Anda di halaman 1dari 13

ARTIKEL PENELITIAN

Hubungan Antara Kadar Debu, Masa Kerja, Penggunaan Masker Dan


Merokok Dengan Kejadian Pneumokoniosis Pada Pekerja Pengumpul
Semen Di Unit Pengantongan Semen PT. Tonasa Line Kota Bitung

Relationship Between Level Of Dust, Work Period, Use Of Mask And


Smoking With Pneumokoniosis Occurrence On Cement Collector Workers At
Cement Packing Unit PT. Tonasa Line Bitung

Martin L. Simanjuntak 1) Odi R. Pinontoan 2) Jane M. Pangemanan 2)


1)
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
2)
Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstrak Abstract

Menurut International Labour Organization According to the International Labour


(ILO), suatu kelainan yang terjadi akibat Organization (ILO), a disorder that occurs due to
penumpukan debu dalam paru yang menyebabkan accumulation of dust in the lungs that causes the
reaksi jaringan terhadap debu tersebut dikenal tissue reaction to the dust known as
dengan pneumokoniosis. Ada beberapa faktor yang pneumoconiosis. There are several factors that
mempengaruhi saluran pernapasan dan gangguan affect the respiratory tract and impaired pulmonary
fungsi paru. Faktor-faktor yang mempengaruhi function. Factors that affect the respiratory tract
saluran pernapasan dan gangguan fungsi paru and lung function impairment, especially from the
khususnya dari aspek tenaga kerja dapat berasal aspect of workers may come from within human
dari dalam diri manusia (faktor internal) dan dari beings (internal factors) and from beyond the
luar manusia (faktor eksternal). Faktor internal human (external factors). Internal factors include
meliputi sistem pertahanan paru baik secara the lung's defense system both anatomically and
anatomis maupun fisiologis, umur, jenis kelamin, physiologically, age, gender, medical history that
riwayat penyakit yang pernah diderita, status gizi ever suffered, nutrition and individual
dan kerentanan individu. Faktor eksternal meliputi susceptibility. External factors include employment
riwayat pekerjaan, kebiasaan merokok, kebiasaan history, smoking habits, exercise habits, use of
olahraga, penggunaan alat pelindung pernapasan, respiratory protective equipment, environment,
lingkungan, paparan debu, dan masa kerja. exposure to dust, and work period. The study was
Penelitian dilakukan pada Februari sampai Maret conducted in February and March 2015. The
2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh population in this study were all cement collector
pekerja pengumpul semen di Unit Pengantongan workers at cement packing unit PT. Tonasa Line
Semen PT. Tonasa Line Kota Bitung. Sampel Bitung. The sample in this study was the total
dalam penelitian ini adalah total populasi, yaitu population, which amounted to 38 workers. Data
berjumlah 38 pekerja. Data diperoleh dari hasil obtained from the measurement results Personal
pengukuran Personal Dust Sampler (PDS), Dust Sampler (PDS), questionnaires, and chest X-
kuesioner, dan pemeriksaan foto toraks pekerja. ray examination of workers. The data is processed
Data diolah melalui tahapan editing, coding, through the stages of editing, coding, processing
processing dan cleaning serta analisis data and cleaning as well as data analysis of univariate,
univariat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis bivariate and multivariate. Bivariate analysis
bivariat menunjukkan bahwa 3 dari 4 variabel yang showed that 3 of the 4 variables studied related to
diteliti berhubungan dengan kejadian the incidence of pneumoconiosis, which is variable
pneumokoniosis, yaitu variabel kadar debu, masa level of dust, work period and smoking.
kerja dan merokok. Hasil analisis multivariat Multivariate analysis showed that the work period
menunjukkan bahwa masa kerja merupakan is the most dominant variable followed by variable
variabel yang paling dominan diikuti variabel smoking.
merokok.

Kata kunci: Pneumokoniosis, Kadar Debu, Masa Keyword: Pneumoconiosis, Level of Dust, Work
Kerja, Masker, Merokok Period, Mask, Smoking.

