Anda di halaman 1dari 26

BORANG PORTOFOLIO DOKTER INTERNSIP

RS BHAYANGKARA TULUNGAGUNG
KASUS ILMU PENYAKIT PENYAKIT DALAM

Topik : Infeksi Saluran Kemih (ISK)


DPJP :
Tanggal MRS : 24 Juli 2018
dr. Arie Kusumadewi,SpPD
Pendamping :
Tanggal Periksa : 27 Juli 2018
dr. Liva Anggraeni
Presenter :
Tanggal Presentasi :
dr. Pradinta Bayu

Tempat Presentasi : RS Bhayangkara Tulungagung


Objektif Presentasi : Keilmuan, Masalah, Diagnostik

□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja ■ Dewasa □ Lansia □ Bumil

□ Deskripsi : Seorang Ibu, 41 tahun diantar dengan keluhan Demam


Memaparkan kasus yang telah ditangani di IGD dan Ruang Rawat Inap.
□ Tujuan : Mengumpulkan referensi ilmiah untuk menghadapi kasus yang didapatkan.
Menyelesaikan kasus yang dihadapi dengan solusi yang terbaik.
Bahan
■ Tinjauan Pustaka □ Riset □ Kasus □ Audit
Bahasan :
Cara
■ Presentasi dan Diskusi □ Diskusi □ E-mail □ Pos
Membahas :
Data Pasien : Ny. S/ Perempuan / 41 tahun No. Regitrasi : 457410
Nama RS : Telepon : Terdaftar sejak :
RS Bhayangkara Tulungagung - 24 Juli 2018

1
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis:

- Pasien datang ke IGD RS Bhayangkara dengan keluhan demam.

2. Riwayat Pengobatan :

- Tidak ada.

3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :

- DM.

4. Riwayat Keluarga :

- Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit yang sama, Riwayat DM (+).

5. Riwayat pekerjaan:

- Ibu rumah tangga

6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :

- Pasien merupakan seorang Ibu yang tinggal bersama keluarganya

Daftar Pustaka :
- Anthony Fauci, Dennis Kasper, Stephen Hauser, Dan Longo, J. Jameson, Joseph Loscalzo
Harrison's Principles of Internal Medicine, 19th Edition, 19th edn., : Mcgraw-hill, 2014
- Meyrier,A.Urinary Tract Infection.
Available from: http://www.kidneyatlas.org/book2/adk2_07.pdf (diakses 2 Agustus
2018)
- Nguyen, H.T. Bacterial Infections of The Genitourinary Tract. In Tanagho E. & McAninch
J.W. ed. Smith’s General urology 17th edition. Newyork: Mc Graw Hill Medical Publishing
Division. 2008: 193-195

2
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis ISK.

