Anda di halaman 1dari 12

ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN

KEBIJAKAN DAN PROSEDUR

S.5.P.2

MEDIKO LEGAL

RS MUHAMMADIYAH
JL. Dr. Soetomo No. 15
JOMBANG
TAHUN 2009

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH JOMBANG


2009

KEBIJAKAN MEDIKO-LEGAL
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH JOMBANG

I. PENDAHULUAN
Pada jaman modern ini dapat dikatakan hampir tidak ada bidang kehidupan
masyarakat yang tidak tersentuh oleh hukum, demikian juga halnya dengan Rumah
Sakit. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang sudah mengetahui hak dan
kwajibannya, pertambahan penduduk yang cepat, perkembangan IPTEK dibidang
medis dan masuknya kebudayaan asing yang membawa dampak terhadap norma
serta pandangan hidup masyarakat.
Mengingat betapa pentingnya mediko-legal dewasa ini maka Direktur Rumah
Sakit Muhammadiyah Jombang merasa perlu membuat kebijakan mediko-legal di
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.

II. TUJUAN
1. Agar para penderita Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang dan
unit/instalasi mengetahui kebijakan yang diambil oleh Rumah Sakit
Muhammadiyah Jombang dalam aspek mediko-legal.
2. Agar permasalahan mediko-legal dapat diselesaikan dengan sebaik-
baiknya.

III. SASARAN
Sasaran mediko-legal adalah semua permasalahan menyangkut mediko-legal di
lingkungan Rumah Sakit Muhamamdiyah Jombang dan atau yang terjadi sebagai
akibat tindakan medis dan perlakuan dari Staf Medik di Rumah Sakit
Muhammadiyah Jombang .

IV. KEBIJAKAN
1. Keputusan Direktur Rumah Sakit Muhamamdiyah Jombang yang diambil
berdasarkan pertimbangan Komite Medik serta Panitia Etik dan Profesi yang
ditunjang pertimbangan lainnya disampaikan kepada pihak yang
mengadu/penyidik yang terdiri dari POLRI secara langsung oleh Direktur
Rumah Sakit Muhamamdiyah Jombang.
2. Keputusan mengenai tenaga/perawat/mahasiswa perorangan yang tidak
ada kaitannya baik secara struktural organisasi maupun secara fungsional
dengan Direktur Rumah Sakit Muhamamdiyah Jombang oleh Direktur
Rumah Sakit disampaikan kepada instansi atasannya langsung dari yang
diadukan.
3. Apabila dari kejadian/diskusi dan analisa masalah bukan merupakan
pelanggaran etik tetapi merupakan pelanggaran hukum murni, Direktur
Rumah Sakit Muhamamdiyah Jombang dapat menempuh jalan hukum
sebagai berikut :
3.1 Bila pelanggaran berkaitan dengan bidang hukum perdata, maka pihak
atau kuasanya dapat memprosesnya melaui jalur hukum perdata dengan
mengajukan gugatan perdata kepada yang diadukan sebagai pihak
tergugat.
3.2 Bila pelanggaran berkaitan dengan bidang hukum pidana, maka pengadu
atau kuasanya dapat memproses melalui laporan kepada kepolisian, agar
POLRI selanjutnya dapat melangkah/menindaklanjuti dengan tahap
penyelidikan dalam rangka mengumpulkan barang bukti atas kebenaran
laporan tersebut.
3.3 Dalam hal butir 3.2, POLRI harus menjalankan tugasnya sesuai dengan
prosedur penanganan perkara pidana yang diatur oleh Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (KUHP, UU No. 8 tahun 1981) dan dalam
hal demikian Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang membantu
sejauh mungkin sesuai dengan batas-batas kewenangan yang diberikan
kepadanya oleh hukum.
3.4 Bilamana terbukti bahwa tenaga/perawat/mahasiswa/perorangan yang
diduga melanggar hukum tersebut ada kaitannya/disebabkan karena
adanya kekurangan yang berada dibidang pengelolaan/manajemen
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang, maka bagian yang ditugaskan
untuk bidang tersebut oleh Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah
Jombang ikut bertanggung jawab.
3.5 Bilamana pelanggaran hukum tersebut tidak disebabkan karena segi
pengelolaan Rumah Sakit, Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah
Jombang dapat mengusulkan kepada instansi atasan langsung dari yang
bersangkutan, agar yang bersangkutan untuk sementara waktu di non-
aktifkan dari tugasnya.
3.6 Bilamana pelaku/pelanggar hukum tersebut oleh pengadilan tingkat
pertama dinyatakan bersalah telah melanggar norma hukum yang
didakwakan kepadanya, Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang
dapat mengajukan permohonan pemberhentian untuk sementara atau
seterusnya kepada instansi atasan langsung yang bersangkutan.
3.7 Instansi atasan langsung dari pelaku/pelanggar hukum tersebut
berdasarkan permohonan Direktur Rumah Sakit Muhamamdiyah
Jombang, menerbitkan Surat Keputusan Pemberhentian sementara atau
tetap terhadap yang bersangkutan, dan Direktur Rumah Sakit
Muhammadiyah Jombang harus diberikan tindasannya untuk
pelaksanaannya.
3.8 Keputusan dalam butir 3.7 tersebut baru dapat diproses pelaksanaannya,
bila pelaku/pelanggar hukum yang bersangkutan tidak mengajukan
banding atau kasus atas keputusan pengadilan tingkat pertama tersebut,
karena putusan tersebut belum dapat mempunyai kekuatan hukum yang
mengikat untuk dilaksanakan.
V. PENUTUP
Dengan melihat perkembangan permasalahan yang menyangkut hukum di Rumah
Sakit dewasa ini maka Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang merasa
sangat penting untuk membuat suatu kebijakan Mediko-Legal di Rumah Sakit
Muhammadiyah Jombang.