520
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

Pendahuluan pembesaran kelenjar hilus


(Kusumawidjaja, 1998). Perselubungan
Perkembangan teknologi dan industri
pada pneumokoniosis berdasarkan kriteria
berdampak pada kesehatan. Industri
ILO terbagi dua golongan yaitu
menimbulkan polusi udara baik di dalam
perselubungan halus dan kasar (Cowie
maupun di luar lingkungan kerja sehingga
dkk, 2005).
mempengaruhi sistem pernapasan.
Berbagai kelainan saluran pernapasan dan Pneumokoniosis merupakan salah satu
paru pada pekerja dapat terjadi akibat penyakit utama akibat kerja, terjadi hampir
pengaruh debu, gas ataupun asap yang di seluruh dunia dan merupakan masalah
timbul dari proses industri (Susanto, yang mengancam para pekerja. Data World
2011). Health Organization (WHO) tahun 1999
menunjukkan bahwa terdapat 1,1 juta
Penggunaan semen sebagai bahan
kematian oleh penyakit akibat kerja di
utama pembuatan bangunan di Indonesia
seluruh dunia, 5% dari angka tersebut
tiap tahun terus meningkat. Prevalensi
adalah pneumokoniosis. Di Amerika
penyakit paru akibat pajanan debu semen
Serikat, kematian akibat pneumokoniosis
tentu akan meningkat terutama pada
pada tahun 2004 ditemukan sebanyak
pekerja pabrik semen sehingga dapat
2.531 kasus kematian. Pada survei yang
mempengaruhi produktivitas dan kualitas
dilakukan di Inggris secara rutin yaitu
kerja. Pengukuran kadar debu semen di
Surveillance of Workrelated and
lingkungan kerja menjadi sangat penting
Occupational Respiratory Disease
karena tingkat pajanan mempengaruhi
(SWORD) menunjukkan pneumokoniosis
kesehatan paru (Al-Neaimi dkk, 2001;
hampir selalu menduduki peringkat 3-4
Damayanti dkk, 2007).
setiap tahun (Susanto, 2011).
Menurut International Labour
Data prevalensi pneumokoniosis
Organization (ILO), suatu kelainan yang
bervariasi pada tiap negara di dunia. Data
terjadi akibat penumpukan debu dalam
SWORD di Inggris tahun 1990-1998
paru yang menyebabkan reaksi jaringan
menunjukkan kasus pneumokoniosis
terhadap debu tersebut dikenal dengan
sebesar 10%. Di Kanada, kasus
pneumokoniosis (Susanto, 2011). Gejala
pneumokoniosis pada tahun 1992-1993
pneumokoniosis berupa batuk lama,
berdahak lama, kelelahan, sesak napas sebesar 10%, sedangkan data di Afrika
Selatan tahun 1996-1999 sebesar 61%
kadang-kadang disertai mengi (Damayanti
(Susanto, 2011). Di Cina dari tahun 1949-
dkk, 2007; Anugrah, 2013). Diagnosis
2001 jumlah kasus kumulatif
pneumokoniosis tidak dapat ditegakkan
pneumokoniosis mencapai 569.129 kasus
hanya dengan gejala klinis. Gambaran
(Liang dkk, 2003).
spesifik penyakit terutama pada kelainan
radiologi foto toraks dapat membantu Data prevalensi pneumokoniosis
menegakkan diagnosis pneumokoniosis nasional di Indonesia belum ada. Data
(Damayanti dkk, 2007; Susanto, 2011). yang ada ialah penelitian-penelitian
berskala kecil pada berbagai industri yang
Secara radiologi, pneumokoniosis
beresiko terjadinya pneumokoniosis. Dari
dapat menghasilkan beraneka ragam
beberapa penelitian tersebut ditemukan
bentuk bayangan densitas tinggi. Bentuk-
prevalensi pneumokoniosis bervariasi 0,5-
bentuk bayangan ini dapat berupa garis-
37%. Penelitian Darmanto dkk di tambang
garis tipis, bercak-bercak noduler dengan
batubara tahun 1989 menemukan
ukuran beberapa milimeter (1-2 mm)
prevalensi pneumokoniosis batubara
sampai beberapa sentimeter atau
sebesar 1,15%. Data penelitian OSH
perselubungan pada paru menyerupai
Center di Bandung tahun 1990 pada
radang paru, kadang-kadang dapat disertai
pekerja tambang batu menemukan kasus

521
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

pneumokoniosis sebesar 3,1% (Susanto, mengendap di paru juga akan semakin


2011). Penelitian oleh Bangun tahun 1998 banyak (Khumaidah, 2009). Faktor utama
pada pertambangan batu di Bandung yang berperan pada patogenesis
menemukan kasus pneumokoniosis sebesar pneumokoniosis adalah partikel debu dan
9,8% (Bangun, 1998). respons tubuh khususnya saluran napas
terhadap partikel debu tersebut. Komposisi
Penelitian Kasmara tahun 1998 pada
kimia, sifat fisik dan dosis dari debu
pekerja semen menemukan kecurigaan
menentukan dapat atau mudah tidaknya
pneumokoniosis 1,7%. Penelitian OSH
terjadi pneumokoniosis (Ngurah Rai,
Center tahun 2000 pada pekerja keramik
2003).
menemukan silikosis sebesar 1,5%.
Asyhari tahun 2001 pada pekerja bengkel Kadar debu berhubungan dengan
pisau T. Kardin Indonesia di Bandung kejadian pneumokoniosis. Razi dkk (2008)
menemukan prevalensi foto toraks melakukan penelitian tentang pengaruh
pneumokoniosis sebesar 37%. Penelitian debu batubara terhadap paru pekerja
Pandu dkk di pabrik pisau baja tahun 2002 tambang penggalian. Hasil penelitian
menemukan 5% gambaran radiologis yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang
diduga pneumokoniosis. Penelitian bermakna antara kadar debu dengan
Damayanti dkk tahun 2005 pada pabrik terjadinya pneumokoniosis. Peluang
semen menemukan kecurigaan terkena pneumokoniosis pada pekerja di
pneumokoniosis secara radiologis sebesar area terbuka 8,3 kali lebih besar
0,5% (Susanto, 2011). Penelitian dibandingkan dengan pekerja di area
Damayanti dkk tahun 2007 pada pabrik tertutup. Hal ini berkaitan dengan kadar
semen menemukan kelainan foto toraks debu di area terbuka lebih tinggi
pneumokoniosis sebesar 4,9% (Damayanti dibandingkan dengan kadar debu di area
dkk, 2007). tertutup. Pekerja di area terbuka dengan
kadar debu yang lebih tinggi mempunyai
Ada beberapa faktor yang
peluang lebih tinggi terjadinya
mempengaruhi saluran pernapasan dan
pneumokoniosis dibandingkan dengan
gangguan fungsi paru. Faktor-faktor yang
pekerja di area tertutup dengan kadar debu
mempengaruhi saluran pernapasan dan
yang lebih rendah (Razi dkk, 2008).
gangguan fungsi paru khususnya dari
aspek tenaga kerja dapat berasal dari Masa kerja mempengaruhi saluran
dalam diri manusia (faktor internal) dan pernapasan dan gangguan fungsi paru
dari luar manusia (faktor eksternal). Faktor (Yulaekah, 2007; Anugrah, 2013).
internal meliputi sistem pertahanan paru Pneumokoniosis adalah penyakit saluran
baik secara anatomis maupun fisiologis, pernapasan yang disebabkan oleh adanya
umur, jenis kelamin, riwayat penyakit yang partikel debu yang masuk atau mengendap
pernah diderita, status gizi dan kerentanan di dalam paru-paru (Wardhana, 2004).
individu. Faktor eksternal meliputi riwayat Selain komposisi kimia, sifat fisik dan
pekerjaan, kebiasaan merokok, kebiasaan dosis dari debu, lama pajanan juga
olahraga, penggunaan alat pelindung menentukan dapat atau mudah tidaknya
pernapasan, lingkungan, paparan debu, dan terjadi pneumokoniosis (Ngurah Rai,
masa kerja (Yulaekah, 2007; Anugrah, 2003). Semakin lama paparan berlangsung,
2013). jumlah partikel yang mengendap di paru
juga akan semakin banyak.
Kadar debu merupakan salah satu
Pneumokoniosis akibat debu akan timbul
faktor yang mempengaruhi saluran
setelah penderita mengalami kontak lama
pernapasan dan gangguan fungsi paru
dengan debu. Pneumokoniosis jarang
(Yulaekah, 2007; Anugrah, 2013).
ditemui kelainan bila paparan kurang dari
Semakin tinggi konsentrasi partikel debu
10 tahun. Lama paparan mempunyai
dalam udara, jumlah partikel yang