2. Penatalaksanaan ISK.

3
BAB I
PENDAHULUAN

Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering
ditemukan dalam masyarakat walaupun perkembangan teknologi dan pengobatan
di bidang kesehatan seperti penggunaan antiboitk sudah cukup maju dan beredar
luas di masyarakat. Secara epidemiologis, hampir 25-35% perempuan dewasa
pernah mengalami ISK selama hidupnya. Di Amerika Serikat, terdapat >7 juta
kunjungan pasien dengan ISK di tempat praktik umum3.
Sebagian besar kejadian infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri
Escherichia coli yang melakukan invasi secara asending ke saluran kemih dan
menimbulkan reaksi peradangan. Kejadian infeksi saluran kemih dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, kelainan pada saluran kemih,
kateterisasi, penyakit diabetes, kehamilan, dan lain-lain.. Ilmu kesehatan modern
saat ini telah memudahkan diagnosis dan terapi infeksi saluran kemih sehingga
dengan deteksi dini faktor predisposisi dan pengobatan yang adekuat dengan
antibiotik yang sesuai maka pasien dapat sembuh sempurna tanpa komplikasi3.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Infeksi saluran kemih adalah penyakit yang dapat disertai dengan gejala
ataupun tidak. Dengan demikian pengertian Infeksi saluran kemih mencakup
asymptomatic bacteriuria (ASB), cystitis, prostatitis, dan pyelonephritis1.
Pada Infeksi saluran kemih dan ASB, keduanya sama sama dapat
ditemukan bakteri, Akan tetapi pada ASB terjadi tanpa gejala dan biasanya tidak
memerlukan pengobatan, sedangkan ISK terjadi dengan gejala dan memerlukan
terapi antimikroba1.
2.2 Epidemiologi
Infeksi saluran kemih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki,
terkecuali pada bayi dan lanjut usia. Pada neonatal ISK lebih sering terjadi pada
laki-laki, hal ini dikarenakan pada bayi laki-laki lebih sering terjadi anomali
kongenital saluran kemih. Setelah usia 50 tahun, obstruksi dari pembesaran
prostat menjadi hal yang umum terjadi pada laki-laki, sehingga menyebabkan
insiden terjadinya ISK tinggi1.
Pada usia 1 – 50 tahun, ISK dan recurrent ISK lebih banyak terjadi pada
Wanita. Sekitar 50-80% wanita pernah mengalami ISK, dimana resiko ISK
meningkat dua sampai tiga kali lipat pada pasien Diabetes. Riwayat Diabetes yang
lama dan penggunaan insulin daripada obat oral juga meningkatkan resiko
tejadinya1.
Di Amerika Serikat, terdapat >7 juta kunjungan pasien dengan ISK di
tempat praktik umum. Sebagian besar kasus ISK terjadi pada perempuan muda
yang masih aktif secara seksual dan jarang pada laki-laki <50 tahun. Insiden ISK
pada laki-laki yang belum disirkumsisi lebih tinggi (1,12%) dibandingkan pada
laki-laki yang sudah disirkumsisi (0,11%)3.

5
2.3 Etiologi
Uropathogens yang dapat menyebabkan ISK sangat bervariasi, tetapi
biasanya disebabkan oleh bakteri enterik gram negatif yang bermigrasi ke saluran
kemih. Pada Cystitis tanpa komplikasi di Amerika Serikat 75-90% disebabkan
oleh E.Coli, 5-15% disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus, 5-10%
disebabkan oleh Klebsiella, Proteus, Enterococcus, dan Citrobacter.
Urophatogens yang menyebabkan ISK tanpa komplikasi memiliki kesamaan
dengan Amerika, dimana lebih di dominasi oleh E.Coli. Pada ISK dengan
komplikasi, E.Coli tetap menjadi organisme yang banyak ditemukan, tetapi
bakteri gram negatif lainnya seperti Pseudomonas aeruginosa, dan Klebseilla,
Proteus, Citrobacter, Acinetobacter, dan Morganella Species, juga sering
ditemukan. Bakteri Gram Positif seperti enterococci dan Staphylococcus aureus)
dan jamur juga merupakan penyebab yang penting pada ISK dengan komplikasi.
Data etilogi dan resisten bakteri secara umum didapatkan dari laboratorium survey,
dimana hanya didapatkan ketika sampel urine dikirimkan untuk dilakukan kultur
bakteri1.
Survey yang didapatkan di Amerika Utara dan Eropa pada wanita dengan
cystitis akut memperlihatkan resistance rates > 20% untuk trimethropim –
sulfamethoxazole dan ciprofoloxacin di beberapa daerah. Dikarenakan data
tingkat resistensi yang berbeda beda, sangat penting untuk menggunakan data
terbaru dalam memilih rencana terapi ISK1.
2.4 Pathogenesis
Traktus urinary dapat dilihat sebagai satu kesatuan anatomis, dari uretra
sampai ke ginjal. Pada kebanyakan kasus ISK, infeksi dimulai dari urethra dan
pada akhirnya naik sampai ke Ginjal. Perjalanan infeksi dari ureter sampai ke
ginjal adalah jalan paling sering yang menyebabkan terjadinya infeksi pada
parenkim ginjal. Interaksi antara host, pathogen dan faktor lingkungan akan
menentukan apakah invansi ke jaringan dan gejala infeksi akan timbul. Sebagai
contoh, bakteri sering masuk ke kandung kemih setelah hubungan seksual, tetapi
mekanisme BAK normal dan pertahanan host akan mengeliminasi bakteri yang
masuk. Benda asing apapun didalam saluran kemih, sepeti kateter urine dan batu

6
dapat mengkibatkan lebam pada permukaan dimana mendukung untuk kolonisasi
bakteri. Proses abnormal pengosongan kandung kemih dan atau dengan sisa urine
yang signifikan akan meningkatkan terjadinya ISK1.
Bakteri juga dapat masuk ke saluran kemih melalui pembuluh darah.
Didapatkan persebaran bakteri melalui pembuluh darah adalah <2% dari seluruh
kejadian ISK yang terdokumentasi dan biasanya merupakan hasil dari infeksi
Salmonella dan S.aureus. Penyebaran bakteri melalui pembuluh darah dapat
menyebabkan abses fokal atau area pyelonefritis pada ginjal dan akan didapatkan
hasil positif pada kultur urine1.