Jombang ,...........Januari 20....


Direktur Rumah Sakit
dr. H Miftah, Sp.PD.

JUKLAK MEDIKO-LEGAL
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH JOMBANG

I. Pendahuluan
Pada era globalisasi ini banyak diperbincangkan kode etik kedokteran,
perundang-undangan dan hukum di bidang kesehatan. Perhatian yang besar itu cukup
menggembirakan karena menandakan partisipasi dan keinginan masyarakat untuk
ikut menyempurnakan pelayanan kesehatan dengan tujuan peningkatan status
kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Aspek mediko-legal di Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang juga mendapat
perhatian untuk menangani masalah-masalah yang mungkin terjadi di lingkungan
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.

II. Tujuan
a. Tujuan Umum
Sebagai petunjuk dalam pelaksanaan penanganan masalah mediko-legal di
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.
b. Tujuan Khusus
1. Agar pihak rumah sakit mengetahuistrategi pelaksanaan mediko-
legal di Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.
2. Agar permasalahan mediko-legal dapat dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya dalam Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.

III. Sasaran
Sasaran Petunjuk Pelaksanaan Mediko-Legal Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang
:
1. Kepala Rumah Sakit.
2. Panitia Etik dan Profesi.
3. Komite Medik.
IV. Strategi Pelaksanaan
1. Pelaksanaan masalah mediko-legal mengikuti prosedur
pengaduan masalah mediko-legal dan prosedur penyelesaian pengaduan masalah
mediko-legal.
2. Setiap ditemukan masalah yang berhubungan dengan mediko-
legal baik pengaduan secara tertulis maupun lisan harus secapatnya diteruskan
kepada Ketua Komite Medik/Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang
untuk dipelajari dan mengambil langkah sesuai dengan kewenangan dan
kebijakannya.
3. bila dianggap perlu Ketua Komite Medik/Kepala Rumah Sakit
bila tidak berada di tempat, meneruskan pengaduan masalah hukum tersebut
kepada Ketua Panitia Etik dan Profesi Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang
untuk memberikan pertimbangan.
RS PENGADUAN MASALAH MEDIKO-LEGAL

Muhammadiyah No. Dokumen No. Revisi Halaman

Jombang 1 dari 3
Tanggal Terbit Ditetapkan
Direktur RS Muhammadiyah
PROSEDUR TETAP Jombang

dr. H. Miftah, Sp. PD.


Suatu Prosedur Yang Harus Diikuti Dalam Pengaduan
Masalah Mediko-Legal Yang Terjadi Di Rumah Sakit
Pengertian
Muhammadiyah Jombang Yang Berisikan Prosedur
Pengaduan Mediko-Legal.
 Agar Para Penderita Rumah Sakit Dan
Unit/Instalasi Mengetahui Jalan Pengaduan
Masalah Mediko-Legal Sesuai Prosedur Yang
Tujuan Berlaku Dan Batasan Pengaduan Yang Dapat
Diajukan.
* Agar Permasalahan Mediko-Legal Dapat
Diselesaikan Dengan Sebaik-Baiknya Dan Dalam
Waktu Yang Singkat.
 Kebijakan Masalah Mediko-Legal di Rumah
Sakit Muhammadiyah Jombang berpedoman pada :
1. Hasil Mukernas Etik Kedokteran III T 2001
Kebijakan 2. Kode Etik Rumah Sakit SK No.924/Men
Kes/SK/XII/1986.
3. Satandar Pelayanan Rumah Sakit DEPKES RI
Dirjen Yan. Medik Dierektorat Rumah Sakit Umum
dan Pendidikan Tahun 1993.
 Buku Pedoman Etik Medik Komite Medik
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.

RS
PENGADUAN MASALAH MEDIKO-LEGAL
Muhammadiyah
Jombang No. Dokumen No. Revisi Halaman
2 dari 3

Tanggal Terbit Ditetapkan


Direktur RS Muhammadiyah Jombang

PROSEDUR TETAP
dr. H Miftah, Sp.PD.