522
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

pengaruh besar terhadap kejadian Menurut Siswanto (1991), kebiasaan


gangguan fungsi paru (Khumaidah, 2009). menggunakan masker akan mengurangi
pemaparan debu dalam paru, alat tersebut
Masa kerja berhubungan dengan
berfungsi sebagai penyaring udara
kejadian pneumokoniosis. Bangun (1998)
pernapasan, sehingga kelainan paru dapat
melakukan penelitian tentang analisis
dihambat.
epidemiologis pneumokoniosis
berdasarkan x-ray paru klasifikasi standar Asap rokok dapat merusak mekanisme
ILO pada pekerja tambang batu PT. A di pertahanan paru-paru, sehingga
Bandung Jawa Barat. Penelitian ini mempermudah timbulnya gangguan
dilakukan pada 51 pekerja yang bekerja di saluran pernapasan. Merokok dapat
2 unit bagian penambangan dan 3 unit menyebabkan perubahan struktur dan
bagian penggilingan. Hasil penelitian fungsi saluran napas dan jaringan paru-
menunjukkan bahwa ada hubungan yang paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa
bermakna antara masa kerja dengan membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus
kejadian pneumokoniosis. Pekerja dengan bertambah banyak (hiperplasia). Pada
masa kerja ≥ 10 tahun berhubungan saluran napas kecil, terjadi radang ringan
dengan timbulnya pneumokoniosis dimana hingga penyempitan akibat bertambahnya
kemungkinannya 12 kali dibandingkan sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan
dengan masa kerja < 10 tahun (Bangun paru-paru terjadi peningkatan jumlah sel
dkk, 1998). radang dan kerusakan alveoli (Mannopo,
1987).
Kebiasaan menggunakan masker
berhubungan dengan saluran pernapasan Asap rokok dapat memperlambat
dan gangguan fungsi paru. Khumaidah gerakan silia dan setelah jangka waktu
(2009) melakukan penelitian tentang tertentu akan menyebabkan gerak silia
analisis faktor-faktor yang berhubungan menjadi lumpuh. Seseorang yang
dengan gangguan fungsi paru. Khumaidah mempunyai kebiasaan merokok akan lebih
(2009) melakukan penelitian pada 44 mudah menderita radang paru (Amstrong,
pekerja mebel PT. Kota Jati Furnindo desa 1992). Akibat perubahan anatomi saluran
Suwawal kecamatan Mlonggo kabupaten napas pada perokok akan timbul perubahan
Jepara. Hasil penelitian Khumaidah (2009) pada fungsi paru dengan segala macam
menunjukkan bahwa pekerja yang tidak gejala klinisnya. Hal ini merupakan
menggunakan APD masker mempunyai penyebab utama terjadinya penyakit paru
resiko terjadi gangguan fungsi paru sebesar (Yulaekah, 2007).
6 kali lebih tinggi dari pekerja yang Kebiasaan merokok berhubungan
menggunakan APD masker.
dengan kejadian pneumokoniosis.
Tidak ada pengobatan yang efektif Damayanti dkk (2007) melakukan
yang dapat menginduksi regresi kelainan penelitian tentang hubungan penggunaan
ataupun menghentikan progesivitas masker dengan gambaran klinis, faal paru
pneumokoniosis. Pencegahan merupakan dan foto toraks pekerja terpajan debu
tindakan yang paling penting. Pencegahan semen. Penelitian ini dilakukan pada 182
yang efektif harus dilakukan melalui pekerja di pabrik semen PT. X. Hasil
program kesehatan dan keselamatan kerja, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan
salah satu sasarannya adalah penggunaan merokok mempunyai hubungan bermakna
alat pelindung saluran pernapasan. Salah secara statistik dengan terjadinya kelainan
satu usaha pencegahan adalah penggunaan foto toraks pneumokoniosis. Perokok berat
alat pelindung diri (APD) masker selama mempunyai resiko 11,667 kali mendapat
dalam lingkungan kerja yang bermanfaat kelainan foto toraks pneumokoniosis
melindungi pekerja dari bahaya pajanan (Damayanti dkk, 2007).
debu semen (Damayanti dkk, 2007).