Gbr1. Segitiga hubugan antara organisme, host dan lingkungan


Faktor Lingkungan
Pada wanita, ekologi vagina adalah faktor lingungan yang penting yang
mempengaruhi resiko tejadinya ISK. Kolonisasi pada introitus vagina dan area
periurethral oleh organisme usus ( E.Coli) adalah tahap awal yang penting pada
pathogenesis ISK. Hubungan seksual diasosiasikan dengan meningkatnya resiko
kolonisasi vagina oleh E.Coli dan dengan demikian meningkatkan resiko
terjadinya ISK. Nonoxynol-9 pada spermisida merupakan racun untuk flora
normal pada vagina, sehingga diasosiasikan dengan meningkatnya resiko
kolonisasi E.Coli di vagina dan bacteriuria. Pada wanita postmenopause, flora
normal vagina lactobacilli digantikan oleh kolonisasi bakteri gram negatif1.

7
Gbr2. Area Periurethral
Kondisi apapun yang dapat meyebabkan urinary statis atau obstruksi
merupakan presdiposisi individu ke ISK. Benda asing seperti batu atau kateter
urine dapat menyebabkan kolonisasi bakteri dan timbulnya formasi biofilm yang
presistent. Refluks vesicoureteral, obstruksi ureter sekunder akibat hipetrofi
prostat, neurogenic bladder, dan operasi pengalihan saluran kemih meyebabkan
lingkungan yang mendukung terjadinya ISK. Refluks vesicoureteral merupakan
faktor yang penting dalam pathogenesis terjadinya pyelonefritis pada wanita hamil.
Faktor anatomis, secara spesifik jarak antara uretra dengan anus dapat
dipertimbangkan menjadi alasan utama kenapa ISK lebih sering terjadi pada
wanita usia muda daripada laki laki usia muda1.

Gbr3. Biofilm

8
Faktor Host
Latar belakang genetik dari host mempengaruhi kerentanan individu
terhadap terjadinya ISK berulang. Wanita dengan ISK berulang cenderung
mengalami ISK pertama dibawah usia 15 tahun dan memiliki Ibu dengan riwayat
ISK. Vagina dan sel mukosa periurethral pada wanita dengan rekuren ISK
memiliki tiga kali lebih banyak bakteri urophatogenic daripada sel mukosa wanita
tanpa infeksi berulang. Epitel sel dari wanita yang merupakan non-sektretor
antigen golongan darah tertentu mungkin memiliki reseptor tertentu dimana dapat
diikat oleh E.Coli, sehingga memudahkan kolonisasi dan invasi1.
Faktor Microbial
Anatomi normal pada saluran kemih memiliki pertahanan yang lebih kuat
terhadap infeksi daripada saluran kemih yang terganggu. Jadi, strain E.Coli yang
menyebabkan infeksi simptomatik invasif dari saluran kemih pada host yang
normal sering mengekspresikan faktor virulensi genetik, termasuk permukaan
adhesins yang memediasi pengikatan terhadap reseptor spesifik pada permukaan
sel uroepithelial. Adhesin yang paling banyak di pelajari adalah P-Fimbriae,
struktur protein mirip rambut yang berinteraksi dengan reseptor spesifik pada sel-
sel epitel ginjal1.
Adhesin lain adalah pilus (fimbria) tipe 1.dimana semua strains E.Coli
memiliki tetapi tidak semua strains E.Coli mengekspresikan. Pili tipe 1 memiliki
peran penting dalam proses infeksi E.Coli pada kandung kemih. Pili tipe 1 ini
memediasi pengikatan ke uroplankins di permukaan luminal pada sel epitel
kandung kemih1.

Gbr4. P-Fimbria pada E.Coli.