1. Setiap pengaduan masalah hukum yang disampaikan oleh


Masyarakat pengguna jasa pelayanan medik di Rumah Sakit
Muhammadiyah Jombang melalui Komite Medik atau wakil yang
ditunjuk/ditugaskan secara khusus.
2. Pengaduan dapat dilakukan baik secara lisan maupun tertulis baik
oleh pihak yang dirugikan atau kuasanya dibidang hukum perdata,
oleh POLRI sebagai pihak penyelidik atau penyidik dalam bidang
hukum administrasi, yang disampaikan melalui kotak saran,
pimpinan unit terkait, sampai kepada Kepala Rumah Sakit
Prosedur Muhammadiyah Jombang.
3. Pengaduan yang disampaikan melalui kotak saran, pimpinan unit
terkait atau siapa saja, harus secepatnya diteruskan kepada Ketua
Komite Medik/Kepala Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang
untuk mempelajari pengaduan tersebut dan mengambil langkah
sesuai dengan kewenangan dan kebijakannya.
4. Bila dianggap perlu Ketua Komite Medik meneruskan pengaduan
masalah hukum tersebut kepada Ketua Komite Etik dan Hukum
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang apabila Kepala Rumah
Sakit tidak berada di tempat untuk memberikan pertimbangannya.
1. Kepala Rumah Sakit.
2. Komite Medik.

Unit terkait 3. Panitia Etik dan Profesi Rumah Sakit.


4. Pengadu

PENYELESAIAN PENGADUAN MASALAH


RSI
MEDIKO-LEGAL
Muhammadiyah No. Dokumen No. Revisi Halaman
Jombang 1 dari 3
Tanggal Terbit Ditetapkan
Direktur RS Muhammadiyah
PROSEDUR TETAP Jombang

dr. H. Miftah, Sp.PD


Suatu prosedur yang harus diikuti dalam penyelesaian
pengaduan masalah Mediko-Legal yang terjadi di
Pengertian
Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang.

Agar para penderita Rumah Sakit Dan Unit/Instalasi


mengetahui jalan pengaduan masalah Mediko-Legal
Tujuan sesuai prosedur yang berlaku dan batasan penyelesaian
pengaduan yang dapat diajukan.

Kebijakan  Kebijakan penyelesaian masalah Mediko-Legal


di Rumah Sakit Islam Hasanah Mojokerto
berpedoman pada :
1. Kode Etik Kedokteran Indonesia.
2. Kode Etik Rumah Sakit.
3. Satandar Pelayanan Rumah Sakit.
4. Buku Pedoman Etik Medik Komite Medik
Rumah Sakit Islam Hasanah Mojokerto.
PENYELESAIAN PENGADUAN MASALAH
RSI
MEDIKO-LEGAL
HASANAH No. Dokumen No. Revisi Halaman
MOJOKERTO 2 dari 3
Tanggal Terbit Ditetapkan
Direktur RSI Hasanah Mojokerto

PROSEDUR TETAP

Dr. H M. Anas, Sp.OG


Prosedur 1. Ketua Panitia Etik dan Profesi serta Ketua
Komite Medik Rumah Sakit Islam Hasanah
Mojokerto secepatnya mengundang anggota-
anggota kedua Komite tersebut untuk
mengadakan rapat pada kesempatan pertama
yang membahas pengaduan tersebut.
2. Rapat tersebut paling sedikit harus dihadiri oleh
dua pertiga dari jumlah anggota.
3. Dalam diskusi/pembahasan tersebut
diidentifikasikan unsur-unsur hukumnya apa saja
yang diadukan dan dianalisa berdasrkan hukum
kedokteran dan/atau hukum kesehatan sehingga
dapat dikategorikan apakah merupakan
pelanggaran hukum atau pelanggaran etik.
4. Ketua Panitia Etik dan Profesi tersebut
dapatmengundang wakil dari Instansi yang terdiri
dari anggota Staf Medis Fungsional (SMF)
terkait, konsultan ilmu-ilmu sosial,
rohaniawan/ulama, Kepala Biro Hukum
Departemen Kesehatan dan lainnya yang ada
kaitannya dengan masalah pengaduan hukum
tersebut.
5. Rapat yang diadakan sifatnya tertutup untuk
umum dan hasilnya/keputusannya sementara
bersifat rahasia.
6. Keputusan Ketua Panitia Etik dan Profesi sah,
bila disetujui lebih dari separuh jumlah anggota
yang hadir, termasuk wakil-wakil bidang
keahlian yang diundang.
7. Keputusan Ketua Panitia Etik dan Profesi yang
berupa pertimbangan disampaikan kepada
Kepala Rumah Sakit Islam Hasanah Mojokerto.
8. keputusan Ketua Panitia Etik dan Profesi yang
berupa pertimbangan tersebut tidak mempunyai
kekuatan mengikat pada Kepala Rumah Sakit
Islam Hasanah Mojokerto. Kepala Rumah Sakit
tetap mempunyai kewenangan berdasarkan
pertimbangan kebijakan dalam mengelola
Rumah Sakit Islam Hasanah Mojokerto.
Unit terkait 1. Kepala Rumah Sakit.
2. Panitia Etik dan Profesi Rumah
Sakit
3. Komite Medik.
4. Wakil dari Instansi : SMF,
Konsultan Ilmu Sosial, Rohaniawan/Ulama,
Kepala Biro Hukum Departemen Kesehatan