
KAIN SONGKET

Nama kerajinan : Kain Songket


Asal daerah : Minangkabau, Sumatera Barat
Jenis bahan : Benang
Teknik pembuatan :
Pada langkah pertama benang-benang yg dapat jadikan kain basic di kaitkan ke paso.
Sesudah itu, benang-benang itu direnggangkan dengan alat yg dimaksud palapah. Pada kala
memasukkan benang-benang yg arahnya melintang, benang tagak direnggangkan lagi dengan
palapah. Sesudah itu, pengrajin menggerakkan karok dengan beranjak di antara tijak-panta
untuk memisahkan benang sedemikian rupa, maka kala benang pakan yg digulung pada
kasali yg ada dalam skoci atau turak mampu dimasukkan dengan enteng, baik dari arah kiri
ke kanan (melalui semua sektor karok) atau dari kanan ke kiri (dengan cara bergantian).
Benang yg posisinya melintang itu kala dirapatkan dengan karok yg bersuri dapat membuat
kain dasar. Variasi hias tenun dibuat dengan tehnik menenun yg di kenal dengan tehnik pakan
penambahan atau suplementary weft. Sehabis jalur benang makao itu di buat dengan
pancukie, jadi area untuk letakkan turak itu diperbesar dengan alat yg dimaksud palapah.
Sesudah itu, benang itu dirapatkan satu buat satu, maka membuat variasi hias yg di inginkan.
ANYAMAN KETAK

Nama kerajinan : Anyaman Ketak


Asal daerah : Lombok, Nusa Tenggara Barat
Jenis bahan : Ketak
Teknik pembuatan :
Setelah memperoleh alat dan bahan, ketak yang berbentuk seperti akar memanjang dibelah
menjadi beberapa bagian., kemudian dijemur dan dipecah-pecah sesuai kebutuhan. Lalu,
ketak diangkat dan dihaluskan untuk dapat dibentuk sesuai dengan desain yang diinginkan
seperti tas, tempat tisu, tudung saji, atau nampan. Lalu, buatlah suatu anyaman sesuai dengan
yang diinginkan. Usai dianyam, hasil kerajinan ketak tersebut dijemur selama 2 hingga 3 hari,
kemudian dioven dalam jangka waktu yang sama untuk mendapatkan warna alami alami
ketak itu sendiri. Langkah terakhir, yaitu dibersihkan dan diberi hiasan kain di bagian dalam
tas. Dan hasil anyaman siap dipasarkan.
TIKAR PANDAN

Nama kerajinan : Tikar Pandan


Asal daerah : Halmahera Utara, Maluku Utara
Jenis bahan : Daun Pandan Duri
Teknik pembuatan :
Daun pandan diolah dengan cara membuang duri-duri yang ada pada daun pandan itu.
Setelah itu, daun pandan harus direbus terlebih dahulu. Setelah daun pandan mengalami
proses perebusan, daun pandan harus dijemur agar diperoleh daun pandan yang lemas.
Setelah daun pandan itu lemas, barulah bisa diolah menjadi sebuah tikar dengan cara
dianyam. Untuk memberikan motif pada tikar yang dihasilkan, bisa ditambahkan pewarna
pada saat proses perebusan daun.
KAIN ULOS

Nama kerajinan : Kain Ulos


Asal daerah : Sumatera Utara
Jenis bahan : Benang
Teknik pembuatan :
Tahap pertama adalah pemintalan benang. Sebelumnya kapas “dibebe” untuk
mengembangkan dalam mempermudah pemintal membentuk keseragaman ukuran. Seorang
memintal dan seorang memutar sorha. Lalu masuk ke tahap gatik. Gatip dibuat sebelum
pewarnaan dilakukan. Benang yang dikehendaki tetap berwarna putih, diikat dengan bahan
pengikat terdiri dari serat atau daun serai. Tahap selanjutnya adalah pewarnaan. Benang
awalnya berwarna putih, dan untuk mendapatkan warna merah disebut “manubar”, untuk
mendapatkan warna hitam disebut “mansop”. Bahan pewarna ulos terbuat dari bahan daun-
daunan berbagai jenis yang dipermentasi agar menghasilkan warna yang dikehendaki disebut
“Itom”. Tahap selanjutnya adalah unggas. Unggas adalah proses pencerahan benang. Benang
ini diunggas untuk lebih memberikan kesan lebih cemerlang. Benang dilumuri dengan nasi
yang dilumerkan kemudian digosok dengan kuas bulat dari ijuk. Nasi yang dilumerkan itu
biasanya disebut “indahan ni bonang”. Benang yang sudah diunggas sifatnya agak kenyal dan
semakin terurai setelah dijemur dibawah sinar matahari terik. Benang yang sudah selesai
diunggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut “mangani”. Namun untuk
mempermudah mangani, benang sebelumnya “dihuhul” digulung dalam bentuk bola. Alat
yang dibutuhkan adalah “anian” yang terdiri dari sepotong balok kayu yang diatasnya
ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran ulos yang dikehendaki. Tahap terakhir adalah
tonun dan sirat. Tonun (tenun) adalah proses pembentukan benang yang sudah “diani”
menjadi sehelai ulos. Sedangkan sirat adalah hiasan pengikat rambu ulos. Biasanya dibentuk
dengan motif gorga.
UKIRAN KAYU

Nama kerajinan : Ukiran Kayu


Asal daerah : Papua
Jenis bahan : Kayu
Teknik pembuatan :
Ukiran diawali dengan memahat sepotong kayu untuk dibentuk. Kemudian dilanjutkan
dengan pewarnaan. Dalam pemilihan warna sendiri suku Asmat memiliki persepsi sendiri,
dimana warna merah melambangkan daging, putih berarti tulang, sedangkan hitam
melambangkan warna kulit dari suku Asmat. Ukiran kayu Suku Asmat sangat menarik dunia
karena motifnya yang beragam serta sarat makna budaya. Misalnya, ukiran yang
menggambarkan wajah nenek moyang, binatang-binatang yang dekat dengan kehidupan
masyarakat seperti kasuari dan buaya serta motif-motif antropomorfik.
Kliping Kerajinan Nusantara
Tugas Akhir Prakarya Kelas XI Semester 1

Disusun oleh:

Dheti Oktalia
Jasmine Aisya Putri
Kelas: XI MIPA B