9
2.5 Diagnosis
2.5.1 Manifestasi Klinis
 ASB ( Asymptomatic Bacteriuria )
Diagnosis ASB dapat dipetimbangkan hanya ketika pasien tidak
memiliki gejala lokal ataupun sistemik yang berasal dari saluran kemih.
Presentasi klinis biasanya pada pasien yang sedang menjalani screening kultur
urine dengan alasan yang tidak berhubungan dengan saluran genitourinary dan
secara tidak sengaja ditemukan bacteriuria1.
 Cystitis
Gejala umum pada cytitis adalah dysuria, urinary frequency, dan
urgency. Nocturia, ketidaknyamanan pada daerah suprapubic dan gross
hematuria juga sering didapatkan. Nyeri unilateral pada punggung atau
panggul belakang umumnya merupakan indikasi infeksi pada saluran kemih
bagian atas. Demam juga dapat diindikasikan sebagai infeksi invasif di ginjal
ataupun prostat1.
 Pyelonefritis
Gejala Pyelonefritis sedang adalah demam yang tidak terlalu tinggi
dengan atau tanpa nyeri punggung belakang atau nyeri costovertebral-angel,
dimana Pyelonefritis berat dapat dimanifestasikan dengan demam tinggi,
menggigil, muntah, nyeri punggung, dan atau nyeri pinggang. Gejala yang
teradi biasanya dengan onset akut, dan tidak disertai dengan gejala Cytitis.
Demam pada Pyelonefritis biasanya menunjukkan pola peningkatan yang
tajam dan pola nya terlihat sepeti “picket-fence” dan biasanya membaik
setelah pengobatan selama 72 jam1.
Pada 20-30% kasus pyelonefritis biasanya berkembang menjadi
bacteremia. Pada pasien diabetes dapat disertai dengan uropathy obstruktif
yang dapat dihubungkan dengan papillary nekrosis akut, dimana papillae yang
terkelupas akan menimbulkan obstruksi di ureter. Xanthogranulomatosus
pyelonefritis dapat terjadi akibat obstruksi saluran kemih yang kronik (sering

10
terjadi karena staghorn calculi), bersama dengan infeksi kronis, dapat
mengakibatkan suppurative destruction dari jaringan ginjal.1

Gbr5. Xhantogranulomatous pyelonefritis


 Prostatitis
Prostatitis meliputi gangguan infeksi dan non infeksi pada kelenjar
prostat. Infeksi pada kelenjar prostat dapat terjadi secara akut ataupun kronik,
hampir selalu disebabkan oleh bakteri, dan lebih sering terjadi daripada
noninfectious entity chronic pelvic pain syndrome ( sebelumnya lebih dikenal
sebagai Prostatitis kronik ). Pada prostatitis akut sering didapatkan gejala
dysuria, nyeri di prostatic pelvic atau perineum, demam, menggigil. Prostatitis
Kronik sering didapatkan adanya episode cytitis berulang. Laki-laki yang
mengalami cytitis berulang sebaiknya dievaluasi dengan memfokuskan ke
prostat1.
 Complicated ISK
Complicated ISK muncul sebagai episode simtomatik cytitis atau
pielonefritis pada pria atau wanita dengan predisposisi anatomi untuk infeksi,
dengan benda asing di saluran kemih, atau dengan faktor-faktor presdiposisi
yang dapat menunda respon terapi.1