523
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

Unit pengantongan semen PT. Tonasa Populasi dalam penelitian ini adalah
Line Kota Bitung merupakan salah satu seluruh pekerja pengumpul semen di Unit
dari 9 Unit Pengantongan Semen PT. Pengantongan Semen PT. Tonasa Line
Semen Tonasa Indonesia yang memiliki Kota Bitung. Sampel dalam penelitian ini
kantor pusat di Makassar, Sulawesi adalah seluruh pekerja pengumpul semen
Selatan. Unit pengantongan semen PT. di Unit Pengantongan Semen PT. Tonasa
Tonasa Line Kota Bitung telah beroperasi Line Kota Bitung (total populasi), yaitu
sejak tahun 1996 dan bertempat di area berjumlah 38 pekerja. Variabel bebas yaitu
pelabuhan kota Bitung. Unit Pengantongan kadar debu, masa kerja, penggunaan
Semen PT. Tonasa Line Kota Bitung masker dan merokok. Variabel terikat
memiliki kapasitas 300.000 ton per tahun yaitu kejadian pneumokoniosis. Data
(Anonim, 2013). dalam penelitian ini diperoleh dari hasil
Personal Dust Sampler (PDS) untuk
Pekerja pengumpul semen merupakan
mengukur kadar debu; kuesioner untuk
salah satu jenis pekerjaan yang setiap
mengukur masa kerja, penggunaan masker
harinya terpapar dengan debu sehingga
dan merokok; dan foto toraks untuk
dapat beresiko terjadinya penyakit
mengukur kejadian pneumokoniosis.
pneumokoniosis. Pada survei awal pada
Analisis univariat bertujuan untuk
pekerja di unit pengantongan semen PT.
menjelaskan distribusi frekuensi dari
Tonasa Line Kota Bitung, lingkungan
masing-masing variabel yang diteliti yaitu
kerja ditemui potensi konsentrasi debu
variabel kadar debu, masa kerja,
yang tinggi terhadap pekerja, sehingga
penggunaan masker, merokok dan kejadian
dapat mempengaruhi kesehatan pekerja
pneumokoniosis. Analisis bivariat
terutama kesehatan paru. Selain itu, masih
bertujuan untuk mengetahui hubungan
banyak pekerja yang tidak menggunakan
antara variabel bebas dengan variabel
masker pada saat bekerja dan memiliki
terikat. Analisis bivariat menggunakan uji
kebiasaan merokok sehingga menambah
Chi Square atau Fisher’s Exact. Analisis
resiko pekerja terhadap terjadinya
multivariat bertujuan untuk mengetahui
pneumokoniosis. Dengan demikian, tujuan
variabel yang paling dominan
yang ingin dicapai dari penelitian ini
berhubungan dengan kejadian
adalah untuk mengetahui hubungan antara
pneumokoniosis. Analisis multivariat
kadar debu, masa kerja, penggunaan
menggunakan uji regresi logistik.
masker dan merokok dengan kejadian
pneumokoniosis pada pekerja pengumpul
semen di unit pengantongan semen PT.
Tonasa Line Kota Bitung.
Hasil dan Pembahasan

1. Hubungan antara kadar debu dengan


kejadian pneumokoniosis pekerja
Metode
pengumpul semen di unit
pengantongan semen PT. Tonasa Line
Penelitian ini merupakan penelitian Kota Bitung
observasional analitik dengan pendekatan
cross sectional study (studi potong Hasil analisis hubungan antara kadar
lintang). Penelitian ini dilakukan di Unit debu dengan kejadian pneumokoniosis
Pengantongan Semen PT. Tonasa Line dapat dilihat pada Tabel 1.
Kota Bitung. Penelitian ini dilakukan pada
bulan Februari sampai Maret 2015.

524
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Kadar Debu dan Pneumokoniosis

Kadar Pneumokoniosis Total OR Nilai


Debu Ya Tidak (95% CI) p
n % n % n %
Tinggi 18 64,3 10 35,7 28 100 7,200 0,027
Rendah 2 20 8 80 10 100 (1,3-40,7)
Jumlah 20 52,6 18 47,4 38 100

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa Kadar debu merupakan salah satu
dari 28 responden yang terpajan dengan faktor yang mempengaruhi saluran
kadar debu tinggi (> 3 mg/m3), ada pernapasan dan gangguan fungsi paru
sebanyak 18 responden (64,3%) yang (Yulaekah, 2007; Anugrah, 2013).
memiliki gambaran foto toraks Semakin tinggi konsentrasi partikel debu
pneumokoniosis sedangkan yang tidak dalam udara, jumlah partikel yang
memiliki gambaran foto toraks mengendap di paru juga akan semakin
pneumokoniosis sebanyak 10 responden banyak (Khumaidah, 2009). Faktor utama
(35,7%). Data juga menunjukkan bahwa yang berperan pada patogenesis
dari 10 responden yang terpajan dengan pneumokoniosis adalah partikel debu dan
kadar debu rendah (≤ 3 mg/m3), ada respons tubuh khususnya saluran napas
sebanyak 2 responden (20%) yang terhadap partikel debu tersebut. Komposisi
memiliki gambaran foto toraks kimia, sifat fisik dan dosis dari debu
pneumokoniosis sedangkan yang tidak menentukan dapat atau mudah tidaknya
memiliki gambaran foto toraks terjadi pneumokoniosis (Ngurah Rai,
pneumokoniosis sebanyak 8 responden 2003).
(80%). Jadi sesuai dengan teori, kadar debu
Hasil analisis hubungan antara kadar berhubungan dengan terjadinya
debu dengan kejadian pneumokoniosis pneumokoniosis. Kadar debu yang tinggi
diperoleh nilai signifikansi (p) sebesar (melewati NAB > 3mg/m3) diduga dapat
0,027. Nilai signifikansi hasil analisis mengakibatkan terjadinya
hubungan antara kadar debu dengan pneumokoniosis. Semakin tinggi kadar
kejadian pneumokoniosis < 0,05 maka debu yang terhirup, semakin tinggi resiko
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan terjadinya pneumokoniosis.
yang bermakna antara kadar debu dengan
kejadian pneumokoniosis pada pekerja
pengumpul semen di unit pengantongan 2. Hubungan antara masa kerja dengan
semen PT. Tonasa Line Kota Bitung. Hasil kejadian pneumokoniosis pada pekerja
analisis hubungan antara kadar debu pengumpul semen di unit
dengan kejadian pneumokoniosis diperoleh pengantongan semen PT. Tonasa Line
nilai odds ratio (OR) sebesar 7,200 yang Kota Bitung
artinya pekerja yang terpajan dengan kadar
debu tinggi (> 3 mg/m3) mempunyai Hasil analisis hubungan antara masa
peluang terjadinya pneumokoniosis kerja dengan kejadian pneumokoniosis
sebesar 7,2 kali dibandingkan pekerja yang dapat dilihat pada Tabel 2.
terpajan dengan kadar debu rendah (≤ 3
mg/m3).