11
2.5.2 Pemeriksaan Penunjang Diagnosis
 Analisis urin rutin
Pemeriksaan analisa urin rutin terdiri dari pH urin, proteinuria
(albuminuria), dan pemeriksaan mikroskopik urin.Urin normal mempunyai pH
bervariasi antara 4,3-8,0. Bila bahan urin masih segar dan pH >8 (alkalis)
selalu menunjukkan adanya infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan
mikroorganisme pemecah urea (ureasplitting organism). Albuminuria hanya
ditemukan ISK. Sifatnya ringan dan kurang dari 1 gram per 24 jam1.
Pemeriksaan mikroskopik urin terdiri dari sedimen urin tanpa putar
(100 x) dan sedimen urin dengan putar 2500 x/menit selama 5 menit.
Pemeriksaan mikroskopik dengan pembesaran 400x ditemukan bakteriuria
>105 CFU per ml. Lekosituria (piuria) 10/LPB hanya ditemukan pada 60-85%
dari pasien-pasien dengan bakteriuria bermakna (CFU per ml >105). Kadang-
kadang masih ditemukan 25% pasien tanpa bakteriuria. Hanya 40% pasien-
pasien dengan piuria mempunyai bakteriuria dengan CFU per ml >105.
Analisa ini menunjukkan bahwa piuria mempunyai nilai lemah untuk prediksi
ISK1.
Tes dipstick pada piuria untuk deteksi sel darah putih. Sensitivitas
100% untuk >50 leukosit per HPF, 90% untuk 21-50 leukosit, 60% untuk 12-
20 leukosit, 44 % untuk 6-12 leukosit. Selain itu pada pemeriksaan urin yang
tidak disentrifuge dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik secara langsung
untuk melihat bakteri gram negatif dan gram positif. Sensitivitas sebesar 85
% dan spesifisitas sebesar 60 % untuk 1 PMN atau mikroorganisme per HPF.
Namun pemeriksaan ini juga dapat mendapatkan hasil positif palsu sebesar
10%1.
 Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi yaitu dengan Colony Forming Unit (CFU)
ml urin. Indikasi CFU per ml antara lain pasien-pasien dengan gejala ISK,
tindak lanjut selama pemberian antimikroba untuk ISK, pasca kateterisasi, uji

12
saring bakteriuria asimtomatik selama kehamilan, dan instrumentasi. Bahan
contoh urin harus dibiakan lurang dari 2 jam pada suhu kamar atau disimpan
pada lemari pendingin. Bahan contoh urin dapat berupa urin tengah kencing
(UTK) atau aspirasi suprapubik selektif1.
 Renal Imaging Procedures
Renal imaging procedures digunakan untuk mengidentifikasi faktor
predisposisi ISK, yang biasa digunakan adalah USG, foto polos abdomen,
pielografi intravena, micturating cystogram dan isotop scanning. Investigasi
lanjutan tidak boleh rutin tetapi harus sesuai indikasi antara lain ISK kambuh,
pasien laki-laki, gejala urologik (kolik ginjal, piuria, hematuria), hematuria
persisten, mikroorganisme jarang (Pseudomonas spp dan Proteus spp), serta
ISK berulang dengan interval ≤ 6 minggu1.

13
Gbr6. Flowchart diagnosis ISK

2.6 Terapi

Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut (PNA) memerlukan rawat


inap untuk memelihara status hidrasi dan terapi antibiotik parenteral minimal 48
jam. Indikasi rawat inap pada PNA antara lain kegagalan dalam mempertahankan
hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotik oral, pasien sakit berat, kegagalan
terapi antibiotik saat rawat jalan, diperlukan investigasi lanjutan, faktor
predisposisi ISK berkomplikasi, serta komorbiditas seperti kehamilan, diabetes
mellitus dan usia lanjut1.
The Infectious Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga
alternative terapi antibiotic IV sebagai terapi awal selama 48-72 jam, sebelum

14
adanya hasil kepekaan biakan yakni fluorokuinolon, amiglikosida dengan atau
tanpa ampisilin dan sefalosporin spektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida1.
Pada sistitis akut, antibiotika pilihan pertama antara lain nitrofurantoin,
ampisilin, penisilin G, asam nalidiksik dan tetrasiklin. Golongan sulfonamid
cukup efektif tetapi tidak ekspansif. Pada sistitis kronik dapat diberikan
nitrofurantoin dan sulfonamid sebagai pengobatan permulaan sebelum diketahui
hasil bakteriogram2.
2.7 Komplikasi
Komplikasi ISK bergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana
(uncomplicated) dan ISK tipe berkomplikasi (complicated)2.
ISK sederhana (uncomplicated)
ISK akut tipe sederhana yaitu non-obstruksi dan bukan pada perempuan
hamil pada umumnya merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak
menyebablan akibat lanjut jangka lama2.
ISK tipe berkomplikasi (complicated)
ISK tipe berkomplikasi biasanya terjadi pada perempuan hamil dan pasien
dengan diabetes mellitus. Selain itu basiluria asimtomatik (BAS) merupakan
risiko untuk pielonefritis diikuti penurun laju filtrasi glomerulus (LFG)2.
Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait spesies
kandida dan infeksi gram negatif lainnya dapat dijumpai pada pasien DM.
Pielonefritis emfisematosa disebabkan oleh MO pembentuk gas seperti E.coli,
Candida spp, dan klostridium tidak jarang dijumpai pada pasien DM.
Pembentukan gas sangant intensif pada parenkim ginjal dan jaringan nekrosis
disertai hematom yang luas. Pielonefritis emfisematosa sering disertai syok septik
dan nefropati akut vasomotor2.
Abses perinefritik merupakan komplikasi ISK pada pasien DM (47%),
nefrolitiasis (41%), dan obstruksi ureter (20%)3.
2.8 Prognosis
Prognosis pasien dengan pielonefritis akut, pada umumnya baik dengan
penyembuhan 100% secara klinik maupun bakteriologi bila terapi antibiotika yang

15
diberikan sesuai. Bila terdapat faktor predisposisi yang tidak diketahui atau sulit
dikoreksi maka 40% pasien PNA dapat menjadi kronik atau PNK. Pada pasien
Pielonefritis kronik (PNK) yang didiagnosis terlambat dan kedua ginjal telah
mengisut, pengobatan konservatif hanya semata-mata untuk mempertahankan faal
jaringan ginjal yang masih utuh. Dialisis dan transplantasi dapat merupakan
pilihan utama2.
Prognosis sistitis akut pada umumnya baik dan dapat sembuh sempurna,
kecuali bila terdapat faktor-faktor predisposisi yang lolos dari pengamatan. Bila
terdapat infeksi yang sering kambuh, harus dicari faktor-faktor predisposisi.
Prognosis sistitis kronik baik bila diberikan antibiotik yang intensif dan tepat2.

16
BAB III
KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. S
Umur : 41 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tunggurejo RT1/RW2 Tulungagung
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SD
Status : Menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Nomor Rekam Medik : 457410
3.2 Anamnesis
(auto-hetero anamnesa)
3.2.1 Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan utama : Panas Menggigil
Pasien datang dengan keluhan panas menggigil sejak kurang lebih 8 hari yang lalu,
panas dirasakan naik turun, dan muncul mendadak tinggi. Pasien juga
mengeluhkan BAK lebih dari 15 kali sehari, BAK terasa nyeri dan panas, selain
keluhan diatas pasien juga mengeluhkan lemas (+), mual (+), muntah (+), nyeri
perut (+) terutama disebelah kanan. Pasien belum berobat ke dokter. Pasien tidak
sedang haid, haid teratur
3.2.2 Riwayat penyakit dahulu
kencing manis (+).
3.2.3 Riwayat sosial
pasien tidak bekerja.
3.2.4 Riwayat keluarga
tidak ada yang menderita atau mengeluhkan seperti keluhan pasien. Riwayat
hipertensi tidak ada, riwayat DM (+).

17
3.3 Pemeriksaan fisik (IGD 24 july 2018)
Keadaan Umum:
 Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos mentis (GCS: 456)
 Tensi : lengan kiri 70/50 mmHg posisi tidur
 Nadi : 120 x/menit, kuat reguler
 Pernafasan : 32 x/menit
 Suhu badan : axilla : 38,5 ° C
Kepala : konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-
Leher : pembesaran KGB (-)
Jantung : iktus tidak terlihat, teraba di ICS V 2 cm lateral MCL S
Batas jantung kiri sejajar iktus, batas jantung kanan sejajar sternal line
kanan
S1 dan S2 tunggal
Paru : simetris, perkusi D=S sonor
Rh -/- Wh -/-
Abdomen : flat, soefl, shifting dullness (-), nyeri tekan (+) di regio iliaka dextra,
bising usus (+) normal, liver span 9 cm, traube’s space tympani
Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-)
3.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hematologi (24-07-2018)
Lab Nilai Nilai Rujukan
Hemoglobin 12,6 g/dL 11,0 – 16,5 g/dL
Eritrosit 4,65 106 /uL 4,0-5,0 106 /uL
Lekosit 20,8 103 /uL 4.1 – 10.3 103 /uL
Hematokrit 37.3 % 34 – 50 %
Trombosit 267.000 /uL 146.000 – 424.000 u/L
MCV 80,2 fL 80-97 Fl
MCH 27.3 pg 26,5 – 33,5 pg
MCHC 34,0 g/dL 32 – 36 g/dL