525
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Masa Kerja dan Pneumokoniosis

Masa Pneumokoniosis Total OR Nilai


Kerja Ya Tidak (95% CI) p
n % n % n %
Lama 17 73,9 6 26,1 23 100 11,333 0,002
Baru 3 20 12 80 15 100 (2,4-54,5)
Jumlah 20 52,6 18 47,4 38 100

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa partikel debu yang masuk atau mengendap
dari 23 responden yang memiliki masa di dalam paru-paru (Wardhana, 2004).
kerja lama (≥ 10 tahun), ada sebanyak 17 Selain komposisi kimia, sifat fisik dan
responden (73,9%) yang memiliki dosis dari debu, lama pajanan juga
gambaran foto toraks pneumokoniosis menentukan dapat atau mudah tidaknya
sedangkan yang tidak memiliki gambaran terjadi pneumokoniosis (Ngurah Rai,
foto toraks pneumokoniosis sebanyak 6 2003). Dalam lingkungan kerja yang
responden (26,1%). Data juga berdebu, masa kerja dapat mempengaruhi
menunjukkan bahwa dari 15 responden gangguan fungsi paru pada tenaga kerja.
yang memiliki masa kerja baru (< 10 Semakin lama seseorang dalam bekerja
tahun), ada sebanyak 3 responden (20%) maka semakin banyak dia telah terpapar
yang memiliki gambaran foto toraks bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan
pneumokoniosis sedangkan yang tidak kerja tersebut (Suma’mur, 1996). Semakin
memiliki gambaran foto toraks lama paparan berlangsung, jumlah partikel
pneumokoniosis sebanyak 12 responden yang mengendap di paru juga akan
(80%). semakin banyak. Pneumokoniosis akibat
debu akan timbul setelah penderita
Hasil analisis hubungan antara masa
mengalami kontak lama dengan debu.
kerja dengan kejadian pneumokoniosis
Pneumokoniosis jarang ditemui kelainan
diperoleh nilai p sebesar 0,002. Nilai
bila paparan kurang dari 10 tahun. Lama
signifikansi hasil analisis hubungan antara
paparan mempunyai pengaruh besar
masa kerja dengan kejadian
terhadap kejadian gangguan fungsi paru
pneumokoniosis < 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang (Khumaidah, 2009).
bermakna antara masa kerja dengan Jadi sesuai dengan teori, masa kerja
kejadian pneumokoniosis pada pekerja berhubungan dengan terjadinya
pengumpul semen di unit pengantongan pneumokoniosis. Masa kerja yang lama (≥
semen PT. Tonasa Line Kota Bitung. Hasil 10 tahun) diduga dapat mengakibatkan
analisis hubungan antara masa kerja terjadinya pneumokoniosis. Semakin lama
dengan kejadian pneumokoniosis diperoleh masa kerja semakin tinggi resiko
nilai OR sebesar 11,333 yang artinya terjadinya pneumokoniosis.
pekerja yang memiliki masa kerja lama (≥
10 tahun) mempunyai peluang terjadinya
pneumokoniosis sebesar 11,333 kali 3. Hubungan antara penggunaan masker
dibandingkan dengan pekerja yang dengan kejadian pneumokoniosis pada
memiliki masa kerja baru (< 10 tahun). pekerja pengumpul semen di unit
pengantongan semen PT. Tonasa Line
Masa kerja mempengaruhi saluran Kota Bitung
pernapasan dan gangguan fungsi paru
(Yulaekah, 2007; Anugrah, 2013). Hasil analisis hubungan antara
Pneumokoniosis adalah penyakit saluran penggunaan masker dengan kejadian
pernapasan yang disebabkan oleh adanya

526
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

pneumokoniosis dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Responden Menurut Penggunaan Masker dan Pneumokoniosis

Penggunaan Pneumokoniosis Total OR Nilai


Masker Ya Tidak (95% CI) p
n % n % n %
Tidak 19 55,9 15 44,1 34 100 3,800 0,328
Menggunakan (0,4-40,3)
Menggunakan 1 25 3 75 4 100
Jumlah 20 52,6 18 47,4 38 100

Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa partikel debu sampai < 1 mikrometer. Efek
dari 34 responden yang tidak protektif pelindung yang digunakan
menggunakan masker, ada sebanyak 19 pekerja pada penelitian ini kurang optimal
responden (55,9%) yang memiliki sehingga sebagian partikel debu masih
gambaran foto toraks pneumokoniosis dapat masuk ke dalam saluran pernapasan.
sedangkan yang tidak memiliki gambaran Selain itu, pekerja pengumpul semen di
foto toraks pneumokoniosis sebanyak 15 unit pengantongan semen PT. Tonasa Line
responden (44,1%). Data juga Kota Bitung memiliki jam kerja selama 24
menunjukkan bahwa dari 4 responden jam dalam sehari sehingga pekerja tidak
yang menggunakan masker, ada sebanyak mungkin secara terus-menerus
1 responden (25%) yang memiliki menggunakan masker. Pekerja hanya
gambaran foto toraks pneumokoniosis
menggunakan masker ketika mereka
sedangkan yang tidak memiliki gambaran berdekatan langsung dengan semen. Ketika
foto toraks pneumokoniosis sebanyak 3 pekerja istirahat, makan atau merokok
responden (75%). dimana masih berada dalam area kerja
Hasil analisis hubungan antara yang berdebu, pekerja melepaskan masker
penggunaan masker dengan kejadian sehingga secara tidak sadar sebagian
pneumokoniosis diperoleh nilai p sebesar partikel debu masih dapat masuk ke dalam
0,328. Nilai signifikansi hasil analisis saluran pernapasan.
hubungan antara kadar debu dengan Hasil penelitian ini sejalan dengan
kejadian pneumokoniosis > 0,05 maka penelitian yang dilakukan oleh Bangun
dapat disimpulkan bahwa tidak ada (1998) dan Damayanti dkk (2007). Hasil
hubungan yang bermakna antara penelitian Bangun (1998) menunjukkan
penggunaan masker dengan kejadian bahwa tidak didapat hubungan pemakaian
pneumokoniosis pada pekerja pengumpul
APD dengan timbulnya pneumokoniosis
semen di unit pengantongan semen PT. pada pekerja tambang batu PT. A di
Tonasa Line Kota Bitung. Bandung Jawa Barat. Dari 51 pekerja,
Hal ini mungkin disebabkan karena 95,1% pekerja diketahui memakai APD
distribusi responden yang menggunakan yang buruk dan hanya 4,9% pekerja yang
masker terlalu sedikit, dari 38 responden memakai APD yang baik (Bangun, 1998).
hanya 4 responden yang menggunakan Hasil penelitian Damayanti dkk (2007)
masker. Selain itu, mungkin disebabkan menunjukkan tidak ada hubungan yang
karena pelindung yang digunakan pekerja bermakna antara kebiasaan menggunakan
pengumpul semen di unit pengantongan APD masker dengan kelainan foto toraks
semen PT. Tonasa Line Kota Bitung tidak pneumokoniosis pada pekerja di pabrik
memenuhi syarat. Pelindung yang baik semen PT. X. Kelainan foto toraks
seharusnya dapat menahan masuknya didapatkan pada 2 orang (2,5%) dengan