18
Eosinophil 0,3 % 0–6%
Basophil 7,3 % 0–2%
Neutrophil 79,6 % 50 – 70 %
Limfosit 5,7 % 20 – 40 %
Monosit 7,1 % 0–9%

Pemeriksaan Kimia darah (24-07-2018)


GDS 316 mg/dL
Kolesterol total 156 mg/dL < 200 mg/dL
Trigliserida 354 mg/dL < 150 mg/dL
HDL 16 mg/dL > 50 mg/dL
LDL 70 mg/dL <
Ureum 35,8 mg/dL 20 – 40 mg/dL
Kreatinin 0,73 mg/dL 0.6-1.1 mg/dL

Pemeriksaan Imuni-Serologi (24-07-2018)


Salmonella Typhi O +1/320 Negatif
Salmonella Typhi H +1/160 Negatif
Salmonella Paratyphi A +1/160 Negatif
Salmonella Paratyphi B +1/160 Negatif

3.5 DIAGNOSA SEMENTARA


Observasi Febris + Abdominal Pain + DM + Susp Sepsis + Susp Pyelonefritis

3.6 PENATALAKSANAAN UGD (24 Juli 2018)


- IVFD : Rehidrasi Nacl 500cc lanjut 0.9% 20 t/m.
- Diet : Biasa.
- Mm :
o Inj. Anbacim 2x1 (IV).
o Inj. Sanmol Infus 2x1gr (IV).
o Inj. Ondancentron 3x1 (IV)

19
CATATAN PERKEMBANGAN HARIAN

Tanggal/Hari Catatan dan Instuksi


Perawatan
25/07/2018 S/
Nyeri perut (+) kanan bawah, tidak BAB sejak kemarin, BAK lancar
demam naik turun
O/
TD : 110/80 mmHg
FN : 86 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 37,5 oC
GCS : E4 M6 V5
Mata : CP (-/-), SI (-/-), Pupil isokor (+/+), 3 mm / 3 mm, RCL (+/+),
RCTL (+/+).
Thorak
Cor : BJ I dan II Reguler, Gallop (-), Murmur (-).
Pulmo : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-),Wheezing (-/-).
Abdomen
Mendatar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (+) Iliaka dextra,
nyeri ketok (-), timpani.
Ekstrimitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, motorik superior 5555 / 5555, motorik
inferior 5555 / 5555.

Assesment Sepis + Typhoid Fever


Planning - IVFD : Nacl 0.9% 20 t/m.
- Diet : Biasa.
- Mm :
o Inj. Anbacim 2x1 (IV).

20
o Inj. Omeprazole 1x1 (IV).
o Inj. Ondancentrone 3x4mg (IV)
o Inj. Santagesic 3x1 (IV)
o Paracetamol Tablet 3x500mg (PO)

Pemeriksaan Urinalisa (25-07-2018)


BD 1.015 1010-1030mmol/L
Ph 6.0 5.0-7.0 mmol/L
Keton - / NEG (-) negative
Protein - / NEG (-) negative
Urobilin Normal Normal
Reduksi + / POS (-) negative
Bilirubin - (-) negative
Sedimen
Eritrosit 10 - 12 /LP (-) negative
Leukosit + TTH / LP (-) negative
Epitel CEL3-4/LP REN0- (-) negative
1/LP
Kristal
Ca. Oxalate (-) / NEG (-) negative
Triple Phospate (-) / NEG (-) negative
Amorphe Urate (-) / NEG (-) negative
Uric Acid (-) / NEG (-) negative
Pemeriksaan Kehamilan
Pregnosticon Planotest (-) negative

Pemeriksaan Kimia darah (25-07-2018)


GDS HI 80-160 mg/dl
Ureum 54.0 20-40 mg/dl
Creatinin 1.90 0,5-0,9 mg/dl

21
SGOT 15 <37 u/l
SGPT 13 <43 u/l

Tanggal/Hari Catatan dan Instuksi


Perawatan
26/07/2018 S/
Demam (-), Pusing (-), Muntah (-), Nyeri Perut (-)
O/
TD : 100/70 mmHg
FN : 90 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36 oC
GCS : E4 M6 V5
Mata : CP (-/-), SI (-/-), Pupil isokor (+/+), 3 mm / 3 mm, RCL (+/+),
RCTL (+/+).
Thorak
Cor : BJ I dan II Reguler, Gallop (-), Murmur (-).
Pulmo : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-),Wheezing (-/-).
Abdomen
Mendatar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), nyeri ketok
(-), timpani.
Ekstrimitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, motorik superior 5555 / 5555, motorik
inferior 5555 / 5555.