527
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

kebiasaan menggunakan APD masker akan mengurangi pemaparan debu dalam


yang buruk dan 3 orang (3,2%) dengan paru, alat tersebut berfungsi sebagai
kebiasaan menggunakan APD masker penyaring udara pernapasan, sehingga
yang baik namun secara statistik tidak kelainan paru dapat dihambat.
berbeda bermakna (Damayanti dkk, 2007). Pabrik semen yang menghasilkan
Walaupun dalam penelitian ini tidak berbagai macam polusi udara berpotensi
ditemukan adanya hubungan antara menyebabkan gangguan saluran napas.
penggunaan masker dengan kejadian APD masker yang sesuai prosedur
pneumokoniosis bukan berarti penggunaan diwajibkan digunakan pada area berdebu
APD masker tidak penting. Tidak ada di pabrik semen. Berdasarkan rekomendasi
pengobatan yang efektif yang dapat NIOSH dan OSHA masker dengan filter
menginduksi regresi kelainan ataupun N95 mampu melindungi pekerja dengan
menghentikan progresivitas baik terhadap kondisi yang sangat berdebu
pneumokoniosis. Pencegahan merupakan sekalipun (Damayanti, 2007).
tindakan yang paling penting. Pencegahan
yang efektif harus dilakukan melalui
program kesehatan dan keselamatan kerja, 4. Hubungan antara merokok dengan
salah satu sasarannya adalah penggunaan kejadian pneumokoniosis pada pekerja
alat pelindung saluran pernapasan. Salah pengumpul semen di unit
satu usaha pencegahan adalah penggunaan pengantongan semen PT. Tonasa Line
APD masker selama dalam lingkungan Kota Bitung
kerja yang bermanfaat melindungi pekerja
dari bahaya pajanan debu semen Hasil analisis hubungan antara
(Damayanti dkk, 2007). Menurut Siswanto merokok dengan kejadian pneumokoniosis
(1991), kebiasaan menggunakan masker dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Merokok dan Pneumokoniosis

Pneumokoniosis Total OR Nilai


Merokok Ya Tidak (95% CI) p
n % n % n %
Merokok 18 66,7 9 33,3 27 100 9,000 0,008
Tidak 2 18,2 9 81,8 11 100 (1,6-50,7)
Merokok
Jumlah 20 52,6 18 47,4 38 100

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa pneumokoniosis sebanyak 9 responden


dari 27 responden yang merokok, ada (81,8%).
sebanyak 18 responden (66,7%) yang Hasil analisis hubungan antara
memiliki gambaran foto toraks merokok dengan kejadian pneumokoniosis
pneumokoniosis sedangkan yang tidak diperoleh nilai p sebesar 0,008. Nilai
memiliki gambaran foto toraks signifikansi hasil analisis hubungan antara
pneumokoniosis sebanyak 9 responden merokok dengan kejadian pneumokoniosis
(33,3%). Data juga menunjukkan bahwa < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada
dari 11 responden yang tidak merokok, ada hubungan yang bermakna antara merokok
sebanyak 2 responden (18,2%) yang dengan kejadian pneumokoniosis pada
memiliki gambaran foto toraks
pekerja pengumpul semen di unit
pneumokoniosis sedangkan yang tidak pengantongan semen PT. Tonasa Line
memiliki gambaran foto toraks Kota Bitung. Hasil analisis hubungan

528
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

antara merokok dengan kejadian mudah menderita radang paru (Amstrong,


pneumokoniosis diperoleh nilai OR 1992). Akibat perubahan anatomi saluran
sebesar 9,000 yang artinya pekerja yang napas pada perokok akan timbul perubahan
merokok mempunyai peluang terjadinya pada fungsi paru dengan segala macam
pneumokoniosis sebesar 9 kali gejala klinisnya. Hal ini merupakan
dibandingkan dengan pekerja yang tidak penyebab utama terjadinya penyakit paru
merokok. (Yulaekah, 2007).
Asap rokok dapat merusak mekanisme Jadi sesuai dengan teori, merokok
pertahanan paru-paru, sehingga berhubungan dengan terjadinya
mempermudah timbulnya gangguan pneumokoniosis. Merokok diduga dapat
saluran pernapasan. Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya
menyebabkan perubahan struktur dan pneumokoniosis. Pekerja yang mempunyai
fungsi saluran napas dan jaringan paru- kebiasaan merokok mempunyai resiko
paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa lebih tinggi terjadinya pneumokoniosis
membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus dibandingkan dengan pekerja yang tidak
bertambah banyak (hiperplasia). Pada mempunyai kebiasaan merokok.
saluran napas kecil, terjadi radang ringan
hingga penyempitan akibat bertambahnya
sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan 5. Variabel yang dominan berhubungan
paru-paru terjadi peningkatan jumlah sel dengan kejadian pneumokoniosis pada
radang dan kerusakan alveoli (Mannopo, pekerja pengumpul semen di unit
1987). pengantongan semen PT. Tonasa Line
Kota Bitung
Asap rokok dapat memperlambat
gerakan silia dan setelah jangka waktu Model akhir uji regresi logistik dapat
tertentu akan menyebabkan gerak silia dilihat pada Tabel 5.
menjadi lumpuh. Seseorang yang
mempunyai kebiasaan merokok akan lebih

Tabel 5. Model Akhir Uji Regresi Logistik

95% C.I.
Variabel S.E. Sig. OR
Lower Upper

Masa Kerja 0,896 0,005 12,568 2,172 72,734

Merokok 1,012 0,021 10,260 1,411 74,620

Constant 2,017 0,001 0,001

Data pada Tabel 5 dapat dilihat hasil pengumpul semen di unit pengantongan
analisis regresi logistik ketika seluruh semen PT. Tonasa Line Kota Bitung.
variabel telah memiliki nilai p < 0,05 Data pada Tabel 5 juga menunjukkan
dengan demikian permodelan telah selesai. nilai OR untuk variabel masa kerja sebesar
Nilai p untuk variabel masa kerja sebesar 12,568 dan merokok sebesar 10,260.
0,005 dan merokok sebesar 0,021 yang Dilihat dari besarnya nilai OR
artinya masa kerja dan merokok secara menunjukkan bahwa masa kerja
bersama-sama berhubungan dengan merupakan variabel yang paling dominan
kejadian pneumokoniosis pada pekerja berhubungan dengan kejadian

529
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

pneumokoniosis pada pekerja pengumpul kejadian pneumokoniosis pada pekerja


semen di unit pengantongan semen PT. pengumpul semen di unit
Tonasa Line Kota Bitung. Pekerja yang pengantongan semen PT. Tonasa Line
memiliki masa kerja lama (≥ 10 tahun) Kota Bitung.
mempunyai peluang terjadinya 4. Ada hubungan yang bermakna antara
pneumokoniosis sebesar 12,568 kali merokok dengan kejadian
dibandingkan dengan pekerja yang pneumokoniosis pada pekerja
memiliki masa kerja baru (< 10 tahun). pengumpul semen di unit
Variabel selanjutnya yang dominan pengantongan semen PT. Tonasa Line
berhubungan dengan kejadian Kota Bitung.
pneumokoniosis pada pekerja pengumpul 5. Masa kerja merupakan variabel yang
semen di unit pengantongan semen PT.
paling dominan berhubungan dengan
Tonasa Line Kota Bitung yaitu variabel kejadian pneumokoniosis pada pekerja
merokok. Pekerja yang memiliki kebiasaan pengumpul semen di unit
merokok mempunyai peluang terjadinya pengantongan semen PT. Tonasa Line
pneumokoniosis sebesar 10,260 kali Kota Bitung. Variabel selanjutnya yang
dibandingkan dengan pekerja yang tidak dominan berhubungan dengan kejadian
memiliki kebiasaan merokok. pneumokoniosis pada pekerja
Jadi sesuai dengan teori, masa kerja dan pengumpul semen di unit
merokok berhubungan dengan terjadinya pengantongan semen PT. Tonasa Line
pneumokoniosis. Masa kerja ≥ 10 tahun Kota Bitung yaitu variabel merokok.
dan merokok diduga dapat meningkatkan
resiko terjadinya pneumokoniosis. Pekerja
yang mempunyai masa kerja ≥ 10 tahun Saran
dan kebiasaan merokok mempunyai resiko 1. Untuk Dinas Kesehatan dan Hiperkes
lebih tinggi terjadinya pneumokoniosis Kota Bitung
dibandingkan dengan pekerja yang a. Diharapkan dapat melakukan
mempunyai masa kerja < 10 tahun dan pemeriksaan kadar debu berkala
tidak mempunyai kebiasaan merokok pada berbagai industri yang
beresiko terjadinya penyakit paru
akibat pajanan debu.
b. Diharapkan dapat melakukan
Kesimpulan pengawasan terhadap program
kesehatan dan keselamatan kerja
pada berbagai industri yang
1. Ada hubungan yang bermakna antara
beresiko terjadinya penyakit paru
kadar debu dengan kejadian
akibat pajanan debu terutama
pneumokoniosis pada pekerja
pengawasan terhadap penggunaan
pengumpul semen di unit
APD yang tepat.
pengantongan semen PT. Tonasa Line
c. Diharapkan dapat memberikan
Kota Bitung.
sanksi yang tegas kepada berbagai
2. Ada hubungan yang bermakna antara industri yang beresiko terjadinya
masa kerja dengan kejadian penyakit paru akibat pajanan debu
pneumokoniosis pada pekerja apabila ditemukan telah melanggar
pengumpul semen di unit peraturan yang telah ditetapkan.
pengantongan semen PT. Tonasa Line d. Diharapkan dapat memberikan
Kota Bitung. penyuluhan tentang penyakit paru
3. Tidak ada hubungan yang bermakna akibat pajanan debu serta
antara penggunaan masker dengan pencegahannya.