Assesment DM + ISK + Sepsis + Typhoid Fever


Planning - IVFD : Nacl 0.9% 20 t/m.
- Diet : Biasa.
- Mm :
o Inj. Anbacim 2x1 (IV).

22
o Inj. Omeprazole 1x1 (IV).
o Inj. Ondancentrone 3x4mg (IV)
o Inj. Santagesic 3x1 (IV)
o Paracetamol Tablet 3x500mg (PO)
o Novorapid 3x10 Unit

Pemeriksaan Kimia darah (26-07-2018)


GDS 289 80-160 mg/dl
Glukosa 2 jam PP 325 110-160 mg/dl
Albumin 3.82 3.8-4,4 g/d
Elektrolit
Natrium 142.11 135-145 mmol/L
Kalium 4.53 3.7-5.3 mmol/L
Chlorida 89.61 98-109 mmol/L
Calsium ion 1.29 1.05-1.35 mmol/L
Calsium Total 2.58 1.05 – 1.35 mmol/L

Pemeriksaan Hematologi (26-07-2018)


Lab Nilai Nilai Rujukan
Hemoglobin 12,3 g/dL 11,0 – 16,5 g/dL
Eritrosit 4,49 106 /uL 4,0-5,0 106 /uL
Lekosit 12.8 103 /uL 4.1 – 10.3 103 /uL
Hematokrit 37.3 % 34 – 50 %
Trombosit 296.000 /uL 146.000 – 424.000 u/L
MCV 83,5 fL 80-97 Fl
MCH 27.4 pg 26,5 – 33,5 pg
MCHC 32,8 g/dL 32 – 36 g/dL
Eosinophil 1,1 % 0–6%
Basophil 0,6 % 0–2%
Neutrophil 76,9 % 50 – 70 %

23
Limfosit 18,6 % 20 – 40 %
Monosit 2,8 % 0–9%

Tanggal/Hari Catatan dan Instuksi


Perawatan
27/07/2018 S/
Demam (-), Pusing (-), Muntah (-), Nyeri Perut (-), Nyeri Kepala (+)
O/
TD : 110/70 mmHg
FN : 90 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36,5 oC
GCS : E4 M6 V5
Mata : CP (-/-), SI (-/-), Pupil isokor (+/+), 3 mm / 3 mm, RCL (+/+),
RCTL (+/+).
Thorak
Cor : BJ I dan II Reguler, Gallop (-), Murmur (-).
Pulmo : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-),Wheezing (-/-).
Abdomen
Mendatar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), nyeri ketok
(-), timpani.
Ekstrimitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, motorik superior 5555 / 5555, motorik
inferior 5555 / 5555.

Assesment DM + ISK + Sepsis + Typhoid Fever + Chepalgia


Planning - IVFD : Nacl 0.9% 20 t/m.
- Diet : Biasa.
- Mm :
o Inj. Anbacim 2x1 (IV).

24
o Inj. Omeprazole 1x1 (IV).
o Inj. Ondancentrone 3x4mg (IV)
o Inj. Ketorolac 3x15 mg
o Paracetamol Tablet 3x500mg (PO)
o Novorapid 3x14 Unit

25
BAB III
DAFTAR PUSTAKA
1. Anthony Fauci, Dennis Kasper, Stephen Hauser, Dan Longo, J. Jameson,
Joseph Loscalzo Harrison's Principles of Internal Medicine, 19th Edition,
19th edn., : Mcgraw-hill, 2014
2. Meyrier,A.Urinary Tract Infection.
Available from: http://www.kidneyatlas.org/book2/adk2_07.pdf (diakses 2
Agustus 2018)
3. Nguyen, H.T. Bacterial Infections of The Genitourinary Tract. In Tanagho E. &
McAninch J.W. ed. Smith’s General urology 17th edition. Newyork: Mc Graw
Hill Medical Publishing Division. 2008: 193-195

26