530
Simanjuntak, Pinontoan dan Pangemanan, Hubungan antara Kadar Debu

2. Untuk unit pengantongan semen PT. 4. Untuk ilmu pengetahuan


Tonasa Line Kota Bitung Diharapkan dapat dilakukan penelitian
a. Diharapkan dapat melakukan lanjutan untuk menganalisis faktor-
pemeriksaan berkala terhadap faktor lainnya yang berhubungan
kadar debu di lingkungan kerja dengan kejadian pneumokoniosis.
baik kadar debu lingkungan
maupun kadar debu personal
pekerja paling sedikit 2 tahun
sekali.
b. Diharapkan dapat melakukan
pemeriksaan kesehatan berkala Daftar Pustaka
(medical check up) termasuk Al-Neaimi, Y. I., Gomes, J. and Lloyd O.
pemeriksaan foto toraks kepada L. 2001. Respiratory illnesses and
pekerja paling sedikit 3 tahun ventilatory function among workers at
sekali. a cement factory in a rapidly
c. Diharapkan dapat menyediakan alat developing country. Occup. Med. Vol.
pelindung diri pernapasan kepada 51 No. 6, pp. 367-73.
pekerja yang beresiko terpajan
debu semen. Anonim. 2013. Unit Pengantongan Semen
d. Diharapkan dapat menjalankan PT. Semen Tonasa Indonesia. Tersedia
peraturan dan pengawasan tentang dalam:
penggunaan APD pernapasan http://sementonasa.co.id/ups.php
kepada pekerja. Diakses pada 7 Desember 2014.
e. Diharapkan dapat memberikan Amstrong, S. 1992. Pengaruh Rokok
sanksi kepada pekerja yang tidak Terhadap Kesehatan. Diterjemahkan
menggunakan APD pernapasan di oleh M.Tjandrasa. Jakarta: Penerbit
lingkungan kerja. Arcan.
f. Diharapkan dapat memberikan
Anugrah, Y. 2013. Faktor-faktor yang
penyuluhan tentang penyakit paru
berhubungan dengan kapasitas vital
akibat pajanan debu serta
paru pada pekerja penggilingan divisi
pencegahannya.
batu putih di PT. sinar utama karya
g. Diharapkan dapat melakukan
[Skripsi]. Semarang: Jurusan Ilmu
regulasi area kerja khususnya bagi
Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu
pekerja yang berhasil dijaring
Keolahragaan Universitas Negeri
dalam medical check up atau
Semarang.
pemeriksaan foto toraks yaitu
memindahkan pekerja ke area kerja Asyhari, R. 2001. Pengaruh Paparan Debu
lain dengan resiko terpapar debu Terhadap Kesehatan Paru Pekerja
yang lebih rendah atau bahkan ke Bengkel Pisau T. Kardin Indonesia.
area kerja lain yang tidak terpapar Bandung: Departemen Teknik
debu. Lingkungan Fakultas Teknik Sipil Dan
3. Untuk pekerja pengumpul semen Perencanaan Institut Teknologi
a. Dihimbau untuk selalu Bandung.
menggunakan APD pernapasan Bangun, U. 1998. Analisis Epidemiologis
berupa masker selama berada di Pneumokoniosis Berdasarkan X Ray
area kerja yang berdebu. Paru Klasifikasi Standar International
b. Dihimbau untuk mengurangi atau Labour Organization (ILO) pada
menghentikan kebiasaan merokok Pekerja Tambang Batu P.T. A di
baik di lingkungan kerja atau Bandung Jawa Barat [Thesis]. Jakarta:
bahkan di luar lingkungan kerja. Universitas Indonesia.

531
JIKMU, Vol. 5, No. 2b April 2015

Cowie, R. L., Murray, J. F. and Becklake, Ngurah Rai, I. B. 2003. Pneumokoniosis.


M. R. Pneumoconiosis. 2005. In: Patogenesis dan gangguan fungsi. In:
Mason RJ, Broaddus VC, Murray JF Abdullah A, Patau J, Susilo HJ, Saleh
and Nadel JA, editors. Textbook of K, Tabri NA, Mappangara, et al.
Respiratory Medicine. 4th Ed. Naskah lengkap pertemuan ilmiah
Philadelphia: Elsevier Saunders; p. khusus (PIK) X Perhimpunan Dokter
1748-82. Paru Indonesia. Makassar: Sub-bagian
paru Bagian Penyakit Dalam Fakultas
Damayanti, T., Yunus, F., Ikhsan, M. dan
Kedokteran Universitas Hasanuddin; p.
Sutjahyo, K. 2007. Hubungan
183-216.
Penggunaan Masker dengan Gambaran
Klinis, Faal Paru dan Foto Toraks Razi, F., Amri, Z., Ichsan, M. dan Yunus,
Pekerja Terpajan Debu Semen. F. 2008. Pengaruh Debu Batubara
Majalah Kedokteran Indonesia, Terhadap Paru Pekerja Tambang
Volume 57, Nomor 9. Penggalian. Majalah Kedokteran
Indonesia, Volume 58, Nomor 2.
Khumaidah. 2009. Analisis Faktor-faktor
yang Berhubungan dengan Gangguan Siswanto, A. 1991. Kesehatan Kerja.
Fungsi Paru pada Pekerja Mebel PT. Surabaya: Balai Hiperkes dan
Kota Jati Furnindo Desa Suwawal Keselamatan Kerja Depnaker.
Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara Suma’mur, P. K. 1996. Higiene
[Tesis]. Magister Kesehatan Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
Lingkungan Universitas Diponegoro Jakarta: PT. Toko Gunung Agung.
Semarang.
Susanto, A. D. 2011. Pneumokoniosis. J
Kusumawidjaja, K. 1998. Kelainan Paru Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor:
Akibat Lapangan Kerja. Dalam: Rasad, 12, Desember 2011.
S., Kartoleksono, S. dan Ekayuda, I,
Editor. Radiologi Diagnostik. Jakarta: Wardhana, W. A. 2004. Dampak
Balai Penerbit FKUI, hal. 151-2. Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta:
Penerbit Andi; hal. 126-31.
Liang, Z. X., Wong, O., Fu, H., Hu, T. X.
and Xue, S. Z. 2003. The economic Yulaekah, S. 2007. Paparan Debu Terhirup
burden of pneumoconiosis in Cina. dan Gangguan Fungsi Paru pada
Occup Environ Med; 60:383–384. Pekerja Industri Batu Kapur (Studi di
Mannopo, A. 1987. Merokok dan Kanker Desa Mrisi Kecamatan Tanggungharjo
Paru. Majalah Kedokteran Indonesia, Kabupaten Grobogan) [Thesis].
Volume 37, Nomor 10. Semarang: Universitas Diponegoro.

532